About Love #5 [Chen Vers] – deagoldea

About Love #5 [Chen Vers.]

 

About Love by deagoldea. series. comedy, romance, school life, teen.

 

Starring by EXO’s Chen and OC’s Park Soo Jin.

 

Supported by EXO’s member and others.

 

The storyline is purely from my imagination. Don’t be plagiator and siders!

 Thanks IRISH for the poster!

Happy Reading!

“Kau sudah sadar?”

Gadis ini mengerjapkan matanya agar dapat melihat lebih jelas dimana ia sekarang. Pandangannya sedikit mengabur akibat dirinya yang terlalu lama dalam keadaan tidak sadar. Rasanya tadi ada seseorang yang menanyakan sesuatu, entahlah ia tidak mendengar jelas apa yang orang itu tanyakan. Gadis ini menoleh ke samping kanan dan melihat seorang lelaki yang ia kenal sedang duduk di sebuah kursi sambil menatapnya dengan tatapan khawatir. Jongdae, lelaki yang sudah cukup lama ia kenal sekarang sedang menyunggingkan senyum leganya karena tahu jika dirinya sudah sadar.

“Kau baik-baik saja? Seharusnya kau menuruti saranku tentang beristirahat di ruang kesehatan tadi.” celoteh Jongdae sambil membantu gadis bermarga Park itu merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersandar. Setelah membantu gadis itu untuk duduk, Jongdae segera mengambil segelas air putih yang sudah ia siapkan di atas meja lalu menyodorkannya pada gadis yang sedari tadi membuatnya khawatir setengah mati karena tiba-tiba saja jatuh pingsan saat jam olahraga.

Sebenarnya Jongdae sudah menyarankan gadis ini untuk beristirahat saja di ruang kesehatan karena wajah gadis ini sudah tampak pucat saat ia baru saja sampai di sekolah. Suhu tubuh gadis itu juga lebih hangat, tidak seperti biasanya. Dengan kondisi seperti itu, tetap saja gadis bernama Soo Jin ini memaksakan dirinya untuk mengikuti jam olahraga. Beginilah akhirnya, Jongdae terpaksa mengantar Soo Jin pulang. Jongdae memang sengaja ditugaskan untuk menjaga gadis ini dan memenuhi kebutuhan gadis ini jika tiba-tiba saja ia membutuhkan sesuatu. Pihak sekolah mengetahui jika Soo Jin tinggal sendirian di sebuah apartemen dari data-data yang ada di sekolah.

“Kepalaku pusing.” keluh Soo Jin dengan nada pelan. Bukan untuk apapun, suaranya memang sedikit serak karena radang tenggorokan yang dideritanya. Dan karena radang tenggorokan sialan itu membuat nafsu makannya turun drastis. Kerongkongannya akan merasa sakit setiap ia menelan, wajar saja membuat nafsu makannya turun.

“Kau sudah makan? Harus makan sebelum minum obat.”

Shirreo.”

Jongdae mengerutkan keningnya, melempar tatapan bingung pada Soo Jin. Apa salahnya hanya makan dan minum obat? Itu akan membantu meredakan pusing bukan? Mungkin saja Soo Jin merasa pusing karena memang belum sarapan. Lantas apa alasan gadis ini untuk tidak mau makan dan minum obat? Soo Jin mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Beberapa sekon kemudian, Soo Jin sudah mengangkat ponselnya dan mengarahkannya pada Jongdae. Terdapat beberapa kata yang Soo Jin ketikkan.

Aku radang tenggorokan. Sulit untuk berbicara dan menelan makanan.

“Tapi kau harus makan. Jika tidak kau akan terus merasa pusing.” ujar Jongdae sambil mengusap puncak kepala gadis berambut hitam itu. Soo Jin memasang wajah cemberutnya. Haruskah ia makan? Dengan sedikit pertimbangan, akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya dengan ragu. Yah, bagaimanapun ia memang harus makan karena sudah semenjak semalam tidak ada satupun makanan yang masuk ke perutnya. Tubuhnya juga butuh asupan nutrisi agar penyakitnya bisa sembuh. Meskipun hanya flu, tetap saja Jongdae merasa khawatir pada Soo Jin.

