[EXOFFI FREELANCE] Delusional 2

Delusional 2.jpg

Tittle/judul fanfict : Delusional 2

Author : aeri

Length : one shot

Genre : Romance, College life, Fluff, Sad

Rating : PG – 13

Main cast    : a) Park Chanyeol

  1. b) Han Sung Young

Additional Cast : Kang Seulgi, Oh Sehun, Kim Junmyeon

Disclaimer : Cerita ini adalah fiktif belaka kalau ada kesamaan karakter atau jalan cerita merupakan hal yang tidak sengaja. Cerita ini benar-benar murni dari pemikiran penulis yang terinspirasi dari kejadian di sekitar.

*Author’s note : Cerita ini adalah sequel dari Delusional (yang belum pernah baca silahkan lihat link ini). Sequel ini dibuat setelah Delusional diupload dan ada beberapa readers yang request untuk membuat sequel. Setelah dibaca-baca lagi kasihan juga Han Sung Young yang ditinggal patah hati sendiri begitu saja (yang belum tahu Han Sung Young patah hati kenapa cepet baca Delusional ya :p). Akhirnya author memutuskan untuk membuat sequel dari Delusional. Dan ini Delusional 2, semoga para readers yang baru membaca suka dengan ceritanya. Untuk readers yang dulu sudah baca Delusional, cerita ini spesial untuk kalian, semoga kalian suka (lagi)

Happy reading …

 

Φ

 

Senja itu, aku tunggu gelap datang di perpustakaan, menatap kosong ke jendela bening besar di depanku yang sekarang penuh semburat jingga. Dari sini aku dapat melihat Chanyeol sedang duduk di bangku taman.

Kurang lebih sudah satu bulan ini aku berusaha untuk tidak kontak langsung dengan Chanyeol. Susah, tentu saja, karena kami seangkatan, jadi bagaimana pun kami pasti bertemu setiap hari. Hanya jarak pandang saja, selama mataku tidak melihat mukanya dengan jelas, semuanya masih aman. Dan masih berhasil sampai detik ini. Beruntungnya tidak ada mata kuliah yang mengharuskan kita bertemu dalam satu kelompok.

 

Tidak, tidak, ini sama sekali bukan karena aku marah pada Chanyeol kemudian aku menghindarinya, bukan, bukan, bukan seperti itu. Chanyeol sudah punya kekasih memang membuatku kecewa, kecewa pada diriku sendiri, tapi aku tidak menyalahkan Chanyeol. Wajar sekali kalau dia punya pacar. Yang tidak wajar adalah perasaanku, bagaimana perasaanku mengartikan setiap tingkahnya. Aku mengartikannya seenakku sendiri. Aku menyukainya. Semua yang dia yang lakukan padaku mungkin menurut orang lain adalah hal yang biasa, tapi di mataku semuanya terasa istimewa. Bagaimana cara dia memanggil namaku, bagaimana cara dia menatapku ketika kita sedang berbicara, bagaimana dia juga canggung ketika kita berdua, bagaimana cara dia tersenyum padaku, bagaimana… semuanya, semua terasa istimewa menurutku. Yah, hanya karena aku menyukainya sehingga aku mengartikan semuanya lebih.

Lalu apa salahnya kalau dia sekarang punya kekasih? Dia bukan kekasihku kan? Dia tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya juga kan? Dia juga tidak pernah berkata menyukaiku kan?

Lalu kenapa aku menghindarinya? Ini hanyalah masalahku dan perasaanku saja. Aku hanya belum siap untuk melihat wajah Chanyeol dari jarak pandang yang jelas dari mataku, sama sekali belum siap. Aku tidak ingin jatuh lebih dalam lagi, lebih menyukainya lagi setelah melihat wajahnya, senyumnya.

 

Aku ingin berhenti di tempat sejenak. Ingin memikirkan ke mana seharusnya aku harus melangkah.

Harus mundur saja atau masih melangkah maju?

Mundur? Aku merasa sangat berdosa menyukai Chanyeol yang sudah punya kekasih.

