[EXOFFI FREELANCE] Peterpan – Chapter 4

if1

Author : haneul88

 

Length : Chaptered

 

Genre : Fantasy, sad, hurt, friendship

 

Rating : T

 

Main Cast : Kim Hyejin , Xi Luhan

 

Additional Cast :

Find it by your self ^^

 

Disclaimer :

The characters are belong to themselves. The OC and story are belong to me. Please don’t do copy and paste without my permission. This story is pure from my mind. If you become a silent reader I don’t hate you, but be better if you become a good reader.

 

.

 

Author’s Note:

 

Warning!

Typo bertebaran, ketidak jelasan cerita :’3

 

 

Jangan lupa tinggalkan jejak, ^^

 

 

Jangan Lupa Sediakan Kantung Muntah, :vv

 

.

 

 

Thank’s for amazing poster, credit Tanomioo @ Indo Fanfictions Arts ^-^

 

Chapter ini aku dedikasikan untuk Cantikapark, terimakasih untuk semua idenya.. ^^

 

 

Previous Chapter :

Chapter1  ||  Chapter2||  Chapter3

 

 

HAPPYREADING!!!^^

 

 

.o0o.

Summary :

Kim Hyejin, sahabat masa kecil Luhan secara tak terduga ia justru menyukai Luhan. Xi Luhan, karena tak mengetahui apapun tentang perasaan Hyejin pada akhirnya menyatakan perasaannya pada Park Minjin yang merupakan teman sekelasnya. Lantas bagaimana kisah cinta Hyejin yang seperti kisah cinta Tinkerbell ketika Peter bertemu Wendy?

.

.

.

.

Previous Chapter

Hyejin mendongakkan kepalanya menghadap kearah JoonMyun berada. Sorot mata Joonmyun berubah dari tatapan sendu menjadi tatapan menggelap. Hyejin tak sebodoh itu untuk tak mengetahui apa itu Ripper. Ripper. Malaikat pencabut nyawa. Jadi selama ini ia tinggal bahkan berada atau mungkin berteman baik dengan sesuatu yang berbahaya seperti malaikat pencabut nyawa. Berbagai pertannyaan muncul silih berganti dalam otak Hyejin. Pemikiran tempat apa ini sebenarnya juga datang pada otaknya. Pusing hebat menderanya, tapi ia tak boleh kalah dengan rasa sakit ini. “neo, nuguya?!”

.

.

.

Chapter 4

Setelah mengucapkan 2 kata yang sebenarnya sudah Hyejin ketahui bisa menjadi jawaban yang menyakitkan bagi keduanya, Hyejin merasa seakan berada di ruang waktu. Semua benda, tempat, orang seperti berlarian di sekitarnya. Tatapannya fokus pada Joonmyun yang mengunci arah pandangnya, menatapnya dalam. Mereka berdua bertatapan begitu lekat seakan saling mencari apa pemikiran yang ada di otak lawan tatapnya.

Semua itu terhenti ketika secara tiba-tiba mereka berada di tempat pertama kali bertemu. Jembatan. Suasana yang tadinya menggelap, anginberhembus kencang yang benar-benar mencekam kini menjadi normal kembali. Angin berhembus dengan tenang membuat beberapa helai rambut panjang Hyejin beterbangan.

Hyejin sudah tak tahan. Ia butuh penjelasan. Ia benar – benar yakin jika Joonmyun membunyikan suatu rahasia besar dari dirinya. “oppa.. jeball.. . katakan padaku yang sebenarnya.” Ucap Hyejin memelas.

“…” Joonmyun tak kunjung menjelaskan seperti apa yang Hyejin pinta. Ia masih saja menatap kedua iris mata Hyejin seakan tak berminat untuk mengalihkan perhatiannya.

geurae oppajika kau tak ingin menjawabnya, aku akan menebaknya.apakah kau-“

Belum saja Hyejin menyelesaikan kalimatnya Joonmyun menyelanya secara tiba-tiba. “Kau benar. Aku… .  Malaikat pencabut nyawa. Harusnya aku sudah menuntunmu menuju kehidupan selanjutnya, mencabut nyawamu, atau yang lebih baik –menurutmu- membantumu kembali ke dunia fana.” Joonmyun menghentikan ucapannya sejenak, kemudian melanjutkannya lagi

“Harusnya aku sudah melakukannya dari pertama kita bertemu. Tapi ketika melihatmu rasa ingin memiliki entah mengapa begitu membuncah pada diriku. Aku tahu aku salah. tapi salahkah aku mempertahankan orang yang ku cintai?”“Aku tahu kita berbeda, dari segi apapun itu, dan kita takkan pernah bisa bersama. Namun hatiku yang lain memaksaku untuk tetap bersamamu.” Tatapan Joonmyun yang tajam kini mulai melemah. Tatapannya benar-benar menunjukkan seperti orang yang tengah ketahuan berbohong dan kesedihan. Sedangkan Hyejin di depaannya sudah tak dapat menahan air matanya lagi. Hyejin merasa sangat marah dan kecewa dalamwaktu yang bersamaan.

