[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 9)

Untitled-2 cop

The Story Only I Didn’t Know

MAIN CAST              :

  • Kim Hyemi (OC)
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kim Seohyun (OC)
  • Jung Krystal

SUPORT CAST         :

  • All Member Exo-K
  • Park Song Yi (OC)

GENRE                      : Romance, Friendship, School  Life.

AUTHOR                   : Aichan

RATING                     : T

LENGHT                    : Chapter

DISCLAIMER           : Hi! Ini FF murni buatan aku. Semua alur, latar, karakter ini hanya fiksi belaka yaa. Saran dan kritik aku tunggu. Maaf jika banyak typo dan ada bahasa yang aneh. Masih dalam tahap pembelajaran. Heehee.. Don’t Be Plagiat!  Happy reading.. ^^

**Part 9**

 

 

AUTHOR POV

Susana disini begitu canggung. Benar-benar terlihat sunyi bahkan ketika mereka hanya berdua di ruangan ini. Tidak pernah terpikirkan kalau akan terjadi situasi seperti ini, situasi dimana mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain.

“Aah, aku tidak tahan lagi,” ucap Hyemi sambil menghembuskan nafas panjang. Ia kemudian meremas jari-jarinya sambil memutar kepalanya pelan. “Aku hanya bisa menulis ini sebanyak dua lembar, pikiranku sudah buntu, jadi kau harus menyelesaikan essaymu itu sendiri untuk bagian terakhirnya. Kau bisa menulis itu menggunakan bahasa korea, biar aku yang akan mengubahnya nanti ke dalam bahasa inggris. Tapi, kali ini kau harus menulis itu dengar benar. Aku bahkan harus menulis essaymu itu dengan tanganku sendiri karena tulisan tanganmu benar-benar buruk. Seharusnya Mrs.Fei menyuruhmu untuk belajar menulis terlebih dahulu ketimbang membuat essay.”

Entah kenapa, untuk kali ini, orang yang diajak Hyemi bicara tidak meresponnya sama sekali. Tidak seperti biasanya, bahkan Hyemi merasakan ada keanehan dalam diri orang itu. Dia terlalu pendiam dan sibuk dalam pemikirannya sendiri. Sebenarnya itu bagus, melihat orang itu tidak banyak bicara seperti sebelumnya, namun ini terasa ganjil, seperti ada yang hilang dalam diri orang itu seketika.

“Kau tidak mau mengerjakan essaymu?” ucap Hyemi sekali lagi berharap orang yang ada dihadapannya saat ini menanggapi ucapannya. “Hey, Park Chanyeol, aku sedang bicara padamu.”

Seakan tersadar dari pemikirannya, Chanyeol sekarang menatap Hyemi lekat-lekat, ia jelas ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya dan berharap kalau pemikirannya salah kali ini. “Apa itu Sehun?” tanya Chanyeol membuka topik pembahasan lain dengan tatapan tajamnya, ia seakan tidak ingin kehilangan satupun petunjuk untuk jawaban dari pertanyaannya. “Tentang orang yang kau sukai, tentang rasa suka antara yeoja dan namja yang kau sebutkan sebelumnya, tentang anggota Exo yang kau suka. Orang itu Sehun bukan?”

Hyemi terdiam sejenak. Namun untuk kali ini ia masih bisa bersikap tenang tidak seperti saat pertama kali Chanyeol mengajukan pertanyaan itu sebelumnya. “Jadi daritadi kau diam karena memikirkan itu,” ucap Hyemi sambil memiringkan kepalanya mengamati raut wajah Chanyeol. “Sebegitukah penting hal itu untuk kau ketahui hingga kau memikirkannya sampai sejauh ini?”

­­”Itu jelas penting karena aku me,” ucapan Chanyeol terhenti. Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya itu. Salah, yang benar ia tidak ingin melanjutkan kalimatnya itu, belum saatnya. Ia pun kemudian menghembuskan nafas panjang. “Itu karena aku menghawatirkan Sehun. Dia temanku, sudah seharusnya aku menghawatirkannya.”

Hyemi mengerutkan kening begitu mendengar jawaban dari Chanyeol. “Kau terlalu berlebihan. Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan tentang hal itu,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Daripada kau memikirkan hal seperti itu lebih baik kau selesaikan saja pekerjaanmu ini.”

Chanyeol mengambil selembar kertas dari tangan Hyemi dan memperhatikan tulisan yang ada dikertas itu dengan teliti. Untuk kedua kalinya ia menghembuskan nafas panjang. “Aku tidak bisa memikirkan apapun, pikiranku sedang kacau saat ini,” ucap Chanyeol terus terang. Otaknya kini berisi penuh tentang pemikiran dugaannya saat ini, tidak ada sedikitpun cela untuknya memikirkan essay yang harus ia selesaikan. “Tidak bisakah aku hanya mengumpulkan ini?”

