EX’ACT SERIES #01. Lucky One – Shaekiran

PhotoGrid_1465726546687.jpg

[EX’ACT Series]

#01. Lucky One

A Fanfiction Project By : Shaekiran

Cast

Oh Sehun (EXO)

Genres

Romance? Pyscho? Creepy ? AU?

Length Series | Rating PG-17

 

Disclaimer

Inspired by EXO’s 3rd Album EX’ACT. Merupakan murni hasil kerja keras dari sebuah otak sederhana milik penulis pemula bernama Shaekiran yang bersinergi untuk merangkai  kata per kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Typo berguguran di setiap kalimat yang terangkai seadanya lewat sebuah imajinasi absurd. Hope you like the story. Happy reading!

 

Kau satu-satunya bagiku – Lucky One.”

 

Sehun’s Side

 

Silau.

Aku mengerjapkan mataku pelan. Berusaha mengembalikan kesadaranku sepenuhnya dari dunia mimpi. Sebuah sinar jatuh tepat diatas kedua buah mataku. Satu-satunya celah kosong tempat sinar matahari bisa masuk ke ruangan serba putih ini. Sudah pagi rupanya. Aku hanya bisa tau itu, tanpa tau jam berapa atau tanggal berapa hari ini. Semuanya gelap, kecuali sebuah cercah cahaya yang kini rutin membangunkanku setiap paginya.

Krekk..

Bisa ku dengar sebuah suara pintu yang dibuka. Tak lama kemudian masuklah 2 orang wanita berpakaian serba putih dan rambut kuncir kuda. Mereka memakai sebuah penutup mata berwarna merah menyala yang membuat mereka semua nampak seragam dan semakin sulit dibedakan.

Aku menatap kedua orang itu lekat-lekat saat mereka berdua sudah ada di sebelah kiri tempat tidurku dengan sebuah troli seperti biasanya.

Arghh!

Aku meringis dalam diam.

Tanpa mengucap sepatah katapun mereka menyuntikkan sebuah cairan berwarna biru kehitaman ke dalam infuse yang menancap manis di tangan kiriku. Aku meronta kesakitan, tapi kedua orang itu hanya diam dan mulai melakukan tugasnya yang lain. Mengambil sampel darahku.

Selesai dengan urusannya, kedua makhluk yang setiap pagi rutin datang untuk menyiksaku itu pun pergi dari ruangan serba putih ini.

Gelap.

Kini bukan hanya ruangan yang sudah kutinggali selama beberapa tahun ini saja yang gelap, tapi kini pandanganku juga mulai mengabur. Semua terlihat sama dan bergoyang-goyang tak jelas. Akhirnya semua hilang, tinggal sebuah kegelapan yang kini menemaniku lagi seperti biasanya.

“Sehunnieee!”

Seorang gadis berambut blonde panjang datang menghampiriku dengan semangat menggebu-gebu dan langsung merangkul bahuku meski dia harus menjinjit saat melakukan itu.

Ya Oh Sehun. Kau sudah sarapan?”

Gadis ini bertanya lagi. Aku menggeleng pelan dan seketika sebuah senyum sumringah muncul di bibir tipisnya. Dia berhenti merangkul bahuku dan kini beralih ke lenganku yang tergantung bebas.

“Ayo ke kantin Hun.”

Dia pun menggandeng lenganku dan langsung menarikku berjalan mengikutinya. Aku sih menurut saja. Dengan langkah pelan aku mulai mensejajarkan jalanku dengan gadis itu. Dia tersenyum lagi saat kini kami sudah berjalan beriringan.

Tiba-tiba semua terlihat kabur dan berkunang-kunang. Aku mengucek-ngucek mataku, mengira kalau mataku ini sedang kemasukan debu atau apa yang bisa membuat pandanganku menghilang.

“Sehun.”

Aku mencari-cari sumber suara itu. Semuanya gelap.

“Sehun. Tolong aku.”

Lagi-lagi suara itu. Aku memutar kepalaku lagi ke sana sini. Namun nihil. Yang bisa kulihat hanya kegelapan semata.