“Baiklah. Kurasa aku harus keluar membeli makanan dan obat. Tidak apa-apa jika kutinggal sendiri?” tanya Jongdae yang hanya dibalas dengan anggukan dari gadis bermarga Park itu.

“Aku tidak akan lama.”

Setelah mengatakan itu, Jongdae segera berjalan menuju pintu kamar Soo Jin dan menutupnya dengan perlahan. Menyisakan kesunyian yang terlalu kentara di apartemen Soo Jin. Gadis itu beranjak dari kamarnya menuju ruang tengah dengan membawa sebuah bantal dan selimut. Rencananya ia akan menonton televisi daripada mati kebosanan menunggu sampai Jongdae datang di kamarnya.

Oh, ternyata Jongdae menepati janjinya. Hanya sekitar sepuluh menit kemudian ia kembali dengan membawa beberapa kantung plastik berisi bahan makanan dan obat. Sayangnya saat Jongdae sampai, Soo Jin sudah tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi yang masih menyala dan selimut yang tidak menutupi seluruh tubuh mungilnya. Jongdae sempat berdecak kesal melihat keadaan Soo Jin yang tampak mengenaskan seperti ini malah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Lelaki bermarga Kim itu segera mematikan televisi dan merapihkan selimut yang hanya menutupi sebagian badan gadis itu.

Setelah itu, ia segera mengambil beberapa kantung plastik yang sengaja ia letakkan di meja terlebih dahulu dan membawanya menuju dapur. Setelah menata bahan makanan yang ia beli di atas counter dapur, dengan segera Jongdae sibuk memotong dan mengolah bahan makanan itu agar dapat dimasak. Yah, tidak terlalu sulit untuk membuat sup, setidaknya Jongdae pernah membuatkannya untuk sang ibu dan rasanya tidak seburuk yang dikiranya.

Oh, Jongdae juga tidak lupa untuk membuat segelas teh madu hangat untuk gadis itu. Jongdae mengetahui dari ibunya jika teh madu baik untuk penderita flu. Wajar jika Jongdae selalu merasa khawatir setiap kali ada sesuatu yang terjadi pada Soo Jin. Harus Jongdae akui jika lelaki itu sudah mencintai gadis yang beberapa tahun lalu ia kenal diam-diam. Soo Jin sama sekali tidak mengetahui masalah perasaan Jongdae yang satu ini. Tidak perlu dijelaskan, sudah pasti Jongdae belum pernah sekalipun menyatakan perasaannya. Bukan takut menerima penolakan, tapi takut karena nanti akan tercipta jarak yang jauh antara keduanya. Rasanya juga tidak mungkin jika Jongdae harus mencintai gadis itu dalam diam, sampai kapan? Setidaknya Jongdae butuh kepastian tentang perasaan gadis itu padanya. Tidak, sama sekali Jongdae tidak memaksa jika Soo Jin memiliki perasaan yang sama, itu haknya.

“Apa yang kau masak?” tanya Soo Jin dengan suara serak dan sengau miliknya. Jongdae menoleh dan mendapati Soo Jin tengah berjalan mendekatinya. Tangannya masih sibuk mengucek mata kecokelatan miliknya agar dapat melihat dengan lebih jelas lagi.

“Semangkuk sup mungkin dapat membuatmu lebih baik.” jawab Jongdae sambil melontarkan senyum singkat dan segera mematikan kompor begitu tahu jika sup yang dimasaknya sudah dapat disantap. Soo Jin hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan Jongdae yang mulai sibuk menuangkan sup dari panci ke mangkuk.

