[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 17)

draftnew2.jpg

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Oh Sehun – Bae Irene – Kim Kai – Kang Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak saya yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.

Visit – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

 Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 16]

-17-

Sehun mencium sesuatu yang tidak biasa dari gelagat Kai akhir-akhir ini. Sahabatnya itu terlihat lebih bersemangat dari biasanya, terlihat lebih ceria dan sering mengoceh tak jelas meskipun Sehun tidak menanggapi sedikitpun. Dan dia merasa bahwa Irene terlalu bodoh untuk menyadari hal itu.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Kai?” Tanya Sehun tiba-tiba, ketika ketiganya tengah asyik mempelajari materi untuk UTS di perpustakaan.

“Eh?” Kai mengangkat kepalanya, diikuti dengan Irene. Mereka pun saling melempar tatapan.

“Ada apa denganku?”

“Ada apa dengan Kai?”

Sehun menghembuskan nafas sambil memutar bola matanya. “Kau tidak sedang jatuh cinta pada gadis lain selain Seulgi, kan?” Tanyanya asal.

“Eh?” Lagi-lagi Kai membalas dengan bingung. Hening beberapa detik sampai akhirnya lelaki itu menyadari maksud Sehun kemudian menahan tawanya. “Apa aku terlalu kentara?”

“Eh? Jadi kau benar-benar suka pada perempuan lain?”

Mwo?!” Irene menahan suaranya dengan berbisik sambil memandang Kai lagi dengan terkejut.

Reaksi kedua sahabatnya itu lebih dari cukup untuk membuat Kai tertawa pelan, “Aniyaa. Bukan begitu. Ini justru ada hubungannya dengan Seulgi.”

Beberapa detik kembali hening. Sehun dan Irene masih menatap Kai dengan eskpresi masing-masing yang mereka miliki.

“Maksudmu?” Tanya keduanya berbarengan.

Kai mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. Setelah beberapa hari dia menyimpannya sendiri. Akhirnya Kai menceritakan bagaimana dia menjenguk langsung ke kediaman Seulgi saat itu. Hal yang membuat Kai merasa lebih baik semenjak hari itu. Meskipun hari-hari berikutnya ia dan Seulgi jarang sekali berinteraksi selain di kelas club dance dan beberapa tempat sepi. Semua dibiarkan mengalir begitu saja.

“Kalau ada yang tau lalu dia dibully lagi, bagaimana?” Tanya Irene dengan suara khawatir.

“Aku –oh bukan. Maksudku kita, akan membelanya. Iya, kan?” Balas Kai.

Sehun dan Irene saling melempar pandangan, kemudian kembali menatap Kai.

“Kau berani membayar berapa, Kim sajangnim?” Irene tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya jahil.

Aish, jinjja.” Protes Kai, membuat Irene tertawa.

Sehun kemudian menggeleng pelan, “Kenapa tak kau lakukan sejak dulu?” Itu lebih terdengar seperti sebuah ejekan ketimbang pertanyaan. Dan Kai sama sekali tidak tertarik untuk membahasnya.

Geurae! Mari kita lanjutkan saja, Oh seonsaengnim.”

xxxx

 

Mendekati UTS, latihan untuk final kompetisi dance pun terpaksa ditunda. Hari-hari selanjutnya Sehun, Kai dan Irene selalu pergi ke perpustakaan sepulang sekolah. Hukuman Sehun sudah terlewati dengan 2 hari hukuman tambahan gegara dia yang selalu membuat masalah dengan Byun Baekhyun ketika jam pelajaran Mrs. Luna. Bisa dipastikan saat ini catatan nilai milik Sehun telah berantakan. Membuat dirinya berulang kali mendapat teguran dan sederet ceramah dari beberapa guru yang peduli padanya dan menyayangkan jalan yang Sehun ambil.

Tapi lelaki datar itu tak peduli. Toh, apa salahnya turun 1 peringkat saja? Itu bukan berarti kebodohan. Kadangkala sekolah aneh ini memang terlalu serius memandang sistem papan peringkat dan catatan nilai. Dan melupakan bagaimana para siswanya tumbuh secara sosial. Contohnya saja, Kim Junmyeon. Bagi Sehun, dialah orang bodoh yang sebenarnya. Wakil ketua OSIS dengan kepribadian penguasa jagat raya yang jahat. Jika ini adalah cerita fantasi, Sehun rasa karakter seperti Junmyeon adalah karakter terburuk. Karakter musuh paling pengecut.

Meskipun di sisi lain, Sehun merasa dirinyalah sang pahlawan yang tak kalah pengecutnya.

Satu minggu UTS berjalan sesuai yang Sehun harapkan. Dengan bermodalkan wajah lurus dan pikiran masa bodo, dengan mudahnya ia mengisi soal seolah-olah dia hilang ingatan akan dirinya yang seorang jenius. Suatu kesenangan tersendiri setiap dia menemukan Kai dan Irene keluar kelas dengan ekspresi ringan. Tersenyum dan bergurau seperti biasanya. Kemudian berkata, bahwa semua yang Sehun ajarkan keluar dalam soal. Dan sebagian besarnya bisa mereka kerjakan dengan baik.

“Apakah ada reward untuk muridmu yang pandai ini, seonsaengnim?” Gurau Irene sembari berkedip manja ke arah Sehun, yang malah membuat lelaki itu mual.

“Cih. Dasar matre.” Ledek Kai sambil terkekeh.

“Biar saja.” Gadis itu membalas dengan mendelikkan mata seraya menjulurkan lidah dan kembali menatap Sehun dengan penuh harap.

Lelaki di hadapannya hanya menghembuskan nafas, “Bukankah seharusnya kau yang membayarku karna sudah menyumbang kepintaran untuk mengisi otak kosongmu itu?”

Heol. Guru itu pahlawan tanpa jasa, Sehun. Jadi sudah sepantasnya yang diberi hadiah itu muridnya karna sudah berhasil melewati masa ujian dengan baik.” Balas Irene.

“Memangnya kau yakin, kau sudah naik peringkat?” Cibir Sehun lagi.

