[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 17)

fanfiction-marriage-without-love

Title : Marriage Without Love

Author : Jung Ki Ki

Genre : Romance, Comedy, Marriage – Life

Leght : Chapter

Rating : 15+

Cast :

  • Park Chan Yeol
  • Jung Eun Ji
  • Kim Myung Soo
  • Ahn Ha Ni

Disclaimer :

  FF ini benar benar buatan saya, namun beberapa alur saya dapat dari beberapa Drama. Jika ada kesamaan yang lain pun, saya minta maaf namun saya tekankan bahwa FF ini murni buatan saya. Terima kasih.

Author’s Note :

  WARNING!! Typo bertebaran dimana mana.

Inspiration :

  • Marriage Not Dating
  • Full House
  • The Girl Who Sees Smile

Summary :

  Pernikahan tanpa cinta, dialami oleh Pasangan muda ini. Mereka menikah tanpa adanya perasaan cinta dan membuat mereka mengalami Kisah Pernikahan yang unik.

Chapter 17

 

  Kembali dimana sebuah adegan yang memperlihatkan seorang pria yang memeluk sang gadis dari arah belakang. Sontak membuat gadis tersebut, Jung Eun Ji, terkejut dan menjadi membeku di tempat.

“Chan Yeol.. apa yang– ”

“Kau akan menyesal jika kau tidak mengingat-ku lagi, Eun Ji-ah.. ”

“Apa?”

Detik kemudian, Park Chan Yeol, pria yang memeluk Eun Ji dari belakang, membalikkan tubuh dan menatap sejenak pada wajah cantik itu. Dengan tatapan intens, Chan Yeol mulai menghapus jarak diantara mereka. Mendekatkan bibir-nya dengan bibir Eun Ji. Dan saat sedikit lagi ia berhasil menyentuh bibir itu, mereka…

“Tak.. ”   “Auch!!”   Dua suara yang terdengar bersamaan, namun berasal dari 2 benada yang berbeda berhasil menjatuhkan fantasi pria itu untuk kembali menyentuh kan bibir-nya di bibir Jung Eun Ji. Bahkan, 2 kali lipat ia mengerang sial setelah mendapatkan tendangan Eun Ji di kaki-nya. Sakit!!

“Yak! Park Chan Yeol!!” Teriak Eun Ji yang tak segan-segan menatap tajam Chan Yeol. “Berani-beraninya kau mau mencium-ku, huh?! Siapa kau bisa menyentuh bibir mahal-ku ini, huh?!”

Chan Yeol yang masih mengelus kaki-nya yang kesakitan, menimpali ucapan Eun Ji. “Apa salah jika melakukan-kan nya?”

“Apa?!”

Baik, kali ini bukan tendangan. Melainkan,  JAMBAKKAN!!

“SINI KAU! MATI KAU, PARK CHAN YEOL!”

“Akh.. akh.. sakit,, sakit, Eun Ji-ah!” Pekik Chan Yeol merasa kesakitan. Ia pun berusaha melepaskan kedua tangan itu dari rambut-nya. Aish!

“Salah siapa membuat-ku naik darah, huh?! Dasar, PARK CHAN YEOL SIALAN~~ !” Dan untuk berselang waktu yang lama, Eun Ji masih menjambak rambut Chan Yeol. Tak peduli teriakan sakit dari Chan Yeol, ia terus menarik rambut itu bahkan jika ia bisa, ia akan merontokkan semua rambut itu dengan ganasnya.

 

*** ***

 

  Jung Eun Ji memutuskan untuk kembali ke kamar rawat-nya dengan, masih, perasaan marah dan kesal. Baik, ingatkan saja soal kejadian tadi.

“Dasar, Park Chan Yeol sialan! Bisa-bisanya ia ingin mencium-ku? Memang, aku ini perempuan macam apa? Memang gila dia! Gila karena tidak berhasil membunuh-ku. Auch!!” Gumam Eun Ji lirih dengan logat orang yang sedang kesal.

Di belakang Eun Ji, seorang Park Chan Yeol juga terlihat disana. Ia bahkan masih merasa kesakitan karena hukuman yang diberikan oleh Eun Ji tadi. Salah sendiri, Eun Ji yang menganggapnya sebagai musuh, malah ingin mencium. Itu bukan waktu yang pas untuk bermersaan dengan gadis ganas seperti Eun Ji. Baik, ini sudah berlebihan.

Eun Ji, yang masih tak memerdulikan keadaan Chan Yeol, segera memasuki kamar rawat-nya sampai ia berpapasan dengan sang Ibu yang hendak keluar mencari Eun Ji.

“Eun Ji.. kau dari mana saja, huh? Seharusnya, kau beristirahat di kamar. Kau ini!” Omel ny. Jung. Namun, sepertinya hidung-nya mencium sesuatu. “Kau makan jjajangmyeon?!”

“Apa?”

Detik kemudian, Eun Ji mendapatkan pukulan di punggung-nya dari ny. Jung, lumayan keras.

“Akh! Ibu.. ”

“Kau itu sakit. Bagaimana bisa kau makan makanan luar rumah sakit, huh?!” Ucap ny. Jung kesal. “Dasar anak nakal!!” Dan sekali lagi, ny. Jung memukul punggung Eun Ji.

“Ibu.. ”

Kemudian kedua mata ny. Jung mendapati Chan Yeol yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Sejenak ia terdiam sampai ia kembali bersuara.

“Eun Ji-ah.. masuklah ke kamar dan segera tidur! Mengerti?”

“Iya.. ” dan tanpa membuang banyak waktu, Eun Ji segera melaksanakan perintah sang Ibu.

Setelah memastikan Eun Ji telah masuk ke kamar rawat dengan pintu yang ditutup rapat, ny. Jung duduk di bangku depan kamar rawat Eun Ji. Tanpa menoleh, ia kembali bersuara.

“Duduklah!”

Chan Yeol yang terlihat bingung, menoleh kepala-nya ke kanan-kiri. Tapi ia sadar, hanya ada dia dan ny. Jung disana. Ny. Jung memanggilnya?

“Anda menunjukku?” Tanya Chan Yeol untuk memastikan.

“Iya.”

Dengan perasaan canggung, Chan Yeol pun berjalan mendekati bangku kemudian duduk dengan jarak 1 bangku diantara ia dan ny. Jung.

Tidak ada yang bersuara lagi, atau lebih tepatnya, Chan Yeol menunggu ny. Jung.

“Aku sudah dengar dari kedua orang tua-mu sore tadi. Kau dan Eun Ji,, kalian berencana untuk menikah sungguhan. Apa itu benar?” Ucap ny. Jung.

“Iya.. kami berencana untuk menikah setelah mengatakan pernikahan kontrak kami pada anda.” Ujar Chan Yeol.

Ny. Jung menghela nafas dan kemudian menundukkan kepala-nya.

“Sekarang, Eun Ji tak mengingat kejadian sebelum ia kecelakaan. Apa kau yakin?”

“Aku berencana untuk membuat ia mengingat semuanya.”

“Kau sungguh mencintai, puteri-ku?”

“Tentu saja. Sampai kapan-pun, aku akan mencintainya dengan sepenuh hati-ku.”

Ny. Jung tersenyum. Niat awal untuk memisahkan 2 insan itu, memang sepertinya harus ia hapuskan. Yeah~ setelah kejadian Eun Ji kecelakaan, ny. Jung memang berniat untuk memisahkan Eun Ji dari Chan Yeol. Namun, kembali lagi dengan ketulusan hati Chan Yeol yang memang serius dengan anaknya. Ia juga bukan orang yang akan merebut kebahagiaan seseorang, termasuk sang anak, dengan kejamnya seperti karakter antagonis di drama.

“Aku percaya padamu.” Ucap ny. Jung tanpa menatap Chan Yeol, ia tersenyum.

Sedangkan Chan Yeol yang mendengar 3 kata itu, sedikit terkejut dan tak percaya.

“Dulu, saat mendengar keputusan Eun Ji untuk menikah, aku sangat senang dan merasa lega. Senang karena pada akhirnya ia bisa belajar lebih dewasa dengan pernikahan ini. Lega karena bisa memberi kepercayaan kepada orang yang bisa dipercayai.”

Chan Yeol hanya diam dan mendengar apa yang dikatakan ny. Jung. Sepertinya, Ibu Eun Ji sudah tak lagi membenci dirinya. Itu melegakan.

“Sekarang, aku benar-benar merelakan Eun Ji kepadamu. Aku hanya meminta 1 permintaan saja, yakni tetap berada di sisi nya entah dalam suka-duka yang ia hadapi. Aku percaya padaku, Chan Yeol. Karena, selama Eun Ji berada disisi-mu, ia masih bisa tersenyum walau semua ini karena pernikahan kontrak kalian.”

“Iya.. aku berjanji. Bahkan tak hanya di sisi nya saja, aku akan membahagiakan dirinya. Takkan membuatnya menyesal karena telah memilih Park Chan Yeol.” Keduanya terkekeh.

“Besok, aku akan pulang ke rumah. Sudah lama aku tidak membuka toko juga.”

“Ahh.. begitu?”

“Jadi, bisakah besok kau menjaga Eun Ji untukku? Setidaknya, sebagai permulaan untuk perjalanan-mu membuat Eun Ji kembali pulih dari hilang ingatannya.”

“Baik.”

