[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 2)

cover.jpg.jpg

Tittle : HATERxFAN
Author : OHitsL
Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin
(Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene
Genre : Drama, Sad, Romance, AU
Rating : PG 17
Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story.

Perhatikan Rating!

Don’t be Plagiarism!

Enjoy!

 

[Teaser] [Ch1]

 

 

 

 

“FAN? Ah—bahkan sepertinya kau tidak tahu jika sebagian dari mereka adalah palsu.”

 

 

 

<<PREVIOUS Chapter

 

Langkah Krystal terhenti. Dadanya terasa sakit. Apakah oksigen di sekitarnya telah hilang? Mengapa ia sulit bernafas? Matanya terasa memanas. Ia tidak salah. Seseorang yang tengah dibawa memasuki sebuah ambulance dengan tubuh yang bersimbah darah itu—Ayahnya.

 

Bulir-bulir air mata itu mulai berjatuhan.

Ini seperti sebuah peluru yang melejit tepat melubangi hatinya. Perlahan Krystal kembali menyeret kaki-kaki itu untuk mendekat. Namun sesuatu kembali menarik perhatiannya. Beberapa orang medis kembali membawa seseorang dari mobil yang berbeda. Dan—tidak berlu berfikir lama untuk Krystal menyadari siapa orang itu.

 

“K-Kim.. K-k-kai?”

 

 

 

#Chapter 2

 

~

Krystal terduduk di tepian ranjang kasurnya sembari menatap lurus ke arah pintu kaca balkon kamarnya. Pagi ini nampaknya cukup cerah, terbukti cahaya mentari dari luar mulai memaksa untuk masuk ke ruangan itu melalui tirai transparan yang terpasang di setiap kaca jendela kamar gadis itu.

 

Krystal sudah terlihat rapi dengan balutan full skirt dress hitam selutut berlengan panjang yang tak begitu mencolok tetapi terlihat cukup elegan melekat pada tubuhnya. Surai gelap kecoklatan itu tergerai begitu saja dengan rapi. Wajahnya terlihat polos tanpa ada niatan untuk sekedar memoleskan make up disana.

 

Krystal bangkit dan melangkah dengan bertelanjang kaki, mangabaikan sepatu heels hitam di dekat kakinya yang sedari tadi sudah berdiri tegak menunggunya untuk di pasang. Perlahan ia membuka tirai dan jendela kamarnya. Cahaya dengan sempurna memasuki ruangan yang selama seminggu ini berubah menjadi gelap.

 

Krystal membuka pintu balkon. Ia melangkah keluar, mencoba menikmati udara pagi itu dengan menghirup oksigennya dalam-dalam. Tangannya ia letakan diatas pagar besi setinggi perutnya. Ia mulai memperhatikan sekitar, memperhatikan halaman belakang rumahnya yang tampak sepi tak seperti biasanya.

 

‘Ayah, Ini sudah satu minggu’ batin gadis itu.

 

Ya, ini sudah seminggu. Seminggu sejak ‘hari itu’, seminggu sejak ia tak pernah membuka tirai dan jendela kamarnya, seminggu sejak ia membiarkan dirinya terkurung dalam sejuta kesedihannya, dan ini sudah seminggu sejak—ayahnya koma.

 

“Bisa dibilang ayah anda mengalami mati otak. Kemungkinan untuk sadar kembali mungkin hanya sekitar 20%. Saya tidak yakin. Kita hanya perlu berdoa untuk sebuah keajaiban.”

 

Perkataan dokter itu terus mengiang di kepalanya.

Krystal menghela nafasnya pelan. Ia sudah berlarut-larut dalam kesedihannya. Maka dari itu hari ini ia memutuskan untuk mengakhirinya. Mencoba mencari obat untuk luka di hatinya.

 

Krystal kembali memasuki kamarnya. Ia baru saja hendak memakai heels nya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.

 

“Nona..” Seorang wanita paruh baya yang terlihat sudah berumur, memasuki kamar gadis itu. Krystal tersenyum saat pandangan mereka bertemu.

