[EXOFFI FREELANCE] Pain Killer (Chapter 2)

image

PAIN KILLER [ CHAPTER 2 ]

Author : HyeraKim
Main Cast : OC, Kim Jongin aka Kai
Additional Cast : Find it by yourself!
Genre : Hurt/Comfort, Angst, Romance, School Life, AU
Ratting : PG
Length : Chaptered
Disclaimer : The PLOT own by HyeraKim. NO PLAGIARISM!!! Cast own by their parents and God. OC create by me and my friend.
HAPPY READING!!
PLEASE LEAVE A COMMENT!!
You cut back my pain like a Pain Killer

@Pain_Killer@
Part 2 >>>
Jeon Jungkook hendak mengajak Hyera ketaman belakang untuk melihat bintang, hari ini begitu cerah dan langit begitu indah. Ribuan bintang bertaburan dan berkelap-kelip diatas langit malam, Jungkook menyukai bintang meski dia tidak tahu akankah Hyera menyukainya atau tidak, ia hanya ingin menghibur gadis yang baru sehari tinggal dirumahnya itu, dia selalu terlihat bosan dan Jungkook tidak akan membiarkan rumah ini terlihat membosankan bagi kakak tirinya itu.
Jungkook menaiki tangga menuju kamar Hyera yang terletak tepat disamping kamarnya. Ia berhenti ketika melihat pintu kamar Hyera sedikit terbuka, ia mengerutkan kening akan hal itu. Samar-samar ia dapat mendengar kalimat-kalimat dengan nada tinggi dari seorang wanita, bukan Hyera tapi suara ibunya. Ia segera membuka pintu itu,
“……kau mau mengambil hartanya dan membiarkan putraku menjadi pewaris kedua. Itu tidak akan terjadi..”
Jungkook hampir menghampiri dua wanita yang tengah berhadapan didalam sana ketika dilihatnya ibunya menghempaskan telapak tangannya bermaksud menampar Hyera, namun gagal. Karena tangan kurus gadis itu menahannya dengan sangat mudah. Jungkook tertegun. Tak ia sangka gadis itu melawan, mungkin Jungkook kira Hyera akan menerima tamparan itu dan menangis pilu seperti gadis-gadis dalam drama. Namun sayangnya ini bukanlah drama melainkan kenyataan dimana pemeran utama tak selalu protagonis. Namun juga ada seorang antagonis yang berperan sebagai pemeran utama.
Hyera masih memegang pergelangan tangan ibu Jungkook, mencengkeramnya kuat-kuat dan memandang tajam wanita empat puluh tahunan itu. Hyera menunjukkan dirinya yang sebenarnya, tak lagi bersembunyi dalam topeng gadis baik yang beberapa jam lalu masih sempat ia jaga dengan baik.
“Aku tak akan membiarkan tangan ini menyentuh pipiku untuk yang kedua kalinya..” Ucap Hyera penuh penekanan.
“Jangan kau kira aku adalah orang yang lemah, jangan pernah berpikir menyiksaku dirumah ini karena itu tak akan berhasil, karena aku mungkin bisa membalas semua perbuatanmu bahkan lebih dari yang kau lakukan padaku. Mungkin jika kau tak menginginkanku dan mencercaku sepuas hatimu aku akan terima, tapi sekali saja jangan pernah kau hina ibuku!!” Imbuhnya. Masih mencengkeram pergelangan Ny. Jeon.
Ny. Jeon menyentakkan tangannya dengan kasar.
“Dasar anak tidak tau diri! Sama dengan ibumu! Kau pikir ibumu adalah orang baik ya? Tidak! Dia adalah orang yang merebut calon suamiku dan sekaligus orang yang mentelantarkan orang yang aku cintai! Dan kau, cepat atau lambat aku akan mengusirmu dari rumah ini..”
Ny. Jeon berbalik namun berhenti saat Hyera masih melontarkan pembelaan.
“Aku kira kau orang baik.. dan aku yakin, ayahku tidak tahu kau sejahat ini, iya kan Nyonya?”
“KAU!!” Ny. Jeon mengangkat jari telunjuknya dan menghadapkannya pada Hyera.
“KAU sama saja dengan ibumu! KALIAN ITU JALANG!!”
Tuk. Tuk. Tuk. Tuk. . .
BRAKK…
Hyera berlari menuju pintu sesaat setelah pintu itu tertutup dengan keras. Ia berniat menguncinya rapat-rapat. Tangannya mulai basah, dari pelipisnya juga mulai terlihat titik-titik keringat. Dengan panik dia berlari menuju meja belajarnya, mengacak isi laci meja belajarnya.
