Le Dernier Arret [Chapter 1]

LDA.jpg

Le Dernier Arret

Kim Minseok / Oh Sehun / Reen / Runa / Park Chanyeol / Other

Minichapter / AU / Comedy / Fantasy / Friendship / Romance / Sad / School-life / Teen

anneandreas & l18hee

we own the plot

.

.

Hanya manusia kolot yang tidak sadar jika vampir benar-benar ada di sekitar mereka

.

⇓ PREVIOUS ⇓

Teaser

.

.

= Chapter 1 =

.

“Nona jus!”

Seruan seorang lelaki terdengar di koridor lantai dua bersamaan dengan derap langkah yang terkesan terburu. Untunglah kelas sedang tidak berlangsung, jadi si lelaki tak perlu takut mendapat hukuman.

“Nona jus!” panggilan sebelumnya tak digubris hingga ia kembali berseru. Dengan bantuan kaki jenjangnya, ia tak butuh waktu lama untuk sampai di hadapan seorang gadis yang menjadi sasaran panggilan.

“Kau tuli ya?” sang lelaki berhasil membuat gadis itu berhenti.

Sebuah decikan pelan dan si gadis menjawab, “Ubah panggilanmu, Oh Sehun! Kau tak bisa baca ini?” Dia menunjuk papan nama yang tersemat di almamaternya, “Kwon-Ru-Na!”

“Nona jus! Jus tomat!” nadanya seolah berkata ‘hei aku raja jadi tunduk padaku’. terlihat menyebalkan apalagi dengan satu alis terangkat. Runa benar-benar ingin menendang tulang kering lelaki ini sekarang.

“Kau umur berapa sih?” sungutan itu dibalas endikan bahu Sehun yang terkesan begitu santai sebelum berani membalas, “Kau ‘kan jual jus.” Dan satu tendangan di tulang kering si lelaki tercipta bersamaan dengan lenguhan sakit yang terdengar.

“Aku tidak jual! Aku semacam penyalur saja, dasar!” setelah menilik tak ada begitu banyak orang di sekitar mereka, Runa membuka tas kecilnya seraya berceloteh ria, “Bukannya kau sudah punya makan siang?”Sebuah jus ia ulungkan pada Sehun yang langsung menerima dengan wajah sumringah.

Tanpa mau repot menjawab Runa, sang lelaki segera meneguk cairan merah itu. Meninggalkan Runa yang sudah sangat jelas malas menunggu dan lebih memilih melangkah pergi. Namun, tepat saat Sehun menandaskan jusnya, sebuah tarikan di lengan si gadis tercipta, “Aku belum menjawab yang tadi.”

“Reen butuh makan siangnya, tahu! Sudah sana!” Menepis tangan Sehun, Runa bergegas pergi. Katakan saja Sehun tipikal orang yang gigih─atau keras kepala─karena tetap mengikuti langkah Runa menuju ruang kesehatan.

“Dia belum makan?” Oke, ini pertanyaan bodoh. Sudah jelas Runa mengatakan Reen butuh makan siang. Harusnya Sehun dapat mengerti dengan mudah. Tapi, jangan salahkan lelaki yang sedang tertarik pada salah satu gadis dari sekian banyak wanita di dunia, paham? Menegur pun tak akan mempan.

“Sejak kemarin.” Seraya mengecek beberapa jus dalam tas kecilnya, Runa mempercepat langkah. Tak mau obrolan berakhir begitu saja, Sehun kembali angkat bicara, “Hul. Harusnya dia tahu, vampir harus minum darah paling tidak 12 jam sekali.”

“Sehun!” Langkah Runa terhenti. Ia menatap Sehun tajam. Sehun tak pernah bisa mengontrol mulutnya. Dasar, tidak tahu tempat. Mentang-mentang sudah mendapat energinya kembali karena meneguk sekotak jus toma─bukan, itu darah hewan. Kotak jus tomat hanya sebuah kamuflase semata.

