DECISION [EPISODE 7] – by GECEE

 req-grace-decision1

GECEE proudly present

 

D E C I S I O N


WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3] | [EP 4] | [EP 5] | [EP 6]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“I don’t know why I’m like this, but the one thing I do know is that I love you.”

–Just Look at You (Jeong Dong-Ha)

 

 

 

==HAPPY READING==

“SEOLRI-YA!”

Choi Seolri yang sedang sibuk menyalin tugas matematika milik teman sebangkunya saat ini mengangkat kepalanya sejenak dari buku tulis matematikanya. Ia meregangkan kesepuluh jarinya yang rasanya sudah mulai kaku akibat terus menerus menyalin angka-angka yang ia sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Matanya ia kerjapkan beberapa kali karena sudah terasa pedih melihat terlalu banyak angka.

Seharusnya ia mengerjakan tugas matematika tersebut tadi malam. Namun, ia tadi malam ia lupa mengerjakan tugas tersebut karena ia terlalu asyik menonton drama korea yang sangat ingin ia tonton sampai malam, bahkan sampai hampir pagi.

Han Ahreum, teman sebangkunya, menepuk pundaknya. Seolri menoleh dan tersenyum. “Ada apa?”

Ahreum menunjuk ke arah pintu ruang kelas mereka. “Park Chanyeol ingin menemuimu.”

Seolri segera membereskan buku serta alat tulisnya. Pelajaran matematika adalah pelajaran terakhir pada hari ini. Ia masih bisa menyalin tugas tersebut nanti saat istirahat atau di sela-sela jam pelajaran. Setelah itu ia cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan bergegas keluar kelas menemui Chanyeol.

Begitu melihat sosok lelaki tersebut, serta merta sebuah senyum manis terukir di bibir Seolri. “Chanyeol-ie!” panggil Seolri seimut mungkin. “Kau mencariku? Ada apa? Mengapa kau tidak masuk saja ke dalam kelas?” ujar gadis itu sambil meraih tangan Chanyeol dalam genggamannya.

Chanyeol menatap tangannya yang ada dalam genggaman Seolri, lalu kemudian menepis genggaman gadis itu. Seolri memperhatikan ekspresi wajah Chanyeol lekat-lekat. Lelaki itu terlihat serius dan juga dingin. Lebih dingin dibandingkan dengan semua sikap dingin yang pernah Chanyeol tunjukkan selama ini. Sama sekali tidak ada kesan ramah yang terpancar dari wajah lelaki tersebut.

“Chanyeol-ah..” Seolri mencoba memancing. “Ada apa?”

Chanyeol yang sedari tadi hanya membuang muka sekarang mulai menoleh dan menatap Seolri lurus-lurus. Tatapan tajam – terlalu tajam – yang dilontarkan Chanyeol tersebut tak urung membuat Seolri merasa sedikit ketakutan. Tatapan itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa Chanyeol akan menelannya hidup-hidup sebentar lagi.

“Aku perlu bicara denganmu,” sahut lelaki itu dengan suara pelan namun tegas. “Ttarawa..

Lelaki itu membawanya ke kebun belakang sekolah yang sepi. Udara pada pagi itu terasa amat dingin bagi Seolri. Udara saat itu memang dingin, dan ditambah lagi dengan kegugupan yang serta-merta melanda gadis itu dan membuat ia makin kedinginan. Dari ekspresi lelaki itu, Seolri tahu bahwa apa pun yang ingin Chanyeol bicarakan, itu bukanlah sesuatu yang baik.

“Kau…” Seolri merasakan suaranya mulai terdengar serak. “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Lelaki itu berbalik dan menghadap ke arahnya. Kembali lagi Chanyeol melontarkan tatapan tajam yang mematikan tersebut. “Kau…” Suara lelaki itu terdengar bergetar seperti menahan amarah. “Mengapa kau melakukan hal itu?”

Seolri memasang sebuah senyum untuk menyembunyikan kegugupannya. “Melakukan apa? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.”

Chanyeol masih menatapnya tajam. “Jangan pura-pura tidak tahu. Katakan saja alasan yang sebenarnya.”

