[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 2)

philosophy of love

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar (nakashinine)

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Chapter | Romance | T

Disclaimer
Plot dan isi cerita original punya tyar~

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

WARNING!
Dialog saya-kamu dan sedikit berbelok dari EYD. Tapi masih dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Gaakan ada bahasa korea. Pure produk lokal. Wkwk.

Visit – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy!

[Previous Chap]

-2-

“Semua tentangmu mengikuti seperti bayangan yang menempel di bawah kakiku.” –Stephanie Zen, Perhaps You.

Irene mendesah gelisah di balik kemudinya sedari tadi. Sesekali, giginya menggigit-gigit jempol dengan pelan. Sedangkan tangan yg satunya meremas setir dengan erat.

“Duh. Kok saya mau-mau aja, sih, ikut makan siang dengan Sehun, tadi?” Gumamnya, merasa sudah ceroboh karna membiarkan Sehun mengetuk-ngetuk kembali kehidupannya yang sudah terkunci untuk masa lalu.

Dia mengingat kembali bagaimana perubahan Sehun sekarang. Mulai dari penampilan sampai tutur kata. Oh Sehun benar-benar berbeda. Mata Irene tidak bisa tertipu, pesona Sehun sungguh sulit terelakkan. Rambutnya hitam pendek dengan poni berjarang di dahi, lebih rapih dari terakhir kali mereka bertemu. Jelas saja, 7 tahun bukan waktu yang singkat. Dirinya saja sudah berubah saat ini. Sehun juga bisa berubah cepat atau lambat. Matanya yang hitam pekat kini lebih teduh. Melihat penampilan dan bahasa yang keluar dari bibirnya, membuat Irene sadar bahwa Sehun sepertinya sudah menjadi pria yang dewasa sekarang. Walaupun, ada satu yang masih Irene bingung mengenai pria itu. Hatinya. Apakah tetap sama atau tidak, entah mana yang benar, dan entah mana yang akan membuat dirinya khawatir.

Irene mendaratkan tangannya di atas setir dengan kasar, sambil mendengus lebih kesal. Dia marah pada dirinya sendiri, karna matanya begitu jelalatan. Karna logikanya yang tiba-tiba redup. Seisi hatinya kini tertatih untuk bertahan, agar tetap terjaga dan tidak tergoda.

Sikap pria itu hari ini memperlihatkan sesuatu yang membuatnya cemas. Hal seperti kembali ke masa lalu, atau sekedar memulainya dari nol. Dia harap Sehun tidak menarik Irene ke sana.

xxxx

 

“Ada kabar bagus?”

Baru saja Sehun sampai di meja kerjanya. Teman di sebelahnya itu sudah melemparkan pertanyaannya saja dengan penasaran. Sehun menaikkan sebelah ujung bibirnya sambil menjatuhkan diri di kursi.

“Saya sudah katakan. Hati Irene keras tertutup, seperti ruangan tanpa pintu dan jendela. Bagaimana caranya bisa masuk?” Sehun mengedikkan bahunya pelan.

“Apakah di dalamnya sudah ada orang lain?”

Sehun menggeleng sambil tersenyum lebar, “Itu kabar bagusnya. Dia sepertinya bukan hanya menutup hati untuk saya, tapi juga untuk semua laki-laki.”

Chanyeol menggelengkan kepala dengan pelan, “Waa. Separah itukah luka yang sudah kamu goreskan, Sehun? Sepertinya kamu benar-benar harus menjadi bulldozer kalau memang ingin memilikinya kembali.”

“Yaah. Setidaknya, dia masih enjoy ngobrol dengan saya. Walaupun kalimatnya selalu terdengar sarkastis.”

“Lalu?”

Sehun memandang Chanyeol sembari mengangkat sebelah alis, “Kepo.”

“Cih.” Teman jangkungnya itu mendengus sebal seraya menjauhkan tubuhnya dari Sehun dan kembali fokus ke layar komputer.

