FORGIVENESS

forgiveness-for-nuevelavhasta

 

“You can do something about your future, but not with your past. Because the past is something we will never able to change”

Kris yang dulunya adalah pembunuh berdarah dingin yang terkenal, kini meninggalkan masa lalunya yang kelam dan memilih untuk menjadi misionaris gereja. Mengabdikan dirinya pada gereja dan Tuhan sebagai bentuk upaya untuk menghapus dosa-dosa yang telah ia perbuat.

FORGIVENESS

Len K’s work. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Kris Wu, Emma Lavoie (OC) | Rate : T, PG-15 | Genre : Spiritual, Western, Tragedy

Big thanks to Dek Beby for the poster. Also for Kak Liana for being beta-reader bahkan waktu epep ini belum kelar.

 

WARNING! Typo(s), rush, etc

.

[FORGIVENESS]

.

                La Loche. Sebuah kota kecil di Negeri Daun Maple dengan populasi berjumlah dua ribuan orang yang masuk dalam wilayah administratif provinsi Saskatchewan. Di salah satu sudut kota, terdapat sebuah gereja yang tidak begitu besar namun selalu didatangi oleh jemaat-jemaatnya.

Minggu siang ini, halaman gereja tersebut nampak ramai. Acara kebaktian rutin baru saja rampung digelar. Beberapa jemaat terlihat mengobrol, berdiskusi mengenai banyak hal. Dari hal-hal ringan sampai berat, dari yang berhubungan dengan gereja atau agama atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Beberapa anak yang kegiatan Sekolah Minggu-nya juga baru saja selesai nampak asyik sendiri-sendiri di halaman gereja. Ada yang berlarian, bercanda, merajuk pada orang tuanya untuk segera pulang, atau memilih untuk duduk-duduk di bawah pohon maple yang daunnya berguguran dengan apiknya.

Cuaca siang hari di musim gugur ini terbilang dingin―semakin dingin. Pertanda sebentar lagi musim dingin akan tiba dalam hitungan minggu. Tapi kehangatan di area gereja seolah dapat mencairkan suhu yang menyentuh lima belas derajat celcius. Sungguh, Kris tidak pernah menyangka jika dirinya bisa terdampar di kota kecil yang menyenangkan dan menangkan ini.

“Mr. Kris! Mr. Kris! Taylor mendorongku hingga aku terjatuh! Lihat, lihat, lututku lecet dan berdarah semua!” Liam, anak laki-laki dengan rambut coklat dan wajah dipenuhi bintik menarik-narik baju Kris. Menginterupsi obrolan si misionaris dengan Pendeta Atkinson.

Belum sempat Kris memberikan respon apapun, seorang bocah laki-laki lain yang bertubuh bongsor dan berambut hitam ikal menyela, “Aku kan sudah bilang kalau aku tidak sengaja! Mr. Kris, sungguh aku tidak sengaja!”

“Bohong! Kau pasti sengaja!”

“Tidak! Aku tidak mungkin bohong!”

Kris tersenyum kecil melihat pertengkaran itu. Setelah Pendeta Atkinson ikut terkekeh, menepuk pundak Kris, lalu ikut mengobrol bersama Mr. Harold, Kris berjongkok guna mensejajarkan tubuh jangkungnya dengan tinggi dua bocah yang tengah berseteru itu.

“Oke, aku minta maaf!” ucap Taylor setengah membentak. Kesal karena ia dituduh berbohong padahal kenyataannya tidak begitu.

“Tidak mau! Akan kubalas kau nanti! Awas, lihat saja!” telunjuk Liam terhunus pada Taylor.

“Hei, hei, tidak boleh seperti itu, Liam.” Suara rendah Kris terdengar.

“Tapi Taylor―”

“Apa kau masih ingat ayat hafalan kita tadi?” potong Kris.

