[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 6)

Who Are You

Tittle :  Who Are You?

Author : BabyJae96

Genre : Romance, Time-Machine, Fantasy

Lenght  : Chapter

PG-15

Cast :

Xiumin a.k.a Kim Minseok

Jin (Lovelyz) a.k.a Park MyungEun

Dll

 

Disclaimer :

FF ini terinspirasi dari film ‘Secret’ sama MV Jin ‘Gone’ tapi alur ceritanya malah beda jauh sama filmnya  dan ini murni hasil khayalanku!

-Seoul.2013-

Tn. Kim mencoba mengejar Minseok yang sudah berada di luar gedung, beliau ingin menjelaskan semuanya pada putranya itu tapi Minseok terlihat enggan untuk berhenti berlari ataupun menoleh melihat Ayahnya yang mengejar dirinya dibelakang saja, rasa kecewa dalam dirinya benar-benar sudah besar. Ia tau sejak awal banyak kebohongan yang Ayahnya katakan tapi yang tak bisa ia terima adalah, mengapa Ayahnya menyembunyikan semua tentang Ibunya dan lagi, wanita bernama Myung Eun itu.. Siapakah dia? Minseok tak mau berpikir apa-apa lagi.

Dibelakang Tn,Kim, Myung eun juga ikut berlari mengejar mereka “Ahjussi!!” Panggilnya. Tn Kim menoleh kebelakang melihat Myung eun berhenti tak jauh dibelakangnya, “Ada yang ingin aku tanyakan” Ucap Myungeun.

 

Walau terdengar tak masuk akal tapi Tn.Kim mencoba percaya dengan apa yang dikatakan Myungeun bahwa ia melakukan perjalanan waktu dari tahunnya di 2003 ke 2013. Tn Kim sendiri yang mengantarkan jenazah Myungeun untuk di kremasi 10 tahun yang lalu dan masih teringat jelas wajah Myungeun yang sudah tak bernyawa saat itu, Myungeun memang sudah meninggal 10 tahun lalu tapi orang yang dihadapannya ini memang Myungeun, gadis yang dikenalnya 10 tahun lalu yang masih hidup karna hari kecelakaan itu belum terjadi.

“Mengapa Ahjussi menyembunyikan tentang Ibu Minseok?”

Tn. Kim menjelaskan semuanya bahwa alasannya menyembunyikan tentang kematian Ibu Minseok yaitu ia tak ingin putranya hidup dalam penyesalan dan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang yang ia cintai. Ketika Ibu Minseok meninggal saat kebakaran dirumahnya, dimana Ibu Minseok memeluk Minseok yang masih berusia dua tahun saat itu agar tak terkena api ataupun asap namun itu malah membuatnya kehilangan nyawanya sedangkan Minseok berhasil selamat, jika Minseok mengetahui itu pasti akan menyakitkan jadi Tn.Kim sengaja menyembunyikannya dengan berkata bahwa Ibu Minseok meninggal karna penyakit.

“Lalu, mengapa Ahjussi menyembunyikanku juga darinya?”

 

 

Minseok berdiam diri didalam kamarnya semenjak kejadian tadi pagi, ia sudah mendengar semuanya dari Ayahnya tentang Ibunya dan juga Myungeun. Awalnya Minseok tak mempercayai itu, bagaimana bisa seseorang yang berasal dari masa lalu bisa datang kemasa sekarang. Mungkinkah itu? Tapi setelah ia pikir lagi selama beberapa jam ini, itu bisa jadi melihat Myungeun yang memang aneh sejak awal, ia berada di sekolah tetapi selama jam istirahat atau saat seluruh murid berkumpul diaula sekolah ia tak pernah bertemu dengan Myungeun selain digudang itu, saat ia bertemu dengan Myungeun ditoko itu  dan terakhir nada piano itu.. Benar,  mungkin saja gadis itu memang dari masa lalunya yang tak bisa ia ingat sama sekali. Minseok bangkit dari atas ranjang yang sudah ia duduki berjam-jam itu, ia mengambil jaket dalam lemarinya dan bergegas keluar dari dalam kamarnya.

