FATA CRUENTA [Episode 2] – by GECEE

fata-cruenta - poster 1

 

GECEE proudly present

 

F A T A C R U E N T A

Starring :

EXO’s Chanyeol
Kim Yoojung

 

Ide cerita punya Gecee, tapi semua castnya bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on FATA CRUENTA:
[TEASER] | [EP 1]

This awesome poster was made by HRa @ Poster Channel

Park Chanyeol menepikan mobil hitamnya secara perlahan, mendekati halte bus. Netranya mencari-cari sosok seorang gadis berambut lurus panjang – setidaknya itulah yang ia lihat dari foto profil gadis itu. Matanya kemudian menangkap seorang gadis berkemeja kotak-kotak yang sedang menatap ponsel. Chanyeol yakin tujuh puluh persen itu adalah gadis yang ia cari – tiga puluh persen lagi adalah kemungkinan bila ia melihat gadis yang mirip atau gadis itu mempunyai saudara kembar.

Satu lagi gadis bodoh yang akan jatuh ke dalam pesonaku, batin Chanyeol. Bibirnya menyunggingkan seulas seringai.

Chanyeol membunyikan klakson mobilnya dua kali, tak lupa juga mengedipkan lampu depan mobilnya. Gadis itu berjalan menghampirinya. Diam-diam Chanyeol menilai penampilan gadis itu. Tidak seperti gadis-gadis lainnya yang selama ini berkencan buta dengannya yang memakai mini dress serta tas berkilauan. Gadis ini hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans panjang, serta sebuah tas selempang. Menarik, batin Chanyeol.

Chanyeol membuat isyarat tangan menyuruh gadis itu masuk ke mobilnya, dan gadis itu mengikutinya dengan patuh. Senyum lebar gadis itu tak lepas dari pengamatan Chanyeol. Sepertinya gadis itu tampak senang. Demi Tuhan, gadis ini polos sekali.

“Annyeonghaseyo, Kim Yoojung-ssi,” sapa Chanyeol

Kim Yoojung, gadis itu, masih sibuk menggeser-geser pantatnya di kursi, menaruh tas selempangnya di pangkuan, lalu mengenakan sabuk pengaman. Postur gadis itu sepertinya tidak nyaman, seperti terasa canggung. Chanyeol mendapati dirinya bertanya-tanya apakah ini kali pertama bagi gadis itu dalam mengikuti kencan buta.

Gadis itu kemudian menoleh ke arahnya, menundukkan kepalanya sejenak memberi salam pada Chanyeol. “Ne, annyeonghaseyo, Overdozed-ssi…” sahut gadis itu.

Chanyeol menyalakan kembali mesin mobilnya. Melalui ekor matanya ia tahu bahwa gadis itu tidak berhenti menatapnya. Namja itu mengulum senyum. Apa aku terlihat tampan hari ini?

“Jeogiyo…. Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?”

BINGO!

Entah mengapa Chanyeol tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Begitu pertama kali melihat foto profil id Let’s Meet gadis itu, Chanyeol langsung mengenali sosok Kim Yoojung. Gadis manis yang tidak sengaja menabraknya dengan motor beberapa waktu yang lalu. Gadis yang terus menerus meminta maaf dan menunjukkan tampang bersalahnya pada Chanyeol, yang sebenarnya membuat Chanyeol lebih ingin tertawa daripada marah-marah.

Dan sekarang ia dipertemukan lagi pada gadis ini. Bukankah dunia ini begitu sempit?

“Majayo? Kita pernah bertemu, kan, overdozed-ssi?”

Chanyeol menoleh sekilas. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Maaf, sepertinya anda salah lihat,” jawab namja itu akhirnya.

Yoojung menundukkan kepalanya. Lihatlah betapa cepat gadis itu merasa bersalah. Dalam hati Chanyeol memuji sekaligus menertawakan kelembutan hatinya.

“Ah… Joesonghabnida. Mungkin saya salah mengenali orang,” ujar gadis itu.

“Hmm…” Chanyeol memindahkan persneling mobil. “Yoojung-ssi, bagaimana kalau kita menikmati makan malam di rumahku?”

Gadis itu mengangguk. “Ah, ne. Terserah anda saja,” sahutnya tidak lupa dengan senyum.

