[EXOFFI FREELANCE] Ebenbild (Chapter 1)

unnamed.jpg

Title       : Ebenbild

Author   :  shellytriu

Length   : Chaptered

Genre     : Mystery, School life, romance

Rating    : PG

Main cast :Kim Jongin as Kai

Park Eun Bi as Park He Ra

Park Bo Young as Oh Ri Jin

Kim Jong Dae as Chen

 

Additional cast:Park Chanyeol as Chanyeol

Byun Baekhyun as Baekhyun

Oh Sehun as Sehun

Do Kyung Soo as Kyung Soo/D.O

Park Jiyeon as Jiyeon

 

Disclaimer : cerita biasa, fiktif belaka namun asli dari pemikiran dan imajinasi yang berkembang dari diri saya sendiri. Selamat membaca J jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar

 

 

Seoul, 2016

 

Wanita itu meletakkan piring berisi potongan kue coklat yang baru ia ambil dari dalam kulkas ke atas meja tamunya. Menyodorkan piring itu ke depan seorang tamu dengan surai hitam memanjang batas punggungnya, lalu menjatuhkan pantatnya di atas sofa berwarna merah maroon yang baru ia beli sekitar sebulan yang lalu. Masih hangat dan empuk bila diduduki. Wanita itu masih tersenyum sembari menatap yeoja yang tengah menghirup teh dari cangkir kaca yang tadi ia suguhkan.

 

“Kau sudah tumbuh dewasa, Ri Jin. Tinggi dan juga cantik” wanita itu memuji yeoja yang berusia mungkin duaperlima dari umurnya.

 

“Terima kasih, Bibi” balas Ri Jin tak kalah manis senyumnya dari wanita di hadapannya itu.

 

“Ngomong-ngomong ke mana Sehun? Apa dia lagi mempersiapkan ujian akhir semester ganjilnya, Bi?”

 

Bibi Oh terkekeh geli, anak semata wayangnya  mempersiapkan untuk ujian akhir? Mana mungkin. Bibi Oh tau betul bagaimana perangai anaknya itu. Bermain-main dalam segala hal. Kapan dia mau serius? Termasuk mengenai.. ya yeoja?  Entah kapan..

 

“Sehun tidak pernah berubah. Masih saja main-main” jawab Bibi Oh sembari terkekeh

 

Ri Jin tak habis pikir, bagaimana bisa Bibi Oh masih santai saja menanggapi anak satu-satunya itu selagi anaknya terus berkembang dewasa? Bahkan di usia yang rentan akan pergaulan bebas ini Bibi Oh masih menganggapnya hal yang biasa. Begitu pula dengan Paman Oh, ya memang keluarga yang aneh, pikir Ri Jin.

 

“Tapi Bibi bangga karena Sehun tak pernah tandas dari urutan 3 besar.” lanjut Bibi Oh selepas tawanya.

 

Well, ternyata Sehun memang tidak berubah. Selain tak berubah dari sebutan si pembuat onar, Sehun juga tak berubah dari sebutan si Jenius. Pantas saja Bibi Oh tetap santai, toh Sehun anak yang pintar yang bisa diandalkan. Sehun memang mirip Paman Oh, pembuat onar yang jenius.

 

“Ngomong-ngomong apa Hanam sudah tidak nyaman bagimu?” tanya Bibi Oh mulai serius.

 

Ri Jin tau persis mengapa Bibi Oh bertanya seperti itu. Bibi Oh adalah wanita yang benar-benar tau bahwa kota ternyaman yang pernah Ri Jin singgahi ialah Hanam, ya kota kelahirannya. Meskipun jauh dari ibukota, terpencil dan jauh dari modernisasi seperti Kota Seoul, tapi bagi Ri Jin kota itu adalah kota terindah selama ia menginjakkan kakinya di bumi ini. Bahkah ketika Ri Jin tamat sekolah menengah pertama, Bibi Oh menyarankannya untuk merantau ke Seoul. Bibi Oh percaya di sinilah tempat Ri Jin mengubah masa depannya lebih cerah lagi. Jelas saja Ri Jin menolak mentah-mentah. Ia lebih suka Hanam. Tapi sekarang sudah berubah, yeoja itu semakin dewasa, kota itu semakin tua, Hanam bukan lagi kota idamannya. Why?  Karna Ri Jin sudah berubah.