“Apa? Kita ‘kan memang vampir.” Nah, lihat? Tidak tahu tempat. Sulit mengontrol ucapan. Keras kepala. Benar-benar menyusahkan Runa jika terus seperti ini. Jika bukan karena Reen yang hampir pingsan, Runa mau-mau saja memberi ceramah panjang di depan wajah Sehun.

Yang bisa Runa lakukan adalah memutar mata jengah, menggumamkan ‘terserah’, dan kembali membalikkan badan. Melangkah lebih cepat sebelum Reen benar-benar pingsan di sana.

“Tumben sekali Reen tidak makan banyak?” Sebenarnya pertanyaan bernada santai milik Sehun ingin Runa abaikan saja. Tapi yang akan terjadi pasti pertanyaan yang sama akan terus berulang dan berulang sampai mendapat jawaban.

Diselingi sebuah tiupan di udara, Runa mengedikkan bahu, “Kau tahu sendiri, Reen begitu gembira sekaligus sedikit cemas karena dia dibebaskan. Hukuman Ahn Chi[1] lelaki itu akan berakhir besok.”

Dia? Maksudmu…” Seakan mendapat sengatan, Sehun berseru kaget, “Kim Minseok?”

-0-

Kim Minseok melangkahkan kakinya keluar dari bangunan besar berpagar tinggi. Sebuah bangunan yang mirip dengan bangunan milik manusia, namun sesungguhnya digunakan oleh kaumnya, yang biasa dipanggil manusia sebagai kaum vampir. Intinya, bagunan itu adalah pusat pengendalian vampir yang masih tersebar di seluruh dunia. Semua teknologi yang mereka gunakan berpusat di tempat ini, termasuk pabrik tempat produksi makanan mereka, dan penjara Ahn Chi yang selama ini mengurung Minseok.

Minseok menatap lurus ke depan, namun pandangannya terlihat jauh. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, melakukan itu beberapa kali sebelum akhirnya ia mulai mengedarkan pandang. Menghilangkan sisa keraguan yang masih ada di hati dan bersiap untuk menghadapi dunia luar yang akan kembali dijajakinya.

Pandangan Minseok terhenti kala sudut matanya menangkap bayangan seorang gadis yang sudah sangat dikenalnya sedang mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu menatapnya dengan netra sendu dan penuh kerinduan. Hanya dengan melihat gadis itu saja, semua keraguan yang sempat menyelinap di hati Minseok hilang tak berbekas, berganti dengan sebuah lengkung kurva yang langsung terukir di bibirnya. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar, setengah berlari menuju ke tempat si gadis berdiri sebelum menarik gadis itu dalam pelukannya.

“Reen, bogoshipeoyo.”

Gadis yang dipanggil Reen itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk ringan dibalik dekapan Minseok, namun ia tak bisa menghentikan setitik cairan hangat tak berwarna yang menyeruak dari balik pelupuk matanya.

Minseok merenggangkan rengkuhan tangannya dan menyentuh lembut kedua pipi Reen, membiarkan kedua manik mereka bertatapan secara langsung, lalu menghapus sisa air mata yang ada di wajah gadis itu. “Wae? Mengapa kau menangis?”

Reen menggeleng cepat. Namun menatap langsung mata seseorang yang begitu ia rindukan lagi-lagi membuat cairan bening itu kembali mengalir tanpa seizinnya, bahkan kini dadanya terasa sangat sesak hingga membuat sebuah isakan kecil keluar di sela tangisnya.

Minseok tersenyum dan kembali merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, memberikan jeda bagi Reen untuk mengekspresikan perasaannya. Setelah tangis Reen terdengar mereda, Minseok mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Dengan menyunggingkan senyum manis di hadapan Reen, Minseok berkata, “Sudah puas menangisnya? Kau masih cengeng sekali, Reen. Seperti manusia saja.”

-0-

“Reen, ini jus mu,” kata Runa riang.