Sementara Sehun tiba-tiba menarik laci meja dibawahnya ketika teringat sesuatu. Ada selembar foto yang terselip diantara buku-buku catatan dan illustrasi lamanya di sana. Ia tersenyum tipis, memandangi foto pertama dirinya bersama Irene. Foto yang diambil saat hari pertama kencan sebagai sepasang kekasih muda yang berbahagia. Lelaki itu bersumpah, akan menarik Irene kembali ke dalam hidupnya. Bagaimanapun caranya.

xxxx

 

“Pagi.” Seorang gadis remaja tersenyum pada Irene seraya menyodorkan buku bercover merah marun ke atas meja. Gadis muda itu tersenyum cerah sekali. Wajah yang familiar di mata Irene. Dia salah satu pembaca setianya, yang pasti tidak akan pernah melewati event penting itu.

“Pagi juga.” Balas Irene, dengan senyum yang tak kalah cerah. Tangan kanannya lantas bergerak, membuka cover dan menarik pena di atas kertas paling awal, menulis pesan pendek kemudian menanda tanganinya dengan semangat.

“Benarkah cinta itu butuh definisi?” Tanya gadis itu dengan suara berbisik.

Irene mengangkat wajahnya kembali, menatap gadis di depannya dengan kikuk. Lalu menggeleng sambil tertawa pelan, “Entahlah. Saya sendiri belum menemukan jawabannya. Menurut kamu bagaimana?”

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum lebar, “Ini pertama kalinya aku punya pacar. Jadi aku juga belum menemukan jawabannya.”

Keduanya kemudian tertawa pelan. Setelah berterima kasih, gadis itu pun melangkah dari tempatnya. Memberi giliran pada orang lain yang sudah berjejer di belakang.

Pukul 11 tepat. Event Book signing Filosofi Cinta with Bae Irene itu sudah berlalu hampir 2 jam. Diisi dengan event talkshow dan sesi tanya-jawab, sedikit doorprize sampai akhirnya menanda tangani buku. Antrian yang mulai panjang saat ini telah berjejer di hadapan Irene, dengan masing-masing membawa novel karya terbaru miliknya.

Popularitas Irene sebagai penulis memang cukup bagus. Di antara para penulis senior terkenal yang notabene adalah penulis buku-buku non-fiksi, atau fiksi ilmiah, Irene kini bisa menyusul mereka sebagai penulis fiksi fantasi paling produktif dan paling baik. Satu tahun dia lewati sebelum debut, semua tulisan terdahulunya tidak pernah dilirik sama sekali oleh penerbit. Saat ia coba mempostingnya sendiri di sebuah forum menulis, tulisannya dinyinyiri habis-habisan. Bahkan dihina dan dianggap aneh. Dia frustasi, saat itu. Menjadi anak luntang-lantung yang tidak diterima keluarga, dan memiliki tulisan yang sulit diterima pembaca, membuatnya belajar banyak dan semakin baik dalam menulis. Sampai akhirnya, hari ini berhasil dia capai.

Booksigning mungkin memang melelahkan, tidak sedikit pembacanya yang antusias ingin bertanya langsung dan mendapatkan tanda tangan Irene. Tapi dia suka itu, kegiatan penulis yang paling menyenangkan baginya. Sampai beberapa antrian terlewati, tiba-tiba seseorang mengejutkannya.

Oh ayolah, desah Irene dalam hati. Antrian di belakang sana masih cukup panjang untuk di hadapi, tapi kenapa orang itu menjadi salah satunya? Datang tanpa aba-aba. Seperti setan.

xxxx

 

Nampaknya, Ara butuh penjelasan. Dimana cinta terletak? Orang-orang selalu menunjuk dada kala perasaan semacam cinta itu marasuki seseorang. Ara butuh penjelasan. Apakah terletak dalam jantung? Tidak, jantung itu sebelah dada kiri, bukan tengah. Orang-orang selalu menyebut-nyebut hati. Kenapa hati? Setau Ara, hati itu organ yang terletak di perut sebelah kanan. Jelas-jelas bukan di dada. Ara sangat butuh penjelasan. Menurut yang dia pelajari di kelas Biologi, hati itu alat ekskresi, membantu ginjal untuk memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dengan sebuah proses yang disebut detoksifikasi. Apa hubungannya dengan cinta?