 

Eoh?” sahut Bibi Oh menyadarkan Ri Jin dari lamunannya.

 

“Hanya saja… Aku ingin berubah” jawab Ri Jin pelan tanpa terburu-buru.

 

Sebenarnya ia tidak terlalu yakin dengan pilihannya pindah ke Seoul. Kota metropolitan, belum tentu ia bisa dengan cepat beradaptasi di sini. Ri Jin meremas pelan roknya, tangannya sedikit bergetar. Kepalanya ia tundukkan sedikit, pandangannya kosong. Bibi Oh tak menegurnya, ia memberi sedikit ruang waktu untuk Ri Jin berpikir jernih kembali. Bibi Oh tak melanjutkan pertanyaannya, ada batas untuk tidak dilewatinya.

 

Noona! ”

Ri Jin mendongak, ia tau persis suara siapa itu. Oh Sehun.

 

Sehun melepas ranselnya yang hanya ia gantung pada sebelah bahunya. Dengan sigap ia menghampiri Ri Jin yang masih duduk di sofa ruang tamu.

 

PLTAK.

 

Yak!! ” Protes Ri Jin seraya memegang puncak kepalanya yang baru saja dipukul oleh Sehun.

 

“Kenapa kau tidak mengabariku? Huh?” Protes Sehun tak kalah garangnya dengan Ri Jin.

 

“Hehe.. Mianhe.”

 

“Kau mau mati, huh?” lagi-lagi Sehun berulah, ia melingkarkan satu lengannya pada leher Ri Jin dan memukul kembali kepala Ri Jin dengan tangannya yang lain.

Yak!!  Aku noona mu. Arra? ”

 

Sehun menyerah, ia melepas lengannya dari leher Ri Jin. Sekarang giliran Ri Jin yang melingkarkan sebelah lengannya untuk mencekik leher Sehun. Untungnya Ri Jin tak begitu pendek dari Sehun, ia masih bisa menjangkau leher Sehun yang tinggi itu.

 

Bibi Oh tertawa melihat tingkah kakak beradik ini, meskipun bukan saudara sekandung, namun mereka terlihat lebih dekat dari saudara kembar kebanyakan. Sembari mengambil piring dan cangkir di atas meja, Bibi Oh melenggang masuk ke dapur.

 

“Mulai besok mungkin kau sudah bisa masuk sekolah, Ri Jin. Kau harus mengikuti ujian akhir semester di sini.” Ujar Bibi Oh sebelum menghilang di balik dapur.

 

Ri Jin melonggarkan lengannya dari leher Sehun. Ya, Ri Jin baru ingat bahwa ia pindah sebelum akhir semester berakhir. Ia baru ingat, ia tak bisa mengikuti ujian akhir semester di Hanam karna beberapa hari sebelum kepindahan Ri Jin ke Seoul, sekolahnya di Hanam habis di lalap si jago merah persis seperti dua tahun yang lalu, saat sekolah menengah pertama Ri Jin habis dalam insiden kebakaran, tanpa tersisa sedikitpun.

 

***

 

Tuk..tuk…tuk

 

Yeoja  yang sedari tadi masih terebah tubuhnya diatas kasur berseprai putih itu sedikit demi sedikit mulai menggerakkan tubuhnya. Masih dalam mata tertutup, suara ketukan sepatu di dasar lantai kamarnya benar-benar mengganggunya. Suara itu pula yang pada akhirnya berhasil membuat yeoja itu mulai memfokuskan pandangannya setelah bangun dari singgasana yang teramat nyaman. Ia menggeliat masih setengah sadar. Ketika retina matanya menangkap bayangan yang tepat berdiri di sebelah ranjangnya, pada waktu itu pula otaknya menerima impuls dari ke dua matanya.

 

Yak!!  KIM JONG DAE!!!!!” teriak yeoja itu ketika sepenuhnya sadar.