“Tunggulah di meja makan. Aku akan melayanimu khusus untuk hari ini.” ujar Jongdae dengan sedikit nada mengejek di akhir kalimatnya, membuat Soo Jin melayangkan tinju pelan ke bahu lelaki berambut hitam itu yang membuat kekehan kecil keluar dari mulut keduanya. Soo Jin kemudian menuruti perkataan Jongdae dengan berjalan menuju meja makan yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari dapur. Tidak sampai satu menit, Jongdae muncul dari dapur dengan nampan berisi semangkuk nasi dan sup serta teh madu yang sudah ia buat tadi.

“Wah, kurasa kau cocok jika menjadi koki dadakan seperti ini.”

Jongdae hanya terkekeh pelan mendengar tanggapan Soo Jin. Dengan cekatan Jongdae memindahkan nasi dan sup dari nampan ke hadapan Soo Jin disusul dengan teh madu di sampingnya. Setelahnya, ia langsung duduk manis di sebelah Soo Jin. Namun, tidak ada pergerakan berarti yang dilakukan oleh Soo Jin, membuat kening Jongdae berkerut bingung.

“Aku tidak mau makan.”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar di siang yang panas ini. Heol, satu kalimat penolakan sederhana berhasil membuat bahu Jongdae merosot ke bawah. Tidakkah Soo Jin menghargai jerih payahnya untuk pergi berbelanja dan memasak untuknya? Yah, walaupun hanya sup, tetap saja ia ingin setidaknya Soo Jin mencicipinya sebagai bentuk rasa menghargai Jongdae.

“Ayolah, setidaknya cicipi dulu. Kau membuat makanan yang kubuat seolah-olah tidak layak untuk dimakan.” rayu Jongdae yang hanya dibalas kekehan kecil dari gadis itu. Well, gadis itu hanya bercanda tentang tidak ingin makan. Tidak disangka jika Jongdae menanggapi dengan serius candaan yang ia lontarkan beberapa sekon yang lalu.

“Tenanglah, tadi hanya bercanda.”

Jongdae mendengus sebal setelah mendengar kalimat yang dengan santainya Soo Jin ucapkan barusan. Tidak sadarkah gadis itu jika beberapa saat yang lalu ia membuat Jongdae kehilangan kepercayaan diri? Bahkan rasanya seolah jika ia memang sangat tidak pantas untuk memasak. Ayolah, seorang Kim Jongdae tidak seburuk itu. Setidaknya ia masih bisa memasak jenis-jenis makanan simple yang gampang untuk dibuat.

Soo Jin tampak tidak peduli saat Jongdae saat ini mulai menopang dagu dan menatapnya yang sedang mengambil sebuah sendok untuk menyicipi masakan Jongdae. Ini baru pertama kalinya sejak ia mengenal Jongdae, bahkan gadis ini sama sekali tidak tahu jika Jongdae bisa memasak. Salahkan Jongdae yang tidak menceritakan hal itu padanya.

“Bagaimana?” tanya Jongdae –masih dengan posisi bertopang dagu menghadap Soo Jin– menatap gadis itu dengan pandangan cemas. Tentu saja ia mencemaskan tentang rasa masakannya, terutama Jongdae sangat tahu jika Soo Jin termasuk orang yang pilih-pilih jika tentang makanan.

“Enak.”

Apa?

Hanya itu saja? Perjuangannya berbelanja dan memasak hanya membuahkan hasil seperti itu? Tidak ada komentar lain? Oh, mungkin gadis itu masih memikirkan tentang bagaimana rasa sup buatan Jongdae. Lelaki itu tampak menunggu tanggapan lain yang keluar dari mulut gadis itu tapi nyatanya gadis itu tetap menyantap makanannya dengan santai tanpa berniat menambahkan komentar apapun lagi tentang sup itu. Astaga, benarkah hanya satu kata itu yang pantas untuk menjadi komentar tentang sup yang ia buat? Seburuk itukah rasanya?

“Seburuk itukah?”

“Ini enak.”

“Hanya itu saja?”

“Lalu apa yang harus kukatakan?”