“Apa kau akan pergi?” Tanya Lee Ahjumma saat Minseok turun dari tangga dirumahnya, Minseok menoleh pada Lee Ahjumma yang berada di dapur “Aku mau keluar sebentar”

“Tapi,, Ayahmu…”

“Ahjumma, tak usah beritahu ini pada Ayah” Sela Minseok “Aku pergi dulu” ia segera membuka pintu rumah dan segera pergi dari sana, ada satu hal yang ingin ia tanyakan langsung pada Myungeun. Mungkin itu akan mengurangi rasa penasarannya.

 

Myungeun duduk membelakangi rak-rak tempat penyimpanan abu jenazah disana, sejak tadi pagi hingga sore ini ia masih berdiam disana memandang abu dirinya dan menyapa Ibu Minseok. Myungeun juga bercerita tentang dirinya pada Ibu Minseok dan ia juga menceritakan tentang Minseok saat kecil dulu. Tn,Kim mengajaknya kerumah tapi Myungeun menolak karna ia tak ingin membuat Minseok semakin marah dengan melihatnya, ia merasa lebih nyaman berada disini sembari menunggu waktunya untuk kembali kesekolah dan memainkan piano itu lalu kembali kemasanya, masih ada waktu sehari lagi sebelum tiga harinya disini berakhir hanya saja untuk saat ini ia masih ingin berada disini.

“Kau masih disini? Tidak pulang?” Suara itu membuat Myungeun mendongkakan kepalanya melihat orang yang bertanya padanya itu, itu Minseok. Myungeun mengeluarkan ekpresi datar karna bingung harus mengeluarkan ekspresi apa disaat seperti ini “Hemm, aku akan kembali nanti sebentar lagi”

Minseok ikut duduk disamping Myungeun dan membuka jaket yang dikenakannya lalu memberikannya untuk menutupi rok sekolah yang dikenakan Myungeun. Lagi, perlakuan Minseok itu membuat jantung Myungeun berdetak kencang yang membuatnya langsung menundukan kepalanya, ia harus menjaga perasaannya.

“Kau sudah menyapa Ibuku?”

“Ya, menyapaku juga” Myungeun tersenyum tipis ketika mengucapkan itu, ia sendiri tak percaya akan menyapa abu dirinya dimasa depan. “ Pasti ada yang ingin kau tanyakan,kan?”

“Banyak” Balas Minseok “Tapi aku bingung apa aku harus bertanya atau tidak?”

“Tanyakan saja”

“Mengapa mengapa kau bisa ke sini? Mengapa kau tidak mengatakan semuanya padaku dari awal? Dan, mengapa kau saat itu terluka?”

Myungeun tersenyum tipis mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Minseok, entahlah hanya saja suara Minseok terdengar lucu baginya. Tak seperti yang ada dipikirannya, ia kira Minseok akan marah dan membencinya tapi sepertinya tidak. Myungeun mulai menjawab tentang bagaimana ia bisa kemari saat itu Ayahnya mabuk lagi dan karna takut ia pergi dari rumahnya lalu mendatangi gudang sekolah, tempat favoritnya dimana disana ia hanya sendiri dan dapat bermain piano, tak sengaja ia bertemu dengan Guru Park disana lalu Guru Park mulai menceritakan rahasia piano tua itu yang bisa membawanya kemasa depan. Awalnya ia tak percaya tapi ternyata itu benar terjadi dan setiap Myungeun ada masalah pasti ia akan pergi masa depan. Myungeun tidak tertarik mencari tau keberadaan dirinya dimasa depan begitupun dengan Minseok karna ia tak mau mengubah apa yang terjadi disana tapi ternyata ia malah bertemu dengan Minseok yang awalnya memang tak ia kenal. “Lalu.. alasan aku terluka adalah Ayahku” Myungeun berhenti sejenak “Dia mabuk berat saat itu dan memarahi ku karna aku penyebab Ibuku meninggal lalu dia memukulku jadi aku kabur darinya”

“Ibumu meninggal karnamu?” Myungeun mengganguk menjawab pertanyaan Minseok “Ibuku meninggal saat aku memaksanya datang kesekolah, aku menyesali itu dan aku merasa bersalah karna aku masih hidup, mungkin memang lebih baik aku tidak mengetahui itu” Myungeun melirik kearah Minseok “Ayahmu,.. Tidak sepenuhnya salah, dia hanya tak ingin kau hidup dengan penyesalan dan rasa bersalah yang perlahan akan membuatnya seperti mayat hidup seperti aku”

“Kau berpikir seperti itu?”

