[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 14)

image

MARRIAGE WITHOUT LOVE [ CHAPTER 14 ]

Title : Marriage Without Love
Author : Jung Ki Ki
Genre : Romance, Comedy, Marriage – Life
Lenght : Chapter
Rating : 15+
Cast :
Park Chan Yeol
Jung Eun Ji
Kim Myung Soo
Ahn Ha Ni
Disclaimer :
FF ini benar benar buatan saya, namun beberapa alur saya dapat dari beberapa Drama. Jika ada kesamaan yang lain pun, saya minta maaf namun saya tekankan bahwa FF ini murni buatan saya. Terima kasih.
Author’s Note :
WARNING!! Typo bertebaran dimana mana.
Inspiration :
Marriage Not Dating
Full House
The Girl Who Sees Smile
Summary :
Pernikahan tanpa cinta, dialami oleh Pasangan muda ini. Mereka menikah tanpa adanya perasaan cinta dan membuat mereka mengalami Kisah Pernikahan yang unik.

Chapter 14

Hari demi hari, dan tak terasa ini adalah hari ke-6 Kim Myung Soo tinggal di apartemen yang sama dengan Pasangan yang sedang kasmaran itu. Dan fakta, bahwa besok, Myung Soo sudah takkan lagi tinggal bersama 2 insan itu. Huh~
Jung Eun Ji, gadis itu terlihat sedang menata pakaian-pakaian yang sudah ia setrika di lemari pakaian. Dengan rapi, ia menata-nya di bawah kolong pakaian milik Park Chan Yeol.
Tanpa ia sadari, secarik kertas jatuh ke lantai. Eun Ji mengambil kertas tersebut. Kertas berisikan kontrak pernikahan-nya dengan Chan Yeol. Bibir-nya pun tertarik untuk mengukir senyuman. Akhir-akhir ini ia sering terbawa suasana saat-saat dulu. Huh~
Selesai dengan baper-nya, Eun Ji kembali menyimpan kertas tersebuy di laci kecil yang ada di samping kasur-nya. Ia menepatkannya di laci nomor 2.
Tak lama kemudian, Eun Ji keluar dari kamar-nya dan melihat Myung Soo tengah duduk di sofa-ruang tengah. Ia menghampiri dan duduk di samping pria itu.
“Apakah hari ini kau punya rencana?” Tanya Eun Ji to the point.
“Tidak. Kenapa bertanya?” Ucap Myung Soo singkat.
“Bagaimana jika siang ini kita makan di luar?”
“Kenapa tiba-tiba mengajak makan di luar? Apakah kau punya acara istimewa hari ini?”
“Tidak ada,, tapi, tidak masalah jika mengajak makan di luar, kan?”
“Dengan siapa saja?”
“Kita berdua.”
“Berdua?”
“Iya,, kau dan aku.”
Ini sedikit aneh untuk di masuk akal. Namun, tak ada alasan juga jika menolak. Hanya berdua ‘kan?

*** ***

Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 dan seorang Ahn Ha Ni terlihat sedang membaca naskah web drama-nya. Besok adalah hari pertama ia syuting, jadi ia bermaksud latihan untuk episode 1.
“Ya ampun.. web drama tapi buku naskah-nya begitu tebal. Ct.. ct.. ct.. ” gerutu Ha Ni kesal.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel apartemen-nya. Tamu? Tumben ada tamu datang ke apartemen-nya.
“Iya.. sebentar!” Teriak Ha Ni.
Ha Ni pun buru-buru menyimpan buku naskah-nya dan menghampiri pintu. Sedikit merapikan diri sebelum ia menarik knop pintu itu. Tapi, betapa terkejut-nya ia melihat siapa ‘tamu’-nya itu. Kik Hee Chul??
“Senior.. apa yang kau lakukan?” Pekik Ha Ni bertanya.
“Apa yang aku lakukan?” Tanya balik Hee Chul. “Tentu ingin bertamu.”
“Untuk apa kau melakukannya?”
“Untuk apa? Apa maksudmu??” Tanya balik Hee Chul lagi. “Tentu ingin menyapa. Sejak pertama kali datang, aku belum menyapa-mu sebagai tetangga-ku.”
“Kenapa begitu?? Kau tak perlu melakukannya, bukan?”
“Hey.. hey.. ” dan detik kemudian Hee Chul berjalan memasuki apartemen Ha Ni.
“Senior.. ”
“Sebagai tetangga yang baik, kau tidak boleh berkata seperti itu, Junior-ku.” Dan mendengarnya, berhasil membuat Ha Ni memajukkan bibir-nya kesal.
“Tapi,, sekarang aku sedang sibuk.” Ucap Ha Ni.
Hee Chul berjalan ke arah sofa ruang tengah dan mengambil buku naskah milik Ha Ni.
“Sibuk latihan untuk drama pertama-mu?”
Ia hanya memutar bola mata dan menghela nafas kesal. “Selagi aku berbicara dengan baik, sebaiknya Senior pergi.”
“Butuh bantuan-ku? Aku sudah pernah bermain drama sebelumnya dan aku rasa kau tahu bahwa aku mendapat banyak pujian dari para netizen juga. Dan agar kemistri kita baik, mungkin kita bisa– ”
“Tidak,, kita tidak bisa.” Potong Ha Ni segera. “Sudahlah, Senior. Aku mohon, kau pergi.”
“Hey~ sampai kapan sikap-mu akan seperti ini, huh? Jika saat kita berakting di depan kamera dan sulit mendapat kemistri bagus, kau bisa gagal nanti-nya, Nona Ahn.”
Kalau dipikir-pikir, benar juga. Tapi,, Akh!! Sialan memang Senior satu ini!
“Aku sungguh tidak mengerti. Kenapa aku harus menuruti kata-katamu kemarin. Kenapa aku harus menerima web drama ini.” Gerutu Ha Ni memalingkan wajah-nya ke arah lain.
Hee Chul tersenyum. Benar, mantra apa yang ia gunakan untuk membuat Ha Ni mau menuruti perkataan-nya ya??