Runa benar-benar terlihat bahagia saat Reen langsung mengambil kotak jus itu dari tangannya. Senyumnya semakin merekah saat ia melihat sang karib menyesap langsung minuman yang ada di dalam kotak jus bergambar tomat segar itu. Benar-benar tampak mengerikan bagi Runa jika melihat Reen seperti beberapa hari yang lalu, saat gadis itu menolak jus-jus yang diberikan Runa karena gejolak perasaan menantikan kebebasan Minseok sehingga urusan perutnya sendiri pun diabaikan.

Runa masih tersenyum seraya terus memandang sahabatnya itu menyesap makan siangnya, bahkan kini ia merasa perutnya sendiri ikut kenyang. Tapi sebagai seseorang yang diberikan kepercayaan menyalurkan makan siang bagi para vampir, Runa harus makan agar ia sendiri memiliki energi yang cukup untuk melakukan tugas yang sudah lama ia lakukan ini.

Senyum sumringah yang mengulum di bibir Runa tiba-tiba berganti dengan decakan sebal saat ia melihat vampir laki-laki yang ada di ujung koridor sekolah sedang berjalan mendekati mereka. Dengan senyum lebar yang terlihat usil vampir laki-laki itu berseru ke arah Runa dan Reen, “Nona jus! Kau belum memberikan makan siangku!”

“Sudah berapa kali kubilang, tunggu saja di kelasmu!” Runa balas berseru sebelum menyempatkan diri berbisik kesal pada Reen, “Liburan nanti jangan ajak Sehun pergi bersama kita. Aku bisa semakin stress.” Yang Reen lakukan hanya terkekeh pelan.

“Aku bisa mendengarmu.” Satu tendangan kecil Sehun layangkan di kaki Runa yang langsung melotot kesal. Tak begitu lama karena si gadis segera menyodorkan sekotak jus, “Habiskan. Jangan seperti kemarin.”

Kali ini segaris senyum tergores di wajah Reen. Melihat kelakuan Sehun dan Runa terkadang membuatnya sedikit geli.

Sembari mengambil tempat di samping Runa, Sehun menyesap jusnya, “Aku baru melihat Minseok masuk ke ruang guru. Apa dia pindah ke sini?”

“Serius?” ini suara Runa. Dia langsung berpaling pada karibnya, “Kau sudah bertemu dengannya?” Raut terkejut tampak begitu kentara di wajah Reen. Mengabaikan kotak jus yang masih seperempat terisi, gadis itu segera beranjak, “Aku akan mengeceknya.” Dan dengan langkah tergesa ia pergi.

“Eh, Reen aku mau ikut!” Runa yang tadinya juga akan beranjak segera tertarik kembali. Sehun lebih dulu menarik kerah kemeja sang gadis, “Jangan ganggu mereka.”

“Kumohon jangan membuatku kesal,” suara Runa berubah memelas. Dia menghentakkan kaki beberapa kali, mencoba membujuk Sehun yang justru tetap memegang kerahnya erat.

“Kau juga jangan membuatku kesal, Kwon Runa. Kau ingin berlari-lari di sepanjang koridor sedangkan kau sendiri belum menyentuh makan siangmu.”

Detik selanjutnya Runa terdiam. Bukan karena tersentuh atau bagaimana. Ia sedang mencoba mengingat sesuatu, “Memangnya aku belum makan ya? Sudah kok.” Nadanya terdengar sedikit tidak yakin sebelum kembali membuka mulut, “Eh, belum. Aku belum makan.” Lelaki di sampingnya hanya menghela napas panjang. Selanjutnya sebelum Runa kembali bimbang dengan ingatan pendeknya, Sehun lebih dulu menarik gadis itu, “Di lapangan saja, di sana lebih sejuk.”

“Aku yang mau makan kenapa kau yang─Ah, Sunbae!” Runa bisa saja berjingkrak girang jika saja Sehun tak berlagak mencekik tengkuknya.

“Oh, hai Runa.” Yang dipanggil menyungging senyum sebelum beralih pada Sehun, “Sudah menjadi sepasang kekasih, kawan?” Ada nada mengejek di dalamnya. Seperti anak lelaki biasanya.