Chanyeol menginjak pedal gas dalam-dalam. Jalanan terlihat sepi dan ia memutuskan untuk cepat-cepat sampai di rumahnya agar urusannya segera selesai.

“Keundae… Overdozed-ssi… Bolehkah saya tahu nama asli anda sebenarnya?” tanya gadis itu dengan nada yang Chanyeol tahu berusaha dibuat seramah mungkin.

Namja itu menoleh. “Namaku? Mengapa aku harus memberi tahu nama asliku?”

“Keuge.. Anda kan sudah mengetahui nama asliku dari aplikasi Let’s Meet. Saya juga ingin mengetahui nama asli anda.”

“Tidak perlu tahu. Cukup panggil aku dengan Overdozed, itu sudah cukup. Bukankah menjadi orang yang misterius itu menyenangkan?”

“Ah, ne….” sahut gadis itu akhirnya.

Hening lagi. Gadis itu sibuk memainkan buku jarinya sementara Chanyeol berkonsentrasi dengan jalanan di hadapannya. Di luar, hujan gerimis mulai turun membasahi kaca jendala mobil Chanyeol.

Chanyeol teringat akan sekaleng kopi yang ia bawa. Ia merogoh bagian pintu mobilnya, tempat penyimpanan minuman botol. “Aku punya kopi. Kau mau?” tawarnya pada gadis bernama Kim Yoojung itu dengan mata yang masih menatap jalan.

“Ah, gamsahabnida..” Gadis itu meraih kopi pemberian Chanyeol.

Setengah jam kemudian mereka sampai di kediaman Chanyeol. Chanyeol menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya. “Yoojung-ssi, kita sudah sampai,” ujarnya.

Tidak ada jawaban.

Chanyeol menoleh dan mendapati gadis itu sudah terbang ke alam mimpi. Matanya terpejam erat dan kepalanya terkulai ke sebelah kanan. Napasnya terlihat begitu teratur. Chanyeol tersenyum. Ini tentu saja akan memudahkannya untuk menyelesaikan urusannya sekarang juga.

Tuk! Tuk! Tuk!

Suara ketukan di kaca jendela. Chanyeol yang tadinya hendak menggendong Yoojung pun menoleh. Matanya menangkap sosok Park Yoora – almarhum adik perempuannya yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih. Chanyeol menurunkan kaca jendela mobilnya. Aneh, meskipun diguyur hujan, tetapi Yoora tidak terlihat basah.

“Oppa…” ujar Yoora pelan.

“Yoora-ya..”

“Hajima, oppa. Kumohon jangan lakukan itu…”

“Yoora-ya…” Chanyeol terlalu terkejut untuk bisa berkata-kata hingga mulutnya hanya bisa menyebutkan nama adiknya.

“Oppa, hentikan semua itu. Kau hanya akan membuatku tambah sedih, oppa…”

Setetes air mata meluncur menuruni pipi Yoora. Bersamaan dengan itu, sosok Park Yoora pun hilang dari pandangan Chanyeol.

“YOORA-YA!” seru Chanyeol.

Seruan Chanyeol barusan berhasil membangunkan Yoojung. Seketika Yoojung memperbaiki posisi duduknya. “Ah, joesonghabnida, Overdozed-ssi. Aku tertidur. Sudah sampai dimanakah kita?” tanyanya sambil merapikan rambutnya dengan gugup.

Chanyeol seperti tersadar bahwa ia punya penumpang lain di mobilnya. Ia menatap gadis itu. Setelah bertemu dengan sosok Yoora tadi, Chanyeol seakan tidak berniat melanjutkan rencananya.

“Pergi,” perintah Chanyeol pada Yoojung.

“Ne?”

“Aku tidak bisa melanjutkan ini. Maaf, tapi kau harus pergi.”

“Jigeumyo?” Gadis itu tertawa canggung. “Sekarang sedang hujan, Overdozed-ssi, apakah maksudmu – “

Chanyeol memotong kata-kata gadis itu. “Pergi, cepat pergi! Cepat pergi sebelum aku menghabisimu!”

“Maksud anda?”

“CEPAT PERGI!!!”

“Ah, ne. Joesonghabnida…” Gadis itu cepat-cepat mengambil tas selempangnya, kemudian melesat keluar dari mobil Chanyeol. Puncak kepalanya ia tutupi dengan tas selempang yang ia bawa. Gadis itu berlari cepat, mungkin berusaha sesegera mungkin mencari tempat berteduh.