Liam diam dengan bibir mengerucut. Alisnya berkedut berusaha mengingat. “Efesus pasal empat ayat tiga puluh dua: Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

“Bagus. Kau masih mengingatnya,” puji Kris. “Apakah sikapmu tadi sudah mencerminkan kasih terhadap sesama dan saling mengampuni?” tanya Kris yang dibalas gelengan oleh Liam. “Aku yakin Taylor tidak bermaksud untuk melukai atau mencelakaimu. Tapi dia sudah meminta maaf. Dan apa kau tahu apa yang harus kau lakukan sesuai ayat hafalan tadi?”

“Memaafkannya,” jawab Liam lirih. Sangat lirih hingga terdengar seperti bisikan.

“Nah, sekarang kalian berdua… ayo saling berjabat tangan,” perintah Kris lembut. “Ayo. Tunggu apa lagi?”

Akhirnya dua sahabat itu saling berjabat tangan dengan canggung. Melihatnya, Kris merasa lega sekaligus geli. “Nah, bagus. Seperti itu. Dan sekarang… sepertinya kalian harus pulang. Lihat, orang tua kalian sudah menunggu kalian.” Kris mengedikkan dagunya ke belakang dua bocah itu. Kedua orang tua bocah itu sudah menanti putra mereka.

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Mr. Kris!”

Pada akhirnya dua bocah itu kembali akur, dibuktikan dengan memberi salam perpisahan yang kompak untuk Kris, sama-sama melambaikan tangan pada Kris, dan sudah tertawa-tawa ketika berlari menuju kedua orang tua mereka. Kris tersenyum senang melihatnya sebelum kembali bergabung bersama Pendeta Atkinson.

Selama dua tahun belakangan ini hidup Kris berubah seratus delapan puluh derajat.

Sejak usia belasan, Kris sudah mulai meniti karirnya sebagai pembunuh bayaran. Seiring berjalannya waktu, namanya semakin melambung. Kesuksesannya dalam setiap misi selalu sempurna, tanpa cela. Orang-orang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk jasanya.

Kris juga tidak pernah tinggal di satu tempat dalam kurun waktu yang lama. Selalu berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain, negara satu ke negara lain. Ia punya lebih dari satu identitas dan keahliannya dalam membaur dengan sekitar membuatnya sama sekali tidak dicurigai sebagai pembunuh. Jejaknya sulit untuk diendus.

Namun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pun dengan rencana Tuhan. Kris juga begitu. Rasanya masih sulit mempercayai jika sekarang ia bisa menetap di satu tempat hingga setahun lebih. Sulit percaya jika dia lebih memilih mengakhiri karirnya yang menjanjikan pundi-pundi berlebih dan memilih untuk mengabdi pada gereja secara sukarela. Tapi Kris mensyukuri semuanya.

Tangannya sudah terlanjur berlumur darah dan dosa. Dan Kris sendiri tidak yakin apakah semua yang dilakukannya sekarang ini bisa menebus semua dosa-dosanya. Dirinya sudah jatuh terlalu dalam di lembah kegelapan dan dosa, dan selalu merasa sangsi. Namun perkataan Pendeta Atkinson selalu terngiang di kepalanya, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan[1].

Yah, setidaknya… Kris bisa memulai hidup barunya.

 

***

 

Sedan tua yang dikemudikan Kris memasuki pekarangan gereja yang sudah sepi. Tentu saja, ini sudah hampir tengah malam. Kris sendiri baru pulang dari tugasnya sebagai misionaris. Diarahkannya kemudi sehingga sedan tua itu masuk dengan pas di garasi gereja.

Sedan itu tidak Kris beli di showroom, melainkan ia dapatkan dari Mr. White, seorang pensiunan guru yang tinggal dua blok dari gereja. Sebagai bentuk balas budi karena Kris cukup sering membantu Pak Tua itu. Dari memperbaiki ledeng, atap rumah, atau hanya sekedar menemaninya.

Tapi ada alasan lain juga. “Mobil itu mobil kesayangan putraku. Ia ada di Spanyol sekarang. Dia bilang akan sangat disayangkan jika mobil ini teronggok begitu saja lalu rusak. Aku tahu mobil ini mungkin sedikit ketinggalan jaman tapi mesinnya masih bagus. Jadi kalau kau mau, kau bisa memilikinya. Putraku juga sudah setuju mengenai hal ini.” Begitu yang dikatakan Mr. White.

