[EXOFFI FREELANCE] Flow (Chapter 1)

untitled-96.jpg

Title/judul fanfic

Flow

Author
Reamore

Length
Chapter

Genre
AU, Romance, Friendship, Comedy, School Life.

Rating
PG-15

Main Cast & Additional Cast

Park Chanyeol (EXO)
Kim Seok Jin (BTS)
L (Infinite)
Baro (B1A4)
Shin Joon Hee (OC)
and other..

Disclaimer
All cast belong to God, their family, and their agency.

I just own the story.

Also published at my wordpress

Author’s note
Salam kenal. Saya freelance baru di sini.
Terima kasih untuk readers yang sudah bersedia membaca fanfic ini.

Terima kasih untuk posternya selviakim Poster Channel
Enjoy!!!

 

 

 

Chapter 1

 

Musim Gugur 2012

Normal PoV

Joon Hee-ya, apa yang sedang kau lakukan?

Aku baru mencuci muka. Sunbae tidak belajar?

Aku sedang istirahat sebentar. Apa kau sudah mengantuk?

Belum, hanya saja eomma akan memarahiku jika sampai aku terlambat bangun.

Dasar anak penurut…Joon Hee-ya?

Nde?

Akhir minggu ini temani aku ke toko buku.

Sesudah kursus?

Eoh. Aku akan menunggumu di depan tempat kursus.

Kenapa sunbae tidak pergi sendiri?

Wae? Kau tidak mau menemaniku?

Bukan begitu…

Kalau begitu kau harus mau karena aku harus mencari buku tentang materi tingkat 10 dan aku butuh bantuanmu, hoobae.

Baiklah.

Hoobae yang baik. Jalja..

Jaljayo sunbae..

Joon Hee mengakhiri acara chattingnya. Ia mematikan komputer di meja belajarnya dan beranjak ke tempat tidur.

Drrtt..ddrrtt..drrt..

Joon Hee melirik ponselnya yang bergetar masih dengan meneguk susu yang ada di gelas dalam genggamannya. Myung Alien adalah ID pemanggil yang tertera di ponsel gadis itu. Hanya beberapa detik sebelum panggilan itu terputus tanpa dijawab terlebih dahulu oleh Joon Hee.

“Myung Soo?” Tanya wanita paruh baya yang tengah menyantap sarapannya di samping Joon Hee.

Nde, eomma. Kalau begitu aku berangkat sekarang.” Kata Joon Hee memakai ranselnya lantas berpamitan kepada orang tuanya.

Joon Hee membuka pintu rumahnya dan di sana sudah ada seorang pemuda berkaca mata yang tengah menunggunya.

Mian.” Kata pemuda itu singkat.

Wae?” Tanya Joon Hee tak kalah singkatnya.

“Ban sepedaku bocor, jadi harus naik bus hari ini.” Jawab pemuda itu.

Aigoo, Myung Soo-ya, kau tidak perlu minta maaf.” Kata Joon Hee santai. Myung Soo hanya menanggapi dengan senyum singkat namun tetap saja lesung pipi pemuda itu muncul tanpa tahu malu. “Kajja, kita berangkat.” Ajak Joon Hee. Mereka berdua pun bergegas meninggalkan rumah berdesain minimalis milik Joon Hee.

Joon Hee PoV

“Apa kaca matamu bertambah tebal atau hanya perasaanku saja?” Aku mengamati Myung Soo yang duduk di sebelahku. Kami berdua sedang berada di dalam bus menuju ke sekolah kami.

Eoh.” Jawabnya singkat.

Namja ini benar-benar! Sangat.Malas.Bicara. Dia benar-benar ‘unik’. Aku sudah bertahun-tahun berteman dengannya, namun hingga sekarang aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Ia seperti alien yang berasal dari galaksi lain dan sialnya tampan.

Kami berdua tiba di sekolah saat bel peringatan bahwa pelajaran dimulai 5 menit lagi terdengar. Jika dipikir-pikir, naik sepeda lebih cepat daripada naik bus karena sepeda tidak perlu menunggu penumpang lain dan kami juga tahu jalan-jalan pintas menuju sekolah. Tapi, mau bagaimana lagi? Hari ini keadaannya da.ru.rat..

“Aku ke kelas dulu.” Kata Myung Soo. Ya, kelasnya memang berada di bawah berbeda dengan kelasku yang berada di lantai dua. Ia melenggang begitu saja tanpa sempat kujawab.

