[EXOFFI FREELANCE] All is Patient (Chapter 4)

Poster All Is Patient

Title:

All Is Patient

Author:

Candyness

Lenght:

Chaptered

Genre:

Romance

Rating:

PG15

Main Cast:

Park Chanyeol (EXO)

Oh Sehun(EXO)

Son Wendy (RED VELVET)

Kang Seulgi (RED VELVET)

Other Cast:

EXO member

RED VELVET member

Seohyun (SNSD)

And many more

Disclaimer :
Fanfict ini murni karangan Author, dan fiktif belaka. Ff ini juga di publish di candynessblog.wordpress.com

Note:
Ini chapter 4 nya guys. Sorry telat update. Soalnya ramadhan si ya? Maklum. Hehe.

Happy Reading!~

.

18.00 KST

Chanyeol dan Wendy duduk di taman seperti saat Wendy menangis malam itu. Mereka hanya terus diam, Wendy takut untuk membuka percakapan, tapi dilain sisi Ia sangat benci suasana canggung seperti ini.

“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?” Wendy akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.

Chanyeol masih tetap diam dan terlihat memikirkan sesuatu

“Begini, Aku sudah membayar hutangmu itu kan?” kata Chanyeol tanpa menghadap Wendy.

“Ne” Wendy lemas mendengar kata hutang keluar dari mulut Chanyeol, sejak insiden pura-pura itu, Ia belum sempat membayar hutangnya pada Chanyeol dengan uang.

“Uang 220 juta won itu angka yang banyak” Ujar Chanyeol.

“Benar sekali. Maaf Aku belum bisa melunasinya” Wendy berucap maaf.

“Kau harus membayarnya” Ucap Chanyeol.

“Ne. Tapi hutang itu sangat banyak, jadi Saya belum bisa melunasinya sekarang”

“Kau tahu Aku memiliki banyak uang. Tapi 220 juta won itu banyak, walaupun itu hanya ibarat 22 won untukku”

Benar. Chanyeol benar, Ia memang pemuda dengan uang berlimpah dimana-mana. Wendy menjadi agak sedih mendengarnya, sekarang Ia menjadi merasa sangat miskin.

“Lalu bagaimana? Haruskah Saya menjadi sekretaris atau bahkan pembantu Anda?” Wendy menawarkan diri, Ia mau-mau saja menjadi pembantu Chanyeol, bukankah pembantu adalah pekerjaan yang tidak tercela?

Chanyeol diam beberapa saat.

“Saya tak apa jika harus menjadi pembantu Anda, saya ikhlas-ikhlas saja” Wendy menatap pemandangan langit jingga.

Chanyeol menghempaskan nafas berkali-kali dan mencoba melirik Wendy sekilas.

“Jadilah istriku”

Chapter 4

“Jadilah istriku”

“NE!?!” Wendy sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap Chanyeol penuh tanya. Chanyeol bahkan mengatakan 2 kata itu dengan muka tanpa ekspresi dan tanpa menghadapnya.

“Anda pasti bercanda! Mungkin maksud Anda ‘jadilah pembantuku’” Wendy tertawa garing dan kembali menatap langit.

“Aku serius”

Wendy langsung menghentikan tawanya dan menatap Chanyeol lagi. Kali ini Chanyeol juga menatap mata Wendy.

“Jadilah istriku. Itu adalah caramu untuk membayarku. Ini hanya sementara, mungkin 6 bulan. Setelah itu Kita akan bercerai dan tidak ada namanya Kau berhutang padaku lagi” Ujar Chanyeol.

“Maaf, tapi itu mustahil. Kita tidak saling mencintai” Wendy menolak dengan halus.

“Bukankah Aku bilang hanya 6 bulan? Itu adalah waktu yang singkat! Kita tidak perlu saling mencintai”

“Saya akan tetap menolak dengan halus” Wendy berusaha untuk tetap berkata dengan tenang. Padahal dirinya sedang emosi pada Chanyeol, bagaimana bisa Ia menikahi Pria yang tak Ia cintai sama sekali?

Ah iya, Wendy ingat rumor yang sedang hot di perusahaan, yaitu rumor bahwa Chanyeol abnormal alias gay.

“Direktur, apakah rumor yang beredar di perusahaan adalah benar?”

Chanyeol menelan ludahnya. Kenapa semua orang membicarakan dirinya seperti itu? Padahal jelas kalau Ia normal.

Chanyeol tertawa hambar.

“Menurutmu?” Chanyeol menghadap Wendy.

“Saya tidak percaya rumor itu. Rasanya aneh. Dan juga tidak ada bukti-bukti yang jelas” Ujar Wendy tanpa ragu. Itu memang pemikirannya.

“Tak usah mengelak jika memang Kau menganggapku begitu” Ujar Chanyeol enteng.

Aninde. Saya merasa rumor itu tidak benar”

“Kau benar. Aku sangat normal. Kenapa Mereka mengataiku begitu? Jelas saja karena Aku tak pernah terlibat dengan yeoja sejak Aku putus dengan pacarku saat di JHS”

Wendy mengangguk-angguk, dari awal Ia memang tak percaya Chanyeol adalah gay.

“Kutunggu kabar darimu besok. Aku akan menerima apapun jawabanmu, tapi Aku sungguh berharap Kau mau menikah denganku” Chanyeol berdiri lalu pergi meninggalkan Wendy yang terduduk sendiri.

~

Di apartemen, Wendy memikirkan semua kata-kata Chanyeol.

‘Jadilah Istriku’

“Jadilah istriku” Wendy menirukan kata-kata Chanyeol waktu lalu.

“Semudah itukah Ia mengatakannya?” Wendy mendesah. Kata-kata itu benar-benar ampuh untuk membuat Wendy tak juga terlelap. Kata itu terngiang jelas di otaknya. Bagaimana bisa Chanyeol mengatakan hal-hal seperti itu?