*** ***

Di toko bunga milik Bang Min Ah, terlihat Park Chan Yeol berada disana. Chan Yeol tengah memilih bunga untuk ia bawa ke rumah keluarga hari ini. Namun, ia cukup kesulitan memilih-nya.
“Butuh bantuan-ku?” Tanya Min Ah berjalan menghampiri Chan Yeol.
“Boleh.” Ucap Chan Yeol antusias. Dan berikutnya, Min Ah memilihkan bunga untuk Chan Yeol.
“Bunga untuk siapa dan acara apa?”
“Untuk keluarga-ku. Euh.. hanya acara keluarga saja.”
Seperti mendapat jawaban, Min Ah pun mengambil beberapa kuntum bunga. Lalu, ia bawa ke meja untuk ia rapi dan hias.
“Kau.. benar akan menikahi Eun Ji secara sah?” Tanya Min Ah sedikit berbasa-basi.
“Kurasa Eun Ji yang memberi tahukannya.” Ucap Chan Yeol. “Yeah~ segera mungkin. Walau ini sedikit tidak masuk di akal, tapi kami tak bisa menikah kontrak sampai Jun Ho ada, bukan?”
“Jun Ho?”
“Nama anak kami.”
Mendengarnya, membuat Min Ah terkekeh. “Kalian memang pasangan yang cocok.”
“Itulah kenapa seseorang tidak boleh merusak hubungan kami. Karena, semuanya akan percuma saja. Sia-sia.”
“Eun Ji itu gadis lugu dan baik. Jadi,, sekali lagi kau menyakiti-nya, aku akan membunuh-mu kali ini. Sungguh!!”
“Tenang,, itu takkan terjadi lagi. Tuhan terlalu sayang pada kami untuk menjauhkan kami berdua.”
“Oh.. begitu-kah?”
“Tentu saja.” Ucap Chan Yeol dengan yakin. “Hey~ ini pertama kalinya kita berbicara seperti ini.”
“Ya.. aku tahu itu.”
Diam untuk selanjutnya. Min Ah yang masih fokus dengan membungkus bunga-bunga cantik itu, sedangkan Chan Yeol hanya melihat saja.
“Aku pikir-pikir,, kau dan Myung Soo adalah pasangan yang cocok juga.”
Deg.. tangan Min Ah terdiam setelah mendengar ‘pendapat’ dari Chan Yeol. Ada apa ini?
“Kenapa kau bicara seperti itu.. ”
“Hey.. bukankah kalian pernah berpacaran dulu? Tapi, kenapa tiba-tiba kalian putus?”
“Apakah kau menjadi Park si penggosip sekarang?”
“Memangnya, pria tidak boleh menggosip? Aku bahkan dengan Sahabat-ku juga bergosip tentang Suzy, A Pink, Girls Day, dan lainnya.”
“Aku yakin, kalau Eun Ji mendengarnya, dia bisa menjitak-mu beratusan kali.”
“Aku rasa tidak,, karena ia juga menyukai Bigbang. Ya tuhan~~ ” timbal Chan Yeol. “Hey!! Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan, kenapa dulu kalian putus?”
“Itu karena perasaan Myung Soo pada Eun Ji.”
“Apa maksud-mu?”
“Aku sudah tahu kalau Myung Soo menyukai Eun Ji sejak kelas 10. Namun, suatu kesalah pahaman membuat kami berpacaran.”
“Tapi, kau juga menyukai-nya, bukan?”
“Yeah~ aku akui itu benar.”
“Huh~ padahal, kalian cocok untuk menjadi pasangan kekasih.”
“Jangan samakan kami dengan kalian. Kecocokkan sepasang kekasih beda untuk dilihat dalam 1 segi.”
“Woah~ Bang Min Ah.. kau sedih?”
“Jangan menggoda-ku! Aku bukan Istri-mu yang sering kau goda itu.”
Dan berikutnya, Chan Yeol tertawa diikuti dengan Min Ah.

*** ***

Beralih pada Jung Eun Ji bersama Kim Myung Soo. Mereka baru saja melewatkan jam makan siang mereka dan memutuskan untuk berjalan-jalan bersama di taman.
“Sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini.” Ujar Eun Ji.
“Kenapa tiba-tiba kau mengajakku keluar?” Tanya Myung Soo. Yeah~ sedari tadi ia berusaha untuk menyimpan pertanyaan itu. Namun, tak berhasil.
“Apa aneh jika aku meminta teman-ku untuk menemani-ku?”
“Teman?” Gumam Myung Soo lirih.
“Dan, aku yakin, kau pasti bosan di apartemen. Bukankah seperti itu?”
Detik kemudian, Myung Soo menghentikan langkah-nya. Menatap punggung itu dengan tatapan sedikit geram. Geram karena seorang Jung Eun Ji yang tak peka dengan perasaannya. Apa ia sedang main-main dengan perasaan ini?
Eun Ji menyadari sesuatu, ia pun menghentikan langkah-nya lalu berbalik badan, menghadap Myung Soo.
Walau hari sudah siang, panasnya terik mataharu tak terlalu membakar kulit. Hembusan angin juga menemani. Eun Ji berjalan menghampiri Myung Soo.
“Kenapa berhenti?”
“Apakah aku masih tak terlihat oleh-mu, Eun Ji-ah?”
“Apa?”
“Kau anggap apa perasaan-ku selama ini?! Huh?!!” Gertak Myung Soo tak lagi bisa menyembunyikan rasa kesal-nya. “Apa kau pikir, aku sudah melupakan perasaan-ku walau kau sudah menikah, tidak, walau hanya menikah kontrak dengan Chan Yeol? Begitu?? Kau salah jika berpikiran demikian.”
Eun Ji menundukkan kepala, tak bisa berkutik untuk sekedar membela atas ucapan Myung Soo barusan.
“Myung Soo,, aku tahu tentang itu. Tentang perasaan-mu, aku menghargai-nya — ”
“Aku tak perlu dihargai. Aku hanya perlu balasan atas perasaan-ku ini. Tak bisakah aku mendapatkannya?”
Baiklah,, ia benar-benar menyerah. Ia tak bisa berkata apa-apa. Sekarang, rasa bersalah itu kembali tumbuh.
“Kau tahu, aku mencintai Chan Yeol dan akan selamanya mencintai Chan Yeol. Kau tak bisa berbuat apapun untuk memisahkan kami.”
“Eun Ji-ah.. sadarlah! Chan Yeol terlalu sering menyakiti-mu. Bahkan tak hanya kau, aku juga pernah menjadi korban-nya. Sadarlah itu, Jung Eun Ji!!”
“Apa yang harus aku sadari?? Itu tidak salah, dan semuanya hanya kesalah pahaman. Aku mengerti tentang itu.” Timbal Eun Ji. “Termasuk diantara kalian, Myung Soo. Kau hanya salah paham terhadap Chan Yeol. 13 tahun yang lalu, ia hanya ingin menyelamatkan-mu.”
“Kau tahu tentang 13 tahun yang lalu?” Tanya Myung Soo heran dengan Eun Ji yang menyebut permasalahan 13 tahun yang lalu.
“Iya.. aku tahu dari Chan Yeol.”
Myung Soo tersenyum sinis dan berkata, “Kenapa kau mendengar dari si Pengkhianat itu. Tentu dia akan berbohong.”
“Tidak!!” Elak Eun Ji segera. “Aku yakin Chan Yeol berkata yang sebenarnya. Dia, sebelumnya, tak pernah berbohong padaku. Dan setiap ia memiliki masalah, ia selalu bercerita padaku.” lanjut-nya. “Jadi, bagian mana yang membuktikan dia berbohong padaku?”
“Jung Eun Ji,, bagaimana bisa kau.. ”
“Myung Soo.. sampai kapan kau akan menyimpan semua pemikiran yang salah tentang 13 tahun itu. Tanpa ada 1 fakta yang kau miliki, persahabatan kalian, selamanya, takkan bisa bersatu lagi.”
“Aku tidak mengharap-kan semua itu, Eun Ji.” Ucap Myung Soo. “Aku tahu ini terdengar jahat, tapi, aku hanya mengharapkan dirimu. Hanya itu.”
Sedetik kemudian, Myung Soo pergi meninggalkan Eun Ji sendiri. Ia sedikit tak peduli. Dan ia yakin, Eun Ji pasti akan menghubungi ‘Suami’-nya itu.