“Cih. Senaik-naiknya peringkatmu, Irene. Sudah jelas-jelas akan tetap di bawah Sehun.” Bela Kai kemudian tertawa meledek.

Gadis itu kemudian menekuk wajahnya dan memajukan bibir. Sebal jika sudah begini. Kedua temannya itu terkadang memang terlalu kompak untuk dihadang. Tidak punya rasa kasihan sama sekali pada dirinya.

Beberapa detik kemudian, tiba-tiba sebuah tangan menepuk kepala Irene dengan pelan. “Kau lupa? Apapun yang kau minta, aku selalu tidak bisa membantahnya.”

Irene mengangkat wajah, membalas tatapan Sehun yang amat teduh.

Ugh, manis sekali.” Cibir Kai. “Giliran aku yang minta –“

“Memangnya apa yang pernah kau minta dariku, oh? Selain meminta saran untuk mendekati Seulgi.” Sergah Sehun gemas. Yang hanya dibalas dengan cengiran Kai.

Beberapa hari kemudian, seisi sekolah pun seolah-olah tengah mendapatkan guncangan yang dahsyat kala papan pengumuman sudah terisi dengan pengumuman peringkat.

“Tidak mungkin!”

“Bagaimana bisa?!”

“Ini pasti karna pengaruh Bae Irene!”

“Tapi lihatlah, Bae Irene ada di 15 besar! Astaga, daebak!”

Sehun, Kai dan Irene berdiri sejajar di belakang kerumunan yang tengah berdesakan mencari tau hasil nilai dari setengah semester ini.

“Kau bisa melihatnya, Sehun?” Tanya Kai.

“Hm. Aku berhasil turun ke peringkat 2. Hebat, bukan?”

Heol. Lihat saja bagaimana reaksi Kim Junmyeon nanti. Kepalanya pasti akan membesar sampai meledak.” Cibir Irene.

Kai terkekeh dengan nada meledek. Ini adalah tujuan dari semua yang sudah Sehun korbankan. Yang sudah mereka bertiga rencanakan selama lebih dari 1 bulan ini. Kai berhasil ada di peringkat 10. Dan Irene 12. Itu adalah tantangan baru bagi Bae Irene. Untuk tetap mempertahankannya kemudian menaikkan nilai setidaknya 2 peringkat lagi sampai dia mencapai angka 10 di kenaikan kelas nanti.

“Ini tak akan mudah.” Lanjut Irene. “Kecuali jika kau mau merelakan peringkat 10 mu itu aku geser dengan sekali senggol.” Kemudian gadis itu tertawa, seakan itu adalah hal yang kecil baginya.

“Coba saja kalau kau bisa.” Tantang Kai.

Ya. Siapa yang menyuruh kalian berkompetisi, oh?!” Protes Sehun. Lelaki itu menggelengkan kepala kemudian berjalan meninggalkan kedua temannya.

xxxx

 

Seulgi bersumpah dia sama sekali tidak berniat untuk berharap apapun. Apalagi sampai menagih langsung pada sunbaenya mengenai janji bermain ke panti asuhan setelah UTS selesai. Namun sial sekali, Seulgi merasa kalang kabut setiap hatinya bertanya pada diri sendiri. Kapan sunbaenya itu akan mempir? Sangat tak masuk akal.

Tapi sore itu datang juga. Seulgi datang ke panti asuhan sepulang sekolah. Menemui anak-anak dengan terus mengingat janji Kai dalam benaknya. Seulgi pikir Kai mungkin lupa dan tak akan menepati janji. Namun dia salah.

Setelah 1 jam berada di sana, tiba-tiba sunbaenya itu datang bersama kedua antek-anteknya ke rumah panti sederhana itu dengan semangat.

Salah satu anak berteriak, “Kai oppa!!”

Anyeong!” Lelaki itu berjalan mendekati Seulgi dan anak-anak yang tengah bermain di halaman panti. Bersama Sehun dan Irene di belakangnya.

“Sehun oppa, kau kemana saja?” Anak menggemaskan bernama Aeri itu berhambur ke kaki Sehun dan memukulnya pelan.

Aeri-ah, bagaimana kabarmu?” Tanya Sehun sembari menurunkan tubuhnya untuk berjongkok dan menghadap Aeri. Anak itu segera tersenyum lebar dan mengangguk semangat. “Maafkan aku karna baru sempat datang kesini.”

Tiba-tiba saja Irene sudah ikut berjongkok di samping Sehun kemudian mengusap kepala Aeri dengan lembut. “Kau sangat menunggunya, ya?”

“Aku dan teman-teman yang lain menunggu kalian, eonni.” Jawab anak itu dengan gemasnya.

Irene kemudian tertawa pelan, “Baiklah. Sebagai gantinya, kau boleh melakukan apa saja yang kau mau pada paman yang satu ini.” Gadis itu segera menepuk pundak Sehun, seolah-olah tengah menyerahkan barang dagangan kepada pelanggan setia. Sementara Sehun kini menoleh ke arah Irene dengan tatapan mendelik.

“Benarkah?” Seru Aeri antusias dengan mata yang amat berbinar.

“Asalkan tidak membuat punggungku sakit, oke?!” Sehun mengangkat kedua jempolnya di depan anak itu lalu menarik kedua pipinya dengan gemas.

Irene segera berdiri sembari menahan tawa. Gadis itu kemudian mendekati Seulgi yang tengah speechless, memandangi Kai yang sudah berjongkok tak jauh dari tempatnya berdiri. “Tidak usah seterkejut itu, Seulgi.” Goda Irene di sampingnya.

Juniornya itu menoleh cepat pada Irene kemudian tersenyum lebar, “Terima kaish, sunbae. Anak-anak pasti akan sangat senang hari ini.”

“Tidak masalah. Sepertinya mereka itu tersihir dengan visual Kai dan Sehun. Sampai anak-anak laki-laki pun begitu senang dengan mereka.” Irene menggelengkan kepala seraya tertawa geli. “Aku tidak paham.”

Seulgi ikut tertawa, “Kau memang yang terbaik, sunbae. Sanggup bertahan bersama para visual ini.”

