[EXOFFI FREELANCE] HATERxFAN (Chapter 3)

hatersxfans cover

Tittle : HATERxFAN

Author : OHitsL

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin

(Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 17

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism! Enjoy!

And Thanks to Xyoblue Design for nice poster!

 

[Teaser] [Ch1] [Ch2]

 

««Previous Chapter

Mereka masih dalam posisinya hingga Kai mempersempit jarak wajah keduanya. Krystal sadar dan berusaha melepas tangannya tapi hasilnya nihil. Cengkraman itu semakin kuat. Sekali lagi Kai menatap dalam pada manik gadis itu sambil memperlihatkan seringainya.

 

“Hater?” Lirih namja itu.

 

Ia lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Krystal.

“Biar kuberi tahu bagaimana menjadi seorang hater yang sebenarnya.”

 

 

#Chapter 3

 

~

 

Pria jangkung bertubuh atletis yang masih mengenakan tuxedo hitam terlihat tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.

Suara baritone miliknya terdengar menggema didalam apartement itu. Park Chanyeol.

 

Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa sembari sebelah tangannya bergerak melonggarkan dasi yang masih melilit rapi di lehernya.

 

‘Jadi, bagaimana keadaan Krys sekarang?’ Ia melempar pandangan ke langit sore melalui kaca ruangan itu.

 

‘Seperti yang sudah kau dengar sebelumnya, dia terus mengurung diri di kamar. Terlebih setelah persidangan 3 hari yang lalu. Terkadang dia sama sekali tak menyentuh makanannya kalau kau mau tau’ Jelas seseorang dari seberang—Victoria.

 

Chanyeol memejamkan matanya sambil memijit pelan pelipisnya yang terasa pening.

 

‘Vic, Aku harap kau mau menjaga dan memperhatikannya untukku’

 

‘Tentu saja. Tanpa kau suruh aku akan menjaga Krystal. Dan—YA! Harusnya kau kembali ke Korea bodoh!’ Victoria meninggikan suaranya.

 

Chanyeol mendesah pelan.

 

‘Aku juga ingin pulang. Kalau aku bisa, bahkan aku sudah pulang semenjak tau keadaan paman Jung. Kau harus tau jika keadaan perusahaan disini juga menjadi sedikit kacau’

 

Perusahaan yang ia maksud adalah tempatnya bekerja. Park Chanyeol bekerja di cabang JStal company yang berada di New York. Suatu ambisi membuatnya 2 tahun lalu pergi ke Amerika untuk mengurus perusahaan itu. Pemimpin utama, tentu bukan hal mudah untuk ia capai, 2 tahun ia gunakan untuk bekerja keras hingga ia mendapatkan posisinya saat ini.

 

‘Tapi harusnya kau mengerti, saat ini keadaan gadis itu benar-benar buruk. Pulanglah, Park Chanyeol’ Lirih Victoria.

 

Hening. Park Chanyeol tak bisa berkata-kata jika tentang gadis itu. Ayolah, jika ia bisa bahkan sekarang ia akan langsung berlari ke bandara. Ia bisa melakukannya jika memang ia ingin kerja kerasnya selama 2 tahun musnah dalam sekejap. Tidak, ia tidak bisa.

 

‘Aku.. Aku pasti akan segera pulang jika keadaan disini sudah membaik. Jadi sebelum itu, tolong jaga Krystal untukku’

 

‘Baiklah, aku mengerti. Tapi sebaiknya kau segera pulang jika tak ingin ia benar-benar melupakanmu’

 

Setelah itu panggilan terputus. Kalimat terakhir Victoria memenuhi kepala Chanyeol. Haruskah ia kembali sekarang?

 

~

 

Krystal menatap langit-langit kamar dari bawah selimut yang menutupinya sampai batas dada. Sekali lagi ia melihat jam di atas nakas. Sudah jam 9 pagi rupanya. Tapi tak sedikitpun ada niatan untuk pergi dari kasur apalagi kamarnya. Ini adalah hari ketiga setelah ia tak membukakan pintu untuk siapapun, kecuali bibi Jo.