“Terima kasih.” Ny. Jung tersenyum seraya mengelus punggung lebar Chan Yeol. Sang empu membalas senyuman itu.

 

*** ***

 

Di keesokan harinya, di ranjang tipis itu, seorang Jung Eun Ji terlihat menggeliat setelah merasakan cahaya matahari masuk ke dalam ruang rawat nya. Ia mulai mengerjapkan kedua matanya, beradaptasi dengan pagi hari.

“Selamat pagi.. kau sudah bangun?” Ucap seseorang menyapa gadis itu dengan ramah.

“Eum.. selamat pagi.” Jawab Eun Ji yang masih belum sadarkan diri sepenuhnya.

“Ini masih jam 6. Kau mau melakukan apa?” Tanya seorang yang masih sama. Ahh.. seorang pria.

“Aku mau tidur lagi.”

“Apa?! Yak! Jung Eun Ji,, kau itu harus banyak beraktivitas sekarang agar kau cepat pulih dari sakitmu. Kau memang suka membuat orang khawatir, ya?”

“Biarkan saja. Aku masih mengantuk.”

 

Park Chan Yeol’s POV

  Apa? ‘Biarkan saja. aku masih mengantuk’, yang benar saja dia berkata seperti itu. Bahkan dia masih belum sadarkan diri dan tak menyadari keberadaanku disini. Dasar!

“Hey~ Jung Eun Ji,, apa kau memang dasarnya suka rumah sakit, huh? Dulu, kau bahkan ingin tinggal di rumah sakit dibanding pulang ke apartemen kita.”

“Apa?” Sekarang ia sudah membuka matanya lebar, bangkit dari posisi tidurnya, dan menatap heran padaku. “Kapan aku seperti itu?”

“Kau tidak ingat? Ahh.. tidak, kau harus mengingatnya.” Ujar-ku. “Dulu, kau pernah masuk UGD karena alergi kacang-mu kambuh. Tapi, saat aku mengajak-mu untuk pulang ke apartemen, kau menolak dan bilang ingin tetap tinggal di rumah sakit. Kau juga bilang, kau jarang sekali sakit dan ingin merasakan kenyamanan di rumah sakit.” Jelas-ku mencoba untuk mengingatkan dirinya atas insiden 6 bulan yang lalu, tepatnya.

Aku melihat ekspresi-nya yang kebingungan. Ia mencoba mengingat sesuatu, terlihat dari ekspresi yang sudah berubah sekarang. Baik, Jung Eun Ji, perlahan kau akan mengingat semuanya. Perlahan.

“Aku tidak merasa pernah bicara seperti itu.” Ahh.. gagal! “Dan seringat-ku, alergi-ku kambuh saat aku berusia 15 tahun. Itu yang aku ingat. Lagi, apa maksud dari ‘apartemen kita’? Memangnya, kita pernah tinggal bersama? Tidak mungkin!”

Huh.. sekarang apa lagi? Pasti, dia semakin kebingungan.

“Yaa.. pokoknya begitu.”

Aku frustasi, sangat frustasi. Huh~ sepertinya ini takkan semudah dengan apa yang aku pikirkan. Mengingatkan seseorang yang hilang ingatan lebih sulit dibanding harus merawat seorang pasien yang keras kepala.

“Tapi, kau sungguh pernah mengatakan hal itu. Ayolah~ Jung Eun Ji, coba ingatlah! Perlahan, perlahan saja. Aku tak memaksa.”

“Park Chan Yeol.. ”

“Eo.. ada apa?”

“Bisakah kau tidak membuat kepala-ku sakit? Kau terus membahas sesuatu yang tak aku ingat, tidak, bahkan tak pernah aku rasakan. Aku,, memang seperti ini.”

“Tidak.. kau tidak– ”

“Kemana Ibu? Kenapa kau yang ada disini?”

Ia mengubah topik. Baik, aku rasa ia juga muak dengan apa yang aku katakan sedari tadi. Aku mengerti.

“Ibu-mu kembali ke rumahnya. Dan dia menitipkan dirimu padaku.”

“Apa? Ahh~ untuk apa Ibu melakukannya?”

“Kenapa bicara seperti itu?” Timbal-ku sedikit meninggikan suara-ku. “Asal kau tahu saja, selama kau tak sadarkan diri. Dia terus duduk disini seharian, tidak, berhari-hari. Jadi, dia perlu istirahat. Kau ini!”

“Aku tahu, aku juga mengerti.” Ucap-nya, tak kalah meninggikan suaranya dari aku tadi. “Tapi, yang tidak aku mengerti adalah,, kenapa harus dirimu yang diberi Ibu amanah? Bukannya Min Ah.”

“Kenapa? Apa kau khawatir tentang pekerjaan-ku? Tenang saja. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri.”

“Kata siapa? Aku tidak berpikiran seperti itu, bodoh.” Elak-nya seraya memalingkan wajahnya. “Aku hanya tidak suka kalau kau yang disuruh Ibu. Seperti tidak ada makhluk lain saja di planet ini.”

“Yak.. setidaknya, kau harus  merasa beruntung karena aku yang terpilih untuk diberi amanah oleh Ibu-mu.”

“Beruntung? Kenapa bisa begitu?”

“Karena aku ini baik, pintar, dan tampan.”

Detik kemudian, ia menunjukkan ekspresi seakan orang yang ingin muntah. Apa?

“Tampan? Apa kau sedang berdialog drama, huh?”

“Apa salahnya? Aku memang tampan, ‘kan?”

Dan ia hanya mendengus kesal. Haha.. dia terlihat lucu sekali.

Tak lama, terdengar suara pintu yang tergeser dan menampakkan seorang Perawat wanita yang membawa nampan dengan beberapa obat untuk Eun Ji. Aku yakin itu.

“Permisi mengganggu kalian. Ini waktunya nona Jung minum obat.” Ujar Perawat itu.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi untuk mengisi perut-ku dulu.” Yang benar saja. Aku tidak sempat sarapan saat pergi kemari. Baik, itu salah ku.

“Pergi saja! Atau, sekalian kau tak perlu kembali.” Ujar Eun Ji dengan senyuman manis. Ahh.. jadi ia ingin aku pergi. Dasar!

Aku sudah bangkit dari duduk ku. “Tidak.. jika aku tidak kembali, kau bisa mati karena merindukan-ku nanti.”

“Cih.. jangan harap!” Ucapnya sinis. Dan aku hanya bisa terkekeh, begitu juga dengan sang Perawat yang sedari tadi menyiapkan telinganya untuk mendengar ocehan tidak jelas kami.

“Baiklah, aku pergi. Tenang,, aku takkan lama, Eun Ji-ku~ ”

“Sudah pergilah! Atau aku akan menendang bokong-mu.” Dan aku kembali terkekeh.

Aku-pun meninggalkan ruangan itu dan pergi untuk mencari makan.

 

Author’s POV

“Kalian terlihat serasi. Pasangan yang manis.” Ucap  sang Perawat memecahkan keheningan. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Maaf? Euh.. itu tidak mungkin.” Elak Eun Ji dengan tegas, walau diselingi dengan tawa garingnya.

“Tapi, yang aku lihat seperti itu. Kalian sweet couple.”

“Ahh.. haha,, anda bisa saja.” Dan lagi-lagi Eun Ji hanya bisa tertawa garing untuk menanggapi ucapan sang Perawat. Namun, disisi lain ia mencibir dalam batinnya. Huh~ Eun Ji,, Eun Ji.

 

*** ***

 

Singkat cerita, Park Chan Yeol yang sudah mengisi perut terlihat berjalan kembali menuju rumah sakit. Namun, saat ia akan memasuki rumah sakit, ia melihat sekerumunan di satu tempat. Ia heran dan ingin tahu apa yang sedang mereka ributkan. Ia pun berjalan menghampiri kerumunan itu.

“Ada apa sih?” Gumam Chan Yeol.

Yang ia lihat, semua orang yang ada di kerumunan itu tengah mendongak ke atas dengan gumaman yang tidak jelas di telinganya. Karena penasaran, Chan Yeol menepuk salah satu orang yang juga sibuk mendongakkan kepalanya.

“Permisi, Tuan.” Panggil Chan Yeol sopan. Pria itupun menoleh.

“Iya,, ada apa, anak muda?”

“Apa yang sedang terjadi? Kenapa disini sangat ramai?” Tanya Chan Yeol.

“Ahh.. di atap gedung, ada seorang wanita yang ingin bunuh diri.”

“Maaf?”

“Kau bisa melihatnya disana.” Ucap lagi pria, yang Chan Yeol yakini memiliki usia seperti Ayah-nya, tersebut seraya menunjuk ke atas atau lebih tepatnya menunjuk seorang gadis yang memakai pakaian pasien rumah sakit itu.

Chan Yeol ikut mendongak ke atas dan sedikit memicingkan mata, karena pada saat itu sinar matahari cukup mengganggu. Awalnya, ia ragu apakah ia mengenal gadis yang ada disana. Namun, detik kemudian, matanya membulat seraya bergumam.

“Eun Ji.. ”

Benar, gadis yang ada di atap itu adalah Jung Eun Ji. Tunggu, apa gadis itu akan bunuh diri? Sungguh?!

“Euh.. Eun Ji-ah!! Ka-kau jangan lompat! Tidak, janaan bunuh diri!” Teriak Chan Yeol yang berhasil memancing perhatian dari orang-orang disana.