“Hun…”

Kini suara itu mulai merintih pelan. Berkesan seperti tersenggal-senggal.

“Hun..”

Kini semuanya mulai terlihat jelas. Gelap itu perlahan pergi. Aku kembali mencari sumber suara itu saat aku sadar ada sesuatu yang menarik kakiku.

“Tolong aku.”

Bisa ku lihat gadis yang tadi merangkul dan menggandengku itu sedang menangis sambil memegangi kaki kananku. Rambur blondenya yang indah itu kini berubah acak-acakan dan wajahnya pun penuh luka lebam. Bibirnya robek dan matanya sudah tidak berbentuk lagi. Gaun selutut yang dia pakai compang-camping hingga aku bahkan hampir bisa melihat bagian yang seharusnya tidak ku lihat. Darah mengucur keluar dari setiap bagian tubuhnya yang terluka parah.

“Tolong aku Hun..”

Dengan nafas tersenggal-senggal dan naik turun gadis itu memohon pada ku. Dia menangis. Bahkan air matanya berubah warna menjadi merah karena tercampur dengan darah yang juga mengucur di seluruh badan gadis itu.

Aku menatapnya nanar. Ingin rasanya mengulurkan tanganku dan membantunya. Namun instingku berkata lain. Otakku tak mau mendengarkan perintahku. Badanku kaku. Aku tak bisa bergerak barang secuil pun sementara gadis itu terus memohon minta ditolong.

Argh!!

Tiba-tiba tubuhku terasa panas. Jantungku tercekat seperti ada yang merermasnya dengan kuat. Nafasku tidak teratur dan sekarang malah susah bernafas karena leherku terasa seperti tercekik. Aku meronta kesakitan.

Argh!!

Lagi-lagi panas yang seperti membakarku hidup-hidup itu datang. Aku menghempaskan tangan gadis itu tanpa sengaja dan kini badannya terjatuh cukup jauh karena kakiku yang bergerak sendiri ini.

Panas!

Aku menyerngit dalam diam. Gadis itu terus menatapku dengan mata memohon meski aku sudah menendangnya seperti itu.

Argh!!

Perlahan mataku terbuka. Aku segera terbangun dan berakhir dengan posisi duduk di tempat tidurku. Nafasku tersenggal-senggal naik turun. Aku memegangi kepalaku yang kini penuh keringat.

“Cuma mimpi.” Aku menyakinkan diriku sendiri. Membuang semua pikiranku tentang mimpi aneh yang baru saja datang ke tidurku itu.

Drtttt…drtttt…

Yeoboseyo?” Ku angkat handphone-ku yang sedari tadi berdering dan langsung menekan tombol hijau di layarnya. Nampak sebuah suara ceria menyapaku.

“Sehunnie, kau sudah bangun kan?” Bisa ku dengar gadis itu bertanya dengan nada sumringah karena tau aku mengangkat telfon yang jam… kalian tau. Jam 3 pagi.

Oh. Aku terbangun tadi.” Aku menjawabnya dengan enggan dan mulai memperbaiki posisi dudukku. Tak nyaman, aku langsung menghempaskan badanku kembali ke kasur. Kembali dalam posisi terlentang hendak tidur.

“Jangan tidur lagi, please…” Gadis itu merengek. Sepertinya dia tau kalau aku sudah kembali dalam posisi tidur terlentang.

“Kenapa?” Dengan nada super malas aku menjawab rengekan gadis di seberang telfon sana. Aku bisa membayangkan reaksinya yang mungkin saja sedang memanyunkan bibirnya kesal.

“Temani aku jalan-jalan Hun.” Aku berdecak mendengar permintaan gadis itu. Sepertinya dia sudah gila sekarang.

“Jam segini?” Aku harap gadis ini hanya bercanda saja minta ditemani jalan-jalan jam 3 pagi.

“Iya, aku insomnia. Tidak bisa tidur. Temani aku ya.” Aku menghembuskan nafasku pelan. Sepertinya gadis ini serius.