Kim Joonmyun, orang yang selama ini bersamanya ternyata bukan seperti apa yang ia bayangkan. Ia adalah pembohong.

Gotjimal! Kau bohongkan oppa.. katakan padaku bahwa kau berbohong. Aku yakin kau tidak seperti itu!”Sungguh, hati kecil Hyejin masih ingin menampik apa yang Joonmyun ucapkan. Jika kau melihat dari raut wajah Joonmyun, ia bukanlah pembohong seperti yang Hyeji ketahui. Wajah malaikat Joonmyun memang benar-benar seperti malaikat di dunia dongeng, namun jabatan malaikat yang dipegangnya sungguh tak menampilkan itu.

Sayangnya jawaban yang Joonmyun berikan tidak seperti apa yang Hyejin inginkan. Joonmyun menggelengkan kepalanya seakan mejawab ‘tidak, aku tak berbohonglagi kali ini’ untuk apa yang Hyejin ucapkan.

Tangis Hyejin yang ia tahan sedari tadi pecah kemudian. Pipinya mengalirkan air mata yang keluar dari kedua mata Hyejin. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Meskipun ia tak lama mengenal Joonmyun tapi sejujurnya ia memiliki perasaan untuk oppanya (malaikat pencabut nyawanya) ini. “Geurae, berarti kau pembohong oppa. Semua yang kau katakan pasti hanyalah kebohongan-“

“Dan sayangnya bagaimana bisa kau dengan mudahnya percaya padaku. Bahkan kau tak sekalipun bertanya tempat apa ini sebenarnya padaku dulu sekalipun pertama kali kita bertemu” Joonmyun memutus ucapan Hyejin, berdecih kemudian. Tatapanya bukan tatapan menyesal lagi melainkan tatapan sinis. Kedua bola mata Joonmyun kini dihiasi oleh bola api yang membara yang membuat nyali Hyejin menjadi sedikit ciut, namun Hyejin tak akan mau menjadi mainan Joonmyun lagi.

“Kau harus tetap disini. Kau tak boleh kemana-mana. Kau akan selalu bersamaku disini. Selamanya. Tidak ke kehidupan selanjutnya, maupun kembali kedunia” ucap Joonmyun penuh penekanan.

Andwae! Aku tak akan mau hidup disini bersama pembohong sepertimu oppa! Kembalikan aku! Kembalikan aku ke dunia. Aku ingin kembali ketempatku berasal sekalipun aku tak ingat tentang kehidupanku sebelumnya.” Teriak Hyejin

“Begitukah? Kau terlalu bodoh apa benar-benar bodoh Kim Hyejin. Apa kau tak sadar? Jika kau kembali kedunia kau akan merasakan rasa sakitmu lagi. Apa kau lupa siapa yang membuatmu berada disini?” Joonmyun menjeda ucapannya sejenak kemudian melanjutkannya lagi. “Xi Luhan. Apa kau lupa dengannya? Tak ingatkah kau jika ia -sahabatmu sendiri- yang tega menabrakmu dan secara tak langsung, di saat yang bersamaan ia sebenarnya menghancurkan hatimu karena ucapannya yang mengabarimu bahwa ia berkencan dengan salah satu gadis sekelasnya, sedangkan di waktu itu kau amat sangat mencintainya? Apa kau lupa? Bukankah sebaiknya kau hidup ten-”

“CUKUP! HETIKAN OPPA! Aku tak percaya padamu dan tak akan pernah lagi percaya padamu. Aku tak peduli jika aku harus memendam perasaanku dalam dalam meskipun itu menyakitkan asalkan aku tak bersamamu. Kembalikan aku RIPPER OPPA!!!” Ucap Hyejin dengan penekanan pada kata Ripper dan oppa.

Secara tak langsung Hyejin menjadi mengingat tentang Luhan –dikarenakan Joonmyun yang mengatakannya- yang sebenarnya sungguh tak ingin ia ingat. Rasa pusing menderanya begitu hebat secara tiba-tiba. Namun ia tak boleh pingsan dengan begitu mudahnya karena tak dapat menahan rasa sakit ini.