Jongdae mengerucutkan bibirnya kesal sementara Soo Jin hanya terkekeh melihat wajah Jongdae yang tampak seperti bebek itu. Yah, memangnya apa lagi yang Soo Jin harus katakan? Memang rasa sup buatan Jongdae enak, ia tidak berbohong. Lantas pujian seperti apa yang Jongdae inginkan keluar dari mulut Soo Jin?

“Setidaknya berikan komentar yang cukup panjang. Kau membuat rasa percaya diriku turun drastis mendengar tanggapanmu yang sangat singkat.” gerutu Jongdae. Soo Jin hanya cuek saja sambil tetap melanjutkan acara makannya. Jongdae yang merasa bosan akhirnya mengambil ponselnya dari saku celana seragamnya dan memainkan game. Setidaknya ia dapat mengusir rasa bosan dengan bermain game daripada hanya mengamati Soo Jin yang sedang makan. Belum sampai lima menit Jongdae sibuk dengan game di ponselnya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

Yeoboseyo?”

Jongdae! Dimana kau? Kwon ssaem mencarimu.”

“Ada apa?”

Tanyakan saja pada Kwon ssaem. Kau tahu? Aku yang dimarahi karena kau menghilang tiba-tiba. Kau juga tidak memberitahuku kemana kau. Sebenarnya kau dimana?

“Ck, guru piket menugaskan aku menjaga Soo Jin di rumahnya.”

Hening. Tidak ada tanggapan dari seberang telepon selama beberapa detik. Mungkin lelaki bermarga Kim di seberang sana sedang mencerna ucapan Jongdae selama beberapa detik. Sesaat Jongdae mengira jika sambungan sudah diputus sebelum akhirnya suara lelaki di seberang sana kembali terdengar.

Apa kau.. maksudku kalian… melakukan sesuatu?

Uhuk!

Jongdae langsung tersedak saat baru saja ingin menelan seteguk air yang memang sedari tadi ada di hadapannya. Heol, seharusnya Jongdae sadar jika temannya yang satu ini memiliki otak yang liar. Lihat, bahkan fantasi anak mesum itu tidak sedikitpun terpikirkan di benak Jongdae. Bahkan Jongdae heran, bagaimana bisa ia berteman baik dengan lelaki mesum seperti dia?

“Tentu saja tidak. Bahkan sedikitpun tidak terlintas di pikiranku.” gerutu Jongdae dengan nada kesal. Tentu saja kesal, justru malah Jongdae yang tampak seperti lelaki mesum karena dituduh seperti itu. Padahal fantasi lelaki di seberang sana saja yang terlalu liar sehingga berpikir yang macam-macam. Hanya terdengar kekehan pelan di seberang sana sebelum akhirnya lelaki itu menghentikan kekehannya dan –

Baiklah. Semoga sukses Jongdae!

Menggoda Jongdae. Belum sempat Jongdae mengeluarkan umpatannya, sambungan telepon sudah diputus dari sana. Sial, temannya yang satu ini memang harus diberi pelajaran saat ia kembali ke sekolah nanti. Sebenarnya Jongdae tahu apa maksud temannya yang mengatakan semoga sukses. Jongdae memang menceritakan pada temannya itu bahwa ia akan menyatakan perasaannya hari ini. Sayangnya malah berakhir dengan Jongdae yang harus menjaga Soo Jin yang sedang sakit. Well, sebenarnya Jongdae juga tidak keberatan karena kesempatan menguntungkan untuk terus bersama Soo Jin dalam waktu yang cukup lama tidak akan datang untuk kedua kalinya bukan?

“Ah, aku kenyang.”

“Nah, saatnya minum obat.”

Shirreo.”

“Ayolah, tidakkah kau tahu bahwa aku mengkhawatirkanmu?”

“Aku tidak memintamu untuk peduli, tuan Kim.”

Jongdae menghembuskan napasnya kasar. Yah, salah satu sifat buruk yang tetap ada dalam diri Soo Jin meskipun gadis ini sedang sakit adalah sifat menyebalkannya yang seperti saat ini. Dan sifat buruk gadis ini lah yang membuat Jongdae harus ekstra sabar saat menghadapi saat saat seperti ini. Anehnya, Jongdae sama sekali tidak mempermasalahkan sifat buruk Soo Jin yang satu ini.

