[EXOFFI FREELANCE] Hips Don’t Lie (Chapter 10)

Hips dont lie chap 10.jpg

Hips Don’t Lie

Length: Chaptered

Genre: Friendship, Family, Romance.

Rating: PG -15

Main Cast: Yamazaki Akira (OC), Kai EXO (Jongin), Chanyeol EXO, Sehun EXO, Suho EXO.

Additional Cast: SM Artist.

Disclaimer : Ide dari cerita ini murni dari hasil pemikiran dan imajinasi author yang rada-rada, jadi tolong jangan repost tanpa sepengetahuanku dan jangan plagiat yaa.. Salam pecinta FF!!

Author note: untuk readers yang berpuasa, jangan baca FF ini sebelum buka puasa yaaa. Thank youu ^^

[Chapter 10]

“You…”

Dadaku pengap dari awal bernyanyi tadi,  menahan kesedihan yang amat dalam, dan pada akhirnya aku menyerah pada perasaanku, air mataku menetes.

Lampu telah menyala kembali disusul dengan tepuk tangan para penonton, aku bisa melihat para juri ikut berdiri dan bertepuk tangan.

“Yamazaki Akira ya?” tanya SiWon sunbae.

Ku tarik napas untuk menahan tangisku supaya tidak pecah lagi “Ne,” jawabku pelan menggunakan mic.

“Penampilanmu luar biasa, sudah seperti penyanyi profesional,” sambung SiWon takjub.

“Waaah, aku sampai meneteskan air mata,” kata BoA sunbae sambil menghapus air matanya. “Untuk usiamu yang masih muda ini, kau sangat luar biasa Akira-ssi. Kau begitu menjiwai lagu dan mampu menahan emosimu. Sesekali aku melihatmu hendak menangis, aku salut kau bisa menahannya. Dan juga kau berhasil mencapai pitch-pitch tinggi dan melakukan improvisasi, itu nilai tambah bagiku.”

Aku memang menahan rasa sedihku sampai sekarang, aku hanya tidak mau menangis di depan banyak orang.

“Katanya kau dance machine Akira, apa benar kakimu sedang cedera?” tanya BoA

Aku mengangguk “Ne, sunbae.”

“Wah multi talenta,” BoA takjub. “Kau bahkan bisa menyanyi dan menari.”

“Yamazaki Akira, kau hebat!” puji direktur Lee Soo Man singkat seraya mengacungkan jempolnya. “Teruslah asah kemampuanmu, berlatihlah lebih giat!”

“Baiklah sajangnim, terima kasih.” Aku berusaha tersenyum karena orang yang mempunyai agensi SM telah memujiku.

Semua penonton bertepuk tangan, setuju dengan para juri, namun aku hanya menunduk, karena ini adalah penampilan terakhirku di sini.

“Kau boleh kembali,” kata BoA sunbae.

Aku membungkuk memberi hormat terakhir, lalu berjalan pelan kebelakang panggung tanpa mengangkat wajahku, kakiku masih sakit ketika ku seret berjalan.

Seseorang berlari kearahku dan segera menopangku, lalu aku mendongak kearahnya. “Jongin-ah?” ucapku kaget.

“Diamlah! Jangan sok kuat,” celetuknya.

“T..tapi, Lina?” kataku gagap.

“Masa bodoh.” Ia tampaknya sudah jenuh mendengar nama itu.

Kami berjalan menuju belakang panggung, dan benar saja dugaanku, Lina telah menungguku di depan ruang rias. Kantung matanya tampak sembab, apa ia habis menangis?

“Eonni,” sapaku.

Lina menatap kami berdua bergantian “Kalian! Masuk kedalam!” perintahnya sambil menyuruh kami masuk ke ruang rias. “Aku ingin bicara serius dengan kalian,”

Jongin menuntunku masuk ke dalam, Lina menyusul di belakangnya.

“Oke kita cepat saja,” kata Lina datar. “Apa kalian masih ingin berada di agensi ini?” tanyanya.

“Kau sudah mendengarnya sendirikan eonni, aku menyerah!” ucapku lantang.

“Bagaimana denganmu Kim Jong In?” tanya Lina datar.