Sebuah peringatan –sesungguhnya- bagi Joonmyun karena ia membuat ‘tawannya’ menjadi mengingat sesuatu yang harusnya tak ia ingat untuk saat ini. Tapi tampaknya Joonmyun telah hilang akan kendali dirinya yang membuatnya seperti ini.

Ripper? Ah.. ya.. kau melihatnya di buku sialan itu. Tapi kau tak akan pernah bisa. Aku adalah pemegang kendali kemana arah tujuanmu. Kau telah ditakdirkan mendapatkan seorang malaikat pencabut nyawa yang bernama Kim Joonmyun. Persiapkanlah dirimu karena jika kau membentakku sekali lagi, bisa di pastikan proses peng-eksekusianmu akan menyakitkan. Aku bisa saja membuat setengah nyawamu berada di tempat entah berantah yang sampai kiamat-pun akan tetap abadi disana. Kedua nyawamu yang terpisah itu tak akan bertemu dan nyawamu yang ada di tempat entah berantah itu ku pastikan takakan tenang dan tak kan bisa berada di surga, neraka sekalipun-”

“KIM JOONMYUN!” sebuah suara menginstupsi ucapan Joonmyun dan membentaknya.Aura panas keluar dari orang itu yang menandakan betapa murkanya orang itu menyerukan nama Joonmyun tadi.

“Kau akan mendapat hukuman karena kau membuat proses pengeksekusiannya menjadi kacau. Tak hanya itu saja, pembeberan kenyataan, penolakan keinginan, pembohongan. Semua yang kau lakukan. Bersiaplah! Kau akan mendapatkan hukumanmu.” Ucap seseorang itu. Ia adalah ketua dari para malaikat –anggap saja seperti itu-. “-dan kau Kim Hyejin. Permintaan diterima”

***

Pagi ini Luhan mengantarkan Minjin ke bandara untuk melakukan perjalanan ke Jepang. Kedua orang tua-nya meminta Minjin untuk kembali ke Jepang dikarenakan ada keperluan mendadak entah apa itu.

Sekembalinya Luhan dari bandara ia berkunjung sebentar ke toko bunga yang cukup terkenal di distrik gangnam dan membeli bunga sebuket bunga camellia berwarna merah muda dan putih. Beberapa orang berkata bahwa bunga camellia berwarna merah muda bermakna kerinduan. Dan, ya. Jujur saja Luhan merindukan Hyeji. Amat sangat merindukannya. Ia sangat berharap Hyejin kunjung sadar dari tidur panjangnya. Tak mungkin sudah selama ini Hyejin tak kunjung bangun dari komanya Luhan tak merindukannya khan?

.

.

Luhan telah sampai di rumah sakit dan menyusuri koridor ruang inap Hyejin. Ia menyusuri lantai koridor rumah sakit itu dengan langkah panjangnya hingga menemukan kamar bernomor 196 yang sebenarnya sudah di ingat Luhan diluar kepala. Luhan mendorong pintu itu perlahan, mamasuki ruangan itu menutup pintu kembali kemudian membalikkan tubuhnya. Luhan melotot tak percaya setelahnya. Hyejin tampak duduk di ranjangnya dengan posisi kakinya yang dibiarkan lurus berselonjor dan menundukkan kepalanya seakan meneliti tiap jahitan pada selimut yang ada di pangkuannya. Genggaman tangan Luhan pada bunga yang ia bawa mengendur membuat bunga tersebut terjatuh terlepas dari genggamannya. Luhan melangkahkan kaki berusaha menghampiri Hyejin dengan kaki yang bergetar.

“Hyejin-ah kau baik – baik saja? Bagian mana yang masih terasa sakit?” ucap Luhan setelah samapi di pinggir ranjang Hyejin. Luhan tak menyangka bagaimana ini bisa terjadi. Ia binggung apa yang harus ia katakan membuat Luhan menanyakan kalimat aneh itu.

Tersadar dari pikirannya karena mendengar suara lirih Luhan Hyejin mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Luhan dengan tatapan polosnya. Luhan yang tak tahan dengan semuanya -baik rasa rindu, bersalah, atau apapun itu- merengkuh tubuh kurus Hyejin dalam dekapannya. Memeluknya erat seakan membagi semua rasa yang ia rasakan. Mengusap pelan rambut panjang Hyejin seakan menangkan Hyejin.

Hyejin hanya memjamkan matanya meresapi kehangatan yang diberikan Luhan untuk dirinya. Meskipun ia tak membalas pelukan Luhan namun ia sangat menikmati pelukan ini. Matanya hampir saja mengeluarkan air mata mengingat semua yang terjadi. Hyejin mengingat semuanya sekarang. Bagaimana ia bisa sampai disini dan detik–detik sebelum semua itu terjadi. Namun perlu kalian ketahui, Hyejin tak mengingat semua tentang Joonmyun.