“Sial..” Umpatnya ketika tak menemukan apa yang dicarinya.
Kini bukan hanya tangannya tapi tubuhnya mulai bergetar. Ia terus memegangi dadanya. Sesuatu didalam sana berdegup dengan kencang, bahkan sekarang pandangannya mulai bergerak-gerak dan kepalanya pening. Ia jatuh berlutut tepat didepan ranjangnya, tangannya yang masih bergetar hebat meraih tas sekolahnya lalu langsung saja membuang semua isi tasnya kelantai didepannya, hingga dilihatnya botol kecil itu. Tangannya yang bergetar masih berusaha mengeluarkan pil dari dalam botol kecil yang dipegangnya. Ketika ia berhasil mengeluarkan dua pil itu, ia langsung menelannya bulat-bulat.
Benzodiazepines. Hyera sangat ketergantungan dengan benda kecil itu. Hyera mengidap Panic Disorder sejak hari dimana ia melihat pembunuhan yang terjadi pada ibunya di Boston. Ia bahkan dirawat oleh psikiater selama satu bulan hingga akhirnya ia dapat hidup normal meski bukan berarti dia sembuh total. Hyera masih harus mengkonsumsi Benzodiazepines setiap ia merasakan gejala panik, sebenarnya dokter melarangnya untuk kembali mengkonsumsi obat itu, dokter lebih menyarankannya untuk tidur dibawah selimut sambil memeluk apapun saat paniknya datang, namun Hyera justru menghisap nikotin sebanyak-banyaknya untuk mengurangi bebannya dan tentu saja itu menjadi kebiasaan buruk untuknya, setelah tertangkap oleh Yesslyn –sahabatnya, Hyera akhirnya berhenti menghisap rokok dan kembali berpegang pada Benzodiazepines. Meski terkadang sesekali ia menghisap rokok tanpa sepengetahuan siapapun.
Hyera masih memeluki lututnya sambil memejamkan matanya, tidak tidur. Dia hanya memejamkan mata dan menggumamkan kata ‘ibu’ berkali-kali dengan bibirnya yang bergetar. Tidak ada yang mengetahui kondisinya ini kecuali Yesslyn sahabatnya dan ayah Yesslyn yang merupakan psikiaternya. Bahkan ayahnya sekalipun tak tahu itu. Hyera memang selalu terlihat kuat dan dingin dari luar namun sebenarnya ia sangat rapuh jika ada yang menyerang sisi kelamnya. Dan kelemahannya adalah ibunya.
@Pain_Killer@
Alunan musik dari ponsel milik Kai mengerang dengan keras. Berkedip beberapa kali diatas meja nakas. Sedangkan pemiliknya bergerak atau lebih tepatnya berguling kekanan-kiri dibalik selimut diranjangnya. Ia mengerang dengan keras dan meraba meja nakas masih dengan mata tertutup.


“YAK! KIM JONGIN BANGUN SEKARANG JUGA!!!!!!!”
Kai terperanjat dan langsung terduduk ketika mendengar suara dengan intonasi tinggi itu tak hanya keluar dari ponselnya tapi juga disampingnya. Ya, disamping ranjangnya. Dan ketika ia membuka matanya yang masih mengantuk itu dia menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri disampingnya.
“Shit..” Rutuknya.
“Cepat mandi dan lima belas menit lagi kau harus turun atau aku akan mengirim foto ini ke seluruh anak disekolah”
Baekhyun yang berdiri disamping ranjangnya itu menunjukkan sebuah foto. Foto Kai yang masih bergelung selimut beberapa menit yang lalu.
“YAK! Apa-apaan kau ini! Kau mau mati ya!” Protes Kai.
Ia bangkit dari ranjangnya dan mengejar Baekhyun yang berlari namun…BRAKK. Pintu kamar tertutup, Baekhyun berhasil kabur. Dengan foto itu ditangannya, Baekhyun selalu melakukan apa yang dia ancamkan. Sebelumnya Baekhyun pernah mengancam akan menyembunyikan monggu anjing kesayangan Kai kalau dia tidak segera bangun, awalnya Kai kira itu hanya akal-akalannya Baekhyun saja jadi dia tak mempedulikannya namun Baekhyun benar-benar membawa monggu dari kandangnya dan membuat Kai kebingungan mencari anjing kesayangannya itu. Ia bahkan harus menuruti apa yang Baekhyun minta sebelum Baekhyun menunjukkan keberadaan monggu, termasuk mencarikan gadis cantik, merajuk, mentraktir dan banyak hal gila lainnya yang membuat Kai kewalahan. Dengan berat hati akhirnya Kai melangkah ke kamar mandi.