“Astaga. Bagiku mereka berdua hanya bebenyit buruk rupa yang menyenangkan di ajak ribut.” Jawab Irene asal, kemudian tersenyum. Lalu menoleh ke belakang dan menemukan Sehun sudah menjadi kuda-kudaan untuk anak-anak.

“Lihat, kan. Dia jadi terlihat sangat bodoh. Astaga.” Tubuh Irene berbalik, kemudian dengan puas menertawakan Sehun yang lagi-lagi menjadi kuda bagi Aeri dan teman-temannya. Seulgi ikut menoleh, lalu tertawa ringan.

Beberapa menit menikmati tawa dan canda bersama. Tiba-tiba Kai kembali mendekat, “Seulgi.” Panggilnya.

“Hm?”

“Temani aku bermain.”

“Eh?”

Kai tak menjawab kebingungan Seulgi, malainkan menarik pergelangannya menuju kerumunan anak-anak panti yang sedang berisik seperti anak-anak biasanya.

“Kita akan bermain apa?” Tanya Seulgi.

“Kucing-kucingan!” Seru salah seorang anak di sekitar mereka.

“Kucing-kucingan?” Lagi-lagi Seulgi menampakkan ekspresi bingung.

Ini bukan kucing-kucingan seperti biasanya. Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah melingkar, menyanyikan sebuah lagu tradisional anak bersama-sama sambil memutar sebuah tongkat kecil. Orang yang memegang tongkat ketika lagu selesai, dialah yang menjadi kucing. Kai dan Seulgi bersama anak-anak bernyanyi dengan ceria seolah-olah tak akan ada yang terjadi. Sampai sialnya, Seulgi lah orang yang memegang tongkat itu. Seulgilah yang harus menjadi kucing dan di tutup matanya dengan sehelai kain hitam.

“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Seulgi ketika tubuhnya sudah berada di tengah dengan mata tertutup kain.

“Sebelumnya,” Kai kemudian memutar tubuh Seulgi dengan perlahan sampai 5 kali. Cukup membuat Seulgi kehilangan arah.

“Tongkat akan kembali berputar sampai kau bilang stop. Lalu kau harus menebak ada pada siapa tongkat itu berakhir. Dengan sekali sentuh.”

“Jika aku menyentuh orang yang salah?”

“Kau akan dihukum. Dan orang yang kau sentuh akan mengambil posisimu sebagai kucing.”

“Jika aku berhasil menemukan tongkatnya?”

“Orang yang memegang tongkat itu yang akan dihukum dan menjadi kucingnya.”

Seulgi diam beberapa saat kemudian tertawa, “Aigoo. Permainan macam apa itu?”

“Siap?” Tau-tau saja suara Kai sudah menjauh dari pendengarannya. Lelaki itu kemudian meminta Seulgi untuk mengatakan stop ketika tongkat itu kembali memutari anak-anak.

Stop!”

Semua orang behenti bergerak. Tak satupun mengeluarkan suara, membuat Seulgi ikut diam, “Apakah aku harus mencari sekarang?”

“Kau ingin mencarinya besok?” Balas Kai bergurau.

Gadis itu terkekeh lalu mulai mengumpulkan segala tebakannya yang sepertinya akan sia-sia saja. Bagaimana dia bisa tau tongkat itu ada dimana? Hanya sekedar mengikuti insting bukanlah sesuatu yang akan berhasil dengan akurat.

Kaki Seulgi yang terbungkus Sneakers pink susu berjalan menyusuri rerumputan halaman dengan hati-hati, takut-takut ada sesuatu yang bisa membuat dirinya tersandung dan jatuh. Telinganya bisa mendengar cekikikan-cekikikan kecil dari beberapa anak di sekitarnya.

Sampai tangannya menyentuh ujung rambut yang sejajar dengan dada. Dia tidak ingat, di antara anak-anak yang sedang bermain dengannya ada yang setinggi dada Seulgi. Sampai dia menyadari bahwa tangannya tengah menyentuh wajah tegas itu. Wajah hangat yang ukurannya cukup besar. Jemarinya menyentuh sebuah hidung yang tegak. Tangannya tanpa sadar menelusuri kedua pipi itu sampai ke rahangnya yang lancip.

Orang yang baru saja disentuhnya itu kemudian berdiri, membuat tangan Seulgi turun ke dadanya. Sudah Seulgi duga, itu Kai. “Kau salah orang.” Ucap Kai pelan. Membuat bulu kuduk Seulgi berdiri seketika. Tangannya pun dengan cepat melepas kain yang menutup matanya.

Satu detik kemudian, sosok tegap itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Seulgi mengangkat wajah dan menemukan Kai tengah tersenyum ke arahnya.

“Seulgi noona harus dihukum!” Seorang anak tiba-tiba berseru lagi dengan semangat.

“Kira-kira hukuman apa ya, yang cocok untuknya?” Tanya Kai selanjutnya, sambil menoleh pada anak-anak untuk meminta pendapat.

Sementara Seulgi sudah mengalihkan pandangan dengan gugup. Bulu kuduk di sekujur tubuhnya masih terasa berdiri tegak. Tangannya berubah jadi sedingin es. Namun dalam waktu bersamaan dahi sampai seluruh wajahnya mulai memanas, menghasilkan peluh yang turun dari keningnya.

xxxx

 

Jam makan malam sudah dekat. Tapi semua orang di tempat itu masih begitu asyik bermain. Tertawa, lebih instens dari sebelumnya. Lebih menyenangkan dari waktu itu. Irene sejak tadi terus saja menertawakan Sehun yang di perebutkan banyak anak. Dikerumuni dan diserbu. Dan yang paling membuatnya tertawa terbahak-bahak adalah eskpresi Sehun yang terus datar, lurus semulus jalan tol. Tapi Irene suka itu.

Ahjumma. Kau tidak usah memasak untuk malam ini.” Sahut Seulgi.

Wae?

“Kakakku sebentar lagi datang membawakan makanan.”

Ahjumma yang sudah sangat akrab dengan Seulgi itu pun mendekatinya, “Aigoo. Kenapa repot-repot? Padahal aku sudah belanja banyak untuk memasak.”

Kemudian Seulgi tersenyum sambil mengelus pundak wanita paruh baya itu, “Belanjaannya kan, bisa di masak besok.”

