The Succubus and The Vampire [Chapter 13B]

TSTV NEW POSTER

The Succubus and The Vampire
(Sequel of The Killer)

Presented by : echaminswag~
Characters : [EXOs] Kai, Sehun, Kris and [OCs] Hyemin, Jaerin, Emma | Genres : AU, slight!Action, Angst, Fantasy, Marriage Life | Length : Chaptered | Rating : NC-17

Disclaimer : Cast belong to God and their agency. OC is mine. Story and poster are mine too. Don’t claim as yours and don’t be plagiator!

THE SUCCUBUS AND THE VAMPIRE © 2016

[Teaser][Prolog][1][2][3][4]
[5][6][7][8][9][10]
[11][12][13A] – [13B]

 

.

WARNING! Banyak adegan kekerasan yang tidak pantas dibaca oleh anak-anak di bawah tujuh belas tahun. Silahkan SKIP atau CLOSE TAB!

.

 

Cerita Sebelumnya—

Emma menemukan Hyemin. Wanita itu rupanya diculik oleh Kris―kakak Emma―guna melancarkan rencana busuknya pun menjadi persembahan ritualnya. Emma berniat membawa Hyemin keluar, namun entahlah apa ia akan berhasil atau tidak.

Sementara, Himchan mendapati sebuah kabar buruk. Ia menghubungi Sehun untuk meminta bantuan darinya. Seluruh anggota keluarganya kini berkumpul di sebuah bukit daerah Busan.

 

 

TSTV Chapter 13B (Final Chapter)

 

Pertempuran dimulai.

 

 

Langit Busan mendadak gelap dengan gugusan mega pekat menggumpal di tawang. Berjubal membentuk satu gumpalan lebih besar tepat di ujung bukit tempat para makhluk-makhluk berjubah hitam berkumpul di sana yang membentuk setengah lingkaran besar dengan dua orang pemimpin berada di tengah barisan itu.

Emily masih berlari di sepanjang pepohonan yang tumbuh rindang pada bukit itu. Di belakangnya ada Mark dan Himchan yang mengikuti pergerakan si wanita. Air matanya tumpah sejak beberapa jam lalu; meski tak dapat dipungkiri ia teramat senang kala bertemu dengan Himchan di sebuah pusat perbelanjaan beberapa jam silam.

Pertemuan tak terduga yang membawa sedikit asa pada diri Emily pun sirna tatkala Mark menelepon dan memberi kabar mengejutkan. Tak ada yang mampu terpikir oleh otak kecil Emily saat kabar itu datang. Ia hanya lekas pergi dengan serumpun pertanyaan belum sempat diungkapkan oleh Himchan padanya.

Hingga di sinilah mereka sekarang. Sampai di atas bukit disambut puluhan pengikut Kris dan Ellie bersama seorang gadis kecil yang disandera bersama mereka; Kim Lauren.

“Tahan, Em. Jangan sekarang!” Mark segera berbicara dan menahan bahu Emily ketika wanita itu hendak berjalan mendekat ke tempat Kris berdiri. Kekehan dari pemuda yang berada di seberang sana mungkin telah menyulut emosi Emily. “Dia hanya memancingmu. Tenanglah, Lauren akan baik-baik saja.”

Urung menyahut, Emily mengibaskan lengan Mark dari bahunya. Ia telah murka, maka kata-kata yang Mark ucapkan pun tak dihiraukannya. Emily kembali melangkah maju. Namun lagi-lagi, pergelangannya dicekal pun diseret masuk ke dalam pelukan seorang lelaki.

“Dengarkan aku.” Ialah Himchan, berbisik pelan pada telinga sang istri yang telah lama hilang tanpa kabar. Diusapnya ujung kepala Emily dengan sayang, membuat bahunya yang tegang perlahan melorot turun. “Bukan hanya Lauren, kaupun akan mati jika bersikukuh melawan Kris sendirian. Kita dengarkan apa yang hendak dia katakan sembari menunggu adik angkatku datang dengan teman dan keluarganya. Oke?”