Deru sedan yang dikemudikan Kris berhenti lalu beberapa saat kemudian pria bertubuh jangkung itu keluar. Setelah berkeliling di tiga kota untuk melaksanakan salah satu tugasnya sebagai misionaris, yaitu menyebarkan ajaran Alkitab, menemani beberapa pendeta, ataupun membaptis orang, harus Kris akui jika tubuhnya minta istirahat.

Tapi Kris justru menuju ke gereja dan bukan kamarnya yang ada di kompleks gereja.

Kala Kris membuka pintu gereja, kesunyian dan kekosongan segera menyambutnya ramah. Kris lalu berjalan ke depan, duduk di kursi nomor tiga dari depan di barisan kiri dan mulai berdoa. Sebuah ritual rutin yang tidak bisa tidak dilakukannya. Salah satu manifestasi atas penebusan dosa-dosanya di masa lalu. Mozaik Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang berwarna-warni dan berukuran besar di depan sana terlihat bercahaya karena pantulan sinar rembulan. Bukan hanya itu, sinar sang dewi malam juga merayap masuk melalui jendela kaca dan celah-celah yang ada. Semakin menambah khidmat suasana.

Kris membuka Alkitab di tangannya. Membaca beberapa ayat sebelum melipat tangannya untuk berdoa. Selesai berdoa, ia juga belum beranjak dari tempatnya. Pikirannya masih mengajaknya untuk berkelana sebentar.

“Apa gereja ini masih buka?” suara lembut seorang gadis mendistraksi Kris dan pikirannya. Datang dua sekon lebih lambat daripada suara pintu dibuka.

Kris menoleh ke belakang. “Rumah Tuhan selalu terbuka kapanpun, untuk siapapun,” jawab Kris ramah. Kris bisa melihat gadis itu tersenyum.

Kemudian gadis itu berjalan ke depan. Kris bisa melihat betapa cantiknya gadis itu dalam balutan pakaian yang lumayan tebal untuk musim gugur. Tubuhnya tinggi semampai layaknya model. Rambut pirang platinanya seperti bersinar keperakan karena tersepuh sinar rembulan. Netra birunya menyejukkan. Belum lagi hidung mancung dan bibir tipisnya. Sungguh, perpaduan yang sempurna!

Gadis itu lalu duduk berseberangan dengan Kris dalam baris yang sama.

“Tidak banyak orang yang mau datang ke gereja malam-malam begini.” Kris membuka pembicaraan.

Gadis itu melempar senyum tipis pada Kris. “Tentu saja. Mereka lebih memilih untuk beristirahat atau pergi ke klub malam di saat-saat seperti ini.”

“Kau benar.” Kris terkekeh pelan.

“Kau pendeta di sini?”

“A, bukan. Aku masih seorang misionaris.”

“Ah, begitu rupanya,” gadis itu mengangguk, “lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Kris. Kris Wu. Itu namaku. Tapi kau bisa memanggilku Kris saja.” Jawaban Kris dibalas ‘oh’ kecil oleh gadis itu. “Dan siapa namamu, Nona?”

Lagi, senyum tipis gadis itu tertuju pada Kris. “Emma Lavoie.”

“Keturunan Prancis?” tebak Kris ketika mendengar nama belakang gadis itu dan aksen Prancis yang kental tiba-tiba menyeruak.

Emma mengedikkan bahunya. “Ya. Setengah. Ayahku orang Prancis dan ibuku orang Kanada.”

“Jadi kalau boleh tahu, apa yang kau lakukan malam-malam begini di gereja, Nona Emma?”

“Emma saja tidak masalah,” koreksi Emma sebelum menjawab, “Aku sebenarnya bertanya-tanya… apa pengampunan Tuhan itu ada?” netra Emma menerawang pada patung salib besar di depan, tepat di tengah.