*** ***

Park Chan Yeol, saat ini, sudah berada di rumah keluarga-nya. Ia terlihat berjalan menuju ruang tengah.
“Ahh.. ponsel-ku mati. Aku lupa tidak mengisi batere-nya semalam.” Gumam Chan Yeol. “Chan Mi-ah.. ”
“Iya,, oppa?” Sahut Chan Mi dari arah dapur, sedang meminum jus jambu-nya.
“Bisakah kau mengisi batere ponsel-ku?” Pinta Chan Yeol.
“Tentu.” Ucap Chan Mi dengan senang hati.
Chan Yeol memberikan ponsel-nya pada sang adik. Dan berikutnya Chan Mi segera melakukan apa yang dipinta oleh sang kakak. Ia berjalan menuju kamar-nya.
“Ahh.. kenapa kau tidak mengajak Eun Ji kemari?? Dasar!!” gerutu nyo. Park.
“Ia sedang bersama Teman-nya. Jauh-jauh hari ia merencanakannya. Timbal Chan Yeol, menghampiri sofa ruang tengah dan duduk tepat di samping sang Ibu.
“Kalau begitu, kenapa tidak datang saat bersama Eun Ji saja?” Sahut nenek Park.
“Aku datang kesini mendadak. Jadi, tidak sempat berpikiran demikian.” Ucap Chan Yeol sedikit berbohong.
“Mendadak?? Begitukah?”
“Tidak juga,, ada sesuatu hal juga ingin aku katakan pada kalian. Tapi, aku harap, kalian akan berusaha mengerti dengan alasan-ku ini.”
“Katakan,, ada apa yang terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan Eun Ji?” Tanya tn. Park.
“Tidak hanya itu, ini juga ada kaitannya dengan pernikahan kami.”
“Apa lagi sekarang? Kemarin tentang kehamilan Eun Ji. Kenapa anak muda jaman sekarang suka membuat masalah?? Ct.. ct.. ct.. ” gerutu Nenek Park.
Baiklah,, apa yang dikatakan Nenek Park benar. Beberapa hari yang lalu, sebuah rencana dibuat oleh Chan Yeol dan Eun Ji. Seperti rencana pengakuan. Maksud-nya untuk menjelaskan tentang pernikahan kontrak mereka, lalu merencanakan lagi pernikahan mereka yang sesungguh-nya. Mereka tahu tentang konsekuensi tentang pengakuan mereka ini. Namun, tak bisa lagi mereka tutupi karena 3 bulan lagi, Eun Ji akan melahirkan. Tak banyak waktu.
Detik kemudian, Chan Yeol menarik nafas-nya sembari menutup kedua mata. Ia kembali membuka mata dan menatap satu-per-satu sepasang mata 3 orang tua itu.
“Pernikahan-ku dengan Eun Ji, selama ini, adalah pernikahan palsu.” Ucap Chan Yeol dengan perasaan campur aduk, antara takut, ragu, dan sedikit keberanian.
Tidak,, mereka tidak mengerti dengan ‘pernikahan palsu’. Banyak arti dari 2 kata itu. Tapi, mana yang benar dari salah satu itu.
“Chan Yeol,, apa artinya? Kami tidak mengerti.” Timbal tn. Park.
“Benar. ‘Pernikahan palsu’?? Apa itu?” sahut nyo. Park.
“Jangan bertele-tele! Dan katakan, apa yang kau katakan barusan.” Sahut lagi Nenek Park.
“Selama ini, aku dan Eun Ji menjalani Pernikahan berstatus kontrak. Ini kami lakukan karena kehamilan Eun Ji — ”
“Tunggu.. ” potong nyo. Park segera. “Maksud-mu,, kalian menikah bukan karena atas dasar cinta. Begitu?”
“Itu sebelumnya.” Ucap Chan Yeol menundukkan kepala. Namun tak lama sampai ia menegakkan kepala-nya lagi. “Tapi,, kami sekarang sudah saling mencintai. Sungguh!”
“Tak peduli, dulu kalian tak saling mencintai atau sekarang sudah saling mencintai. Tapi, tentang pernikahan kontrak itu,, ada apa dengan kalian?!” Gertak tn. Park meluapkan emosi-nya. “Sudah cukup aku menyimpan amarah-ku tentang kehamilan Eun Ji sebelum kalian menikah. Tapi, sekarang apa?!! Park Chan Yeol,, apa kalian sedang bermain-main dengan takdir Tuhan, huh?!”
“Ayah.. maafkan kami. Tidak,, maafkan kami juga, Ibu, Nenek. Kami tahu atas semua kesalahan ini. Kami akan bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab?? Apa yang bisa kalian tanggung jawabkan dengan semua perbuatan kalian ini, huh?!” Ucap tn. Park lagi dengan sedikit teriakkan.
“Seok Min-ah.. tenangkan dirimu!! Jangan berteriak!” Ucap Nenek Park, berusaha menenangkan sang Anak.
“Ibu,, bagaimana bisa aku tenang? Aku,, aku sudah muak dengan semua kejujuran mereka.” Timbal tn. Park. “Aku tak hanya habis pikir saja. Apa kesalahan-ku di masa sebelumnya??”
“Yong Soo-ah.. ”
“Suruh Eun Ji datang kemari!” Ucap nyo. Park yang sudah meneteskan air mata-nya.
“Ibu.. ”
“Cepat suruh ia datang kemari, SEKARANG!!”

*** ***

Malam kembali tiba dan seorang Jung Eun Ji terlihat duduk sendirian di sebuah halte bus dekat gedung apartemen-nya. Sudah 2 jam dia disana sembari menikmati lagu melalui earphone-nya. Ada alasan mengapa ia masih tetap disana. Ia takut, jika ada Kim Myung Soo di apartemen dan akan membuat suasana canggung di antara mereka. Yeah~ mengingat kejadian siang tadi, ia sungguh takut jika harus kembali ke apartemen dan berpapasan dengan Myung Soo disana.
Tak lama kemudian, ponsel-nya membunyikan suara, artinya sebuah pesan singkat baru saja masuk.

From : Min Ah-ya

Saat ini, Myung Soo bersama-ku. Jadi, kau bisa kembali ke apartemen-mu. Jangan diluar! Malam ini hawa-nya benar-benar dingin, kau tahu?!

To : Min Ah-ya

Baiklah.. terima kasih.

Tidak,, ia tidak berniat untuk kembali ke apartemen sekarang. Ia terlalu asik dengan ‘pemandangan’ di depan matanya saat ini. Berlalu lalang-nya kendaraan berroda, ia menyukai-nya. Baik, ini aneh.
“Huh~ apakah Chan Yeol akan baik-baik saja?” Gumam Eun Ji. “Seharusnya, ia pergi dengan-ku. Ia memang Park Batu, menolak untuk aku temani.”
Benar,, awalnya Eun Ji ingin menemani Chan Yeol untuk ke rumah keluarga Park. Namun, Chan Yeol bersikeras untuk datang sendiri saja. Dasar Park Batu!!
Detik kemudian, Eun Ji menatap layar ponsel-nya yang mati. Dengan wajah kesal, ia mulai memaki ponsel-nya.
“Ahh!! Kenapa ponsel-nya harus mati?! Memang dasar dia! Dasar ponsel Chan Yeol sialan!!” Maki Eun Ji di depan layar ponsel-nya. Baik,, ini benar-benar gila.
Namun, disaat itu juga, Eun Ji menyadari ia tak sendiri lagi. 2 orang berbeda jenis kelamin tengah menatap-nya aneh dan keheranan. Mungkin mereka berpikir, apakah gadis itu baik-baik saja?? Seperti itu.
Eun Ji hanya bisa tersenyum kikuk. Baik,, ini memalukan!!
Tak lama sebuah bis datang, 2 orang itu pun segera menaiki bus-nya. Setelah itu, bus tersebut kembali berjalan.
Benar-benar memalukan!! Bahkan gadis itu mengetukkan kepala-nya menggunakan ponsel-nya. Hey!!
“Kau memang sudah tidak waras jika terlalu stres, Jung Eun Ji!!”
Tak lama kemudian, ponsel-nya kembali berdering. Kali ini seseorang menghubungi-nya. Park Batu, dan Eun Ji segera menerima sambungan telepon tersebut.
“Yak!! Ada apa dengan ponsel-mu, huh?” Sahut Eun Ji to the point untuk kekesalannya.
“Hey.. ada apa ini? Seharusnya kata ‘Hai, sayang-ku’, bukan ‘Yak!!’. Dasar!!” Timbal Chan Yeol disana.
“Aku tak peduli.”
“Oho~ begitukah??”
“Kenapa sedari tadi aku hubungi, begitu sulit, huh?!”
“Ponsel-ku kehabisan batere. Dan sejak siang tadi mati.”
“Aish!! Kau ini.. ”
“Apa? ‘Aish’ katamu?”
“Lalu, bagaimana dengan pertemuan-mu dengan keluarga-mu siang ini?”