Tanpa banyak berpikir, Hyemi memukul kepala Chanyeol dengan pensil begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Chanyeol. “Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu,” ucap Hyemi sambil mendecakkan lidahnya berulang-ulang. “Aku baru menulis permulaan di kertas itu, tidak mungkin langsung dikumpulkan begitu saja. Kau belum bisa menyebut itu sebagai essay jika seperti ini, itu belum selesai.”

Chanyeol mengelus kepalanya pelan yang menjadi sasaran pukulan Hyemi barusan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang yang harusnya menjadi pelayannya berani memukul dirinya seperti ini. Bahkan kepalanya sudah sangat kacau, ditambah lagi dengan pukulan pensil dari Hyemi, benar-benar menjadi pelengkap.

Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Chanyeol, ia hanya diam. Tidak ada kata-kata menyebalkan yang biasa didengar Hyemi dari Chanyeol, yang ada hanya tatapan menerawang yang diberikan Chanyeol padanya.

“Bagaimana aku bisa mengubah hatimu?”

Hyemi menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan itu. Ia sama sekali tidak mengerti makna dari kalimat yang didengarnya itu.

“Lampu itu masih belum berubah menjadi merah, tidak ada yang bisa menghentikanku. Ini belum berakhir, bahkan kupikir ini semua baru dimulai. Jika dugaanku benar bukankah aku masih bisa merubahnya. Tapi bagaimana?”

Kali ini Hyemi memiringkan kepalanya. “Apa yang sebenarnya kau bicarakan, Chanyeol?” tanya Hyemi dengan raut wajah penuh keheranan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan semua ucapan Chanyeol saat ini.

Untuk masalah akademik, Hyemi memang mudah memahami sesuatu, memahami rumus-rumus dengan baik atau menghafal vocabulary yang baru saja ia dengar ataupun baca.  Namun, berbeda dengan hal seperti ini, dalam hal yang diutarakan Chanyeol, ia sama sekali tidak mengerti maksud dan kemana arah pembicaraannya barusan. Benar-benar membingungkan.

Chanyeol menatap Hyemi dengan pandangan menerawang. Ia lagi-lagi menghembuskan nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Kau benar-benar bodoh Hyemi. Bagaimana mungkin kau tidak mengerti ketika aku sudah mengatakannya sampai sejauh ini,” ucap Chanyeol penuh penekanan sambil mengambil lembaran kertas dari tangan Hyemi dan pergi meninggalkan Hyemi seorang diri. Terdengar benturan yang cukup keras begitu Chanyeol keluar dari ruangan ini.

Hyemi mendesah kesal. “Huh? Dia bilang aku bodoh,” ucap Hyemi dengan wajah kekesalannya yang tidak bisa ia sembunyikan. “Bahkan aku sampai rela melepas jam istirahatku karena membantunya membuat essay untuk menebus kesahalanku karena tidak bisa menemaninya menonton opera kemarin. Dan barusan, dia menyebutku bodoh? Ya, yang benar saja. Oke, aku memang bodoh, bodoh karena mau membantumu seperti ini. Menyebalkan.”

Hyemi mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia bahkan juga memukul meja berulang-ulang dengan bukunya untuk mengutarakan emosinya. Beberapa detik kemudian ia menghembuskan nafas panjang. “Tapi kenapa Chanyeol tadi sampai bertanya kalau aku menyukai Sehun? Bagaimana ia bisa menduganya? Apa terlihat jelas diwajahku? Aah, tidak, itu tidak mungkin,” ucap Hyemi pelan lebih kepada dirinya sendiri. “Tidak mungkin dia mengetahuinya kan?”

***

“Ah, Chanyeol. Bagaimana dengan tugas essaymu?”

Suara itu keluar dari mulut seorang namja bertubuh kecil dan bermata bulat dengan wajah yang cukup basah mengingat ia menghabiskan waktunya selama satu jam untuk berlari sebelumnya.

Chanyeol, nama orang yang baru saja disebut hanya menunjukkan senyuman kecil. Ia kemudian mengambil botol air mineral dari tangan Kyungsoo dan meminumnya perlahan. “Aku sudah mengumpulkannya,” ucap Chanyeol begitu ia mengembalikan botol itu pada pemiliknya. “Apa kau melihat Sehun? Aku daritadi tidak melihatnya.”