Satu anggukan kecil dari Emily kemudian menjauhkan tubuh Himchan darinya. Keduanya bersitatap lama, hingga satu kecupan singkat mendarat di dahi si wanita, saat itu pula tawa Kris menguar hingga gelegar terdengar pengar.

“Drama apa lagi yang sedang kalian pertontonkan? Berharap aku akan menghentikan seranganku, jangan harap!” satu kibasan pelan dari tangan si pemuda membuat ketiganya terpental ke berbagai sisi bukit. Mark menghantam sebatang pohon, Emily menyusruk ke dalam semak, dan Himchan menggelinding ke tepi jurang. Lagi, pemuda itu tertawa keras hingga satu sabetan petir menghentikan tawanya. Beruntung pemuda itu lekas menghidar sehingga petir hanya mengenai salah satu pengikutnya.

Nyalang netra Kris berkilat marah. Terlebih kala ia mendapati segerombol makhluk berkulit pucat datang dan menolong Mark, Emily, juga Himchan. Di belakang makhluk-makhluk setipenya itu ada klan berbulu yang jumlahnya luar biasa banyak.

Rupanya mereka membuat perjanjian dengan manusia serigala.

Senyum miring lekas tercetak jelas ketika Kris mendapati si gadis lemah berada di antara mereka. Ia tertawa lagi. Telapak terangkat guna memberi beberapa tepukan karena ia berhasil membawa sandera sebelumnya keluar dari penjara.

“Kerja bagus adikku, kau melakukannya dengan sempurna. Tapi sayang, keponakan cantikmu harus menggantikan posisi gadis itu menjadi persembahanku.”

Emma menggertakkan gigi-giginya. “Kau memang iblis, Kris! Bagaimana bisa seorang paman melakukan hal sekeji itu pada keponakannya?”

“Paman? Hahaha, apa kau perlu kaca mata minus sembilan supaya dapat melihat kebenarannya, Emma Wu?” Kris berjalan maju. “Tidak ada seorang keturunan vampir dan succuba yang akan memanggilku paman. Camkan itu!” Satu kibasan tangan lagi kemudian membuat Emma tersungkur ke belakang. Mark lekas berlari, membawa Emma kembali berdiri namun Kris lagi-lagi menggunakan kekuatannya yang lain berupa pengendalian bumi untuk menjatuhkan keduanya.

Tak mau tinggal diam, pengikut-pengikut Kris pun mulai maju membantu tuannya. Hanya Ellie yang tinggal di belakang dan menyiapkan persembahan saat gerhana matahari total sampai ke bumi. Usut punya usut, daripada gerhana bulan, ritual mereka akan sangat sempurna saat terjadi gerhana matahari total. Dan prediksi gerhana itu terlihat di Busan adalah siang ini. Maka setelah gerhana berakhir, dan mereka berhasil memberi persembahan keturunan vampir succuba atau manusia setengah vampir, kekuatan mereka tidak akan tertandingi. Mereka akan menjadi pemimpin dari seluruh kaum.[1]

Emma yang pernah membaca peristiwa itu dalam kitab peninggalan sang ayah, buru-buru memperingatkan Mark dan yang lainnya. “Mark, majulah ke depan. Beritahu Kim Kai dan saudaranya untuk mengakhiri perang ini sebelum gerhana matahari total terjadi. Karena jika gerhana berakhir, maka Lauren dipastikan akan mati.”

“Kau serius, Em?”

Emma mengangguk, mendorong tubuh Mark supaya lekas berdiri dan berjalan maju. Dengan tertatih karena mendapat benturan cukup keras di sekitar kaki, ia mendekat ke tempat Himchan. Membisikkan sesuatu yang telah Emma ceritakan supaya dapat memberi tahu ke yang lain lewat telepati yang ia miliki.

Himchan mengangguk mengerti, lekas memberi signal ke seluruh kaumnya supaya perang dapat diakhiri sebelum gerhana matahari terjadi, yaitu lima belas menit lagi. Namun kemudian, ia mendapat balasan tegas dari Kai yang telah berada di area pertempuran sana.

‘Tidak mungkin bisa lima belas menit. Mereka sangat kuat dan jumlahnya lebih banyak.’