“Sungguh, aku masih tidak mengerti apa yang kau maksud. Sudah, aku ingin menyalin tugas matematikaku dulu.”

Seolri bergegas melangkah meninggalkan Chanyeol, tetapi lelaki itu menahan lengannya dan menariknya ke tempatnya berdiri semula. “Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan.” Chanyeol menatap mata Seolri. “Mengapa kau melakukan semua itu pada Han Jaein?”

Seolri kembali tertawa gugup. “Han Jaein? Ah.. Jane Han, adik kelas itu? Astaga… memangnya apa yang aku lakukan padanya? Tidak ada. Aku bahkan belum mengenal dia dengan baik.”

Lelaki itu terdiam sejenak sambil tetap menatap Seolri. Seolri menelan ludahnya dengan gugup. Gadis itu merasa bahwa dengan menatapnya saja Chanyeol bisa membaca pikirannya, dan itu berbahaya. Jadi Seolri memutuskan untuk memalingkan wajah, menyembunyikan diri dari tatapan tajam lelaki itu, namun Chanyeol menahan dagunya dan memaksanya untuk kembali berhadapan dengan wajah Chanyeol.

“Jawab aku,” ujar Chanyeol tegas. “Cairan telur di kursi serta tumpahan air di kamar mandi. Apa itu semua kau yang melakukannya?”

Mata Seolri seketika terbelalak. Bagaimana ia tahu?

Chanyeol masih menatapnya tajam. “Apa benar kau yang melakukannya?”

Seolri menelan ludah. “Aku…”

“Apa benar kau cemburu padaku?”

Seolri memutuskan untuk mengalahkan rasa gugupnya dan balas menatap mata Chanyeol lurus-lurus. Gadis itu ingin sekali menyuarakan apa yang ingin dia katakan sejak dulu. “Apa sebenarnya hubunganmu dengan Han Jaein?”

Lelaki itu menunjuk dirinya sendiri. “Na?”

Seolri mengangguk.

“Tidak ada hubungan apa-apa.” Chanyeol mengangkat bahu. “Bagiku dia hanyalah adik kelas. Dan kebetulan juga dia tinggal persis di seberang apartment-ku.”

Gadis itu menatap Chanyeol lekat-lekat, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang kurang dari penjelasan singkat tersebut. Seolri tahu bahwa Chanyeol masih menyembunyikan sesuatu.

“Kau…. Menyukainya?” pancing Seolri.

Untuk beberapa saat lelaki di hadapannya ini hanya terdiam. Suara helaan napas terdengar dari mulut Chanyeol. Melihat ekspresi lelaki itu, Seolri hampir mengambil kesimpulan bahwa tebakannya benar.

“Ya, tentu saja aku cemburu,” ujar Seolri dengan nada yang terdengar sinis. Gadis itu memainkan ujung rambutnya. “Walaupun sekarang aku dan kau tidak ada hubungan apa-apa, tetapi tetap saja sebagai mantan kekasihmu aku merasa cemburu ketika akhirnya kau menemukan seseorang yang menggantikan posisiku.”

Chanyeol memegang bahu gadis itu. “Jadi benar kau yang melakukannya?”

Seolri mengangkat bahu. “Menurutmu?”

“Bodoh,” desis Chanyeol. “Apa yang kau pikirkan ketika kau merencanakan dan melakukan semua hal itu? Apakah kau berharap bahwa aku akan berhenti menyukai gadis itu? Apakah kau berpikir bahwa dengan semua itu aku akan kembali padamu?”

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Seolri. Gadis itu menggigit bibirnya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan berusaha untuk tidak terisak.

“Choi Seolri, asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak tertarik untuk kembali lagi kepadamu. Semenjak kau berselingkuh dengan Minho lima bulan lalu dan meninggalkanmu begitu saja, aku sudah kehilangan kepercayaan atas dirimu. Cara pandangku terhadapmu telah berubah. Kau bukanlah lagi Choi Seolri yang kukenal. Dan apakah sekarang, ketika Choi Minho telah meninggalkanmu, kau ingin kembali kepadaku dan berharap bahwa aku akan menerimamu kembali seperti dulu?”

