SILHOUETTE | 1

Untitled-1 copy

SILHOUETTE

Starring by :

Oh Sehun Kang Mirin

T

Sad  | Romance | Lil hurt

Chapter

A.N : (READ FIRST)

Honyaww lagi ^^

karena respon dari Prolog kemaren bisa dibilang memuaskan, akhirnya Chapter 1 pun meluncur. untuk sekedar Info biar ga pusing ntar pas baca, ini side nya aku ganti ganti tiap tanda bintang. Udah gitu aja. Oh iya, makasih juga kemaren yang menyadarkan adanya kesalahan nama Sehun wkwkwk..

Happy Reading~

***

Ji Ae tidak bisa hanya duduk tenang didepan Cappuchino-nya sekarang. Ia baru menyadari ada yang aneh setelah ia melihat sendiri keadaan Mirin sekarang. Kantung mata hitam, rambut acak-acakkan khas Merida*, make up yang asal-asalan, dan Americano dihadapan Mirin yang tidak tersentuh sama sekali –terang saja karena Mirin tidak suka yang pahit. Tapi kenapa dia memesan itu juga masih menjadi misteri untuk Ji Ae. Ia menghela nafas kasar sebelum akhirnya berhenti membatasi diri untuk tidak bertanya.

“Bertengkar dengan Sehun lagi?” kata ‘lagi’ disana menjelaskan kalau bertengkar adalah makanan sehari-hari pasangan itu.

Mirin menggeleng. Bahkan tanpa mengangkat kepalanya dari cangkir Americano yang memantulkan wajah kusutnya.

“Lalu kenapa? Ada masalah apa sampai kau menawarkan diri untuk ikut denganku? Aku takut tiba-tiba dia datang dan bilang aku menculikmu,” IYAP. Ini masalahnya yang mengganggu Ji Ae sejak semalam. Saat ia bercerita panjang lebar tentang kedatangan sepupunya dari Cina, Mirin dengan gamblangnya bilang kalau dia ingin ikut.

Aneh. Biasanya di jam seperti ini, dia ada di apartement Sehun. Menemaninya bermain game perang –yang entah apa itu namanya- hingga malam. Percayalah, Mirin tidak pernah bosan melakukannya.

“Kau mau belajar selingkuh, ya, nona Kang? Aku akan hubungi Sehun dan bilang –“

***

Sehun berjalan dengan tatapan kosong. Kepalanya berat karena mengantuk tapi dia sama sekali tidak berniat tidur. Semakin dia mencoba untuk tidur, semakin kuat juga keinginannya untuk mendengar suara Mirin. Ia tahu, karena itu ia berusaha mati-matian melawan kantuk yang dihadiahi dua kantung hitam di bawah matanya.

Bisa kau bilang kalau Sehun kecanduan pada suara cempreng Mirin yang menyanyikan lagu Nina Bobo ala Mirin sebelum tidur. Hal bodoh yang dulu tidak ia pedulikan.

Dirumah saja pun tidak bisa. Melihat isi apartementnya dipagi hari lagi-lagi mengingatkannya pada Mirin. Setiap sudut ruangan itu berisi bayangan dan aroma Mirin. Sampai pisau cukur dan sabun mandi pun, semua beraroma Mirin.

Sehun tertekan. Karena itu ia memilih berjalan keluar. Menenangkan pikiran dengan secangkir Americano sepertinya tidak buruk. Ini kebiasaannya. Dan dia menuruti saran alam bawah sadarnya saat berjalan masuk kesalah satu café yang sering ia kunjungi.

***

“Aku….putus,” suara pertama yang dikeluarkan Mirin dengan serak memotong kata-kata Ji Ae sebelumnya. Ji Ae membulatkan matanya sempurna. Mirin melihatnya. Mata bulat Ji Ae bilang ‘kenapa bisa?’

Mirin mengabaikan tatapan itu. lagi-lagi menggeleng sambil menunduk. Mengingat kejadian kemarin sama saja bunuh diri dengan menenggelamkan diri dalam jurang sakit hati dan keputus asaan. Semalaman berduel dengan air mata sudah lebih dari cukup baginya untuk menguras seluruh tenaganya.

Ji Ae menggenggam tangannya erat, kehangatan tangan Ji Ae membuatnya mengangkat kepala, membalas tatapan itu hingga rasa hangat kembali mengalir ke dadanya. Kehangatan yang akhirnya membuka mulut Mirin.