Aku memutuskan untuk tidak memusingkan alien itu dan bergegas menuju lantai dua lebih tepatnya menuju kelasku.

“Joon Hee-ya, tumben kau datang di detik-detik terakhir.” Sapa teman sebangku ku, Mina.

“Ini semua karena ban sepeda Myung Soo bocor, jadi terpaksa kami harus naik bus.” Aku duduk sambil meletakkan kepalaku di meja.

“Kau sepertinya sangat dekat dengannya, eh, Lee Seonsaengnim sudah masuk.” Aku langsung menegakkan tubuhku ketika mendengar perkataan Mina.

Pelajaran jam pertama kami adalah Bahasa Inggris. Setidaknya itu pelajaran yang aku mengerti. Jadi, aku tak perlu ijin ke UKS atau berlama-lama di toilet.

“Shin-ah.” Namja itu dengan seenak jidatnya meminum jus stroberi milikku yang bahkan belum kusentuh sama sekali. Aku tengah beristirahat di kantin sendiri sebelum Chanyeol Dobi itu datang.

“Park Dobi!!” Aku men­death glarenya. Dobi sialan itu dengan tidak tahu malunya hanya menjulurkan lidahnya dan duduk di hadapanku.

“Pulang sekolah kumpul di basecamp.” Ucapnya santai karena memang begitulah kepribadiannya aku rasa.

“Aku usahakan jika tidak lupa.” Jawabku sambil menyeruput jus stroberi yang ada di depanku. “OMO!!” Kagetku.

Wae?” Tanya Dobi malas.

“Sedotan itu bekas mulut berbisa milikmu.” Kataku sambil menatapnya ngeri.

“Jangan berlebihan, biasanya kau juga meminta minumku.” Jawabnya sambil tangan jahilnya meraup wajahku.

“YAK! Make up ku bisa luntur.” Aku semakin mendeath glarenya.

“Kau memakai make up?” Tanyanya seolah-olah peduli padaku. Ralat. Pada make up ku.

“Sedikit.” Kataku sambil cemberut.

“Kau masih tetap cantik.” Ia berbicara dengan cepat.

Mwo?” Aku tidak dapat menangkap apa yang diucapkannya karena dia berbicara sangat cepat. “Apa yang kau katakan, Chan?” Ulangku.

Geunyang mwo.” Ia mengangkat bahu acuh. “Ingat! Pulang sekolah! Jangan berani kabur! Aku akan menyuruh Sun Woo untuk menyeretmu jika berani kabur. Annyeong.” Ketenanganku akhirnya kembali setelah Ia melenggang pergi dari kantin.

“Dasar aktivis.” Aku melihatnya bersin di depan pintu kantin. Sepertinya Ia sangat sensitif saat ada orang yang membicarakannya. hihihi.

“Joon-ah, kau harus ikut berkumpul hari ini karena hari ini kita akan membahas camping yang akan kita adakan dengan sunbae tingkat 11 dan 12.” Kata Sun Woo serius. Aku tengah memasukkan peralatan sekolahku kembali ke dalam tas.

Arraseo, kau bisa pergi terlebih dahulu. Aku akan menyusul.” Jawabku malas.

Anhae. Kau pasti akan kabur jika ku tinggal.” Balasnya. Sial sekali siang ini. Aku hanya bersama Sun Woo di kelas. Semua teman-teman sekelasku sudah pulang termasuk Mina. Aku jadi harus meladeni mulut tajam namja ini. Benar-benar.

“Kapan aku pernah kabur?” Tanyaku ketus.

“Kapan kau tak pernah kabur?” Balasnya. Aku mendengus mendengar pertanyaannya.

“Jangan melebih-lebihkan, Cha Sun Woo. Kau membuatku terlihat seperti aku tidak pernah menghadiri acara klub.”

“Kau memang pernah hadir tapi selalu dengan paksaan.” Namja itu benar-benar selalu bisa memancing emosiku. Ia selalu bisa bersikap lembut dengan gadis lain, namun tidak pernah sekalipun denganku. Aku yang sudah tersulut emosi langsung bergegas meninggalkannya. “Mau kemana?” Tanyanya.

“Tentu saja ke ruangan klub.” Aku menjawabnya tanpa menoleh sedikit pun padanya. Aku mendengar langkah-langkah panjangnya berusaha menyusulku. Dan gotcha! Dalam beberapa langkah Ia sudah berjalan di sampingku.