“Hemm, tapi itu terserahmu akan berpikir seperti apa”

Minseok hanya mengganguk lalu menyenderkan punggungnya, semua pertanyaanya sudah terjawab hanya saja ia merasa jika saja ingatanya pulih dan dapat mengingat Myungeun mungkin itu akan lebih baik. Minseok melirik Myungeun disampingnya dan tersenyum, ia harap gadis disampingnya ini tak akan pergi darinya lagi.

 

Myungeun menatap sekitarnya dengan mata berbinar-binar, ini pertama kalinya sejak sekian lama ia kembali kerumah ini, rumah hangat yang slalu ia rindukan setelah meninggalkan rumah ini. Minseok mengajak Myungeun kerumahnya karna ini sudah malam dan Myungeun tak memiliki orang yang dikenalnya, ini lebih baik daripada kembali kemasanya lagipula ia masih memiliki waktu sehari lagi dan ia ingin menghabiskan itu bersama orang-orang yang pasti akan ia rindukan termasuk Minseok.

“Siapa dia?” Bisik Lee Ahjumma saat Minseok memasuki dapur untuk mengambil minum “Pacarmu?”

“Tidak…” Elak Minseok “Dia Hanya, Teman. Tidak dia Noona”Minseok ingat usia Myungeun yang lebih tua dari nya mungkin akan membuat Myungeun tak nyaman jika menyebut ia memanggil namanya langsung. “Begitukah, dia akan menginap disini?”

“Ya, Abeoji juga mengenalnya”

“Kalau begitu ajak dia makan malam”

Minseok berjalan mendekati Myungeun yang tengah melihat-lihat deretan foto-foto yang berada di dinding, foto-foto itu saat Minseok kecil dan saat kelulusannya. “Ah, Noona…” Myungeun menoleh kebelakang.

“Noona?”

“Ah, karna kau lebih tua dariku dan bukankah dulu aku memanggilmu Noona?” Minseok menggaruk-garuk lehernya yang sebenarnya tak gatal, ia benar-benar bingung sekarang “Aku rasa itu akan membuatmu nyaman”

 

Hanya Minseok dan Myungeun yang berada di meja makan menikmati makan malam mereka, Lee Ahjumma sudah pulang karna ini sudah malam dan Tn.Kim masih harus menyelesaikan pekerjaannya, mungkin akan pulang tengah malam nanti atau besok. Keheningan ataupun kecanggungan sudah tidak ada lagi, Myungeun bercerita ditengah-tengah makan malam mereka tentang Minseok saat kecil mulai dari kebiasaanya, makanan kesukaannya dan hal-hal yang Minseok tidak suka. Minseok sendiri tidak sadar dengan hal-hal itu karna ia memang tak mengingatnya terutama tentang Myungeun. Duduk berhadapan seperti ini membuat Minseok senang, ia memiliki seseorang yang bisa diajak bicara saat makan biasanya ia slalu sendiri. Menyenangkan dan ia tak mau ini segera berakhir, bagaimana jika Myungeun pergi lagi? Saat Myungeun pergi beberapa hari saja pikirannya sudah kacau dan terus memikirkan gadis itu bahkan saat Myungeun keluar dari ruangannya di rumah sakit, ia mencari gadis itu seperti orang gila ke seluruh sudut rumah sakit. Tapi, bagaimana jika dia pergi selamanya? Apakah ia bisa hidup seperti semula?

 

Myungeun sudah berganti dengan pakaian milik Minseok, baju lengan panjang dan juga celana panjang yang kebesaran di badannya. Ia duduk di bangku depan piano kayu diruangan itu, piano yang beberapa tahun lalu sering ia mainkan bersama Minseok. Kenangan itu kembali menghampiri dirinya, kenangan indah yang tak ingin ia lupakan selamanya.