“Inginnya seperti itu. Sayangnya aku tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan tentang orang-orang yang kucintai.”

Hening. Tidak ada percakapan yang terjalin selama beberapa sekon selanjutnya. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Jongdae yang sibuk merutuki kebodohannya karena telah mengatakan kalimat seperti itu tanpa sadar dan Soo Jin yang terlalu sibuk mengartikan apa maksud kalimat yang Jongdae lontarkan.

“Kurasa aku harus mengakuinya.” ujar Jongdae yang sedang berusaha memecah keheningan dan suasana canggung di antara keduanya. Sungguh, Jongdae benci situasi seperti tadi.

“Tiga tahun. Sudah tiga tahun kita saling mengenal. Bahkan aku masih ingat jelas bagaimana kita bertemu saat itu. Tapi bukan itu yang ingin kukatakan.” Jongdae menghembuskan napasnya pelan, kembali mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengakui semuanya di hadapan Soo Jin.

“Aku tidak tahu sejak kapan. Tapi yang jelas aku menyadari jika aku mencintaimu. Bukan sebagai sosok sahabat, aku ingin hubungan yang lebih dari itu. Tentu saja aku tidak akan berharap terlalu banyak karena jika jawabanmu tidak sesuai dengan keinginanku, maka akan semakin sakit bukan? Aku juga tidak ingin menjadi pria egois yang memaksamu untuk tetap bersamaku.” Soo Jin masih tetap diam, seakan menunggu kata-kata yang akan diucapkan Jongdae selanjutnya.

“Kurasa hanya itu yang ingin kukatakan. Aku tidak peduli jawaban yang akan kau berikan akan menyakitkan atau justru menyenangkan. Aku tidak akan melarangmu untuk menjauh jika pernyataanku barusan membuatmu tidak nyaman lagi berada di dekatku. Yang jelas aku mencintaimu, Park Soo Jin.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jongdae segera berdiri dan berjalan menjauh tanpa mempedulikan Soo Jin yang masih terdiam mendengar penuturan Jongdae. Tangannya sudah terangkat untuk membuka pintu apartemen Soo Jin sebelum akhirnya terhenti saat merasakan suhu tubuh gadis itu yang cukup hangat seolah menyatu dengan suhu tubuhnya. Yah, sepasang tangan gadis itu sudah melingkar di pinggang Jongdae.

“Kau tahu? Kau pria yang jahat.” ujar Soo Jin dari balik punggung Jongdae. Lelaki berambut hitam itu mengernyitkan dahinya bingung.

“Tega-teganya kau meninggalkan seorang gadis yang sedang sakit sendirian di sebuah apartemen seorang diri.” Jongdae menunggu kalimat apa lagi yang akan diucapkan oleh gadis itu.

“Dan kau juga belum mendengar jawabanku. Bagaimana bisa kau pergi seenaknya tanpa tahu jawabanku terlebih dahulu? Tidakkah kau penasaran dengan jawabanku? Kukira kau mencintaiku. Rasanya aku mencintai orang yang salah.”

Tunggu. Jongdae tidak salah dengar ‘kan? Ia yakin seratus persen jika telinganya masih berfungsi dengan baik. Tapi rasanya masih sulit untuk percaya jika apa yang dikatakan gadis bermarga Park itu tentang perasaan gadis itu padanya. Jongdae segera memutar badannya seratus delapan puluh derajat sehingga mata mereka saling beradu pandang. Tatapan gadis itu.. terlalu sulit untuk diartikan menurut Jongdae.

“Bisa kau ulangi?”

Entah mengapa dari sekian banyak pertanyaan yang lebih baik untuk menanyakan maksud gadis itu, justru pertanyaan yang sama sekali tidak bermutu itu yang keluar dari mulut Jongdae. Heol, mungkin saat ini Soo Jin sudah mengira jika ada sesuatu yang salah dengan pendengaran Jongdae.