‘Kita bisa meminta bantuan para serigala, Kai. Namjoon sudah bersiap menyerang.’

‘Baiklah, kami juga akan berusaha sekuat tenaga.’

Telepati itu berakhir yang kemudian dilanjutkan dengan serangan dari gerombolan manusia serigala yang dipimpin oleh Namjoon. Mereka melompat, memberi gigitan dan cakaran dengan membabi buta. Namun, tak ada satu pun yang berhasil dimusnahkan, membuat tawa Kris kian mengudara sementara waktu terus berjalan dengan cepat.

Bagaimana cara membunuh mereka?

Melihat pengikut-pengikut Kris tak mampu dikalahkan oleh serangan-serangan dari Kai dan yang lainnya, Emma lekas berlari maju, membelah kerumunan demi dapat menemui bosnya itu. “Bagian punggung.” Emma berbisik setengah teriak. “Mereka bisa mati jika terluka di bagian punggung. Karena di sana tersembunyi sepasang sayap yang menjadi titik kekuatan pun kelemahan incubus.”[2]

Kai mengangguk mengerti. “Baiklah.” Ia kemudian menggunakan kekuatan teleportasinya untuk mengelabuhi lawan. Kai menghilang lalu muncul kembali di belakang mereka. Ia menancapkan sebilah pisau ke bagian punggung, mengoyaknya terlebih dahulu sebelum mencabutnya dan melukai punggung incubus yang lain. Para incubus itu mengerang, lantas terkulai dan mati. Satu senyum tersungging di bibir pemuda Kim itu, menjadikan Kris bertambah murka.

Ia mengayunkan lengannya, menggunakan kekuatan tak kasat matanya untuk melumpuhkan Kai. Namun, kekuatan itu tidak berfungsi. Kris mencoba lagi berulang kali dan tetap saja, tidak ada yang terjadi pada diri Kim Kai. Ia tidak mengerti kenapa. Tapi sepertinya, kekuatan Kai lah yang mampu menandinginya.

Kai yang menyadari gelagat Kris lekas memamerkan senyuman licik. Seolah memberi isyarat bahwa ia tidak dapat melakukan apapun padanya melalui kekuatan aneh yang dimiliki oleh pemuda itu. Tentu saja Kai memiliki tujuan lain dari apa yang telah dilakukannya; ia ingin Kris maju dan dengan begitu mereka dapat melumpuhkan Kris dengan segera.

“Aaaaarrgh…”

Kai sontak menoleh ke belakang di mana sumber teriakan itu berasal. Dilihatnya Sehun dengan luka cukup parah di sekitar lengan dan dadanya akibat serangan dari makhluk itu. Kai kemudian berlari dengan cepat ke arah Sehun, membawa pemuda itu ke belakang arena, namun Sehun menolaknya.

“Tidak. Aku harus membantu kalian!”

“Dengan luka seperti ini? Kau akan mati dalam lima menit, kautahu itu, Oh Sehun!” bentak Kai dengan tegas.

“Tapi Kai―”

“Emma Wu.” Kai berteriak, membuat si gadis manis yang berada di antara pertempuran itu menoleh ke arahnya. “Kaubilang saudaramu ada yang dapat menyembuhkan luka. Panggil dia kemari, segera!”

“Baiklah.” Emma segera menyahut. Mencari-cari di mana keberadaan Mark dan membawanya menemui Sehun.

Sementara, Kai telah bersiap maju. Namun, langkahnya dihentikan oleh satu tarikan tangan kecil di kemejanya. Ia menoleh, mendapati Hyemin dengan wajah yang masih pucat dan seorang anak laki-laki menggenggam tangan wanita itu.

“Hye, kenapa kau kemari, sih?” Panik, Kai lekas mendekat ke arah sang istri. Menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangan, lantas memeriksa kondisi Hyemin. “Aku sudah menyuruhmu tinggal di rumah bersama Ibu, ‘kan? Kenapa kau keras kepala sekali―”

“Kai,” Hyemin menjatuhkan tangan Kai dari wajahnya. “Coba tebak, dia siapa?”