Detik kemudian, Chan Yeol mengambil langkah untuk berlari menuju atap gedung tersebut. Ia mulai khawatir dengan Eun Ji, lagi, saat ini. Tidak, Eun Ji tidak boleh mati sekarang. Yang benar saja! Auch!!

Chan Yeol terus membuat suara derapan kakinya saat menaiki tangga darurat. Yeah~ ia menggunakan tangga darurat sekarang. Ia pikir, ia tak punya waktu untuk menggunakan lift sekarang.

Ia tak peduli tentang kakinya yang sakit karena menaiki tangga. Yang terpenting sekarang adalah, JUNG EUN JI.

“Tak..  ”  suara pintu berbunyi dan bersamaan seorang pria memasuki area atap rumah sakit kemudian pria tersebut berlari menuju seorang gadis yang berdiri dekat di tepian. Ia berlari sedikit menyeret kakinya yang sakit, ia menarik tangan itu dan menjatuhkan diri gadis itu pada pelukannya. Park Chan Yeol benar benar mengkhawatirkan Jung Eun Ji.

“Park Chan Yeol.. ”

“Yak!! Apa kau sudah gila, huh? Hanya karena kau frustasi, tak dapat mengingat kejadian selama 6 bulan ini, tapi jangan seperti ini.” Ujar Chan Yeol, setengah mati ketakutan. “Tak apa, perlahan-lahan saja kau mengingat tentang kita. Aku, tidak masalah jika harus menunggu untuk waktu yang lama. Terpenting, aku bisa tetap bersamamu.”

“Euh.. Chan Yeol-ah,, apa yang sedang kau bicarakan? Aku sungguh tidak mengerti.” Timbal Eun Ji tak menanggapi ucapan Chan Yeol yang panjang lebar itu. Tapi, sepertinya gadis itu,, “Yak!! Bisakah kau melepaskan aku? Aku.. euh.. aku sesak nafas,  bodoh!”

Menyadari bahwa pelukannya terlalu erat, Chan Yeol buru-buru melepaskan pelukannya dari Eun Ji.

“Euh.. maafkan aku, aku terlalu khawatir.” Ucap Chan Yeol. “Kau tidak apa-apa, ‘kan?”

“Tidak.”

“Apa? Tunggu,, apa kau sakit? Dimana? Dimana yang sakit? Katakan!”

Detik kemudian, Eun Ji menyentuh dadanya. Dengan raut muka seakan orang yang sedang sekarat, ia berkata.  “Disini.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, bodoh!” Gertak Eun Ji, kembali menjadi sosok yang garang. “Kau memelukku dengan erat. Jadi, bagaimana dada-ku tidak merasa sesak, huh? Dasar!!”

Detik kemudian, raut wajah Chan Yeol berubah seketika menjadi.. menjadi apa ya?

“Yak! Aku ini menghawatirkan-mu dan kau masih bisa bercanda? Yang benar saja!”

“Apa lagi sekarang?”

“Kau,, akan bunuh diri ‘kan tadi?”

“Ya ampun.. apa lagi ini? Siapa yang mau bunuh diri, huh?”

“Kau.. kau Jung Eun Ji, KAU!!”

“Tidak.. tidak Park Chan Yeol, TIDAK!!”

Keduanya menunjukkan kekesalan di wajah mereka. Namun, tak lama, Chan Yeol mengubah raut wajah-nya.

“Kau tidak berniat untuk bunuh diri?” Ucap-nya yang meralat ucapan Eun Ji tadi.

“Tentu saja. Untuk apa aku bunuh diri?”

“Su-sungguh?”

“Iya.. sungguh,, SANGAT SUNGGUH, Tuan Park.”

Chan Yeol tersenyum mendengarnya. Ia senang bahwa Eun Ji-nya takkan bunuh diri.

“Chu.. ”  Park Chan Yeol mengecup kening Eun Ji, sangking senangnya ia saat ini. Sedangkan, yang dikecup terdiam setelah mendapat kecupan, manis, dari Chan Yeol itu. Detik kemudian, Eun Ji merasakan jantung-nya berdetak dengan cepat. Cepat, cepat, dan semakin cepat.

Chan Yeol berjalan menuju ketepian itu, bersiap untuk berteriak kepada orang-orang di bawah sana.

“KEKASIH-KU TIDAK JADI BUNUH DIRI, tidak maksudku, DIA TAKKAN PERNAH MENINGGALKAN AKU!” Teriak Chan Yeol dan kemudian ia bisa melihat ekspresi lega sekaligus senang dibawah sana. Itu bagus.

Chan Yeol kembali menegakkan dirinya dan berdiri di hadapan Eun Ji, yang masih terpaku di tempatnya.

“Eun Ji-ah.. ”

“Tadi, apa yang kau lakukan.. ?”

“Aku mencintai-mu, Eun Ji-ah.”

“Apa?”

“JUNG EUN JI, AKU MENCINTAI-MU!!” Teriak Chan Yeol lagi dan berhasil membuat Eun Ji merasakan hawa panas di pipinya.

Teriakkan yang memberikan pernyataan itu berhasil membuat aliran darah Eun Ji berdesir dengan cepat nya. Ia merasakan bahwa seluruh anggota tubuhnya tidak berfungsi dalam sekejap. Ahh.. apakah ia baik-baik saja?

“Ahh.. kenapa kau berbicara tidak penting seperti itu?” Ucap Eun Ji namun dengan suara yang lirih.

“Apa kau bilang?”

“Dasar gila!” Dan Eun Ji pergi meninggalkan Chan Yeol.

Chan Yeol gila, Chan Yeol bodoh, dan Chan Yeol mencintai Eun Ji. Haha.. dasar!!

 

*** ***

 

Singkat cerita, sekarang seorang Jung Eun Ji tengah bersiap-siap untuk tidur. Namun, sepertinya tidak sepenuhnya, karena ia masih membuka matanya. Posisi menyamping, ia menatap jendela yang cukup besar itu yang menampakkan pemandangan luar. Seoul, memang kota yang indah.

Disisi lain, Park Chan Yeol telah terlelap dalam tidur-nya. Eum.. sudah 1 jam-an ia tidur di sofa ruang rawat Eun Ji.

Jung Eun Ji, gadis itu tengah memikirkan sesuatu atau lebih tepatnya, memikirkan semua hal yang terucap dari mulut Chan Yeol selama 2 hari ini. Entah kenapa itu cukup mengganggunya.

Pria itu seakan  mengatakan bahwa ia dan Chan Yeol memiliki hubungan khusus selama 6 bulan ini. Tapi, yang ia ketahui, karena ia hilang ingatan,  ia memiliki hubungan buruk dengan Chan Yeol karena kejadian 7 tahun yang lalu.

“Huh~ sebenarnya, siapa diriku selama 6 bulan sebelumnya?” Gumam Eun Ji dan kemudian menghela nafas panjang.

Jung Eun Ji mengubah posisinya dan menjadikan langit-langit ruangan itu sebagai ‘pemandangan’-nya. Ia menggerakkan tangannya untuk mengelus perutnya yang rata. Entah kenapa, setiap ia mengelus perutnya itu, ia serasa ada yang berbeda disana. Seperti ada sesuatu didalam sana.

“Aku harus menyelidikinya. Jika tidak, rasa penasaran ini akan membuat-ku gila.” Gumam Eun Ji lagi.

 

Jung Eun Ji’s POV

  Tanpa sepengetahuan Chan Yeol, aku pergi untuk menemui Dokter yang merawatku. Aku juga dengar, bahwa ialah yang mengoperasi-ku.

Tepat didepan pintu ruangan sang Dokter, aku segera mengetuk pintu tersebut beberapa kali sampai mendengar sahutan didalam. Sahutan yang menyuruhku masuk.

“Eo.. nona Jung Eun Ji.” Pekik Dokter itu.

“Selamat malam, Dokter. Apakah aku mengganggu waktu-mu?” Tanya-ku takut jika mengganggunya.

“Tidak, tidak apa. Mari duduk.” Ia menyuruhku duduk di kursi yang ada dihadapannya, dan aku menyetujui. “Apakah ada masalah, nona Jung?”

“Eum.. aku ingin bertanya sesuatu tentang diriku. Maksud-ku, tentang perut-ku.” Ujar-ku sedikit ragu. “Saat aku menyentuh perut-ku, aku merasa ada yang berbeda. Apakah, sebelum aku dioperasi, perutku ‘berisi’?” Ini sedikit aneh untuk dipertanyakan memang. Tapi, aku tak peduli.

“Maksud-mu, tentang kehamilan-mu?”

“Kehamilan?” Tanyaku heran. Hamil?

“Ya,, sebelumnya Anda hamil nona Jung dan kehamilan anda sudah memasuki usia 6 bulan.”

“Aku hamil? Sungguh, Dokter?”

“Tentu saja, saya takkan berbohong mengenai pasien saya.” Ucapnya meyakinkan-ku. “Namun, saat anda kecelakaan, anda harus kehilangan bayi anda. Bayi anda meninggal dalam janin anda maka kami harus mengambil janin dalam tubuh anda.”

“Tapi, Dokter, ini tidak masuk akal. Aku,, aku belum menikah.”

“Apa maksud anda belum menikah? Ahh.. anda mengalami hilang ingatan, maka dari itu anda tidak mengingatnya.” Apa maksudnya? “Pria yang bernama Park Chan Yeol itu,, dia adalah Suami Anda, nona Jung.”