“Aku bukan pacarnya,” suara Runa menyela, “Semangat untuk penampilan bandmu sunbae! Aku akan menontonnya lagi saat kalian tampil!”

Senyum Chanyeol masih terpampang. Bukannya menjawab Runa, ia justru beralih lagi pada Sehun, “Lain kali kupinjam dia untuk sebuah kencan, oke?” Sebuah tepukan di pundak Sehun dan Chanyeol kembali berjalan. Meninggalkan Runa yang ingin menggulingkan diri di rerumputan. Seperti seorang penggemar yang baru saja bertemu idolanya.

Tanpa sepatah kata pun Sehun justru langsung membawa Runa pergi. Masih dengan tangan mencekik tengkuk si gadis. Sungguh, ia harus menjauhkan Runa jauh-jauh dari Chanyeol. Manusia tukang tebar pesona dan penuh akan sifat penasaran itu sedikit mengganggu di beberapa waktu tertentu.

“Aaak! Oh Sehun, jauhkan tangamu atau kubiarkan kau kelaparan besok!”

Sehun tak peduli.

Sudahlah, tinggalkan sejenak mereka. Kini lihatlah Chanyeol yang entah kenapa terhenti matanya menangkap sesuatu. Sebuah kotak jus dengan sedikit cairan menetes dari ujung sedotannya. Kotak jus yang sempat Reen abaikan.

Perlahan Chanyeol mengangkat kotak jus itu. Memerhatikan benda di tangannya sebelum bergumam pelan, “Warnanya sedikit aneh untuk ukuran sebuah jus tomat.”

-0-

Langkah lebar dan terkesan tergesa itu berhenti ketika Reen sampai di depan ruang guru. Napasnya masih tersengal namun ia tak memerdulikannya, lantas menolehkan pandangnya ke dalam ruang guru, maniknya berpendar mencari keberadaan seseorang yang baru saja Sehun sebutkan namanya.

Sebuah desahan kecewa terdengar kala Reen tak mendapati sosok Minseok di dalam ruang guru. Lantas ia berbalik dan bersandar di dinding luar ruang guru, mungkin saja Sehun sedang mengerjainya dan lagi-lagi dengan bodohnya ia masuk ke dalam permainan Sehun. Dasar vampir sialan!

Reen masih sibuk mengumpati Sehun dalam hati hingga ia tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di sampingnya, sedang menatapnya dan pada akhirnya berkata, “Reen, sedang apa di sini?”

Reen menoleh cepat ketika sebuah suara yang sangat akrab itu menyapa indera pendengarannya, dan mulutnya menganga terbuka saat ia mendapati sosok Minseok berdiri di sampingnya, ternyata vampir sialan itu tidak berbohong. “Min.. Seokie.. Oppa..”

Minseok tersenyum, “Mulai besok aku akan bersekolah di sini, menjadi sunbaemu.”

Jinjja?” Mata Reen membulat tak percaya.

Minseok mengangguk dan tangannya menyentuh puncak kepala Reen, membuat sepasang rona merah muda terpatri di kedua pipinya.

“Dimana Sehun dan Runa? Bukankah mereka berdua juga bersekolah di sini?” tanya Minseok.

“Ah, ya. Benar juga. Tadi aku sedang makan siang bersama mereka dan langsung berlari ke sini ketika Sehun mengatakan ia melihatmu di ruang guru,” jawab Reen.

“Kau langsung berlari ketika mendengarku ada di sini?” tanya Minseok dengan nada menggoda.

“Ah? Kapan aku berkata begitu? Tidak. Oppa, kau salah dengar. Sudah ah, aku ingin kembali ke kelas. Sampai jumpa besok, oppa.” jawab Reen terbata lalu berjalan menjauhi Minseok, sebelum Minseok melihat pipinya yang mulai memerah.

“Sampai jumpa besok, nona pipi merah!”