“Apa itu penting sekarang? Pulanglah, aku tidak mau kau―”

“Ayah.”

Terdiam beberapa jenak, Kai kemudian memutar arah pandangnya ke bocah lelaki yang setia menggenggam tangan Hyemin. Matanya yang berwarna kuning keemasan berbinar kala bersitatap dengan milik Kai. Satu senyum juga masih tercetak jelas pada bibirnya. Ia lantas berhambur ke pelukan Kai sambil terus memanggil pemuda itu ‘ayah’.

“D- Danny?” Kai menatap istrinya. Gumaman pelan itu pun menarik kedua ujung bibir Hyemin untuk tersenyum. “Be- benarkah dia Kim Danny, Hye?”

Hyemin mengangguk. Mendekat lantas memberi usapan lembut pada punggung anak lelaki yang kini berada dalam gendongan Kai. “Iya. Dia tumbuh dengan sangat cepat. Dan…” Hyemin menjeda sejenak. Mata menyisir keadaan sekitar yang cukup kacau. “Dia ingin membantumu dalam peperangan ini.”

Kai menggeleng tegas. “Tidak!” Ia menjauhkan Danny dari jangkauannya, lalu menyerahkan kepada Ibunya. “Aku tidak ingin membahayakan kalian. Pulanglah, Hye, sebelum―”

BLAR

Satu serangan mengenai tepat ke arah Hyemin dan Danny. Keduanya terpental sejauh beberapa meter kemudian tersungkur di balik semak. Kai lekas berlari. Tak peduli pada tawa yang mengudara di belakang punggungnya, ia hanya ingin menyelamatkan terlebih dahulu orang-orang yang disayanginya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kai dengan wajah panik.

Pemandangan yang terlihat oleh netra Kai saat itu adalah Danny yang bangkit lebih dahulu kemudian mengulurkan tangannya demi membantu Hyemin berdiri.

Oh ya Tuhan, ini mustahil.

“D- Danny, apa kau baik-baik saja?” Kai lekas berlari, memeriksa kondisi sang buah hati yang baru saja mendapat serangan oleh Kris.

“Aku baik, Ayah. Sangat baik.”

Helaan lega lantas keluar dari katup Kai. Namun, tetap saja serangkaian pertanyaan kepada buah hatinya ini belum juga tersalurkan. Kim Danny, sejak kapan menjadi sekuat itu?

“Ijinkan dia, Kai.” Suara Hyemin terdengar pelan. “Awalnya aku tidak mengijinkannya, tapi saat melihat sendiri kekuatan yang dimiliki Danny, aku memercayainya. Dia pelari yang baik, omong-omong.”

“Tapi, Hyemin-ah, tetap saja Danny masih sangat kecil untuk ikut serta dalam peperangan ini. Bagaimana kalau dia sampai terluka dan… aku tidak bisa membayangkannya.”

“Percayalah padanya, Kai. Dia akan baik-baik saja. Dia mewarisi kekuatanmu yang luar biasa, asal kautahu.”

“Tapi―”

“Bukankah kita tak punya banyak waktu lagi?” Hyemin memotong ucapan Kai. “Akan sangat berguna jika kita menyatukan seluruh kekuatan untuk melawan kaum mereka. Ayolah, Kai. Jangan buang waktumu untuk berpikir terlalu lama. Kita bisa kehilangan anak kecil tidak berdosa itu jika sampai kita kalah.”

Tanpa mau menunggu Kai membalas ucapannya, Hyemin telah lebih dulu menarik tangan Kai ke tengah medan. Suasanya di sana menjadi kacau; banyak dari klan berbulu yang tergeletak tak bernyawa. Pun bala yang dibawa oleh Oh Sehun, beberapa di antaranya telah tewas terbakar.

Kai dan Hyemin bersitatap. Mereka lantas memandang Kim Danny secara bersamaan. Ini keputusan yang sangat berat, tentu saja. Namun, Kai harus segera memutuskan sebelum jumlah kaumnya menjadi semakin sedikit dan mereka dinyatakan kalah.