“Maaf?”

 

*** ***

 

Aku sungguh masih tak percaya, bahkan tak ingin percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Pertama, aku hamil. Kedua, aku sudah menikah. Dan ketiga, Suami-ku adalah Park Chan Yeol?? Sungguh?! Apa aku baru saja pindah ke Planet Mars?

Huh~ aku rasa aku memang harus segera pulih dari amnesia-ku ini. Ini sungguh membuat-ku gila. Huh~

“Aku menikah dengan Park Chan Yeol dan hamil selama 6 bulan. Aku menikah dengan Park Chan Yeol dan hamil selama 6 bulan. Aku menikah dengan Park Chan Yeol dan hamil selama 6 bulan.” Aku terus bergumam dengan kalimat yang sama seraya berjalan untuk kembali ke ruang rawat ku.

“Aku menikah dengan Park Chan Yeol dan hamil selama 6 bulan. Aku menikah dengan Park Chan Yeol dan hamil selama 6 bulan. Aku– ” Chan Yeol?

Ia terlihat gelisah dengan berbolak-balik di depan ruang rawat-ku.

“Ada apa dengannya?”

Deg..  ia melihat ku, ia melihat diriku yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia menghela nafas lega, sepertinya, dan berjalan menghampiriku. Aku menundukkan kepala-ku.

“Kau darimana saja, huh?” Tanya-nya yang sudah berdiri dihadapan-ku saat ini. Aku tahu pasti ia marah saat ini, yeah~ walaupun aku menundukkan kepala-ku saat ini. “Apa kau tidak tahu bahwa kau berhasil membuatku khawatir, huh? Ibu-mu menitipkan dirimu padaku. Dan, kau– ”

“Maafkan aku.. ” euh.. entah kenapa, aku hanya bisa  mengatakan hal itu saja saat ini.

“Katakan, kau darimana?”

“Aku dari Dokter-ku.”

“Untuk apa menemui Beliau? Tidak tahu ini sudah larut?”

“Hanya ingin bertanya sesuatu saja.”

“Apa itu?”

Detik kemudian, aku memberanikan diri untuk menatapnya. Ia sudah tak menunjukkan wajah kesalnya padaku.

“Tentang perutku.”

“Perut? Memangnya, ada apa dengan perut-mu?”

Sejenak aku terdiam dalam pikiran-ku yang masih kacau ini. Aku menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk ku jelaskan. Apa benar aku sudah menikah dan Chan Yeol adalah suami-ku? Dan benarkah aku hamil?

“Chan Yeol-ah.. ”

“Eo.. ada apa?”

“Tentang 6 bulan,, ” haruskah aku mengatakannya? “… bisakah kau membantu-ku untuk mengingatnya?”

“Apa?”

“Aku.. harus menemukan jati diriku yang sebenarnya, tidak, maksudku, aku ingin mengingat semuanya tentang sebelum aku kecelakaan.”

Chan Yeol terdiam, tak segera menjawab perkataan-ku. Ia menatap-ku untuk waktu yang lama.

“Chan Yeol.. ”

Sret..  ia menarikku ke dekapannya. Sontak membuatku terkejut dan merasakan, kembali, serunya jantung ini dengan cepat.

 

Author’s POV

“Maafkan saya.. ” ucap seorang Perawat yang tadi terlihat terburu-buru sembari mendorong troli, hampir menabrak Eun Ji.

“Tidak apa.. ” timbal Chan Yeol.

Dan kemudian, Perawat itu kembali melanjutkan pekerjaannya untuk pergi.

Sekarang, posisi yang membuat jarak mereka terhapus, kembali, membuat 2 pasang mata itu bertemu. Hanya tatapan biasa saja, tidak memiliki arti yang sesuatu di antara 2 pasang mata yang bertemu itu.

Mereka masih tidak berniat untuk kembali membuat jarak diantara mereka.

“Jung Eun Ji.. ”

“Eo.. ”

“Kau.. tidak kau pinta untuk membantu mengingat apa yang terjadi selama 6 bulan ini, aku tetap akan melakukannya walau nantinya akan menyakiti dirimu.”

“Menyakiti diriku?”

Selanjutnya, seperti itu. Dan tak ada yang berniat untuk mengembalikan jarak diantara mereka berdua.

 

*** ***

 

“Dia hilang ingatan?”

“Eo.. “

“Itu artinya, ia tak mengingat diriku juga.”

“Apa maksudmu?”

“Yeah~ sebelumnya, kami memiliki hubungan yang baik sebagai teman. Huh~ menyebalkan!”

“Tenanglah,, tidak akan lama lagi ia akan mengingat kita semua.”

“Sungguh?”

“Iya.. tentu saja.”

“Aku ingin menemuinya.. ”

“Tapi, bukankah kau sedang sibuk dengan syuting web drama-mu?”

“Yeah~ hari ini adalah hari terakhir syuting kami. Ahh.. ”

“Ada apa?”

“Tidak,, tidak apa.”

“Sudah ya,, aku harus kembali menemui Eun Ji.”

“Eum.. baiklah.”

Dan setelahnya, sambungan telepon terputus dan seorang Ahn Ha Ni kembali menyimpan ponsel-nya di tasnya. Gadis yang disibukkan dengan web drama-nya itu baru saja berbincang dengan Park Chan Yeol, sahabat-nya, melalui panggilan telepon.

Hari ini, seperti yang dikatakan Ha Ni, hari ini adalah hari terakhir ia syuting web drama pertamanya. Selama syuting, semuanya berjalan baik dan ia juga bisa menjalin hubungan baik dengan seorang Kim Hee Chul. Yeah~ gadis itu sudah tak lagi membenci Hee Chul. Seperti itu.

Namun, web drama yang memiliki episode 6 itu menjadikan akhir cerita itu dengan sebuah ciuman. Baik, ini adalah first kiss bagi Ha Ni. Ia cukup gugup dan kesal. Ahh~ pokoknya seperti itu.

“Ha Ni-ya.. ” panggil Manager Ha Ni, menghampiri gadis itu yang sedang duduk santai, menunggu gilirannya. “Sekarang pengambilan scene terakhir.” Ujar pria itu.

“Baik.” Ucap Ha Ni.

“Kau baik-baik saja?”

“Eum.. tentu.”

Gadis itu bangkit dari duduknya. Ia mulai menguatkan tekatnya untuk pengambilan scene terakhir ini. Ia pasti bisa.

 

Skip Time

  Grep.. seorang gadis berhasil meraih sebuah tangan yang sang empu-nya akan pergi dari tempatnya. Sang pemilik tangan berhasil dihentikan langkahnya oleh gadis tersebut. Saat ini, mereka berada di stasiun kereta yang ramai itu.

“Woo Gyung-ssi,, haruskah kau pergi disaat seperti ini?” Ucap gadis itu dengan ekspresi yang tak menginginkan sebuah perpisahan. Ahn Ha Ni, gadis yang memerankan seorang Miss Temper bernama Heo Ye Na.

“Seperti ini? Apa maksud anda, Heo Ye Na-ssi??” Kali ini sang pria yang bersuara. Kim Hee Chul yang memerankan Mr. Innocent bernama Jo Woo Gyung.

“Kau meninggalkan aku cinta yang kau beri itu. Dasar pria jahat!”

‘Woo Gyung’ membalikkan tubuhnya dan menatap dengan senyuman yang merekah pada ‘Ye Na’. Ia menyentuh tangan ‘Ye Na’ yang memegang lengannya.

“Karena, aku adalah pria jahat, aku harus meninggalkanmu, Ye Na-ssi.”

“Woo Gyung.. ”

“Aku mohon,, jaga dirimu dengan baik. Maksudku, jangan selingkuh dariku!”

“Aku gadis yang populer walau sifat temper  yang aku miliki ini. Jadi, jangan salahkan aku jika aku selingkuh!”

‘Woo Gyung’ semakin tersenyum mendengar ucapan gadis itu.

Pria itu melepaskan tangan ‘Ye Na’ darinya namun menggantinya dengan menggenggam kedua tangan milik ‘Ye Na’.

“Aku tidak pernah takut jika ada pria lain yang berhasil merebut hatimu.” Ucap ‘Woo Gyung’ dengan penuh keyakinan. “Aku yakin, mereka takkan pernah sabar dengan sikap temper milikmu itu. Karena, hanya dirikulah yang sanggup mengahadapi seorang Heo Ye Na yang galak dan percaya diri tingkat dewa seperti mu.”

“Apa?”

‘Woo Gyung’ menangkupkan wajah ‘Ye Na’ dengan kedua tangannya. Menatap tajam gadis itu.

“Aku mencintaimu, Miss Temper.” Ucap ‘Woo Gyung’ dan berikutnya ia menyentuh bibir itu dengan bibir-nya. ‘Woo Gyung’ atau Kim Hee Chul mengecup bibir ‘Ye Na’ alias Ahn Ha Ni.

‘Ye Na’ memejamkan matanya, hanya sekedar tak ingin melihat wajah pria yang ‘ia cintai’ secara dekat itu. Begitupun dengan ‘Woo Gyung’.

Namun, disela ciuman tanpa nafsu itu, Hee Chul mengucap sebuah kalimat yang berhasil membuat pipi Ha Ni memerah dan memanas.