Tiba-tiba terdengar suara deru mesin motor yang menghalus memasuki pagar panti asuhan itu. Semua orang menoleh. Menemukan Seorang pria yang tak terlalu tinggi membawa beberapa keresek penuh kotak makanan yang menggantung di motornya.

Anyeonghaseyo.” Sapa pria itu sembari membuka helm dan turun dari kendaraannya. “Oh? Kau juga disini, Kai?” Tanyanya ketika Kai menghampiri dan berniat membantu menurunkan kantung-kantung keresek dari motor.

“Apa kabar, hyung?” Tanya Kai.

“Baik, baik.”

Sementara mereka tengah mengobrol ringan. Sehun melirik ke arah Irene yang tiba-tiba berbinar penuh semangat melihat kakak Seulgi.

“Wah. Oppanya Seulgi manis sekali. Lihatlah, wajahnya seperti hamster. Ah, menggemaskan!” Pekik Irene tanpa menoleh kemanapun.

Seketika Sehun merasakan sesuatu yang janggal dalam dirinya. Perasaan semacam tersaingi dan semacamnya. Entah apa itu Sehun tak begitu paham.

“Menggemaskan apanya, sih?” Gerutu lelaki itu.

“Ah, ayo kita bantu mereka.” Tanpa menggubris protes Sehun, Irene segera menarik lelaki itu menghampiri Kai dan kakak Seulgi.

“Kenalkan, hyung. Ini teman-temanku.” Kai kemudian menunjuk Sehun dan Irene bergantian, “Ini Sehun. Dan ini Irene.”

Irene pun dengan riang menyodorkan tangan kanannya, yang disambut pria itu dengan ramah. “Aku Minseok, kakak Seulgi.”

Kemudian bersalaman dengan Sehun yang hanya menyalaminya dengan dingin. Membuat pria bernama Minseok itu terlihat tidak nyaman.

“Ah, dia memang datar. Tidak bisa tersenyum.” Sambung Kai sembari membawa kantung keresek dan mengajak kedua temannya untuk membantu, “Ayo.”

Sehun segera meraih kantung lainnya dan menyusul Kai mendekati Seulgi yang sedang membimbing anak-anak untuk duduk dengan rapih.

Minseok pun membawa 2 kantung terakhir.

“Biar kubantu.” Ujar Irene masih dengan suaranya yang riang. Tangannya hendak mengambil alih salah satu kantung namun Minseok melarangnya.

“Ah. Tidak usah, tidak apa-apa. Biar laki-laki saja yang melakukanya.” Balas Minseok ramah kemudian segera mengajak Irene masuk ke dalam panti.

Sehun sempat menoleh ke belakang beberapa detik, melihat Irene terlihat begitu tertarik dan berbinar berada di dekat Minseok. Entah kenapa, itu membuatnya sedikit gerah. Melihat Irene tiba-tiba tertarik pada seorang laki-laki adalah hal yang sangat aneh baginya. Belum lagi, Minseok adalah laki-laki dewasa yang sangat ramah. Bisa dipastikan baik seperti adiknya, Seulgi. Laki-laki idaman banyak wanita, pikirnya.

Malam itu pun semua menyantap makan malam bersama di ruang tengah rumah panti yang cukup luas. Hidangan kotak nasi itu adalah sumbangan dari keluarga Seulgi. Ini bukan pertama kalinya Minseok datang ke sana. Sebelumnya, beberapa kali dia datang untuk menjemput Seulgi.

Di tengah-tengah makan malam yang cukup ramai, kelimanya duduk bersama di lantai. Dengan Minseok duduk di tengah-tengah Seulgi dan Irene. Sementara Sehun yang berada di sebelah Irene, hanya diam mengunyah sambil memperhatikan obrolan santai teman-temannya.

Minseok memang berbeda dengan Seulgi, lelaki itu lebih cerewet ketimbang adiknya. Sejak tadi dia berbicara banyak hal menarik dan menyenangkan, membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Ketika Kai Seulgi dan Irene begitu menikmati suasana, Sehun sendiri malah merasa seperti terintimidasi. Melihat Irene yang sangat riang, seakan-akan batre dalam dirinya terisi 2 kali lipat lebih penuh. Bertanya ini-itu pada Minseok tanpa sungkan. Gadis itulah yang menceritakan bagaimana situasi hubungan Kai dan Seulgi selama ini. Membuat Minseok tak berhenti menggoda Kai. Dan semua itulah yang membuat Sehun merasa berat hati. Tanpa tau bagaimana menjelaskannya saat ini.

Sehun seperti ingin menuduh Irene sebagai cewek sinting yang genit. Cari perhatian dan terlalu berlebihan ketika sedang memperhatikan Minseok dengan mata berbinar. Ugh, Sehun tak henti-hentinya merutuki diri sendiri yang terus mengeluh dalam hati. Ada apa dengannya, dia tidak mengerti.

Setelah semua sampah makan malam kembali di kumpulkan ke dalam kantung keresek, Irene meraih salah satunya dan berniat membawanya menghampiri bak sampah di halaman depan panti. Di susul oleh Sehun juga Minseok.

Berjalan di halaman yang penuh dengan rerumputan pendek, Irene berjalan tanpa hati-hati. Sesuatu benda keras yang tidak terlalu besar membuat Irene tersandung sebelum ia sampai di bak sampah. Kantung keresek yang di bawanya hampir saja berserakan jika tak ada Minseok disana. Tapi gadis itu jatuh tak terhindarkan.

“Irene, gwaenchana?” Sahut Minseok setelah meraih kantung keresek yang tadi di bawa Irene.

“Irene!” Baru saja Minseok mendekati gadis itu, Sehun sudah berseru kaget sambil berjalan cepat dan berjongkok tepat di samping Irene.

“A-aku tidak apa-apa.” Ringis gadis itu pelan. Rok seragamnya tidak membuat lutut Irene aman. Kaki kanannya tertekuk ke atas, gadis itu memandangi lutunya yang terluka, tergores sesuatu dan membuat darah mulai keluar sedikit demi sedikit. Mata Irene berkaca-kaca, jika dia tidak mau menahannya, mungkin Irene sudah menangis merengek seperti anak kecil.