Sehun terkikik geli, ketika membaca isi bab 3 dari Filosofi Cinta. Dengan satu tangan di dalam saku celana, dia berjalan melewati pintu kaca sebuah Mall. Sesekali matanya dengan cekatan memperhatikan jalan untuk sekedar menghindari lalu-lalang orang-orang kemudian kembali membaca. Seakan-akan dia hanya hidup sendirian, tidak peduli apakah dirinya tiba-tiba tersenyum, atau tiba-tiba tertawa pelan seperti beberapa detik yang lalu.

Sampai dia menginjakkan kaki di sebuah lobi dekat toko buku dalam Mall itu. Banyak kursi berjejer rapih yang mulai kosong di sana. Sehun menutup buku miliknya dan melirik ke arah sang pemilik acara. Bibirnya kembali terangkat, orang-orang itu saat ini mengantri panjang di depan Irene. Dia pikir, penggemar Irene sudah akan hampir selesai setelah 2 jam acara berlalu. Lelaki itu mengedikkan bahu tak peduli  sambil menghampiri antrian lalu berdiri di sana. Tidak aneh, ini buku yang ke-8. Buku pure-romance pertama Bae Irene. Mulai dari penggemar setia sampai penggemar terbaru, pasti berbondong-bondong ke event itu.

Sehun menoleh sedikit ke belakang, belum 10 menit dia bergabung dengan antrian namun beberapa orang sudah berdiri di belakangnya dengan  antusias. Sementara dirinya sedari tadi berusaha menutup tubuh di balik barisan. Berharap Irene tidak akan menyadari keberadaannya sama sekali.

Lagi-lagi, Sehun tersenyum ringan. Setiap pandangannya menangkap para pembaca pria yang selesai mendapatkan tanda tangan dan keluar dari barisan dengan senyum sumringah. Biar dia tebak, para laki-laki itu pastilah bukan sekedar penggemar novel Bae Irene. Tapi juga kecantikan Irene. Siapa yang bisa mengelak? Dirinya saja sulit sekali.

“Hai.” Sapa Sehun sambil tersenyum saat ia sudah mendapatkan gilirannya.

Terlihat senyum cerah Irene perlahan menurun. Keduanya saling melempar pandangan, sebuah tatapan bertanya-tanya keluar dari mata gadis itu. Sehun meletakkan buku yang dibawanya di atas meja, mengesernya mendekati Irene kemudian membukakan covernya sambil bergumam, “Terkejut?”

Mata Irene berpaling dari Sehun dengan segera, tangannya kembali menorehkan sesuatu di dalam buku itu, “Bukannya ini masih jam kerja?”

To: Oh Sehun. Selamat membaca dan terima kasih sudah tiba-tiba mampir. Tulisnya, kemudian dengan lihai penanya menarik garis tanda tangan di bawah pesan itu.

“Alasannya kamu, sih. Jadi saya dikasih izin sampai jam makan siang selesai nanti.” Senyum penuh arti menghiasi bibir Sehun saat ini.

Irene menutup cover buku lalu menggesernya ke dekat sang pemilik dengan cepat. Matanya kembali menatap pria itu, “Sampai.. –kapan?”

Sehun melirik jam yang melingkar di pergelangan kirinya, “2 jam lagi jam makan siang. Kamu tidak keberatan, kan? Kalau saya menemani kamu lagi siang ini.”

Irene terkekeh pelan, “Kalau saya keberatan, bagaimana?”

“Itu masalah kamu. Bukan masalah saya.” Jawab lelaki itu seraya mengangkat kedua alisnya jenaka, “Saya akan membaca di kursi sebelah sana, sambil menunggu kamu selesai.”