Kris tersenyum. “Tentu saja ada. Tuhan selalu siap dan menunggu untuk mengampuni siapa saja yang meminta. Ada dalam Alkitab, ‘Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru pada-Mu[2]’.”

“Bahkan meski kita telah melakukan banyak dosa dan menjadi begitu kotor?”

“Ya, Tuhan itu pemurah dan penuh belas kasih… Emma.” Mendengar pertanyaan Emma tadi membuat Kris kembali berpikir mengenai masa lalunya. “Demikian besar kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita[3].”

“Lalu… apakah aku masih dapat diampuni jika aku mempunyai rasa marah dan atau dendam pada orang lain?” Emma bertanya lagi.

“Masih. Kau masih dapat diampuni, dengan catatan kau mengampuni orang itu juga.” Manik coklat gelap Kris bersirobok dengan manik biru Emma. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu[4[.”

“Begitu?”

“Ya,” Kris mengangguk, “sebab melalui pengampunan, Tuhan memberikan kelepasan penuh dari hukuman dosa. Menolak mengampuni seseorang menunjukkan kebencian, kepahitan, dan kemarahan. Menolak mengampuni juga sama saja menyakiti orang lain, dan menyakiti orang lain sama saja dengan menyakiti Tuhan sendiri. Dan kalau kau bertanya, kenapa kita memilih untuk mengampuni? Jawabannya adalah karena Tuhan sendiri telah mengampuni kita. Tugas kita adalah mengampuni dan biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi hak-Nya.”

Ada jeda yang menggantung sebentar. Emma yang mencerna setiap perkataan Kris, juga Kris yang lagi-lagi terseret dalam nostalgia masa lalunya.

“Sungguh…” Emma bersuara setelahnya, “perkataanmu tadi benar-benar mencerahkanku, Kris. Tidak kusangka, seorang pembunuh, ah, mantan pembunuh berdarah dingin bisa berkata seperti itu.”

Mendengar masa lalunya diungkit-ungkit membuat Kris kembali menemukan kendali penuh atas dirinya sendiri. Ketika ia menoleh ke samping, ia sudah mendapati Emma yang berdiri di hadapannya dengan pistol teracung tepat di depan wajahnya. Saking terkejutnya, Kris sampai kehilangan kata-kata dan hanya bisa diam membeku di tempat.

“Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku tahu soal masa lalumu, bukan?” seringai yang ditampilkan Emma terlihat begitu menawan dan mematikan di saat yang bersamaan.

Saat ini, bisa saja Kris melumpuhkan Emma. Toh, Emma hanya seorang gadis. Dan lebih dari itu, dulunya Kris adalah pembunuh bayaran yang keahliannya tak perlu diragukan lagi. Namun Kris tidak ingin kembali mengotori tangannya.

“Apa kau masih ingat pembunuhan yang kau lakukan di menara pelabuhan La Rochelle, Prancis, delapan tahun yang lalu?”

Prancis. La Rochelle. Menara pelabuhan.

Otak Kris berusaha menggali informasi yang mungkin sudah berdebu di sudut memorinya.

“Hhh. Tentu saja kau tidak mengingatnya,” cibir Emma, “kau sudah membunuh terlalu banyak orang hingga kau tidak bisa mengingatnya. Kau tidak akan pernah ingat ataupun tahu jika kau telah membunuh… ayahku.” Yang dikatakan Emma memang benar apa adanya dan Kris tidak berkutik lagi karenanya. “Kau berkata jika kita tidak mengampuni, maka kita tidak akan diampuni… begitu kan? Maka dari itu, inilah bentuk pengampunanku padamu.”

Dua tembakan yang bersarang di kepala dan dada Kris tidak terdengar memekakkan telinga berkat alat peredam suara yang terpasang di pistol Emma.

Dalam sekejap, tubuh Kris telah tumbang di lantai. Darah segar mengucur tanpa segan dari lubang di kepala dan hatinya.