Kata-kata yang diucapkan Chanyeol itu terdengar miris di telinga Seolri, dan terasa menusuk-nusuk hati gadis tersebut. Seolri tidak dapat menahan tangisnya lagi. Ia menunduk lalu terisak dengan tangan kanan yang ia kepalkan di dada.

“Lalu sekarang…” Seolri mencoba meredam tangisnya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap mata Chanyeol. “Apa yang kau harapkan dari Han Jaein? Apakah kau berpikir bahwa gadis itu akan mencintaimu seperti kau mencintainya? Bukankah gadis itu sudah mempunyai kekasih? Apakah kau berharap Jaein akan meninggalkan kekasihnya dan kembali padamu?” Bibir Seolri bergetar menahan tangis sekaligus amarahnya. “Kalau itu yang kau harapkan… kau memang jahat, Park Chanyeol. Kau tidak ada bedanya dengan Choi Minho dan dengan apa yang kau lakukan itu, kau akan membuat kekasih gadis itu menderita seperti layaknya dirimu sekarang!”

Chanyeol hanya bisa terdiam ketika Seolri selesai mengatakan semuanya. Lelaki itu hanya diam dengan bahu lunglai dan mata yang bersorot sendu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Lelaki itu seperti terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa.

Seolri yang telah selesai dengan monolognya juga hanya bisa tertunduk, tidak berkata apa-apa, menunggu respon dari lelaki di hadapannya itu. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya ditarik dan dalam sekejap, ia sudah berada di pelukan Chanyeol. Tangan lelaki itu terasa erat memeluk tubuhnya yang mungil sehingga gadis itu merasa tenggelam di balik dekapan Chanyeol.

“Maafkan aku…” ujar Chanyeol lirih. Suaranya serak. Tanpa perlu melihat, Seolri sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa lelaki itu menangis.

“Maafkan aku… Maafkan aku…”

***

Jane terduduk di salah satu kursi di pojok kantin sekolah. Dua kimbap yang tadi dia beli hanya tergeletak begitu saja di hadapannya. Sejujurnya, ia sedang tidak selera makan. Ia sedang banyak pikiran. Sepanjang hari ini, ia hanya duduk di bangku kelasnya tanpa benar-benar memperhatikan pelajaran. Ia bahkan tidak mendengar jika ada teman yang sedang berbicara kepadanya. Sepanjang hari ini, satu hal yang bisa ia lakukan ialah melamun.

“YaI Jane Han!” Suara Byun Baekhee menyadarkannya sejenak dari lamunannya. Apalagi Baekhee memukul pundaknya dengan keras dan tiba-tiba sehingga lamunan Jane pun buyar. Sahabatnya itu segera duduk di hadapannya dan mengambil satu kimbap yang tergeletak di meja lalu langsung melahapnya.

“Aku minta satu kimbapnya, ya..” ujar gadis itu. Jane hanya membalasnya dengan senyum.

“Ngomong-ngomong…” celetuk Baekhee dengan mulut penuh kimbap. “Kau terlihat murung sejak tadi pagi. Ada apa? Kau banyak masalah?”

Jane menggeleng sambil tersenyum.

Baekhee menelan kimbap yang ada di mulutnya sebelum kembali berbicara. “Bohong. Kau ini sama seperti Baekhyun, sama-sama tidak bisa berbohong. Uhm… bagaimana ya menjelaskannya? Pokoknya ekspresi kalian berdua kalau sedang berbohong itu mirip, sama-sama memasang ekspresi ‘aku sedang berbohong’. Mengerti maksudku?”

“Apa itu berarti aku dan Baekhyun adalah pasangan yang serasi?” tanya Jane.

“Apa maksudmu? Tentu saja kalian pasangan yang serasi, tetapi tolong jangan mengalihkan pembicaraan. Ada apa sebenarnya denganmu?”

Entah mengapa mendengar sahabatnya itu berkata bahwa ia dan Baekhyun adalah pasangan yang serasi, hati Jane terasa sakit. Dan jujur saja, itulah yang menjadi beban pikirannya selama ini.