Kyungsoo mendecakkan lidah begitu melihat botolnya kini telah kosong. “Sehun sedang bermain basket bersama dengan Jongin, Suho, dan Baekhyun di aula lapangan. Kau tau, tadi ada seorang sunbae tingkat tiga yang menantang Jongin untuk beradu basket dengannya. Alasannya sih sepele, hanya karena kekasihnya menyukai Jongin dan karena itu ia ingin mengadu kekuatan dengan Jongin untuk membuktikan kalau dirinya lebih hebat daripada Jongin.”

“Dan Jongin meladeninya?”

Kyungsoo menganggukkan kepalanya. “Sunbae itu terlihat sangat keras kepala. Tentu saja Jongin menerima tantangannya, kau tau bagaimana sikap Jongin kan?” ucap Kyungsoo sambil melipat kedua tangannya didada. “Dia bilang dia akan melawannya dengan keren.”

“Bahkan Suho tidak menghalanginya. Aneh sekali,” ucap Chanyeol sambil menyipitkan sebelah matanya.

Kyungsoo berdeham pelan. “Suho bilang selama bukan perkelahian fisik, ia pikir tidak masalah. Lagipula ia sudah lama tidak bermain basket, oleh karena itu ia juga ikut meladeninya,” ucap Kyungsoo sambil menganggukkan kepalanya. “Aku tidak pernah melihat mereka bersemangat seperti tadi. Ku pikir itu akan menarik.”

“Jika menarik kenapa kau hanya diam saja disini? Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?”

“Aku baru saja ingin bergabung dengan mereka. Kau juga harus ikut Chanyeol,” ucap Kyungsoo sambil menarik lengan Chanyeol paksa menuju lapangan basket.

“Aku memang berniat untuk menemui Sehun.”

***

Kondisi lapangan basket cukup ramai. Itu hal yang wajar, mengingat Exo ada didalam lapangan itu, terlebih lagi mereka bergabung sebagai pemain. Sudah jelas, para yeoja memadati lapangan hanya untuk melihat mereka memasukkan bola ke dalam ring. Namun, suasana disini sangat ramai. Ternyata bukan hanya yeoja yang memenuhi aula, terlihat beberapa namja juga hadir disana. Mungkin, mereka para pendukung dari sunbae tingkat tiga.

Chanyeol dan Kyungsoo bahkan terdiam sejenak begitu melihat aula olahraga dipenuhi oleh banyak orang. Sebenarnya Kyungsoo sudah menebak kalau akan ada banyak penonton karena mereka disini, tapi ia tidak menduga akan sebanyak ini.

“Kyungsoo, benarkah ini hanya permainan basket karena Jongin ditantang? Kenapa penontonnya sebanyak ini?” ucap Chanyeol sambil mengamati kepadatan dilapangan. “Kurasa fans Jongin benar-benar banyak saat ini.”

Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan karena fans Jongin bertambah, ini karena tidak hanya Jongin yang bermain, tapi ada Suho, Baekhyun, Sehun juga kau dan aku yang akan ikut bergabung. Tentu saja ini ramai,” ucap Kyungsoo sambil menganggukkan kepalanya pelan. “Lagipula ini sudah waktunya pulang sekolah”

Chanyeol mengamati Kyungsoo dengan pandangan menerawang. “Siapa bilang aku akan ikut bermain?” ucap Chanyeol sambil melipat kedua tangannya didada. “Aku kemari untuk menemui Sehun, bukan untuk bermain basket.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Chanyeol berjalan memasuki lapangan. Kehadiran dirinya benar-benar merusak permain basket yang telah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan sunbae tingkat tiga sampai berteriak ketika Chanyeol menghalangi pemandangannya ketika ia ingin melempar bola untuk tiga poin.

“Kenapa kau berdiri disitu ketika aku ingin melempar bola, huh?” ucap sunbae tingkat tiga kesal.” Apa kau sengaja melakukannya?”

Chanyeol menoleh sebentar memperhatikan ke arah sunbae itu beberapa detik dan kemudian melempar pandangan secara menyeluruh hingga matanya bertemu dengan Sehun. Ia memperlihatkan senyuman kecil. “Maaf aku mengganggu permainan. Tapi ada hal penting yang harus kubicarakan dengan temanku,” ucap Chanyeol sambil mendekat ke arah Sehun. “Aku ingin meminjam pemain ini sebentar. Jadi, Kyungsoo, bisakah kau menggantikannya?”

***

HYEMI POV

Ada apa dengannya?

Sungguh dia benar-benar namja yang sama sekali tidak ku mengerti. Ada apa dengan sikapnya? Apa maksud dari ucapannya? Dan kenapa ia bisa menduganya? Aah, kenapa jadi memusingkan seperti ini. Benar-benar menyebalkan.

