(Child Hiding) – Oneshoot

child who hidingPeringatan!!

Diharapkan untuk readers yang dibawah 15 tahun dilarang membaca ff ini. Karena mengandung muatan konten kekerasan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada pembaca.

……

Ini adalah pertama kalinya nea buat ff psyco. Jadi mohon kritik dan sarannya dari para readers. And no Plagiat! Ff ini murni dari otak psyco nea. Hohoho

CHILD HIDING

Author : nea9426

Main cast : Oh Sehun [EXO]

Genre : misteri, psyco, killer, dark

Rating : PG 15

Leght : Oneshot

Please Enjoy Reading …. 😀

“aakhhhhhh” Ayahku kini terduduk lunglai dengan semua luka sayatan dan tusukan di sekujur tubuhnya.

.

“tidakkkkk tidakkkk” Ibuku secara brutal merarik-narik tubuhnya, berusaha dengan keras menghalagi perbuatan pria gila itu. Meski usahanya itu hanya berbuah sia-sia. Berulang kali tubuh ibuku terpental membentur lantai.

.

“jangaaannnn” Kini giliran ayahkulah yang mencoba menghalangi pria itu yang sedang menorehkan belatinya ke wajah ibu. Walau dengan butuh yang bercucuran darah, walaupun segenap sisa-sisa tenaga yang ayah gunakan tetap tidak mungkin menghalagi kesibukan pria itu. Malah kini dia berpaling dan langsung menggorok leher ayahku dengan belatinya. Hingga kepala ayahku tidak menyatu lagi dengan tubuhnya.

.

“ tidakkk.. hiks hiks hiks” Rasa perih bercampur sedih terpancar jelas dari sorot mata ibu. Tidak perduli lagi dengan keadaan wajah cantiknya yang sudah tidak terbentuk lagi. Rasa sedih melihat suaminya di bunuh dengan keji mengalahkan semua rasa sayatan di wajahnya.

.