Dengan sigap ia mengangkat punggungnya hingga terduduk di atas ranjang, menarik selimut yang posisinya sudah tak lurus lagi hingga menutupi tubuhnya hingga batas lehernya. Bukan karna ia tak menggunakan sehelai kain, bukan. Ia masih mengenakan piama dengan lengan panjang dan celana panjang. Namun yeoja itu kini tak dapat berpikir jernih hingga motoriknya menyuruhnya untuk menarik selimut ke tubuhnya.

 

Ya Kim Jong Dae, nama namja yang tadi disebut olehnya kini memicingkan matanya, masih menatap yeoja itu. Well, ini bukan yang pertama kalinya peristiwa ini terjadi, bukan pula kedua kali, mungkin sudah seratus kali.

 

“Kenapa kau seterkejut itu? Katakan padaku, kau sedang bermimpi apa?” tanya Jongdae seakan mengintimidasi yeoja di hadapannya itu.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU CHEN!”

 

“Hanya berniat membangunkanmu, He Ra-yah” ucap namja berlabel Chen itu santai sembari melenggang ke arah sofa dan duduk di sofa itu.

 

Geure. Itu adalah kebiasaan kau.” ujar He Ra yang sudah mulai reda dari keterkejutannya.

 

He Ra memakluminya. Ya, teman namjasatu-satunya inilah yang hanya bisa melakukan itu. Masuk ke kamarnya selagi yang empunya belum mengizinkan atau masih terlelap di kasurnya seperti tadi. Bukan hanya itu, Chen juga pernah menghabiskan setengah dari jatah sarapan He Ra, bukan karna ibu He Ra tak mau menyiapkan sarapan untuk Chen juga, tapi Chen sendiri yang menolak mentah-mentah dan lebih memilih mengambil porsi punya He Ra dengan alasan He Ra seharusnya diet pada usianya sekarang ini. Terlihat seperti kakak adik, kan? Bukan, mereka bukan saudara. Mereka hanya teman, ya teman. Teman ketika mereka masih dalam kandungan, masa kanak-kanak, sekolah dasar, junior high school  bahkan sampai senior high schoolmereka tetap bersama . Awalnya pertemuan ibu He Ra dan Ibu Chen sangat sederhana. Tapi tak ada yang menyangka sebelumnya pertemanan He Ra dan Chen menjadi seerat ini.

 

Yak! Palli iroena. Kau mau dihajar Kim saem setiba di sekolah nanti?” titah Chen sambil melempar bantal sofa ke arah He Ra dan tepat mendarat membentur kepala He Ra.

 

YAK!!”

 

He Ra jengah, tapi tak ia gubris keusilan sahabatnya itu. Ia cepat-cepat turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah utara bagian kamarnya.Ketika tak terlihat lagi punggung He Ra oleh Chen, Ia lalu berdiri menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. Ia tau betul ada apa dengan sahabatnya itu. Ya, apa lagi kalau bukan mimpi. Chen mengalihkan pandangannya pada nakas yang tegak di samping ranjang He Ra, terdapat bingkai foto yang di dalamnya terpampang beberapa foto He Ra dengan dirinya, begitu dekat seperti nadi. Ia tak bisa terus membiarkan sahabatnya menderita dengan mimpi buruk itu, sebagai sahabatnya ia berjanji untuk menyelamatkan sahabatnya dari keterpurukan yg He Ra tutup sendiri rapat-rapat.

 

Eomoniem. Kapan He Ra akan berubah dari kebiasaannya bangun siang?” tanya Chen seraya menuruni anak tangga kepada ibu He Ra yg tengah sibuk di dapur.

 

Eomoniem harus cepat menikahkan He Ra biar dia terlepas dari kebiasaannya itu” ucap Chen lagi selepas menduduki kursi di depan bar dapur tempat ibu He Ra berkutat.

 

PLTAK

 

“Aww”  rintih Chen sembari mengelus puncak kepalanya yang baru saja di pukul dengan telur rebus oleh ibu He Ra.

 

“Kenapa tidak kau saja yang menikah biar tidak perlu cerewet tentang He Ra?” bantah ibu He Ra selagi mengupas kulit terlur rebus yang baru saja pecah.