Park Chan Yeol’s POV
“Lalu, bagaimana dengan pertemuan-mu dengan keluarga-mu siang ini?”
Pertanyaan, yang aku yakini, terus menghantui otak Eun Ji seharian ini. Dan pertanyaan itu membuat otak-ku kembali berputas, mengingat scene siang ini. Adegan dimana aku juga mendapat pukulan dan Ayah-ku. Ya ampun~ sakit-nya masih terasa sampai sekarang. Akh!!
“Chan Yeol!”
“Eo.. Eun Ji-ah.. ”
“Kau dengar apa yang aku katakan, bukan?”
“Eum.. tentu.”
“Jadi?”
“Mereka marah, sangat~~~ marah.” Ucapku dengan sedikit penekanan pada kata ‘sangat’.
“Itu pasti. Mereka juga pasti kecewa. Begitu?”
“Eo.. kau benar.” Ucap setuju. “Bahkan, amarah mereka ini melebihi amarah saat mereka mengetahui kehamilan-mu. Auh!! Kau tahu,, aku mendapatkan pukulan 1000 kali lipat yang menyakitkan hari ini.”
“Apa? Benarkah?? Ahh.. malang-nya.”
“Itu tak masalah bagiku. Seperti sebelumnya, tidak masalah seberapa sakit yang aku dapatkan. Yang terpenting, aku bisa menjadi pelindung untuk orang-orang terdekat-ku.”
“Hehe.. ” ia terkekeh. Baiklah,, ini berhasil untuk menghibur gadis-ku itu. “Kau pantas mendapat piala oscar, Chan Yeol-ah.. ”
“Benarkah? Untuk kategori apa?”
“Kategori ‘The Best of Penggombal’ tahun ini.”
“Apa?? Kau bercanda ya?”
“Aku serius. Itu memang pantas untuk-mu, Dokter Otak Mesum.”
“Yak!! Kau masih menggunakan sebutan itu?”
“Kenapa? Tidak boleh?”
“Tentu tidak boleh, Sayang-ku. Seharusnya, kau mulai menggunakan sebuatan ‘Chan Yeol si cinta-ku’. Begitu.”
“Aku tidak mau.”
“Hey.. nyonya Park~ ”
“Berhenti memanggil-ku seperti itu. Sampai kapan kau akan menggoda-ku seperti itu?? Sungguh menjijikkan!”
“Euh.. mungkin sampai kau mau mandi bersama-ku.”
“Park Chan Yeol!!”
“Park Eun Ji!!”
Haha.. memang menyenangkan seperti ini. Dan aku rasa, rasa sakit ini sudah mulai mereda. Haha!!

Author’s POV
Di sebuah kamar yang biasa digunakan oleh tn. dan nyo. Park, memperlihatkan nyo. Park sedang duduk di tepi kasur berukuran besar. Ia menatap sebuah foto tak berbingkai itu, memperlihatkan 2 wanita disana. Dirinya dan seorang bernotabene Ibu kandung Park Chan Yeol dan Park Chan Mi, tersenyum cantik di depan kamera.
“Kakak.. apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi putera-mu?? Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada keluarga ini. Sungguh~ ini diluar batas kemampuan-ku.” Gumam nyo. Park.
Yeah~ ia sungguh sendirian saat ini. Tak memiliki saudara dan hanya bisa mencurahkan perasaan-nya di depan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya dan sang kakak. Bahkan, jika ada tn. Park, entah kenapa masih terasa sulit. Huh~
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan tn. Park dengan pakaian tidur-nya. Nyo. Park pun segera menyimpan kembali fotonya.
“Anda sudah bersiap untuk tidur?” Tanya nyo. Park sedikit berbasa-basi.
“Iya.. dan kau, juga segera berganti pakaian dan pergi tidur.” Timbal tn. Park yang sudah berbaring di kasur dan memejamkan kedua mata-nya.
Nyo. Park tak menjawab. Namun, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun, ia sedikit ragu.
“Suami-ku,, apakah kau masih marah dengan persoalan siang tadi?”
“Bisakah kita membahas-nya lagi besok? Aku sungguh lelah.”
“Aku tahu. Tapi, masalah kali ini cukup serius. Setidaknya, kita harus membahas-nya.”
Tn. Park menghela nafas dan berikutnya ia membuka kedua matanya namun masih dalam keadaan memunggungi sang Istri.
“Aku tidak tahu, bagian mana yang harus aku mengerti. Alasan mereka hanya karena kehamilan Eun Ji dan bukan karena cinta yang memasangkan mereka. Aku bingung.” Ucap nyo. Park. “Walau, Chan Yeol memiliki rencana untuk menikahi Eun Ji. Ini tetap tidak masuk di akal.”
“Aku tahu itu dan aku juga masih tidak bisa menerima semua penjelasan anak tengik itu.” Timbal tn. Park.
“Lalu,, apa yang harus kita perbuat? Ini masih membuat-ku gila.”
“Maka dari itu, besok adalah hari minggu. Kita bisa meminta mereka untuk datang kemari dan membahas permasalahan ini bersama.”
“Aku mengerti.”
“Kalau begitu, segera-lah berganti pakaian dan tidur. Banyak hal yang harus kita pikirkan besok.”
“Ya.. ” dan berikutnya, nyo. Park bangkit dari duduk-nya dan melakukan apa yang diperintah oleh sanh Suami.