Ah, apakah Chanyeol ingin menghindari rumor kalau Ia gay itu?

“Yah mungkin saja” Gumam Wendy.

Wendy benar-benar bingung apakah Ia akan menerima tawaran Chanyeol untuk menikah dengannya atau tidak.

Tapi benar juga kata Chanyeol. Wendy pasti butuh waktu yang sangat lama untuk bisa melunasi hutang sebanyak 220 juta won itu dengan uang. Kira-kira butuh waktu ratusan bulan untuk melunasinya.

Tapi Jika menikah dengan Chanyeol, Ia hanya harus bertahan selama 6 bulan. Lalu hutangnya lunas.

Tapi, permasalahannya adalah Ia dan Chanyeol tidak mencintai sama sekali. Bagaimana bisa ada pernikahan tanpa cinta? Rasanya mustahil.

Tapi ingatlah! Tak ada sesuatu yang tak mungkin di dunia ini.

Aish! Wendy benar-benar pusing dibuatnya.

…………………………………….

Pagi datang.

Pukul 9, Seulgi datang ke Kantor. Ia melihat Sehun sedang bersama seorang yeoja.

Semangat!” Ucap gadis yang bersama Sehun itu lalu mencium pipi Sehun. Dan lihatlah, Sehun palah tersenyum dan mengusap rambut gadis itu. Seulgi yang melihatnya tak percaya. Apakah itu pacar Sehun?

Picture 1

Seulgi malas melihat itu. Ia cemburu. Ya, cemburu. Jadi Sehun sudah memiliki pacar? Kenapa tak bercerita pada Seulgi?

Seulgi langsung saja masuk ke Kantor tanpa melihat itu lagi. Ya, sejak kejadian saat Seulgi menanyai Sehun tentang Ibunya, hubungan mereka menjadi renggang. Saat Mereka bertemu, tak menyapa satu sama lain, jadi Mereka seperti orang asing.

Sebenarnya Seulgi ingin sekali kembali seperti semula. Mengobrol bersama dan lainnya. Tapi berhubung Sehun cuek dan sepertinya Sehun juga sudah memiliki pacar, Seulgi menjadi malas menyapa Sehun.

“Seulgi, wajahmu kenapa? Gelisah sekali” Ujar Wendy.

“Ha? Tak apa, hanya kurang istirahat” Jawab Seulgi bohong. Sebenarnya Ia masih cemburu pada Sehun. Mood-nya jadi sering jelek karena pria itu.

“Son Wendy, Kau dipanggil Direktur Park” Ucap Sehun pada Wendy. Wendy mengiyakan.

Sehun melirik Seulgi sekilas, Ia hendak tersenyum tapi Seulgi sudah lebih dahulu pergi. Sehun menghela nafasnya.

Wendy yang seperti merasakan atmosfir tak biasa antara Sehun dan Seulgi mengerjap heran. ‘Ada apa dengan Mereka?’ Batinnya.

………………………….

Wendy menuju ke ruangan Chanyeol.

“Apa jawabanmu?” Chanyeol bertanya pada Wendy langsung ke intinya. Wendy tahu apa yang dimaksud Chanyeol tersebut.

Wendy menghirup oksigen lalu menghempaskannya. Chanyeol langsung menatap Wendy. Berharap-harap cemas, tapi Ia menutupi dengan wajah datarnya.

“Saya akan menerimanya” Ucap Wendy akhirnya. Ia menerima untuk menikah dengan Chanyeol selama 6 bulan. Ia sudah berpikir matang semalaman.

“Baguslah” Chanyeol tersenyum. “Nanti, Aku akan mengajakmu ke rumahku lagi untuk bertemu Ayah. Kita akan menentukan tanggal pernikahan” Ujar Chanyeol.

“Secepat itukah?” Tanya Wendy kaget.

“Ya, Ayahku yang menyuruhku cepat”

Yang bisa Wendy lakukan hanya mengangguk lemah.

…………………………

Malam harinya, Chanyeol dan Wendy menghadap Tuan Park, Ayah Chanyeol.

“Ayah, Kami menyetujui untuk menikah” Ucap Chanyeol pada Ayahnya.

Ayah Chanyeol tersenyum sebelah.

“Baiklah” Ujar Beliau.

“Apa kalian benar-benar setuju dengan ini?” Tanya Ayah Chanyeol.

Wendy dan Chanyeol mengangguk bersama.

Arasseo. Tanggal pernikahan Aku yang putuskan. Semua sudah tersiapkan, hanya tinggal membuat undangan. Aku sudah mempersiapkan semuanya”

Chanyeol dan Wendy lagi-lagi mengangguk.

“Terima kasih” Wendy mencoba untuk tersenyum, terlihat terpaksa.

………………………………

Chanyeol mengantar Wendy pulang ke apartemennya.

“Terima kasih telah mangantarku” Wendy tersenyum pada Chanyeol. Kini Ia dan Chanyeol sudah berbicara informal. Itu atas kemauan Chanyeol.

Chanyeol mengangguk tanpa tersenyum. Ia kembali melajukan mobilnya.

Saat sudah sampai di rumahnya, Chanyeol melihat benda persegi di tempat duduk mobilnya, tepat di sebelahnya.

~

Wendy masuk ke apartemennya. Ia merasa sangat lelah hari ini.

Disana ada Irene.

Eonni, Aku ingin bercerita padamu sesuatu” Ucap Wendy.

“Bercerita tentang apa?” Tanya Irene. Ia melihat wajah Wendy yang kelelahan dan terlihat lesu. Wajahnya juga serius. Irene menjadi penasaran.

Wendy menceritakan semuanya pada Irene. Menceritakan tentang pernikahannya dengan Chanyeol mendatang.