 

Eomoniem.” rengek Chen

 

Kajja. Makanlah duluan” suruh ibu He Ra kembali ramah.

 

Eomoniem, Apa eomoniemtak pernah mendengar cerita He Ra tentang sesuatu? Hm tentang apa yang ia alami mungkin?” tanya Chen memancing ibu He Ra untuk bercerita.

Tatkala karena He Ra tak pernah bercerita lagi tentang mimpi yang mendatanginya setiap malam semenjak beberapa minggu lalu, ketika He Ra mengakui dirinya sebagai ratu mimpi, tak penting dan tak ada pengaruh bila ia menceritakannya pada sahabat-sahabatnya.

Ibu He Ra terdiam sejenak, menatap Chen yang menatapnya pula, hingga mulutnya tergerak untuk mengatakan sesuatu.

 

“Aku tidak tau, He Ra selalu menyimpan apapun miliknya sendirian.”  ucap Ibu He Ra.

 

***

 

Sehun yang baru tiba di sekolahnya bersama dengan Ri Jin melirik jam tangannya. Ia menghela nafasnya berat. Ia sadar bahwa ia sudah terlambat 5 menit untuk piket. Si kecebong itu, ah bukan, Cheon Yeon pasti akan telak marah pada Sehun yang tak pernah bisa tepat waktu. Ya begitu lah Sehun.

 

Noona , kau langsung ke kantor guru saja di sebelah sana lalu belok kiri, telusuri saja lorongnya, nuna akan menemukan kantor guru. Aku harus absen piket sekarang. Si kecebong ungu itu pasti akan mengamuk lagi”

 

Ri Jin menatap ke depan, ia ragu bisa pergi sendirian di sekolah yang terbilang luas ini. Apa lagi dia orang yang sulit untuk beradaptasi, pemalu dan sangat sungkan. Kepercayaan diri Ri Jin sangat rendah sejak menginjakkan kaki di tengah perkotaan Seoul ini.

 

“Tapi kau bilang kau akan-”

 

“Sampai nanti, noona.” potong Sehun yang sudah jauh dari tempat Ri Jin berdiri bahkan sebelum Ri Jin berucap Sehun sudah melengos pergi meninggalkan Ri Jin. Dasar anak kurang ajar.

 

Well, mau tak mau Ri Jin harus segera menemui wali kelasnya sebelum kelas di mulai. Sebenarnya Ri Jin belum tau apa-apa mengenai seluk beluk sekolah apa lagi kelas dan wali kelasnya. Ri Jin menarik nafasnya panjang lalu menghembusnya pelan, meningkatkan level kepercayaan dirinya. Lagi pula tak banyak orang melewati daerah ini, untuk apa malu?

Ri Jin berhenti di depan pintu kaca yang bila dilihat ke dalam sedikit buram, matanya melirik benda yang tertempel di atas pintu kaca itu.

 

“Ruang guru” gumam Ri Jin pelan.

 

Ri Jin mengusap bajunya agar nampak sedikit rapi sebelum masuk, menyelipkan rambutnya di belakang telinganya. Ri Jin baru hendak menarik gagang pintu ruang guru, namun naas, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Daun pintu membentur ke kepala Ri Jin hingga yeoja  itu sedikit terdorong ke belakang.

 

Oh, mianhaeyo”  suara seorang namjamendekati Ri Jin.

 

Gwenchanayo?” suara itu terdengar lagi.

Namja  yang baru saja membuka pintu itu linglung dengan Ri Jin yang kini meringis kesakitan seraya menundukkan kepalanya dan mengelus puncak kepalanya.

 

“Maaf, saya benar-benar tak menyangka-” baru saja tangan namja  itu hendak menyentuh puncak kepala Ri Jin, lengan gadis itu buru-buru menepis tangannya.

 

Gwenchana!” tutur Ri Jin bahwa dia baik-baik saja. Namun tak melegakan bagi namjaitu ketika Ri Jin mengucapkannya dengan kesal.Namja itu bahkan terdiam menatap gadis itu, apa dia begitu salah sampai gadis itu membentaknya?