Kurang tujuh menit lagi, gerhana matahari total akan terjadi.

Kai meraih pergelangan sang buah hati, lantas membawanya ke tengah medan. Sama seperti Hyemin, ia memilih memercayai Danny daripada membawa bocah itu pergi dari sana. Setidaknya kekuatan Danny akan sedikit membantu.

Sementara, Hyemin juga ikut menyerang. Ia melukai bagian punggung para incubus itu dengan belati yang telah disiapkannya. Namun, satu serangan kembali menghantam tubuh wanita itu. Ia tersungkur ke belakang dan bahunya terluka cukup parah.

Emma yang melihat itu lekas berlari ke arah Hyemin. Membantunya berdiri kemudian meminta Mark menyembuhkan lukanya. Luka itu sembuh, meski masih sedikit ngilu untuk bergerak. Emma pun berjalan pergi ke tengah medan, namun Hyemin menahan pergerakannya.

“A- aku belum mengatakan ini padamu kemarin.” Jeda sejenak, Hyemin meraih telapak tangan Emma. “Aku minta maaf telah salah paham padamu, dan… terimakasih telah menolongku.”

Emma tersenyum. “Menolongmu sudah menjadi tugasku.” Ia menepuk bahu Hyemin pelan. “Sekarang, aku meminta bantuanmu untuk mengalahkan ketamakan kakakku, oke?”

“Akan kulakukan semampuku.”

Keduanya kembali ke tengah medan usai perbincangan itu berakhir. Mereka membangun kekuatan untuk melawan sekutu dan anak buah Kris demi menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil yang disandera oleh si pemuda. Namun, waktu tetap berjalan hingga kurang dari lima menit gerhana akan terjadi. Sementara, mereka belum juga berhasil mengalahkan seluruh pengikut Kris.

Dari kejauhan, Kris tertawa menyaksikan pertempuran itu. Ia menengadah menatap langit yang berangsur-angsur gelap―dari yang sebelumnya memang sudah gelap. Kris berbalik, berjalan ke tempat Ellie dan seorang gadis kecil yang sudah tak sadarkan diri.

“Apa semuanya sudah siap?” Kris bertanya.

“Tinggal menunggu gerhana matahari total terjadi, dan semuanya akan segera berakhir. Kau akan menjadi penguasa, Kris.”

Senyum puas tercetak jelas pada bibir Kris. Membayangkan bagaimana ia akan menjadi penguasa seluruh jagad raya. Tentu, hal itu akan sangat menyenangkan bagi Kris. Tak peduli akan kaum-kaum lain yang memberontak, setidaknya dengan ritual kali ini, ia akan menjadi sangat kuat dan tak terkalahkan.

Emma tiba-tiba menghentikan serangannya pada pengikut-pengikut Kris, membuat gadis itu nyaris saja mendapat serangan balik kalau saja Mark tidak menghalaunya. Emma tersungkur begitu saja dengan menutupi telinganya yang sebelah kanan. Nampaknya, dengungan itu kembali datang dan membuat si gadis kesakitan.

Mark berusaha mengguncang tubuh Emma supaya tersadar. Akan sangat berbahaya jika Emma tetap seperti ini di tengah medan peperangan. Ia bisa saja mati karena mendapat serangan yang bertubi-tubi. Kai juga melihat kejadian itu. Tetapi, ia tak dapat berbuat banyak sebab ia mendapat banyak sekali serangan.

Danny yang kemudian mendekat ke sana. Menekan bahu Emma pelan sembari bergumam, “Bibi, berubahlah dan kalahkan mereka.”

Mark yang mendengar itu, lamat-lamat mengingat apa yang pernah diucapkannya dulu. Hanya ada satu di antara kalian yang murni. Terlonjak, Mark lekas menatap Emma. Gadis itu masih kesakitan, namun beberapa saat kemudian, sepasang sayap berwarna merah kehitaman muncul dari sebalik punggungnya. Sayap itu berbeda dengan yang selama ini Mark lihat.

Hal baru kemudian Mark jumpai pada iris mata si gadis; warnanya berubah senada dengan sayap yang ia punya. Mark tertegun, pun beberapa klan berkulit pucat dan manusia serigala yang tersisa.