Jinjja? Kau akan menikah dengan Direkturmu?” Tanya Irene terkejut.

Wendy mengangguk.

“Hey, kenapa baru cerita sekarang?” Irene memukul pelan lengan Wendy. “Aigoo, Aku saja belum menikah”

Wendy bersyukur kakaknya ini tidak mengomelinya. Memang Ia tidak bercerita kalau pernikahan ini hanya untuk keuntungan masing-masing pihak, tidak karena cinta.

“Aku berdoa yang terbaik untukmu” Ungkap Irene. Mata Wendy menjadi berkaca-kaca. Pastinya. Setelah menikah, Ia tentu akan tinggal bersama keluarga Chanyeol dan akan berpisah dengan Irene.

Irene tersenyum. “Jangan menangis!” Suruh Irene pada Wendy, namun Wendy sudah terlanjur menangis, namun Ia juga tersenyum.

~

Picture 2

Chanyeol membuka ponsel Wendy. Entah kenapa tangannya menyuruhnya untuk membuka foto-foto Wendy. Disana banyak sekali foto selca Wendy dan ada juga foto-fotonya bersama Irene maupun Seulgi.

Chanyeol tersenyum tanpa disadarinya. Ia baru menyadari kalau Wendy itu sangat cantik.

“Apa ini? Kenapa Aku tersenyum” Ucap Chanyeol pada dirinya sendiri.

Drrt.. drrt…

Ponsel Wendy bergetar. Disana tertulis “Eomma

Chanyeol bimbang antara harus mengangkatnya atau tidak, jika mengangkatnya, itu berarti Ia lancang. Namun Ia penasaran.

Akhirnya Chanyeol mengangkatnya.

“Wendy-ya, akhirnya Kau mengangkat telpon dariku. Kenapa selama ini Kau tak mengangkat telponku? Kau masih benci padaku? Tak apa, Aku mengerti” Ibu Wendy berkata, nadanya agak sedih. chanyeol hanya diam mendengarkan.

“Aku tahu Kau marah padaku Wendy, tapi terima kasih telah melunasi hutang almarhum Ayahmu. Aku sangat berterima kasih. Tapi, bagaimana Kau membayarnya?”

Chanyeol masih tetap diam, tetapi Ia tercengang. Jadi, Wendy anak yatim?.

“Kenapa Kau hanya diam saja? Aku sangat merindukan suaramu Nak! Kenapa Kau membenciku? Aku tahu Aku salah” Suara Ibu Wendy terdengar parau.
“Baiklah, Kau boleh membenciku. Terima kasih Kau telah mengangkat panggilan dariku. Keuno (kututup)” panggilan pun terputus. Chanyeol membeku di tempatnya. Ternyata Wendy sudah tak memiliki Ayah.

~

Wendy mencari-cari ponselnya, Ia ingin mengobrol lewat telepon dengan Seulgi. Ia ingin bercerita semuanya pada Seulgi juga.

“Aish, dimana ponselku!” Wendy menggeram.

Ia sudah mencari-cari ponselnya di seluruh sudut apartemennya. Tapi nihil, tak Ia temukan.

“Atau jangan-jangan…….. Andwae!” Wendy berteriak histeris, untung saja Irene tidak mendengarnya, kalu dengar bisa-bisa Wendy diomeli habis-habisan oleh kakak sepupunya itu karena berteriak di malam hari seperti orang gila.

Ia berpikir mungkin saja ponselnya tertinggal di rumah Keluarga Park.

…………………………………

Pagi harinya, Wendy menemui Seulgi.

“Seulgi, Aku ingin bercerita” Ucap Wendy.

“Baik. Ceritalah” Seulgi mempersilahkan.

Wendy bercerita lengkap tanpa kurang pada Seulgi. Ia juga bilang kalau Ia dan Chanyeol hanya menikah untuk keuntungan masing-masing saja. Padahal Ia tak bercerita pada Irene tentang itu. Ia hanya tak mau Irene menghawatirkannya.

“Mwo?” Seulgi tak kalah terkejut seperti Irene tadi malam.

“Ey, kecilkan volume suaramu!” Omel Wendy.

“Mian” Seulgi meminta maaf. “Bagaimana bisa Kau menikah dengan orang super datar macam Direktur?” Bisik Seulgi.

“Tak ada cara lain” Wendy menunduk lesu.

“Son Wendy, Direktur memanggilmu” Sehun bicara pada Wendy tanpa melirik Seulgi.

“Ya. Seulgi, Aku ke ruangan direktur dulu ya?”

Seulgi mengangguk. Wendy langsung saja pergi bersama Sehun. Membuat Seulgi menatap Mereka berdua dengan helaan nafas.

“Ini ponselmu” Chanyeol menyerahkan ponsel pada Wendy.

Wendy langsung menyambarnya.

“Terima kasih. Kau tak membuka macam-macam kan?” Tanya Wendy.

“Te.. tentu saja tidak” Chanyeol agak terbata, tetapi tertutupi wajah datarnya.

Wendy bernafas lega.

…………………………..

Hari-hari berlalu, akhirnya tanggal pernikahan sudah diputuskan. Besok adalah hari pernikahan Chanyeol dan Wendy. Beberapa hari ini, Wendy dan Chanyeol sering bolak-balik ke butik Park Yoora, kakak Chanyeol untuk pemeriksaan gaun. Yoora secara spesial menjadi desainer baju pernikahan Chanyeol dan Wendy. Bagi Wendy, Ia membuatkan 2 gaun, entahlah, satunya untuk apa, hanya Dia dan Tuhan yang tahu. Chanyeol dan Wendy saja tidak tahu apa yang Yoora rencanakan.

Malam harinya, Wendy maupun Chanyeol sama-sama sulit terlelap. Tidak tahu penyebab pastinya, tetapi bisa saja Mereka gugup karena besok adalah hari pernikahan Mereka. Walaupun pernikahan ini hanya drama.