Reen mempercepat langkahnya, apalagi setelah sebutan ‘nona pipi merah’ yang dilontarkan Minseok barusan. Ia tak sanggup lagi menatap laki-laki itu lebih lama, sebab hatinya berdebar terlalu kencang. Hati Reen masih selalu berdebar tak karuan setiap berhadapan dengan Minseok, meskipun mereka sudah menjalin hubungan sekitar- lupakan saja, Reen bahkan sudah lupa berapa lama ia sudah menjadi kekasih Minseok, yang pasti jauh sebelum Minseok menjalani hukuman Ahn Chi.

Ingatan tentang hukuman Ahn Chi yang dijalani Minseok membuat Reen bergidik, ia tidak ingin mengenang peristiwa menyakitkan belasan tahun yang lalu itu. Apalagi tentang penyebab Minseok harus menjalani hukuman itu, tidak, Reen sungguh tidak ingin mengenangnya.

-0-

Annyeonghaseiyo, nama saya Kim Minseok. Senang berkenalan dengan kalian semua.”

Minseok membungkuk hormat sebelum berjalan menuju kursi paling belakang yang ditunjuk oleh Guru Lee. Meletakkan tasnya dan mengambil sebuah buku pelajaran. Ia harus mulai beradaptasi lagi dengan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh manusia seperti ini.

“Hey, kau tidak ke kantin? Sekarang waktu istirahat,” sebuah pertanyaan menyapa rungunya, Minseok menoleh dan mendapati seorang murid laki-laki yang tadi duduk di seberangnya sekarang sedang berdiri di samping mejanya.

“Ah? Tidak. Aku sedang tidak ingin pergi ke kantin,” jawab Minseok sambil tersenyum.

“Baiklah, padahal aku ingin memperkenalkan kantin kami yang keren kepada murid baru. Lain kali saja. Omong-omong, apa kau suka main musik? Kau bisa latihan bersama band kami, cari saja aku di ruang band, Park Chanyeol. Aku pergi dulu, teman!”

Minseok memasukkan bukunya ke dalam tas setelah murid laki-laki yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Park Chanyeol itu keluar dari dalam kelas. Ia tersenyum, tidak biasanya ia langsung mendapat teman bila ia memasuki lingkungan manusia. Sepertinya ini akan menjadi awal yang baik baginya. Apa seharusnya ia tadi ikut saja dengan Chanyeol ke kantin? Tapi makanan apa yang bisa dimakan vampir di sana?

Mendengar kata ‘makanan’ terucap dalam pikirannya, membuat perut Minseok berbunyi, ia lapar. Ia harus segera mencari Runa untuk mengambil jatah makan siangnya dari gadis ceria itu.

-0-

Sementara itu di sisi lain sekolah, lebih tepatnya di kelas 2-3, Runa baru saja menghitung jus dalam tas kecilnya.

“Emm, Runa,” suara ini terdengar bersamaan dengan sebuah senggolan di lengan Runa. Membuat gadis pengantar jus itu menoleh hanya untuk mendapati Reen memandangnya penuh makna.

“Itu, Runa… emmm.”

Nih, kurasa Minseok sudah lapar sekarang. Kau juga minum ya.” Dua kotak jus Runa sodorkan. Reen perlu bersyukur punya teman sepeka Runa. Jadi ia tak perlu meminta malu-malu padanya.

“Terima kasih. Kudoakan Sehun cepat menyatakan perasaan padamu.” Satu tepukan di pundak dan Reen segera berlari pergi. Namun telinganya masih bisa menangkap suara Runa yang berseru keras, “Yaa! Aku membiarkanmu mengantar itu bukan untuk mendapat kutukan!”

Reen tak peduli. Dia sudah lebih dulu berlari seraya terkikik geli. Setelah agak sedikit jauh dari ruang kelasnya, ia mulai berjalan santai. Bersenandung dalam hati. Ah, betapa Reen bisa merasakan wajahnya memanas kala membayangkan momen makan siang dengan Minseok.

“Ah!” Maniknya berbinar kala melihat Minseok yang baru saja menutup pintu kelas. Reen baru akan berseru memanggil jika saja suara seseorang tak menghentikannya.