 

“Bibi sudah memasak, apa nona ingin aku membawanya kesini?” Katanya lembut.

 

“Tidak perlu, aku akan kebawah nanti. Emm, bisakah bibi duduk disini sebentar?”

 

Bibi Jo—pelayan yang sudah ia anggap sebagai keluarga—tersenyum lembut sembari mendekat dan mendudukan dirinya disamping Krystal.

 

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu?”

 

Krystal terlebih dahulu bersandar pada bahu wanita paruh baya itu sembari melingkarkan tangan pada pinggang bibi Jo.

“Aku takut.”

 

“Apa yang nona takutkan?” Ia mengelus lembut surai kecoklatan gadis itu.

 

“Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk, tentang ayah.”

 

“Nona hanya perlu berdoa agar tuan baik-baik saja. Sekarang nona tidak perlu memikirkan apapun, nona hanya perlu menjaga kesehatan. Nona tidak perlu takut, bibi akan siap mendengar apapun yang ingin nona katakan.”

 

“Terima kasih, bibi.” Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Lihatlah, kau terlihat sangat cantik dengan pakaian ini. Apa hari ini nona akan pergi ke luar?” Bibi Jo memegang kedua bahu gadis itu.

 

“Aku, ingin mengunjungi ayah.”

 

Bibi Jo tersenyum cerah.

“Tentu saja, tuan pasti sangat merindukan nona.”

 

 

~

 

 

“Kau yakin file nya sudah lengkap?” Suara Kai terdengar di ruangan bercat putih dengan bau yang khas dari tempat itu. Ia terduduk di sofa ruangan dengan balutan piyama rumah sakitnya. Ia pasti akan terlihat baik-baik saja jika perban yang melilit di kepalanya ia lepas.

 

“Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu kan?” Manager Shim menjauhkan tangannya saat Kai ingin meraih hardisk yang ia pegang.

 

“Akan ku pikirkan.” Jelas namja itu setelah berhasil merebut benda kecil di tangan managernya.

 

“Jangan lupakan persidanganmu. Hari ini, jam 2 siang.”

 

“Aku tidak akan datang. Kau saja.” Ucapnya tak acuh.

 

“Hey! Aku pernah bilang aku tidak ingin terlibat.”

 

Tidak ada jawaban. Manager Shim hanya menghela nafas. Ia terus mengernyit menatap Kai yang terlihat sangat serius memasang hardisk itu pada laptopnya. Sekelebat ingatan pun muncul di pikirannya.

 

“Oh—Apa kau sudah dengar sesuatu tentang putri Jung Jaewon?” Manager Shim kembali bersuara.

 

“Apa?”

 

“Tentang.. sesuatu. Hal yang berkaitan denganmu.” Jawabnya ragu.

 

“Katakanlah.” Kata Kai tetap fokus pada laptopnya.

 

“Dia—menjalani sebuah fansite.” Manager Shim berucap hati-hati.

 

“Lalu?—tck! Dimana kau menyimpan filenya?” Kai malah terlihat sibuk dengan laptopnya, ia tak benar-benar menyimak apa yang managernya katakan.

 

“Putri Jung Jaewon adalah pemilik fansite Kaistal_J” Ulang manager Shim.

 

Seketika Kai menatap managernya bingung.

“Apa maksudmu?”

 

“Kau bilang saat melihatnya terakhir kali, kau seperti tak asing dengannya. Mungkin itu sebabnya. Dia pemilik salah satu fansite besarmu.”

 

Kai masih terdiam, mencoba untuk mencerna kata-kata yang managernya ucapkan.

 

“Baiklah, aku pergi. Aku akan menjemputmu jam 2 siang.” Setelah mengatakan itu manager Shim beranjak dari tempatnya meninggalkan ruangan itu.

 

Kai tak menghiraukan managernya, hanya saja kata-kata itu masih terngiang di otaknya.

 

‘Kaistal_J?’

