EX’ACT SERIES #02. Monster – Shaekiran

PhotoGrid_1466349456580

[EX’ACT Series]

#02. Monster

 

A Fanfiction Project By : Shaekiran

Cast

Park Chanyeol (EXO)

Genres

Romance? Pyscho? Creepy ? AU?

Length Series | Rating PG-17

Disclaimer

Inspired by EXO’s 3rd Album EX’ACT. Merupakan murni hasil kerja keras dari sebuah otak sederhana milik penulis pemula bernama Shaekiran yang bersinergi untuk merangkai  kata per kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Typo berguguran di setiap kalimat yang terangkai seadanya lewat sebuah imajinasi absurd. Hope you like the story. Happy reading!

Previous Track List

Lucky One | [NOW] Monster |

“Aku merayap di  hatimu sayang-Monster.”

 

Chanyeol’s Side

 

Aku mengenggam tangannya erat. Bisa ku lihat rona tersipu masih terlukis jelas di wajahnya. Dia masih saja malu-malu padahal kami sudah berpacaran 3 bulan lebih. Dia lucu sekali. Tapi tingkahnya malah membuat gadisku ini tambah manis. Surai kecoklatannya juga sangat harum, wangi mint seperti biasa. Dia benar-benar beda dengan gadis kebanyakan, membuatku semakin menyukainya.

“Kau ada kelas pagi ini?”, tanyaku kemudian sambil terus menggenggam tangannya erat.

“Hmm.”, Dia bergumam sambil menggelembungkan sedikit pipinya hingga memmbuat pipinya nampak semakin bulat. Tak tahan, aku langsung mencubit sepasang pipi itu dengan gemas.

“Jangan bilang kau lupa jawdal kuliahmu sayang.”, kataku gemas sambil memainkan pipinya. Gadis itu langsung memanyunkan bibirnya beberapa senti.

“Yeol-a, sakit. Aku ingat kog. Jam 9 ada kelas ekonomi dengan professor Kim.”, jawabnya sambil memindahkan tanganku yang masih memainkan pipi bulatnya dan dia kembali menggenggam tanganku erat.

“Mau ke kantin fakultasku? Katanya ada menu baru di sana.”, ajakku pada gadis manis di sebelahku. Dia tersenyum seketika.

Kajja.” Sambutnya setuju sambil menggenggam tanganku semakin erat. Asal kalian tau, aku sangat mencintai gadisku ini.

Sesampainya di kantin dia langsung menarikku duduk di meja paling sudut. Seperti biasa, dia malas diperhatikan orang-orang. Salah satu alasan aku sangat menyukainya. Bukankah sudah ku bilang, dia berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ku kenal. Aku kemudian sedikit tertawa saat gadis itu mulai melantunkan guyonannya yang harus kuakui memang lucu. Sekali lagi dia berbeda.  Jika gadis lain akan mulai menceritakan bagaimana sulitnya membuat lukisan alis sejajar, maka gadis ini lebih suka mengeluarkan selera humornya tanpa sedikit pun istilah menjaga image di depanku.

“Oi.”

Aku reflek menoleh saat kurasakan ada seseorang menepuk bahuku pelan. Ah, ternyata Myungsoo.

Wae?”, tanyaku singkat. Lelaki di depanku itu langsung berkacak pinggang.

“Kau tidak lupa dengan praktek kita hari ini kan? Mana daftar kesimpulan dari hewan-hewan yang sudah kau belah tuan Park? Aku harus mengetiknya untuk laporan presentasi kita besok.” Myungsoo menjelaskan dengan singkat, padat dan cepat hingga aku bahkan tidak bisa menyela pertanyaan bertubi-tubinya.

“Itu..tertinggal di mobilku.” Jawabku jujur. Lelaki Kim itu langsung mendecakkan lidahnya kesal seperti berkata, “Kau tunggu apa lagi? Ambil sana. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku kunyuk!” . Melihat ekspresinya pun aku langsung mengerti.

Araseo. Aku akan mengambilnya.” Lanjutku kemudian pada Myungsoo. Aku memalingkan wajahku kembali ke arah gadis yang nampaknya mulai bosan menunggu aku selesai bicara dengan teman sekelompokku itu.

“Sayang. Aku mau ke parkiran sebentar, mengambil tugas dan langsung kembali lagi kemari.” Terangku sambil menggenggam tangan gadisku itu. Berbeda dengan prasangkaku sedari tadi, wajahnya menunjukkan dia tidak kesal sama sekali meski harus menungguku selesai berbicara dengan Myungsoo dan malah membiarkannya bengong sendiri.