Berdiri dan menatap rendah Kris, Emma berkata, “Dengan begini aku telah mengampunimu. Dan apabila Tuhan masih belum dapat mengampuniku dan menempatkanku di neraka, maka aku akan merangkak untuk menyeretmu ke neraka bersamaku.” Dan kemudian Emma berbalik pergi.

Kris bisa merasakan kesadarannya semakin menipis. Dia tahu waktunya tidak banyak lagi. Tapi anehnya Kris tidak merasakan apapun kecuali perasaan damai. Jika memang seperti inilah bentuk penebusan dosa-dosanya, Kris sama sekali tidak keberatan. Bahkan sebelum benar-benar pergi, Kris masih sempat berdoa dalam hati. Ia berdoa untuk Emma. Ia berdoa agar dendam dan rasa benci bisa enyah dari hati gadis itu.

Lalu Kris pergi dengan tersenyum setelahnya.

 

FIN

 

Notes :

Di sini Len ambil beberapa ayat Alkitab sebagai kutipan. Berikut rinciannya :

  • [1]Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan[1].” ― 1 Yohanes 1:9
  • [2] “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru pada-Mu[2]” ― Mazmur 86:5
  • [3] “…Demikian besar kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita[3].” ― Mazmur 103:11-12
  • [4] “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu[4[.” ― Matius 6:14-15

 

A/N        :

Gyagyagyagyagya, kelar juga akhirnya~~~~! XD Wow, fanfiksi ber-genre ‘spiritual’ pertama dari Len dan kedua buat ‘western’-nya. Cukup puas sih XD XD XD

Yah, karena Len mengutip beberapa ayat Alkitab dimari dan spiritual di sini berhubungan sama salah satu agama yang diakui di Indonesia, Len dengan amat sangat mengharapkan kedewasaan dari para pembaca sekalian 🙂 Tidak ada maksud apapun dengan adanya unsur agama di sini. Unsur agama di sini hanya untuk kepentingan fanfiksi semata karena fanfiksi ini ber-genre ‘Spiritual’. Syukur-syukur kalo isi fanfiksi ini bisa sedikit mencerahkan dan jadi bahan renungan /apadah/ XD

Fanfiksinya gimana woyyyy? Bikos ini penpik adalah penpik spiritual pertama Len, Len rasa masih banyak kekurangan. Inspirasinya dateng gitu aja, tiba-tiba banget kek si dia yang tiba-tiba juga ngilangnya :”) /WOIII/ Mungkin dateng karena terangsang sama gagasan Len yang bilang, “Duh, pengen nih bikin penpik spiritual”. Dan voila! Begitu inspirasi dateng, langsung deh research XD Bisa dibilang prompt buat penpik ini adalah kata “pengampunan”.

Terus awalnya sempet bingung mau pake siapa cast-nya. Tapi akhirnya Len putusin buat make Kris. Meski awalnya Suho sempet nyempil, kan Suho pernah tuh jadi cameo di salah satu drama as an oppa church gitu, tapi Len tetep pilih Kris. Gila aja, penpik Len yang ber-cast Suho udah mayan banyak ampe orang-orang pada nyangka bias Len ini Suho -_- Padahal bias Len ini pan si naga tonggos itu -_- Selain itu… ide si naga tonggos ini jadi misionaris itu kayak HELL YEAH! Anti-mainstream kan? XD /mulai narsis/

Dan nggak tahu kenapa juga Len suka sama ending dari penpik ini :”) Kesannya tuh kayak dendam dicampur aduk sama perasaan legowo, nrimo (yang orang Jawa pasti tahu), ikhlas, dan rada-rada nyesss gitu jadi satu /penjelasan macam apa ini?!/ Tapi nggak tahu gimana kesannya di benak readers sekalian XD

Maka dari itu, Len tunggu komentar-komentarnya 😉

Sorede, see you in the next fanfiction! Adios!