 

Ia bukan tak tahu. Justru ia sangat akrab dengan nama fansite yang satu itu. Tentu saja. Hadiah-hadiah dengan harga selangit dan Berbagai project yang dibuat fansite itu bahkan tidak main-main. Dirinya bahkan sangat kagum. Tapi sekarang.. Apa ini? Ia Putri Jung Jaewon?

 

Terbesit di benaknya untuk segera menjelajahi internet. Rasa penasarannya sudah melewati batas.

 

Dan benar saja, ia begitu terkejut melihat sederet judul yang tertera disana. Tapi ada satu yang benar-benar menarik perhatiannya.

 

Master-nim @Kaistal_J adalah putri Jung Jaewon!

 

“Master-nim? Daebak..” Kai berujar pelan. Detik berikutnya ia menampakan seringainya. “Ini semakin menarik.”

 

 

~

 

 

Rapat yang diadakan diruang meeting kali ini nampaknya menimbulkan atmosfer yang cukup tegang. Lantaran para pemegang saham dan beberapa orang yang berkuasa dalam hal ini cukup terkejut dengan keputusan dari pihak perusahaan. Sekertaris Lu menjadi pemimpin rapat kali itu.

 

“Kami, mewakili JStal Company akan mengumumkan keputusan final tentang pengalihan kekuasaan perusahaan. Berhubung Presdir Jung Jae Won sedang dalam keadaan tidak memungkinkan mengurus perusahaan, maka segala kekuasaan atas perusahaan kami alihkan pada Putri Presdir Jung Jae Won, Nona Krystal Jung.”

 

Seketika ruang rapat itu menjadi gaduh. Orang-orang terlihat tak terima dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh pemimpin rapat itu.

 

“Bagaimana bisa pihak perusahaan mempercayakan hal sepenting ini pada anak yang bahkan tak pernah terlibat?” Protes salah seorang pria paruh baya.

 

“Kau ingin perusahaan ini hancur?” Timpal seorang wanita yang terlihat sangat modis.

 

“Masih banyak orang perusahaan yang lebih berpengalaman. Mengapa harus mengangkat putri presdir? Dia sama sekali tak dibutuhkan disini.” Sahut seseorang lagi.

 

Suasana rapatpun semakin terasa tegang dengan banyaknya protes yang dilayangkan pada pihak perusahaan. Sekali lagi Luhan angkat bicara.

 

“Mohon tenang. Ini adalah keputusan final. Siapapun yang keberatan, saya persilahkan untuk keluar dari ruangan ini.”

 

Saat itu pula suasana menjadi normal kembali walaupun wajah kesal dan marah tak dapat di sembunyikan orang-orang disana.

 

“Kurasa rapat kali ini kita cukupkan. Terimakasih.” Setelah Luhan membungkuk, ia segera bergegas meninggalkan ruang rapat diikuti oleh beberapa pegawai.

 

Luhan hendak menuju ruangannya saat telinganya menangkap suara seseorang yang memanggil namanya.

 

“Sekertaris Lu!” Seru seorang gadis yang terlihat lebih muda dari Luhan. Pakaiannya cukup rapi dengan rok pendek berwarna hitam sebatas lutut dipadu dengan blazer senada yang melekat pas ditubuh rampingnya.

 

“Oh, Irene? Ada apa?”

 

Ya, gadis itu bernama Irene. Bae Irene. Seorang General affair yang 2 tahun ini telah bergabung di perusahaan tuan Jung. Ia sedikit membungkuk lalu memberikan sebuah map coklat pada Luhan.

 

“Apa ini?”

 

“Itu.. tentang kontrak dengan model pria untuk produk terbaru musim panas. Tapi, aku sedikit ragu tentang hal itu.”

 

“Mengapa kau ragu? Kita akan tetap melakukan pemotretan untuk produk terbaru di musim panas.” Jawab pria itu sambil membuka map yang di pegangnya.

 

“Itu..” Irene menggigit bibir bawahnya. Takut-takut jika Luhan akan terlonjak saat membaca kontrak itu.

 

Benar saja, alis Luhan mengkerut seketika saat membaca apa yang tertera di kertas itu.