Mungkin dulu Jane bahagia bisa menjadi kekasih dari Byun Baekhyun. Mungkin ia bisa dibilang gadis yang cukup beruntung. Dulu memang Jane merasa senang begitu Baekhyun menyatakan cinta terhadapnya. Mungkin dulu Jane senang menghabiskan waktu dengan lelaki tersebut. Mungkin dulu segalanya terasa indah bila ia sedang bersama Baekhyun.

Tetapi itu dulu. Sekarang semuanya terasa hambar untuk Jane. Segalanya terasa terlalu monoton. Jane mulai merasa jenuh. Sudah berkali-kali terlintas di benaknya rencana untuk mengakhiri semua ini. Mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun.

Namun ketika Jane benar-benar ingin mengakhiri hubungan, di benaknya selalu terlintas bayangan Baekhyun yang memeluk dirinya, bayangan Baekhyun yang menggenggam tangannya, bayangan Baekhyun yang membonceng dirinya, dan bahkan ciuman pertamanya dengan Baekhyun. Jane tahu bahwa lelaki itu betul-betul mencintainya sepenuh hati, dan hal itulah yang membuat Jane kembali lagi mengurungkan niatnya.

Begitu pula dengan Baekhee. Jane tahu andil gadis itu begitu besar sampai akhirnya Jane bisa menjadi kekasih Baekhyun. Dan tentu saja bila akhirnya Jane memutuskan hubungan dengan Baekhyun, itu akan sangat mendukakan hati Baekhee. Sahabatnya itu pasti merasa bahwa semua usahanya selama ini akan sia-sia. Setelah itu, bukan tidak mungkin bahwa hubungan persahabatannya dengan Baekhee akan menjadi renggang.

“Jane….”

Suara Baekhee membuyarkan lamunan Jane kembali. “Ada apa?” sahut Jane.

Sahabatnya itu terlihat bingung sejenak, lalu tersenyum. “Kau melamun lagi. Ada apa?”

Jane menggeleng pelan. Ia mengambil satu kimbap yang masih tersisa, membuka bungkusnya dengan gerakan pelan, lalu menggigitnya sedikit.

“Ceritakan saja,” bujuk Baekhee. “Bukankah aku ini adalah sahabatmu? Sudah pasti aku akan menolongmu. Kalau itu adalah sesuatu yang bersifat rahasia, aku janji aku tidak akan menceritakannya pada siapapun.” Gadis itu membuat gerakan mengunci mulutnya. “Ayo, ceritakan saja. Siapa tahu aku dapat menolongmu.”

Jane menghela napas. Entah mengapa ia tidak bisa menolak bujukan sahabatnya ini, tetapi bukan berarti ia bisa menceritakan semuanya. Tidak, tidak sekarang.

“Baekhee-ya..”

“Hmm?”

Jane menghela napas kembali. Otaknya berputar mencari kata-kata yang tepat. Mengapa rasanya sulit sekali? Mengapa tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya? Mengapa rasanya mulutnya sulit digerakkan? Mengapa rasanya otaknya buntu?

“Apakah…” Jane terdiam sejenak. Apakah pantas ia menanyakan hal seperti ini? Tetapi ketika melihat bahwa Baekhee sedang menatapnya sungguh-sungguh meminta kelanjutan, Jane pun memberanikan diri untuk menyelesaikan pertanyaannya.

“Apakah Baekhyun mencintaiku?”

Gadis di hadapannya itu mengerjap sejenak dan menggigit sepotong kimbap sebelum akhirnya menjawab. “Tentu saja. Kau tidak tahu betapa seringnya Baekhyun oppa memujimu di rumah. Dia sering berkata ‘Jane itu baik sekali’, ‘Jane itu cantik, manis’, dan semacamnya. You have no idea how much he smiled by himself in our home. Dia sudah pasti tergila-gila padamu.” Baekhee menggigit sepotong kimbap lagi. “Memangnya kenapa?”

Jane menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”

Sahabatnya itu menelan kimbap yang telah ia kunyah lalu menatap Jane lekat-lekat. “Bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintainya?”

Kali ini tidak ada jawaban yang bisa Jane berikan selain sebuah senyum yang dipaksakan.