Cheoseonghamida, kami terlambat.” Sun Woo membungkukkan badannya di depan para anggota klub. Aku yang ada di sampingnya pun ikut membungkukkan badanku. Setidaknya aku masih tahu diri.

“Silahkan duduk.” Itu suara Sung Kyu sunbae. Dia menjabat sebagai ketua klub kami pada periode sekarang. Dia adalah seorang yang pengertian dan ceria. Selama ini, aku tidak pernah melihatnya marah-marah sejak awal aku bertemu dengannya.

Aku bergabung dengan anggota klub dari tingkat 10 yang lain. Banyak dari sunbae tingkat 11 yang memperhatikan Sun Woo dan aku. Aku sih tidak begitu ambil pusing dengan tatapan-tatapan yang dilemparkan mereka. Ya, hubunganku dengan sunbae-deul memang tidak akrab. Berbeda dengan anggota klub yang lain. Sifatku yang acuh tak acuh mungkin menjadi penyebabnya.

“Ada yang ingin bertanya atau memberi pendapat?” Tanya Sung Kyu sunbae setelah selesai menjelaskan rencana camping minggu depan. Ada beberapa dari anggota klub yang mengemukakan buah pikiran mereka. Ya, yang jelas kesimpulannya adalah camping ini akan diadakan dia akhir minggu depan selama 2 hari 1 malam di Namsan.

Kami mendiskusikan beberapa pendapat yang disampaikan pada pertemuan kali ini. “Baiklah, jika tidak ada pertanyaan atau masukan lagi, maka aku akan mengumumkan tugas kalian.” Kata Sung Kyu sunbae. Dia mengumumkan pembagian tugas kami. Aku bertugas menjaga keamanan dan ketertiban bersama Sun Woo dan sunbae-deul yang lain. Menyebalkan. Lagi-lagi aku harus berurusan dengan namja bermulut tajam itu lagi.

“Haha. Nona Shin sedang bahagia.” Dobi sialan itu mengejekku ketika pertemuan sudah usai dan hanya tinggal beberapa anggota klub yang tersisa.

“Park Dobi, diamlah!” Kataku ketus.

“Kau pasti sangat bahagia karena satu kelompok dengan sunbae kesayang-” Aku langsung membekap mulut berbisa miliknya itu.

“Aku benar-benar bodoh karena memberitahukan rahasiaku padamu.” Penyesalan selalu datang belakangan. Begitu kata orang.

Flashback On

Aku berlari menuju ruangan klub. Hari ini adalah jadwalku untuk membersihkan ruangan itu. Suasana di sekitar ruang klub sangat sepi. Ya, aku terlambat karena Ahn Seonsaengnim memanggilku.

“Park Dobi, apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku saat melihat Chanyeol tengah tiduran di karpet sambil mengotak-atik gadgetnya.

“Bersantai. Tentu saja tidak. Aku disuruh Ketua untuk menunggumu dan menyampaikan hukumanmu kerena tidak melaksanakan piket.” Katanya. Kini Ia sudah berdiri dan sempat-sempatnya merapikan kemeja serta rambutnya. “Shin Joon Hee, terimalah hukuman Raja dengan rasa hormat dan penuh tanggung jawab.” Katanya sambil menirukan hakim-hakim pada masa pemerintahan Joseon dalam drama-drama kolosal.

“Aishh, palli!” Aku yang sudah malas melihat dramanya memilih untuk duduk di kursi panjang yang terdapat di ruangan ini.

“Minggu depan kau piket sendirian, chukkae..” Ia menyalamiku sambil menyunggingkan senyum lebar.

Mwo?” Tanyaku tak percaya. “Kau yang merayuku untuk ikut dengan klub ini, bukan? Aku menyesal sekarang.” Aku mulai melayangkan protesku.

“Merayu itu sedikit berlebihan. Aku bukan tipe namja seperti itu. Aku hanya menawarimu karena kau temanku sejak Sekolah Menengah Pertama.”

“Tetap saja kau itu seperti sales-sales yang suka merayu pembeli.” Aku masih tak mau kalah dengannya.

“Dan kau seperti konsumen yang mudah termakan oleh kata-kata sales.HAHA.” Ia malah balas menertawaiku.