“I-ini.. Kau serius? B-Bagaimana bisa? Apa maksudmu?”

 

“Itu yang aku ragukan. Model pria untuk produk musim panas kita adalah Kim Kai.” Irene berucap hati-hati.

 

Luhan menghela nafasnya kasar. Ia mengacak rambutnya frustasi. Kim Kai? Yang benar saja. Dunia pasti akan menganggap perusahaan mereka sudah gila.

 

“Mengapa kau tak bicarakan ini sebelumnya? Sebelum kau membuat kontrak. Apa presdir Jung tau tentang hal ini?”

 

Saat itu juga Irene memasang wajah bingung.

“Kau tidak tahu? Presdir yang memintaku agar Kim Kai menjadi model untuk produk ini.”

 

Sekali lagi Luhan terkejut. Rahangnya hampir saja terlepas jika ia tak bisa menahan keterkejutannya itu. Ia benar-benar tak mengetahui perihal ini.

 

“P-Presdir Jung? Apa kau yakin??”

 

“Aku serius. Presdir mengatakan padaku Launching produk ini dipastikan tanggal 6 Juni nanti. Bertepatan dengan ulang tahun putrinya.”

 

Rasanya Luhan ingin mati saja. Ia tidak tahu bagaimana Krystal akan berpendapat tentang hal ini sekarang. Terlebih setelah kejadian ‘hari itu’.

 

 

~

 

 

Krystal kembali menyeruput Latte nya saat ia sadar seseorang di hadapannya terus menatapnya tak biasa. Victoria—sahabatnya.

 

“Kau akan jatuh cinta padaku jika terus menatapku seperti itu.” Ujar Krystal tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca besar cafe itu.

 

“Ya! Aku ini normal. Aku tidak mungkin menyukai sesama jenis.” Protesnya.

 

Krystal hanya mengulum tawanya.

“Ngomong-ngomong, hari ini persidangan kasus ayahku.” Ujarnya pelan.

 

“Aku sudah dengar dari sekertaris Lu. Aku akan menemanimu.”

 

Krystal hanya mengangguk.

 

“Lau, bagaimana keadaan paman sekarang?”

 

“Masih sama. Belum ada perkembangan.”

Krystal menatap sedih pada cangkir Latte yang ada genggamannya.

 

Victoria menghela nafasnya pelan.

“Inikah salah satu cara tuhan mengabulkan impian? Mimpimu terwujud, Krys.”

 

Krystal menoleh, menatap bingung ke arah Victoria.

 

“Bertemu dengan Kai. Hari ini kau akan bertemu dengannya. Kau harus ingat kau sering berkata seperti itu sebelumnya.” Victoria menatapnya hati-hati.

 

Krystal meletakan cangkir Latte nya sepelan mungkin. Mencoba agar tak membuat cangkir itu pecah ataupun semacamnya.

 

“Aku bahkan tak ingin mendengar namanya.”

 

Ah, dugaan sahabatnya tidak meleset sedikitpun. Lihatlah raut wajah Krystal sekarang. Situasinya benar-benar berubah. Victoria tertawa nyaring.

“Hey! Kau menanggapinya terlalu serius.”

 

Krystal hanya tertawa hambar. Mimpinya terwujud? Ah, benar. Mimpi bodoh itu. Bertemu dengan Kai. Tapi sekarang, ia bahkan muak hanya mendengar nama orang itu—seseorang yang telah membuat ayahnya koma.

 

Perhatian mereka teralihkan saat bel pintu cafe itu berdenting, menandakan seseorang datang. Krystal menoleh, berharap seseorang itu adalah orang yang sedari tadi mereka tunggu. Benar saja, dia datang masih dengan pakaian kantornya. Sekertaris Lu.

 

“Maaf, rapat kali ini sedikit agak lama dan ada beberapa hal yang harus ku tangani.” Jelasnya sambil menarik kursi.

 

“Apa rapat kali ini berjalan lancar?” Krystal bersuara.