Tanpa menunggu respon apapun, Sehun tersenyum pada Irene sambil keluar dari barisan. Kemudian duduk di kursi tujuannya.

Untuk pertama kalinya, event booksigning menjadi acara yang paling aneh bagi Irene.

xxxx

 

“Bisa-bisanya kamu menjadikan saya alat untuk bolos kerja. Jadi alasan apa yang kamu pakai sampai-sampai diizinkan keluar seperti ini?” Tanya Irene ketika baru saja menghampiri Sehun. Lelaki itu mengangkat kepala sambil menutup buku, kemudian tersenyum.

“Ada yang harus saya bicarakan mengenai illustrasi untuk novel terbaru Bae Irene. Alasan yang ampuh, bukan?” Sehun kemudian berdiri.

“Illustrasi apanya? Naskahnya saja belum bertemu deadline.” Balas Irene dengan nada nyinyir, seperti biasa. “Saya hilang selera makan, nih. Memangnya novel saya masih kurang cukup, ya? Untuk nemenin kamu makan.”

“Kamu pikir benda ini bisa diajak bicara?” Sehun mengangkat buku di tangannya lalu menurunkannya kembali. “Kalau ngopi, bagaimana? Hilang selera juga?”

Gadis itu memalingkan wajah. Berpikir sejenak. Membiarkan logika dan hatinya berdebat hebat di salah satu sudut dalam kepalanya.

“Saya menunggu, loh. Berharap kamu tidak menolak.”

Irene menghembuskan nafas dengan kasar. Logikanya kalah lagi. Membiarkan dirinya rela-rela saja mengikuti kemana Sehun mengajaknya saat ini. Membawa dirinya ke sebuah caffe di sebrang Mall. Dan berakhir saling berhadapan, di samping jendela yang super besar.

Selagi menunggu pesanan, kedua lengan Irene bertumpu di atas meja. Satu tangannya kini mengusap belakang leher sembari memandangi jalanan di luar jendela dengan wajah resah. Kini logikanya tengah mengamuk, sebenarnya apa yang dia lakukan di tempat itu?

“Kamu merasa terganggu?” Tanya Sehun dengan nada sesantai mungkin. Tidak terlalu peduli juga, sebenarnya. Apakah Irene merasa terganggu atau tidak.

Gadis itu melirik Sehun sebentar lalu kembali ke pandangan semula, “Bingung aja. Kanapa bisa sampai sini.” Balas Irene, seolah-olah langkahnya mengikuti Sehun adalah di luar kesadarannya.

Pria di hadapannya tertawa, “Kok rasanya seperti saya yang sudah culik kamu.”

“Kayanya saya emang diculik, deh.”

“Wajah setampan ini memangnya pantas disebut penculik?”

Logika Irene semakin mengamuk dalam otaknya. Membuat kepalanya pening. Seperti ada sesuatu yang tengah mengobrak-abrik dan mencakar-cakari seisi benak Irene saat ini.

Pesanan mereka tiba. 2 cangkir kopi dan masing-masing potongan cake dengan rasa yang berbeda.

Sehun segera meraih cangkir dan menyeruput isinya dengan perlahan. Merasakan setiap sensasi super pahit dalam lidah. Sementara Irene kini memandangi isi cangkir sambil mengenggamnya dengan kedua tangan.

“Kamu gak kepahitan?” Tanya gadis itu kemudian, sambil menatap Sehun.

“Minumnya sambil liat yang manis, sih. Manis banget sampai pahitnya aja kalah.” Balas pria itu lalu tertawa pelan.

Astaga. Rasanya hidung Irene kini lenyap tak berbekas. Kalimat macam apa itu? Benar-benar basi. Membuat Irene ingin tertawa terbahak-bahak, sekaligus tersipu. Dia tak merespon, selain kembali menatap isi cangkir dan segera meneguknya sedikit. Sudah berapa lama dirinya tak merasakan salah tingkah? Irene sulit sekali mengontrolnya. Dan itu mudah sekali dibaca Sehun, membuat pria di hadapannya tersenyum gemas.