“Terserah.” Jawabku ketus. Aku memilih untuk sekedar merapikan tempat ini. Ya, walaupun sebenarnya tempat ini sudah cukup rapi. Aku melihat foto sunbae-deul tingkat 12 yang terpampang di meja.

“Memandangi seseorang?”

“OMO!” Figura yang berada di tanganku hampir saja jatuh ke lantai gara-gara suara menggelegar seperti petir itu. Bukan hanya tubuhnya saja yang tinggi seperti tower listrik tapi suaranya juga bisa membuat orang tersentak seperti saat tersetrum arus listrik.

“HAHA, tertangkap basah kau, Shin.” Ucapnya lagi. Aku langsung membalikkan badanku dan menatapnya dengan tatapan membunuh. “Jujur saja, Shin. Aku tidak akan membeberkannya.” Katanya.

“Kau mulai mengeluarkan keahlian sales promosimu lagi. Anhae.” Jawabku.

“Aku akan memberitahumu sesuatu sebagai gantinya. Eotte?” Dia berpindah duduk di sampingku.

Big NO.” Jawabku singkat.

“Baiklah aku akan mulai lebih dulu.” Katanya. Aku sih mengacuhkannya dan lebih memilih untuk memainkan ponselku. “Aku menyukai seseorang dari angkatan kita.” Katanya lirih.

“Kasihan sekali orang itu.” Komentarku. Dia mendecih ketika mendengarnya.

“Kau tidak penasaran? Dia sangat cantik, kulitnya putih bersih, dan dia sangatlah anggun.” Sepertinya pikiran Dobi itu sudah mulai berkelana membayangkan gadis yang katanya disukai olehnya itu.

“Pasti aku.” Ia langsung meraup wajahku dengan tangan raksasanya itu. “YAK!” Dasar seenaknya saja. Ia tersenyum manis ke arahku, aku pun ikut tersenyum.

“Itu tidak mungkin.” Ia langsung mengubah ekspresinya menjadi datar setelah mengatakan kata itu. “Aku masih waras, Shin.” Lanjutnya.

“Baiklah sebagai mantan teman Sekolah Menengah Pertamamu, aku akan baik hati dan berpura-pura peduli dengan masalahmu. Siapa namanya?” Tanyaku.

“Kau akan tahu ketika aku menyatakan cintaku. Dalam waktu dekat ini.” Aku menganga mendengar perkataannya. “Next, sekarang giliranmu.”

Anhae.” Jawabku.

“Tidak masalah, aku bisa mencari tahunya sendiri. Dia ada di dalam foto itu kan?” Tunjuknya ke arah foto yang aku pegang tadi.

Molla.” Jawabku malas.

“Itu pasti Seok Jin sunbae.” Aku membelalakkan mataku mendengar perkataannya.

“Bagaimana kau?” Aku langsung menutup mulutku. Tapi, terlambat. Dobi kurang ajar itu sudah menangkap kata-kataku dengan sangat baik.

Assa! Ternyata benar. Padahal aku hanya menebak. Apa kau sering berkomunikasi dengannya?” Dia semakin memojokkanku.

“Kau tidak perlu tahu.” Aku bangkit dan mengambil ranselku berniat meninggalkan ruangan ini. “Dan awas jika sampai ini tersebar, aku akan membuat masa-masa Sekolah Menengah Atasmu ini menjadi kenangan terburuk seumur hidupmu!” Aku meninggalkan Chanyeol di ruang klub sendirian setelah mengancamnya.

Flashback Off

Normal PoV

Joon Hee terlihat gelisah selama kursus berlangsung. Berkali-kali Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“5..4..3..2..1..” Joon Hee menghitung lirih.

Krrrriiinnngggg

Bel tanda kelas usai berbunyi. Anak-anak langsung beranjak ke luar kelas setelah Seonsaengnim mengakhiri pelajaran.

“Masuklah!” Perintah seorang namja dari dalam mobil kepada Joon Hee.

Nde, sunbae.” Gadis itu masuk ke dalam mobil sport putih di depannya.

Gumawo karena sudah mau menemaniku, Joon Hee-ya.” Mobil itu mulai melaju dengan kecepatan sedang.

Cheonmanyo, sunbae.” Joon Hee terlihat berbeda dari biasanya. Ia bersikap lembut dan anggun berbeda sekali ketika Ia bersama Myung Soo atau Chanyeol.