====
“Woaah masakan bibi tak kalah enak dari masakan ibuku..” Puji Baekhyun.
Bibi Song tersenyum. Hanya senyum biasa, bukan seperti pekerja dibelakang Baekhyun yang sedang membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Pekerja yang memang berusia lebih muda dari bibi Song itu tersenyum-senyum sendiri sambil menatap punggung Baekhyun. Beberapa menit yang lalu dia sudah terkena serangan penakluk wanita milik Baekhyun, dia sudah digoda habis-habisan hingga mungkin saat ini ia sedang terus terbayang dengan kata-kata manis yang keluar dari bibir Baekhyun. Maklum saja pekerja itu masih bekerja dua hari jadi belum mengetahui sifat Baekhyun yang sebenarnya.
“Seandainya aku makan setiap hari disini..”
“Tidak kubiarkan!” Sergah Kai yang tiba-tiba muncul. Ia mendorong tubuh Baekhyun dan membuat pria itu mau tak mau harus berdiri.
“YAA!”
Kai menduduki kursi yang Baekhyun duduki lalu menerima sumpit yang diberikan bibi Song mengingat sumpitnya tadi sudah dipakai Baekhyun, bahkan masih dipegangnya.
“Hei sedikit saja..”
Baekhyun membujuk Kai agar diberi makanan tapi Kai malah mendorong Baekhyun lagi membuat pria itu memanyunkan bibirnya kesal. Dan akhirnya setelah menaruh sumpit ditangannya, sambil menggerutu ia berjalan kearah ruang tengah. Baru beberapa langkah Baekhyun terkejut dan segera membungkuk dengan cepat secara refleks.
“Annyeong haseyo..” Ucapnya.
Kai yang tengah menyantap sarapan paginya langsung menghentikan gerakannya sambil mendengus kesal. Ia hanya melirik sekilas kearah orang yang berdiri didepan Baekhyun itu.
“Baekhyun, kau ada disini?” Tanya pria itu –Kim Woobin ayah Kai.
“Ne..”
“Hmm.. bagaimana kabar Jaksa Byun?”
“Ayah baik paman..”
Woobin mengangguk beberapa kali.
“Aku dengar kakakmu pindah ke Korea, benarkah itu Baekhyun?”
“Ah ne.. Minseok hyung praktek di Seoul Hospital saat ini paman..”
“Hmm.. sejak dulu dia sudah punya prospek kedepan Baek, kau juga harus seperti itu.. jangan biarkan dirimu terjerumus kedalam hal yang tidak-tidak..”
Baekhyun bungkam. Ia tak tahu harus menjawab apa, ia tahu maksud perkataan ayah Kai. Ayah Kai yang perfeksionis selalu mengatur masa depan anaknya, namun sayangnya Kai bukanlah boneka yang patuh. Baekhyun menatap Kai sekilas. Kai terdiam kaku. Meremas kuat sumpit ditangannya.
“Kai.. a-aku tunggu diluar ya?” Ucap Baekhyun akhirnya.
“…saya permisi dulu paman..” Pamitnya pada Woobin yang sekarang sudah sepenuhnya menatap Kai.
Seperginya Baekhyun, Kai beranjak dari duduknya.
“Bi, nafsu makanku hilang.. aku berangkat!”
Kai berjalan melewati ayahnya namun lengannya dicekal. Ia menatap tajam ayahnya, tanpa sepatah katapun dia menghempaskan tangan yang mencengkeram lengannya.
“Habiskan makananmu, aku tidak suka membuang makanan..” Ucap ayahnya.
Kai tak menggubris, ia meneruskan langkahnya.
“Bibi Song, JANGAN PERNAH PERNAH MEMBERINYA MAKAN!!! Tanpa seizinku..”
Kai yang masih mendengarnya dengan jelas hanya diam. Namun ia tersenyum remeh.
“Hanya motormu yang boleh digunakan, tidak ada uang makan siang!”
Senyuman Kai tertahan sejenak namun terganti dengan sebuah tawa.
“Baiklah.. aku setuju..”
====
“Baiklah sayang, kita akan pergi kemanapun yang kau mau siang ini.. kau tenang saja! Aku membawa motorku..”
Ucap Baekhyun pada seseorang ditelepon. Hingga matanya melihat Kai yang keluar dari pintu rumahnya. Dan terlihat buruk. Dia terlihat sangat kesal.
“Nanti kujemput sayang, sudah dulu yaa.. bye..”
Baekhyun memutus sambungan telepon dan menyimpan ponselnya kesaku jas sekolahnya ketika Kai hanya melintas didepannya tanpa meliriknya sedikitpun.
“YAA..” Teriak Baekhyun.