“Itu anak barunya! Sudah kubilang dia tampan sekali!” Dan selanjutnya Reen bisa merasakan pundaknya tersenggol kasar oleh beberapa gadis yang berlari ke arah Minseok. Reen baru akan membungkuk untuk mengambil kotak jus yang sempat tergelincir jatuh mencium lantai saat tiba-tiba insiden itu terjadi.

Seorang gadis menginjaknya dengan keras, membuat isi jus di dalam kotak itu memercik indah ke lantai, bahkan ke seragam yang Reen pakai.

Oh, hancur sudah acara makan siang hari ini. Ugh. Menyebalkan!

“Kau baik-baik saja?”

Reen mendongak, mendapati sosok Chanyeol sedang memandangnya di sana.

“Ah, aku baik-baik saja sunbaenim,” sahut Reen kemudian. Dia berdiri tegap seraya membersihkan percikan isi jus di wajah. Oh, sial. Bau darah membuat insting vampirnya bangkit sekarang.

“Ini jusmu?” Baru saja Chanyeol bertanya, Reen sudah mengangkat kaki untuk berlari. Meninggalkan Chanyeol dengan pertanyaan tak berbalas, serta jus tomat dengan ceceran darah di lantai.

Si lelaki berjongkok, menyentuh cairan merah itu sebelum mengamatinya cermat, “Aku benar-benar yakin jus tomat tidak seperti ini.” Memutuskan untuk bertindak atas nama penasaran, Chanyeol mengambil kotak jus itu.

“Siapa tadi namanya?” Dia berusaha mengingat nama yang tertera di papan nama sang gadis sebelum menjentikkan jari, “Oh, iya. Reen.”

-0-

“Menyebalkan!” Reen yang baru saja berhasil menghapus beberapa noda di seragamnya kini melangkah malas di koridor sekolah.

“Siapa?”

“WAKH!” Seraya berjingkat kaget, Reen memegang dadanya.

Rupanya hanya Minseok. Reen kira siapa. Dia jadi sering paranoid jika bertemu manusia semenjak hukuman Ahn Chi Minseok dijatuhkan. Tapi sekarang sudah lumayan berani ketimbang dulu. Bahkan Reen tak mau keluar rumah bagaimanapun Runa membujuknya.

“Itu untukku?” Mata Minseok beralih pada kotak jus di genggaman Reen. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Reen menyodorkannya. Entah kenapa dia merasa kesal akan ketenaran Minseok. Huh, padahal ini baru hari pertama Minseok sekolah.

“Mukamu jelek, kenapa?”

Dan satu pukulan mendarat di lengan Minseok. Menciptakan lenguhan kecil yang terlontar dari katup bibir si lelaki.

“Tadi saat keluar kelas, aku melihatmu. Kenapa tidak menghampiriku, hm?” tanya Minseok lagi. Yang ditanya hanya membuang karbondioksida sebelum membuka suara, “Tadi jusku jatuh. Jadi aku ke kamar mandi untuk membersihkan cipratannya.”

Minseok menghentikan kegiatan meminum jusnya, “Jusmu jatuh?” Reen mengangguk. Sepersekian detik kemudian ia dapat merasakan Minseok begitu saja memasukkan sedotan pada mulutnya. Disertai dengan sederet kalimat pelan, “Habiskan. Kita bisa minta satu kotak lagi pada Runa.”

Reen mengalih pandang. Benar-benar sial. Rona merah itu pasti menyebar di pipinya!

.

.

.

to be continued.

 

[1] Hukuman terberat yang dijatuhi pada kaum vampire, berupa penjara isolasi.