*** ***

Di sebuah kedai pinggir jalan, memerlihatkan Bang Min Ah bersama Kim Myung Soo tengah minum bersama. Ralat, hanya Myung Soo. Sedangkan Min Ah hanya menatap iba pada pria di hadapan-nya itu. Dan sudah 2 botol sudah ditegak oleh Myung Soo.
“Myung Soo.. bisakah kita pulang sekarang? Kau sudah mabuk.” Ucap Min Ah memohon.
“Tidak.” Jawab Myung Soo tegas. “Aku belum puas meluapkan semua isi hati-ku. Jadi, aku tidak ingin pulanh sekarang. Kalau kau mau pulang, silahkan saja.”
Min Ah mendengus kesal dan mengacak rambut-nya frustasi. Jujur, ini sudah yang ke-4 kalinya ia memohon pada Myung Soo. Dan sudah ke-4 kalinya juga Myung Soo menolak.
“Tapi, Eun Ji akan khawatir nanti-nya.”
“Kenapa ia harus menghawatirkan aku? Ini bukan urusannya bukan?”
“Ada apa denganmu? Tentu ia aka khawatir. Kau saat ini tinggal di apartemen-nya. Dan, aku yakin, sebagai tuan rumah ia akan khawatir.”
“Aku tak peduli. Bahkan, jika memang begitu, ia takkan pernah menyukai-ku.”
“Myung Soo!!”
“Kita ini memiliki nasib yang sama, Min Ah.. ” ucap Myung Soo menggantung. “Kau menyukai-ku, tapi aku tak pernah menyukai-mu. Dan, aku menyukai Eun Ji, dan begitu sebaliknya. Jadi,, setidaknya kau harus mengerti akan situasi ini.”
“Tidak.. kita berbeda, Myung Soo.” Elak Min Ah. “Kita memang memiliki nasib yang sama. Tapi, aku takkan menjadi serakah hanya karena seorang pria.” Lanjut-nya.
Detik itu juga, tangan Myung Soo terhenti untuk menuangkan soju ke gelas-nya. Ia menundukkan kepala-nya.
“Memang, cinta harus kita perjuangkan sebelum jalur kuning melengkung. Namun, jika itu tak bisa lagi, maka berhentilah untuk melangkah. Berhenti untuk menjadi serakah.” Ucap Min Ah lagi. “Kau tahu, bahwa kau lebih jahat dari seorang bajingan di luar sana. Tapi, kau tak peduli. Yang kau pedulikan hanya untuk memiliki-nya saja.”
“Lalu,, kenapa kau membuat-ku untuk tetap tinggal disini?!” Gertak Myung Soo dengan setetes air mata mengalir. “Kau juga tahu betapa jahat-nya aku. Lalu, kenapa kau tak biarkan aku pergi saja hari itu?? Kenapa?!”
Tak peduli tatapan beberapa orang di sekitar, Myung Soo dan Min Ah masih beragumen. Entah melalui ucapan bibir atau tatapan mata. Mereka tak peduli.
“Itu karena aku tak ingin kau pergi.”
“Apa?”
Baik,, ini sudah diluar topik atas kebodohannya. Dasar!!
Min Ah mengambil gelas milik Myung Soo dan menegak-nya. Dan berikutnya, ia mengambil botol soju itu dan meminum tanpa gelas berukuran kecil itu.

Jung Eun Ji’s POV
Ahh.. ini sudah pukul 11 Malam. Dan, kenapa Myung Soo tak kunjung pulang?? Sebenarnya, apa yang mereka lakukan di luar sana? Ya ampun..
Aku hanya terus menekan tombol remot televisi kami. Aku benar-benar bosan. Tidak ada acara bagus malam ini. Huh~
“Kau ini, sungguh membuat-ku cemburu.. ”
“Chan Yeol!”
Dia belum tidur? Apa ini karena aku? Sekarang, ia berjalan ke arah-ku dan duduk di samping kanan-ku.
“Kau menghawatirkan Myung Soo?”
“Ini sudah jam 11 malam. Aku takut sesuatu terjadi padanya.”
“Apa maksud-mu? Dia itu bukan seorang bayi yang harus diawasi. Dan dia pria, seharusnya dia yang menjaga Min Ah sekarang.” Ujar-nya.
“Itulah.. Min Ah bilang, mereka sedang minum-minum bersama. Dan aku takut kalau Myung Soo mabuk, kasihan Min Ah jika harus membopong-nya kemari.”
Detik kemudian, Chan Yeol tertawa. Tunggu, apa yang lucu?
“Jadi,, hal itu yang kau khawatir-kan sekarang?” tanya Chan Yeol menghentikan tawaan-nya.
“Begitulah.. ”
“Haha.. ya ampun~ Eun Ji-ah,, aku kira alasan lain yang membuat-mu gelisah. Huh.. ”
“Memangnya salah? Min Ah seorang wanita. Tak mungkin ia harus membopong Myung Soo sendirian.”
“Yeah~ itu memang tak mungkin. Haha.. ” aduh!! Kenapa ia masih tertawa? Menyebalkan!!
Tak lama berselang-nya waktu, bel apartemen kami berbunyi. Tamu? Semalam ini?
“Ya tuhan~ siapa yang berani menjadi Tamu semalam ini?” Gerutu Chan Yeol.
“Bukakan saja pintu-nya sekarang!” Perintah-ku.
“Siapa? Aku?”
Aku mengangguk. “Siapa lagi? Myung Soo??”
Dan aku tahu ekspresi itu. Haha.. ini sebuah balasan yang hebat, bukan?
Tanpa ba-bi-bu lagi, Chan Yeol menuruti apa yang aku suruh, dengan masih wajah kesal itu.
“Baiklah,, aku akan menemani-mu.” Ujar-ku dan segera mengejarnya.

Author’s POV
Chan Yeol meraih knop pintu tersebut dan betapa terkejutnya mereka melihat sang tamu. Bang Min Ah yang terlihat membopong Kim Myung Soo yang benar-benar mabuk saat ini.
“Min Ah,, Myung Soo.. apa yang terjadi?” Pekik Eun Ji.
“Huh~ sebelum itu, bisakah kalian bantu aku? Ini benar-benar berat.” Ucap Min Ah meminta 2 teman-nya itu untuk membantu.
“Eo.. tentu. Chan Yeol,, cepat bantu Min Ah!”
“Aku lagi?”
“Tentu. Haruskah aku yang membantu?”
Chan Yeol mengha nafas dan mau tidak mau ia menarik tangan Myung Soo dan mengaitkannya di bahu. Ia mulai membopong tubuh Myung Soo ke dalam apartemen. Dan melihat-nya, tentu membuat Eun Ji senang.
Disusul Eun Ji juga Min Ah, Chan Yeol-pun membaringkan tubuh Myung Soo di sofa-ruang tengah.
“Ya ampun~ bau alkohol-nya kuat sekali!!” Gerutu Chan Yeol yang mencium bau tubuh Myung Soo, penuh dengan alkohol. Ia yakin, Myung Soo minum lebih dari 2 botol.
“4 botol.” Ucap Min Ah, seakan menjawab apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
“4 botol?? Dia kuat minum sebanyak itu?” Pekik Eun Ji tak percaya.
“Tapi, memang begitu fakta-nya. Dia benar-benar stres berat kali ini.” Timbal Min Ah.
Benarkah? Eun Ji jadi teringat kejadian siang tadi. Pasti karena ia Myung Soo mabuk berat seperti sekarang. Huh~ ia sungguh merasa bersalah, bahkan sejak siang tadi.
“Tapi, terima kasih karena sudah menemani Myung Soo, Min Ah-ya.. ” ucap Chan Yeol.
“Ya.. tak masalah bagiku.” Timbal Min Ah tersenyum. “Oh ya,, bagaimana dengan bunga yang kupilih tadi? Apakah keluarga-mu menyukai-nya?”
“Ralat, hanya Ibu-ku. Ibu-ku adalah pecinta bunga. Bahkan bunga raflesia.” Ucap Chan Yeol sedikit bercanda.
“Hey~ ”
“Min Ah,, ini sudah malam. Apa perlu kami mengantar-mu pulang?” Ucap Eun Ji mengalihkan pembicaraan. Bukan, bukan karena cemburu. Tapi, ini memang sudah hampir tengah malam.
“Tidak perlu,, aku kemari menggunakan taksi dan sempat meminta sang supir untuk menunggu. Aku rasa ia mulai bosan menunggu sekarang.” Ujar Min Ah.
“Perlu kami temani?”
“Tak perlu, Eun Ji-ah. Lebih baik, kalian segera istirahat. Aku yakin, Park Jun Ho lelah mengikuti Ayah-Ibu nya juga.”
“Sungguh?”
“Tentu.” Ucap Min Ah. “Kalau begitu, aku pergi sekarang.”
“Eo.. hati-hati.”
Berikutnya, Min Ah berjalan keluar dari apartemen. Kembali ke rumah-nya. Ahh~ ia merindukan kasur empuk-nya.
Jung Eun Ji menatap pintu itu sebentar sampai ia berbalik badan. Ya ampun~ sejak kapan Chan Yeol berdiri di belakang-nya?
“Kau mengejutkanku!!”
“Kau dengar? Kita harus beristirahat sekarang.” Ujar Chan Yeol.
“Iya,, aku dengar dan tahu itu.” timbal Eun Ji sedikit ketus.
“Tapi, haruskah kita beristirahat sekarang? Ini malam minggu.”
“Ya ampun~ kau mulai lagi. Hentikan! Atau Myung Soo bisa mendengar-nya nanti.”
“Dia ‘kan sedang tidur. Dan aku yakin, ia takkan mendengar percakapan kita karena terlalu mabuk berat.”
“Chan Yeol.. aku mohon hentikan! Aku benar-benar lelah.”
“Oh ayolah~ Eun Ji!! Ini akan menjadi pertama kali-nya. Kau tahu, hari itu kita sedang mabuk.”
“Sudah~ hentikan!! Omong kosong macam apa itu?” Dan detik kemudian, Eun Ji berjalan meninggalkan Chan Yeol yang masih berusaha untuk menggoda-nya. Aigo.. menggelikan memang!