 

“Tentu saja.” Ia tersenyum simpul.

 

Krystal hanya menganggukan kepalanya.

 

“Ini sudah setengah 2, haruskah kita pergi sekarang?” Namja itu menatap Krystal dan Victoria bergantian.

 

“Bagaimana jika aku tidak ikut?” Krystal menatap Luhan lamat-lamat. Membuat kedua orang disana terkejut. Sedetik kemudian ia menunduk. “Aku takut, sekertaris Lu.”

 

Victoria segera meraih tangan Krystal dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat.

“Apa yang kau takutkan? Ada aku. Ada sekertaris Lu.” Katanya meyakinkan.

 

“Kau hanya perlu yakin. Kita akan memenangkan persidangan ini.” Timpal Luhan.

 

Krystal terdiam beberapa saat. Ia benar-benar belum siap untuk segalanya. Tapi sedetik kemudian ia meraih topinya dan mengenakannya. “Baiklah, ayo.”

 

 

~

 

 

Di luar gedung pengadilan distrik Seoul terlihat dipadati oleh para reporter. Nampaknya mereka ingin meliput persidangan yang cukup ditunggu itu. Sayangnya persidangan yang dilakukan adalah persidangan tertutup.

 

Kai datang ke persidangan dengan di temani managernya. Entah apa yang membuat ia berubah pikiran. Ia mengenakan kemeja biru dongker yang ia lipat bagian lengannya dengan jeans hitam beserta topi dan masker yang menutupi wajahnya.

 

Sejak persidangan di mulai, Krystal bahkan tak sedikitpun menampakkan wajahnya. Ia hanya menunduk, jemarinya terus ia eratkan pada Victoria yang duduk di sampingnya. Berbeda dengan seseorang yang nampak terus memperhatikan ke arah Krystal. Kim Kai.

 

Menit demi menit terasa berjam-jam untuk Krystal. Ia sudah tak ingin berlama-lama dalam ruangan itu. Demi tuhan! Ia ingin semua ini segera berakhir.

 

 

~

 

 

Suara langkah dari heels seorang gadis yang dihentakkan ke lantai terdengar menggema di koridor gedung itu. Krystal berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan orang-orang yang mulai menatap aneh pada dirinya.

 

Persidangan berakhir setelah 3 jam berlalu dengan perdebatan panjang antara Jaksa dan pengacara. Hakim telah memberi keputusan.

Tapi bagi Krystal ini semua terasa tidak adil.

Tentu saja, Persidangan itu berakhir dengan menyisakan luka mendalam untuk Krystal. Pasalnya seseorang yang telah membuat ayahnya koma, tidak dinyatakan bersalah.

 

“Tidak banyak cukup bukti untuk menjatuhi vonis terhadap terdakwa”

 

“Terdakwa dinyatakan tidak bersalah”

 

Persetan dengan bukti! Apa ayahnya yang telah koma selama satu minggu bukan sebuah bukti bahwa orang itu bersalah? Jika bukan karna Victoria dan Sekertaris Lu, bisa dipastikan Krystal sudah menghancurkan seluruh isi ruang persidangan itu. Terutama saat ia melihat orang itu memperlihatkan senyum kemenangan pada dirinya. Sial!

 

Ah, Hatinya kembali terasa sakit. Rasanya ia ingin mati saja saat itu juga. Rasa bersalah pada ayahnya terasa merayapi hatinya.

 

Kini emosinya benar-benar terasa memanas hingga ujung kepalanya. Ia menurunkan topinya, mempercepat langkah hingga sedikit berlari. Ia berniat untuk pulang terlebih dahulu tanpa mau memperdulikan apapun lagi.

Tapi baru saja ia sampai di pelataran parkiran, seseorang menghadang jalannya.

 

“Bisa kita bicara?”

 

Oh, Krystal tentu tahu siapa pemilik suara itu. Kai. Ia tak berniat melihat ke arah siapa yang berbicara. Bahkan ia muak hanya mendengar suaranya.