.

Hyejin pov

Aku teringat semuanya. Bagaimana Luhan oppa mengabariku tentang dirinya yang menyatakan cintanya pada Minjin eonnie dan bagaimana aku merasa tiba-tiba melayang ketika aku sedang berjalan -seingatku. Aku tak tahu jelas apa yang terjadi sebenarnya waktu itu, yang kutahu Luhan oppa ada dihadapanku ketika pusing berat menyerang kepalaku. Kesadaranku saat itu sedikit, namun entah mengapa aku bisa mengingat itu semua.

Aku terbangun di tempat ini, ruangan yang tak terlalu lebar yang didominasi oleh warna putih. Aku tadinya tak mengerti bagaimana aku bisa berada disini. Namun entah bagaimana bisa, aku dapat mengingatnya. Detik terakhir –yang kupikir- kesadaranku. Saat aku masih saja memikirkan semua itu aku mendengar suara Luhan oppa seperti di sebelahku. Aku tak tahu kapan ia masuk. Ketika aku menoleh dan mendongakkan kepalaku tiba-tiba Luhan oppa memelukku. Aku tak mau munafik tak mengakui betapa hangat dekapannya, namun entah engapa aku enggan membalas pelukannya.

Aku ingin waktu berhenti saat ini juga. Bukan bermaksud egois, tapi aku tak rela jika Luhan oppa bersama Minjin eonni. Aku tak bisa berkutik lagi untuk perasaanku ini. Memendamnya mungkin itu jalan yang terbaik. Aku tak mau Luhan oppa justru menghindar jika ia mengetahui perasaanku.

Author pov

Gwenchanayo? Apa masih ada yang sakit? Akan ku panggil dokter untuk kemari.” Luhan khawatir pada keadaan Hyejin karena Hyejin sama sekali tak meresponnya, jadi ia menekan tombol emergency yang terdapat di belakang ranjang supaya dokter yang menangani Hyejin melakukan perawatan lebih lanjut.

***

Sudah beberapa hari ini Hyejin –sangat- jarang mengeluarkan suaranya. Hyejin belum diperbolehkan oleh dokter yang menanganinya untuk kembali kerumah. Kondisi fisiknya masih cukup lemah untuk diperbolehkan kembali pulang, jadi dokter paruh baya itu menyarankan Hyejin tetap tinggal supaya mendapatkan perawatan yang intensif.

Luhan kini mulai jarang mengunjungi Hyejin. Berada di tingkat akhir membuatnya harus mengikuti beberapa bimbel dan tugas yang menumpuk itu benar – benar memakan waktunya. Belum lagi Ia harus belajar mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan. Dan semua kesibukannya itu sangat klop yang membuat Luhan beberapa kali uring-uringan sendiri. Yeahh.. satu – satunya orang yang bisa menenagkan Luhan ketika seperti itu hanya Minjin seorang.

Karena merasa bosan di kamar inapnya yang sangat membosankan dan sepi, Hyejin mencoba untuk turun dari ranjang yang ia tempati dan keluar untuk menghirup udara sejuk. Namun sepertinya apa yang ia inginkan tak berjalan dengan lancar, seorang perawat membuka pintunya tepat ketika kedua kakinya menapak pada dinginnya lantai kamar inap.

Perawat cantik yang berada di akhir tahun duapuluh-annya itu terkejut melihat Hyejin turun dari tempat tidurnya. Ia langsung saja menghampiri Hyejin dan meletakkan alat-alat beserta obat yang dibawanya di meja kecil dekat ranjang Hyejin. Hyejin hampir saja terjatuh kalau saja perawat itu tidak langsung memegangi Hyejin. Kedua kaki Hyejin belum terlalu kuat untuk menahan berat tubuhnya. Kekuatan kakinya masih lemah, itu alasan mengapa Hyejin belum diperbolehkan pulang dan turun dari tempat tidurnya.

Perawat itu yang diketahui bernama perawat Shin itu membantu Hyejin kembali keatas ranjangnya. Setelahnya, perawat itu melakukan tugas yang memang sudah menjadi kewajibannya, mengecek keadaan Hyejin, mengecek alat infus, dan tugas lainnya. Setelah selesai, perawat tersebut memberikan sedikit nasehat kepada Hyejin. Barusaja perawat tersebut akan beranjak meninggalkan ruangan Hyejin, Hyejin mencegahnya dengan menahan pergelangan tangan perawat Shin

eonnie, bawa aku keluar. Aku bosan jika hanya berada ditempat ini terus, bawa aku berkeliling.”