Maju… aku juga sangat menyukainya, terlalu kuat untuk menyerah begitu saja. Menunggu dia yang terus berjalan, berjalan bergandengan dengan perempuan beruntung itu. Menunggu gandengan itu terlepas? Sampai kapan? Entahlah.

 

Rupanya cukup lama aku melamun, sampai Chanyeol sudah tidak terlihat lagi di taman, entah ke mana. Aku mengemasi barangku, ini sudah terlalu sore untuk aku duduk di perpustakaan. Aku duduk malas di halte, rasanya masih enggan pulang ke rumah.

 

“Baru mau pulang?” Tuhan, aku sangat mengenal suara ini, tanpa perlu aku menoleh ke arahnya aku sudah tahu ini suara siapa. Aku mencoba menunjukkan ekspresi sewajar mungkin.

“Iya.” Cukup kata ‘iya’ yang mampu kuucapkan. Kita sama-sama diam dalam beberapa saat. Aku memperhatikannya sedikit, Chanyeol sudah berganti pakaian.

 

Gaja!” Chanyeol menarik tanganku, mengajakku masuk ke bis yang entah ke arah mana, yang jelas bukan ke arah rumahku. Aku berusaha melepaskan tangan Chanyeol, tapi percuma, pegangan dia terlalu keras.

Eodi-ga??

Geunyang…. ttarawa.

Eodi-sso???” Dia memaksaku duduk di sebelah jendela. Hasss, tau saja dia kalau aku akan kabur. Tidak menjawab pertanyaanku, Chanyeol hanya senyum-senyum sendiri. Runtuh sundah tembok pertahananku. Maafkan aku, gadis beruntung yang entah siapa, aku tidak bisa menghindarinya kali ini.

 

Di perjalanan, kami hanya diam, tidak berbicara sepatah katapun. Aku sedang sibuk membangun tembok yang baru runtuh ini dan dia entah memikirkan apa. Kemudian dia …

“Aneh, rasanya seperti sudah lama aku tidak melihatmu, bogo sip-eo.” Chanyeol-ah apa lagi ini. Aku hanya meliriknya sekilas, kemudian menatap lurus ke jendela. Aku membuang nafas panjang. Sudah peduli amat dengan membangun tembok jika Chanyeol berkata seperti ini. Tapi aku tidak menjawab apa-apa, aku hanya mampu membatin ‘aku juga merindukanmu’.

 

Michyeoss-eo?

Wae??

“Ini konser siapa? Dan aku … pakaianku … terlalu formal untuk konser?!” Tak menjawab, kemudian Chanyeol mengambil sweater dari dalam tasnya dan memakaikan padaku.

“Selesai.” Sambil tersenyum lebar tanpa dosa. “Gaja!” Kembali Chanyeol menarik tanganku.

 

“Ini band favoritku.”

Oh?

“Band favoritku. Wae? Kau sudah aku temani datang ke konser band favoritmu, sebagai gantinya kau harus menemaniku sekarang.” Chanyeol tersenyum penuh kemenangan dan aku hanya menatapnya pasrah.

 

Sejujurnya aku sangat menikmati konser ini, bukan karena menontonnya dengan Chanyeol loh ya (ya faktor itu juga sih, dikit), tapi aku juga suka dengan band dengan genre seperti ini. Melihat Chanyeol yang begitu menikmati musik dari band ini, membuatku semakin suka dengan band ini.

Eotteohge? Joh-a?

Jogeum.” Aku menunjuk jarak tipis antara jempol dan telunjukku, padahal dalam hati aku teriak ‘manh-i manh-i manh-i joh-ae’.

“Hasssss…” Dia sebal, Chanyeol mengacak-acak rambutku.

 

Φ

 

Chanyeol memintaku menemaninya ke toko musik untuk membeli CD sore ini, sambil aku akan mengembalikan sweaternya. Kita janji bertemu di halte antara rumahku dan rumahnya. Satu jam sudah aku menunggu di sini, Chanyeol belum datang juga. Mulai mendung. Apa dia lupa ya? Aku mencoba mengirim pesan padanya. Sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, satu jam kemudian, belum ada balasan dari Chanyeol dan sudah hujan deras. Aku ingin memilih pulang, tapi aku tidak membawa payung. Jadi tunggu saja sampai hujan reda, siapa tau juga Chanyeol juga akan datang.