Tubuh Emma lantas melayang terbang. Jika dalam kondisi seperti ini, Emma sama sekali bukan Emma yang selama ini dikenal oleh Mark, Kai, maupun yang lainnya. Ia mengerikan. Mata merah yang tajam, berpadu dengan taring dan tanduk yang mendadak keluar, pun kuku-kuku jarinya berubah panjang.

Begitu terlihat laiknya seorang succubus dalam cerita-cerita kuno.

Beberapa pengikut Kris yang tersisa, lekas berjongkok dan memberi hormat pada Emma sesaat setelah mereka menyadari siapa tuannya. Bukan Kris, bukan pula Ellie, melainkan gadis yang selama ini disiksa dan sampai dipenjara oleh mereka; Emma Wu, sang succubus murni.

“Ini tidak mungkin.” Kris lekas berbicara tatkala menangkap siluet Emma yang terbang ke udara. Ia terkejut mendapati sosok Emma yang berubah demikian. Ia pun sadar, bahwa ini akan sangat berbahaya. Emma dapat berbalik menyerangnya.

Dan benar saja, ketika gadis itu mendekat ke tempat ritual Kris, petir menyambar ke arahnya. Dipan kayu itu terbelah menjadi dua, sementara Kris dan Ellie terpental ke dua sisi berlawanan. Hal itu dimanfaatkan oleh Emily yang cukup dekat dengan posisi mereka. Ia meraih Kim Lauren dalam gendongannya dan membawa gadis kecil itu mundur dari sana.

“Jadi, kau ingin memerangi kakakmu?” Kris lekas bangkit. “Baiklah. Terima ini!” Ia menengadahkan telapaknya. Dari sana muncul percikan-percikan api yang kemudian ia arahkan kepada Emma. Namun, api itu lekas tandas sebelum sampai menyentuh ke permukaan kulit Emma.

Tidak mungkin. Kris membatin. Kali ini, ia benar-benar murka. Sepasang sayap yang tersembunyi di sebalik punggungnya, lantas mencuat keluar. Di sekitar tubuhnya terdapat percikan-percikan api abadi yang dulu sempat Mark singgung. Kris sungguh-sungguh menunjukkan seluruh kekuatannya hari ini. Seorang incubus tak murni yang biasa mereka sebut Elecubus; penggabungan elemental dan incubus.

Kini, dengan menggunakan kekuatan telekinesis yang ia miliki, Kris mengangkat sebongkah batu cukup besar. Ia kembali mengarahkan batu itu ke Emma, namun lekas dihindari sehingga batu itu melambung ke arah lain.

Emma membalasnya dengan terbang ke arah Kris dan mengibaskan sayapnya ke sang kakak. Ujung sayap Emma yang runcing melukai kulit Kris hingga mengelupas dan mengeluarkan cairan merah pekat. Tak sampai di situ, Emma kian mendekat. Jemarinya terarah ke leher Kris dan mencekiknya dengan menancapkan kukunya yang panjang ke kulit ari si pemuda.

Kris mengerang. Namun, dengan sigap ia menyengkeram pergelangan Emma dan mengeluarkan api di sana. Merasa pergelangannya terbakar, Emma lekas melepaskan cekikannya. Keduanya mundur karena sama-sama terluka.

Sementara, beberapa pasang mata yang masih berada di tempat hanya sanggup terdiam sambil menerka-nerka siapa yang akan menang dalam perang saudara ini. Keduanya sama hebat. Keduanya memiliki ambisi yang kuat; Kris dengan gelar pemimpin yang ingin disandangnya, dan Emma dengan upaya penyelamatan kaum vampir yang telah banyak membantunya.

Gerhana matahari total terjadi tinggal hitungan detik. Separuh matahari bahkan telah tertutupi oleh posisi bulan yang nyaris dalam garis lurus. Emma harus bergegas; memusnahkan Kris agar kekuatan dari sang matahari tak berpindah ke tubuh pemuda ini. Meski mereka sama tahu bahwa ritual gagal dilaksanakan, namun siapa yang menyangka bahwa Kris yang licik ini memiliki rencana lain.