“Dasar ceroboh. Jalan itu hati-hati.” Gerutu Sehun sebal.

Sementara sejak tadi Minseok hanya diam memperhatikan Sehun yang terlihat sangat cemas, padahal lukanya tidak seberapa. Dia pun meraih lagi kantung yang tadi dibawa Sehun, “Bawa masuk, Sehun. Ahjumma pasti bisa mengobatinya. Sampahnya biar aku saja yang buang.”

Irene menggigit bibir bawahnya, ia ingin sekali membalas gerutuan Sehun jika dirinya sedang tidak menahan diri untuk tidak mengeluh. Lelaki itu kini sudah merangkulnya, membantunya untuk berdiri tapi pergelangan kaki kirinya dirasa cukup ngilu untuk berjalan.

“Sepertinya terkilir.” Gumam Irene menahan sakit. “T-tapi aku masih bisa berjalan.”

Sehun hanya berdecak dalam perasaan cemas. Dia meraih pinggang Irene, dan merangkulkan lengannya di leher Sehun. Membantu Irene berjalan untuk kembali ke dalam panti.

Orang-orang terkejut melihat gadis itu tiba-tiba dibopong oleh Sehun. Tanpa basa-basi, salah satu ahjumma segera membawa kotak P3K dan mengobati lutut Irene. Kemudian memeriksa pergelangan kakinya. Irene meringis pelan.

“Cederanya tidak parah. Memang cukup sakit. Tapi jika istirahat yang cukup, besok pun akan pulih.” Wanita itu menutup kotak P3K sambil tersenyum kemudian berlalu dari mereka.

Beberapa anak menghampiri Irene dan bertanya-tanya apakah gadis itu baik-baik saja. Dan Irene hanya membalas dengan anggukan seraya tersenyum.

“Beruntung, cederanya tidak separah Kai waktu itu.” Sahut Sehun yang duduk di sebelah Irene. Dia menatap gadis itu dengan sayu, tak ada lagi perasaan khawatir yang tersirat dari matanya seperti tadi.

Minseok tersenyum memperhatikan teman-teman sekaligus sunbae dari adiknya itu, kemudian mendekat. “Ini sudah gelap. Sebelum kemalaman sebaiknya kita semua pulang.”

Semuanya mengangguk setuju.

Ahjummaa!” Panggil Minseok. “Kita pamit pulang, ya?”

Setelah berpamitan dan memberi salam perpisahan pada anak-anak, mereka pun keluar bersama menuju pagar rumah itu. Kecuali Seulgi dan Irene. Irene meminta semuanya pergi menduhuluinya karna ada sesuatu yang ingin dia bicarakan pada Seulgi.

“Aku harap kau bisa menolongku.” Bisik Irene sambil mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor. Seulgi tak menjawab selain mengerutkan keningnya. “Bicara pada ayahku kalau aku akan menginap dirumahmu untuk mengerjakan tugas kelompok.”

“Eh? Kenapa kau baru bilang akan menginap di rumahku?” Tanya Seulgi bingung.

“Ah, tidak. Aku akan menginap di rumah Sehun saja.” Jawab Irene jujur.

M-mwo? Ta-tapi –“ Seulgi terlalu bingung untuk mengomentari niat Irene. Dia tidak percaya sunbaenya itu akan tinggal di rumah Sehun. Dia pikir, bukankah rumor yang beredar bahwa Sehun tinggal sendirian di sebuah apartemen? Refleks, Seulgi menutup mulutnya karna merasa terkejut sendiri.

Irene hanya memutar bola matanya, “Kau jangan mengkhawatirkan apapun. Kau hanya harus bicara pada ayahku, ya? Ya?” Balasnya dengan nada memohon. Tanpa menunggu keputusan Seulgi, dia sudah menyambungkan nomor ayahnya dan meletakannya di telinga Seulgi.

“Astaga, su- sun –

“Irene? Ada apa?” Sebuah suara membuat Seulgi menghentikan kalimat sebelumnya. Gadis itu diam beberapa detik memandangi sunbaenya dengan cemas kemudian menghela nafas palan sekali.

Ng, maaf Ahjussi. Aku temannya I-Irene.” Balas Seulgi mencoba membuang perasaan gugupnya karna cemas.

Dimana anakku?” Tanya yang disebrang telepon.

“Begini, aku ingin meminta izin supaya Irene bisa menginap di rumahku karna kami punya tugas kelompok yang harus di selesaikan malam ini. Bo-Bolehkah?” Kali ini Seulgi mulai bisa menetralkan suaranya agar tak terdengar gugup. Sampai beberapa menit kemudian percakapan pun berakhir dengan izin yang berhasil di dapatkan.

Irene tersenyum lebar pada Seulgi dan menyampaikan terima kasihnya. Sementara juniornya itu menggaruk kepalanya bingung.

“Hmm. Di sana ada orang dewasanya, kan?” Tanya Seulgi hati-hati.

Irene menghela nafas, “Dengar, Seulgi. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi tolong jaga rahasia ini baik-baik, ya.”

“Tapi aku mengkhawatirkanmu, sunbae.” Kalimat Seulgi membuat Irene tersentuh, ia kemudian tersenyum lagi.

“Tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja.”

“Menginap saja di rumahku.” Tawar Seulgi, “Kita bisa mengobrol banyak hal di kamarku sampai malam.”

Namun Irene menggeleng, “Tidak, terima kasih. Mungkin lain kali saja.”

Keduanya pun berjalan keluar, menghampiri 3 laki-laki yang tengah mengobrol ringan menunggu mereka. Setelah sampai, Irene segera melepaskan diri dari rangkulan Seulgi yang membantunya berjalan. Dia meraih lengan Sehun dan mengenggamnya dengan kedua tangan supaya dia bisa menahan diri untuk tetap berdiri.

“Apa yang kalian bicarakan barusan?” Selidik Sehun curiga. Irene hanya menjulurkan lidahnya.

“Rahasia.”

“Kau tidak pulang sendirian kan, Irene?” Tanya Minseok sambil naik ke atas motornya.