Hubungan Wendy dan Chanyeol juga biasa saja, diantara Mereka tidak ada yang saling mencintai, mereka bahkan tidak berakting mesra jika di depan orang lain. Padahal Yoora sering menggoda Mereka. Jawaban Chanyeol enteng. “Aku tak mau mengumbar kemesraan di depan orang jomblo” tentu saja Yoora menjadi kesal.

………………………………………

Sebuah pernikahan sedang terlaksana. Banyak sekali tamu penting yang datang, diantaranya adalah pemegang perusahaan di Perusahaan Park. Irene dan Seulgi tentu menghadiri pesta pernikahan itu. Hari itu, Seulgi terlihat sangat cantik. Ia sudah berjanji pada Wendy untuk tampil cantik di pesta pernikahan sahabatnya.

Seulgi menyapa Wendy di ruang rias.

“Wendy, Kau sangat cantik” Seulgi memuji Wendy.

“Tentu saja, Dia kan adikku” Ucap Irene. “Kau juga sangat cantik” Irene memuji Seulgi. Seulgi tersenyum “Kau tak kalah cantik Eonni!”

Tapi muka Wendy terlihat masam. Ia juga seperti menahan air mata.

Waeyo?” Tanya Seulgi melihat ekspresi Wendy.

Wendy berkata Ia sedih karena yang menjadi walinya adalah wali pengganti.

Seulgi dan Irene menenangkan Wendy.

“Tak apa, semua pasti ada hikmahnya. Jangan menangis. Nanti make up mu luntur sayang” Ujar Irene.

“iya, Kau harus bahagia” Seulgi menyemangati Wendy.

Wendy kemudian tersenyum dan memeluk Mereka berdua.

Tak lama kemudian, datanglah Park Yoora. Ia datang untuk memeriksa gaun Wendy.

“Kau sungguh cantik. Lihat saja, nanti Chanyeol pasti akan terpana melihatmu” Ucap Yoora. Semua orang disana tersenyum, tetapi Seulgi agak ragu, apa benar Chanyeol akan menjaga Wendy tanpa menyakiti gadis itu padahal pernikahan Mereka tanpa cinta?. Ya, satu-satunya yang tahu kalau pernikahan ini hanya drama belaka selain Wendy adalah Seulgi.

~

Acara dimulai, Wendy berjalan menghampiri Chanyeol dengan wali penggantinya. Chanyeol sangat terpana melihat Wendy. Saat ini Wendy terlihat sangat cantik.

“Kau cantik” Ujar Chanyeol setelah menggenggam tangan Wendy. Wendy menghadap Chanyeol sekilas lalu tersenyum kecil. Padahal tadi Chanyeol memujinya dengan muka tanpa ekspresi. Tetapi Wendy tetap merasa senang karena dipuji. Tak bisa dipungkiri, Chanyeol juga terlihat tampan, Ia mengenakan tuxedo hitam rapi dan rambutnya dinaikkan.

Setelah itu, Chanyeol dan Wendy mengucapkan janji suci sehingga Mereka sah menjadi suami-istri.

Semua tamu bertepuk tangan kemudian menyalami Mereka.

Saat Sehun berniat menghampiri Chanyeol, Ia melihat Seulgi yang terlihat sangat cantik. Ia sempat terpana. Tapi sesaat kemudian Ia melihat Seulgi menatapnya dingin. Ia ingin tersenyum tapi Seulgi langsung saja memalingkan mukanya.

Kenapa bisa Seulgi begitu? Ya, karena Sehun membawa gadis yang waktu itu dilihat Seulgi di depan kantor. Itu membuat Seulgi tambah cemburu. Seulgi memang ingin move on dari Sehun, tapi rasanya susah.

~

Saat ini Wendy memakai gaun yang berbeda, masih nuansa pernikahan, tetapi gaun ini lebih mudah dipakai untuk berjalan. Gaun ini rancangan Yoora.

“Oh ya, Wendy, kau harus bernyanyi! Aku sangat ingin mendengar suaramu” Usul Yoora. Ah, ternyata ini adalah rencana Yoora.

Wendy hanya bingung.

“Ayo, tak apa, kenapa harus bingung?” Ujar Yoora, Chanyeol menatap Wendy. Dan wendy bertanya pada Chanyeol melalui matanya. Tapi Chanyeol hanya diam tak berekspresi.

Tuan Park pun mengangguk. “Aku ingin melihat penampilanmu” Ucap Ayah Chanyeol.

Akhirnya dengan penuh keterpaksaan, Wendy menuju ke atas panggung.
Musik mulai mengalun.

 

Anayo eonjebuteoyeossneunji
(Apa kau tahu? Aku tidak tahu sejak kapan)

Geudae misoga jichin nareul swige haneyo
(Tapi senyummu membuatku nyaman)

Sechan gujeun biga naeryeodo apeun nunmul biga doeeodo
(Bahkan jika hujan turun, bahkan jika itu berubah menjadi tetesan air mata penuh rasa sakit)

Sesang modu byeonhanda hayeodo
(Bahkan jika itu mengubah seluruh dunia)

 

Anayo al su eopsneun gidarim
(Apa kau tahu? Aku tidak sabar ingin tahu)

Sarangi anin sangcheoga doelkka duryeowo
(Hal yang menyakitkan ini, bukanlah cinta, aku takut)

Gutge mameul meogeo boado dathin mame dasi sumeo bwado
(Bahkan jika aku mencoba menghentikan perasaan ini bahkan saat aku mencoba menyembunyikan perasaan ini)

Geudae eoneusae dagawa nawa hamkke issneyo
(Kau datang ke sisiku dan tetap bersamaku)

 