***

Sudah hampir seminggu sejak Jane Han terakhir menampakkan diri di pintu apartment-nya pada hari dimana gadis itu bercerita bahwa seseorang mengganggunya di sekolah dan gadis itu marah padanya. Dalam seminggu ini Chanyeol tidak lagi pernah melihat Jane Han. Ralat, Chanyeol tidak lagi bercakap-cakap dengan Jane. Memang terkadang Chanyeol melihat gadis itu di supermarket atau di kantin sekolah, tetapi terlihat jelas bahwa gadis itu menghindarinya. Setiap kali Chanyeol ingin memanggil atau mendekati gadis itu, Jane seolah bisa menyadari keberadaanya dan akhirnya gadis itu pun menjauh.

Chanyeol merasa tersiksa dengan keadaan seperti ini. Seperti sebelum-sebelumnya, sekeras apa pun usahanya untuk melupakan gadis itu, sekeras apa pun usahanya untuk melenyapkan gadis itu dari pikirannya, usahanya selalu berakhir dengan gagal. Ia selalu menemukan jalan buntu.

Ketika ia membicarakan tentang masalah ini pada sahabatnya, Oh Sehun, sahabatnya itu berkata bahwa itu adalah tanda-tanda seseorang sedang jatuh cinta. Benarkah? Benarkah bahwa ia jatuh cinta pada Jane? Entahlah. Chanyeol sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang sebenarnya ia rasakan. Terlalu rumit.

Chanyeol mendesah. Ia menggelengkan kepalanya. Ia sudah mulai gila. Ia harus cepat pulang ke rumah dan beristirahat sejenak untuk mendinginkan kepalanya. Mungkin sekaleng bir bisa membantu.

Hujan rintik-rintik menyambut Chanyeol dan mobilnya ketika ia keluar dari pelataran parkir sekolah. Chanyeol menjalankan mobilnya pelan. Kemudian pandangan matanya tertumbuk pada seorang gadis di trotoar yang sedang menaungi kepalanya dari rintik-rintik hujan dengan tangan. Chanyeol tersenyum. Ia mengenali sosok gadis tersebut. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya menghampiri gadis itu.

“Masuk,” ujar Chanyeol setelah ia menghampiri Jane dan membuka kaca mobil.

Seperti yang ia duga, Jane tidak akan segera masuk begitu saja. Gadis itu bahkan bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal dan malah membuang muka. Chanyeol tersenyum. “Ayo masuk, di luar hujan.”

Gadis itu menggeleng. “Aku naik bus saja.”

“Ayo,” ulang Chanyeol lagi, tak bergerak maju sejengkal pun. Berhentinya mobil Chanyeol di tengah jalan menyebabkan kemacetan cukup panjang di belakangnya. Pengemudi lain mulai membunyikan klakson dengan tidak sabar.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.” Gadis itu masih bersikukuh. Suara klakson mobil mulai terdengar bersahut-sahutan. Beberapa pengemudi mobil bahkan menurunkan jendela dan berteriak agar Chanyeol bergerak maju atau setidaknya parkir.

Chanyeol masih menyunggingkan senyumnya dengan tengan. “Aku tidak akan ke mana-mana sampai kau naik, Jaein-ah.”

Sepertinya gadis itu tidak tahan menghadapi amarah pengemudi yang lain dan menyerah lalu naik ke mobil Chanyeol. Gadis itu sedikit membanting pintu karena kesal.

Chanyeol mengelus kepala gadis itu. “Nah, ternyata kau penurut juga. Coba kalau dari tadi, aku tidak akan kena marah orang-orang di belakang.”

Gadis itu menggerutu. “Oppa keras kepala sekali.”

Chanyeol tertawa kecil. “Sebenarnya yang keras kepala itu siapa?” balasnya lembut.

Jane terdiam, tidak membalas apa-apa. Chanyeol menyetir dengan tenang. Ketika sampai di simpang empat, Chanyeol tidak berbelok seperti seharusnya jika akan pulang ke gedung apartment mereka. Chanyeol malah berjalan lurus. Hal itu membuat Jane terkejut.

“Ya!” seru gadis itu. “Oppa akan membawaku kemana?”

Chanyeol masih tetap tenang menyetir. “Aku berencana menculikmu siang ini.”