Kai berhenti, bukan untuk berbalik tapi ia malah menjatuhkan tas sekolahnya tepat dibawah kaki lalu menendangnya kearah pagar hingga membuat suara yang nyaring. Baekhyun hanya bisa membuka mulutnya melihat kelakuan Kai. Ini bencana, batin Baekhyun.
====
Pelajaran pertama di kelas Hyera dimulai dari ocehan guru lima puluh tahunan dengan kacamata tergantung dihidungnya. Suaranya terdengar cempreng dan nada suaranya seperti alunan music pengiring tidur. Bukan bualan belaka karena faktanya hampir seluruh isi kelas tertidur pulas, kecuali beberapa anak dibarisan depan dan Hyera. Bukan bermaksud memperhatikan pelajaran, lagipula dia juga tak menatap kedepan, dia lebih memperhatikan jendela disebelah kirinya. Dimana nampak cahaya pagi yang cerah. Memang benar pagi ini sangat cerah, tapi tidak dengan hati gadis bersurai sepinggang ini.
Hyera pikir, jika dia ikut ayahnya ia akan terbebas dari ingatannya tentang kematian ibunya. Tapi nyatanya yang terjadi seseorang membuka lukanya yang bahkan belum kering. Tidak tahukah mereka luka itu hanya akan membuat Hyera semakin dekat dengan kematian karena terlalu banyak mengkonsumsi benda mematikan seperti Alpazoram? Atau menghisap nikotin pada rokok? Yang lebih parah jika dia memutuskan untuk meminum alkohol. Tapi Hyera tidak suka minuman itu., dia lebih baik menghisap satu pak rokok daripada meminum minuman beralkohol. Hyera mulai melesakkan kepalanya kedalam kungkungan lengannya sendiri diatas meja, masih dengan menghadap kearah jendela. Hingga perlahan-lahan rasa kantuk membuatnya tak mampu lagi tetap terjaga.



Suara langkah terdengar ketika Hyera mulai memasuki rumahnya. Sekantung belanjaan berada dalam kungkungan lengan mungilnya. Pesanan ibunya, ia sudah membeli semua barang dalam list yang dituliskan ibunya. Dengan langkah yang semakin cepat dan senyum riang dibibirnya ia memanggil-manggil ibunya. Ia berhenti didapur, kompor dalam keadaan menyala. Hyera berniat mematikannya namun ia merasakan sesuatu dibawah kakinya. Dilihatnya sebutir telur pecah dilantai mengotori sepatu cats putih bergaris hijau miliknya.
“Where is she?”
Gumamnya amat lirih. Ia mematikan kompor lalu melepas sepatunya dan berganti dengan sandal rumah. Setelahnya ia berjalan menuju kamar sang ibu.
KLEK . . .
“Halo, sweety..”
Sebuah suara orang dewasa pria memenuhi indera pendengarannya. Sontak ia langsung menatap arah sumber suara, seorang pria dengan jaket bertudung. Ia menggenggam sebilah pisau yang sudah terarah pada leher ibunya yang terikat dengan mulut disumpal kain. Bulir-bulir bening membutakan matanya, membuat pandangannya samar. Tubuhnya bergetar seketika. Ia takut. Hyera takut.
“Want to leave your last will to your daughter??”
Bisik pria itu ditelinga ibu Hyera, dan sejenak kemudian kain yang menyumpal mulutnya dilepas membuat isakan terdengar dari bibir itu.
“Hyera.. Lari nak!! Lari sekencangnya nak! Jangan menoleh kebelakang, ibu mohon..”
SLASSH…
Darah langsung mengucur dari pembuluh di leher ibu Hyera membuat Hyera kehilangan kemampuan verbalnya seketika.
“Bukan itu yang kuinginkan untuk kau katakan..”
Ucap pria jahat itu pada wanita yang sudah tergeletak bersimbah darah dibawah kakinya. Saat itu Hyera masih menatap ibunya hingga sebuah kekuatan menolongnya, ia mampu berbalik. Berlari sekencang yang ia bisa. Berlari tanpa menoleh kebelakang seperti apa yang ibunya katakan. Sambil terus bergumam lirih…
“Eomma… …eomma… …eomma…”



“Eomma..”
Napasnya memburu. Sial, Hyera ketiduran. Seharusnya ia tak membiarkan dirinya tertidur saat pikirannya tak tenang. Beruntunglah dirinya jam istirahat sudah terlewat lima menit dan hanya tersisa dirinya didalam kelas ini, namun sialnya kini ia mulai merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ya.. dia mulai panik. Keringat dingin mengucur deras, botol kecil. Itu langsung terlintas dikepalanya, refleks tubuhnya juga tanggap cepat membuka tasnya dan mengobrak-abrik isinya namun nihil ia tak temukan botol itu. SIAL, dia mengumpat sekali lagi. Namun kejadiannya tak terlalu buruk, ia menemukan sesuatu yang lain. Sebatang rokok dan sebuah korek api dikantung kecil yang ada didalam tasnya. Ia langsung menyembunyikannya kedalam saku dan berlari secepat mungkin menuju atap sekolah.