“Aku sungguh mencintaimu, Ahn Ha Ni.” Ucap Hee Chul, serius, dengan suara yang amat lirih namun masih dapat didengar oleh Ha Ni.

‘Woo Gyung’ tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Ia terlalu mencintai seorang ‘Heo Ye Na’. Dan, akhir cerita,, Happy Ending!

“Cut!!” Teriak seorang pria bernota bene sebagai Sutradara itu, mengakhiri adegan terakhir itu.

Hee Chul melepaskan tautan bibir mereka dan memberi jarak diantara dirinya dengan Ha Ni, yang masih terkejut atas pengakuan Hee Chul.

“Ahh.. akhirnya selesai. Woo!!” Teriak sutradara itu karena senang. “Ahh.. terima kasih untuk kerja keras kalian semuanya. Terima kasih.”

“Ahh.. ya,, terima kasih.”

“Terima kasih.. ”

Sementara semuanya saling melemparkan ucapan ‘terima kasih’ satu sama lain. Kim Hee Chul dan Ahn Ha Ni masih sibuk saling beragumen dalam tatapan yang mereka lemparkan satu sama lain.

“Ha Ni-ya.. ”  panggil seorang gadis berlari menghampiri Ha Ni. Ia sang asisten. “Kenapa kau masih disini? Ayo~ kita pergi ke para kru.”

“Eo.. baiklah.” Baiklah, mungkin itu satu-satunya cara agar mereka mengakhiri argumen itu.

Ha Ni mengambil langkah mengikuti sang asisten sampai langkahnya kembali terhenti saat mendapatkan pesan singkat melalui ponselnya yang tadi ia terima dari sang asisten.

 

From : Senior Hee Chul

 

Besok adalah pertemuan untuk perpisahan. Berikan aku jawaban-mu atas pernyataan-ku. SECARA JUJUR!!

 

  Ha Ni menghela nafas setelah membaca pesan singkat itu. Huh~ apa yang harus ia lakukan?

 

*** ***

 

“Ini foto saat kita menikah. Aku ingat bahwa Min Ah yang mengambil gambarnya.”

“Kenapa dengan ekspresi kita? Apa yang terjadi?”

“Euh.. yeah~ begitulah.. ”

“Apa maksud-mu ‘begitulah’, huh?”

Saat ini, beralih pada Park Chan Yeol bersama Jung Eun Ji yang sedang duduk di bangku taman bersama. Seperti permintaan Eun Ji semalam, bahwa Chan Yeol akan membantu Eun Ji untuk kembali mengingat ingatan yang terhapus.

Sekarang, keduanya tengah melihat-lihat kenangan melalui foto-foto yang tersimpan di ponsel Eun Ji. Beberapa foto di hari mereka menikah, saat sedang keluar bersama, dan lain-lainnya.

“Hey.. Park Chan Yeol,, bolehkah aku bertanya?” Ucap Eun Ji.

“Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Eun Ji menyimpan ponselnya di saku pakaian yang ia gunakan. “Bagaimana bisa kita menikah?”

Sejenak Chan Yeol terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Eun Ji. Bukan karena apa, tapi ia hanya ingin memilih kata-kata yang bisa dijelaskan saja. Yeah~ seperti itu.

“Kita menikah karena kehamilan-mu.” Ujar Chan Yeol.

“Apa artinya, kita tidak saling mencintai?”

“Eum.. tapi, pada akhirnya-pun, perasaan itu tumbuh seiringnya waktu.”

“Aku sungguh tak percaya.”

“Tapi, kau harus percaya. Kita terus dihadapkan dengan banyak cobaan selama menjalin hubungan ini. Entah dalam masalah pernikahan ini, perasaan kita, lalu keluarga kita.”

Eun Ji diam, tak memiliki niat untuk menanggapi ucapan Chan Yeol. Hanya cukup mendengarkan saja.

“Namun, walau begitu, aku bahagia karena Tuhan menentukan takdir ini antara aku dan kau. Aku cukup merasa beruntung.”

“Aku rasa, kita pasti saling mencintai.” Kali ini, Eun Ji bersuara. Namun, nada suaranya sedikit terdengar ragu dan lirih.

“Kita memang saling mencintai.” Ralat Chan Yeol. “Awalnya, hanya dirimu yang memiliki perasaan di pernikahan kontrak kita ini. Aku masih ragu dengan perasaan-ku. Tapi, seiring nya waktu, aku mulai yakin dengan perasaan-ku.”

 

“Kau,, adalah orang yang ku-sukai dan cintai. Jadi, jangan memikirkan pria lain disaat kau bersama-ku.”

 

Tiba-tiba, sebuah potongan scene melintas di pikiran Chan Yeol. Disana, ia melihat seorang Chan Yeol. Ahh.. ada apa ini?

“Dulu, hari dimana aku mengungkapkan perasaan-ku,  aku mengatakan bahwa aku mencintai-mu tapi kau malah menanggapi bahwa kau takut karena perasaan-ku ini. Kau bilang, kalau kau takut aku menyukai-mu karena pernikahan kontrak ini atau karena perasaan suka-mu terhadap-ku selama ini. Tapi, tentu saja semua tidak benar.”

 

“Aku tidak suka kalau kau menyukai-ku. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa aku tak pernah mengharapkan bahwa dirimu untuk menyukai-ku.”

“Dan aku takut, kalau kau menyukai-ku hanya karena merasa kasihan padaku, karena perasaan yang aku miliki, atau karena hubungan kontrak ini.”

 

  Lagi, namun kali ini ia merasa bahwa dirinya-lah yang mengatakan hal itu.

“Dulu, kita juga pernah mengalami kesalah pahaman sampai pernah menjalani hubungan sebagai Kekasih bohongan. Ya ampun~ aku sungguh geli saat mengingatnya. Kau sangat takut dengan Nenek-ku yang galak-nya minta ampun. Haha.. ”

 

“Tentang hubungan palsu ini.. tidak, kita lanjutkan saja selama satu minggu.”

 

“Akh.. ” tiba-tiba Eun Ji meringis kesakitan seraya memegang kepala-nya yang sakit.

Melihat hal itu, Chan Yeol mulai khawatir dengan keadaan Eun Ji.

“Euh.. Eun Ji-ah, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?”

“Ahh.. kepala-ku,, sakit!”

“Apa kita kembali ke kamar saja?”

Eun Ji hanya mengangguk, menanggapi. Dan kemudian, mereka berdua berjalan bersama menuju kamar rawat Eun Ji dengan Chan Yeol yang memapah Eun Ji yang masih kesakitan.

 

*** ***

 

Malam kembali tiba dan saat ini, pukul 9 Malam, Jung Eun Ji sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Park Chan Yeol? Ia sedang keluar untuk mengisi perut.

Dalam tidurnya, Jung Eun Ji terlihat sangat tenang dengan posisi terlentang di kasur yang tak terlalu nyaman bagi seorang pasien. Namun, detik kemudian, Eun Ji merubah ketenangan itu menjadi keusikkan. Dengan mata yang masih terpejam, ia terlihat tidak tenang dalam tidurnya. Tak banyak bergerak memang, namun setiap ekspresi yang ditunjukkan gadis itu sudah menampakkan betapa gelisah nya ia dalam tidurnya.

Sedetik berikutnya, Eun Ji sontak terbangun dari tidurnya dengan posisi terduduk. Ia terengah-engah. Huh~ sekarang, ia mencoba untuk menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam secara berulang kali.

“Huh~ apa yang terjadi tadi? Kenapa aku bisa bermimpi mengerikan seperti itu? Akh!!” Gumam Eun Ji sembari mengacak rambutnya frustasi.

Tersadar bahwa ia sendirian di ruangan itu, Eun Ji mengedarkan pandangannya ke penjuru arah, mencari sosok Chan Yeol. Namun, nihil.

“Kemana ia?”

Sret..  pintu tergeser dan menampakkan Park Chan Yeol, pria yang sedari tadi dicari keberadaannya oleh Eun Ji.

“Kau tidak tidur?” Pekik Chan Yeol menyadari sosok Eun Ji yang masih terjaga, mungkin.

“Aku, tiba-tiba saja, terbangun.” Ucap Eun Ji.

“Oh.. ” tanggap Chan Yeol singkat, ia berjalan menghampiri ranjang Eun Ji. Ia duduk di tepi kasur tersebut.

“Kau darimana?” Tanya Eun Ji, sekedar basa-basi.

Chan Yeol menepuk perutnya sembari tersenyum tidak jelas. “Mengisi perut.”

“Oh.. ”

“Dan kau?? Kenapa kau bisa terbangun?”

“Aku bermimpi aneh.” Jawab Eun Ji. “Disana aku melihat diriku yang tertabrak mobil. Disana aku juga melihat Ibu.”

“Begitukah?”

“Eo.. cukup mengerikan.”

“Mungkin,, itu bukan mimpi biasa.”

“Apa maksudmu?”

“Mungkin, itu adalah salah satu potongan dari ingatan-mu yang hilang.”

“Kau berpikir seperti itu?”

“Itu hanya kemungkinan saja.” Timbal Chan Yeol. “Karena, yang aku dengar juga, kau kecelakaan karena tertabrak mobil saat akan mengejar Ibu.”

“Bagaimana bisa begitu?” Tanya Eun Ji yang mulai penasaran. Yeah~ ia belum mengetahui apa yang membuatnya kecelakaan.