52 tanggapan untuk “Le Dernier Arret [Chapter 1]”

  1. Halohah kaknid sama kakne XD
    Reader baru *bow* :v

    Ah, salam kenal buat kakne 😀 kalok sama kaknida udh kenal XD. ini nadia -coret masa depan kyungsu coret 😀

    ke next chap dulu~

    Keep writing^^

  2. jadi makin penasaran aja ceritanya soalnya makin seru aja ceritanya antara si gadis jus dan sehun. Fighting Thor

  3. Haduh aku bayangin betapa baunya gak enak jus tomat itu bikin mual 😖 Kenapa para vampir bisa betah ya makan gitu setiap hari? Apa gak ada solusi makanan lain kah?? Next kakk 😀

    1. Bau jus tomat isi darah hewan nya? Tenaang, kantor pusat mereka koki nya terkenal jadi jus nya ga bau darah ga bikin mual wkwkkw 😂😂😂😂
      Pampir soalnya gabisa makan makanan manusia :/
      Hihihi ikutin terus chapternya yaaa..
      Makasi suda komeen.. ^^

  4. baca cerita ini aku jadi inget ff yang dulu aku baca, ff chapter yang ga atau belum diterusin sama pembuatnya sampe sekaraang.. dan ff ini jadi obat rindu laah istilahna mah. jadi jigana aku bakal ngikutin ff ieu deeh. alus caritana soalna. wkwkw.

    1. Waaaahhh.. Siapa penulisnya? Di exoffi juga kah? Mgkin nanti aku bisa kasihtau penulisnya biar dilanjutiiin..
      Terharu bakal ada yg ngikutin ff kami.. Hihihi..
      Makasi yaa.. ^^

  5. okee aku suka ceritanya… ada chanyeol juga ya, dan kenapa setiap aku baca ini selalu keinget sama behind the scene festival..
    entah kenapa aku gk bisa move on dari ntu ff
    next ke chapter 2 yaa

  6. eh sehun dsini karakternya jahil bgt ya?
    gk kyk biasanya yg terkesan dingin dan pendiam…
    seru bgt ceritanya, jadi inget orange marmalade 🙂
    lanjut kak ^__^

    1. Iyaaah sehun si sini ga diem diem menghanyutkan gitu, dia kepo gitu.. *digampar sehun stan*
      Hihihi..
      Tungguin terus lanjutannya yaa..
      Makasi sudah komeen.. ^^

  7. Uwaaaaa baru chapter satu udah bikin chanyeol curiga aja nih sama ‘jus’ ituu. Terus kenapa ga dibersihin deh sisa jusnyaa? Kan satu sekolah bisa aja pada kepo hehehe. Ah iyaa! Itu kenapa umin bisa kena ahn chi?? Nanti di ceritain kaan? Yah kalo gitu ditunggu aja deeh.
    Semangat author-nim!!
    -XOXO-

    1. Iyah dari chapter awal udah curigaan aja manusia satu itu #eh.
      Reen terlalu malas untuk beresin sisa jusnya #gakgitu. wkwkwk.

      Nanti lama2 kejawab kenapa umin kena anci kookkk.. Pantengin terus yaaaa..

      Makasih sudah komeeeennn.. >.<

  8. Wah seru thor..
    Hmm.. xiumin reena bikin baper *sial 😂 sehun runa udh jadian ajaa ribut mulu dah 😁
    Penasaran sma xiumin kenapa dihukum dia?
    Si ngambil kotak jus itu, mau diapain ama dia.. hmm..

    Next! Fighting

    1. Xiumin reen emang pasangan baper #eh wkwk..
      Iyaa si Reen juga ampe bosen nyuruh runa sama sehun pacaran, tapi mereka berdua masi kucing malumalu gitudeh 😂😂
      Nanti kenapa xiumin kena hukumnya kejawab kok hihihihi..
      Nakasi ya sudah mampir dan komeeenn..

  9. Runa ama Sehun berantem mulu dah kayak tom&jerry pacaran aja cocok kok 😉😉
    Itu darahnya knp gk dibersihin.. Ntar ketauan vampir loh, si Chanyeol curiga noh
    Trs itu knp Xiumin dihukum? Apa salah xiumin :’v
    Ditunggu nextnya!