Arasseo.” Sekarang nada sorak-sorai yang terdengar dari seberang telfon sana. Masa bodohlah dengan reaksi gadis satu ini.

“Aku tunggu di gudang biasa.” Belum sempat aku menjawabnya gadis itu sudah mematikan telfon dan menghilang ntah kemana. Aku menghembuskan nafasku lagi, kali ini lebih berat.

30 menit kemudian aku sudah berada di dalam gudang yang gadis itu maksud. Tempat ini masih seperti biasa. Gudang kumuh tidak terawat yang tidak sengaja kami berdua temukan minggu lalu dan sepakat kami jadikan tempat rahasia kami. Bisa dibilang sebuah markas rahasia.

“Kau sudah datang?” Sebuah suara gadis menyapaku dengan lembut. Aku tersenyum membalasnya. Untuk apa dijawab, toh dia sendiri tau aku sudah berdiri di hadapannya.

“Duduk yuk. Kakiku rasanya mau patah karena berjalan kemari.” Gadis itu kemudian menarik tanganku ke sebuah unggukan tong bekas berukuran sedang. Aku menurut dan langsung duduk di sebelah gadis itu.

“Bagaimana, apa aku cantik?” Gadis itu kemudian berdiri sambil mengembangkan rok gaun yang sedang dia pakai dan berputar-putar di depanku.

“Cantik.” Aku kemudian menjawab pertanyaan gadis itu jujur. Dia memang kelihatan cantik dengan gaun selutut yang sedang dia pakai sekarang.

“Hun, sebenarnya…aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Gadis itu kemudian kembali duduk di tempatnya semula dan kini menatapku lekat. Aku balik menatapnya dalam dan menunggu kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibir tipis itu.

“Hun,sebenarnya aku menyukai seseorang.” Gadis itu berucap lagi sambil semakin menatapku lekat. Aku hanya diam. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Kau ingat kan Taeyong, anak jurusan bisnis yang sering ku ceritakan itu? Sepertinya aku menyukainya.” Aku terpaku mendengar kalimat itu meluncur dari bibir tipis gadis di sebelahku ini. Matanya seperti mata menerawang jauh dan penuh harap. Aku menunggu dengan tidak sabar kalimat selanjutnya yang mungkin keluar dari mulut gadis ini.

“Jadi nanti pagi aku ingin menyatakan perasaanku pada Taeyong dengan menggunakan gaun ini, makanya aku jadi susah tidur dan memintamu menemaniku jalan-jalan. Kau tau Hun, kau adalah sahabat terbaikku yang mau diajak jalan-jalan dini hari seperti ini.” Gadis itu kemudian tertawa lepas yang kelihatan sangat cantik, namun bagiku itu adalah sebuah penghinaan. Jadi gadis ini sedang menertawakanku?

Aku kemudian berdiri, membuat gadis itu menatapku aneh. Bisa kulihat wajahnya yang seperti bertanya ‘ada apa?’ , namun aku mengacuhkannya dan malah menarik gadis itu berdiri secara paksa.

“Apa yang..”Belum selesai gadis itu bicara aku sudah menyumpal mulutnya dengan mulutku sendiri. Aku menciumnya paksa.

Bisa ku lihat reaksi kaget gadis itu atas perlakuan kurang ajarku ini sekarang. Dia meronta-ronta minta dilepas. Aku tidak peduli. Aku terus menciumnya ganas. Melumat bibirnya sampai habis dan memainkan lidahnya dengan lidahku sesuka hati. Aku menarik tengkuk gadis itu semakin dalam, semakin mencumbu bibirnya. Semakin menggila sampai aku sendiri kehabisan nafas.

Aku terengah-engah. Berusaha menghirup oksigen lagi setelah bertahan berciuman dengan gadis itu sampai aku sesak nafas. Aku tidak menyesal meski aku tersedak seperti sekarang. Justru aku merasa bahagia sudah melumat bibir gadis itu. Dia benar-benar nikmat.

Plakk!

Ku rasakan sebuah tamparan keras menghujam pipi kananku. Gadis itu menamparku. Dia menatapku nanar sambil menangis.