*** ***

Di pagi harinya, kehidupan manusia kembali terulang. Dan seorang pria dengan geliat-nya mulai terbangun dari tidur. Bahkan sebelum ia membuka mata-nya lebar, ia mengadu sembari memegang kepala-nya.
“Ahh.. kepala-ku!!” Ucap Kim Myung Soo yang merasa kesakitan di kepala-nya. Seperti berdenyut-denyut disana, ingin pecah.
Sebuah nampan dengan diatas-nya terdapat segelas air madu dan semangkuk bubur di meja, ia menatap dengan keadaan yang belum sadar sepenuhnya.
“Myung Soo,, kau sudah sadar?” Pekik Jung Eun Ji yang baru keluar dari kamar-nya. “Minumlah air madu itu. Agar kau lebih baik.”
Myung Soo tak menanggapi. Kepala-nya terlalu sakit untuk menanggapi. Apa hubungannya??
“Jam berapa sekarang?” Tanya Myung Soo.
“Jam 9.” Jawab Eun Ji.
“Ahh.. aku terlambat untuk sarapan kalian.”
“Sudah, lupakan saja! Itu bukan masalah.” Ujar Eun Ji.
“Tapi, ini akan menjadi sarapan terakhir-ku disini.”
“Apa yang kau katakan.. ”
“Sudahlah,, segera habiskan bubur-mu itu. Susah-susah Eun Ji membuat-nya.” Sahut Park Chan Yeol daru arah dapur, atau lebih tepatnya di meja makan. Pria itu sedang mengerjakan sesuatu melalui laptop miliknya.
Myung Soo tak menuruti apa yang dikatakan oleh Chan Yeol, ia terlalu sibuk untuk menatap sosok cantik itu.
Dan merasa diperhatikan, Eun Ji sedikit salah tingkah. “Myung Soo,, ada apa? Apakah ada sesuatu di wajah-ku?”
“Maafkan aku.. ”
“Apa yang kau katakan? Maaf,, untuk apa?”
“Dari awal, aku menyadari keegoisan-ku ini. Hanya untuk bisa memiliki-mu, aku menjadi egois atas perasaan ini.” Ujar Myung Soo mulai mengutarakan perasaan menyesal-nya. Baik, sejak malam tadi ia memikirkan hal itu. “Aku memamg jahat karena pada akhirnya memaksa-mu untuk menyukai-ku. Tapi, itu takkan terjadi lagi. Kau tak perlu khawatir.”
“Myung Soo.. kau,, ”
“Aku melepaskan-mu, Eun Ji-ah. Aku takkan lagi melanjutkan kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Aku juga menyadari semua kelelahan ini. Aku akan mulai melihat dirimu bahagia dengan pria yang kau cintai selama ini.”
Ohh.. entah kenapa, ini cukup mengharukan untuk didengar. Tidak, ini terdengar menyedihkan. Seseorang baru saja mengatakan bahwa takkan lagi menyukai-nya. Namun, senang juga takkan ada cinta segitiga lagi.
“Terima kasih, Myung Soo.. ” ucap lirih Eun Ji sembari menarik senyuman itu, dan Myung Soo membalas senyuman itu.
“Jadi,, kau membiarkan kami bahagia mulai sekarang?” Sahut Chan Yeol yang sudah berdiri disamping Eun Ji, dengan tangan merangkul bahu gadis itu. Ini berhasil membuat Eun Ji juga terkejut.
“Tapi, ini berlaku sementara. Jika aku mendengar kau menyakiti Eun Ji, aku takkan segan-segan untuk merebutnya darimu.” Timbal Myung Soo yang terdengar seperti mengancam Chan Yeol. Baik, ini hanya untuk guyon saja.
“Hey~~ itu takkan terjadi lagi, takkan pernah. Aku akan selamanya membahagiakan Park Eun Ji. Jadi, itu takkan merepotkan dirimu untuk merebut-nya dariku.” Ucap Chan Yeol dengan kepercayaan diri tingkat Dewa.
“Ya ampun~ betapa bahagia-nya diriku direbutkan oleh 2 pria tampan.” Sahut Eun Ji yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Chan Yeol. “Apa? Apa aku salah menyebut ‘2 pria tampan’? Haruskah aku menyebut ‘1 pria tampan dan 1 pria jelek’?”
“Bukan bagian itu, bodoh!!”
“Ya ampun!! Berani-nya kau menyebutku bodoh?!”
“Dan, siapa yang kau sebut tampan dan jelek itu? Tentu yang jelek, bukan aku, ‘kan Sayang?”
“Percaya diri sekali kau! Tentu saja, iya.”
“Apa?!”
“Hey~ ” sahut Myung Soo mencoba menghentikan ‘adu mulut’ yang terdengar mesra itu. Baik, abaikan! “Aku masih ada disini. Dan jangan membuat kepala-ku sakit.”
“Benarkah? Ya ampun,, salahkan si tiang ini, oke?” Ucap Eun Ji lagi kemudian berjalan menuju dapur.
“Apa lagi?? Kenapa harus aku yang menanggungnya sendiri, huh?” Pekik Chan Yeol yang menolak ucapan Eun Ji. Ia berjalan mengikuti Eun Ji.
“Myung Soo~ segera habiskan bubur itu! Tidak enak jika sudah dingin nanti.”
“Yak!! Eun Ji!”
Lagi dan lagi, Myung Soo hanya tersenyum melihat pasangan itu dan setelahnya menyendokkan sesuap bubur itu lalu melahapnya.