====
Matahari semakin terik, musim panas memang menyebalkan. Karena setiap hari panas akan membuatnya sulit memejamkan mata diatap sekolah. Kai melewati separuh jam pelajarannya, ia masih kesal. Ia hanya takut akan membunuh orang jika mengikuti Baekhyun untuk pergi ke dalam kelas. Ia menghembuskan napas berat, tangannya masih memainkan kartu berwarna hitam yang diberikan Baekhyun, kalau Kai tak ingin mati kelaparan hari ini dia terpaksa harus meminjam kredit card milik Baekhyun. Ia meletakkan kartu itu disaku celananya lalu memejamkan matanya.
BRAAK…
Pintu terbuka dengan keras, dapat ia lihat dari tempatnya berbaring seorang gadis berdiri membelakanginya. Ia tengah sibuk dengan sesuatu ditangannya. Tunggu bukankah dia itu… Hyera? Kai terduduk seketika. Apa yang dibawanya? Ia nampak kesal. Ia membuang sesuatu, kalau Kai tidak salah tebak yang dijatuhkan gadis itu adalah korek api. Jadi.. dengan langkah cepat ia mendatangi Hyera, membuat gadis itu berbalik dengan paksa dan merebut sebatang rokok yang dipegangnya (lagi). Kai masih memegang pergelangan tangan Hyera, sejenak ia menatap intens wajah cantik dihadapannya. Berkeringat, itu yang dilihatnya. Entah kenapa, saat menatapnya ia seakan tahu gadis itu tengah terluka.
Pergelangan tangan Hyera terlepas, tanpa sepatah kata apapun gadis itu bergerak maju mendekatkan dirinya pada Kai. Kai terkejut mendapati posisinya saat ini dengan Hyera, kepala gadis itu menyandar didadanya. Sebelah tangannya meremas kemeja seragam yang ia kenakan. Panas tubuh gadis itu membuatnya sadar bahwa ini nyata. Gadis yang sering Baekhyun sebut sebagai gadis kasar itu tengah memeluknya.
Kai tak tahu dan bahkan ia tak mau tahu alasan gadis itu memeluknya. Tapi yang ia tahu gadis itu membutuhkan pertolongan dan pertolongan ini yang ia butuhkan. Ia yang tadinya begitu terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu kini justru melingkarkan lengannya dan sebelah tangannya menepuk pelan punggung Hyera. Sebuah tepukan yang menenangkan. Jantungnya berdetak keras, ia tahu itu. Tapi ia tak peduli, memang siapa yang memulai? Toh bukan dirinya. Yang ia lakukan kini hanya menikmati kehangatan yang mereka ciptakan. Just that, or maybe Kai hoping something more?
====
Seorang gadis bersurai legam berjalan melewati taman depan OHSE High School, gadis semampai yang mengenakan dress selutut berwarna pastel itu berjalan sambil mengoceh dengan telepon genggamnya, eh? maksudnya dia sedang bertelepon. Obrolan ringan yang terselip tawa ditengah-tengah perbincangan mereka membuat gadis Yoon ini sesekali berhenti dari langkahnya. Tepat seperti yang ia lakukan saat ini.
“Oh baiklah oppa.. aku mengerti dan ya kau harus sangat tahu jika usiaku tujuh belas tahun dan bukan anak kecil yang dua belas tahun lalu menangis karena kau menjatuhkan ice creamku oppa..”
Terdengar tawan renyah dari lawan teleponnya.
“Hmm baik.. teruslah tertawa sampai perutmu sakit..”
“Baiklah maafkan aku.. kau masih disana kan?”
“Oppa.. kau benar-benar tidak ingin menjemputku atau apa sih?”
Tawa itu terdengar lagi, membuat gadis Yoon itu menggerutu kesal.
“Baiklah Hyeri sayang.. oppa akan datang dalam lima belas menit..”
“TIDAK!! lima menit..” Potong Hyeri ketus.
“Oh my god, apa kau tidak tahu ini jam sibuk? Bagaimana kalau macet?”
“Lalu kau harus terbang oppa!!” Ucap Hyeri kali ini disela oleh senyuman menangnya.
“Oh baiklah aku harus meminjam sapu terbang Harry Potter..”