Gomawoyo i sesangi da muneojil deut apeudaedo
(Terima kasih, bahkan jika duniaku menyakitiku sebagai kehancuran)

Eonjerado guhaejul saram geudaeppunijyo
(Orang yang selalu melindungiku hanyalah dirimu)

Gomawoyo jeo haneuri tto urireul himdeulge haedo
(Terima kasih, bahkan jika langit membuat kita sulit)

Hamkkehal saram na geudaeppunijyo
(Kau satu-satunya orang yang tetap bersamaku)

 

Anayo uri unmyeong iran geol
(Apa kau tahu? seperti apa takdir kita)

Mireonaebwado eojjeol su eopsneun ikkeullim
(Perasaan ini tidak akan hilang)

Jigeum salmi kkeutnanda haedo jukgo dasi taeeonanda haedo
(Sekarang, ketika kehidupan telah berakhir seperti mati dan dilahirkan kembali)

Myeot beonigo geudael manna dasi gamsahalgeyo
(Beberapa kali aku bertemu denganmu, Sekali lagi terima kasih)

 

Gomawoyo i sesangi da muneojil deut apeudaedo
(Terima kasih, bahkan jika duniaku menyakitiku sebagai kehancuran)

Eonjerado guhaejul saram geudaeppunijyo
(Orang yang selalu melindungiku hanyalah dirimu)

Gomawoyo jeo haneuri tto urireul himdeulge haedo
(Terima kasih, bahkan jika langit membuat kita sulit)

Hamkkehal saram na geudaeppunijyo
(Kau satu-satunya orang yang tetap bersamaku)

 

Dan harudo geudae eopsi andwaeyo
(Hanya satu hari, aku tidak bisa hidup tanpamu)

Ije al geot gata geudaega issgie na isseosseumeul
(Sekarang aku tahu, aku akan berdiri di sisimu)

 

Saranghaeyo naui salmi tto eodum soge gathindaedo
(Aku mencintaimu meskipun, hidupku akan berada dalam kegelapan lagi)

Dan hanjulgi bicci doel saram geudaeppunijyo
(Orang yang membawa cahaya untukku hanyalah dirimu)

Jeo haneuri simsuri naseo uril tto himdeulge haedo
(Bahkan jika surga marah dan membuat kita lebih sulit lagi)

 

Jikyeojul saram na geudaeppunijyo
(Orang yang selalu melindungiku hanyalah dirimu)

 

(Wendy (Red Velvet) – Let You Know (D-Day OST Part.1))

Picture 3

Semua orang tersentuh dengan nyanyian Wendy. Ini benar-benar bagus. Penonton terbawa emosi.Bahkan Sehun dan Seulgi hampir menitikkan airmatanya. Dan tentunua, Chanyeol sangat terkagum dengan suara emas Wendy. Suaranya tak kalah dari penyanyi-penyanyi di Korea.

Semua orang bertepuk tangan sangat keras. Wendy membungkuk di atas panggung lalu tersenyum.

“Wendy, Kau sangat bagus! Daebak!” Yoora menunjukkan kedua jempolnya.

Wendy berterima kasih.

“Chanyeol Hyung saja sampai terpana” Sehun tiba-tiba datang. Perkataannya tadi membuat Chanyeol melotot padanya

“Sehun-ssi, sebelahmu siapa? Yeojachingu?” Tanya Wendy pada Sehun. Ia ingin bertanya pada Sehun karena akhir-akhir ini Seulgi bercerita padanya kalau Sehun sering bersama gadis yang sepertinya pacarnya itu. Sehun tersenyum. Ia akan mengenalkan gadis itu. Tapi….

“Wendy, Aku ingin ke toilet. Toiletnya dimana?” Ucap Seulgi tiba-tiba. Sehun menjadi semakin merasa kalau Seulgi menghindarinya.

Sehun menghela nafas lalu mengenalkan gadis di sebelahnya.

“Kenalkan, ini Kim Saeron, sepupuku. Dia masih kelas 2 SHS” Ujar Sehun.

Ah, sekarang Wendy paham, gadis itu hanyalah sepupu Sehun. Jadi, Seulgi cemburu pada sepupu Sehun? Wendy menjadi ingin sekali menggoda Seulgi.

Drrt.. Drrt..

Ponsel Sehun berbunyi. Ia melihat siapa peneleponnya.

Di layar tertulis ‘Ayah’. Sehun mengangkatnya.

“Ne? Baiklah, Aku kesana. Ayah tunggu Aku” Ucap Sehun di telepon lalu menyeret Saeron.

“Jeosonghabnida, ada sesuatu mendesak” Ucap Sehun pada semuanya.

“Ya, sepertinya penting” Ucap Chanyeol.

“Saya pergi” Sehun langsung pergi dengan Saeron yang kebingungan.

Saat Seulgi kembali dari toilet, Ia melihat Sehun menyeret Saeron dengan terburu-buru. Seulgi menjadi heran. Kenapa Sehun seperti dikejar setan? Aneh sekali.

………………………….

Chanyeol dan Wendy masuk ke rumah keluarga Park. Barang-barang Wendy sudah dipindahkan, Ia masih memakai gaunnya.

Saat Wendy masuk, seperti biasa, semua pelayan menyambutnya dengan cara membungkuk 90 derajat. Wendy tersenyum pada Mereka.

Wendy dan Chanyeol masuk ke kamar Chanyeol. Kamar itu sangat luas. Disana ada sebuah kasur berukuran besar, lalu sebuah sofa dan meja, serta ada kamar mandi. Tak lupa, disana ada ruangan khusus untuk menyimpan baju-baju. Dan ternyata disana juga ada sebuah perpusakaan kecil. Wendy sangat terkagum dengan semua itu.

Wendy duduk di sofa, sedangkan Chanyeol bersiap untuk mandi.