 

Krystal mendesah pelan. Sialan sekali ingatan beberapa hari lalu tentang namja itu selalu mengganggunya. Entah saat ia tidur atau terjaga. Berbagai spekulasi memenuhi otaknya hingga rasanya ia hampir gila.

 

Telinga Krystal menangkap jika seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya. Ia tahu pasti itu bibi Jo.

 

“Nona..” Terdengar dari luar

 

Krystal beringsut dari atas ranjangnya. Mengabil kunci dari nakasnya lalu berjalan ke arah pintu. Tapi setelah pintu terbuka, yang ia dapati bukan bibi Jo, melainkan Victoria dengan senampan makanan di tangannya.

 

Krystal hendak menutup kembali pintu itu. Tapi Victoria lebih cepat, meletakan salah satu kakinya menjadi ganjalan agar pintu itu tidak tertutup.

 

“Pergilah. Sebelum kakimu di amputasi” Krystal berujar malas.

 

“Ayolah Krys, kita perlu bicara”

 

“Aku akan menghitung sampai 3. Setelah itu aku tidak akan bertanggung jawab tentang ka—”

 

“Bicara atau ini terakhir kalinya kau mendengar suaraku” Victoria memotong.

 

Saat itu juga Krystal membuka pintunya lebar-lebar. Tentu saja, mana mungkin ia bisa mebiarkan Victoria bicara seperti itu. Apa dia akan bunuh diri?

Dan seketika Krystal mendapat cengiran lebar dari sahabatnya. Setelah Victoria masuk ia kembali mengunci pintunya.

 

Krystal kembali naik ke atas kasurnya. Duduk bersila menghadap sahabatnya yang duduk di tepian ranjang.

 

“Ada apa?” Krystal membuka suara.

 

“Kau baik-baik saja? Kau tidak sakit kan? Apa yang terjadi setelah persidangan? Apa kai melakukan sesuatu yang buruk?”

 

Victoria terus menjejali Krystal dengan pertanyaan. Belum lagi tangannya yang bergerak seolah memeriksa takut-takut jika ada anggota badan Krystal yang hilang.

 

“Seperti yang kau lihat” jawab krystal singkat.

 

“YA! Bercerminlah. Kau seperti zombi. Tidak keluar kamar, mengabaikan makan, mematikan ponsel, kau pikir aku tidak khawatir?!” Victoria mengeraskan suaranya dengan raut khawatir bercampur kesal hingga air matanya berkaca-kaca.

 

Krystal tersenyum simpul menangkup wajah sahabatnya.

“Aku baik-baik saja”

 

Victoria menyeka air matanya yang hampir jatuh.

“Benarkah? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bahkan melihat namja itu menarik tanganmu kasar dan membawamu pergi. Katakan sesuatu Krys”

 

Krystal menurunkan tangannya. Ia terdiam.

Victoria segera meraih kedua tangan Krystal, menggenggamnya seakan menyalurkan kekuatan pada gadis itu.

 

“Katakan, jangan memendamnya sendiri. Jangan buat aku merasa tak berguna”

 

Krystal menarik napas dalam-dalam.

“Sebenarnya.. Begini,”

 

flashback

 

“Biar kuberi tahu bagaimana menjadi seorang hater yang sebenarnya.”

 

Krystal membeku di tempatnya. Apa maksud namja gila ini sebenarnya.

 

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Kai kembali menatap manik gadis itu intens.

 

“Apa yang ingin kau pastikan?” Krystal membalas tatapan Kai tak suka.

 

“Memastikan kalau kau anti-fan ku” jawabnya pelan.

 

“Aku tahu kau seorang fan” lanjutnya. Ia melepas sebelah tangan Krystal lalu mengelus pipi gadis itu lembut. Krystal kembali membeku di tempatnya tapi kemudian ia tersadar dan menepis tangan namja itu.

 

“Apa maksudmu sebenarnya?!”

 

“Akan ku jelaskan, tenanglah. Jadi.. Ah—aku harus mulai dari mana?” Ia lalu sedikit menyeriangai. Membuat Krystal semakin menatapnya jengah.