Hyeri tertawa bersamaan dengan orang diseberang telepon.
“Baiklah Yoonie tunggu aku!”
“Hmm..”
BEEP. Hyeri memutus sambungan.
BRAAK..
“Aaa..” Hyeri memekik ketika tubuhnya terdorong kedepan namun ia tidak jatuh, seseorang menarik lengannya dan berujung dengan menahan pinggangnya hingga kini mereka saling berhadapan. Saling menatap lebih tepatnya. Manik mata hazel milik Hyeri menatap intens wajah tampan diatasnya, pria itu tersenyum membuat lengkungan yang menunjukkan cekungan kecil di salah satu sisi pipinya. Tak hanya senyuman dibibirnya namun senyuman dari mata berbinarnya membuat hati dan pikiran gadis Yoon itu hanya terpusat pada pria itu. Tapi sedetik kemudian ia merasa familiar dengan wajah ini dan dalam sekejap ia langsung memberontak dari dalam kungkungan itu.
“Neo..”
Hyeri langsung mengacungkan jari telunjuknya dengan sebelah tangan berada di pinggang.
“Jeo arayo?”
Hyeri mendengus lalu memalingkan kepalanya. Pria itu memungut ponsel putih yang terlempar disamping kanan dekat kakinya.
“Ini milikmu nona? Dan ngomong-ngomong kita pernah bertemu dimana? Apa mungkin kau salah satu fansku?”
Hyeri memutar bola matanya, dan menunjukkan ekspresi menahan muntah. Ada-ada saja, memang dia pikir dia itu Tom Cruise atau Brad Pitt?? Detik berikutnya dia sudah merebut ponselnya.
“Dengar ya Park-Chan-Yeol-ssi.. urusan kita belum selesai..”
Ucap Hyeri sambil mendikte tulisan pada nametag yang dikenakan pada sisi kiri jas sekolah pria itu. Setelahnya ia berbalik bermaksud menjauhi pria itu namun dalam hitungan detik ia kembali berbalik dan justru bersembunyi dibalik punggung Chanyeol dan jangan lupakan lengannya yang dipegang erat oleh Hyeri.
“Ada apa?”
“SSST diam..”


“Ya cheon haksaeng..”
Hyeri merutuki pria tinggi yang kini ia jadikan tempat sembunyi ini. Astaga apa dia tidak paham kalau Hyeri menyembunyikan dirinya dari orang yang baru saja dipanggilnya itu. Untungnya panggilannya tak digubris membuat pria itu kesal sendiri.
“YAA! Kau tidak sopan sekali..” Racaunya.
“Kenapa kau bersembunyi dari murid pindahan itu? Kau mengenalnya?”
TUK.
“Akkhh..”
“Dasar bodoh, sudah tahu aku sembunyi darinya tapi kau malah memanggilnya..”
“YAK! Apa hakmu memukul kepalaku!!”
Hyeri menjulurkan lidahnya lalu beranjak meninggalkan Chanyeol yang masih bertahan dengan kekesalannya yang kini sudah mencapai ubun-ubun.
“Dasar! Cantik-cantik nenek sihir!! Huft..” Ucap Chanyeol sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang sempat terkena pukulan.
====
Hyeri berjalan dengan kesal sambil menggerutu. Dia masih sangat kesal dengan pria jangkung yang ditemuinya tadi. Untung saja Kaylee tak sempat melihatnya jadi ia masih bisa menyimpan kejutannya besok. Hyeri langsung berjalan menuju seorang pria berkacamata hitam yang menyandar di pintu sebuah Jaguar hitam.
“Tidakkah kau pikir sekarang kau yang terlambat nona?”
“Shut up Minhyuk oppa..”
Gadis Yoon itu mendorong Minhyuk lalu membuka pintu mobil. Sedang yang didorong hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Euuwh menyebalkan..”
“Sebenarnya kau kenapa?”
“Kau ingat orang yang membuatku terjatuh di Bandara oppa?”
Minhyuk nampak berpikir sejenak.
“Emm.. pria tinggi itu?”
“Dia ada disekolah yang sama dengan Kaylee, dan itu artinya kita akan satu sekolah oppa..”
“Benarkah?”
“Astaga.. aku tidak tahu kau semakin menyebalkan oppa..”
Minhyuk terkekeh.
Detik berikutnya keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan, Hyeri sendiri bingung dengan keadaan ini. Seingatnya dulu tak pernah ada situasi secanggung ini, Hyeri mengalihkan tatapannya dari jalanan dan menatap Minhyuk yang fokus menyetir. Menatap paras tampan dengan senyum simpul yang selalu setia terukir diwajahnya. Hyeri tahu jantungnya mulai berdetak kencang, itu dimulai sejak beberapa menit yang lalu ketika keheningan mulai datang.