.

.

.

Permintaan Hyejin diterima oleh perawat muda itu, perawat itu mengajaknya ketaman -menggunakan kursi roda tentunya- yang cukup damai itu dan mendudukkannya disalah satu bangku panjang taman. Hanya saja, perawat itu meninggalkan Hyejin dan berjanji akan menjemputnya 45 menit lagi –ada kepentingan mendadak katanya.

Hyejin menatap sekeliling dengan tatapan naifnya. Ia cukup senang karena dibolehkan keluar kamar dengan syarat ia tidak kabur atau jika ia ingin tidak diperbolehkan keluar kamar lagi.

Ditaman itu hanya ada dirinya dan seorang pasien pria lainnya yang duduk di sebrangnya. Lelaki itu tampak menundukkan kepalanya, namun Hyejin masa bodoh dengan orang itu. Sebuah air mancur ada didepan Hyejin menjatuhkan berliter-liter air setelah diangkat keatas menggunakan mesin -entah seperti apa itu- yang beberapa tetes airnya ketika jatuh mengenai kesepuluh jemari Hyejin yang ia letakkan di atas pangkuannya -dikarenakan jarak mereka yang cukup dekat. Beberapa pohon rindang  tampak mengelilingi taman membuat taman itu sejuk, tak terlalu terasa panas. Sedangkan berbagai macam bunga warna-warni ditanam menyebar di halaman itu.

Hyejin menengadahkan kepalanya menghadap langit biru diatasnya kemudian menghirup nafasnya dalam–dalam dan memejamkan matanya. Hyejin mencoba memfokuskan dirinya merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya dan menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya yang tergerai. Sudah lama ia tak merasakan dinginnya hembusan angin alami seperti sekarang ini. Beberapa waktu ini yang ia rasakan hanya dinginnya udara yang berhembus melalui air conditioneryang sejatinya justru membuat kulit menjadi kering.

Sudah seminggu lebih mendekati dua minggu ini Luhan tak mengunjunginya. Bukan karena apa, tapi ia cukup merindukan kehadiran Luhan disisinya. Ia sadar sudah sangat lama ia tak masuk sekolah, mungkin tahun ini ia tak diizinkan naik kelas dikarenakan absennya yang sudah benar-benar berbulan–bulan. Hyejin terima saja hal itu karena memang sudah konsekuensinya. Ia tak bisa menyalahkan Luhan, karena ia juga tak memperhatikan jalan ketika menyebrang.Yeahh.. Hyejin sudah mengetahui cerita lengkapnya sekarang.

 

***

Sudah beberapa kali ini ketika merasa bosan Hyejin selalu meminta perawat yang kebetulan memasuki kamarnya mengantarkannya ke taman seperti biasanya. Taman itu sudah seperti tempat wajib kedua untuknya setelah kamarnya tentu saja. Kedua orangtua Hyejin sedang dalam perjalanan bisnis bersama kedua orangtua Luhan. Kedua orangtua Hyejin sebenarnya ingin meminta Luhan untuk menemani Hyejin, namun Hyejin memaksa kedua orangtuanya untuk tidak memberikan tugas itu kepada Luhan karena Luhan sudah pasti akan sangat sibuk dengan semua urusan sekolahnya. Maka dari itu, tanggung jawab Hyejin oleh tuan Kim ia berikan kepada perawat Shin yang selalu ada untuk Hyejin.

Sudah dua hari terakhir ini perawat Shin tidak masuk dikarenakan ada urusan mendadak entah apa itu. Sehingga perawat yang mengecek kesehatannya digantikan oleh perawat lee. Perawat Lee terkenal dengan keramahannya oleh semua penghuni rumah sakit. Beberapa hari terakhir ini Hyejin juga sudah tidak menjadi orang yang pendiam lagi. Ia mulai ramah, saling menyapa dengan semua penghuni rumah sakit baik pasien, perawat maupun petugas lainnya yang ia temui baik dijalan maupun dikamarnya.

Ketika perawat Lee memasuki kamarnya, dengan berbunga – bunga Hyejin berkata kepada perawat Lee jika ia ingin diantarkan ke taman lagi setelah cek keadaannya. Perawat Lee menyetujuinya dengan angukan dan senyuman yang terpatri manis pada kedua belah bibirnya. Jujur saja sebenarnya Hyejin sangat terpukau oleh kecantikan perawat Lee ini. Ia termasuk perawat dengan kecantikan yang sangat natural hanya dengan sedikit polesan diwajah putihnya.