“Aku mundur, aku lebih mencintai Akira,” jawab Jongin tanpa ada rasa takut di dalam dirinya.

Spontan aku menatap Jongin,  “Tapikan? Mimpimu menjadi Idol?” tanyaku shock.

“Aku lebih memilih bersamamu, aku nyaman bersamamu.”

Aku terkejut mendengar perkataan Jongin, ia juga menyerah, demi aku?

“M..Mwo?” pekikku.

Lina mendengus kesal “Aigoo dasar bocah yang dimabuk cinta. Yaaa! Kau pikir cari makan itu mudah ha?” katanya marah “Kalian bodoh jika mundur karena cinta.”

“Bodoh? Bukannya peraturanmu yang membuat kami memutuskan untuk mundur?” tanya Jongin lancang.

“Memang, tapi sayangnya kalian berdua adalah trainee favoritku.” Lina mulai ceria.

Aku tidak mengerti melihat ekspresi wajahnya, “Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

Lina menghela napas “Aku tidak bisa mendepak kalian, bakat kalian begitu luar biasa, sayang untuk dibuang. Aku bisa merasakan kalian akan menjadi bintang terkenal saat kalian sudah dewasa nantinya.”

Aku dan Jongin bertukar pandang, sama-sama bingung.

“Kalian boleh jatuh cinta sekarang, jika kalian mau berpacaran, silahkan, aku merestui kalian, namun tidak boleh ketahuan oleh siapapun, mereka berpikir aku tidak adil,” jelas Lina.

Aku tertegun mendengar kata-kata Lina, ia merestui hubungan kami? Mulutku benar-benar membisu sekarang.

“Aku harus keluar sekarang, selesaikan masalah kalian. Aku menunggu di depan pintu.” Lina tersenyum dan beranjak keluar.

Jongin dan aku tak bisa berkata-kata tapi mata kami saling tatap. Kesedihanku hilang seketika itu juga.

“Yaaa! Akira, kau juga mencintaiku kan?” tanya Jongin tampak grogi.

“Eh?” ucapku, kaget “Kenapa kau langsung ke topik sih?” tanyaku agak jengkel.

Tiba-tiba ia menarikku dan memelukku erat sekali “Aku mencintaimu Akira,” bisiknya.

Aku membalas pelukkannya “Aku juga mencintaimu Jongin,” bisikku, air mata kebahagiaan mengalir di pipiku, akhirnya aku memilikinya.

“Lagumu bagus sekali,” kata Jongin ceria masih memelukku.

“Itulah perasaanku padamu,” kataku malu-malu,

ia mengeratkan pelukkannya. “Aku tahu,”

Pintu menjeblak terbuka, aku dan jongin langsung memisahkan diri.

“Hei kalian, jangan lakukan itu di luar ya, Jongin! Bersiap-siaplah, giliranmu tampil setelah ini, Akira, kembalilah ke tempat para trainee!” kata Lina.

“Baik Noona,” sahut Jongin. “Saatnya tampil,” kata Jongin padaku.

Aku tersenyum “Kalahkan mereka,” aku menyemangatinya.

Ia tersenyum dan menuntunku kembali ke tribun trainee.

Yejin, Se Hun, Chanyeol, dan Joon Myeon menyambutku dengan hangat sementara Jongin kembali ke belakang panggung.

“Wah Akira-chan, kau hebat sekali!” pekik Yejin dan ia memelukku.

“Iya itu benar sekali, para penonton hanyut dengan penampilanmu Akira,” kata Joon Myeon oppa bersemangat.

“Aku sampai menangis tadi,” kata Chanyeol.

Aku terkikik “Ah kalian berlebihan,” kataku merendah.

“Sungguh Akira, kau luar biasa!” YiFan nimbrung ternyata ia sudah duduk di kursi di depanku.

“Omo, YiFan hyeong, sejak kapan kau di situ?” tanya Chanyeol.

“Sejak tadi,” jawab YiFan datar.

“Ah laki-laki dingin.” Celetuk Chanyeol.

Se Hun dan Joon Myeon tertawa. “Itu gayanya.” Joon Myeon mengacak-acak rambut YiFan.