“Kutahu Kau sangat lelah. Tapi tolong mandilah. Aku tak mau kamarku menjadi bau” Ucap Chanyeol. Wendy menoleh, Ia mengangguk, tapi Ia merasa sedih dibilang bau, Ia memang miskin, tetapi tidak sejorok itu. Justru Wendy adalah wanita pecinta kebersihan.

“Silahkan Kau duluan” Ujar Wendy.

“Tidak, wanita duluan”

“Baiklah”

Akhirnya Wendy mandi duluan. Saat Ia keluar, Ia melihat Chanyeol menata bantal di sofa.

“Kau tidur di sofa” Suruh Chanyeol.

Wendy mengangguk. Wendy tahu diri, tanpa disuruh Wendy memang akan tidur di sofa.

“Sabarlah untuk hari ini, besok Kita akan menuju ke rumahku. Aku membeli sebuah rumah dengan 3 kamar. Sementara ini, Kau tidurlah di sofa” Chanyeol berkata sambil melesat menuju kamar mandi.

Drrt…. drrt..

Wendy mendapat telepon dari Ibunya. Ia membiarkannya, tak mau mengangkatnya. Alasannya adalah karena Ia kecewa pada Ibunya.

Drrt…. drrt..

Ibu Wendy kembali menghubungi. Wendy mendengus dan akhirnya Wendy mengangkatnya, selama ini Ia memang tak pernah mengangkat telepon dari Ibunya itu.

“Terima kasih Kau mengangkat teleponku lagi” Tutur Ibu Wendy di telepon. Wendy heran dengan kata ‘lagi’. Memangnya kapan Ia mengangkat telepon dari Ibunya?

“Ada apa?” Tanya Wendy dingin.

“Syukurlah Kau mau bicara, Aku senang sekali”

Wendy mati-matian menahan airmatanya. Jujur, Ia memang merindukan Ibunya, tapi mengingat Ibunya yang meninggalkan Ayahnya yang sakit-sakitan lalu menikah lagi membuat Wendy sakit hati. Dan setelah ayahnya meninggal, Wendy mencari pekerjaan untuk membiayai hutang Ayahnya sendiri. Bahkan Ibunya tak membantu sama sekali. Itu miris.

Wendy mematikan sambungan telepon dengan Ibunya. Ia tak mau menangis disini. Tak mau keluarga Chanyeol salah paham. Ia memilih untuk tidur.

Sofa ini nyaman untuknya, Ia tak mempermasalahkan tidur di sofa jika memang sofa ini nyaman baginya.

Tak lama kemudian, Wendy terlelap. Dan ponsel Wendy terus bergetar karena Ibunya terus meneleponnya lagi.

Chanyeol yang mendengar getaran-getaran itu merasa terganggu.

Ia melihat nama di layar ponsel Wendy. Chanyeol menatap Wendy yang tertidur dengan lelap. Ia terlihat sangat imut dan seperti anak kecil.

Akhirnya Chanyeol men-silent ponsel Wendy.

Lalu beberapa pesan masuk ke ponsel itu.

(Message from ‘Eomma’)

Anakku, selamat atas pernikahanmu

Aku senang Kau mengangkat telepon dariku tadi

Kau harus tidur dengan nyenyak

Wendy, Aku sedih Kau mengacuhkan Ibumu ini

Selamat malam Anakku. Semoga Kau
bahagia selalu bersama suamimu

Chanyeol membaca pesan-pesan itu. Ia melirik Wendy lalu meletakkan ponsel Wendy ke sebelah gadis itu.

~

Seulgi pulang ke rumahnya. Ia langsung mandi dan memakai baju santai.

Yeri tidak ikut ke pernikahan Wendy karena hari ini Ia sedang ada tugas dari sekolah untuk mengikuti seleksi lomba dance.

“Eonni, kenapa lesu sekali?” Tanya Yeri.

“Apakah sangat terlihat?” Seulgi balik bertanya. Yeri mengangguk.

“Apa karena Sehun Oppa lagi?”

“Tidak, Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan” Ucap Seulgi bohong.

“Kau tidak pandai berbohong Eonni!” Yeri mengetahui kalau Seulgi bohong.

Ting-Tong. Bel apartemen berbunyi.

Seulgi membuka pintu, tapi Ia terlihat sangat kaget.

“Se.. Sehun” Ucap Seulgi terbata. Ia melihat penampilan Sehun, wajah dan rambutnya terlihat kusut.

Mereka berpandangan.

“Eonni nu—” Perkataan Yeri terputus saat melihat Sehun yang datang. Ia tak mau mencampuri urusan mereka, jadi Ia memilih untuk masuk ke kamarnya.

Sehun dan Seulgi masih berpandangan, Sehun tidak mengatakan apapun pada Seulgi.

Sehun menitikkan airmatanya secara tiba-tiba dengan tatapan kosong, membuat Seulgi terkejut. Sehun terus mengeluarkan airmatanya tanpa suara masih memandang Seulgi lalu menghela nafas. Seulgi yang ikut terlarut menjadi ikut berkaca-kaca, tak bisa dipungkiri, Ia menjadi ikut sedih saat melihat Sehun seperti ini.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Seulgi masih dengan matanya yang berkaca-kaca.

Sehun menggeleng lalu sedetik kemudian menaruh kepalanya di pundak Seulgi. Seulgi menegang.

Sehun masih tak mengatakan apapun, namun Ia tetap bertahan posisi dengan meletakkan kepalanya pada pundak Seulgi, membuat jantung Seulgi berdetak sangat cepat.

Seulgi merasa ada yang tidak beres. Ia memeluk Sehun. Mengusap punggung Pria itu. Ia melupakan semua yang terjadi kemarin, yang terpenting sekarang Ia harus menenangkan Sehun.

“Apa yang terjadi?” Tanya Seulgi.