Chanyeol hanya menatap kepergian gadis itu dengan diam. Sayang sekali ia harus mengorbankan korbannya kali ini. Ini di luar kebiasaannya. Selama ini ia langsung menghabisi korbannya saat itu juga. Chanyeol tidak tahu apakah ia harus marah atau berterima kasih pada sosok Yoora yang tadi tiba-tiba mendatanginya dan membatalkan semua rencananya.

***

“Yeoboseyo?”

Tidak ada hal yang lebih membuat lega Yoojung saat ini selain fakta bahwa akhirnya Rahee mengangkat teleponnya. Tanpa sadar ia menghembuskan napas dengan keras. Sudut-sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Rahee-ya… Kau sekarang… berada… dimana?” Yoojung berusaha bertanya, melawan giginya yang gemeletukan.

“Sedang dalam perjalanan pulang dengan Youngdo. Wae?”

Yoojung menggosokkan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel ke celana jeans. Tangannya itu terasa hampir beku. “Bisa kau jemput aku?”

“Kau ada dimana?” Rahee balik bertanya.

“Molla.” Yoojung menggelengkan kepala, kemudian kembali bergidik kedinginan. “Aku sendiri tidak tahu aku berada di mana. Bisa kau lacak aku dari lokasi ponselku?”

“Yoojung-ah… ada apa denganmu? Memangnya apa yang terjadi dengan kencan butamu? Mengapa lelaki itu tidak mengantarmu kembali?”

“Itu… biar ku ceritakan nanti.” Yoojung tersenyum samar. “Cepat datang, kumohon.”

“Arasseo, arasseo. Ya, Youngdo-ya! Kau punya aplikasi pelacak ponsel kan? Kim Yoojung, tunggu sebentar lagi ya, kami akan segera sampai!” ujar Rahee.

“Hmm..” sahut Yoojung.

KLIK! Telepon ditutup.

Yoojung menatap sekelilingnya. Entah mengapa semuanya terasa menyeramkan mengingat hanya ia sendiri yang berlindung di bawah kanopi toko kecil itu. Tadi ia tidak sempat berpikir kemana ia akan pergi, ia hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya. Hal yang terlintas di benaknya hanyalah secepat mungkin mendapatkan tempat berteduh. Sekarang toko tempatnya berteduh itu sudah tutup. Lampu jalan sepertinya tidak dinyalakan. Hujan deras yang mengguyur kawasan itu. Gelap. Perpaduan suasana itu membuat Yoojung merinding. Ia berharap Rahee dan Youngdo cepat-cepat menjemputnya.

Yoojung menggosok-gosokkan kedua tangannya yang terasa mulai membeku, meniupnya telapak tangannya, kemudian menggosoknya lagi. Sesaat, wajah pria berinisial overdozed itu kembali terlintas di benaknya. Yoojung ingat jelas bagaimana lelaki itu mendadak bersikap dingin dan menyuruhnya keluar saat itu juga, tidak peduli akan hujan deras yang siap mengguyurnya. Dalam hati Yoojung bertanya-tanya apa yang membuat pria itu bertindak seperti itu? Menurut penilaian Yoojung, lelaki itu misterius dan sulit ditebak.

Suara klakson mobil menyadarkan Yoojung dari lamunan semunya. Gadis itu menegakkan punggungnya dan kepalanya celengak-celinguk mencari asal suara klakson tersebut. Dalam hati ia berdoa agar itu adalah klakson mobil Rahee atau Youngdo yang menjemputnya.

“YOOJUNG-AH!”

Yoojung menoleh ke asal suara itu. Suara seorang lelaki berteriak. Yoojung menyipitkan matanya. Tampaklah olehnya seorang lelaki sedang keluar dari mobil sambil membawa payung. Yoojung tersenyum lega. Itu pasti Youngdo, batin Yoojung.

Tiga detik kemudian seorang gadis juga keluar dari mobil itu sambil membawa payung dan sebuah jaket tebal. Gadis itu berusaha mengejar langkah sang lelaki. Yoojung mengenali sosok gadis itu sebagai Rahee.

Hal pertama yang Rahee lakukan begitu ia sampai di tempat Yoojung berdiri adalah menjitak kepala kekasihnya. “Ya! Apa kau panggil dia tadi? Yoojung-ah? Kau pikir kau seumur dengannya, hah?”