“Yaaa!” bentak YiFan “Jangan membuat penampilanku buruk,”

Aku terkikik melihat mereka, aku bersyukur, aku tidak jadi keluar dari agensi ini. Aku beruntung memiliki teman-teman seperti mereka.

“Eh, Kkamjong ke panggung tuh,” kata Se Hun

Aku menatap kearah panggung, Jongin sedang berjalan santai menuju tengah panggung, kemudian ia mengambil ancang-ancang untuk menari dan menunggu musik dimainkan.

Terdengar lantunan suara biola, saat itu juga Jongin melakukan gerakan ballet khasnya, saat musik hip hop bergabung dalam lagu itu ia mengganti geraknya menjadi gerak dance modern, dance hip hop.

Aku tahu lagu ini, lagu dari Chris Brown, Gimme that.

Ia sungguh menawan saat menarikan ballet, hip hop, dan krumping saat bersamaan, bahasa tubuhnya menyampaikan maksud lagu itu. Tak lupa ia selalu menyelipkan senyuman ketika ia merubah gerakannya.

Ia benar-benar menyihirku dengan gerakannya yang indah itu, setiap step terasa begitu sempurna, kakinya begitu kokoh, tubuhnya begitu indah.

Para trainee yeoja berteriak histeris melihat penampilan Jongin, wajar saja, ia memang mempesona.

***

Jongin sudah bergabung lagi denganku dan yang lain, tidak seperti awal acara tadi, sekarang ia sering tersenyum.

“Kkamjong,” panggil ChanYeol “kenapa kau senyum-senyum sendiri?”

“Tidak! Tidak ada apa-apa,” jawab Jongin kalem.

***

Sejak hari itu kami melanggar satu peraturan di agensi itu, yaitu berpacaran, meskipun kami berpacaran, latihan kami tetap berjalan baik dan banyak perubahan, contohnya saja suara Jongin makin memberat ketika ia sembuh dari demamnya, entah kenapa bisa begitu. Apa ini bagian dari puberitasnya?

Dan yang mengetahui hubungan kami hanya Yejin, Chanyeol, dan Joon Myeon, karena mereka selalu dekat dengan kami, dan mereka mencurigai hubungan ini, sehingga pada akhirnya kami mengakuinya. Mereka bahkan tidak terkejut sedikitpun mendengar berita ini, alasan mereka tidak terkejut karena mereka telah membaca chemistry antara kami sejak lama sebelum kami berpacaran.

***

“Kkamjong.” Panggilku ketika kami sedang beristirahat di atas atap sekolah. Aku sedang duduk santai serta mengerjakan tugas sejarah, sedangkan Jongin sedang latihan gerakan rutin para namja yang baru.

“Iya?” sahutnya seraya menghentikan tariannya.

Aku mengacungkan sekaleng jus jeruk “Nih, minumlah,” ajakku.

Ia tersenyum dan duduk di sebelahku. “Bisakah berhenti memanggilku Kkamjong, tungtung kira?” keluhnya sambil meraih jus jeruk kalengan dari tanganku.

“Berhentilah memanggil tungtung kira kalau begitu!” kataku sambil meringis “Aku sudah tidak gendut lagi,”

“Arasseo-arasseo changi-ah,” katanya sambil terkikik.

Aku tersenyum dan ku baca buku cetak sejarahku lagi, sementara Jongin meminum jusnya.

“Itu tugas apa?” tanya Jongin penasaran dan menyandarkan dagunya ke pundak kiriku.

“Sejarah, materi yang diringkas banyak sekali,” kataku sambil memijit-mijit kepalaku.

“Dikumpul kapan?” tanyanya.

“Besok,” jawabku singkat. “Mana numpuk banget lagi, bikin di asrama ga bakal sempat, apalagi di studio, latihan, latihan dan latihan, tidak ada kesempatan untuk belajar, ayahku terus mengingatkanku untuk belajar di manapun aku berada, aku sangat pusing dengan situasi ini, merasa bersalah jika tidak mengikuti perintah ayahku…”

Jongin mencium pipiku “Aigoo, kau kelihatan frustasi sekali changi-ah, rileks,” nada suaranya menghibur. “Aku akan membantumu belajar.”

Aku berkedip sebentar “Yaaa! Jangan menciumku di sekolah, Lina rules, ingat?” aku memperingatkannya.