“Tidak, Oppa. Aku punya 2 bodyguard yang menjagaku.” Jawab Irene dengan suaranya yang kembali riang, membuat Sehun ingin sekali melepaskan genggaman Irene dan membiarkannya jatuh lagi. Tapi dia tak mungkin melakukan itu.

“Tenang saja, hyung. Dia sudah terbiasa menempel dengan kita.” Balas Kai kemudian tersenyum lebar.

Setelah saling berpamitan, Minseok dan Seulgi pun melesat cepat dari sana.

Ketiganya berdiri dengan bingung di jalan yang tak jauh dari panti. Kai menatap Irene dan Sehun bergantian, “Aku harus pulang atau bagaimana?” Tanyanya, mengingat arah halte bus rumahnya dan apartemen Sehun berbeda.

“Kau pulang saja.” Balas Irene santai. Sehun segera melirik ke arah Irene, menatapnya dengan ekspresi tanya. “Aku akan menginap lagi di apartemen Sehun.”

“Kau yakin?” Tanya Kai. Irene mengangguk mantap sembari tersenyum. “Yasudahlah. Ibu juga sudah mengSMSku. Aku duluan, ya.” Lelaki itu pun melambaikan tangan kemudian berlalu dari mereka dengan santainya.

Beberapa detik setelahnya hening. Alih-alih kembali melanjutkan langkah menuju halte, keduanya malah diam. Dengan Sehun yang kembali memandangi Irene bingung, mempertanyakan maksud dari niat gadis itu menginap lagi setelah sekian lama dia tak bermain ke apartemennya.

Sehun pun mendorong Irene dengan pelan, mundur sedikit untuk menjauhkan diri. Membuat gadis itu terkejut dan hampir saja terjatuh jika dia sendiri tidak bisa menjaga keseimbangan.

We?” Tanya Irene dengan wajah memelas.

Tapi Sehun tak manjawab apapun, dia hanya melepas ransel dan jas seragamnya kemudian kembali mendekati Irene. Dengan satu gerakan tangannya mengikatkan jas itu di pinggang Irene, membuat gadis itu diam terpaku. Membeku dan tak tau harus berkata apa. Tiba-tiba saja Sehun sudah berjongkok membelakanginya dengan ransel yang berpindah tempat menjadi di depan dadanya.

“Naik.” Gumam Sehun.

“Eh?”

“Cepatlah. Membiarkanmu berjalan hanya akan membuang waktu.”

“Kau.. Akan menggendongku?” Tanya Irene memastikan, “Kau serius?”

Sehun berdecak, “Naik atau aku tinggalkan kau disini sendiri?”

Ne, nee.” Dengan sedikit ragu, Irene pun menyeret kakinya pelan kemudian naik ke atas punggung lebar Sehun. Kedua tangannya mengenggam bahu lelaki itu, enggan untuk mengalungkannya ke leher. Dan dengan susah payah Irene menahan diri agar tetap santai dan mengontrol supaya jantungnya berdetak dengan normal.

Sehun pun mulai melangkahkan kaki dengan santai menuju halte, sambil membuka percakapan kembali. “Kau yakin akan menginap lagi?”

“Hm.” Jawabnya sambil mengangguk. “Aku sudah izin pada ayah.”

“Eh? Bagaimana bisa?”

“Sebenarnya… Yang tadi aku bicarakan dengan Seulgi adalah ini. Aku meminta bantuan padanya untuk bicara pada ayah agar akus diizinkan menginap di rumah teman.”

Jinjja? Kau membuat anak itu berbohong untukmu?”

“Hehe.”

Sehun hanya menggelengkan kepala sambil berdecak pelan. Tapi tak berniat berprotes ria apalagi sampai melarang Irene menginap di apartemennya lagi. Entah kenapa, dia tak kuasa untuk melakukan hal semacam itu.

“Kau tidak keberatan, kan?” Tanya Irene memastikan.

“Satu-satunya yang membuatku keberatan saat ini adalah tubuhmu.” Jawab Sehun santai, membuat Irene tersenyum lebar. Dengan perlahan tangan gadis itu pun bergerak, merangkulkan kedua lengannya di leher Sehun. Lalu menumpukan dagunya tepat di samping kiri wajah Sehun. Dekat sekali, membuat lelaki itu sedikit kaku karna dia bisa mendengarkan nafas Irene dengan lebih jelas.

“Jadi, kau lebih memilih menjadi kuda-kudannya Aeri atau kuda-kudannya Irene?” Tanya gadis itu lagi, dengan nada menggemaskan.

“Tidak keduanya.” Balas Sehun singkat.

xxxx

 

Irene sudah meminta untuk turun semenjak di depan pintu apartemen, tapi Sehun tidak menggubrisnya dan terus menggendong gadis itu bahkan sampai ke dalam kamarnya. Membuat Irene bingung.

“Kenapa aku di turunkan di sini?” Tanyanya setelah Sehun melepaskan Irene di samping tempat tidur.

“Malam ini, aku akan membiarkanmu tidur di sini. Sementara aku di sofa.” Jawab Sehun tenang, sambil melepaskan ransel miliknya dan melepaskan ransel dari punggung gadis itu tanpa diminta.

“Loh?” Wajah Irene tampak kebingungan. Kenapa pula dirinya yang harus tidur di dalam kamar? Di ranjang atau sofa sepertinya akan sama saja baginya.

“Akan lebih efektif jika kau istirahat di atas kasur daripada di sofa.” Lelaki itu menghampiri lemarinya dan mengambil beberapa pakaian. “Ini. Ganti dan cepatlah tidur.”

Irene tak berkata apapun, selain memandang Sehun heran dan menerima pakaian yang disuguhkan untuknya. Lelaki itu pun keluar kamar, menutup pintu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan sekujur tubuhnya yang lengket.

Setelah itu, Sehun menghampiri dapur untuk sekedar meneguk segelas air putih seperti kebiasaannya sebelum tidur. Tapi sebelum benar-benar berbaring di atas sofa, tentu saja Sehun membutuhkan bantal dan selimut yang lupa belum dia bawa dari kamarnya.