Setelah menempuh perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit, mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan di depannya. Akhir pekan membuat pusat perbelanjaan ini menjadi cukup penuh.

“Seok Jin sunbae, bagaimana dengan toko buku yang di sana?” Tunjuk Joon Hee ke salah satu toko buku yang cukup besar.

Kajja.” Seok Jin menyetujui saran gadis itu. Mereka berdua pun menuju ke toko tersebut.

Mereka berdua nampak asyik memilih buku-buku yang terpajang di rak-rak. “Kau akan membaca semua ini, sunbae?” Tanya Joon Hee yang melihat sunbaenya itu membeli banyak buku.

“Hey, jangan menatapku dengan pandangan aneh seperti itu. Di sini tidak hanya ada buku pelajaran tapi buku bacaan juga.” Joon Hee hanya dapat mengacungkan kedua ibu jarinnya. “Aku akan ke kasir dulu.”

“Butuh bantuan?” Tawar Joon Hee tulus dan hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh sunbaenya itu. “Jinjja? Kalau begitu aku akan menunggu di luar, aku tidak ingin membuat antrian di kasir semakin banyak dengan berdiri di sana. Hihi.” Gadis itupun bergegas keluar dari toko buku. Ia merapat pada tangga, mengamati aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang di sana-sini.

Kajja!” Ajak Seok Jin. Setelah kurang lebih 3 menit mengantre akhirnya Ia dapat membayar belanjaannya. “Kau ingin membeli sesuatu?” Tanya namja itu. Mereka berdua tengah menyusuri lorong lantai 3 pusat perbelanjaan.

Anniyo, sunbae.” Jawab Joon Hee singkat.

“Kalau begitu temani aku ke sana!” Tunjuk Seok Jin pada sebuah toko aksesoris.

Nde?” Seok Jin sudah berjalan mendahului hoobaenya itu.

“Selamat datang.” Sapa seorang pelayan toko pada mereka berdua. Mereka berdua melihat berbagai macam aksesoris yang ada di toko bagian depan.

Sunbae, kau tidak malu masuk ke sini?” Tanya Joon Hee pada Seok Jin.

“Tidak, aku kan bersama denganmu.” Kata Seok Jin santai. “Bando ini telihat cocok untukmu, eotte?”

“Aku malah merasa aneh, karena aku jarang memakai bando.” Jawab Joon Hee sambil mencoba bando yang dipilihkan Seok Jin dan melihat dirinya di depan cermin besar yang terletak di dinding toko itu. “Dan aku tidak biasanya membeli barang yang dijual di bagian depan.” Kata Joon Hee sedikit berbisik.

“Eh?” Seok Jin memandang Joon Hee kaget.

“Aku hanya bercanda sunbae. Jangan dianggap serius.” Ucap Joon Hee sambil lebih masuk ke dalam toko. Seok Jin mengikuti langkah gadis yang 2 tahun lebih muda darinya itu. “Yeppeuda.” Kata Joon Hee melihat ke arah etalase yang menampilkan berbagai perhiasan yang terbuat dari perak.

“Kau menyukai kalung yang itu?” Tunjuk Seok Jin pada kalung yang liontinnya berupa huruf kanji.

Nde.” Jawab Joon Hee singkat.

“Memang apa artinya?” Tanya Seok Jin.

“Pokoknya artinya bagus, sunbae.” Kata Joon Hee masih mengamati kalung itu.

“Kau benar-benar mengerti tulisan itu?” Joon Hee mengangguk-anggukkan kepalanya mantap. “Apa kalung dengan liontin berbentuk mahkota itu juga bagus?” Tanya Seok Jin.

Nde.” Komentar Joon Hee.

“Mana yang lebih bagus?” Tanya Seok Jin.

“Keduanya bagus. Kalung dengan liontin huruf kanji itu terlihat unik, sementara kalung berliontinkan mahkota itu terlihat berkelas.” Joon Hee melirik jam tangannya sekilas dan itu berhasil membuat matanya melebar. “Sunbae, kita harus pulang.” Ajak Joon Hee.

Arraseo.” Jawab Seok Jin. Ia melihat Joon Hee yang mulai melangkah menjauhinya. “Tolong, bungkus dua kalung ini dengan cepat.” Kata Seok Jin kepada seorang pelayan toko setelah memastikan Joon Hee cukup jauh darinya.

 

To be continued…

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Flow (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s