Minhyuk sendiri terperangkap dalam pikirannya sendiri. Ia tahu Hyeri sedang menatapnya, tapi ia tak berniat membuat gadis itu kembali jatuh dalam pesonanya. Ia tidak bisa lagi menerima pernyataan cinta gadis Yoon itu. Setiap kali itu terjadi, Minhyuk tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu bingung dengan perasaannya, ia mungkin merasa senang bersamanya, ia senang melihat senyumnya, tapi tak lebih dari itu. Perasaan yang dimilikinya hanya sebatas seorang kakak yang menyayangi adiknya. Ia selalu ingin menjaganya, karena baginya menjaganya sama dengan menebus dosa. There’s some reason which no one knows, why he protect his girl like this…
====
Gadis itu masih duduk di halte seorang diri. Banyak bus yang berhenti namun semuanya tak ia tumpangi. Ia hanya duduk diam, earphone tergantung ditelinganya. Menatap jalanan dengan pandangan kosong. Ia kembali tenggelam, memikirkan masalah yang menerpa hidupnya. Kadang ia berpikir mati itu lebih baik, tapi jika ia memilih untuk mati ia takut mengecewakan ibunya. Ia bertahan hidup karena ibunya tak pernah mengizinkannya menoleh kebelakang. Sebelumnya ia mendapat tawaran untuk melakukan prosedur penghapusan ingatan. Tapi dia lagi-lagi menolak. Karena sepahit apapun kenangan itu, baginya menghapus ingatan tentang ibunya meski hanya sedetik hanya akan membuat hidupnya semakin didera sesal dimasa mendatang. Setidaknya saat ini ia berusaha untuk hidup normal, meski sulit.
Hyera tak tahu sejak kapan hujan turun, ia menggerakkan kepalanya menengok ke segala arah. Hingga menemukan objek yang membuatnya hampir terlonjak. Dia Kai, tengah berdiri disalah satu sudut halte menyandar pada dinding halte yang dingin dengan menghadap kearahnya. Hyera yang masih belum pada porsi kesadaran seratus persen kembali terkejut ketika pria itu sudah menempati tempat kosong disampingnya. Menatapnya dengan tatapan seakan hendak menelanjanginya.
“Sedang apa kau disini?” Tanya Kai, setelah menghentikan tatapan menggelikannya.
“Sejak kapan kau disana?”
Kai mendengus. “Aku bertanya duluan..” Gerutunya menghentakkan kakinya dilantai halte. Lalu melipat tangannya didepan dada. Kai kembali menatapnya, dengan bibir mengerucut. Hyera tersenyum. Apa? Hyera tersenyum? Hei.. sadarkan Kai ini adalah senyuman tulus pertama yang ia lihat.
“Kau tersenyum?” Ucap Kai sambil menunjuk-nunjuk bibir Hyera, membuat yang ditunjuk salah tingkah. Yah, Hyera tersenyum tanpa ia sadar jika ia tengah mengeluarkan senyumannya.
“Tidak..” Elak Hyera sambil berdiri dengan gugup. Beranjak ingin menerobos hujan, namun Kai menghalanginya. Ia memegang lengan gadis itu.
“Jangan.. kau bisa sakit..” Katanya.
Hyera menatap takjub kearah Kai. Ia tak yakin yang tengah berbicara dengannya itu adalah Kai. Si pria pembuat ulah nomor satu disekolah, si pria yang telah membuang sia-sia dua puntung rokoknya.
“Kau.. DID ya?” Tanya Hyera.
Kai mengerutkan keningnya.
“Aku tidak bodoh nona, aku tahu apa maksudmu! Jadi kau menghinaku punya banyak kepribadian dalam tubuhku? Tch..”
Hyera lagi-lagi tersenyum. Namun sebelum Kai melihatnya ia membuang muka dan kembali memasang wajah datar.
“Pergi sekarang atau nanti sama saja kalau hujannya tak juga reda..” Ucap Hyera sambil menerawang hujan. Ia mengusap lengannya yang mulai merasakan dinginnya udara. Hingga telapak tangan hangat menyentuh tangannya. Kai, pria itu menyalurkan kehangatan yang ia miliki. Hyera kembali tertegun, ia tak tahu Kai memiliki sisi yang seperti ini.
“Orang bilang berpegangan dapat menyalurkan kehangatan. Jadi dengan begitu kedua belah pihak akan merasakan kehangatan yang sama..”