 

“Matamu.. Mengingatkanku pada seseorang. Tadinya aku hanya ingin bermain-main denganmu. Tapi kau menganggapnya serius. Jadi, terpaksa aku harus memberitahu rahasia ini.” Lanjut Kai.

 

Ia kembali mendekat ke telinga Krystal.

“Kau tahu? Aku hampir membunuh ayahmu. Hampir. Bukankah aku sudah bilang jika kau beruntung? Ia hanya koma, beruntung bukan?”

 

Kai berbicara hampir seperti bisikan. Hati Krystal tertohok. Ia sadar kemana arah pembicaraan itu. Jadi..

 

“Kau benar, aku melakukan semuanya dengan sengaja. Tapi sepertinya rencanaku gagal, pria itu tidak mati.” Lanjutnya..

 

Mata Krystal memanas. Benarkah? Benarkah semua yang ia dengar? Jadi semua yang ia pikirkan sebelumnya benar? Bahwa Kai memang sengaja melakukan semuanya? Tentu saja Krystal tidak langsung menghakimi Kai tanpa alasan. Ia ingat betul bahwa baju yang namja itu kenakan saat hari kejadian benar-benar sama dengan baju pria yang ia temui sebelumnya.

 

“Tapi.. Kenapa?” Suara Krystal bergetar. Rasanya sebentar lagi air matanya akan jatuh.

 

“Kau benar-benar ingin tahu alasannya? Huh?” Kai menatap Krystal tajam.

 

Kai kembali mencengkram lengan Krystal semakin kuat. Sekarang bahkan Krystal dapat melihat mata itu menatapnya nyalang. Entahlah, ada tatapan sedih, kecewa, marah, dan—hancur?

 

“Aku hanya memberikan apa yang telah aku dapatkan. Jika kau benar-benar ingin tahu, tanyakan pada ayahmu jika ia berhasil bangun dari koma!!”

 

Setelah mengatakan itu Kai menghempaskan tangan Krystal kasar. Ia segera memasuki mobilnya, meninggalkan Krystal sendiri dengan rasa sesak di dadanya dan sejuta pertanyaan memenuhi kepalanya.

 

Flashback off

 

Victoria bergerak memeluk sahabatnya. Ia tahu Krystal mati-matian menceritakan itu. Menahan berbagai gejolak dalam hatinya.

 

“Tapi aku tidak mengerti, apa maksudnya ‘memberikan apa yang ia dapatkan’?” Ujar Victoria setelah melepas pelukannya.

 

“Itu yang menggangguku. Apa.. Ayahku pernah melakukan sesuatu padanya?”

 

~

 

Di dalam apartement Kai, manager Shim mondar-mandir tak karuan sambil menggigiti jari-jarinya. Di hadapannya, Kai hanya duduk santai di sofanya. Menaruh kaki kanan di atas kaki kirinya sembari sibuk membolak-balikan kertas-kertas yang tersusun rapi—sebuah kontrak.

 

“Kau dengar aku kan, Kim Kai? Batalkan kontraknya atau kita—maksudku kau mendapatkan masalah yang lebih besar.” Jelas manager Shim.

 

“Presdir itu sendiri yang memintaku, mengapa harus aku yang membatalkannya? Itu.tidak.sopan.hyung” Kai menjawab santai dengan penekanan di akhir kalimatnya disertai senyuman yang entah terlihat seperti apa. Mengejek, mungkin?

 

Manager Shim mendesah frustasi menatap Kai yang dengan santai kembali memasukan kertas-kertas itu kedalam sebuah map coklat.

 

“Jangan bermain-main, ayolah! Keberadaan awak media dimana-mana masih gencar menyoroti kejadian itu. Jika kau terus terlibat, itu hanya akan menciptakan skandal buruk yang akan merusak karirmu!”

 

“Justru karena mereka terus menyoroti perihal berita itu, pasti namaku akan terus menjadi kata kunci nomor satu di pencarian internet. Bukankah ini menarik, manager?” Balas Kai dengan wajah tanpa dosa.

 

“Kau sudah gila, Kim Kai.”