“Eh?” Gadis itu memukul lengan Chanyeol. “Turunkan aku!”

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Sekarang kau adalah tanggung jawabku. Aku takut kekasihmu akan mengamuk bila aku menurunkanmu sembarangan.”

Chanyeol memarkirkan mobilnya di tempat parkir taman hiburan. Chanyeol kemudian menyuruh gadis itu dari mobil. Setelah mengantri di loket beberapa saat, Chanyeol dan Jane duduk di salah satu kursi ferris wheel yang ada.

“Oppa mengajakku kemari hanya karena Chanyeol atau Choi Seolri sunbae tidak ada, bukan?” tanya gadis itu lirih setelah beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. “Asal oppa tahu, aku sudah tahu tentang hubunganmu dengan Seolri sunbae. Dan yang melakukan semua itu, telur dan tumpahan air, adalah ulah Seolri sunbae, bukan?”

Chanyeol melihat pemandangan di luar dengan tenang. “Tidak ada hubungannya dengan Baekhyun atau Seolri.”

Hening sesaat sebelum terdengar suara Jane menjawab, “Sebenarnya apa mau oppa? Apakah oppa pikir mempermainkan perasaan semua orang itu adalah sebuah permainan yang seru? Oppa tahu apa yang sedang oppa lakukan?”

“Kau mau jawaban jujur atau bohong?” Ekspresi wajah Chanyeol masih sangat tenang, sama sekali tidak memedulikan gadis itu yang sudah tampak berapi-api. Dia tidak menunggu jawaban gadis itu, tetapi melanjutkan perkataannya, “Jawaban bohong. Hubunganku dengan Choi Seolri memang sudah berakhir tetapi aku masih mencintainya. Aku menyayangi Seolri dan ingin melewati hidupku sampai tua dengannya. Dia memang sudah mengkhianatiku tetapi aku masih bisa memaafkannya. Dan kau, Han Jaein,” Chanyeol merasa suaranya agak bergetar saat menyebut nama gadis itu. “Dan kau, kau bukanlah siapa-siapa untukku. Kau tidak lebih dari adik kelas dan tetanggaku. Kau puas dengan jawaban itu?”

Untuk sesaat, gadis itu tersentak. Saat kembali berbicara, gadis itu sudah terlihat gemetar. “Kau kekanak-kanakkan, Park Chanyeol-ssi. Berhenti menyalahkan kondisi dan orang lain untuk sesuatu yang sudah terjadi.”

“Atau kau mau jawaban jujur?” Chanyeol melanjutkan dengan nada datar yang sama, tidak menggubris gadis itu. “Aku jatuh cinta pada tetangga seberang rumahku, seseorang yang aku tahu telah mempunyai kekasih. Aku berusaha untuk berhenti, tetapi aku tidak bisa. Aku tidak tahan hidup seperti ini, tidak menjadi diriku sendiri. Aku lelah.”

Setetes air mata gadis itu menetes di tangan Chanyeol. Lelaki itu terkejut dan menarik Jane dalam dekapannya, berkali-kali berbisik, “Aku minta maaf, Han Jaein. Berhenti menangis. Maaf.”

Gadis itu terisak dalam pelukannya. Entah berapa lama mereka berdua berpelukan di dalam ferris wheel yang sedang berputar tersebut. Langit sudah mulai berubah jingga ketika gadis itu melepaskan diri, mengusap mata yang sembap oleh air mata, memandang Chanyeol yang baru saja mengungkapkan isi hatinya.

“Saranghae, Jaein-ah..”

Chanyeol mendekatkan wajahnya lebih dekat dan lebih dekat lagi. Gadis itu refleks menutup matanya rapat-rapat. Chanyeol menyentuhkan bibirnya dengan bibir gadis itu, dan melumatnya dalam-dalam. Hangat dan manis. Setetes air mata mengalir di pipi gadis itu. Jemari Chanyeol mengusap pipi gadis itu dengan lembut. Seribu satu ledakan perasaan bermain-main bebas di hatinya.

Seharusnya, ia tidak menumpahkan isi hatinya. Seharusnya, ia tidak jatuh cinta pada gadis itu.