Hyera menunduk, ia tak berani menatap Kai karena ia merasakan pipinya yang panas. Ia merona, karena kata-kata yang keluar dari bibir tebal milik Kai. Pria itu mendadak manis setelah kejadian diatap beberapa jam yang lalu. Mengingatnya membuat Hyera berpikir bahwa dia bodoh. Jangan-jangan pria ini berpikir ia menyukainya. Oh tidak.. tapi hal kecil seperti ini juga membuat seluruh tubuhnya serasa tersengat aliran listrik. Jantungnya juga berpacu lebih cepat. Ia hanya berdoa semoga hujan cepat reda, hingga ia tak mati muda karena mendadak gagal jantung (mungkin).
“Tunggu sebentar..”
Kai melepas genggamannya. Hyera menatapnya, bukan Kai melainkan telapak tangannya yang baru terlepas dari genggaman Kai. Belum sempat Hyera tersadar tangannya sudah ditarik, menerobos hujan. Hingga mereka berdua berakhir dengan duduk didalam sebuah taxi.
“Maaf.. kita pulang dengan satu taxi saja ya..” Kai berujar sambil tersenyum. “..untung saja aku membawa credit card Baekhyun..”
Astaga, Hyera tak tahu lengkungan itu begitu indah. Apakah ia tengah bermimpi sekarang? Oh tidak-tidak ini nyata Hyera!!
“Soal siang tadi..”
Siang? Astaga kejadian diatap..
“Jangan salah paham..” Potong Hyera cepat. “..a-aku hanya… hanya…”
“Aku tidak harus dengar… alasannya. Tapi kau harus membayarnya, pelukanku..”
Hyera menatapnya dengan mata membulat.
“Kita… mmm aku akan sering bersamamu.. aku suka berada disampingmu itu saja jadi kita..”
“Baiklah..”
“Eoh? Kau tidak keberatan? Bagaimana kalau anak yang lain mengejekmu karena bergaul denganku?”
“Toh aku juga tak lebih baik darimu..”
“Apa?”
“Sudahlah yang penting aku mau kan?”
Kai tersenyum lalu mengangguk.
“Aku suka tempatmu yang tadi..”
Kai menoleh.
“..maksudku atap sekolah.. aku akan kesana mulai sekarang saat kelas membosankan..”
Kai kembali mengulun senyuman. Ia tak tahu hal ini terjadi begitu saja, seolah pertemuan mereka memang ditakdirkan. Kai bersyukur karena malam itu ia ingin pergi ke club dan berakhir dengan bertemu Hyera, dia dua kali bersyukur karena kekayaan ayahnya membuatnya bersekolah di OHSE dan bertemu Hyera, dia tiga kali bersyukur karena pagi ini ia bertengkar dengan ayahnya dan berakhir bertemu Hyera diatap sekolah. Suatu hal yang seolah telah dijadwalkan untuk terjadi. Suatu awal bagi Kim Jongin untuk mulai belajar bagaimana cara mencintai seseorang. Cuz when he first show her, He feels like he has to protect her.


<<< Part 2 Cut
Next part preview
“Akkh..”
Hyeri menjerit ketika tubuhnya bertubrukan dengan Chanyeol (lagi).
“Kau tidak apa apa?”
“Sudah hentikan! Aku muak karena kau selalu membuatku naik darah!”
“Hei.. apa salahku? Kau saja yang tak memperhatikan langkahmu!”
“YA! Kau sudah menabrakku tiga kali, kau lupa?”
“Kau bercanda, aku hanya menabrakmu sekali, dan tadi itu kau yang menabrakku”
“MWO?? Waah…”
Hyeri mengibaskan tangannya berkali kali didepan wajahnya bermaksud mengurangi rasa panas yang membuat kepalanya terbakar saat ini. Sedangkah Chanyeol melipat kedua tangannya didepan dada. Mereka beradu tatapan tajam selama beberapa kali.
“KKAAU!! AKU-“
“Yesslyn??”


@Pain_Killer@

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Pain Killer (Chapter 2)”

  1. Ya meskipun menurutku terlalu cepet dekatnya kai sm hyera 😣 tapi tetep aja pas adegan-adegannya, nyambung bgt knp bisa langsung dkt gitu. Klau diingat-ingat karakter kai yg acuh tak acuh sm perempuan tpi kok mudh bgt ya jatuh cinta sm bad girl kek hyera?
    Aku malah lebih suka scene hyeri sm chanyeol, lebih lucu dn funny. Tapi tetep kok ceritanya bagus👍😄

  2. Cieee kyanya hyera sma jongin udah mulai ada rsa nih tanpa mreka sadari#soktau
    Ckckck..kliatanya chanyeol sma hyeri jodoh kali yaaa..wkwkwk
    Next kakk
    D tunggu klanjutanya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s