Lelaki itu berdiri di depan pintu lalu mengetuknya pelan, memastikan apakah Irene sudah tertidur atau belum. Namun sebuah sahutan cukup kencang terdengar di telingnya, “Masuk saja.”

Sehun pun masuk ke dalam kamar, mendapati Irene sudah berada di dalam selimut sambil memandanginya lurus.

“Kau masih belum tidur?” Tanya lelaki itu kemudian duduk di tepi ranjang dan bukannya membawa perlengkapan tidur.

“Temani aku sampai aku tertidur, Sehun.” Dengan polosnya, gadis itu menepuk ruang yang tersisa di sampingnya. Meminta Sehun untuk duduk tepat di pinggir kepalanya. Lelaki itu hanya menghembuskan nafas, kemudian duduk di jarak yang lebih dekat.

“Kau tidak akan memintaku untuk membacakan dongeng, kan?” Gurau Sehun sambil melipat satu kakinya di permukaan kasur. Irene terkekeh pelan lalu menggelengkan kepala di atas bantal.

“Kau tidak mungkin punya dongeng yang menarik.” Balasnya pelan. Lalu menyampingkan tubuh menghadap Sehun dan mencoba untuk melelapkan diri.

“Irene.”

“Hm?” Jawab Irene tanpa membuka matanya.

“Kau menyukai kakaknya Seulgi?” Pertanyaan itu terlontar tanpa rencana begitu saja dari mulut Sehun. Dia sendiri tidak paham untuk apa dirinya bertanya hal semacam itu. Kenapa dia begitu penasaran sampai menanyakannya detik itu juga.

“Aku menyukainya seperti aku menyukaimu, Kai dan Seulgi.” Jawab Irene santai.

“Maksudnya, kau tidak jatuh cinta pada Minseok hyung seperti Kai jatuh cinta pada Seulgi?” Tanyanya lagi memastikan.

Irene kemudian membuka mata sambil tertawa pelan, “Tidak, Sehun. Lagipula, kenapa aku harus merasakannya?”

“Siapa tau saja. Matamu berbinar sekali sih, tadi.”

Gadis itu tak membalas lagi selain tertawa pelan dan kembali menutup matanya.

“Irene.”

“Apalagi, Hun?”

“Ng…”

“Hm?”

“Apakah pertemanan perempuan dan laki-laki memang seperti ini?”

Mata Irene kembali terbuka, kali ini kedua alisnya saling bertautan, “Seperti ini bagaimana?”

“Ya.. Seperti –Seperti kita ini.” Jawab Sehun tak jelas. Dia tak mengerti juga maksudnya seperti ini seperti apa.

Lagi-lagi Irene tertawa pelan, “Aku tidak tau. Jangankan berteman dengan laki-laki. Dengan perempuan saja aku tidak tau persisnya seperti apa.”

“Ah, kau benar. Kau kan jagonya cari musuh.” Ledek Sehun. Namun gadis itu tak membalas selain terkekeh pelan seakan mengakui kenyataannya yang memang seperti itu.

Jaljaa.” Sahut Irene setelahnya.

“Hm. Jalja.”

Setengah jam berlalu, yang Sehun lakukan sejak tadi hanya memandangi kepala Irene yang berada di dekatnya. Menunggu gadis itu sampai benar-benar terlelap. Tidak yakin juga, kenapa dirinya tidak keberatan sama sekali untuk melakukan hal semacam itu.

“I-Irene?” Bisiknya pelan. Tak ada sahutan. Gadis itu mungkin sudah masuk ke dalam mimpi. Namun entah dorongan dari mana, tangan Sehun bergerak dengan perlahan. Kemudian mendarat di atas kepala Irene dengan ragu. Lalu mengusapnya pelan-pelan. Takut-takut membuatnya kembali terbangun. Tak ada reaksi apapun. Senyum setipis benang pun mengembang di bibirnya, seiring dengan elusan tangannya yang semakin melembut di permukaan surai gadis itu. “Jalja.” Ucapnya sekali lagi, dengan suara berbisik.

–To be continued–

 

note (gak) penting:

Rasa-rasanya, sejak beberapa chapter kebalakang. Aku nulisnya kaya ‘kejar terbit’ jadi beberapa ceritanya kurang lurus, udah kaya sinetron kejar tayang yang ceritanya makin absurd. Pffttt. Tapi semoga ff ini gak se absurd sinetron-sinetron kejar tayang itu. Heheheheheheh

Jadi okelah, aku harus kembali meluruskan ceritanya biar gak semakin ngalor ngidul. Mungkin pembaca bisa jadi gak ngeuh kalo ceritanya kaya ‘maksa’ dan kejar terbit. Tapi aku sebagai penulisnya yang sudah punya gambaran cerita sampe tamat, merasa gak puas sendiri melihat beberapa chapter sebelumnya kaya –apa adanya doang. Wqwqwqwqqq gaada yang ngeuh juga syukuur Alhamdulillah :v. Thanks a lot readers mumumuuu dikasih flying kiss sama mas Sehun~~ wkwk(?)

Silahkan tinggalkan jejak apapun, asalkan jangan jejak kaki karna kolom komentar tidak menyediakan cap kaki /apasih/. Arigatoo^^

62 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 17)”

  1. maniiis bangeet ceritanya….
    bikin senyum senyum sendiri..
    meleleh niih author akunya 😀 #lebay abaikan 😀

    Author nim fighting..!!
    ^^

  2. gue diabetes! sehun cemburu, sehun gendong irene, sehun nungguin irene tidur dan sehun liatin wajah irene waktu tidur, gue sukaaaaaa chapter ini 😀

  3. Huaaaaa greget banget sama sehun irenenya!!! Ini ceritanya harus bener bener ditamatin nih gaboleh sampe ga ditamatin!❤❤❤❤

  4. Huaaaaaa…. Sehun cute bangettt sampe nanya kalau irene suka enggak sama minseok . Sampe takut nih sepanjang membaca takut mrrka di foto lagi heeh ngeselin tuh suho dasar. Semangat ya nulisnya, thank you ceritanya toppp!!