“Saat itu, kau mengejar Ibu untuk menjelaskan tentang pernikahan kontrak kita. Sebenarnya, kita sudah lama merencanakan untuk memberi tahu Ibumu tentang pernikahan kontrak kita secara langsung. Tapi, beliau sudah lebih dulu mengetahuinya. Karena beliau marah, ia memutuskan untuk pergi dan kau mengejarnya. Namun, saat akan menyebrang, kau malah tertabrak oleh mobil.”

“Jadi, seperti itu kejadiannya saat aku kecelakaan?”

“Iya.. ”

 

“Eun Ji-ah.. apa yang kau pikirkan  saat membohongi kami? Apa hati nurani itu tidak berfungsi saat memikirkan resiko semua ini? Pernikahan  kontrak? Apakah pernikahan kontrak begitu hebat di jaman sekarang? … “

 

“Eun Ji-ah.. Ibu benar-benar kecewa denganmu. Ibu, sepertinya, tak ingin melihat-mu untuk sementara waktu ini.”

 

“Bamm!!”

 

“Akh.. ” lagi dan lagi, Eun Ji merasa kesakitan di kepalanya. Bahkan, kali ini benar-benar sakit.

“Eun Ji-ah!”

“Chan Yeol-ah.. kepalaku, kali ini kepalaku benar-benar sakit. Aku.. akh!!”

“Aku akan pergi mencari Dokter-mu. Kau tetaplah disini!” Dan sedetik kemudian, dengan perasaan takut dan gelisah, Chan Yeol berlari mencari Dokter yang merawat Eun Ji.

Eun Ji semakin kuat memegang kepalanya. Ia merasakan kesakitan yang amat kuat sampai ia tak bisa menahannya lagi. Ia meringsut ke kasurnya.

 

Park Chan Yeol’s POV

  Sekitar 5 menit lebih aku meninggalkan Eun Ji sendirian. Aku mulai khawatir dengan keadaannya saat ini. Aku harap ia akan baik-baik saja. Ahh.. aku tak yakin.

Sekarang, aku berlari bersama Dokter Lee dengan seorang Perawat, kami segera menuju kamar rawat Eun Ji.

Sret.. namun, betapa terkejutnya kami, melihat keadaan Eun Ji saat ini. Ia berteriak seperti orang yang kehilangan akal. Eun Ji, ada apa dengannya?

“Eun Ji-ah.. ”

“Akh!!”

Eun Ji terduduk di atas ranjang nya sembari memegang kuat kepalanya. Apa ia, tidak, ia tak dalam keadaan yang baik sekarang.

Kami berjalan menghampiri Eun Ji.

“Nona Jung.. tolong tenanglah! Sekarang, ada kami disini.” Ucap Dokter bermarga Lee itu. “Perawat Na, tolong obat penenang!”

“Baik, Dokter.”

“Jun Ho.. ” deg! Apa yang baru saja ia katakan? “Jun Ho-ya!!”

“Jun Ho? Tn. Park, siapa Jun Ho?”

Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja Eun Ji katakan. Ia menyebut nama Anak kami yang sudah meninggal. Apa itu artinya … ?

“Jun Ho.. itu nama Anak kami.”

“Nona Jung,, apakah anda sudah mengingat semuanya?”

Eun Ji.. huh~ aku tahu ini pasti akan terjadi jika Eun Ji sudah mengingat semuanya. Eun Ji,, aku mohon!

“Chan Yeol.. ” ia,, ia memanggil-ku? “Chan Yeol-ah.. Jun Ho– ” grep! Aku memeluknya.

Aku memejamkan mataku, mencoba untuk menahan air mata ini.

“Aku mohon, tenanglah!”

“Jun Ho,, aku sudah membunuh Jun Ho, Chan Yeol-ah! Aku sudah membunuhnya!!” Entah sejak kapan, ia sudah menangis, suaranya sudah menyerak dan terdengar juga suara isak-tangis disana.

“Tidak, Eun Ji-ah. Kau tidak membunuh Jun Ho. Itu semua bukan kesalahan-mu. Ini sudah takdir.”

“Jun Ho!!”

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Tapi, yang aku pikirkan sekarang adalah untuk menenangkan Eun Ji. Huh~

“Jun Ho!!”

 

*** ***

 

Sudah beberapa hari, kondisi Eun Ji semakin buruk setelah ingatannya kembali. Aku sempat dibuat gila juga karena kesedihan Eun Ji kali ini. Beberapa hari ini pun ia tidak makan, tidak banyak bergerak, hanya diam di atas ranjang nya. Huh~ ia seperti mayat hidup sekarang.

Pagi ini, seperti yang kemarin, aku melihat Jung Eun Ji dengan kondisi yang semakin burik. Ia tertidur  menghadap jendela dengan mata sendunya.

“Eun Ji-ya.. waktunya untuk sarapan.” Ujarku yang sudah memegang semangkuk bubur untuknya.

Sudah 30 menit ku seperti ini, tapi tidak ada respon sama sekali darinya.

Ahh.. aku tidak sendirian, disini juga ada Bang Min Ah dan Kim Myung Soo. Mereka datang setelah aku menceritakan kejadian semalam. Orang tua kami? Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Untu sementara, aku tak mengatakan persoalan ini pada mereka.

“Eun Ji-ya.. bagaimana bisa kau sembuh jika makan saja kau telat, huh?”

Lagi dan lagi. Aku harus bersabar. Huh~

“Chan Yeol-ah.. perlu aku bantu?” Min Ah, dia membuka suara dengan sebuah bantuan.

“Tidak perlu. Aku akan mencobanya. Jika aku menyerah, aku akan mengatakannya.”

“Kau yakin?” Tanya Myung Sok kali ini.

“Iya.. sudahlah, kalian duduk manis saja disana.”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak akan menyerah, karena ini salah satu amanah yang diberikan Ibu Eun Ji padaku. Jadi, aku tidak boleh melalaikan nya.

“Eun Ji-ya.. aku mohon! Kau harus makan. Jangan seperti ini, eo?” Huh~ “Eun Ji-ya.. ”

Huh! Aku tidak tahan.

Brak..  aku menaruh mangkuk itu dengan kasar di meja samping ranjang Eun Ji. Aku mengacak kasar rambutku.

“Hey, Park Chan Yeol!” Pekik, yang aku yakini, bersamaan dari Myung Soo dan Min Ah.

“Eun Ji-ya.. apa kau kira, aku juga tidak gila saat mendengar Jun Ho telah pergi? Aku juga sama seperti mu. Bahkan lebih frustasi disaat yang bersamaan Kekasih-ku mengalami kecelakaan. Namun, aku tidak akan melupakan dunia-ku dan meninggalkan Kekasih-ku yang sekarat seperti saat ini. Aku mohon! Jangan seperti ini!!” Aku bahkan meninggikan suaraku, namun ia masih diam. “Jung Eun Ji,, berhenti untuk seperti ini! Kau.. apa kau suka melakukan hal yang tidak ada gunanya seperti ini?”

Dia sungguh diam. Tunggu,, apa ia sedang menganggapku tidak ada sekarang?! AKH!!

Aku menarik tubuhnya untuk duduk dengan kasar. Dan mengetahui hal itu, Eun Ji meronta.

“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!”

“Eun Ji-ya.. sadarlah!! Kau hidup tidak sendirian, ada banyak orang yang menginginkan kehadiran-mu. Bangun, Jung Eun Ji! Bangun!!”

“Tidak!” Ia berteriak, dan bisa aku lihat matanya mulai berkaca-kaca.

“Kau.. apa kau sungguh Jung Eun Ji yang aku, tidak, kami kenal? Apa kau sungguh Jung Eun Ji yang ku cintai, HUH?!”

Detik kemudian, aku menariknya untuk kupeluk. Tidak ada rontaan kali ini, ia bahkan menerima pelukan-ku. Ia mengeluarkan semua emosi-nya dalam pelukan hangat yang aku beri ini.

“Ma-maafkan aku! Hiks.. aku sungguh minta maaf.”

Dan lagi lagi, aku meneteskan air mata karena kondisi Eun Ji saat ini.

“Tidak.. kau tidak perlu minta maaf. Aku, aku yang seharusnya minta maaf. Karena, aku tidak bisa menjaga dan melindungi kalian. Maafkan aku.”

Dan sejenak aku terdiam dengan posisi yang masih berpelukan.

 

Author’s POV

  Singkat cerita, setelah mengetahui keadaan Jung Eun Ji yang sudah kembali seperti semula, Kim Myung Soo dan Bang Min Ah memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore. Sekarang, mereka berada di basement  rumah sakit, namun lebih tepatnya mereka sudah berada di dalam mobil Myung Soo.

“Jadi, kita pulang?” Tanya Myung Soo kembali memastikan.

“Tentu saja. Memang, mau kemana lagi?” Timbal Min Ah.

“Yeah~ maksudku, apa tidak ada rencana lain lagi? Ini malam minggu.”

“Huh~ kalau ini malam minggu, memang kenapa?”

Ya ampun~ sepertinya Min Ah bukan gadis yang mudah untuk diberi kode. Dasar!

“Kencan. Kita kencan.”

“Apa? Tidak, aku tidak mau.”

“Yak! Ini sudah hampir 1 minggu kita berpacaran. Tapi, kita belum pernah pergi untuk berkencan. Apa kita sungguh pasangan kekasih?”