 

“Aku tidak bisa.” Krystal kembali melangkah namun Kai kembali menghadang jalannya.

 

“Sebentar saja. Ada yang harus aku bicarakan.”

 

“Aku bilang aku tidak mau. Aku ingin pulang.” Krystal meninggikan suaranya. Ia hendak kembali melangkah saat tangan kekar itu menahan pergelangan tangannya. Ia mendongak, menatap Kai tak suka.

 

“Aku hanya akan berbicara sebentar.” Kai menatap Krystal tajam.

 

“Lepas!” Krystal mencoba melepas tangannya tapi cengkraman Kai terlalu kuat. Ia menyerah, itu hanya akan membuat tangannya semakin sakit.

 

“Baiklah. Katakan. Kau bisa bicara sekarang.” Krystal menatap Kai menantang.

 

“Kita tidak bisa bicara disini. Banyak cctv. Ikut aku.” Tanpa aba-aba Kai menyeret lengan Krystal tanpa memperdulikan gadis itu meringis kesakitan. Ia memasukan Krystal ke mobilnya dan berlalu pergi.

 

 

~

 

 

Tak ada yang bersuara di sepanjang perjalanan. Kai menatap serius pada jalanan. Sedangkan Krystal sibuk dengan berbagai spekulasi di dalam kepalanya. Sebenarnya apa yang ingin pria itu katakan.

 

Mobil Kai menepi di tempat yang cukup familiar. Sungai Han. Hebat sekali. Namja itu membawa Krystal ke tempat yang cukup sepi.

 

“Turun.” Kai berujar sambil keluar dari mobilnya.

Demi tuhan! Apakah pria itu tengah memerintah Krystal?

Ia segera turun dari mobil itu dengan segala sumpah serapah yang ia rapalkan dalam hatinya.

 

“Aku tidak akan berbuat kasar jika dari awal kau tidak menolak.” Kai bersuara saat ia melihat gadis itu terus mengelus pergelangan tangannya yang memerah.

 

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan.” Krystal menyaut tanpa menatap Kai.

 

Kai tertawa mencemooh.

“Sepertinya kau tidak suka berbasa-basi ya?”

 

Krystal tak menanggapinya.

 

Kai melipat kedua tangan didepan dadanya.

“Tentang kecelakaan itu.. Ah—kau beruntung ya, ku dengar ayahmu hanya koma.”

 

Krystal refleks menoleh ke arah Kai. Membuat mereka sekarang berhadapan.

“Apa kau gila?! Kau sebut itu sebagai keberuntungan?” Krystal menatap Kai sarkatis.

 

“Hm, Kau beruntung. Ia tidak meninggal bukan?”

 

Rahang Krystal hampir saja terlepas. Apa dia bilang?

“Aku pasti sudah gila berbicara denganmu. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

 

“Aku hanya ingin meminta maaf.” Ujarnya santai.

 

“Maaf?” Krystal memperlihatkan ekspreksi keterkejutannya. “Apa ini yang kau sebut meminta maaf? Kau menyebut dirimu publik figure? Ah, bahkan semua yang ada pada dirimu, sekarang semuanya terlihat seperti sampah!”

 

“Benarkah?” Kai mengangkat sebelah alisnya.

Kai tersenyum menyeringai. Ia memasukan tangannya kedalam saku celananya. Ia merundukan tubuhnya hingga jarak wajah mereka begitu dekat.

 

“Harusnya kau bersyukur, setidaknya dengan adanya kejadian menyedihkan ini kau dapat bertatap muka denganku. Bukankah begitu, fan?”

 

Krystal tertawa tak percaya. Ia membuang pandangannya lalu dengan sekuat hatinya ia menatap tajam pada namja di hadapannya.

 

“FAN? Ah—bahkan sepertinya kau tidak tahu jika sebagian dari mereka adalah palsu.”

 

“Jadi?” Kai mengangkat sebelah alisnya.

 

“I’m.your.hater.” Krystal berucap santai dengan penekanan di setiap kata-katanya.