    1. Iya runa sama sehun emang harusnya pacaran aja, mereka itu terkenal jadi tom n jerry di kalangan vampir /baper sendiri wkwk/
      Mari kita lihat apakah Chanyeol akan curigaa.. :3
      Kenapa xiumin dihukuuumm?
      Nanti lamalama nongol kook..
      Hihihi tungguin yaaa…

  10. Iih.. mao jd Runa >//< ditempel sm Sehun terus..
    Wlw bawel & jail tp perhatian gt Sehun ke Runa ^ ^ /mupeng.. baperr../
    I'm creeping in your heart babe..

    Bakal ada brp chap kah & brp lama jeda wkt u/ msng2 chap di posting?
    Pengen mantengin Sehun.. Alasan Xiumin kena hkmn tu mgkn krn u/ menyelamatkan–/ntah dr apa/–sacrifice bwt Reen x ya.

    Suka sm sifat friendly Chanyeol ke tmn2ny. Dy nge-band sm siapa aja?

    Passionately waiting for lanjutan2 ff ini 🙂

    1. Nanti berantem dulu sama Runa ya /gakgitu. wkwkwk..
      Sehun mah gitu, usil usil perhatian hihihihii..

      Berapa chapnya belum tau karena sampe skrg masih di tulis, ini dipost yang udah ketulis dlu hihi..
      Jeda waktunya seminggu sekali tiap Jumat, moga aja kami gak ada halangan hihihi..
      karena nti ngepostnya gantian..
      Jumat ini aku, jumat depan l18hee gitu terus sampe tamat :3

      Pantengin Sehun terus yaaa.. Wkwkwk..
      Mungkin kah?
      Canyol friendly sekali memang dia, cuma untuk bangsa vampire manusia sejenis Canyol jadi menyebalkan wkwkwkwk..

      Anak bandnya rahasiaaaa >.<

      Tungguin terus yaaaa..
      Makasih sudah mampir dan komeeenn.. ^^

  11. Yeayyy akhirnya chapter satu nya keluar jugaa
    Itu dulu gimana kok minseok bisa dijatuhi hukuman ahn chi? Memangnya kesalahan fatal apa? Oya sehun-runa tingkahnya bikin gemes apalgi sehun usil bgt deh.
    Waah si chanyeol uda mulai curiga bner bner itu anak punya tingkat penasaran tinggi wkwk..
    Ditunggu yaa kelanjutannya 🙂
    Hwaiting!!

    1. Yeaaay chapter 1 nya keluar jugaa.. >.<

      Nanti lama-lama ketauan kok kenapa Minseok dulu pernah dihukum Anchi sama pemerintah vampire(?) wkwkwk..

      SehunRuna nya jadi duo gereget di sini hihihihiii..

      Makasih ya sudah komen dan mampiir..
      Tunggu lanjutannya yaaaa.. ^^

  12. Duh bahaya nih. Chanyeol kan manusia yg punya tingkat penasaran yg tinggi. Aku suka minseok oppa ada dsni. Kan jaranh bgt yg cast nya umin oppa

    1. Iya betul Canyol itu manusia yang punya tingkat penasaran sangat tinggi. Dia nyebelin. /author baper wkwk/

      Aku kebetulan suka sekali sama Umin oppa, buakakak..
      kamu juga ya? kita sama.. *tos

      Makasih sudah mampirr,, tungguin chapter berikutnya yaa.. ^^

  13. Yehett..
    Akhirnya ff yg dtunggu” di update juga 🙂
    Sehun sma runa..kkk
    Knapa minseok bisa kna hukuman ahn chi??
    Waduh itu jus*ralat darah yg berceceran di lantai gx dbersihin?
    Chanyeol udah curiga aja tuh
    Next juseyo
    Dtunggu klanjutanya kakk 🙂

    1. Kenapa ya Minseok di Anchi?
      Tungguin aja yaa, lama-lama ketahuan kok wkwkwk..

      Gak dibersihin, mungkin Reen pikir nti ada tukang bersih-bersih /plak.

      Iyah, Canyol uda curiga, diamah gitu orangnya /gakgitu. wkwkwk.

      Makasih sudah baca dan komen.. Tungguin yaaa.. ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s