“Ji Ae… aku hanya… kau tahu….aku….” Mirin memberi jeda karena tenggorokkannya tercekat.

“…lelah. Dia bilang dia mencintaiku tapi….. Kau tahu rasanya? Saat harus melakukan monolog disampingnya karena dia selalu sibuk dengan dunianya? Dia bilang dia akan belajar mencintaiku tapi….”

Jeda kedua Mirin kali ini dia pakai dengan menggeram sambil menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal dibawah genggaman Ji Ae memancing Ji Ae untuk menggenggamnya semakin erat. Berharap dengan begitu dia bisa meredam air yang sebentar lagi jatuh bebas dari mata Mirin. Tapi sia-sia karena air mata itu tetap mengalir.

“…hatinya masih belum sepenuhnya milikku, Ji Ae. Sebagian ada padaku, tapi sebagian lainnya tertinggal dimasa lalunya,”

Ji Ae meringis. Ikut menggigit bibir bawahnya. Meski tidak merasakannya langsung, tapi ia bisa merasakan sedikit perih di hati Ji Ae.

Bingung melakukan apa. Ji Ae bangun dari duduknya, berpindah keasamping Mirin yang sekarang menumpukan kepalanya pada lipatan tangan. Merengkuh tubuh Mirin yang bergetar sehingga Mirin kini menyembunyikan wajah dan meredam tangisannya pada pundak mungil Ji Ae.

***

Americano satu,” ucap Sehun to the point pada pegawai café wanita di depannya yang masih menatapnya kagum. Tidak berkedip. Blushing. Sehun yang jengah ditatap begitu kembali mengucapkan pesanannya “Americano satu,” kali ini penuh penekanan hingga pegawai itu sadar dan segera bergerak secepat yang ia bisa.

Sehun tertawa kecil. Ia ingat dulu, Mirin juga menatapnya begitu saat mereka bertemu pertama kali. Saat Sehun belum setinggi ini bertemu Mirin yang belum seanggun sekarang.

Stop!

Sehun menggeram tertahan. Kepalan tangannya seperti alarm yang menyadarkannya. Sialan, ingatan tentang Mirin berputar seenaknya tanpa bisa ia cegah. Otomatis membuatnya sesak karena air mata yang siap mengalir tapi ia tahan mati-matian.

“… aku hanya… kau tahu….”

Deg. Jantung Sehun berhenti sesaat sebelum berdetak tak karuan. Suara itu?

“aku….lelah..”

Sehun mendengarnya. Suara itu berasal dari sekitarnya. Obat candunya. Penghantar tidurnya. Separuh hidupnya, mungkin.

Tanpa sadar kakinya melangkah sambil menatap menyisir setiap sudut café hingga matanya jatuh pada satu titik. Lidahnya kelu, tubuhnya lemas.

Tapi kakinya tidak berhenti melangkah mendekat. Obat candunya ada disana.

 

***

Mirin merasa beban di dadanya terangkat separuh begitu ia menumpahkan segalanya di bahu Ji Ae. Ia sendiri kaget karena ternyata air matanya masih tersisa setelah semalaman menangis.

Rasanya semakin tenang. Semakin hangat karena tangan Ji Ae bergerak naik turun di punggungnya.

“Terimakasih, Ji Ae,” dia sungguh tulus berkata demikian. Meski tidak melihatnya, Mirin yakin, Ji Ae sedang tersenyum sekarang.

Dia juga, sudah bisa tersenyum. Harus bangun. Bergerak maju dan meninggalkan masa lalu. Mengubur segala hal tentang sosok pria bernama Oh Sehun. Mencari pria baru, atau mungkin melakukan hobi yang sempat terkubur karena pria bernama Oh Sehun –travelling. Iya. Mulai hari ini ia bertekad. Ketika ia mengangkat kepalanya dari bahu Ji Ae, ia akan memulai semuanya dari awal.

“Ah…itu mereka.. Kak!!” Mirin refleks mengangkat kepalanya. Menghentikan lamunannya dan mengangkat kepala karena mulut Ji Ae berada persis disamping telinganya baru saja membuatnya berdenging.