“Aish… Tidak perlu pakai menjitak, Rahee-ya.” Lelaki yang bernama Youngdo itu kemudian membungkukkan badan pada Yoojung. “Mianhaeyo, Yoojung nuna.”

Yoojung terkikik kecil. “Tidak apa-apa, Youngdo-ya. Ini kan bukan pertama kali kita bertemu. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Dan karena kau adalah kekasih Rahee, maka kau adalah temanku juga. Kau boleh memanggilku sesukamu.”

Youngdo meleletkan lidah pada Rahee yang dibalas dengan jitakan lagi oleh gadis itu.

“Keunde Yoojung-ah…” Rahee menyampirkan jaket tebal yang ia bawa pada pundak Yoojung. “Ada apa? Kenapa kau bisa berada di sini? Dimana overdozed-ssi?”

Yoojung hanya menundukkan kepalanya sambil menggosok telapak tangannya. “Nanti saja kuceritakan di rumah, ya. Sekarang aku hanya ingin pulang,” ujarnya pelan.

“Ah, arasseo.”

***

“Cha….” Rahee meletakkan secangkir teh melati hangat di hadapan Yoojung. “Ayo diminum. Kulitmu sudah seputih salju sekarang.”

Yoojung mengulurkan tangannya dari balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. “Gomawo, Rahee-ya,” sahutnya lalu mulai menyisip teh hangat tersebut.

“Nah, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi dengan kencan butamu. Mengapa Overdozed-ssi bisa meninggalkanmu begitu saja padahal sedang hujan deras?” Rahee duduk di sebelah Yoojung.

“Entahlah…” Yoojung meletakkan cangkir di atas meja. Sebuah helaan napas terdengar dari mulutnya. “Mungkin karena aku tertidur saat kencan, sehingga ia marah dan menjadi muak terhadapku.”

“Kau tertidur?”

Yoojung mengangguk samar. “Aku benar-benar lelah saat itu. Mataku rasanya berat. Ah… kenapa aku berbuat seperti itu ya?”

“Lalu?”

“Aku tertidur sepanjang perjalanan, sehingga aku tidak tahu apa-apa. Hal berikutnya adalah ia berteriak, lalu aku terbangun. Ketika aku bertanya sudah sampai dimana, ia malah menyuruhku pergi. Begitu saja. Dan aku pun memutuskan untuk berteduh di depan toko itu.”

“Ya ampun, tega sekali dia…” Rahee menggelengkan kepala.

Yoojung hanya tersenyum. “Maafkan aku kalau jadi merepotkanmu dan Youngdo, ya…”

***

“Selamat datang…”

Kim Minseok membalas sapaan pelayan café di sebelahnya dengan anggukan dan sebuah senyum manis. Aroma kopi serta merta memasuki indra penciuman Minseok saat detik pertama ia memasuki café itu. Telinganya langsung disuguhi dengan sebuah lagu pop yang sedang diputar di café. Café itu tidak terlalu ramai, hanya segelintir orang yang kebanyakan sedang bekerja dengan laptopnya, mungkin memanfaatkan fasilitas wifi gratis dari café tersebut.

Kepala Minseok celingukan mencari sosok seseorang. Ia dan seseorang itu sepakat untuk bertemu di café ini. Sempat terbersit dalam benak Minseok apakah ia salah tempat atau apa. Tetapi begitu ia melihat logo café yang ada di dinding, Minseok yakin ia tidak salah. Akhirnya Minseok mengambil kesimpulan bahwa orang yang ia tunggu itu belum datang. Minseok mengambil tempat duduk di salah satu kursi yang kosong.

“Minseok oppa!”

Suara itu terdengar familiar. Minseok memutar kepalanya. Seorang gadis melambaikan tangan pada Minseok. Namja itu tersenyum. Gadis itulah yang ia tunggu sejak tadi. Minseok bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja gadis itu.

“Kau baru saja tiba atau sudah menunggu sejak tadi?” ujar MInseok sambil menarik kursi untuk tempat duduknya.

“Sudah sejak tadi, oppa. Kau datang lama sekali.” Gadis itu mengerucutkan bibir.

Minseok tersenyum meminta maaf. “Mianhae, Yoojung-ah. Ngomong-ngomong, kau sudah memesan sesuatu?”