12 tanggapan untuk “FORGIVENESS”

  1. Wah, ada ‘new ff’ & Kris cast’ny 🙂
    Selalu amazed sm research2ny Len u/ mem-produce ff.
    Kris cucok jd misionaris gereja, kebayang yg dy di Praha itu. Udah jgn si Suho mulu yg di ksh pran, banyakin KrisHun aja 😀 wkkk~
    Pasti kren bgt ya pas Kris jd assasin gitu ky di Bourne Film series ^^ /tp anytime, Kris always cool/
    spt Kenshin jg, assasin yg udah tobat.
    hm, ga rela sih ending’ny Kris ditembak mati sm Emma 😥 klo di ‘tembak’ pernyataan cinta gpp. Anak2 yg sk dngrn tausiyah Kris pasti pd sedih.. >.< a tall, handsome, & kind oppa church no longer there..
    Len, plis.. jgn ngata2in Kris dg nickname2 ancur gt dong!! Kamu tega ah..

    1. Di Praha mah yipan jadi duren berbuntut satu XD
      Bourne! Ya ya, bisa bisa Yifan disandingin ama Matt Damon.
      Njirrr, tausiyah XD XD XD
      Lho, ane emang tegaan Kak. Baru tau ya ane ini penista bias? XD

  2. Huaa… kak len… kenapa si kris mati??? T.T oh my goodd… tapi jujur aja aku ga nyangka ini bakal sad emding kaya gini. Awal”an ga terlalu terhanyut, tapi entah kenapa semenjak si cewe itu dateng langaung bener” ke hanyut sama jalan ceritanya jadi pas si Kris di tembak langsung nyess rasanya, ><

    1. Kamu tanya kenapa? Ya jelas Kris mati karena dibunuh Emma lah XD /lebih tepatnya ane sendiri yang ‘matiin’ Kris dimari XD /
      Jangan kau tanya mengapa, karna ku tak tauuuu~~~ /mendadak karaoke/

    2. iya deh kak len bener.. -,,- huhuhu… hua.. kak len jahat… kenapa Kris di matiin sama kak Len.. >< hwa.. kak Len jahat,, huhuhu hisk .. jangan jawab tak tahu karena tempe /? *nahloh

  3. baru ini baca fanfic yg ada ayat alkitab.. karna saya anak kristiani (jangan di bash yahh).. maksih ya kak
    good job buat ceritanya..
    ini udah final,,gk ada lanjutannya???
    merinding bacanya lho..

    bagus..keren.. good good good lah pokoknya

  4. Halo len,,kmrin aku dh baca,gegara jaringan error mulu,jd gagal trus,,huhuu, keren ,dapet bnget jiwa spiritualnya,,n kutipan alkitabnya jg,nyess ko kehati,bisa bnget buat renungan,n endingnya jg mengejutkan,rest n peace buat jiwa jiwa yg pergi dengan damai dan ikhlas,,
    —sippppp lah buat Len,,selalu suka ma tulisanmu–

  5. whoaaaaaaa endingnya shiyal sekali ternyata, untung kamu kirimnya ke aku blm kelar jadi gak spoiler ending yg shiyal ini. excuse the shiyal ya bikos aku gak nyangka akhirnya si emma matiin kris T.T kirain dimaafin beneran. tapi karakter emma dan kalimatnya yg terakhir itu nendang banget kayak ‘yes i’m a b*tch tapi kalo Tuhan ga ngampunin gue, lo juga gue seret ke neraka’ kan shiyal.
    dari sisi krisnya lumayan cess sih. lumayan, tapi entahlah, aku sendiri masih menginginkan happy ending *yg idup maksudnya*
    rasanya ff ini sedikit gak kyk len sih barangkali krn lebih pendek dari biasa, tapi masih sangat ngena kok XD dan yah, ada pelajaran yg bisa diambil juga walaupun aku muslim sih tapi hal yg positif dari semua agama mah universal ^^
    keep writing!

    1. Untung yaaaa XD
      Sorry, but no happy-ending for this fic. Adanya happen ending /lah?/
      Wkwkwkwkwk, “gk kyk len” itu cem bijimane Kak? XD
      Yoyoyo, makasih udah mampir Kak 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s