 

Setelah mengatakan itu Krystal berbalik dan melangkah menjauh meninggalkan Kai. Ia merasa akan gila saat ini juga. Sedangkan Kai hanya tertawa tak percaya. Tapi belum jauh Krystal melangkah, tangannya kembali di cengkram dengan kasar.

 

“Aa—” Krystal memekik tertahan.

 

Kai menarik krystal kembali ke arah mobilnya lalu mendorongnya kasar hingga punggung gadis itu membentur badan mobil cukup keras. Kai meletakkan kedua tangan gadis itu disamping tubuhnya. Krystal hanya terkejut menatap Kai tak percaya.

 

“Apa yang kau lakukan?!” Teriak Krystal.

 

Jarak tubuh keduanya begitu dekat sekarang. Kai tak menghiraukan apa yang gadis itu katakan. Langit sore itu begitu terang hingga sorotan cahaya jingga menerobos masuk ke dalam mata namja berkulit tan itu. Memperjelas jika matanya tengah memandang gadis di depannya begitu dalam.

 

Oh sial! Situasi macam apa ini?

Apa namja itu tidak tahu jika frekuensi jantung Krystal semakin tak beraturan? Hey, bagaimanapun juga Krystal pernah menyukai—ralat. Ia pernah menjadi fannya.

 

Mereka masih dalam posisinya hingga Kai mempersempit jarak wajah keduanya. Krystal sadar dan berusaha melepas tangannya tapi hasilnya nihil. Cengkraman itu semakin kuat. Sekali lagi Kai menatap dalam pada manik gadis itu sambil memperlihatkan seringainya.

 

“Hater?” Lirih namja itu.

 

Ia lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Krystal.

“Biar kuberi tahu bagaimana menjadi seorang hater yang sebenarnya.”

 

 

 

 

-TBC-

 

 

Bagaimana chapter ini? Aneh?

Maaf chapter ini sangat terlambat.

Terimakasih sudah mampir! Tolong tinggalkan jejak sebagai penyemangat untuk chapter selanjutnya! ^^ see you~

 

 

 

Bonus Pict 😀

 

Irene for this story

5353bd426479b976a4c02e4285ced5de.jpg

Sekertaris Lu :*

CEvcelZVIAA8xg7.jpg

Yang bakal muncul di chapter 3..

Guess who?

chanyeol-exo-pcy-Favim.com-2552919.png

31 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 2)”

  1. Anyeong chingu. Ffnya keren banget deh chingu. Fan jadi hater? Trus kai jahat banget. Suka banget sma ff nya. fighting! Oh ya aku lupa nulis koment di chap 1 chingu. Keren banget awalnya dan langsung ke inti masalahnya. Jadi suka banget. Aku shippernya KAISTAL. *-* ^^

    1. Anyeong! ^^
      Keren? Haha kamu buat aku tersapu *eh tersipu malu XD
      Kai engga jahat kok, *disiram
      Wkwk iyaa gapapa..
      Ohya? Sebenernya aku bukan Kaistal shipper XD *lah?
      Entah kenapa berasa cocok aja karakternya sama muka mereka XD wkwkwk

      Oke deh, makasih yah udah mau mampir terus baca 🙂

  2. Sepertinya kai sedang melancarkan aksi balas dendam ke ayah krystal. Dan yg dimaksud manager shin waktu itu adalah rencana kai buat nabrak ayah krystal. Makin penasaran….

  3. Akhirnya muncul juga chap 2 nya, (*nari hula” lalu dilempar panci sama tetangga.😂)
    Itu gimana ngajarinnya kai? Peran bang tiang jadi apa di next chap? 😄😄
    Jangan lama” updatenya thor,😉
    Keep writing, hwaiting!!😄😊

    1. Iyanih akhirnya publish juga 😀 hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha *ditenggelamkan
      Hayo gimana coba? :3 wkwk
      Peran dia? Liat aja nanti 😀 hehe
      Okeee, MAKASEHun udah mampir 😀 hihi

Tinggalkan Balasan ke Choco(L)ate Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s