 

Tepat saat itu terdengar seseorang memasuki apartement. Gadis itu—Irene tersenyum lalu menghampiri ke arah mereka yang terlihat memperhatikannya.

 

“Baiklah, aku harus pergi. Aku akan menghubungimu nanti” Ujar manager Shim seraya melangkah keluar.

 

Kai tak menghiraukan manager Shim. Ia justru terus memasang senyumnya memperhatikan gadis di sampingnya yang tengah sibuk menata makanan pada meja di depan sofa yang ia duduki.

 

“Makanlah, aku harus segera ke kantor. Dan, bagaimana tawaranku?” Gadis itu menatap Kai tanpa menghilangkan senyumnya.

 

Demi apapun yang ada di dunia, itulah senyum paling indah yang selalu membuat Kai kewalahan menghadapi hatinya. Jantungnya selalu berdetak dengan gila setiap berhadapan dengan gadis ini. Apa Kai menyukai gadis ini? Irene? Tentu saja. Siapa yang dapat menolak sejuta pesona gadis itu? Selain cantik dan baik, ia juga cerdas.

 

“Tidak bisakah kau menemaniku sehari ini saja?” Ujar namja itu dengan nada memohonnya.

 

Irene menggeleng pelan tetap mempertahankan senyumnya. Sial! Tidak bisakah ia menghentikan hal itu demi hati seseorang di hadapannya yang sebentar lagi akan benar-benar meledak?

 

“Jangan lupakan pertanyaanku. Bagaimana kontraknya?” Ujar gadis itu.

 

“Aku tidak akan membatalkannya. Presdir yang meminta maka jika harus dibatalkan, aku hanya akan melakukannya jika beliau yang memintanya.” Tegas Kai.

 

“Dasar keras kepala. Kau tahu kan saat ini perusahaan benar-benar sedang kacau? Bahkan kudengar putrinya mengurung diri. Ini pasti sulit untuknya. Jika ditambah dengan dirimu yang terlibat dalam proyek yang bahkan untuk merayakan ulang tahunnya, pasti akan benar-benar buruk. Belum lagi tentang pendapat publik. Kau mengerti maksudku kan, Jongin?” Irene berujar selembut mungkin berharap lawan bicaranya akan mengerti.

 

Kai terdiam. Proyek untuk merayakan ulang tahun putrinya? Aku? Hatinya tertawa puas. Mengapa ia harus membatalkan kontrak? Bukankah ini hebat? Ini pasti akan jadi kejutan terbesar. Kai tersenyum miring.

 

“Jongin..” Suara lembut itu mengembalikan Kai pada tempatnya.

 

“Semua kejadian ini.. Tidak ada kaitannya dengan keluargamu kan?” Lanjut gadis itu hati-hati.

 

Kai sangat terkejut, ia tak menduga jika Irene akan menanyakan hal semacam itu sekarang. Tapi ia buru-buru menormalkan ekspresinya.

 

“Apa keputusan pengadilan meragukanmu?”

 

“Tidak, bukan begitu. Hanya saja.. Aku merasa aneh. Tapi aku harap pemikiranku salah” gadis itu kembali tersenyum.

 

“Jadi, kau tidak mau membatalkan kontraknya?” Lanjut Irene.

 

Kai mengangguk mantap. Tapi sejurus kemudian ia mendapat pukulan di kepalanya cukup keras yang membuatnya meringis kesakitan.

 

“Dasar anak nakal! Kapan kau akan mendengarkan kata-kata nuna mu ini huh?” Irene berkata gemas sambil menampakkan ekspresi kesalnya yang justru malah terlihat imut di mata Kai.

 

“Jika nuna mau jadi kekasihku” Balas jongin mengejek yang membuat Irene semakin memukulnya lebih keras.

 

Oh ayolah, Kai selalu serius dengan perkataannya pada gadis itu. Tapi masalahnya adalah Irene tidak pernah menganggap Kai sebagai seorang pria. Hanya adik. Ya, hanya sebatas itu. menyedihkan.