“Pergilah. Oh iya, tidak usah kembali kemari. Bukankah setengah jam lagi kelasmu dimulai? Aku juga mau pergi ke perpus sebentar sebelum masuk kelas ekonomi.” Gadis itu menjawabku sambil tersenyum sangat manis. Ah, dia benar-benar pengertian.

Ara.” Jawabku sambil menyentil hidungnya sedikit. Sedetik kemudian pesanan kami datang. Ah, tidak pas sekali. Bagaimana tanggapan orang saat melihat gadisku sendirian di kantin dengan 2 porsi makanan dan minuman di depannya?

“Yeol, aku makan bagianmu ya. Lapar belum sarapan.” Aku tertawa saat mendengar kalimat polos gadis ini. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan 2 porsi makanan itu. Bukankah dia memang berbeda dengan gadis yang lain?

Aku mengangguk singkat, kemudian pergi meniggalkan gadisku yang mulai meminum orange juice-nya dengan sangat hikmat. Bisa kulihat Myungsoo yang berdiri di sebelahku juga tersenyum sedikit melihat tingkah gadisku yang masa bodoh dengan pandangan orang.

“Kalau itu tadi pacarku, dia akan langsung menggebrak meja dan pergi meninggalkanku yang memasang wajah cengo.” Terang Myungsoo sambil menyikut lenganku sedikit. Aku tersenyum bangga.

“Gadisku beda dengan gadismu.”, jawabku yang akhirnya berakhir dengan sebuah cubitan ringan di pinggangku yang efeknya sedikit menggelitik.

Membelah adalah salah satu hal yang menyenangkan, dalam arti positif tentunya. Sudahkah aku bilang kalau aku adalah mahasiswa fakultas kedokteran? Jadi jangan heran kalau kalian melihat aku lumayan ahli menggunakan pisau, apalagi scalpel karena begini-begini aku adalah calon dokter bedah.

“Baiklah, kelas hari ini selesai. Bersihkan praktikum kalian masing-masing. Selamat siang.” Suara Professor Kang mengagetkanku yang sedari tadi asyik membedah tubuh seekor katak. Aku tersenyum masam. Kelas menyenangkan ini berlalu dengan sangat cepat. Tak mau ambil pusing, akupun mulai membersihkan mejaku sendiri dan memberikan beberapa tetes formalin pada katak malang yang sedari tadi isi perutnya kuacak-acak, lalu meletakkannya di sebuah lemari khusus bersama katak temanku yang lain.

“Sampai jumpa minggu depan Froggy.” Salamku pamit sebelum meletakkan katak yang sekarang berada di tabung transparan ke dalam lemari.

Kajja.” Kurasakan bahuku ditepuk oleh seseorang, Myungsoo. Aku tersenyum dan mulai berjalan mengikuti langkah temanku itu keluar kelas.

“Yeol, sebentar. Aku mengangkat telfon dulu.” Aku mengangguk pada Myungsoo, bisa kulihat dia mulai menepi ke sudut kelas. Aku sedikit tersenyum. Pasti pacarnya yang pemarah itu yang menelfon.

Aku menyenderkan badanku ke dinding kelas sambil menunggu Myungsoo menyelesaikan panggilan telfonnya sambil sedikit bersenandung ria. Ah, andai appa-ku tidak memaksa agar aku mengikuti jejeknya menjadi dokter bedah, mungkin kini aku sudah berada di sebuah band atau setidaknya mejadi mahasiswa fakultas seni, bukannya fakultas kedokteran.

Aku menghembuskan nafasku pelan sambil menutup mataku. “Berhenti bergurau Yeol, buktinya kau menikmati kelas kedokteranmu.” Aku tersenyum masam. Ya, aku menikmati hidupku, setidaknya aku harus.

Yeoboseyo?”sapaku ceria saat mengangkat telfon yang baru saja berdering di sakuku.

“Bisa kau pulang sendiri hari ini? Aku masih punya kerja kelompok.” Terangku kemudian pada orang yang menjadi lawan bicaraku, siapa lagi kalau bukan gadis yang sangat aku cintai itu.

Aku menutup panggilan telfon lalu kembali memasukkan benda mungil nan ajaib itu ke dalam saku celanaku seperti semula. Tak lama kemudian muncul Myungsoo dengan wajah masam. Bisa ku tebak, pasti pacarnya marah-marah karena Myungsoo tidak bisa mengantarnya pulang karena yah…kerja kelompok.