“Kurasa tidak ada yang perlu kuulangi. Aku yakin jika kau mengerti apa yang kuucapkan tadi.”

“Kau.. serius?”

“Menurutmu?”

Buru-buru Jongdae kembali menarik gadis itu dalam pelukannya, memberikan gadis itu pelukan erat yang membuat gadis bersurai hitam itu merasa nyaman. Samar-samar Soo Jin dapat merasakan detak jantung Jongdae yang entah sejak kapan sudah bekerja di atas normal. Yah, Soo Jin akui jika kerja jantungnya juga sedang berada di atas normal.

“Kau menyebalkan.” gerutu Soo Jin yang masih berada dalam pelukan Jongdae. Lelaki berambut hitam itu mengernyitkan dahinya bingung. Apa lagi yang menyebalkan dari dirinya menurut Soo Jin?

“Menyatakan perasaan saat aku sedang sakit. Sungguh tidak berperasaan.”

Jongdae hanya terkekeh pelan mendengar gerutuan gadis yang masih ada dalam pelukannya itu. Bukannya melepaskan pelukan mereka, Jongdae malah makin mengeratkan pelukan di antara mereka.

“Bagaimanapun menyebalkannya aku, kau tetap menyukaiku.”

“Tidak.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu.”

“Perlukah kukatakan juga bahwa aku mencintaimu?”

 

-END-

Setelah dua bulan menghilang (?) akhirnya series ini bisa dilanjut lagi. Ada yang nungguin? Nggak ada? Yaudah gapapa, cuma mau post ff aja soalnya udah lama banget nggak nge post. Dua bulan menghilang dari blog jadi kudet banget sama apa aja yang terjadi di blog. Biasa orang sibuk /halah sok sibuk!/ /kemudian di tampar/

Sebenernya kepikiran buat berentiin series ini karna makin diliat makin sedikit peminatnya gitu. Siders makin meningkat, yang sekedar ninggalin jejak aja jadi menghilang. Pada kemana? Oh mungkin sibuk kayak aku dua bulan belakangan /sadar diri/ XD

Masih bimbang sih sebenernya mau berhentiin series ini tapi kok ya sayang karena untuk member lain udah aku buat. Nggak diberhentiin tapi peminat semakin sedikit, bingung gitu. Bagusnya gimana? Berhentiin atau lanjutin? Yang berkenan silahkan kasih saran di komen^^

Mind to review? Silahkan komen!^^

 

Regards,

Dea

7 tanggapan untuk “About Love #5 [Chen Vers] – deagoldea”

  1. Lanjutttttt dong kakk, aku udah izin bca loh kakk di series” sbelumya dri series prtama smpe skarang..kkkk 🙂
    Critanya bagus kox kakk
    Itu chen oppa brasa jdi suami yg mrawat istrinya yg sdang sakit..wkwkwk
    Itu yg nelfon jongin oppa kah??
    Coz tdi ada kata otak liar + lelaki mesum#oopss mianhae jongin oppa aku gx brmaksud ^^v
    Pasti d series slanjutnya bkalan Jongin oppa ya kakk#naikturunalis/kedip”..wkwk

    D tunggu next seriesnya kakk
    Hwaitingg!! 🙂

  2. aku gak inget aku ngikutin series ini atau nggak, tapi yah, yg ini boleh juga ^^ ff apapun slm bercast bias aku sih okeeee. fluffy lagi ini. cmn yah, kurang ada sentuhan yg bikin menarik, trs kebanyakan detil yg malah jadi bikin gantung (menimbulkan pertanyaan lain) macam knp soojin tinggal sendiri di apartemen, kmn keluarganya, knp jongdae malah disuruh nganterin pulang soojin padahal jam masih jalan dan si soojin bisa diistirahatkan di uks, dsb.
    jgn berhenti cuman krn siders, rugi!
    keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s