Sehun masih bungkam, Ia menegakkan kepalanya lalu memeluk Seulgi balik. Ia menyamankan posisinnya dan kembali meletakkan kepalanya di pundak Seulgi. Kini Ia bisa merasakan jantung Seulgi yang berpacu terlalu cepat.

Seulgi terus mengusap-usap punggung Sehun, bermaksud menenangkan sambil bertanya dalam hati ‘Apa yang terjadi?’

………………………..

Sehun duduk di sofa. Seulgi duduk di sebelahnya.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Seulgi.

Sehun palah menunduk lesu.

“Seulgi, bolehkah Aku menginap disini?” Tanya Sehun.

Seulgi mengangguk.

Boleh pastinya. Seulgi yakin Sehun butuh istirahat. Ia menuju ke kamarnya.

“Aku sudah menata kamar. Kau boleh tidur disana. Aku akan tidur dengan Yeri” Seulgi menuju ke kamar Yeri. Sehun mengangguk lalu masuk ke kamar Seulgi.

Kamar ini sangat rapi. Ternyata Seulgi tak berubah dari dulu. Seulgi masih tetap rapi.

Sehun merebahkan badannya. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Flashback

Sehun berlari sangat cepat menuju sebuah ruangan di rumah sakit. Saat membuka ruangan itu, Ia melihat Ibunya sudah tertutupi kain putih, dan disebelahnya Ayahnya sedang menangis.

Saeron menatap Sehun. Ia menjadi sedih.

“Oppa” Lirih Saeron.

Sehun mendekat lalu membuka kain putih itu, dan benar saja, Ibunya sudah meninggal. Sehun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menangis. Ayahnya yang ada di sebelahnya menyentuh punggung Sehun dan mengusapnya.

Eomma” Kata Sehun lirih. Setelah itu Ia mendudukkan diri di lantai sebelah Ibunya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis dengan keras.

“Ibu, Kau tak bisa pergi seperti ini”
“Tidak bisa Ibu”
“Bagaimana bisa…”
“Ibu, jangan tinggalkan Aku”
“Ibu… kembalilah, kumohon… Ibu…”

Ucap Sehun bertubi-tubi sambil menangis tersedu dan menggenggam tangan Ibunya. Ayah Sehun menjadi semakin sedih. Saeron juga mulai menitikkan airmata.

Sehun tidak bisa menerima ini, bagaimana bisa Ibunya meninggal secepat ini? Sehun menjadi sangat terpukul. Ia sangat menyayangi Ibunya. Ia rasanya seperti mau mati saja.

Sehun bangkit lalu pergi keluar meninggalkan rumah sakit.

Flashback End

Sehun kembali menitikkan airmatanya. Ia pergi ke rumah Seulgi untuk bersandar. Ia ingin mengadu pada Tuhan. Tapi tak akan ada yang berubah. Semua pasti akan mengalami kematian.

Sehun menutupi matanya dengan lengannya dan mulai terpejam dengan mata yang mengalirkan air.

………………………….

Pagi harinya, Seulgi sudah membuat sarapan. Yeri juga sudah berangkat ke sekolah. Seulgi membuka pintu kamarnya. Disana Ia melihat Sehun dengan keringat dingin dan menggumamkan kata ‘Ibu’ dengan airmata yang keluar. Seulgi membangunkan Sehun.

“Sehun..” Ucap Seulgi. Sehun masih belum terbangun.

“Oh Sehun” Seulgi menggoyangkan badan Sehun.

Sehun akhirnya bangun. Ia langsung terduduk. Ia juga menatap Seulgi.

“Kau tak apa?” Tanya Seulgi. Sehun menghempaskan nafas lalu mengangguk lemah.

Seulgi mengelap keringat Sehun.

“Aku ingin mandi” Ucap Sehun. Seulgi mengangguk. “Kamar mandinya sebelah sana” Seulgi menunjuk kamar mandinya.

Sehun keluar menuju kamar mandi.

Ponsel Sehun bergetar, Seulgi mengangkatnya.

“Yeoboseyo, Sehun. Kau dimana? Cepatlah! Sekarang pemakaman Ibumu” Suara diseberang sana dari Ayah Sehun. Seulgi membelalakkan matanya mendengar kata ‘pemakaman Ibumu’.

“Maaf Samchon, ini Seulgi. Sehun sedang dirumahku sekarang”

“Ah Seulgi. Tolong sampaikan pada Sehun untuk menuju ke pemakaman. Aku tahu Dia sangat sedih, tapi tolong katakan padanya untuk tetap datang ke pemakaman”. Ucap Ayah Sehun. Seulgi mengangguk.

Sekarang Seulgi tahu selama ini Sehun selalu sensitif saat dirinya bertanya tentang Ibunya. Jadi alasannya adalah karena Ibu Sehun sedang kritis kemarin.

Ia jadi merasa bersalah pada Sehun.

~

Sehun keluar dari kamar mandi. Ia masih memakai tuxedo nya yang kemarin, tidak ada pilihan lain. Masa Ia harus memakai baju Seulgi? Tidak mungkin!

Sehun menghirup nafas dalam-dalam.

Seulgi sedang di meja makan langsung berdiri.

“Seulgi, terima kasih atas semuanya” Sehun tersenyum pada Seulgi. “Aku pamit. Aku harus mengurus sesuatu” Ucap Sehun lagi.

“Sehun, makanlah! Setelah itu Kau boleh pergi” Kata Seulgi pada Sehun.

“Tidak usah, Aku terburu-buru” Sehun mencoba tersenyum lagi. Walaupun rasanya susah tersenyum dalam keadaan sedih.

Seulgi melihat dasi Sehun yang tak tertata dengan benar. Mungkin karena efek kesedihan pemuda itu yang pasti belum hilang.

Seulgi menghampiri Sehun.