Kami berdua pun berjalan beriringan menuju tempat parkir, tepatnya menuju mobil sedan hitamku. Tak lama kemudian kami sudah berada di jalan raya menuju perpustakaan. Seharusnya perpustakaan nasional punya banyak buku yang kami perlukan untuk menyelesaikan tugas kelompok kami. Aku menginjak rem mobilku kemudian, bergabung dengan kerumunan kendaraan lain yang juga berhenti seperti mobilku. Aku mendongak sedikit ke atas, menatap detik lampu merah yang rasanya lama sekali berubah menjadi hijau.

Aku mendengus. Seharusnya fokusku ke lampu merah yang sebentar lagi berubah menjadi hijau saja, bukannya ke arah sebuah sepeda motor dengan vendor terkenal dari Jepang berwarna merah mengkilat yang berhenti tepat di depan mobilku.

Hujan turun dengan sangat deras. Ini bagus. Aku merapatkan jaket hitamku lebih erat, lalu mulai berjalan menembus hujan malam itu. Persetan dengan dingin yang mulai merasuk sampai ke tulang-tulangku atau petir yang mulai bersambar-sambaran di langit mencekam ini. Aku tidak peduli.

Langkahku akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bertingkat 2 model minimalis. Aku menekan belnya dan kemudian bisa ku dengar suara manis seorang gadis menyambutku melalui intercom.

“Siapa?” Aku tersenyum dan mulai membuka masker hitam yang kupakai, lalu mendekatkan wajahku ke intercom. Gadis itu langsung tersenyum girang dan sekarang bisa ku lihat suara pintu yang terbuka.

“Kau basah kuyup Yeol.” Decaknya khawatir sambil memegangi tanganku. Aku menyeringai pelan. Tak lama kemudian dia mulai menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya yang selalu berkesan hangat.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambil handuk dan baju ganti.” Lanjutnya yang sekarang bisa kulihat berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Manis sekali.

“Ini, pakailah.” Katanya sambil menyerahkan sepasang baju tak lama setelah dia turun dari lantai atas. Aku sedikit tertawa saat menerima pakaian itu. Ini baju ayahnya, aku sangat yakin.

“Jangan tertawa. Siapa suruh kau datang basah kuyup. Sana, ganti pakaian.” Lanjut gadisku itu sambil mendorongku ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Dia lucu sekali. Kenapa malah dia yang merona padahal sebentar lagi aku yang akan memakai baju yang…kalian taulah bagaimana model baju orangtua.

Tak mau berlama-lama, aku segera mengganti pakaianku dan langsung keluar dari kamar mandi. Aku langsung duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamunya, mengikuti gadisku yang juga sedang duduk manis disana sambil memegang sebuah mug.

‘Minumlah. Mungkin bisa memanaskan tubuhmu yang kedinginan.” Katanya sambil menyodorkan mug yang sedari tadi dia pegang. Aku balas tersenyum sambil mennerima mug pemberiannya itu. Mengecap cokelat panas itu sedikit lalu meletakkannya di atas meja kecil di depan sofa. Aku lantas menatap gadisku lekat lalu memeluknya.

“Bukannya kau lebih panas dari mug itu?” seringaiku pada gadisku yang kuyakini sudah memerah. Aku semakin memperat pelukan itu, lalu sedikit berbisik ke telinganya.

“Boleh aku menginap malam ini?” tanya ku hati-hati. Gadisku langsung melepas pelukan kami. Tak lama kemudian kurasakan kedua  tangannya sudah menangkup kedua pipiku.

“Kau bertengkar dengan ayahmu lagi?”, tanyanya kemudian. Aku mengangguk singkat. Dia kemudian tersenyum manis dan langsung berdiri. Dia pasti tau alasan mengapa aku datang tengah malam ke rumah yang ditinggalinya sendiri karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Yah, meski alasanku kali ini sedikit bohong. Aku bahkan belum bertemu dengan ayahku hari ini, lalu bagaimana caranya aku bisa bertengkar?

“Tunggu disini, aku akan mengambil selimut dan bantal sebentar.” Katanya hendak pergi ke atas. Aku dengan cepat menahan tangannya dan memaksanya duduk kembali di sofa. Dia menatapku penuh tanda tanya. Sedetik kemudian aku menarik tengkuknya dan langsung mencium bibirnya. Aku melumatnya perlahan dan semakin menarik tengkuknya, memperdalam ciuman kami.