Yoojung menganggukkan kepala. “Sudah. Satu gelas jus jeruk,” ujarnya sambil menunjuk sebuah gelas yang kosong di ujung meja dengan dagu. “Oppa mau pesan apa?”

Minseok menaikkan sebelah alisnya, sejujurnya ia merasa janggal dengan panggilan Yoojung sejak tadi, tetapi ia diamkan saja. Minseok mengangkat tangan kanannya, memanggil pelayan. Seorang pelayan perempuan menghampiri meja mereka.

“Satu Americano latte,” ujar Minseok pada sang pelayan. “Kau mau sesuatu lagi, Yoojung-ah?”

Gadis di hadapannya itu hanya menggelengkan kepala.

Setelah si pelayan mencatat pesanan Minseok, pelayan itu meninggalkan meja mereka.

“Lama tak berjumpa, Yoojung-ah.” Minseok menatap wajah Yoojung yang putih dan imut. “Apa kabar?” tanya Minseok sambil mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Yoojung. “Wah, enam tahun tidak bertemu dan kau sudah menjadi gadis cantik, ya, sekarang?”

“Mwoya…” Yoojung tertawa kecil. “Oppa sendiri apa kabar di Paris? Apakah oppa sudah dapat kekasih orang Paris?”

“Kekasih apanya… Aku ini masih fokus untuk kuliah. Ingat, aku akan meraih gelar dokter spesialis bedahku secepatnya, setelah itu baru melamarmu. Oke?”

Mendengar itu Yoojung memberikan pukulan pelan pada lengan Minseok. Lelaki itu tertawa.

“Serius, oppa belum punya kekasih? Memangnya gadis Paris tidak ada yang cantik?” Yoojung masih tidak percaya.

“Serius. Aku menutup hatiku untuk gadis-gadis cantik karena aku tahu tidak ada yang secantik Yoojung-ku. Ngomong-ngomong, ada apa dengan panggilan ‘oppa’ itu? Sejak kapan kau memanggilku oppa? Bukankah enam tahun lalu kau hanya memanggilku dengan ‘Minseok-ah!’ seperti itu?” tanya Minseok sambil mengangkat alisnya.

Yoojung menunjuk dirinya. “Aku? Masa sih?”

“Yep! Ketika aku memintamu untuk memanggilku dengan ‘oppa’, kau selalu protes dan berkata kita kan hanya beda satu tahun!” jelas Minseok.

“Ah itu…” Yoojung menundukkan kepala. “Aku hanya merasa dulu aku kurang sopan terhadapmu. Jadi – “

Minseok memotong kata-kata Yoojung. “Kurang sopan apanya? Kita ini kan teman dari kecil, jadi tidak perlu terlalu bersikap santun satu sama lain. Ada-ada saja kau ini.”

Percakapan mereka terhenti sejenak ketika pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

“Ngomong-ngomong Yoojung-ah,” Minseok kembali membuka percakapan. “Kudengar Jongin hyung meninggal. Aku minta maaf karena aku tidak sempat melayat. Seharusnya aku datang untuk menghiburmu.”

Senyum yang tadi terukir di bibir Yoojung perlahan memudar. “Tidak apa-apa. Sudah tiga bulan berlalu. Aku baik-baik saja, kalau itu yang kau tanyakan. Aku sudah terbiasa hidup tanpa Jongin oppa, walaupun terkadang aku memang merindukannya. Itu hanyalah sebuah kecelakan yang tidak bisa dihindari, Minseok-ah.” Gadis itu menggunakan punggung tangan untuk menghapus air matanya. “Terima kasih untuk ucapan bela sungkawamu.”

Minseok menyodorkan sebuah sapu tangan pada Yoojung. “Kalau kau butuh bantuan, hubungi saja aku. Aku mungkin tidak bisa seperti Jongin hyung, tetapi aku akan membantu sebaik yang aku bisa.”

“Gomawo, Minseok-ah.”

***

Satu bunyi dentingan dari ponsel Yoojung menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Yoojung yang sedang berbaring di kamar mengusap layar ponsel dengan jari dari atas sampai ke bawah untuk melihat pemberitahuan. Sebuah pesan yang masuk di aplikasi Let’s Meet. Dari overdozed-ssi. Sambil bibirnya menyunggingkan seulas senyum ia membuka pesan tersebut.