“hosh hosh hosh” Deru nafas pria itu terdengar tersengal-sengal, sepertinya sudah cukup banyak tenaga yang dia keluarkan. Bulir-bulir keringat yang keluar diusapnya dengan tangan yang berlumuran darah ayahku.
.
“sekarang giliranmu” seringaian mengerikan terpatri jelas di wajah pria itu.
.
“aaaaaaakhhhh” Itulah suara terakhir yang ku dengar dari ibuku.
.
Merah pekat. Bercucuran bagaikan keran. Semua membasahi karpet bulu kesayangan ibu. Potongan-potongan lembek berserakan dimana-mana. Bau anyir yang yang menyeruak perlahan secara paksa merasuki indra penciumanku. Walau sudah kututupi hidungku dengan gaun ibu yang ada di sampingku bau itu masih saja bisa terasa.
Mulutku bergetar hebat. Isakan kecil tak terasa keluar begitu saja. Setelah sadar kedua tanganku beralih menutup mulutku agar dapat meredakan suara isakankan yang akan keluar. Jangan sampai dia menyadari kehadiran ku. Aku harus tetap bertahan di sini.
Buliran-buliran bening jatuh membasahi kedua pipiku. Dengan tangisan dalam diam.
Mata ini….
Ingin kututup kedua mata ini, aku tidak sanggup lagi melihat adegan demi adegan yang dia lakukan. Namun kedua tangan ini tak kunjung beranjak dari mulutku. Sepertinya syaraf otak yang menghubungkan ke tangan ku telah rusak. Mata ini juga tak bisa tertutup. Aku menyaksikan semuanya.
Ya semuanya.
Semuanya yang telah dia lakukan pada kedua orang tuaku.
Jangan bunuh mereka!
Ayah….
Ibu…
Aku takut…
Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menyelamatkan kalian berdua. Karena kalian yang menyuruhku untuk diam disini. Apalagi jika dia melihatku pasti aku juga akan terbunuh.
Tapi
Tapi
Tapi
Dia tak kunjung berhenti melakukan aksinya. Malah tindakannya bertambah brutal. Dia seperti kerasukan, sorot matanya memancarkan aura pembunuh yang haus darah. Diambilnya pisau roti pemberianku untuk ibu yang tergeletak di atas meja.
Satu persatu dengan susah payah dipotongnya bagian-bagian dari tubuh ayahku. Sehingga tangan, kaki serta kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya. Potongan-potongan tubuh ayah sangat tidak karuan karena dia hanya menggunaan pisau roti.
Keadaan ibuku pun tak jauh lebih baik dari ayah. Dengan perutnya yang terkoyak-koyak. Organ dalam pun dia tarik semua keluar. Dan dia hamburkan ke karpet kesayangan ibu. Tak berhenti sampai di situ dia sepertinya merogoh saku jaketnya mencari sesuatu. Beberapa secound selanjutnya tangannya terlihat membawa pisau yang berukuran sangat kecil. Seperti pisau bedah.
Dia pun menyeringai melihat apa yang ada di tangannya. Tangan kirinya terlihat mengelus-elus rambut ibuku yang sudah bercampur darah. Sekarang pisau kecil itu perlahan menyusuri kulit kepala ibuku. Aku tahu apa yang dia lakukan. Ya apalagi kalau bukan untuk menguliti rambut ibuku!
“hahahahaha rasakanlah rasa sakit ini!” ucap pria itu dengan membawa kepala ayahku.
“beraninya kau menatapku! kau meledekku hah! Akan kucongkel kedua mata hinamu ini!”
Tanpa menunggu lama langsung dicongkelnya kedua mata ayah ,menggunakan sendok bekas makan malam kami.
Ddrrtttt drttt drttt
Getaran handphone pria itu terdengar sampai ke telingaku. Sedikit kesal dia mengangkat telfonnya.
“apa!!”
“……..”
“tapi aku belum selesai.”
“…….”
“huh.. Baiklah”
Pip
Dipandangnya kedua tubuh ayah dan ibuku yang sudah tidak berbentuk untuk beberapa detik. Kemudian diapun beranjak pergi meninggalkan rumah kami.
*author POV
Dua hari kemudian….
“Polisi menerima pelaporan adanya pembunuhan keji dari daerah busan. Pembunuhan kali ini sangat tidak berperi kemanusiaan. Si pelaku tega memutilasi dan mengoyak perut para korban. Korban diketahui adalah sepasang suami istri bernama Oh Yong ji dan Oh Jaerin.”
“Pembunuhan diperkirakan terjadi dua hari yang lalu sekitar jam tujuh malam. Awalnya tetangga mendengar suara pertengkaran dari rumah korban, namun hanya beberapa saat. Karena memang suami istri itu akhir-akhir ini sering bertengkar. Sehingga para warga tidak mengira akan terjadi kejadian mengerikan seperti ini.”
“Yang paling mengagetkan adalah adanya korban yang selamat. Dia adalah anak dari keluarga tersebut. Bukankah sangat mengerikan sang anak ditemukan di dalam lemari mantel yang berada tepat di depan tempat kejadian perkara. Kemungkinan besar dia melihat seluruh kejadian yang terjadi.”
“Keadaanya saat di temukan juga sangat memprihatinkan, dengan tubuh yang lemas karena tidak menerima asupan apapun selama dua hari. Sang anakpun sama sekali tidak mau berkata apapun kepada petugas kepolisian. Jadi sampai saat ini pihak yang berwenang masih terus mencari barang bukti yang di tinggalkan pelaku di tempat kejadian.”
“Kasus kali ini memang sulit, sepertinya pelaku adalah prefesional. Kunci dari pembunuhan ini adalah sang anak. Namun karena kondisi anak yang tidak memungkinkan maka polisi akan menunggu sampai sang anak pulih.”
“Polisi tidak memberitahukan nama serta keberadaan sang anak sekarang karena di khawatirkan pelaku akan mencarinya. Demi keselamatan sang anak maka polisi akan menjaga sang anak sampai kasus selesai.”
“Motif dari pembunuhan keji inipun masih belum di ketahui. Pelakupun masih buron. Jadi warga diharapkan untuk lebih berhati-hati dan tidak keluar malam-malam sendirian.”
“Dari NBC News melaporkan.”

END

#okey.. Nea selaku author sangat berterima kasih buat para readers yang sudah ngeluangin waktu buat baca ff ini. Sebenarnya endingnya agak nanggung ya? Sehun juga tidak kena bacok-bacokan. haha

Hmmm Apa harus aku buat sequelnya spesial buat Sehun? Aduh nea ngikut readers sajalah. Mau di lanjut apa tidak nih FF. hehe

Ekh jangan lupa R+C+L yakk!!!

10 tanggapan untuk “(Child Hiding) – Oneshoot”

  1. Lanjuuttt, squel dong kakk itu nanggung bangett looh..
    Tpi agak ngeri jga sie critanya gmna gtuu,
    Tpi aku pnasaran siapa yg bunuh org tua sehun, and knapa smpai setega ituu ..

    Next kakk aku pnasaran nih..
    Smangattt!! 🙂

    1. hmmmm gimana yak? lanjut tidak ya? lanjut tidak ya? ntar deh kalau banyak yang comment baru nea buat sequelnya. hehe

      wahh kalau buat siapakah si pembantai mungkin itu akan saia kupas di sequelnya (kalau jadi buat tapi :V). sangkyu!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s