 

Yak! Chen-ah!” teriak yeoja dari jarak sekian meter dari posisi mereka.

 

Yeoja itu mendekat dan menatap lekat Ri Jin yang kini meratapi vokalnya yang lancang. Yeoja itu melipat kedua lengannya di depan dada, memandang tak suka pada Ri Jin.

 

“Kenapa kau lama sekali, huh? ”  tanya yeoja itu seraya memukul kepala Chen.

 

“He Ra-yah” protes Chen pada yeoja itu dan sedikit malu menerima perlakuan He Ra di depan yeoja lain.

Yang benar saj, hari ini sudah 4 kali kepala Chen dipukul oleh He Ra.

 

Kajja.”  ajak He Ra sambil menarik tangan Chen cepat tanpa peduli dengan Ri Jin yang berdiri membatu.

Jelas He Ra tak suka melihat orang lain kasar terhadap Chen selain dirinya, memangnya dia pikir dia siapa?

 

Ri Jin memukul-mukul kepalanya pelan, menghentakkan kakinya seraya menghembuskan nafasnya kasar, meratapi tingkah lakunya yang, hm lumayan kasar. Kenapa ini terjadi di hari pertamanya? Apa ini awal dari kerumitan Ri Jin di sekolah ini?

 

***

Baekhyun baru saja berbicara mengenai He Ra kepada sahabatnya ini, belum genap sepuluh detik He Ra sudah muncul di hadapan kedua namja  yang sedang asik menyuap makan siang mereka.

 

“Wah, panjang umur, nih.” ucap Baekhyun seraya menunjuk He Ra yg agak jauh dari tempat mereka dengan garpu yang ada di tangan kirinya.

 

Kai yang sedari tadi duduk di sebelah Baekhyun hanya melirik yeojaitu sekilas, menurunkan garpu dari tangan Baekhyun yang jadi alat untuk menunjuk He Ra, lalu ia kembali melanjutkan makan siangnya. Keningnya sedikit mengkerut meninggalkan bekas kejanggalan di antara mereka berdua.

 

“Mereka seperti couple, ye couple. Kemana-mana selalu berdua.”

 

“Mereka cuman sahabat. Aku tak khawatir sama sekali.” bantah Kai yang mengerti jika Baekhyun mencoba menggodanya.

 

“Ayolah, Kai. Kau sudah seribu kali ditolak He Ra. Mau sampai berapa kali?” runtuk Baekhyun kesal kepada sahabatnya.

 

Well, sekolah ini luasnya bukan hanya sekilan, namun sangat luas. Buat apa Kai terus berharap pada satu wanita kalau di luar sana banyak kesempatan Kai mendapatkan yang lebih cantik dari He Ra, tidak, maksudnya yang cantiknya mendekati He Ra. Ya siapa yang tidak tau kalau yeoja  tercantik di sekolah ini adalah Park He Ra?

 

“Entahlah, Baek..” terdengar seperti suara putus asa milik Kai.

 

Kai menyilangkan sendok dan garpu di atas piringnya lalu bergegas pergi keluar dari kafetaria setelah melirik He Ra yang asik tertawa bersama ke empat sahabatnya, Chen, Kyung Soo dan Ji Yeon.

 

“Yak!  Kai, kenapa kau meninggalkanku?” protes Baekhyun lalu berangsur menyusul Kai yang sudah lumayan jauh.

 

***

 

“Ayo lah Ri Jin, ini bukan Hanam yang kau bisa seenaknya! Kau harus bersikap baik. Barang kali siapa yang kau temui bisa jadi teman sekelasmu. Ayolah!” ucap Ri Jin pelan sambil berjalan-jalan di koridor sekolah.

 

Ri Jin masih menyandang tasnya. Memang Ri Jin tak terlambat, namun ia baru bisa masuk kelas setelah makan siang. Ya, sejak pagi ada yang perlu ia urus sebagai murid baru, karena Ri Jin tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, ia mengurusnya sendirian. Bibi Oh tak bisa bantu banyak selain mendaftarkan Ri Jin ke sekolah Sehun, mengingat Bibi Oh wanita karier yang terbilang lumayan sibuk.