Sepertinya Chanyeol tidak datang, tapi aku masih berharap dia datang, entah lima belas menit lagi, dua puluh menit lagi, satu jam lagi, tiga jam lagi, aku hanya berharap Chanyeol akan datang.

 

Dua jam kemudian hujan sudah cukup reda dan Chanyeol belum datang, akhirnya aku berlari kecil pulang ke rumah, sebelum hujan deras datang lagi. Tapi sialnya sampai di tengah jalan hujan deras lagi. Aku pulang dengan basah kuyup.

 

Hujan semalam membuat kepala sedikit pusing jadi aku tidur lebih cepat. Untungnya tidak ada kelas pagi ini. Aku mengecek handphone dan …

 

15 missed call dari Chanyeol.

Dan 5 pesan masuk dari Chanyeol.

 

[ From : Chanyeol ]                    10:12 pm

Sung Young-ah, maafkan aku. Aku benar-benar lupa sudah membuat janji denganmu. Dan handphoneku seharian tadi mati. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku.

 

[ From : Chanyeol ]                    10:47 pm

Sung Young-ah, kau belum tidur kan? Aku sudah di depan rumahmu, keluarlah sebentar. Aku benar-benar minta maaf, kumohon.

 

Dan dengan bodohnya, aku langsung berlari ke arah jendela melihat keluar, melihat apa Chanyeol masih ada di sana atau tidak. Padahal aku sudah melihat pukul berapa Chanyeol mengirimkan pesannya. Bodohnya lagi, aku kecewa melihat Chanyeol tidak ada di sana. Ini sudah jam 8 pagi, bagaimana mungkin aku masih berpikir Chanyeol masih menunggu di depan pagar dari tadi malam. Aku duduk kembali, lanjut membaca pesan dari Chanyeol.

 

[ From : Chanyeol ]                    11:15 pm

Sung Young-ah, kenapa kau tidak keluar? Kau sudah tidur? Tidak sedang marah padaku kan?

 

[ From : Chanyeol ]                    11:33 pm

Sung Young-ah, kau benar-benar sudah tidur ya? Baiklah. Maafkan aku. Aku benar-benar lupa. Maaf …

 

[ From : Chanyeol ]                    11:47 pm

Aku benar-benar minta maaf, Sung Young-ah. Aku pulang dulu.Jal-ja …

 

Chanyeol-ah, aku sudah memaafkanmu, sekarang justru aku yang merasa bersalah padamu. Mian.

 

Φ

 

“Ke mana saja kau semalam? Tidak bisa dihubungi sama sekali, oh?” Junmyeon menegur Chanyeol yang sedang duduk dengan Sehun.

Mian, handphoneku mati seharian.”

“Dia sengaja mematikannya.” Sahut Sehun.

Mwo?

Mwoya? Mueos-eun soriya?” Chanyeol melirik sinis pada Sehun.

“Iya, dia kemarin sedang kencan, jadi sengaja mematikan handphonenya.”

“Uwooo… mwoya-ige??” Junmyeon tertawa bersama Sehun.

 

Sudah kuambil keputusan ke mana kakiku akan melangkah. Lalu …

“Sung Young-ah!” Chanyeol memanggilku. Kekuatan dari mana aku juga tidak tahu, yang jelas aku tetap berjalan seperti tidak mendengar Chanyeol memanggilku dan masih mencoba mencerna apa yang aku dengar barusan.

 

“Sung Young-ah! Sung Young! Sung Young-ah! Han Sung Young!” Chanyeol berlari, kemudian dia meraih tanganku.

Oh? Mwo?” Aku berbalik.