Dan benar saja. Seringaian tipis tercetak pada bibir si pemuda. Dalam beberapa detik, Kris telah melesat ke udara dan memposisikan dirinya segaris dengan gerhana yang akan terjadi. Emma mengingat sesuatu lagi; jika terjadi gerhana matahari total, maka kekuatan incubus maupun succubus akan berlipat ganda tanpa mereka melakukan ritual persembahan sekalipun.

Namun jika diingat lagi, hanya incubus atau succubus murni lah yang mendapat kekuatan dari gerhana itu. Dan Kris, bukanlah seorang incubus murni. Maka dengan gerakan cepat dan tanpa diduga oleh Kris sebelumnya, Emma mengejarnya lantas memotong sebelah sayap Kris menggunakan belati yang disimpan dalam pakaian dalamnya.

Erangan kembali lolos dari mulut Kris, yang kemudian tubuhnya meluncur jatuh dan menghantam tanah dengan bunyi debuman keras. Cairan hitam dari potongan sayap itu lantas mencemari tanah di sekitar tempat Kris terjatuh.

Belum ingin mengakhiri, Emma menyerang ke arah Ellie. Sayap gadis itu juga telah muncul dan berniat untuk kabur. Emma memotong sebelah sayap Ellie dan membiarkannya ikut mengerang bersama Kris.

Emma kemudian turun, jatuh dan tersungkur dengan terkulai lemas di atas tanah. Seluruh tenaganya terkuras habis. Tepat ketika itu, gerhana matahari total terjadi. Emma yang kelelahan mendadak mendapatkan kembali kekuatannya yang nyaris habis. Ia bangkit, menengadah sembari bergantian menamatkan telapaknya.

“Jadi, aku―”

“Iya, Em, kaulah yang murni di antara saudara-saudaramu.” Mark bersuara kemudian mendekat ke arah Emma. Di belakang pemuda itu, Kai dan yang lainnya ikut mendekat ke sana. Mereka memberi apresiasi atas keberanian dan kekuatan murni yang dimiliki oleh gadis itu.

“Mark, apa aku membunuh Kris?” Emma lekas sadar dan mencari keberadaan kakaknya itu. Kedua kakaknya tergolek di pinggiran jurang sana―entah mati atau masih hidup. Ia berlari menghampiri sang kakak dan lekas memeriksa denyutnya. Lantas helaan lega keluar tatkala Emma mendapati Kris dan Ellie masih hidup. Ia menangis dengan memeluk Kris yang lemah tak berdaya. “Maafkan aku, Kak.” Sesal Emma.

Mark yang mengerti apa yang telah terjadi, lekas memberi tekanan pada bahu Emma. “Mereka tidak mati, Em. Mereka hanya kehilangan seluruh kekuatan mereka karena kau memotong sebelah sayapnya.”

Mendengar itu, Emma mendongak. “Benarkah demikian?” tanyanya.

Mark mengangguk. “Mereka akan pulih dalam beberapa hari. Aku akan membantu menyembuhkannya, tetapi aku tak yakin bisa mengembalikan sayapnya.”

“Apapun Mark, asal mereka tetap hidup.”

Emily dengan menggenggam tangan Lauren yang sudah sadar, ikut mendekat dan berjongkok di sebelah Emma. “Beruntung mereka memiliki adik yang sangat baik sepertimu, Emma.” Tuturnya pelan.

Hyemin pun ikut menepuk bahu Emma sembari mengulum senyum. “Aku ragu apakah kau sungguh-sungguh seorang succubus? Karena menurutku, kau lebih cocok terlahir sebagai malaikat.”

Kai, Sehun, Jaerin, dan yang lainnya pun menyetujui ucapan Hyemin. Gadis ini begitu baik hati dan tidak peduli pada nyawanya sendiri. Ia lebih peduli terhadap orang lain, dan hal itu membuat mereka berpikir apakah sosok ini sebenarnya seorang malaikat yang menyamar?