Tak lama kemudian kurasakan sepasang tangan melingkar manis di leherku. Dia membalas lumatanku perlahan. Gadis itu sedikit membuka mulutnya, seakan mengerti kalau lidahku ini ingin bermain dengan lidahnya. Aku kemudian melumat lidahnya sambil beberapa kali merubah posisi angle ciuman kami. Dia lebih panas dari mug itu, seperti kataku tadi.

Aku menidurkannya di sofa. Kini dia sudah berada di bawahku. Tak sadar, aku kembali mencumbunya dengan lebih ganas. Toh gadisku ini menerimanya. Sadar kalau gadisku mulai kehabisan nafas, aku mulai menurunkan ciumanku. Kini bibirku tidak lagi menempel di bibirnya yang menggoda. Bibirku kini mulai bermain di leher jenjangnya. Bisa kurasakan rambutku yang mulai acak-acakan akibat ulah tangannya yang nakal saat aku mulai mencumbu lehernya dengan lebih panas.

“Yeol.”, ntah kenapa suaranya saat memanggilku itu terdengar sangat…sexy.

Argh!

Aku tertawa menyeringai kemudian berdiri dari sofa.

“Suara itu jauh lebih sexy sayang.”, Ucapku pada gadis yang kini merintih kesakitan di sofa sambil memegangi lehernya yang robek. Dia menatapku tak percaya, lebih tepatnya dia menatap sebuah scalpel berdarah yang menggantung bebas di tangan kananku.

“Kenapa Yeol?”, tanyanya sambil memangis. Aku tersenyum masam.

“Tenang saja. Scalpel ini sudah steril.” jawabku sambil mendekatinya yang mulai menangis. Aku hendak mengelap airmatanya dengan tanganku yang berdarah-darah, namun dia malah meghempaskan tanganku itu sambil menatapku nanar.

“Salahmu sendiri bermesraan dengan laki-laki lain.” Kataku dengan nada marah. Dia menatapku seakan bingung dengan tuduhan yang baru saja kulontarkan.

“Maksudmu Yuta?” tanyanya kemudian sambil memegangi lehernya. Bisa kulihat tangannya mulai gemetar sekarang. Terang saja gemetar, kuyakini pasti dia mulai kehabisan darah.

“Jadi namanya Yuta? Rintihannya lumayan bagus.” Lanjutku sambil mengelap scalpel di tanganku dengan tissue yang ada di meja ruang tamunnya. Merasa cukup bersih, aku kembali mengantongi benda mungil nan tajam itu.

“Apa mak..sud…mu?” , tanyanya yang kini mulai kesulitan bicara karena kehabisan darah.

“Asal kau tau saja. Aku menabraknya dengan mobil kesayanganku, berulang-ulang sampai ususnya berceceran di jalan.” Jawabku singkat sambil mengoleskan sedikit sisa darah gadisku yang masih tersisa di tanganku itu ke bibirku sendiri. Manis.

“Da..sar..psi..ko..” Perkataan gadis itu terhenti. Aku tertawa nyaring. Dia mati.

“Kau pasti mau bilang aku piskopat kan sayang?”, tanyaku sambil membelai pipi kaku gadisku yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Tentu saja dia mati, aku sudah memotong nadinya.

“Tapi setidaknya kau mati dengan lebih elit sayang, tidak seperti selingkuhanmu yang ususnya kubuat berceceran di jalan.”, lanjutku lagi sambil membelai rambut kecokltannya yang selalu wangi.

“Oh lihat. Tanganmu mulus sekali.” Aku membelai tangan mulus gadisku yang terbujur kaku di sofa.

“ Sayang kau menggunakannya untuk menggenggam tangan namja lain selain aku.” Lanjutku sambil menghempaskan tangannya hingga menabrak sofa cukup keras.  Aku beralih mengambil scalpel-ku di saku celana ayahnya yang sedang kupakai dan mulai menggoreskan beberapa huruf hanggul di tangan kakunya. Saranghae.

“Kau jahat Wen.” Batinku sebelum mataku terasa kabur karena cairan bening yang mulai turun dari manik gelapku. Sosok kaku gadisku itu mulai menghilang, tergantikan oleh pemandangan hitam yang kini memenuhi mataku. Gelap.

“Jangan mengelak bocah. Semua orang yang masuk ke ruangan ini berarti sudah pernah membunuh seseorang dalam tidurnya.” Kataku pada lelaki yang baru saja masuk ke ruangan yang tadinya hanya berisi 3 orang selain aku. Dia menatapku tak percaya.