Ia menyengir nakal “inikan di atap sekolah,” cibirnya.

Aku mendengus dan menggeleng pasrah, “Dasar Kkamjong!” celetukku seraya memandangi essayku.

“Mwo?!” mata Jongin melebar dan ia menggigit pipiku pelan.

“Aduh!”

“Sekali lagi kau memanggilku Kkamjong, aku akan mencium bibirmu itu changi-ah!” ancamnya.

Aku menyengir dan mencibir “Kau tidak akan bisa mencium ini,” ejekku seraya menunjuk bibirku.

Ia menempelkan hidungnya ke rambutku “Jinjja?” tanyanya menatang.

“Ye,” aku berusaha fokus ke essayku lagi.

Sementara Jongin masih menghirup wangi dari rambutku, kemudian ia bermain dengan rambutku.

“Ih, jangan! Yaa!” celetukku seraya memindahkan rambutku kekanan.

Jongin terkekeh, lagi-lagi ia mencium pipiku.

Aku membiarkannya kali ini, barangkali ia memang tidak ada kerjaan sekarang, atau bahkan sedang ingin menarik perhatianku dari essay ini atau barang kali ingin bermanja-manja denganku.

Tapi bibir dan hidungnya menjelajahi pipi kemudian turun menuju leherku, ia menciumi leherku dengan lembut, seakan ia ini vampir yang hendak membenamkan taringnya ke leherku, rasanya..

“Yaaa! Jongin-ah! Geli!!” bentakku seraya menarik tubuhku menjauhinya dan melebarkan mataku seperti sedang marah.

Ia tertawa geli melihat ekspresiku “Aku suka melihatmu marah changi-ah,” katanya.

“Dari mana kau mempelajari itu?” tanyaku skeptis “Kau sering nonton yahdong ya?”

“Tidak! Mana mungkin aku nonton yahdong! Ponsel saja disita setiap latihan,” katanya cepat-cepat.

“Ah dasar!” aku menulis essayku lagi.

Jongin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku lagi. Ia meminum jus jeruknya lagi sambil memperhatikanku yang sedang menulis.

“Kau fokus sekali,” ucapnya santai.

“Setidaknya aku masih memikirkan nilaiku walaupun aku sedang menjalani training,” kataku, tanganku terus menulis namun bibirku mencium pipinya. “Tenanglah.”

“Inilah yang membuatku semakin menyukaimu Akira,” katanya seraya menggigiti bibirnya “Kenapa tidak sekalian cium bibirku?” godanya.

“Suatu saat,” cengirku

“Kenapa tidak sekarang?” tanyanya mengambil pena dari tanganku.

“Pertama, karena kau dan aku masih berumur 15 tahun kebawah, kedua kau akan ujian masuk SMA beberapa bulan lagi, dan ketiga kita di sekolah, berbaha..”

Ia menarik daguku dan otomatis aku menatapnya, jarak wajahnya dan wajahku tak lebih 20 sentimeter, begitu dekat.

“Teori laranganmu begitu banyak,” bisiknya, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, matanya menatap mataku begitu dalam, 5 sentimeter lagi, bibir kami akan menempel, aku menutup mataku, napasku memburu dan aku bisa merasakan napasnya memburu di bibirku.

KRIIIIIIIIIING!!!

Mataku menjeblak terbuka dan aku menarik wajahku menjauhi wajahnya. Pipiku panas sekali.

“Ya ampun!” ucapku “Bel masuk!” kataku panik dan membereskan buku-bukuku.

Aku bisa melihat Jongin termenung, aku terkikik geli. “Misi gagal,” ejekku.

Ia memonyongkan mulutnya hendak berkata-kata tapi aku menarik tangannya. “Khaja!” ajakku.

Secepat mungkin kami berrlari menuju tangga. pemisah kelas kami. Jongin kelas 9-2 yang berada di lantai 3 sementara aku kelas 8-3 yang berada di lantai 2.

“Biarku antar kau sampai ke kelas,” kata Jongin ketika kami sudah sampai di lantai 3.

“Tapi kelasmu kan di lantai ini,” kataku.