“Kok suka banget, sih, bikin orang kaget. Hobi baru?” Irene mencoba menahan diri dengan membuka pembicaraan lain. Jemarinya meraih garpu, menyomot sedikit cake miliknya.

Sehun tersenyum, “Saya baru bikin kamu kaget 2 kali. Mana bisa disebut hobi?”

“Ketimbang ikut ngantri seperti tadi, kamu bisa saja memintanya langsung pada saya.”

“Jadi kamu mau memperlakukan saya sebagai penggemar spesial, nih?”

Irene terkekeh, merasa konyol mendengar jawaban Sehun. Kepalanya menggeleng pelan sambil menatap potongan cake kembali.

“Itu bukan pertama kalinya, loh. Saya selalu ada di event buku kamu sebenarnya. Dulu-dulu saya cuma terlalu cemen aja untuk menampakkan diri.”

“Tidak usah menampakkan diri juga tidak masalah, kok. Saya gak pernah berharap tiba-tiba ada ‘penampakan’ di event buku saya.” Balas gadis itu dengan nada menyindir, lagi.

Sehun tertawa, “Tadi dibilang penculik, sekarang dibilang penampakan. Saya jadi terlihat seperti arwah yang ingin menyelesaikan dendam.”

“Menghilangnya juga kaya setan, sih. Tiba-tiba. Jadi munculnya juga gak pakai aba-aba.” Gumam Irene sarkartis, tanpa memalingkan pandangan dari potongan Red Velvet miliknya. Senyum meledek kini kembali menghiasi wajah cantik Irene.

Hati Sehun sedikit tersentil, lagi-lagi gadis itu menyenggol-nyenggol mengenai masa lalu yang mungkin memang amat sulit termaafkan. Lelaki itu tersenyum kecut, “7 tahun berada di kota yang sama. Masih di rumah masing-masing yang sama. Bahkan sudah 2 tahun kita berada di dunia yang sama. Tapi baru sekarang kita benar-benar saling berhadapan. Apa itu terlihat seperti kebetulan?” Alis Sehun terangkat sedikit, mulai tertarik dengan percakapan sensitif yang sudah terlanjur dibahas itu.

Lawan bicara Sehun mengangkat wajah, memberi senyum sinis ke arahnya. “Apakah saya harus menyesal karna sudah menerima Cosmic Publisher untuk beekerja sama membuat fantasi trilogi?”

“Lebih tepatnya, kamu harusnya menyesal karna sudah meminta illustrasi untuk novel terbarumu itu.”

Irene menarik nafas sambil menggigit bibir bawahnya, agaknya AC ruangan itu kini sama sekali sudah tak terasa oleh kulitnya. “Menulis buku yang memiliki illustrasi di dalamnya adalah salah satu impian saya. Lalu apakah saya harus menyesal juga dengan impian itu?”

“Jangan sampai keberadaan saya membuat kamu takut bermimpi, Irene.”

“Saya bukan penakut seperti kamu. Tenang saja.”

Percakapan itu mulai membuat Sehun sedikit gelisah. Menerobos hati Irene jauh lebih sulit dari perkiraannya. Gadis itu tak membuka jalan pada dirinya untuk sekedar meminta maaf, atau memabahas masa lalu dengan lapang. Pun menerimanya sebagai kejadian yang sudah sepantasnya dijadikan pelajaran. Perempuan itu sulit sekali dimengerti, lebih menyebalkan dibanding Irene yang dulu.

Beberapa menit selanjutnya mereka hanya diam. Saling melirik kemudian kembali memalingkan pandangan. Masih dengan sedikit kegelisahan, Sehun memandangi Irene semaunya, sambil sesekali mendekatkan belahan bibirnya ke tepian cangkir. Untuk kembali menyesap pahit kopi, ditambah pemandangan manis di depannya sebagai pengganti gula. Atau mengikuti Irene yang pelan-pelan menikmati cake dengan malas.