 

~

 

Setelah mendapat ceramah panjang dari Victoria dan Sekertaris Lu, akhirnya Krystal memutuskan untuk kembali mempelajari bisnis dengan serius. Ya, walaupun ia sudah membuat sekertaris Lu kelawahan dengan pekerjaannya di kantor dan mengajar gadis itu dirumah.

 

Krystal sudah mendengar tentang pengalihan kekuasaan perusahaan yang dijatuhkan pada dirinya. Saat itu juga yang berhasil membuatnya hampir pingsan. Apa ia disuruh main rumah-rumahan? Tentu saja bukan. Dan, menjadi presdir? Oh ayolah, walaupun hanya sementara ia pasti akan gila.

 

Tapi inilah satu-satunya cara menyelamatkan perusahaan ayahnya jika ia tak ingin kursi kekuasaannya jatuh pada orang yang salah. Dan hey—apa ia bukan orang yang salah? Semoga saja jawabannya bukan.

 

Krystal sudah bersiap dengan pakaiannya. Kemeja biru dongker polos tanpa lengan dengan sedikit hiasan pada ujung kerahnya, rok 10 senti di atas lutut dengan corak seperti batik, dan tak lupa blazer panjang berwarna dongker agak gelap yang hanya ia sampirkan. Apa ia berlebihan? Oh ayolah, tentu saja tidak. Ia mengenal fashion dengan sangat baik. Bukankah ini yang harus dilakukan presdir perusahaan fashion?

images

Sekali lagi ia menata diri di depan cermin. Ia hanya memoleskan make up tipis dengan rambut tergerai rapi. Setelah dirasa cukup, ia memakai heels dongker beludru nya dan segera turun ke lantai bawah.

 

Setelah mobil yang ia dan Sekertaris Lu tumpangi sampai di depan gedung perusahaan, Krystal menjadi ragu untuk keluar.

 

“Tidak perlu ada yang kau takutkan. Kau presdir, ratu diperusahaan ini. Semua akan baik-baik saja” Sekertaris Lu menyemangatinya.

 

Krystal sedikit menyunggingkan senyumnya lalu turun dari mobil didampingi Sekertaris Lu. Setelah ia rasa siap, ia melangkah tegap. Tapi baru sampai di ambang pintu, ia berhenti. Memperhatikan para pegawai yang berjejer rapi membungkukan tubuh untuk menyambut dirinya. Dilihatnya beberapa pegawai yang kiranya seumur dengan ayahnya. Mereka pasti sudah sangat berpengalaman dan berpengaruh di perusahaan ini. Pikir gadis itu.

 

“Mohon bantuannya” Ujar Krystal lalu ia membungkuk 40 derajat yang disambut ekspresi kaget. Setelah itu ia kembali melangkah mantap dengan wajah angkuhnya. Tidak, ia tidak seperti itu. Ia hanya memperlihatkan wibawanya.

 

‘Apa dia putri Presdir Jung? Ku kira ia model baru’

 

‘Presdir baru kita terlihat masih sangat muda’

 

‘Lihatlah caranya berpakaian. Ia pasti benar-benar putri presdir Jung’

 

Paling tidak itulah bisik-bisik para pegawai yang tertangkap oleh telinganya.

 

Krystal terdiam sesaat sebelum tangannya membuka pintu ruangan yang akan ia pakai—ruangan ayahnya. Setelah ia meyakinkan diri, ia memutar knop pintu itu dan melangkah masuk. Tak ada yang berubah, masih sama seperti terakhir kali ia datang—hari itu. Hingga matanya menemukan sesuatu yang berbeda di atas meja kerja ayahnya.

 

“‘Presdir Krystal’? Ah! Bahkan rasanya Papan

nama itu sedang mengejek keberadaanku disini” Krystal tertawa hambar.

 

Saat itu pula sekertaris Lu masuk dengan setumpuk berkas di tangannya. Ia menaruhnya di atas meja kerja Krystal lalu menatap gadis itu dengan senyuman mengejek.

 

“Ada apa dengan senyum mu itu?”

 

Luhan hanya menunjuk berkas-berkas menggunakan dagunya.