Yup!! Benar, keduanya sudah menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih selama 1 minggu ini, hampir. Namun, karena kesibukan masing-masing, mereka belum pernah memiliki jadwal untuk pergi berkencan. Huh~

“Untuk apa?”

“‘Untuk apa’? Yak~ mana ada seorang gadis berkata seperti disaat pria mengajak untuk pergi berkencan. Kau ini!”

“Huh~ dulu, saat kita berkencan, tidak seperti ini juga.”

“Euh.. itu kan dulu.” Ucap Myung Sok kikuk, mengingat masa-masa saat mereka berpacaran 7 tahun yang lalu. Hey~ itu kan karena perasaan kalian! “Aku tidak peduli! Pokoknya kita harus pergi untuk berkencan. Melakukan apa yang biasa dilakukan oleh banyaknya pasangan kekasih yang lain.”

“Myung Soo!!”

“Kenapa? Kau mau protes?” Timbal Myung Soo yang sudah menyalakan mesin mobilnya.

“Huh~ terserah saja.” Ujar Min Ah pasrah.

Tenang saja,, kencan pertama kalian akan indah. Min Ah,, kau takkan menyesalinya!

 

*** ***

 

Kembali lagi pada Park Chan Yeol dan Jung Eun Ji yang berada di kamar rawat Eun Ji. Tidak seperti Myung-Min couple, mereka tidak berencana untuk pergi berkencan karena mengingat kondisi Eun Ji yang masih belum pulih secara keseluruhan.

Saat ini, keduanya tengah duduk di atas ranjang dengan scene  Chan Yeol yang tengah menyisir rambut panjang milik Eun Ji. Mereka kembali terlihat bahagia lagi.  (*^_^*)

“Kau harus berhati-hati menyisirnya, tn. Park.” Ujar Eun Ji, yang terlihat menikmati perlakuan manis Chan Yeol.

“Iya.. ” jawab Chan Yeol yang terkesan manis itu.

“Kau harus membiarkan semua rambut-ku rapi. Mengerti?”

“Iya.. Tuan Puteri.. ”

Kemudian, Chan Yeol dengan telitinya mulai mengepang rambut Eun Ju. Sangat teliti.

“Woah~ kau benar-benar mengepangnya?” Pekik Eun Ji tak percaya.

“Dulu, Ibu-ku adalah orang yang sibuk, seperti Ayah. Kadang, disaat ia punya waktu untuk mengepang rambut Chan Mi, aku akan ikut untuk melihatnya. Dia berkata, saat dia tidak punya waktu, aku bisa menggantikan posisinya untuk mengepang Chan Mi.”

“Lalu, disaat ada kesempatan, kau melakukannya untuk Chan Mi. Begitu?”

“Eum.. tepat sekali.”

Chan Yeol yang sudah mengepang rambut Eun Ji, mulai mengikatnya dengan perlahan. Selesai.

“Berbalik lah.. ” ucap Chan Yeol, dan Eun Ji menurut. “Woah~ Kekasihku benar-benar cantik.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.. ” ujar Chan Yeol gemas sembari mencubit pipi Eun Ji.

“Ahh.. ” ringis Eun Ji merasa kesakitan. “Kalau begitu, bisakah kau mengambil gambarnya?” Pinta Eun Ji, memberikan ponselnya pada Chan Yeol.

“Eum.. ”

Bersiap untuk dipotret, Eun Ji tersenyum sembari tersenyum dengan kedua jari yang ia bentuk ‘V’. Cekrek!

“Sekarang, denganmu!” Ajak Eun Ji. Ia meraih ponselnya lalu menekan tombol di layar ponselnya, sekarang posisi untuk mengambil gambar dengan kamera depan. “Ayo.. ”

Chan Yeol hanya bisa pasrah dan dengan pose seadanya, cekrek,  hasil karya kembali terjadi.

“Woah.. kekasih-ku juga tidak kalah tampannya dengan Song Joong Ki.” Ujar Eun Ji sembari menatap senang dengan hasil gambar yang ia dapat.

“Tentu saja. Aku dengan Song Joong Ki itu 11-12. Kau tahu?” Timbal Chan Yeol namun tidak ditanggapi oleh Eun Ji. Huh~ baiklah, ia kembali pasrah.

“Kapan kau kembali bekerja? Setiap hari kau selalu disini. Apa kau tidak kasihan dengan pasien-pasienmu?” Tanya Eun Ji mengalihkan pembicaraan.

“Eum.. mau bagaimana lagi? Cinta sudah membutakan aku untuk tetap disini.” Timbal Chan Yeol yang ingin menggoda Eun Ji, lagi. Ahh.. ia sudah rindu akan godaan-godaan yang ia tahan selama ini.

Eun Ji tersenyum, mengalihkan perhatiannya untuk menatap Chan Yeol. Dan detik kemudian,,

“Plak!!”  Sebuah jitakkan yang amat keras di dapat oleh Chan Yeol. Ahh,, diluar ekspektasi.

“Kau ini!!”

“Sakit!!”

“Biarkan saja!”

Eun Ji menyimpan ponselnya lalu menaruhnya di atas meja samping ranjang nya. Huh~ ia merasa lelah.

Detik kemudian, Eun Ji melemparkan tatapan tajam kepada Chan Yeol. Dan yang ditatap, merasa sedikit risih.

“Ada apa?” Tanya Chan Yeol heran.

“Apa kau masih disini? Maksudku, pergilah ke sofa-mu. Aku mengantuk.”

“Ahh.. yak, Jung Eun Ji! Kau tahu, tidur di sofa selama berhari-hari itu membuat-ku sakit di punggung.”

“Lalu?”

Chan Yeol tersenyum jahil dan, secara tiba-tiba, ia mendorong Eun Ji untuk berbaring di atas ranjang itu. Dan Chan Yeol berhasil mengunci tubuh Eun Ji.

“Yak! Park Chan Yeol,, apa yang kau lakukan?”

“Punggung-ku sakit, jadi bisakah aku tidur disini denganmu?”

“A-apa? Yak! Ini di rumah sakit.. ”

“Kenapa? Kau takut? Tak apa, mereka tahu-nya kalau kita ini sepasang suami-istri, Sayang.. ”

“Tetap saja– ”

“Apa? Setiap haru juga tidur di ranjang yang sama.”

Baik, game over, Eun Ji kau kalah beragumen dengan Chan Yeol. Huh~

“Baiklah.. ” Yeay!! Chan Yeol menang!!

Kemudian, Chan Yeol mengambil posisi tidur di samping kanan Eun Ji. Ia memeluk tubuh gadis itu, dan memejamkan matanya.

“Eun Ji-ah.. aku merindukanmu.”

“Setiap hari bertemu.”

“Maksudku, aku merindukanmu ynng mencintai-ku. Sebelumnya, saat kau hilang ingatan, kau juga melupakan perasaan suka-mu itu.”

“Kata siapa?”

“Apa?”

“Yeah~ walau aku memang tidak mengingat tentang kita sebelumnya. Tapi, perasaan cinta-ku padamu masih tersimpan disini, tak pernah hilang kemana-pun.” Ucap Eun Ji, sembari menyentuh dadanya.

“Sungguh?”

“Tentu saja.”

Diam, suasana kembali hening.

“Maaf membuat-ku menunggu-ku.” Ucap Eun Ji.

“Eum.. tak apa.” Timbal Chan Yeol.

Chan Yeol membuka matanya lalu menatap wajah Eun Ji, yang sangat dekat itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Eun Ji, atau lebih tepatnya mendekatkan bibirnya dengan bibir manis Eun Ji. Eun Ji memejamkan matanya.

“Aku juga merindukan bibirmu, Jung Eun Ji.” Dan selanjutnya, mereka terhanyut dengan ciuman yang sudah lama dirindukan oleh Chan Yeol itu. Haha..

Yeah~ awalnya, hanya menempel. Namun, Chan Yeol mulai memberikan lumatan di setiap bagian bibir Eun Ji. Atas,, bawah,, atas,, bawah, dan Eun Ji pun membalas ciuman itu.

Chan Yeol mendorong tengkuk Eun Ji untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan Eun Ji, hanya meraba punggung Chan Yeol sebagai respon hasrat atas ciuman mereka yang mulai panas itu.

Terus dan menerus, ciuman itu semakin dalam sampai, tanpa disadari Eun Ji, Chan Yeol sudah melepaskan ikatan kancing pakaian, pasien, yang dipakai Eun Ji. Dan seterusnya,,, GELAP!!

 

 

 

 

To Be Continue … … …

 

 

 

Gelap?! Hanjirr,, gelap.

Yeay~ sweet moment lagi kan. Seneng deh!

Oh ya,, saya mau jujur **cielah.. * sebenarnya, ending ffnya enggak kayak gini loh. Diluar ekspetasi. Yeah,, sebenarnya, saya mau buat konflik lagi gitu. Jadi, karena Eunji tahu kalau Junho-nya udh enggak ada, dia mutusin untuk ninggalin Chanyeol. Terus mereka bakal pisah untuk beberapa bulan dan kembali dipertemukan dengan Chanyeol yang udah jadi Profesor di sebuah rumah sakit dan eunji yg nerusin cita-cita untuk buat klub lawak sendiri. Mereka terlibat konflik kecil dan akhirnya happy ending. Gitu sih,, tapi enggak jadi deh. Capek saya, kasihan ama otak dan tangan saya ini.