“Jadi aku sudah membunuh seseorang?” Dia bertanya dengan nada yang benar-benar membuatku ingin tertawa. Sepertinya dia tidak sadar-sadar juga kalau sekarang dia sudah menjadi seorang pembunuh, sepertiku dan 3 orang lainnya disini yang kini hanya bisa mengangguk meng-iya-kan. Bisa kulihat orang itu mulai memegangi kepalanya tak percaya.

“Jadi, siapa yang kau bunuh?”, kini namja itu mulai bertanya, ntah ditujukan untuk siapa.

“Aku?”, tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri. Dia mengangguk.

“Aku membunuh 2 orang, pacarku Son Wendy dan selingkuhannya yang katanya bernama Yuta.” Jawabku yakin sambil tersenyum miring.

 

-FIN-

 

 

 

 

 

 

22 thoughts on “EX’ACT SERIES #02. Monster – Shaekiran

  1. Awalnya maniiissssssss sekali cem anak SMA baru pacaran. Eehhhh taunya psikopat. Mas cahyo, kamu serem maasss. Kamu tegaaa!

    Ah iya itu yg terkhir itu chanyeol yg ada di tempat sama kaya sehun yaa? Terus yg nanya sehun juga kah atau gimanah?

    Ditunggu kelanjutannya aja laahhh huehehe. Semangaattt author eki ^^
    -XOXO-

    • Awalnya manis dulu, baru napeun” SAIKO dibelakang.😂😂 CEYE, kami nyeremin bang.😂
      Iya, itu tempat yg sama kayak sehun, yg nanyak juga sehun, lebih jelasnya tunggu next series ya chingu.😉
      Ditunggu yaw next seriesnya, thanks for reading.😉😊😘

  2. Waww Chanyeol psikopat sekali… Aku padamuh bang /gk
    Chanyeol klo cemburu kejam sekali yah saya jadi terkenyut/? Si Yuta dilindes berkali kali? Trs ususny berceceran, mengingatkan sayah sama kejadian ketika emak sedang parkir mobil trs gk taunya ngelindes anak kucing *gk tega* ampe isi perutnya keluar gitu dan sayah menyaksikan secara live karena saya yg jadi tukang parkir /njir/
    Setelah kejadian itu saya menjadi terkenyot kenyot /-.-/ dan memanggil tukang satpam terdekat untuk mengkuburi mayat anak kucingnya /hiks/ <– tolong abaikan ceritanya

    Wendy yaampun bias gue dibunuh Chanyeol kenapa gk sekali an dimutilasi aja *sesat*
    Semoga motornya diberi ketabahan (?) btw emg bener Yuta ama Wendy selingkuhan? Siapa tau udah nikah :v

    Saya sebagai istri dari bang D.O mengucapkan nextnya ditunggu ya cyiin 😑😑
    Cemungut ya beb/?

    • Bah, jangan selingkuh sama laki ane dong, Setia aja sama kyungsoo sana, xixixi..😂😂 (*dilempar pakek panci.😂)
      Wadaw, yuta kog disamain sama kucing meong di parkiran chingu? Tapi itu contoh yg baik manggil saptam buat nguburim tuh kucing?(*lah?)
      Iya, Wendy dibunuh sadis eui ama bang tiang. Kenapa gak dimutilasi? Semua karena Cinta~(*abaikan.) Bukan chingu, itu nanti ada alasan Wendy kenapa gak dimutilasi di next next series berikutnya. 😂😉
      Motor tabah? Macam apaan tuh ketabahan motor? Itu cerita wendy yuta beneran selingkuh atau nikah Tunggu di next series aja lah ya chingu, siapa tau nanti nongol alasannya..😂😂
      Okej, saya sebagai istri bang chanyeol bakal ngelanjutin series psycho ini, saya semangat kok beb? 😂😂😉
      Tunggu next series ya, thanks for reading…😉😉😊

  3. oh my! bisa gue bayangin senyum miring si chanyeol 😱😱

    pertama sehun, kedua chanyeol, keyiga bakal siapa nih, jdi penasaran.. dan bkin prnasaran lagi.. kok mereka bisa kek gtu sihh..

    authornim chapter selanjutnya sangat ditunggu, gamsahamnida hhhe…

    • Gimana coba senyum miring bang tiang chingu?? 😂😂
      Ayo, siapa cobaa yg ketiga setelah sehun dan chanyeol???😂
      Penasaran ya chingu kenapa mereka jadi psiko kayak gitu? Tunggu next series ya chingu,😉
      Thanks for reading.😊😉

  4. Omo mengerikan euyy smpe ususnya keluar berulang ngebayanginnya ngeri, jdi itu yg ditabrak yuta thor?.. hmm

    Next lah thor dripda penasaran! Fighting!