“Hari ini mungkin hanya itu. Menandatangani berkas kerjasama”

 

“Baiklah” Ujar Krystal sambil melangkah ke kursinya. Ia mulai membuka lembaran demi lembaran lalu membubuhkan tanda tangannya disana.

 

Luhan masih setia memperhatikan cara kerja gadis itu. Persis seperti tuan Jung pikirnya. Lalu tiba-tiba ia ingat pada perbincangannya beberapa hari lalu dengan Irene. Ia mulai cemas. Bagaimana cara membicarakan ini dengan Krystal? Apalagi setelah ia dengar bahwa Kai tidak ingin membatalkan kontrak itu. Sial!

 

“Mmm.. Kau tidak perlu membacanya dengan teliti. Aku hanya memberikan kontrak yang sekiranya menguntungkan. Jadi.. Kau hanya perlu tanda tangan” Ujar Luhan lalu ia tersenyum kaku.

 

Krystal mengernyit. Ada apa dengan orang itu?

Ia lantas hanya mengikut apa yang sekertarisnya katakan. Tak perlu di baca, hanya tanda tangan.

 

“Mmm.. Itu—”

 

Tok tok tok!

 

“Permisi” Seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan setelan rapi lalu membungkuk sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Oh—ada sekertaris Lu juga? Perkenalkan, aku Irene dari divisi jasa dan pemasaran. Aku kesini untuk menyerahkan kontrak pada nona Krystal”

 

Setelah menyerahkan map coklat pada Krystal, ia sedikit memandang Luhan yang dibalas dengan tatapan tak biasa. Irene segera permisi meninggalkan ruangan itu.

 

Krystal membuka map itu, membuat jantung Luhan rasanya akan keluar saat itu juga.

 

“Tapi, ayah selalu bilang jika membaca sebuah berkas sebelum di tanda tangani itu wajib” ia menatap sekertaris Lu seolah meminta jawaban.

 

‘Kontrak Kerja’ itulah yang tertera pada halaman awal. Krystal mulai membalik lembaran demi lembarannya dengan seksama.

 

Jantung Luhan semakin berdegub tak beraturan. Ya Tuhan, apa ia harus merebut itu?

 

“Percayalah padaku, aku sudah menyaring kontrak kerja sehingga kau hanya perlu tanda ta—”

 

“Apa ini?” Potong Krystal.

 

Ia tak peduli sekertarisnya sudah selesai bicara atau belum. Mata dan pikirannya hanya tertuju pada nama yang tertera di kertas kontrak itu. Kim Kai.

 

Ini tidak mungkin.

 

Tangannya mulai gemertar. Dadanya naik turun, ia benar-benar menahan amarahnya yang hampir meledak.

 

“Nona.. Itu—”

 

“Katakan padaku apa maksud semua ini?!!”

 

 

-TBC-

 

Hai! Ketemu lagi^^

Maafkan atas segala kekurangan, Terimakasih sudah baca!

36 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] HATERxFAN (Chapter 3)”

  1. Yang lain pada ngomong Jojong jahat. Tapi menurut aku sih kan gak bakal ada asap klo gak ada api, so pasti ada alesannya Jojong gini. Kayaknya sih bapaknya Krys yg dulu bunuh ortunya Jojong, atau gimana? Ah lanjut baca aja daripada ngarang gaje

  2. Kyaaaaaaa awas kle nanti jgn terlalu benci bisa suka sm si kamjoong hihihi, tp alasan kai ngelakuin itu apaan yaahh heemm makin penasaran

  3. Kai jahat banget asli:” rasanya digituin sama idola sendiri tuh hmm sabar ya krystal :v wah ada uri-chanyeol*plak gasabar sama perannya dia kek apa. penasaran kelanjutannya….next min;)

    1. Duh wordpressku beneran error :’3
      Orang2 bilang Kai jahat padahal menurutku dia
      kurang jahat disinii😀 haha *disiram
      Oke, ditunggu yaa😉

  4. Nih Kai mau gue geplak pake sendok sayur deh 😂 jahat bgt jadi orang -_- and Chanyeol siapanya ini? Mantan pacarnya Krys? 😂😂 Aduh kok greget gini yah??

    Next..Next..Next..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s