Hari ini kau sibuk? Mau melanjutkan kencan kita yang tertunda?

Yoojung menerawang sejenak. Ia memang punya sebuah tugas yang harus ia selesaikan, tapi batas waktunya masih akhir pekan dua minggu lagi. Sepertinya untuk sore ini ia menganggur. Lagipula Rahee sudah berpesan ia akan pulang malam karena menemani ibu Youngdo yang masuk rumah sakit. Yoojung yang sendirian pun mulai merasa bosan.

Ide berkencan sore ini sepertinya tidak terlalu buruk, pikirnya.

Jemari lentik Yoojung mulai mengetik membalas pesan tersebut. Tidak juga. Anda ada dimana sekarang?

Kita akan bertemu di halte bus seperti waktu itu. Aku akan menjemputmu lima belas menit lagi.

Yoojung meletakkan ponselnya sembarangan dan segera melompat dari tempat tidur untuk bersiap-siap. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain diajak berkencan di sore hari seperti ini. Ngomong-ngomong, baju apa yang harus aku kenakan?

***

Begitu mobil di hadapannya berhenti, Park Chanyeol juga ikut menghentikan laju mobilnya. Sore hari itu jalanan kota Seoul sedikit mengalami kemacetan. Mungkin karena sore itu sedang jam pulang kerja sehingga banyak kendaraan yang keluar bersamaan. Belum lagi hujan yang mengguyur kota sehingga tidak ada yang berani berkendara dengan kecepatan tinggi karena takut tergelincir.

Chanyeol mengambil ponselnya dari dashboard mobil. Ia membuka aplikasi Let’s Meet untuk melihat profil gadis bernama Kim Yoojung. Sepertinya gadis itu cukup aktif di sosial media, dilihat dari seringnya ia berganti foto profil. Menunggu kemacetan, Chanyeol iseng melihat satu per satu foto profil gadis itu.

Kalau diperhatikan gadis itu memang cantik. Ia mempunyai senyum yang manis sekaligus memikat. Kalau ia sedang tersenyum, matanya seolah-olah ikut tersenyum. Menarik, pikir Chanyeol.

Tetapi dalam hati Chanyeol menertawakan keluguan gadis itu. Demi Tuhan, Chanyeol merasa ia seperti sedang menghadapi anak berumur tujuh tahun yang ia tawarkan permen untuk ia culik. Apakah gadis itu tidak memiliki rasa takut sama sekali untuk bepergian dengan laki-laki yang baru dikenal seperti dirinya?

Beruntung Chanyeol tidak perlu terjebak dalam kemacetan terlalu lama karena ia teringat ada jalan pintas yang nanti berakhir di dekat halte yang ia masuk. Chanyeol membelokkan mobilnya, menyusuri jalan pintas yang sempit tersebut, dan hanya butuh sepuluh menit Chanyeol sudah bisa melihat halte bi situ.

Bibir lelaki itu menyunggingkan senyum tipis begitu ia melihat bayangan Yoojung. Gadis itu mengenakan baju terusan kuning pastel yang dilapisi cardigan cokelat tua. Begitu Yoojung menyadari keberadaannya, gadis itu kembali tersenyum. Senyuman senang. Chanyeol terkekeh dalam hati. Dasar gadis polos.

“Annyeonghaseyo, overdozed-ssi..” sapa Yoojung sambil membungkukkan badan sedikit.

Chanyeol hanya mengangguk. “Maaf membuatmu menunggu.”

“Anieyo…” Gadis itu mengibaskan tangannya. “Aku juga belum lama sampai di sini.”

“Kalau begitu, ayo kita ke rumahku,” ujar Chanyeol dengan senyum tipis.

 

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 3

“Sedang apa kau di sini?”

“Tidak bisakah kau hentikan semua tindakan menyedihkanmu ini?”

***

“Sebenarnya apa maumu? Kalau aku membawa masalah untukmu, bilang saja!”

***

“Jangan pernah bertanya macam-macam tentangku.”

***

“Kau tahu apa rasanya kehilangan? Kau tahu kesedihan yang selama ini kutanggung akibat kau yang pergi begitu saja meninggalkanku?!!”