  5. Oke bilang sama Chanyeol aku mau pinjam scapelnya untuk mengoyakkan kulit Shaeki 😊 ini apa Ki? Kemarin Li bunuh Irene, sekarang Wendy and Yuta? Maksudmu apa? Ngajak perang nih -,- ?
    Terus lu mau bikin korban siapa lagi? Sesuai janji kita semalam? 😂😂 DASAR PSIKO!

    • Ntar drh ane bilangin laki ane (*open yoir eyes🔫) ntu kalo ente mau minjam scalpelnya, xixixii..😂😂
      Ente mau ngoyakin kulit ane? Scalpel mah gak mempan. Gergaji noh baru fix robek..😂😂
      Iya, disini series bunuh”an ala psiko. Wkwk, irene, wendy ama yuta. Iya, ngajak perang. Orang yg dibunuh sama pembunuhnya bias semua..😂😂
      ntar siapa lagi yak??? Bisa jadi kayak janji kemarin bisa juga nggak..😂😂
      Tunggu next series ajalah garem kalo ente penasaran siapa mayat selanjutnya.😂😂
      Thanks for reading my shiraa..😊😉😘

  6. Aigoo..aigoo chanyeol aiishh..ck
    Pdahalkan chanyeol manis jga tu..hihihi tpi ya kya gtu lah buta karna cinta/apa jeh
    Cwenya chanyeol wendy kan kak eki?? Emg bner ya yuta itu slingkuhanya wendy?? Siapa tau cman temen gtu
    “Asal kau tau saja. Aku menabraknya dengan mobil kesayanganku, berulang-ulang sampai ususnya berceceran di jalan.” eugh.. ngebayanginya aja gmna gtu..
    Aduh yuta mninggalnya ngeri amat ya..
    Chanyeol tegaa deh ah
    Kirain chanyeol bkalan menyayat-nyayat cwenya smpe kliatan organ” dlmnya gtu..hiiii
    coz tdi kan ngomongmya dokter bedah ya.. tpi untungnya gx..huft
    Tpi msi lebih merinding yg main castnya sehun sih mnurutku🙂
    Next kakk dtunggu next seriesnya^^
    Fighting!!
    Lopyuhhh❤ ..haha

    • Iya, sesuai arti lagu monster, dia Cinta mati sama ceweknya, xixixi..😂😂
      Iya, ceweknya si chanyeol disini itu wendy, trus yuta itu ketahuan pulang sama cowok lain yaitu yuta. kan ada noh kalimat yg ‘seharusnya aku fokus ke lampu merah bukannya ke motor dengan vendor terkenal dari Jepang yg berhenti tepat di depanku.’, nah, itu yuta sama wendy lagi boncengan. Jadi yah gitu deh, soal bener selingkuhan apa nggak tanya chanyeol atau wendy atau ususnya yuta deh, kalo nggak tunggu di next series, siapa tau muncul..😂😂
      Nggak bakalan ceweknya digituin, gak tega eki buat chanyeol sama wendy bias ane begitu mah, meski ane menistakan yuta disini. Hayoo, sengaja bikin lebih seren sehun karena aku lebih Cinta sama bang tiang, wkwkwk..😂😂 atau mau adegan chanyeol ngebunuh yuta aka yg ditampilin?? 😂😂
      Tunggu next series ya ly, thanks for reading.😉😊

      • Ohh aku bru ngeh loh kak eki, ternyata yg naik motor itu wendy sma yuta..kkk
        Aduh.. cinta mati sma abang tiang Ya^^
        Aduhh jgn deh kak coz wktu Sd aku pernah liat kcelakaan yg kya gtu ususnya smpe berceceran d jalan.. iihhh ngerii deh.. masih keinget aja smpe skarang#curhatt^^v
        Ok..ok🙂

      • Iya, itu naik motor wendy yuta. Cinta mati sama suami ane si yeol..😍😍 (*open your eyes.😂🔫)
        Bah, ngeliat langsung mah lebih ngeri ly,😂😂 untung eki blm pernah ngeliat langsung, cuman bayangin aja.😂😂
        Thanks for reading, tunggu next series yo..😉😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s