“Kok bisa tau ada event buku saya?” Buka Irene lagi.

Sebelum memberi jawaban, Sehun menjilat cream putih yang menghiasi ujung bibirnya, “Tadi pagi, Baekhyun menyebut-nyebut acara book signing Filosofi Cinta di Mall itu.”

“Kamu itu terlalu nge-fans sama saya, atau gimana? Sampai-sampai rela meninggalkan pekerjaan cuma buat menemui saya.” Ujung bibir gadis itu sedikit terangkat, lagi-lagi meledek lawan bicaranya.

“Lebih tepatnya, semua itu cuma kebetulan.. Entah takdir?”

“Maksudmu?”

“Saya tidak pernah mencari tau event-event novelmu, Bae Irene. Saya selalu kebetulan sedang berada di tempat acara kamu berlangsung untuk sebuah tugas kantor. Bagusnya, kamu tidak pernah menyadari keberadaan saya. Seperti ada sebuah catatan takdir, bahwa saya harus berada di tempat yang sama seperti kamu. Tanpa saya rencanakan sekalipun.”

Irene menoleh ke luar jendela seraya terkekeh. Mulai merasa risih dengan isi percakapan.

“2 tahun saya merasa was-was bekerja di Cosmic Publisher. Takut-takut salah satu projek Penerbit mengundang kamu bergabung. Atau tiba-tiba kamu mengirim naskah pada kami untuk diajak bekerja sama. Tapi kemudian saya heran, Cosmic itu salah satu penerbit besar, loh, Irene. Tapi kamu tidak pernah melirik Cosmic sama sekali. Apa itu juga bisa disebut kebetulan?”

Gadis di hadapannya menoleh ke arah Sehun, lalu mengangkat cangkir dan menyesapnya perlahan. “Kamu ini bicara apa, sih.”

“Cuma takdir yang tau, mana waktu yang tepat untuk memulai mana bukan.”

Kini jemari cantiknya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan. Semakin merasa gelisah dan tidak nyaman. Lantas memberi komentar sarkartis, “Kenapa kamu membuat seolah-olah takdirlah yang berperan dalam semuanya?”

“Apa namanya kalau bukan takdir? Kebetulan?”

Gadis itu diam, melipat kedua bibirnya lalu melirik Sehun beberapa detik.

“Jika saya dan kamu bertemu dengan cara bertabrakan tanpa sengaja di sebuah pusat perbelanjaan. Itu masuk akal untuk disebut kebetulan, meskipun bisa jadi itu adalah takdir.”

Irene menghela nafas. Kini wajahnya lurus menatap Sehun. Kenapa perdebatan ini semakin tidak jelas? Merembet pada mana yang takdir dan mana yang kebetulan. Membuat kepalanya semakin pening karna bingung. Sampai sebaris kalimat yang baru saja melintas dalam otaknya, Irene luncurkan secara cuma-cuma.

“Sehun. Saya gak peduli apakah pertemuan kita kali ini adalah takdir atau cuma kebetulan. Saya. Gak. Peduli. Saya rasa ini waktu yang tepat untuk to the point, waktu yang tepat untuk meminta. Bahwa saya berharap, kamu tidak akan menarik saya lebih jauh lagi.”

Cukup. Irene rasa itu kalimat yang cukup untuk sekedar memberitau Sehun bahwa dirinya tak ingin kembali atau memulai apa-apa. Gadis itu mengeluarkan dompet dari tas selendangnya, mengeluarkan sejumlah uang dan menyimpannya di atas meja.

“Kenapa? Apa yang salah?” Tanya Sehun, seolah-olah tak ada yang sedang terjadi diantara keduanya. Sementara Irene kini sudah berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

“Irene!” Panggilnya tak sabaran. Sebelum mengejar, dia mengeluarkan uang dari dompetnya dan meninggalkannya di atas meja.