*** ***

Singkat cerita, Kim Myung Soo dengan koper-nya bersiap-siap untuk meninggalkan apertemen milik Pasangan Chan-Ji itu. Ia merasakan ada kesediha dalam lubuk hatinya. Jujur saja,, selama 1 minggu ini ia sudah terbiasa dengan apa yang ia alami disana. Apalagi, ia sering mendengar ‘percakapan mesra’ yang menggelikan itu.
“Myung Soo.. kau sungguh akan pergi?? Kau tidak kasihan padaku??” Rengek Jung Eun Ji yang menatap kepergian Myung Soo itu.
“Yak!! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu disaat suami-mu ada disini, huh?” Gerutu Chan Yeol, yang saat ini tengah berdiri di samping Eun Ji. “Dan, kenapa ia harus mengasihi-mu?”
“Tentu saja. Setidaknya, disaat ada Myung Soo disini, aku ada teman untuk menonton Gag Concert, Running Man, dan lainnya. Ini tak menyenangkan lagi.”
“Aku rasa,, Chan Yeol bisa menggantikan aku.” Timbal Myung Soo yang langsung mendapatkan persetujuan oleh Chan Yeol.
“Apa-nya?? Itu mustahil. Aku pernah mengajak-nya untuk menonton Gag Concert secara live beberapa waktu yang lalu, tapi ia menolak dengan tegas.”
“Benarkah aku begitu?”
“Aigo~ jangan bilang kau lupa. Aku berani taruhan, kau takkan mau menemani-ku menonton acara lawak favorit-ku malam ini.”
“Sudahlah.. jika kau mau aku temani, hubungi aku saja.” Sahut Myung Soo dan mendapat anggukkan dari Eun Ji.
“Apa-apaan kalian ini?!” Gerutu Chan Yeol. “Sudah! Lebih baik, kau pergi saja sebelum Eun Ji akan mulai membuka hatinya untuk-mu nanti.” Lanjut-nya seakan mengusir Myung Soo untuk segera pergi.
“Tunggu,, tunggu.. ” ucap Myung Soo meminta jeda. “Sebelum aku benar-benar pergi. Bisakah aku meminta sesuatu?”
“Apa lagi?? Kau itu bukan pindah ke luar negri atau ke akhirat.” Ucap Chan Yeol sinis.
“Meminta apa? Jika aku bisa menuruti, akan aku lakukan.” Timbal Eun Ji dengan senang hati.
“Satu pelukan dari-mu, Eun Ji.”
Apa?? Pe-pelukan?! Ya ampun,, bisa-bisa ini membuat Chan Yeol berubah menjadi Beast nanti.
“Yang benar saja kau!! Kau bilang, kau menyerah.” Ucap Chan Yeol yang sudah mulai emosi sekarang.
“Hanya sekali saja. Anggap bahwa ini menjadi ending dari kisah cinta-ku.” Ujar Myung Soo. “Bagaimana? Bisakah aku mendapatkannya?”
“Euh.. aku terserah pada Chan Yeol.” Jawan Eun Ji yang tak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Ini salah satu hal yang memberatkan kalau tak ingin membuat Chan Yeol berubah menjadi Beast.
Chan Yeol, untuk sejenak berpikir. Jika ia menerima-nya, maka tanggungan-nya ia harus merasakan kecemburuan. Namun jika ia menolak, ini cukup mengasihani seorang Kim Myung Soo. Mungkin jika Myung Soo membuat kisah cinta-nya menjadi drama, ia yakin judulnya adalah ‘Si Malang Kim Perfect’. Baiklah,, ia menghela nafas-nya.
“5 detik.” Ucap Chan Yeol yang terlihat cuek. Yeah~ ia menyetujui walau dengan keyakinan sebuah rasa cemburu akan muncul. Baiklah,, sekali-kali rasakan cemburu itu, Park Chan Yeol!!
Myung Soo melepaskan tangannya dari koper dan berjalan menghampiri Eun Ji kemudian memeluk tubuh itu. Entah kenapa, hati yang tersakiti karena kisah cinta tak berjalan mulus berubah menjadi hati yang bahagia saat ini. Ini adalah pelukan pertama-nya dengan Eun Ji. Jadi, perasaan senang dapat merasakan ketulusan melalui pelukan tersebut terasa.
“1.. ”
Myung Soo memejamkan mata-nya, mulai terhanyut akan pelukan tersebut.
“2.. ”
Eun Ji membalas pelukan tersebut.
“3.. 4.. 5.. selesai!” Ucap Chan Yeol. “Sudah, lepaskan!!” Geram Chan Yeol yang benar-benar cemburu. Ia melepaskan pelukan itu, secara paksa. “Dan, sekarang, kau bisa pergi!”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Aku tuan rumah disini.”
“Apa-apaan kau ini? Menyombongkan diri sebagai tuan rumah, huh?” timbal Eun Ji sinis.
“Eun Ji-ah.. aku hanya tidak ingin bau tubuh Myung Soo menempel di tubuh-mu. Hanya itu.”
“Apa?”
“Ya sudah.. kurasa, aku akan pergi sekarang.” Ucap Myung Soo dan berjalan mendekati pintu. Namun, saat ia akan menarik pintu tersebut, ia kembali membalikkan tubuh-nya dan menatap Chan Yeol. “Hey~ Ayah Jun Ho! Jika kau ada waktu, bisakah kau meluangkannya untuk minum dengan-ku?”
“Minum denganmu?”
“Aku yang akan traktir.”
Ada sedikit keheranan, namun mendengar kata ‘traktir’ merubah segalanya. Maksud-nya, ada rasa senang.
“Baiklah.. aku akan menghubungi-mu jika ada waktu.”
Myung Soo kembali berpamitan dan setelah pintu tertutup, sosok pria itu takkan lagi menampakkan diri sebagai ‘tamu’ disini.
“Huh.. ” terdengar-nya Eun Ji menghela nafas, kemudian gadis itu berjalan ke sofa-ruang tengah.
“Kau menghela nafas?” Tanya Chan Yeol heran lagi.
“Kenapa? Tidak boleh jika aku menghela nafas?” Timbal Eun Ji.
“Apa ada masalah?”
“Tidak.. aku hanya merasa kesepian nanti-nya. Walau banyak hal yang terjadi selama Myung Soo tinggal disini, aku akan merasa kesepian jika tak ada dirinya disini nanti.”
“Karena itu?”
“Eo.. ”
“Kau benar-benar membuat hari-ku ini dengan kecemburan pada Myung Soo. ” dan Eun Ji hanya terkekeh mendengarnya.
Tak lama kemudian, ponsel yang tergeletak di meja-ruang tengah menyuara. Menandakan seseorang menghubungi ponsel bermarga Jung itu.
“Dari siapa?” Tany Chan Yeol.
Dengan ponsel yang sudah berada di tangannya, Eun Ji berkata bahwa sang Ibu mertua yang menghubungi.
“Kalau begitu, segera jawab telepon darinya.”
“Eo.. ” dan ia menggeser-kan tombol berwarna hijau itu. “Halo, Ibu.. ”
“Halo juga, Eun Ji.”
“Ada apa anda menelpon-ku?”
“Apakah hari ini kau dan Chan Yeol memiliki waktu?”
“Euh.. punya. Memang-nya, ada apa?”
“Bisakah kalian datang sekarang? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan kalian.”
“Ahh.. begitu~ Tunggu sebentar, bu!” kemudian, Eun Ji menjauhkan ponsel-nya dari telinga dan sedikit berbisik dengan Chan Yeol. “Hey~ Ibu meminta kita untuk datang ke rumah sekarang. Bagaimana?”
“Aku juga tidak ada jadwal. Katakan, bahwa kita akan segera pergi ke rumah.”
Eun Ji mengangguk dan mendekatkan lagi ponsel-nya dengan telinga-nya. “Ibu.. ”
“Eo.. bagaimana?”
“Baik,, kami akan pergi, sekarang juga.”
Dan tak lama setelahnya, Eun Ji kembali menjauhkan ponsel karena sambungan telah diputuskan.
“Apa yang akan mereka bicarakan dengan kita, ya?” Tanya Eun Ji.
“Mungkin, ingin membahas pernikahan kontrak kita.”
“Eum.. mungkin juga.”
Dan mereka segera bersiap-siap untuk pergi hari ini, pergi ke rumah orang tua Park Chan Yeol.