“Aku memanggilmu daritadi. Sebentar…. biarkan aku menarik nafas dulu … sebentar …“ Aku hanya melihatnya yang sedang menunduk, berpegang pada lutut, mengatur nafas. “Aku kemarin benar-benar lupa. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku, oh? Hari ini kamu bisa menemaniku kan?”

Mian, tapi hari ini aku tidak bisa.”

Wae-yo? Kau marah padaku?”

“Ah, ani, aku hanya benar-benar tidak bisa hari ini.”

Wae?”

“Aku harus mengerjakan tugas dengan Seulgi. Mian.

Geure, aku akan tunggu.”

Mwo?” Chanyeol pergi begitu saja.

 

Φ

 

“Sung Young-ah!”

Kkamjjagya! Wae yeogie?”

“Menunggumu selesai. Ayo temani aku!”

“Kau menungguku di sini daritadi?”
Oh, gaja!” Aku hanya bisa pasrah melihat punggung dan tangan Chanyeol yang sudah menarik tanganku.

 

Lagi-lagi kami hanya saling diam di bis. Beruntung dia selalu menyuruhku duduk dekat dengan kaca, sehingga aku tidak perlu binggung harus melihat ke mana untuk mengalihkan kecanggungan ini.

 

“Sung Young-ah…  mianh-ae..

Oh?

Mianh-ae…

Oh. Ar-aso, gwaenchanh-a.. Aku juga minta ma ….”

Mianh-ae, Sung Young-ah…

Mwo?

Mian…”

“Soal kemarin kan? Gwaenchanh-a. Kau sudah minta maaf berapa kali, oh?” Aku tersenyum dan menyenggol bahunya, memastikan padanya kalau aku benar-benar sudah memaafkannya.

 

Chanyeol diam sesaat.

Ani, ini soal … “

Mwoya??

Mianh-ae…

“… “ Aku menunggu Chanyeol meneruskan kata-katanya.

 

Mianh-ae… kau pasti sudah tau ini.”

Mwo? Tau apa?”

“Hajiman… mianh-ae, Sung Young-ah..”

Mianh-ae mwo?? Mueos-eun soriya?”

 

Mian.. aku sudah memilik kekasih.”

 

Oh?” Aku diam sejenak menatap matanya yang tertunduk.

Sejak kapan aku tidak tahu, pipiku sudah basah.

 

Aku menggigit bibirku yang gemetar. Sudut mataku benar-benar sudah sangat basah.

 

“A.. ar-a…. ar-a..” Suaraku tiba-tiba serak.

 

“Al.. algoiss-eo…” Pita suaraku seperti tercekat.

 

Aku sudah tahu, hanya …. hanya biarkan aku tetap menyukaimu. Ini bukan tentang aku dan kamu, tapi ini tentang aku dan perasaanku sendiri. Biarkan saja aku tetap menyukaimu. Maaf bila aku menyukaimu. Maaf… hanya biarkan aku delusional sendiri.

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Delusional 2”

    1. Maaf ya udah bikin Chanyeol jadi tukang php level aku di sini hehe
      Makasih yaa, ditunggu komennya lagi di cerita yg lain

    1. Mungkin saran backsound yg lain itu ‘river flows in you’, yg di cover chanyeol di sugarman kemarin, buat makin nyess hehehe ✌

  1. Author yang ending kemaren aja udah bikin nyesek kenapa sekarang malah makin nyesekk??? Chanyeol kenapa sih kalo emang udah punya pacar kenapa masih ngedeketin cewek yang suka sama dya??? merasa menyesal?? kalo gitu caranya chayeol malah bikin sung yeong makin terluka malah bikin makin baper, delusi dan sejuta perasaan lainnya… akh eonni chanyeol jahat banget kezel aku kezel kezel… #murka oke kutunggu sequel selanjutnya yoo keep writing eonni 😉

    1. Haha mianhae.. chanyeol ini emang php tak berujung kok, dasar!!
      Sequel delusional berhenti sampai di sini aja ya, takut bikin makin kesel sama chanyeol hehe
      Kalau cerita yg lainnya ditunggu yaa, makasih ya sudah baca 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s