Kini, giliran Kim Danny yang mendekat dan menghapus leleran bening yang turun membasahi pipi Emma. Danny tersenyum sambil menyerahkan setangkai aster yang tadi dipetiknya ketika perang antara Emma dan Kris berlangsung.

“Bibi benar-benar hebat. Lain kali, ajari aku terbang seperti tadi, ya?” ucapnya polos yang mengundang tawa dari orang-orang di sekitarnya.

Emma mengusak rambut bocah lelaki itu pelan. “Kau juga hebat, Kim Danny.” Balasnya singkat dan kemudian memberi pelukan pada putra sulung Kai Hyemin tersebut.

Keseluruhan dari mereka ikut tersenyum, pun klan berbulu yang telah merubah diri mereka menjadi sesosok manusia. Kai memeluk Hyemin, Sehun memeluk Jaerin, pengikut-pengikut Kris juga ikut bertukar peluk satu sama lain. Dan momen hangat itu didukung oleh sang mentari yang kembali membiaskan sinarnya ke penjuru bumi.

Dengan begitu, perang dinyatakan telah berakhir.

 

 

 

FIN

[1], [2] Ini semua pure hasil imajinasiku dan yang pasti nggak akan kalian temukan di sejarah mana pun 😀


 

Halooo~ akhirnya selesai juga TSTV-nyaaaaa~
Eit, masih ada satu part terakhir sebagai Epilog yang akan aku posting hari Minggu nanti. Tunggu yaaa~ ^^

Beri apresiasi kalian di bok komen teman-teman readers 🙂

echa

20 tanggapan untuk “The Succubus and The Vampire [Chapter 13B]”

  1. aaahhh…… akhirnya selesai juga nih ketegangan ketegangan yang diff ini… walaupun masih kurang menyeramkan tapi. KKKEERRREEENNN!!!!
    sekarang yang masih aku penasaran sama kris dan ellie?…
    buat author good job bgt …. 🙂
    and epilognya aku juga mau tau gimana… 🙂

  2. Penasaran sama visual Kim Danny. Dan kapan sehun punya anak? Di chapter besok kan? Dan seperti apa yaa anak sehun. Hehehe…

    Semangat terus kaka 😘😘😘

  3. widihhh…
    bagus ending nya…
    tapi sayang ya,,kai ga bisa liat perkembangan danny yang tiba2 jd gede,,,hehehe
    di epilog mungkin bisa lebih menjelaskan…
    jadi penasaraannn…
    lanjut dulu ya…
    gomawoyo…

  4. akhirnya happy ending……
    bgs Thor ceritanya, aq sampe begadang ngabisin baca ini sampe selesai. ga sabar nunggu epilognya….

  5. gak kerasa udah ending lagi….
    jadi succubus murninya itu emma, untung emma bisa mengalahkan kris. jadi anak kecil itu bisa selamat.
    ditunggu ya epilognya…

  6. fin? duhh ini padahal fanfict fav dari jaman apa 😂
    tapi gapapa ending nya yaaa happy sih 😄
    ditunggu fanfict lainnya 🙆

  7. FIN 😱😱 Tiba tiba end masa , halahh 😌
    Serasa baca webtoon perang perang, lumayan juga imajinasi gua turut main, padahal biasanya susah buat bikin imajinasi kalo sudah namanya FF yang perang perangan.. Sukses kak bikinnya,
    Abis ini epilog nya ditunggu banget ya 😉 Keep Writing!

  8. Wah udah end.. sedih.. 😥
    bener ini endingnya masih kurang greget.. masih ngegantung gitu.. tiba-tiba anaknya kai udah gede aja dan punya kekuatan..
    ditunggu epilognya.. 😊

  9. Ini beneran udah tamat?
    Tamat???
    Astagaaaa yang bener ah,
    Rasanya masih penasaran sama masa depan kris juga ellie. Nggak mungkin kan terbang pake sebelah sayap doang 😁
    Itu juga anak kai aku masih penasaran sama kekuatannya dia. Nanti ketemu gede sama lauren gak yaa?
    Squel nya dong kak, ini cerita bagus… plisss 😊😊😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s