“Irene, Irene. Dengar dulu, saya mohon.” Belum jauh dari caffe tadi, Sehun segera menarik tangan gadis itu. Memaksa tubuh Irene untuk berhenti.

“Apakah kalimat saya kurang jelas, tadi?” Gadis itu menepis genggaman Sehun sambil berbalik. Menghadap lawan bicaranya yang kini memasang wajah frustasi.

“Saya bahkan belum menjelaskan apa yang sudah terjadi 7 tahun lalu. Alasan kenapa saya harus meninggalkan kamu.”

Irene membuang muka sembari tertawa sinis. Kedua alisnya mengernyit lalu menggelengkan kepala, “Simpan saja alasan basimu itu sampai membusuk. Saya tidak butuh. 7 tahun itu terlalu lama.”

Perdebatan mereka soal masa lampau, kini semakin meluas. Semakin meluber, membiarkan pendapat masing-masing keluar begitu saja dari mulut mereka. Tidak ada yang harus di nyatakan secara tersirat lagi, seperti dialog-dialog sebelumnya.

Sehun menelan ludah, ternyata sulit sekali menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah tak termaafkan. Irene benar, 7 tahun itu waktu yang terlalu lama. Seharusnya, jika perasaannya memang tidak pernah berubah, Sehun sudah mengejar Irene sejak lama. Namun apa daya, takdir adalah hal yang terlalu besar kekuatannya untuk di lawan.

“Beri saya kesempatan. Saya tidak akan –“

“Hidup saya baik-baik saja selama 7 tahun kebelakang, Oh Sehun. Hidupmu juga sepertinya baik-baik saja, tuh, tanpa saya. Jadi untuk apa?” Suara gadis itu menaik, memberi eskpresi memuakkan untuk Sehun. Mantan yang tiba-tiba meminta kesempatan setelah 7 tahun lamanya, benar-benar hal yang paling meresahkan dalam hidup Irene saat ini.

“Selama ini bayangan di belakang saya sudah tertutup dengan bayangan kamu yang terus menempel. Bagaimana bisa itu disebut baik-baik saja? Hati saya tertatih, Rene. Melihat kamu yang sulit sekali saya gapai.” Sehun melangkah, mendekati Irene untuk memberi tatapan paling serius pada gadis itu.

Irene mengangkat kedua alis, memasang ekspresi tak peduli. “Itu masalah kamu. Buk-kan masalah saya.”

Sehun kembali diam, kepalanya terangkat. Jemarinya menyisir rambut dengan frustasi. Merasa terhinakan sejak kemarin Irene selalu saja membalasnya dengan kalimat-kalimat yang amat sarkartis. Dia lalu kembali menatap gadis di depannya dengan nanar, “Irene. Saya gak menyangka, sekarang kamu bisa senyebelin ini kalau bicara.”

“Saya juga gak pernah menyangka, kamu bisa tinggalin saya gitu aja. Itu lebih nyeb-belin, asal kamu tau.”

“Jika kamu mau, saya bisa tinggalkan semuanya di belakang. Alasan yang menurutmu lebih baik membusuk itu, akan saya buang jauh-jauh di belakang sana. Saya gak masalah, kalau saya harus memulai semuanya dari nol bersama Irene yang baru, bersama saya yang baru. Saya tidak akan memaksa kamu untuk kembali seperti dulu.” Suara Sehun menurun, menyisipkan nada membujuk dalam kalimatnya. Tanpa disengaja pun kini eskpresinya terlihat memelas di depan Irene. Tatapan teduhnya tiba-tiba padam, gelap penuh dengan sesal.

Irene memandangi wajah Sehun dengan nanar, lalu menggeleng pelan. “Tapi sayangnya, luka di hati saya kembali meruam saat kamu kembali ada.”