 

Yak!  Kai” teriak Baekhyun menghentikan langkah kaki namjaitu.

 

Ri Jin menoleh pada kedua namja yg tegak di ujung koridor ini.

 

Wae?”  balas Kai malas.

 

“Hm.. Anu.. Ku dengar Young Ah anak kelas 2-”

 

Keumanhae, Baek..” Kai memotong. “Itu tidak merubah apapun”

 

Baekhyun terdiam menatap betapa mengesalkan dan keras kepala sahabatnya ini.

“Kai, dia sepupuku. Tidak bisa kau sedikit ramah padanya kali ini saja?” suara Baekhyun memelan.

 

Sebenarnya bukan soal sepupunya, tapi tentang sahabatnya ini. Tersirat kekhawatiran akan sahabat seperjuangannya ini. Sudah hampirdua tahun belakangan ini Kai berubah semenjak munculnya He Ra dalam ingatan Kai. Maksudnya, apa istimewanya dia__HeRa__ sampai bisa membuat harta berharganya itu melemah seperti ini?

 

“Khawatirkan saja dirimu, Baek” ucap Kai sebelum ia menoleh ke pertengahan koridor di mana seorang yeoja berdiri menatap mereka berdua.

 

Ri Jin jadi salah tingkah, ia mengalihkan pandangannya pada dasar lantai, mengelus-ngelus tengkuknya untuk menghilangkan sedikit kegugupannga. Ri Jin lebih memperendah tunjukkan kepalanya ketika Kai berjalan ke arahnya, selangkah, dua langkah, tiga langkah. Ri Jin semakin gugup ketika Kai semakin dekat, bagaimana kalau dia tak suka dengan yeojaitu yang dengan sengaja mendengar percakapan pribadinya? Ri Jin mendongakkan kepalanya ketika sesosok namja  itu hanya melewatinya, lewat di depan wajahnya. Bahkan Kai sama sekali tak melirik apalagi menatap Ri Jin sedikitpun. Ri Jin menatap punggungnya, menghela nafasnya pelan, tangannya meremas ujung roknya kuat-kuat.

 

“Namanya… Kai” gumam Ri Jin pelan.

 

-To Be Continued-

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Ebenbild (Chapter 1)”

  1. Seru ceritanya pasti rame. Suka adegan kedekatan chen sama He Ra, pengen juga dekat sm chen wkwkkw.
    Aku baru sempat baca ni
    Next next , ditunggu ya 😀

  2. kasian chen dapet pukulan mulu dari hera.. hehehe
    btw penasaran kenapa kai ditolak mulu ama hera? kira2 rijin bisa mengalihkan perhatiannya kai gak ya dari hera???

    1. Anda penasaran? /alauyakuya/ nanti ada jawabannya seiring chapternya bertambah. Jadi dibaca terus ya /caramaksa/😂
      makasih ya udah mau baca 😁

    1. Annyeong ^^ wah jadi terharu nih 😂 haha . Makasih ya udah mau baca. Jangan lupa nanti baca chapter selanjutnya ya /maksa/ wkwk

  3. Siapa yg d maksud kecebong ungu sma sehun oppa?
    Mungkinkah kai salah satu teman sekolah ri jin ktika masih di hanam?
    Memang sebelumnya ada apa kai dengan he ra smpai kai kya gtu??
    Next kakk dtunggu klanjutanya^^

    1. Hallo.. Ini masih sebuah misteri👻 silahkan chingu berhipotesis sndri 😂. Bocoran ya hihi setiap cast nanti ada hubungan masing-masing, jadi baca terus ya/maksa/ wkw
      Hehe makasih udah mau baca, tunggu chapter selanjutnya ya ^^

    2. Waduh laper jadi salah ketik wkwk-_- maksudnya nanti setiap cast saling berhubungan satu sama lain dan akhirnya dapet jawabannya. Saling berhubungan bagaimana? Rahasiaa😂

  4. Kayaknya Ri Jin kenal Kai ya? 😮 atau Ri Jin langsung jatuh cinta pada pandang pertama sama Kai? Hhha penasaran

    Next… ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s