  5. Kyaaaaaaaaaa akhirnya datang juga!! Daaaannnn ceritanya pun tetep manis. Manis sekali! Gulanya tumpaahhhh!!!!! Hahah. Pas sehun bilang “Kau lupa? Apapun yang kau minta, aku selalu tidak bisa membantahnya.” readers be like “omooo sejak kapan sehun jadi manis banget beginiiiii” irene bener bened penyihir yeee. Dateng dengan urakan ga jelas, bikin ribut sana sini, eehhhhhh ternyata bisa bikin kang es balok (re : sehun) jadi cemburu gajelas gitu hahahahah. Daannn pas di tempat tidur sehun yg sehun nanya ttg irene suka apa engga sama minseok, si irene kan jawab “Aku menyukainya seperti aku menyukaimu, Kai dan Seulgi.” tau gaaaa aku bacanya ngulang hahah. Tapi baca yg pertama cuma sampe ‘aku menyukainya seperti aku menyukaimu’ titik. Terus kan ganyadar jadi baca ulang dan ‘ooh kai dan seulgi disebut juga toh’ *penontonpun kecewa* hahah.
    Udah deeg aku baca bext chapternya dulu hehe. Daahhh thor-nim ^^
    -XOXO-

  6. Ff ini kembali seperti dulu… manis yeyeeyyy semanis gula pasir bermerk my sugar wkwk. Hmm aku ngak terlalu merasa melenceng mungkin karena aku reader cuma menurut aku ada satu dua chapter yang feelnya kurang semenjak adanya tuan joonmyung keknya akh tapi itu hanya perasaanku saja… oke abaikan aku kak tyar

  7. Finally chapter 17 rilis yeeeaaaayyyy ^^ pertanyaan aku thor, bebenyit itu apa? Wkwkwkwk. Seulgi ih greget amat udah jelas2 ada rasa naksir sama kai masih aja ngelak wkwk. Ga shanggup baca sehun-irene di kamar beduaan dibikin senyum2 sendiri berasa ada kupu2 bersemayam di perut *apasih*. Ditunggu chapter selanjutnya thor moga chapternya makin panjaaaaaaannggggg \m/

    1. Yeaaaaayyyy bebenyit….bebenyit ya itulah sehun dan kai adalah bebenyit /gajelas/ 😂 yep selamat menungguuu hihihi thanks yaa yha~

  8. ff ini bahkan gk ada sama sekali absurdnyaaa
    ceritanya bagus banget bikin pengen senyum senyum sendiri nihhh thorrr
    berharap banget bisa jadi irene *plakkkk
    pokoknya tetap semangat authorrr FIGHTING!!!!

  9. Makin lope lope ama ni ff, momen hunren and kaiseul bikin mesam mesem sendiri bacanya.
    Next chap thor!! Jangan lama2 updatenya..
    ni ff kalo dilanjut ampe chapter 50 ayoin aja thor!! Wkwkwk:v
    Fight thor

  10. pertemanan sehun-irene tuh.. maniiisss banget nget nget!!
    bikin senyum” sendiri tauk!!

    pliiss author-nim, next chap jgan lama-lama yaa.. udah greget ama sehun-irene

    hwaiting hwaiting!!

  11. Tyar,,/eh sok akrab,,aku cuma mau bilang,, wawwwwww aku suka bnget ma DRAFT , dan greget bangt ma HunRene,,,,,Kaiseul mereka manis bnget c,,,,,,

  12. “Jalja.” MAYGATT so sweet iiiiiih XD sehuuuunnn kamu kok diam-diam menghanyutkan gini siiih >_< paling suka pake banget dua scene terakhir. Pas gendong-gendongan sama "Jalja.." oh God bunuh aku /gak/
    sehun juga udah mulai cemburu nih yeee… Lucuu XD aaaargh aku kasih tahu ya hun, kamu itu suka sama Irene. Udah titik. Pengen ngomong kek gitu ke Sehun, tapi apalah daya, sehun di sini hanya secuil dari milyaran imajinasi kita XD abis greget deh :v

    okeh, ditunggu next chap yaa.. Keep writing and fighting^^

    1. Ho oooooh aku aja yg nulisnya gakuaat 😭🔫
      Wqwqwqwqqq sehun mah kelewat naif, atau mungkin dia naksirnya sama tyar bukan irene /PLAK PLAK/ wkwkk 😂
      Yha~~ selamat menunggu keep writing and fighting too 😁

  13. Makin kesana makin suka ceritanya juga enteng, gak absurd kok, aku tuh orang milih2 kalo baca ff lohh tapi ini termasuk ff yg aku suka, mungkin nanti aku bisa rekomendasiin ff ini ke temen aku

  14. Jgn samain sama sinetron kejar tayang yg cerita nya kemana tau. Ff ini lebih bagus dan lebih baik dari itu. Meski saya jg sempet di tengah2 cerita berpikiran kayak gitu jg (ngalor-ngidul), ff ini cerita nya bakal kayak semula lg ga ya/? Tapi setelah saya baca sampai habis, cerita nya udah lutus lg kayak semula.

    Tenang author, ff ini cerita nya ga absurd kok. Saya malah puas baca dari awal sampe chapter ke 17 ini (meski saya harus sabar nunggu seminggh sekali utk ff ini di publish ke chapter selanjut nya). Keren seperti biasa nya. Selalu ditunggu kelanjutan2 nya. Saya pikir ff ini dibuat dengan setidak nya tidak asal2an. Kenapa? Karena setiap kata dan penulisan nya sangat rapi. Seolah2 sebelum di publish, author baca lg (mengkoreksi) takut2 ada yg terlewat atau salah. Tapi prolog sampe chapter 17 ini kayak nya saya baru ketemu satu typo aja. Typo nya ada di chapeter ini.

    Tetep semangat nulis nya. Semoga chapter selanjut nya hubungan Sehun-Irene lebih menemukan titik terang/? *abaikan aja* ^^

    1. Wkwkwkwkk alhamdulillaaah aku terhura jadinya kkk :”)
      Kamu bener juga hhi, aku emang selalu baca ulang sebelum dikirim, klo ada yg typo di chap ini berarti aku gagal fokus /butuh aqua/ wkwkwk
      Yap selalu semangat dong hohoho makasi yaaa ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s