“Bagaimana bisa wakil Direktur kusut seperti ini?” Seulgi membenarkan dasi Sehun. Sehun tertegun, posisinya dan Seulgi sangat dekat sekarang.

“Jika Kau sedih, janganlah pendam sendiri. Katakan semuanya. Aku akan setia mendengarkanmu” Ucap Seulgi dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu karena merasa sedih mendengar tentang Ibu Sehun meninggal. Padahal dulu Sehun selalu menceritakan kisah tentang Ibunya, selalu membanggakan Ibunya. Ia bilang Ibunya sangat cantik, Ibunya pintar memasak, Ibunya selalu mencium pipi Sehun setiap hari. Jadi Seulgi tahu seberapa dalam kesedihan Sehun saat ini. Seulgi juga merasa menjadi teman yang tak berguna. Walaupun Mereka sudah lama tak bertemu, tapi Mereka tetap teman kan? Mereka bahkan dulu sangat sangat dekat. Seharusnya Sehun mau berbagi masalahnya dengan diri Seulgi. Tapi sekarang Sehun tidak begitu. Jadi Seulgi merasa menjadi teman yang tak berguna.

Mianhae, Aku adalah teman yang tak berguna” Lanjut Seulgi lagi.

Sehun menghentikan aktivitas Seulgi dengan memegang tangan gadis itu. Seulgi mendongak. Ia juga tertegun saat menyadari dirinya dan Sehun berada dalam jarak sedekat ini.

Mianhae” Ucap Sehun lirih.

Seulgi menggeleng. Ia langsung menjauhkan dirinya dengan Sehun setelah sadar bahwa dirinya berada dalam jarak yang sangat sangat dekat dengan Sehun sekarang.

“Aku akan ikut” Ujar Seulgi.

“Ikut?”

“Kau kira Aku tidak tahu?”

Sehun hanya diam, sejurus kemudian Ia mengangguk dan sedikit tersenyum.

………………………….

Chanyeol dan Wendy pagi-pagi sekali sudah menata barang-barang menuju rumah baru Mereka. Jarak rumah baru Mereka agak jauh dari kediaman keluarga Park.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah itu. Wendy lagi-lagi terkagum, rumah didepannya ini sangat bagus dan elegan, tempatnya juga luas. Harus Dia akui Chanyeol memang kaya raya.

Mereka masuk kedalam, di rumah itu ada 2 kamar utama dan 1 kamar tamu yang didalamnya masing-masing ada kamar mandinya, dapur yang luas serta ruang makan, juga ada 2 kamar mandi lagi, totalnya ada 5 kamar mandi. Tak lupa ada ruangan santai yang terdapat televisi di situ. Di lantai 2, ada sebuah perpustakaan yang luas. Buku-bukunya banyak dan tertata rapi. Disitu ada karpet yang di gelar, meja dan kursi membaca. Wah pokoknya sangat bagus, susah mendiskripsikannya. Di sebelah perpusakaan, ada sebuah ruangan kedap suara dan berbagai alat musik tertata di dalamnya, maklum, Chanyeol sangat menyukai musik.

lalu Wendy berjalan-jalan keluar. Chanyeol membiarkannya. Hari ini Chanyeol memang libur kerja, berhubung Ia baru saja menikah dengan Wendy.

Wendy berjalan-jalan disekitar rumahnya. Ralat. Rumahnya dan Chanyeol. Ia melihat ada seorang pemuda sedang menyiram bunga. Wendy menyukai bunga, Ia berniat menyapa pemuda itu. Walaupun Wendy sudah menikah, tak salah kan menyapa tetangga baru?

Anyeonghaseyo. Bunganya indah sekali” Ujar Wendy pada  pemuda itu dari belakang, Ia masih belum tahu siapa pemuda itu.

Pemuda itu berbalik. Wendy mengalihkan mukanya dari bunga indah itu ke pemuda pemilik bunga. Dan saat Wendy menatap muka pemuda itu. Mukanya langsung berubah, matanya membulat. Ia terus menatap pemuda itu.

“Son Wendy?” Tanya pemuda itu.

~TBC~

Bagaimana Chapter 4 nya? Pada bosen gak? Ini chapter emang puanjang bingits. Apalagi ceritanya aneh, hehe. Seperti biasa, RCL Juseyoo~. ^^

29 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] All is Patient (Chapter 4)”

  1. semoga wenyeol tidak berakhir dg bercerai tapi langgeng sampai kakek nenek~
    juga SeulHun cepet nyusul wkwkw
    Irene Suho yaaaa..

  2. Annyeong aku readers baru. baca nya kebutan nih jadi maaf ya kalo baru komen di chapter ini. Selanjutnya aku bakal komen terus, janji deh 😀 Waaa siapa ya pemuda itu? Author-nim! Semangat! aku suka sekali kalo cast nya member Red Velvet xx D

  3. Wahh critanya nambah seruu
    Ibunya sehun mninggal?
    Kasian sehun oppanya 😦
    Seulgi kamu cma salah paham itu yeoja yg sma sehun oppa vman sepupunya kox bukan pacarnya..huft

    Namja nugu??
    Knapa wendy smpai terkejut kya gtu??
    Hwaaa kakk aku pnasaran bngett sma klanjutanya
    Next juseyo 🙂

    Hwaiting!! Hwaiting!! ^^

    1. Komentarnya panjang bangeet. makasih lyoungie! kamu komen terus dari chapter 1. aku menghargai banget reader yang kek kamu. tetep komen yaa! ^^ 🙂

    2. Yehett..
      Itu mah belum panjang bangett kakk^^
      Panggil L/Ly/Youngie aja kakk biar gx ribett tersrah kakk mau manggil aku apa 🙂
      Ne cheonma 🙂
      Aigoo seneng bcanya 🙂 🙂
      Ok ok aku bakal coment trus ko kakk..hihihi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s