“Aku kira kau sahabatku Hun. Kau BRENGSEK!” Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Bisa ku tebak ini adalah ciuman pertamanya melihat reaksi gadis itu yang kini memukuli dadaku sekeras yang dia bisa. Aku terkekeh pelan.

“Aku bukan sahabatmu!” Aku berteriak pada gadis itu sambil mengangkat tangannya yang sedari tadi memukuliku. Dia menangis lebih keras lagi.

“Aku tidak mau dianggap sebagai sahabat. Aku menyukai mu bodoh!” Sekarang aku menarik gadis itu dalam pelukanku. Aku memeluknya dengan lembut. Membiarkannya menangis sesukanya di dada bidangku.

Trakk!

Bisa kurasakan gadis itu melepas pelukanku begitu saja. Tangisnya sudah berhenti meski masih sesenggukan sesekali saat menatapku.

“Tapi aku tidak menyukaimu Oh Sehun. Aku menyukai Lee Taeyong.” Aku terpaku mendengar jawaban gadis itu. Dia menolakku. Tanpa sadar tanganku sudah melayang ke pipi mulusnya.

Plakk!

Dia menangis saat aku menamparnya dengan sangat keras.

“Apa lebihnya orang itu daripada aku!?” Aku berteriak padanya yang kini kembali mengeluarkan air mata. Dia hanya diam tanpa menjawab pertanyaanku itu.

Plakkk!

Aku menamparnya lagi lebih keras. Hingga tanganku sendiri sudah berasa berdenyut sakin kerasnya aku menampar wajah gadis yang aku cintai itu.

“JAWAB!” Aku berteriak menuntut jawaban dari mulutnya yang baru saja ku cumbu dengan ganas. Dia hanya diam dan menangis sejadi-jadinya sekuat yang dia bisa.

Aku menatapnya geram. Tanganku mulai beralih ke arah pinggangku sendiri, membuka ikat pinggang berkepala besi yang sedang ku pakai.

Crasshh!

Sebuah cambukan dari ikat pinggangku itu sampai ke tubuh gadis yang hanya bisa menangis itu. Dia terjatuh duduk dan merintih kesakitan. Aku tertawa puas melihat reaksinya setelah dihantam kepala besi ikat pinggangku ini.

Crasshhh!

Lagi-lagi suara cambukku terdengar menghantam tubuhnya. Kini darah sudah mulai bercucuran dari bekas luka yang kuciptakan. Mataku serasa gelap. Aku terus melayangkan ikat pinggangku secara membabi buta ke arah gadis yang kini merintih kesakitan itu.

“Bagaimana? Apa rasanya enak?” Aku bertanya sarkastis pada gadis yang sudah berdarah-darah itu. Bahkan gaun cantiknya kini berubah menjadi compang-camping karena terkena cambukanku. Dia menatapku nanar dengan mata lebam bekas tamparan dariku. Tak lama kemudian dia berusaha merangkak dan meraih kaki kananku.

“Tolong aku Sehun.” Dia memohon sambil menangis sambil terus memegangi kakiku erat. Aku hanya melihat tingkahnya tanpa sedikitpun rasa bersalah ataupun kasihan. Kini melihatnya membuatku merasa sangat muak.

Merasa risih, aku kemudian melepaskan kakiku secara paksa. Membuat gadis itu terhempas, lebih tepatnya tertendang hingga jatuh tersungkur beberapa meter. Tak lama kemudian dia merangkak lagi ke arah kakiku dan kembali memeganginya seperti semula.

“Tolong aku Sehun.” Dia berucap lagi, membuatku semakin muak. Aku kemudian jongkok, menyejajarkan mataku dengan matanya.

“Sekarang kau tau akibatnya telah menolakku kan?!” Aku bertanya dengan sinis hingga membuatnya merintih kesakita karena tanganku menjambak rambur blonde indahnya dengan kuat.

“Hun..” Dia merintih lagi. Terus menyebut-nyebut namaku. Sudah terlambat. Aku sudah muak dengan semua ini.