Namun, kini semua sudah terlambat.

 

 

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 8

“Han Jaein, actually I came here because I had something to ask you.

“Apakah kau sedang mencintai orang lain?”

***

“Tidak apa-apa. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan.”

***

“Apakah salah jika aku mengharapkannya untuk menjadi kekasihku?”

“Kau benar-benar mencintainya rupanya.”

***

“Jadi bagaimana? Apa kau akan berusaha mengejar gadis itu atau membiarkan gadis itu pergi?”

 

 A/N
Yang kangen sama aku angkat tangan!!! XD
Thanks untuk semua ulangan dan tugas, aku jadi jarang pegang lepi lagi huhuhu… Tapi boleh juga kali ya mengambil sela-sela waktu pas UAS untuk post ini…
Jangan lupa, seperti biasa komentar kalian ditunggu… Jangan jadi silent reader yuk 😀

 

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

29 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 7] – by GECEE”

  1. Wah akhirnya. Sepertinya baekhyun akan melepaskan Jane kalo diliat dari spoilernya. Ehehe… aku lebih suka kalo Jane sama Chanyeol. Udahlah satukan mereka thor! Gak mau tau /plak… wkwkwk…
    Ditunggu la pokonya update-an nya. Walau sampe jamuran nunggunya. Kekeke

  2. uaaaaaaa gua baper sumpah!!
    Di satu sisi aku senang Chanyeol dengan Jein nantinyaa tapi di satu sisi lainnya kok aku berasa kasihan nanti Baekhyunnya. cup cup Baekhyun sama aku aja gapapakan? #kemudianditendang. lanjut! jangan lama lama okaaay!

    1. ambil aja baekhyunnya kasian daripada dia nangis mulu hwhwhhww…. baper kan ya baper kan??
      okeee.. ditunggu saja kelanjutannya yaaa

  3. Cuuunnnggggg!!! Ikutan ngacung. Aku rinduuuuu huehehehe.
    Tapi ntah ini yg rada pendek dari sebelumnya apa emang segini dari chapter sebelumnya juga? Ah aku butuh yg lebih panjang lagiihhh~ hehehe.
    Kalo ada di posisi jaein mesti bingung banget. Tapi aku lebih milih chan-jae.
    Yah ditunggu kelanjutannya aja laah hehe. Semangat yaah gecee-ssi!
    -XOXO-

    1. masih ada yang kangen ternyata huhuhu aku terharu :’)
      mungkin emang lebih pendek kali ya…. hehehee next time aku buat lebih panjang lagi deh 😀
      waaahhhh.. chan-jae shipper 😀
      okeee… terima kasih untuk semangat dan apresiasinya yaaa 😀

  4. Hello kak gece…. aku baru baca kemarin… tapi besoknya langsung dilanjutin eps nyaaaaa Akkkkkkkkk keren banget kak…. semangat yah kak selesaikan ceritanya, aku sukak banget cerita cinta segitiga chanbaek, dulu ada kan yg cerita nya jg ttg chanbaek suka sama orang yg sama, tapi aku tungguin bertahun tahun gak dilanjutin sama author nya aku sedih banget….

    Plis kak gece semangat terus ya … HWAITING!!!!!

    1. wahahaa… terima kasih rohani untuk apresiasimu.. jujur aku masih ngerasa ini cerita banyak lacknya banget, tapi terima kasih untuk pujiannya yaaa…

      kamu suka cerita yang ada hubungannya tentang chanbaek?? wah.. kapan2 aku bikinin lagi deh kalau gitu yaa 🙂
      hehehe.. aku janji yang ini pasti aku lanjut sampe tamat kok…
      oke.. terima kasih juga ya sudah mau baca dan memberi apresiasi 🙂

  5. angkat 2 tangan!!
    nyampek buluk nungguinnyaa.. lagi UAS ya??semangat buat UASnyaa.. 🙂 🙂

    next next thor!!
    hwaiting! hwaiting!!

    1. iyaaa.. tapi kuusahakan tetap update kok ehehehehe…..
      terima kasih untuk semangatnyaaa.. kujadi tambah semangat lanjutin ini ahahahaa… 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s