Dan enggak nyangka aja sih, kalau ending kisah cinta mereka bakal kek gini. Tapi, lumayan lah!

Oh ya,, karena ini 1 chap sebelum the last chapter, saya mau tanya. Gimana sih kesan kalian baca ff saya ini? ‘Kan ini ff pertama saya, jadi pgn tau gitu kesan kalian selama baca ff saya ini. Entah kesan kek gimana, pokoknya ngomong aja sih secara jujur juga. Karena, biar bisa dibuat sebagai pelajaran untuk karya saya yang selanjutnya, apalagi untuk MWL season 2 besok.

Ahh.. tentg MWL 2 ** kebanyakan  bacot ini author-nya.. ** mungkin enggak bisa langsung dipublish, buat dulu yang banyak baru aku bisa berani untuk publish. Yeah bagi yg tertarik aja sih. Enggak maksa kok.

 

Oke.. komen yaa, JANGAN JADI SILENT READER soalnya ini bulan puasa dan mau the last chapter. Dan tolong, beri jawaban atas pertanyaan saya tadi ya..

Oke.. makasih dan see you!!  ヽ(´▽`)/

 

26 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 17)”

  1. Bahkan aku nangis subuh² begini. Mengharukan. Itu karna kekuatan takdir dan cinta mereka yang menyatukan. Uhuuyy. Mian jadi alay kan.

    Ingatan kembali, dokter otak mesum juga kembali, anak mereka bakalan comeback. Huahahaha.

  2. Akhirnya ingatan eunji kembali, wah sepertinya udah pada dpt pasangan masing2 tpi kayaknya baekhyun blum dpt pasangan deh ama aq aja yyyy hehehe ngarep bgt

  3. Ga bisa ngomong wkwkwk ini ending nya sweet kan yaa, ini sweet banget kak hehe
    Meskipun jun honya udah ga ada tapi .. ah sudahlah pokonya ini keren laaahh

    Aku sih ga komentar tentang alur ceritanya, ini udah keren lah, feel nya dapet, bikin senyum2 juga ah komplit lah. Konfliknya ga ketebak yang ibunya eunji misahin chanji -secara ga langsung-
    Aku cuma mau kasih saran, untuk pov-nya mungkin dari sudut pandang author aja kali yak, jadi ga usah ganti2 pov di tiap part nya.
    Juga ga perlu deh kayanya ada kata singkat cerita, kenapa? Karna kan itu udah ada tanda kalo emang udah ganti situasinya, jadi dibuang aja kata singkat ceritanya, kalo dalam ilmu bahasa mah mubazir kata hehe
    Terus juga kayanya kalo koma tau tanda tanya harus nya cuma satu aja cukup deh, ga usah pake dua koma. Kalo tanda tanya dua itu ya dikondisikan aja sama kalimatnya, berlebihan apa engga
    ini saranku aja ya kak, kalo di pake ya alhamdulillah, ga dipake juga ya gapapa, bikan maksud aku buat nge-guruin kakak kok hehe

  4. Thor-nimmmmm huaaaaa aku suka ceritanyaa. Terimakasih sudah membuat ending seperti ini dengan tidak menambahkan konflik. Bisa makin penasaran kalo nambah konflik. Konflik eunji lupa ingatan aja degdegser nunggu kapan dia inget lagiihhh hehehe.
    Emmm kesan yaah, aku sukaaa untuk ff yg baru pertama kali dibuat. Ditambah lagi sekali update ceritanya panjaaanngggg~ itu yg bikin nambah suka hehe. Aku suka secara keseluruhan. Cuma aku rada sedikit keganggu aja sama ‘skip time’ yg dibuat author hehehe. Tapi gapapa kok. Aku suka pokoknyaaahhhh~
    Ditunggu ending chapternya yaahhh. ah iyaa buat mereka hidup bahagia dengan kehadiran junho junior #2 hehehe. Ah dan satu lagi. Makasih udah bikin bahagia semua cast disini thorr. Chan-ji, myung-min, chul-ha hehehe.
    Semangat thor-nim!!
    -XOXO-

  5. Untung endingnya berakhir gini thor. Makasih ud mau kasian ama otak saya thor.. gak siap baca ending yg menyedihkan lagi, hiks. Tp overall aluu suka banget ama endingnyaa. Semangat MWL season 2nya thor.. apalagi castnya suho.. hehe

  6. Awalnya aku nemu ff ini pas aku lagi cari” ff eunji Apink. Pas nemu ff ini aku seneng bgt, soalnya jarang aku nemu ff castnya eunji apalagi eunji di pairnya sama ceye, ceritanya juga unik. Makin cinta deh. Kesanku dari awal baca ff ini adalah ff ini bikin pengen terus baca chp selanjutnya, tingkat kebaperan setiap chpnya terus meningkat hehe. Buat ff pertama yg dibuat menurutku ini udh bagus, pemilihan kata juga udh pas. Penjelasan setiap adegannya juga udh lumayan detail. Tapi author harus lebih teliti lagi dalam mengetik, soalnya ada bagian yg membuatku bingung. Seperti bagian yg ini => “Tiba-tiba, sebuah potongan scene melintas di pikiran Chan Yeol. Disana, ia melihat seorang Chan Yeol. Ahh.. ada apa ini?”. Itu harusnya di pikiran ‘eunji’ bukan? soalnya kalau di pikiran chanyeol itu malah bikin aku bingung. Maaf kalau aku salah.
    Tetap semangat dalam menuliss :3
    Keep Writing~

    1. Terima kasih sudah membaca ff saya..

      Ahh iya,, saya juga senang. Yeah~ sebenarnya juga banyak ff couple chanji sih cuman susah aja dicari.
      Dan terima kasih sudah ngeralat. Mungkin itu aku pas ngetik ama ngantuk-ngantuk gitu. Aku buatnya pas malam-malam chingu. Jadi enggak sempet ngeralat.

  7. Kesan pertama baca ini..dari judulnya langsung kepikiran sama drama marriage not dating… ternyata emang terinspirasi dari itu…
    Bahasa nya juga ngalir dan ringan jadi pengen ngikutin ceritanya…
    Ide ceritanya juga beda dari genre marriage life yang lainnya walaupun awalnya benci tapi akhirnya chanyeol dan eunji bisa saling suka….
    Gak sabar sama endingnya…

  8. ini baru sampai chapter 17 ya? belum ada lagi selanjutnya?

    hmmm Suka duka,manis pahit nya berasa bener di sini Keren !! 👍👍👍

    baca ff jujur aku suka nya sekaligus dari chapter 1 sampai akhir,

    biasanya aku suka baca ff yang semua episode udah selesai..

    jadi marthon kalau baca ^^ hehehe..

    maaf bukan bermaksud jadi silent readers ya author yang baik hati..

    biasanya aku komen di awal,di tengah” dan di akhir..

    karena aku menilai kalau menurut ku bagus aku akan bilang suka,sudah cukup untuk mengungkapkan apa yng ingin ku ungkapkan.. di tunggu Chapter selanjutnya,oahh aku jatuh cinta sm author nya.. eh maksudku FF nya ^^

    Terimakasih.. ^^

  9. menurut saya,FF buatan author bagus kok,bisa buat yg baca tertawa dan nangis disaat yg bersamaan.Aku gac nyangka ini ff pertama author,soalnya dilihat dari ceritanya,udah kayak sering nulis cerita aja nie author (profesional).

    fighting aja buat authornya!!!!!
    and ditunggu karya2 berikutnya…..

  10. Akhirnya inget juga eunji sama ceye, kasian ceye uring uring an karena eunji hilang ingatan, agak ngeri ya pas ingatannya kembali lagi eunji ingat karena jun ho kasian eunji ngegalau karena kematian junho, yaudahlah ikhlas aja kan bisa buat lagi sama ceye, btw itu kenapa tiba tiba gelap ? Mati lampu ya ? “gelap” nya serasa ambigu

  11. Keren thor ceritanya
    Bisa senyum” sendiri pas momentnya chanji romantis”an…. 🙂
    Akhirnya romantis”an lagi…. kekeke 😀
    Yang terbaiklah buat ff ini 🙂
    Next thor… ditunggu last chap sama mwl 2-nya ya….. Fighting!!!

  12. So sweet😍😍😍y ampun suamiku yg gnteng itu sllu bkin baper (mimpi kali yeee haha)

    Nextlah thor udh nggak sbar nunggu lnjutanya hehe..fighting!!!

  13. Beneran ini ff pertama yg dibuat? Ato ff pertama yg di publish? kalo ff pertama yg dibuat berarti emang udh punya bakat nulis dgn bahasa yg enak di baca. Ok ok, auhhh…mati lampu nih? Aigoo…rasanya dagdigdugjeduarr sm kisah mrk. Haduhh..mereka mau bikin junho 2 nih. Auh…mrk mah…ya dah deh. Yg penting happy.

  14. Akhirnya muncul juga. Aku baru pertama baca ff ini beberapa hari yg lalu dan gila keren abis.
    Pengin punya suami kayak chanyeol. Huuuaaaaahhhhh. Aku senyum2 sendiri bacanya, kadang jg greget sama sebel. Good job deh. Ditunggu last chapter dan season 2 nya secepatnya.

  15. Yeay akhirnya Ny.Jung merestui mereka /loncat-loncat/
    Hip hip hore!!!!! 😀 /lebay/

    Akhirannya itu lho…..akan ada adek Jun Ho :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s