Aku tersenyum miring. Dengan langkah cepat aku berdiri dam membiarkan gadis itu bernafas lega untuk sementara. Aku memasukkan tanganku ke kantong, mencari-cari benda yang mungkin saja masih berada di kantong celana jeans yang ku pakai.

Arghh!!

Gadis itu merintih sangat keras saat sebuah silet tajam menyentuh kulitnya yang tadinya mulus sempurna. Aku tertawa bahagia. Rintihannya benar-benar terasa nikmat di telingaku. Aku kembali mengiris, memainkan silet itu di permukaan kulitnya yang lain. Dia terus merintih dan sesekali bahkan mengumpat padaku. Justru itu malah terdengar semakin nikmat.

Deggg.

Tiba-tiba jantungku terasa tercekat sepeti diremas. Badanku seperti terbakar api yang menyala begitu besar. Dadaku sesak. Perlahan aku bisa merasakan kesakitan yang luar biasa di tubuhku.

Aku terbangun di sebuah ruangan yang sama sekali tidak asing bagiku. Sebuah sinar mentari jatuh tepat di atas mataku seperti biasanya. Ku lirik sebelah kiriku yang kini berisi 2 orang suster yang sedang mengambil sampel darahku seperti biasanya. Ternyata aku bermimpi.

Tak lama kemudian kedua orang suster itu mendorong tempat tidurku keluar dari ruangan serba putih yang sudah menjadi tempatku sejak berada secara tiba-tiba di tempat aneh ini. Kami melewati lorong-lorong sempit menuju sebuah ruangan besar di ujung lorong. Seperti dugaanku, kedua suster ini mendorongku masuk ke ruangan bertuliskan XXX di pintunya. Masih sama seperti sebelumnya, serba putih. Bedanya hanya di ruangan ini sudah ada 4 orang lain yang duduk di tempat tidurnya sendiri. Mereka menatapku sambil bergidik ngeri.

“Siapa yang kau bunuh?” Seorang dari 4 orang yang kini berada di ruangan yang sama denganku itu bertanya dengan mata menyelidik. Aku terpaku mendegar pertanyaannya. Bunuh katanya?

“Aku tidak pernah membunuh siapa pun.”Aku menjawab seadanya. Itu jujur, aku memang tidak pernah membunuh. Tak lama kemudian seorang lagi yang tempat tidurnya paling jauh dariku tertawa kecil. Aku menatapnya tidak suka.

“Jangan mengelak bocah. Semua orang yang masuk ke ruangan ini berarti sudah pernah membunuh seseorang dalam tidurnya.” Mataku terbelalak tak percaya mendengar perkataan orang berambut merah menyala itu.

“Jadi aku sudah membunuh seseorang?” Aku bertanya lagi, memastikan kalau perkataan orang itu benar dan si rambut merah ditambah 3 orang lainnya hanya mengangguk meng-iya-kan.

Aku terdiam.  Jadi semua itu bukanlah mimpi. Apa itu artinya aku sudah membunuh gadis bernama Bae Irene itu?

 

-FIN-

25 thoughts on “EX’ACT SERIES #01. Lucky One – Shaekiran

  1. Ping-balik: EX’ACT SERIES #02. Monster – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. aq koq bingung ya sama inti cerita ini?
    sehun mmbunuh irene dlm mimpi????
    kalau gitu udh gak lucky lagi dong🙂

    • Wkwk, kalau bingung baca series ini sampai akhir makanya chingu, soalnya series terakhir akan menjawab semua kejanggalan di setiap cerita.,wkwkwk..😂😂
      Masih lucky kok, nanti ada alasannya semuah, ditunggu ya next chap. Thanks for reading.😉😉😁

  3. Mas hun, kamu jahat maasss. Kamu raja tegaaaaa /timpuk aja thor biar sadar/ serem ih sungguuuhhhhhh. Ngilu sendiri bayanginnyaaa u.u
    Se-album EX’ACT gabakal psiko semua kan? Apa dibikin psiko semua? Huaaaaaaaaaa shaeki jahat laah kalo dibikin psiko semua hahah.
    Ditunggu series selanjutnya aja deehhh. Pengen liat yg artificial lovenya niihhh. Masih lama sih yaa hahah.
    Semangaaaattt shaeki-ssi!
    -XOXO-