Matanya masih buram. Saat samar-samar ia melihat kearah mana Ji Ae melambai. Seorang laki-laki tinggi-kurus tapi sepertinya tampan berjalan kea rah mereka sambil melambai. Dibelakangnya seorang laki-laki mengikuti dengan langkah tegap sedikit terburu-buru. Sedikit kewalahan mengimbangi pria didepannya dan repot sendiri dengan gelas kopi di tangannya.

Mirin memicingkan matanya. Ia tidak dapat melihat dengan jelas laki-laki itu. Perpaduan dia dan cahaya matahari yang menyinari tubuh belakangnya menghasilkan sebuah siluet indah yang tak asing bagi Mirin. Memaku pandangan Mirin yang belum berfungsi begitu baik.

Oh astaga…

Ji Ae masih duduk ditempatnya saat tiba-tiba Mirin bangun dari duduknya dengan gerakan kilat. Matanya yang sembab menatap nyalang Ji Ae. Sungguh, Ji Ae tidak mengerti apapun, sampai akhirnya Mirin yang berbicara duluan.

“Apa ini, Hwang Ji Ae?” suara Mirin yang rendah membuat Ji Ae merinding.

“Apa yang ‘apa’?” Mirin tersenyum setengah. Dengan wajahnya yang seperti itu membuat Ji Ae semakin beku di tempat. “Kau benar-benar menghubungi orang itu?”

“Orang itu siapa? Sehun maksudmu?”

Tatapan tajam Mirin padanya Ji Ae anggap jawaban iya.

“Ti –tidak, Mirin. Tadi aku hanya bercanda,”

“Bercanda? Kalau kau bercanda kenapa dia ada disini?!” Mirin meledak lagi dengan suaranya yang masih serak. Tapi kali ini Ji Ae tidak bisa menolongnya karena dia bingung harus apa. Dia bingung Mirin kenapa. Dia juga bingung saat telunjuk Mirin menunjuk sepupunya –tidak, Mirin menunjuk ke balik punggung sepupunya- yang entah sejak kapan sudah sampai di meja mereka. Reaksinya sama. Mereka semua bingung. Tapi tidak berani berkomentar.

“Dia? Maksudmu Luhan?”

Mirin mengerjap. Mendengar nama asing ditelinganya yang disebutkan sepupu Mirin. Dia masih harus mengerjap dan mengusap matanya berkali-kali, sebelum bisa melihat wajah yang ada didepan jari telunjuknya dengan jelas.

“Ha –halo. Aku Luhan. Salam kenal,”

Wajahnya terlalu manis. Senyumnya hangat. Tidak seperti orang itu.

Mirin menurunkan telunjuknya. Menunjukkan wajah menyesalnya yang ditanggapi tawa renyah ketiga orang yang mengelilinginya.

 

Siapa yang dia bayangkan tadi?

 

***

Hampir saja Sehun kehilangan akalnya. Hampir saja Sehun benar-benar berlari ke arah suara itu. sebelum dia sadar apa yang ia lihat didepannya sejauh dua meter. Dia hanya berdiri disana,menatap gadis berambut coklat dan make up berlebihan itu datar. Dadanya masih sesak dan keinginan untuk menangis itu semakin kuat.

 

Gadis itu bukan Mirin.

 

Dia berbalik. berjalan dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Mengambil Americano pesanannya dan membayarnya cepat agar bisa segera keluar dari tempat ini.

 

Kenapa dengan otaknya? Kenapa semua yang dilihatnya menjadi Mirin?

Sehun ingin sekali memvonis dirinya sendiri gila.

 

 

 

 

 

-To be Continued-

Merida: Pemeran utama di film Brave

Ayo ayoooo ditunggu komentarnya ya… Semakin dikit Sidernya semakin semangat aku apdet kalo banyak banget sidernya ntar aku stop ceritanya ditengah jalan. atau sekalian aku protect / ini serius.

Maaf author galak dikit ya… Demi kebaikan dan kebahagiaan kita semua /edan author bahasanya

Sekian….

XOXO ❤

92 tanggapan untuk “SILHOUETTE | 1”

  1. Nahlo sama” gbisa move on kan .-.
    Bner” uda jdi candu yaa :’ sbnernya klo mreka uda lelah, nikah aj, mulai dr nol tp dgn komitmen haha jdi pnasaran ama masalalunya sehun,, 3 org? Siapa aj yaa, luhan, ji ae, satunya lgi siapa? Neexxtttt

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s