“Lagi-lagi aku melihat dirimu melamun. Sudah keberapa kali ini ya?”

Aku langsung menoleh memperhatikan sumber suara barusan. Ternyata Songyi.

“Aku hanya memikirkan beberapa hal,” ucapku terus terang sambil memperlihatkan senyuman kecil. “Songyi, kenapa kau belum pulang? Bukan seperti dirimu saja, pulang terlambat seperti ini.”

Aku melihat Songyi menarik ujung garis bibirnya tipis. “Kau tidak tau ya, kalau sekarang ada pertandingan basket paling bersejarah di sekolah ini,” ucap Songyi sambil memperlihatkan senyumannya. “Exo sedang bertanding basket. Ku pikir mereka pasti terlihat keren.”

Aku membulatkan mata begitu mendengar ucapan Songyi. “Apa semua anggota akan bermain?” tanyaku. Aku hanya ingin memastikan suatu hal.

Songyi tidak segera menjawab. “Kupikir tidak semua. Tapi, meskipun begitu, mereka akan tetap keren. Sebaiknya kau ikut, Hyemi,” ucap Songyi sambil menarik tanganku paksa untuk mengikutinya. Mengikuti ke aula yang hanya berjarak berapa meter saja dari kelasku. “Lihat, banyak sekali yang menonton mereka.”

Tanganku masih terus ditarik oleh Songyi sampai menembus kerumuan lapangan basket yang ku rasa benar-benar ramai. Aku benar-benar tak menyangka Songyi punya kekuatan sebesar ini, menerobos kerumuan orang seperti tadi hingga kita sampai ke barisan depan bukanlah hal yang mudah. Badanku memang kecil, tapi itu cukup menyakitkan ketika badanku berbenturan dengan badan lain.

“Lihat, kita sampai barisan ke depan kan?” ucap Songyi sambil merapikan bajunya yang sedikit berantakan, ah, tidak, kurasa itu benar-benar berantakan. Kancingnya bahkan ada yang sampai terlepas. Jelas saja, badan Songyi lebih besar daripada badanku, itu pasti lebih sulit untuknya.

Aku menganggukkan kepalaku merespon ucapan Songyi. Melihat ia merapikan bajunya, refleks aku juga mengamati bajuku dan ikut merapikan dasiku yang hampir tidak berbentuk lagi. “Aku benar-benar tidak tau kalau kau sekarang juga menjadi salah satu dari fans mereka,” ucapku sambil merapikan dasi. “Siapa yang kau suka?”

Aku melihat cengiran Songyi mengembang. “Semuanya,” ucapnya sambil terkekeh pelan. Benar-benar terdengar seperti Songyi yang ku kenal. “Tapi ngomong-ngomong, apa yang sedang Chanyeol lakukan?”

Mendengar nama Chanyeol sontak aku langsung menoleh ke arah lapangan mencari namja dengan nama itu.  Namja yang benar-benar membingungkanku dengan semua tindakannya, namja yang tidak pernah ku mengerti. Tapi, benar apa yang dikatakan Songyi, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan sekarang?

Aku melihat Chanyeol memasuki lapangan dengan seenaknya. Padahal permain basket sedang dimulai dan Chanyeol merusaknya dengan masuk ke tengah lapangan seperti itu. Aneh sekali.

“Lihat Hyemi, sekarang ia sedang mendekati Sehun? Menurutmu apa yang akan ia lakukan?” ucap Songyi sambil menunjuk tangannya ke arah Chanyeol. “Tatapan Chanyeol benar-benar tajam, aku tidak pernah melihat ia seserius ini.”

Melihat tatapan Chanyeol saat ini membuatku mengingat sesuatu dari beberapa waktu yang lalu. Bukankah tatapan itu sama dengan tatapan Chanyeol saat di perpustakan? Tatapan ketika ia mengamati Sehun dan bertanya padaku kalau orang yang ku sukai adalah Sehun. Ya, ampun, dia tidak mungkin menanyakan pertanyaan yang sama ditempat seperti ini kan? Chanyeol tadi tampak benar-benar aneh, tapi dia tidak benar-benar menjadi gila kan? Tidak, ia tidak boleh melakukannya.

Entah kenapa aku berlari ke arah Chanyeol yang mulai mendekati Sehun. Masa bodoh dengan perhatian dan tatapan aneh yang kudapat, masalah ini jauh lebih penting dari itu semua. Aku harus memastikan kalau Chanyeol tidak berkata konyol dihadapan Sehun.