“Keadaanmu sudah mulai membaik. Mengejutkan karena ketika perawat Shin memberikan datamu tentang keadaanmu 3 minggu terakhir keadaanmu masih cukup buruk. Apa mungkin karena kau sering ke taman akhir – akhir ini?” perawat Lee berucap dengan menatap Hyejin penuh arti.

“Benarkah? Apakah aku sudah diperbolehkan pulang sebentar lagi?” ucap Hyejin sangat senang.

“Itu juga tergantung perkembangan kesehatanmu, dokter Park besok akan mendatangimu. Kau bisa mengadukan keluhan yang kau rasakan padanya.” Perawat Shin tersenyum dan mulai memberesi bawaannya bersiap untuk mengantar Hyejin ketaman.

Sesampainya di taman perawat Shin membantu Hyejin turun dari kursi rodanya untuk duduk di bangku taman tempat yang biasanya Hyejin duduki. Sesungguhnya Hyejin sudah dapat menggunakan kakinya dengan baik seperti berjalan, namun kedua kakinya belum sanggup jika harus berjalan hingga ke taman yang jaraknya cukup jauh dari kamar inap Hyejin.

“Kau suka membaca? Aku membawa salah satu koleksi komik yang aku punyai tadi.” Ucap perawat Shin seraya mengulurkan tangan kanannya pada Hyejin untuk memberikan komik yang ia maksud.

“Ah… kau harusnya tak perlu repot-repot. Tapi terima kasih, akan ku baca. Kebetulan aku suka membaca novel, tapi tak apa jika itu komik.” Ucap Hyejin sambil mengambil buku tipis tersebut dari genggaman perawat Shin di sertai senyuman tulusnya.

“Aku akan menjemputmu sekitar 45 menit lagi seperti biasa. Semoga kau tak bosan meskipun hanya ditemani sebuah komik eoh?”

“Aku tak mungkin bosan Shin Minyoung Eonni… jadi lebih baik kau melanjutkan tugasmu yang tertunda.” Ucap Hyejin cemberut sebal sambil membuka halaman pertama komik itu.

Perawat Shin yang mendapati perlakuan Hyejin yang seperti itu hanya tertawa kecil kemudian pergi dari tempat itu.

 

***

 

Apa yang terjadi semuanya selama ini adalah suatu kebohongan. Hyejin yang ramah terhadap semua orang, Hyejin yang kini banyak bicara, Hyejin yang kini lebih sering tersenyum, semuanya hanyalah kebohongan belaka. Bukankah banyak orang yang meggunakan topeng mereka untuk memperlancar kehidupannya? Hyejin pun sama seperti mereka semua. Ia menggunakan topeng untuk menutupi kesedihan yang sebenarnya.

Luhan yang sebelumnya selalu bersamanya, bahkan hampir 24 jam penuh, kini seakan menghilang entah kemana. Ia memang yang mencegah Eommanya yang meminta Luhan untuk menemaninya di rumah sakit. Tapi bukankah alasan tahu diri sebenarnya dapat digunakan oleh Hyejin? Ayolah… Luhan sudah punya yeojachingu yang harus lebih diutamakan Luhan dari pada dirinya.Yeah.. bilang saja Hyejin munafik, karna keyataannya seperti itu memang.

Hyejin tampak menikmati komik yang ada digenggamannya. Tapi itu hanya nampak, tak seperti kenyataan yang sebenarnya. Tatapannya memang tertuju pada buku tipis itu, namun pikirannya melayang entah kemana.

“Apa yang kau pikirkan? kau terlihat hanya memandangi buku itu tanpa fokus dengan tulisan dan gambar yang ada dalam buku itu.” Ucap seorang pria yang tanpa permisi langsung duduk disebelah Hyejin. Orang itu –yang tak Hyejin ketahui siapa namanya- berbicara kepada Hyejin namun dengan pandangan lurus kedepan tanpa sedikitpun menoleh pada Hyejin.

Hyejin karena merasa tidak kenal dengan orang yang mengajaknya bicara itu, ia hanya menutup bukunya dan mengikuti arah pandang pria itu –lurus kedapan- tanpa menjawab pertanyaan atau mungkin lebih tepatnya pernyataan yang dibuat pria  itu.

“kau mengacuhkanku? Ah… ya. Namaku Minseok. Kim Minseok. Kau bisa memanggilku Xiumin jika kau mau.” Xiumin menolehkan kepalanya menaatap Hyejin dari samping. “Apa aku sok kenal? Maafkan aku jika menurutmu begitu. Tapi menurutku tidak. Aku sering bertemu denganmu di taman ini. aku biasanya duduk disana.” Ucap Minseok dengan tangannya yang terlurur kedepan dengan jari telunjuknya yang menunjuk arah yang di maksud. Tepat disebrang mereka.