“Ah tidak apa-apa, khaja!” ia menarikku turun ke lantai 2. “Oh ya changi-ah, nanti kita pulang bareng anak-anak ya.”

“Okay,” kataku ceria

Ia mengacak-acak rambutku gemas. “Tutup pipimu, merah sekali,” bisiknya.

“Merah?” tanyaku bingung.

Ia hanya tersenyum. Kami berpisah saat aku telah sampai di depan kelasku, dan Jongin kembali naik kelantai 3.

“Omo, Akila-ah wajahmu merah kenapa?” tanya SeHun ketika aku masuk ke dalam kelas.

“Tadi aku panas-panasan sih,” kataku berbohong,

“Ah begitu,” kata SeHun dan duduk di mejanya.

Kemudian guru bahasa Inggris masuk dan pelajaranpun dimulai.

Sepanjang pelajaran, aku hanya membayangkan apa yang terjadi di atap tadi, hampir saja kami berciuman. Jujur saja aku ingin melakukannya tapi umurku masih 14 tahun, terlalu muda untuk melakukan itu.

Kami memang sudah berpacaran selama dua bulan, tapi aku belum berani melakukan sesuatu melebihi dari pelukan, kau tahu maksudku kan?

“SeHun,” panggilku ketika kelas sudah selesai “Yuk, pulang bareng,” ajakku ceria.

“Neeee.” Ia tampak begitu ceria.

Kami berdua berjalan menuju gerbang sekolah, dimana tempat kami selalu berkumpul dengan para trainee yang sekolah di sini, saat pergi dan pulang sekolah.

Yejin sudah menunggu kami, raut wajahnya begitu bahagia, tidak sebahagia biasa, sekarang super bahagia.

“Yejin kau tampak bahagia,” kata SeHun memperhatikan Yejin.

“Iya nih, ada apa?” tanyaku penasaran.

Dia menunjukkan layar ponselnya sambil berteriak kegirangan dan melompat-lompat kecil. Aku melihat sms dari Chanyeol.

“Ha? Chanchan hyeong?” tanya SeHun kaget.

“Kau jadian dengannya?” bisikku.

Ia mengangguk cepat.

“Waaah, selamat!” ucapku “Aku turut bahagia.”

“Ah enaknya Yejin udah punya pacar, aku jadi iri,” keluh SeHun.

“Hei..hei berusaha donk brother,” kata Jongin dari belakang kami.

“Kkamjong hyeong sialan!” umpat SeHun.

Jongin menjitak kepala SeHun “Aku bronze,” katanya seraya mengacak-ngacak rambut SeHun, dia tersenyum lebar.

“Ayo pulang!” ajak Yejin bersemangat.

“Iya deh yang semangat mau ketemu pacar.” Sehun menggodanya.

“Pacar?” tanya Jongin “Yaa, Yejin kau berpacaran dengan siapa?”

“Chanyeol,” kataku dan SeHun serentak.

“Omo, Chanchan punya nyali ternyata,” kata Jongin geli.

“Aiiis, tau deh yang punya nyali,” cibirku, Jongin mencubit pipiku, sedangkan SeHun dan Yejin tertawa melihat kami.

“Udah ih, nanti kita telat latihan,” ajakku.

Kami mempercepat langkah kami.

 

(Bersambung)

Jangan lupa komen dan likenya ya chingu, no silent readersnya T_T. Komentarnya sangat dibutuhkan untuk penyemangat author nulis. Gomawo ^^ Gomawo

By: MaquinaAkira

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Hips Don’t Lie (Chapter 10)”

  1. Alu sempet nangis tadi 😥 #gxadaygnanya
    Akhirnya lina merestui jongin and akira..huft
    Ya tinggal sehun oppa aja yg belum..kkk
    Uhmm maaf kan aku yg pelupa ini ya kakk coz tdinya lupa judulnya..hihihi
    Tpi aku comen terus kok kak dri awal and udah izin bca jga^^..hehehe^^v
    Next kakk dtunggu klanjutanya 🙂

  2. akhirnya lina memperbolehkan jongin ama akira pacaran meskipun sembunyi2. suka deh saat moment akira ama jongin lagi berdua aja…
    cieee yujin juga ikutan akira tuh. tinggal sehun aja yang belum.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s