Aku mengatur panjang pendek nafasku begitu aku ada dihadapan mereka, tentu saja dihadapan Chanyeol dan Sehun. Ku dapati mereka memandangiku dengan tatapan aneh, aih, apa yang ku lakukan ini salah? Ya, Hyemi, kau tidak bisa berbalik kembali sekarang, itu pasti akan lebih memalukan.

“Ada apa denganmu, hanjang?” tanya Chanyeol sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa kau berlari ketengah lapangan?”

“Eh?” aku tidak segera menjawab pertanyaan Chanyeol. Aku tadi berlari tanpa banyak berpikir dan sekarang aku menyesali perbuatanku ini. Tidak, Hyemi, kau tidak boleh mundur, bukankah kau berlari karena ingin memastikan sesuatu. “Ehm, kau tidak berkata macam-macam kan Chanyeol?”

Aku melihat tatapan menerawang diperlihatkan Chanyeol untukku. Seperti ada sesuatu yang ingin diketahuinya lebih tentangku. “Apa maksudmu dengan berkata macam-macam, hanjang?”

Bagaimana mungkin suara Chanyeol terdengar begitu nyaring seperti ini? Aku tidak mungkin bisa menyalahkan kesunyian dalam aula ini, aku tau aku yang menyebabkan kesunyian ini. Mereka semua pasti heran karena tindakanku. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana aku akan menjawab pertanyaan Chanyeol?

Aku menggigit bibirku pelan. “Kau tau  kemana arah pembicaraanku ini kan, Park Chanyeol,” ucapku pelan namun penuh penekanan berharap hanya Chanyeol seorang yang mendengar pertanyaanku. Namun, sepertinya itu mustahil, Sehun bahkan merubah ekspresi wajahnya ketika aku menyelesaikan kalimatku.

“Tindakanmu semakin memperjelas ini semua hanjang,” ucap Chanyeol masih dengan tatapan tajamnya. Namun kali ini ada yang berbeda, entah kenapa, aku merasa ada kekecewaan dari tatapannya itu, tapi itu tidak mungkin bukan. Untuk apa Chanyeol kecewa, itu tidak masuk akal.

“Jangan mengatakan lebih dari itu Chanyeol,” ucapku memperingati. “Sudah cukup dengan permainan kata ini.”

Chanyeol terkekeh pelan. Sedetik kemudian ia melemparkan pandangannya ke arah Sehun. “Ya, Sehun, apa kau tau, kalau hanjang menyuka,”

“Yaa,” aku sengaja berteriak untuk menghentikan kalimat yang akan dilontarkan Chanyeol sampai akhir. Dia benar-benar menyebalkan, bagaimana mungkin dia akan mengatakan itu. “Ku bilang berhenti.”

“Wae? Kenapa aku harus menurutimu?”

Dia kembali, Chanyeol kembali menjadi namja yang menyebalkan, tidak, dari kemarin memang dia sudah menyebalkan, tapi ini benar-benar lebih menyebalkan.

Aku sudah lelah dengan perdebatan ini, lebih tepatnya aku tidak ingin meneruskan obrolan ini ditempat ini, di hadapan Sehun, bahkan dihadapan semua orang. Dengan satu gerakan aku menarik tangan Chanyeol berharap aku bisa membawanya pergi dari aula. Namun keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, Chanyeol menahan gerakanku dan ia yang malah menarikku hingga aku bahkan jadi terlempar ke arahnya. Aigo, apa yang dilakukan.

Pandanganku kini tertutupi oleh dada bidang Chanyeol, dengan ragu aku mulai menengadah dan betapa terkejutnya aku ketika mataku dan mata Chanyeol saling bertemu dengan jarak sedekat ini. Ah, benar, ini bukan pertama kalinya aku melihatnya dari jarak sedekat ini, tapi entah kenapa, suasana kali ini sungguh berbeda.

Saat itu, Chanyeol hanya mengamatiku dari dekat, tapi ini, dia justru mempersempit jarak kita hingga akhirnya..

Dia menciumku.

*TBC*

Apa yang kalian pikirkan tentang part ini niih? Tulis saran dan kritiknya yaa..

Oh, ya, dari sini udah diceritain nih alasan kenapa di part pertama Chanyeol merebut ciuman pertama Hyemi di depan semua orang. Untuk kedepannya, flashback ceritanya ga dibagi dua lagi, tapi fokus ke masa-masa SMA Hyemi.

Oke, sekarang aku mau tebar pelukan niih buat kalian yang udah mau baca FF ini. *kabur semua* hehee.. Intinya thanks buat para readers yang udah mau nyempetin baca FF ku ini apalagi yang sempetin nulis serangkaian kata di kolom komentar. 🙂

~See You In Next Chapter~

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 9)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s