*** ***

Beralih pada Jung Eun Ji bersama Park Chan Yeol yang sudah berada di rumah keluarga Park. Berhadapan dengan kedua orang tua Chan Yeol dan Nenek Park, sebua ketegangan akan rasa takut terasa oleh 2 orang itu.
“Sebelumnya, saya minta maaf karena tidak bisa datang kemarin. Saya memiliki rencana lain.” Ucap Eun Ji yang memulai pembicaraan.
“Kami sudah mendengarnya dari Chan Yeol juga. Tak apa.” Ujar nyo. Park.
“Kalian benar-benar menikah kontrak?” Sahut tn. Park yang tak ingin berbasa-basi. “Lalu, apa arti dari pernikahan kontrak itu? Karena Jun Ho, sungguh?”
Menatap saja tak berani, apalagi untuk sekedar menjawab ucapan sang Ayah Park, mereka benar-benar menciut saat ini.
“Awalnya, alasan kami menikah memang karena kehamilan Eun Ji. Dari awal kami tak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada kami. Dan karena kami tetap ingin menjalani masa muda kami, walau adanya Jun Ho, kami memutuskan untuk menikah kontrak sampai Jun Ho lahir.” Jelas panjang lebar dari Chan Yeol.
“Tapi, kalian benar-benar mengecewakan kami dengan keputusan kalian ini. Membohongi kami, semakin membuat kami kecewa. Aku juga mengerti kalian masih labil untuk menentukan keputusan ini. Tapi, kami tetal tak bisa menerima-nya.” ujar nyo. Park.
“Lalu, apa yang kau katakan soal menikahi Eun Ji secara sah itu, sungguhan Chan Yeol?” Tanya tn. Park membahas ucapan Chan Yeol kemarin.
“Iya.. aku bersungguh-sungguh.”
Tn. Park menghela nafas panjang sebelum ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar-nya. Meninggalkan rapat yang masih meninggalkan tanda tanya itu.
“Ibu.. apakah ayah baik-baik saja?” Tanya Chan Yeol yang keheranan dengan kepergian sang Ayah.
“Kurasa, kalian sudah mendapat restu darinya.”
“Apa maksud Ibu Mertua?” Timbal Eun Ji tak mengerti.
“Semalam dia sempat berkata padaku, jika ia mendapat jawaban tulus tentang Chan Yeol yang ingin menikahi Eun Ji. Tanpa basa-basi, ia akan menerima dengan senang hati.”
“Benarkah itu, Bu?”
“Tentu saja.. ” sahut Nenek Park. “Kau tahu, kalau Ayah-mu tak sukae membuang buang waktu untuk mengambil keputusan. Jika jawaban-nya memang ‘Ya’, maka selamanya akan ‘Ya’.” Lanjutnya.
Mendengar penjelasan dari Nenek, sungguh membuat hati Chan Yeol dan Eun Ji sangat senang. Bahkan, mereka bergembira ria bersama. Dan tanpa disadari, Chan Yeol memeluk Eun Ji tepat didepan Ibu Tiri-nya dan Nenek-nya. Hal itu berhasil membuat 3 wanita itu terkejut. Terlebih lagi Eun Ji.
Dengan santainya, tanpa mempedulikan suasana yang tercipta karena dirinya, ia masih memeluk Eun Ji dengan erat-nya sampai sebuah teriakan berhasil membuat-nya melepaskan pelukan itu.
“CHAN YEOL!!” Teriak bersamaan dari Ibu dan Nenek.

To Be Continue … … …

Akhirnya!! Tinggal 2 chapter lagi, Ya Allah~ alhamdulillah..
Oh Ya,, saya pgn cerita sedikit tentang ff ini. Saya baca dari chap 1 sampai chap yang ke-13, saya menyadari banyak-nya hal yang terlupakan dan membuat saya menyesal karena enggak begitu teliti. Maaf bgt kalo saya mengecewakan kalian yang mungkin sempet kebingungan dengan jalannya alur demi alur.
Dan lagi,, maaf juga enggak bisa balas komen kalian satu-per-satu. Tapi saya hargai koc komentar kalian. Dan karena itu juga, semangat saya semakin besar.
Sekali lagi,, saya mohon maaf dan berterima kasih karena masih setia dengan ff abal-abalan saya ini.
Baik,, seperti biasa, saya minta komentar kalian dan permintaan bahwa JANGAN JADI SILENT READER! See you~~

15 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 14)”

  1. Myung sudah rela. Min menyatakan cinta. Chan-ji dapet restu. Hampir lengkap. Sampai myung traktir chan. Menjelaskan kesalah pahaman antara chan myun 13 tahun lalu.

  2. Akhirnya,,bakal happy ending,satu persatu konfliknya mulai teratasi yeay… Gak sabar nunggu the real marriage ChanJi uwaa

  3. Authoorrrrr sebenernya aku bingung. Kan mereka nikah juga udah sah kan yaa? Yg keiket kontrak ya mereka berdua aja kan ga secara hukum? Kontrak diatas kertas isinya cuma ttg perjanjian mereka kan? Sebenernya bisa aja kan chanyeol gausah bilang kalo mereka itu nikah kontrak dan akan nikahin secara sah? Bukannya tinggal robek itu kontrak aja yaa?? Hehehe. Itu aja sii yg aku bingung hehehe. Selebihnya aku sukaaaa!!!!! Dan akhirnya sudah mau selesaaaiiiiii… cem drama nih ada 16 chapter hehehe.

    Keep writing author!
    Hwaiting!!
    -XOXO-

  4. Akhirnya hubungan Chanyeol dan Eun Ji berjalan mulus apalagi Myungsoo sudah menerima hubungan mereka. πŸ™‚ Next author. Semangat \:D/

  5. Halo saya reader baru maaf baru sempet komen sekarang soalnya baru nyampe ff ini #apaini aku terlambat terlalu jauh #nangisdipelukchannie suka sama ff ini thor mana cast nya eun ji lagi wkwk :D, chanyeol godain eunji mulu… btw aku udh baca dari chapter 1 tanpa ijin dan memohon maaf karna komennya baru bisa di chapter ini #bertekuklututpadaauthor… kutunggu karya2 author selanjutnya keep writing and fighting thor πŸ˜‰

  6. Akhirnyaaa myungsoo nyerah juga…
    Thor bikin yg lebih romantis dooong..eunji nya jgn jutek mulu…hihihihihikan kasihan chanyeolnyaaaa…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s