    • Iya Hun, kamu jahat, tega kamu mah..😂😂
      Heheh, psiko semua sealbum apa nggak ya? Masih rahasia nih chingu, tapi yg pasti nanti ada genre fantasy juga..😂 iya,shaeki mah orangnya jahat, xixixix (*ketawa evil lalu dibacok sehun.😂)
      Ditunggu ya series selanjutnya, artificial love gak lama lagi kog,😉😉😊
      Thanks for reading..😉😉😊

  4. Yee pyscho gue demen pyscho :v Sehun kenapa lu tega bunuh Irene kasian kan gegara lu Bogum jadi duda/? Teganya teganya kau Sehun
    Tapi itu gmn sih? Dia bunuh orang di dalam mimpi? Ato dia bunuh orang cuman dia ngiranya mimpi? Gk konek..
    Saya menunggu lanjutannya….

    • Cie, kyuntong demen psycho..😂😂 (*sama dong kita.😂)
      Iya, si sehun buat bogum jadi duda di mubank, mana kontraknya belum kelar lagi.. 😂 Sehun mah tega,😂
      Soal sehun membunuh dalam mimpi atau dia ngira itu mimpi masih rahasia ya chingu, makanya tunggu next series..(*promosi..😂😂)
      Thanks for reading..😉😉😊

    • Iya, bang cadel sadis ah,😂😂
      Makasih lo udah bilang ff abal” nan somplak ini Bagus chingu, terharu ane..😁😁
      Thanks for reading, tunggu next series ya. 😉😊

  5. Next chap thor!! Kerenn! Ada aja gitu yaa idenya bikin ff kayak gini setelah ngeliat mv lucky one.
    Update nya jangan lama2 ya thor..

    • Aih, wkwk…ada aja ide gesrek muncul di otak ane yg hina ini..😂😂
      (*Tapi lucky one sama ff ini kayaknya gak nyambung deh..😂😂😭)
      Diusahain updatenya cepat ya chingu.. 😄
      Thanks for reading, tunggu next series ya..😉😉

    • Iya, kejem”an, waks..😂😂
      Kalo baca sih berani, kalo liat langsung mah ane langaung pingsan.😂
      Thanks for reading chingu,😉
      Tunggu next series yo..😊

  6. Critanya buat aku ngerii..hiii
    Jdi itu sehun ngelakuin irene dengan sangattt sadissnya itu smbil tidur?? And sehun kira itu cman mimpi.,
    Aduhh merinding nih kakk

    • Ngeri gimana nih ly? Hihihi..😁
      Iya, dia kira mimpi padahal beneran,😂😂
      Jangan merinding dong, jiwa psycho ane emang suka kumat kadang,😂
      Thanks fo reading..😉☺

      • Ya ngerii aja kakk msa sehun oppa mukulnya pke iket pinggang kya gtu + main silet” aja..hiiii emg si klo psiko kan kek gtu, aigoo..itu sehun oppa biasku kejam amat d ff ini#plakk/abaikan
        Klo bisa si jgn mrinding kakk, lah org ini pas bca yg sehun nyiksa irene tiba” gx di kmando gx apa udah merinding duluan kak#jdicurhatt
        Ok ok^^

      • Iya, si bang cadel diem” psycho..😂😂
        Kejem amat yak bikin merinding? 😂😂
        Mianhae , author yg sarap ini udah menistakan bang cadel di ff ini..😁😁
        Maunya sih jangan merinding, masalahnya otak psycho ane lagi kumat ly, gimana dong? Xixixix..😂😂😂 (*curhat..😂)
        Tunggu next series ya, Thanks for reading..😉😉😊)

    • Jiwa psiko ku bangkit untuk sesaat waktu itu shira,😂😂 jadi ane nistain noh suami ente,waks..😂
      Merinding gimana hayoo??😂
      Thanks for reading my garem.😉☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s