Oh, orang aneh itu pikir Hyejin dalam hati. Hyejin beberapa kali tak sengaja mendapati Xiumin tengah tertawa sendiri entah apa sebenarnya yang ditertawakan.

“Karena aku sudah memperkenalkan namaku, sekarang giliranmu. Siapa namamu?” Xiumin mengulurkan tangan kanannya memberi gestur perkenalan.

“Namaku Hyejin. Kim Hyejin” Hyejin mengulurkan tangannya membaalas jabatan tangan Xiumin.

ahh.. benarkah? Kita mempunyai marga yang sama ternyata. Bangapta.”

“Kau selalu ke taman ini meskipun hanya sebentar. Apa yang kau lakukan sebenarnya –maksudku apa kau tak bosan hanya duduk berdiam diri di tempat ini?” itu Xiumin yang berbicara.

Hyejin menundukkan kepalanya sejenak kemudian mengangkatnya lagi menatap lurus kedepan. Hyejin tersenyum miring dan menjawab pertanyaan Xiumin. “Aku hanya mencoba mencari udara disini dan menikmati pemandangan indah disini. Bukankah didalam kamar sepi itu di atas ranjang pesakitan setiap hari sangat membosankan. Tidakkah kau berpikir seperti itu?”

Xiumin menatap Hyejin tak mengerti. “Kau yakin? Tapi entah mengapa yang kulihat kau justru selalu tampak bersedih, bukannya menikmati apapun itu.”

Senyuman Hyejin luntur seketika. Ia tahu, pasti terlihat sangat jelas. Kau benar minseok-ssi. Aku sedang bersedih. Benar-benar sedih. Aku tak sanggup menahan semua rasa sakit yang ku rasakan hingga ingin mati saja rasanya. Semua kata itu hanyalah jawaban dalam hati Hyejin. Ia tak menanggapi ucapan Xiumin dengan suaranya.

“Kau tak ingin berbagi cerita? Ahh.. ya, kita baru kenal. Kau pasti tak bisa mempercayaiku begitu saja. Tapi kita sudah berkenalan. Semua orang mempunyai cerita dalam hidup mereka yang perlu di bagi. Kau bisa membagi ceritamu itu jika memang kau membutuhkan teman untuk meluapkan semua beban pikiranmu.” Xiumin berhenti sejenak, menyadari Hyejin tak kunjung menjawabnya ia meneruskan kalimatnya. “Selama 21 tahun hidupku ini aku mendengar banyak kisah orang sekalipun beberapa diantara mereka banyak yang tak lama ku kenal. Mungkin aku bisa membantumu menyelesaikannya jika itu masalah untukmu.” Ucap Xiumin seraya menerawang melihat langit biru diatasnya.

Ternyata ia berumur duapuluh satu tahun. Tapi mengapa mukanya tampak  begitu imut seperti masih berumur dibawahku? Pikir Hyejin, namun ia segera menyadarkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Minseok “Ani. Nan gwenchana. Kau tak perlu seperti itu. Ini bukan apa-apa.”

“Kau yakin?” Xiumi menaikkan sebelah alisnya

Dan disaat itu Hyejin mulai bimbang akan pernyataan yang sebelumnya ia ucapkan.

“I-ini hanya masalah sepele-“

“Meskipun sepele namun tetap saja itu adalah masalah”

“Aku belum melanjutkan ucapanku oppa!”

“Kau memanggilkau oppa? Apa kau lebih muda dariku?Ahh.. lupakan. Baiklah lanjutkan ucapanmu.”

“Maafkan aku” itu Xiumin (lagi) yang berucap bukan Hyejin.

Yakkk!! Oppa kau menyebalkan. Aku tak akan menceritakannya padamu.” Hyejin berdecak sebal dan melipat kedua tangannya didepan dada.

Mian mian mian… cepat katakan.”

Ahh.. benar-benar. Sejak kapan ada lelaki cerewet dan super menyebalkan seperti dia. Aku sudah tidak berniat utuk mengatakannya lagi, namun yang ia katakan benar. Aku tak sanggup menahannya seorang diri. Dan setelahnya Hyejin menceritakan semuanya. Seperti yang ia ingat. Tentang apa hubungannya dengan Luhan, perasaannya pada Luhan, tragedi kecelakaan menyedihkan itu, dan semuanya. Semua yang berkaitan dengan Luhan. Semuanya terucap begitu saja seakan ada jiwa lain yang mengendalikan Hyejin untuk mengucapkan semua itu.