 

A/N
Maafkan karena sudah hampir 2 bulan dan cerita ini hampir lumutan baru aku update lagi..
Jujur, ketika nulis draft ff ini, aku sempat mengalami yang namanya writer block, dan aku menimbang2 haruskah aku nerusin ff ini apa nggak. Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk lanjut terus… Semoga ke depannya updateku nggak akan selama ini yaa..
And again, don’t forget to RCL! 😀

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

16 tanggapan untuk “FATA CRUENTA [Episode 2] – by GECEE”

  1. akhirnya sekian lama aku udah lumutan (?) Ini chapter dua keluar juga -,- Aku udah jarang buka exofanfiction tapi aku suka dua cerita punya kakak.!! aku ijin baca dulu yah. entar aku nongol lagi.

    1. wakakakaka kemana saja kamu sampai lumutan?? XD
      aduh… makasih loh.. padahal ceritaku sama sekali ga ada apa2nya dibandingkan dengan yang lain … tapi terima kasih utk pujianmu…

  2. Huaaaa aku baru tau ada ff iniihhh. Ternyata baru hiatus 2 bulan tooh. Pantes aku baru liat hehehe. Aku belom lama nangkring di EFFI soalnya hehe. Dan maaf baru komen disini ^^
    Jalan ceritanya aku sukaaaaa. Baru nemu karakter chan cem orang psikopat gituuu. Makanya betah bacanyaaaa. Biasanya karakter chan ya yg kaya dia aslinya hehehe. Yoojung mungkin orang yg terlalu positif makanya dia percaya percaya aja sama chan hahah. Tapi apa yg ngebuat chan jadi begitu yah cee? Nanti pasti ada flashback kan yaa? Hehehe. Ditunggu aja deh kelanjutannya. Semangat authir gecee ^^
    -XOXO-

    1. Iya… Mengalami author block selama 2 bulan itu menyedihkan 😥 gapapa.. Yang penting sudah komen 🙂
      Hehehehe.. Iya aku sengaja bikin parkchan jadi jahat di sini… Yoojung kan ceritanya polos2 pertimbangan sempit gtu, makanya gampang percaya..

      Gmn kelanjutannya? Ditunggu aja yaa XD
      Terima kasih utk apresiasi dan semangatnyaa 😄😄

    1. Iya smasama thor 😀
      Ceritanya bener2 bikin penasaran, menarik, chanyeol tampangnya begitu ternyata sadis 😂

  3. fighting ya kak author^^
    ff nya keren bingit tauuuuu… ^^
    moga chanyeol bener bener suka sama yoojung yahh, biar gak sadis gitu.. hehe

    next kak…

    1. terima kasih utk pujianmu huhuhu.. ini pertama kalinya aku bkin genre ginian sayy jadi maafkan kalau misalnya amat sangat geje yaa….

  4. Kata chanyeol kyk nawarin ank 7 tahun pake permen. Sygny yoojung g suka sm yg namany permen. Tp emg yoojung terlalu lugu gt sih. Dr gerak gerik chanyeol aja udh mencurigakan dr awal tp malah tetep ketemuan mulu. Diajak kencan abis d suruh ujan2an gt aja jg tetep aja mau. Yoojung yoojung :” saking polosny jd minta dijitak :”v. Semangat kak nulisnyaaa ^^ ditunggu kelanjutannyaa

    1. mungkin karena chanyeol cakep jadi yoojung tenang-tenang aja, nggak ada rasa takut gtu ya? malah pengen ketemuan terus?? XD (apa ini?)
      terima kasih untuk apresiasinya 😀

  5. Hwaaa krain ff ni gx d trusin coz udah lma tpi ehh rrnyata d trusin lg 🙂
    Next kakk
    Pnasaran apa yg mau dlakuin sma chanyeol ke yoojung 🙂
    Oh iya kakk maaf ya aku bru cmentnya d chap skarang coz chap yg baru d update ^^v

    D tunggu next chapnya ya kakk and klo bsa jgan lama” ..kkk mian^^v

    Fighting!!

    1. iya nak.. aku sempat mengalami yang namanya writer block, tiap kali mau nerusin yang ada malah bengong terus yang ada berakhir dengan nontonin mv exo yang ada di laptopku *curhat*
      penasaran? tunggu aja chap berikutnya hihihi…
      gapapa kok yang penting dirimu sudah memberi apresiasi… makasih yaaa 😀
      kalau misalnya kelamaan, aku minta maaf wakakaka… ditunggu saja 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s