Kaki jenjang gadis itu segera melangkah pergi meninggalkan Sehun. Berlalu dengan cepat kembali menuju mobilnya yang terparkir di Mall. Sementara Sehun masih diam ditempat. Kakinya membeku di sana, seperti mati rasa. Dia menggigit bibir bawahnya, kini perasaan sesal itu melahap seluruh isi hatinya tanpa sisa.

–To be continued–

 

Tyar’s note:

Tjie tyar. Wkwkwkwk gak usah di jelasin panjang lebar juga disini kali, ya. Kenapa aku ganti penname jadi tyar hoho silahkan baca ada disini >> TYAR :3 (kali aja pengen tau pfftt)

Di Ch. 1 minggu kemaren, aku lupa gak bilang kalau baca FF ini tuh bakalan susah banget ngebayanginnya (perlu ditebalkan dan digaris-bawahi). Huahahahahahahahh maapkan /nangis di pojokan/

Sebenernya aku sendiri pun susah ngebayanginnya. Yang kebayang dalam otak cuma ekspresi-eskpresi Hunrene doang selewat-selewat. Gak bisa bayangin gimana bibir mereka bergerak. Lol ini Lol. :v

JADI HATI-HATI YA! Awas kalo yang dibayanginnya malah Rangga-Cinta AADC2 wkwkwk. Apalagi kalau yang dibayanginnya KAMU-MANTAN. Beuh. Dilarang keras! Baper abiz inimah namanya. Gagal move on tetot. Wkwkwkwkwkwkk kecuali kalo mantannya semacam Sehun sih DUH gabakal bisa ngelak deh suweerr. :p

Jangan lupa tinggalkan mantan *EH. Tinggalkan jejak maksudnyaa. Xekian.

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 2)”

  1. Iya sih ini kan harus nya gak mgebayangin aadc tapi malah kebayang nya ke situ soalnya tulisan dan kalimat bahasanya persis banget dngan aadc jadi aku malahngbayangin kaya aadc jenis pembicaraannya hehe sorry ya, semangat untuk kisah kisah selanjutnya , thank you!!

  2. Lagi2 ngebayangin kalo ini drakor yg disiarin di tipi trus pas dubbing sehun bilang ‘kepo’ huanjiiirrr wkwkwk. Btw author tau aja aku tuh sekilas juga ngebayangin kalo itu rangga-cinta kkk penasaran ih kenapa sehun bisa ninggalin irene? Irene pan cantik tega amat ditinggal gitu aja wkwk tapi tetep salut sama irene jgn mau kegoda sama mantan yg tiba2 muncul ngajak balikan. Tendang aja orang yg kaya gitu sampai luar angkasa *okeinicurcolyglebay* *abaikansaja* ditunggu next chapternya ya qaqa tyar~

  3. Hmm… bahasa nya author….. kalimat tiap kalimat nya…. suka bgt……
    Semangat menulis, ditunggu kelanjutan nya….

  4. Wiiihhh
    Sehun kalo ngopi nya kayak gitumah kelewat manis…
    Kerenn.. baca ff ini serius banget.. gak mau diganggu
    Ngebayangin mereka berantem seru..
    Semangat author 🙂

  5. Duh duh ini mah emg bikin baper ,,emg nyebelin klo pergi tanpa kabar,,huhuu
    – next chapter aj..
    -hehehee
    -Semangat-

  6. Wahh kakk critanya bagus..

    Jiahh sehun oppa bsa aja “Minumnya smbil liat yg mnis sih, Manis bgt smpe phitnya aja klah”..wkwkwkwk
    Senyum”kan jdinya..kkk

    Iya kakk Kok akhirnya Baper kya gtu 😦

    Next kakk..
    D tunggu klanjutanya 🙂

  7. Kak tiar jago amat sih jungkir balikin perasaan orang… -_- pertamanya ketawa2 sendiri eh akhirnya jadi baper masa lalu,, masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan aku #gakdareceh wkwk 😀 oke keep writing ya kak dan jangan bosen menghadapi reader absurdmu ini…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s