“Bukankah kisahku begitu menyedihkan oppa? Aku merasakan sakit yang teramat dalam. Bukahkah harusnya lebih baik aku mati saja, daripada menahan rasa sakit yang teramat dalam ini. cintaku bertepuk sebelah tangan oppa… bukankah tak ada seorangpun lagi yang mencintaiku? kedua orangtuaku bahkan lebih mementingkan urusan bisnisnya daripada diriku.” Hyejin tampak amat menyedihkan kali ini. Bibirnya terangkat sebelah seperti smirk namun terlihat lemah. Hyejin mendengus kemudian.

“Kau yakin menginginkan kematian? Sedangkan banyak orang didunia ini yang menginginkan tetap bertahan didunia ini, still alive. Termasuk diriku” Xiumin tak lagi menatap Hyejin. Ia menatap lurus kedepan dengan tatapan tajamnya. Kalimat yang Xiumin ucapkan sangat pelan, hingga seakan-akan ia bergumam pada diri sendiri.

Namun nyatanya Hyejin mendengar kalimat itu meskipun tak begitu jelas.

Mwo?

— TBC —

 

Give me applause juseyoo.. :vv xD. Jujur aja ini chapter fanfic paling panjang yang pernah kubuat. xD 3k+++ words lo.. :vv padahal biasanya Cuma 1k atau 2k words.. :vv

Maafkan saya akan keamat terlambatan ff ini.. T.T chapter ini aku panjangin juga sebagai rasa permintaan maafku pada readers-deul yang karatan (?) nunggu ini.. :’3 *emg ada yang nunggu

Jadi chapter ini gimana? Membosankan kah? Bahasanya berantakan? Huaa.. maafkan maafkan.. T.T. di Chapter ini Hyejin menghilang dari kehidupan Joonmyun yang ternyata bukan manusia :vv .

Oh ya.. bentar lagi diriku mau ada tes SMA, jadi ga bisa janji next chapter bakal cepet, soalnya juga butuh belajar.. :’’’’ do’akan diriku semoga di terima ya readers-deul yapp.. ^^

Last, Leave a comment juseyo~

Oh ya.. kalian boleh nebak” ini bakal kek gimana ceritanya, karna terkadang dari tebakan kalian itu membuat inspirasi pada saya. xD

Warm Regards,

 

Haneul Kim

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Peterpan – Chapter 4”

  1. Prokk prokk prokkkk keren lho kak panjang juga ini😂😂tp aku nggak bosen kok👍
    Yaah kasian suho..tp gpp sih hyejin jd hidup lagi hehe
    Gaada luhan ya disini hmm
    Eh itu xiumin udh meninggal?kik dia ngomong gitu?? Hmm aku lanjut ke chapter selanjutnya aja deh
    Fighting kakak💪💪

  2. Amin semoga test SMA nya sukses yak 🙂 iya lama banget sih updatenya padahal aku pantengin loh nih ff dan juga di chapter ini Lu Han dikit amat yak keluarnya? Kebanyakan hyejin pas di rumah sakit -_- yah semoga dengan kedekatannya si hyej-xiumin si Lu Han sadar dan cemburu 😀 kekekeke kedepannya aku tungguin yah jangan lama yah seperti note dibawahnya itu ^^

  3. kasian hyejin-nyaa..
    luhan kemana luhan?? author-nim tolong sadarkan luhan untuk menjenguk hyejin kembaii.. sadarkan luhan agar peka dengan perasaan hyejiinn… /ngemeng apa sih??/

    lanjut thor!
    sukses ya buat tesnyaa..

  4. Hwaaa akhirnya chap yg dtunggu” d update jga 🙂
    Critanya nambah serruuu dan bkin aku pnasaran^^
    Yaampun hyejin kasian, bersabarlah hyejin mungkin nanti kdepanya kamu akan berbahagia dan mnjalani hidupmu dengan baik..amiinnnn
    Aigoo.. itu jadii xiumin oppa..aduh.astaga!!#abaikan
    Yaampun kakk next ya aku pnasaran bngettt sma klanjutanya,
    Dtunggu loh ya 🙂
    Untuk nebak” klanjutanya aku gx dapet mimpi tuh kakk, tdi malem aku mimpinya Sehun oppa jdi oppaku and ngasih aku minum coz akunya kpedesan gara” salah ambil makanan#jadicurhatt/abaikan^^v ..hahahaha

    Telat juga gpp kakk yg penting dlanjutin 🙂
    Blajar yg rajiinnn ya kakk and aku do’ain smoga tesnya lancar and dberi kmudahan dan smoga diterima..amiinnnn
    Hwaiting kakk!! 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s