“kau bisa tidur dikamar itu, aku sudah menyiapkannya…Ah, tidak. Noona ”

Myungeun membalikan kepalanya, ia tersenyum pada Minseok yang sepertinya masih belum terbiasanya memanggilnya Noona, “Panggil saja aku sesukamu, aku tak masalah”

“Arraseo” Minseok mengangguk saja lalu mendukan kepalanya, ia bingung harus berbicara apa lagi seperti ini jadi ia putuskan untuk kembali kekamarnya saja tapi saat ujung matanya tak sengaja melihat Myungeun duduk di depan piano itu. Sekelebat ingatannya muncul, ia melihat Myungeun dan dirinya duduk di bangku itu lalu memainkan piano.. ingatan itu memang sering muncul tapi kali ini ia bisa melihat wajah Myungeun dengan jelas beda dengan sebelumnya. Rasa sakit dikepalanya semakin menusuknya, pandangannya pun tak jelas, ia segera mempererat pegangannya di pegangan tangga itu menundukan kepalanya dan menyembunyikan sakitnya ini dari Myungeun disana, ia tak mau dia melihat ini.. Ingatan-ingatan masa lalu satu persatu muncul begitu saja seperti puzzle yang mulai tersusun.

Minseok menegakan kepalanya sembari mengatur nafasnya, beberapa ingatannya muncul begitu saja. Ia ingat saat pertama kali Myungeun datang kerumahnya, memasak makanan untuknya dan Ayahnya, mengajarinya bermain piano, saat ia memberi kalung itu pada Myungeun dan janji itu. Ya, ia salah mengira itu adalah ibunya padahal orang yang mengajarinya piano adalah Myungeun.

 

Minseok langsung membalikan badannya berjalan mendekati Myungeun yang masih duduk disana dan ia langsung duduk dibangku itu berdampingan dengan Myungeun. Myungeun hanya menatap bingung Minseok yang tiba-tiba duduk disampingnya, ia juga melihat wajah Minseok yang berubah pucat dengan keringat dikeningnya “Mengapa? Kau sakit” Tanyanya khawatir.

Minseok menggeleng lalu menoleh pada Myungeun “Bisakah kau tidak pergi dari sini? Bukankah kau bilang, jika kau tidak kembali kau bisa tinggal disini selamanya, jadi bisakah kau tidak pergi?” Myungeun menggeleng lemah menjawab pertanyaan Minseok, ia sebenarnya ingin tinggal disini tapi.. “Aku harus pergi, kau juga tau kan. Aku sudah meninggal disini”

“Siapa yang peduli, kau bisa mengubahnya kan?”

“Tetap saja, aku harus pergi!” Myungeun sedikit menaikan nadanya “Aku tidak bisa mengubah takdir”

“Tapi, Aku bagaimana? Kau akan meninggalkan aku begitu saja?”

“Minseok—ah, Mianhae. Aku tak punya pilihan lain”

“Lalu, kau akan membiarkanku tidak menepati janjiku”

“Janji?”

“Untuk melindungimu selamanya, aku ingat itu”

Myungeun hanya diam mendengar itu, ia ingat saat Minseok kecil mengatakan itu padanya “Tapi..”

“Aku menyukaimu”

Deg…Deg..Degg.. Myungeun tak bisa mengatur jantungnya sendiri ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Minseok terlebih sekarang Minseok menatapnya dalam membuatnya semakin sulit mengendalikan perasaanya saat ini, ini benar-benar membuatnya sakit.. Mengapa takdir begitu menyakitkan? Myungeun menunduk dan anehnya perlahan air matanya malah keluar, ini begitu sulit untuknya ia harus pergi tapi ia ingin tetap berada disini bersama Minseok “Aku… Mianhae, mianhae” ia menegakan kepalanya menatap Minseok balik dengan air mata yang masih jatuh “Minseok-aa, Mianhae”

Minseok tak menjawab dan masih berekspresi sama, ia juga bingung harus berbuat apa sekarang, hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah menyatakan semua perasaannya dan mencegahnya agar dia tidak pergi “Aku mulai tertarik padamu saat aku mendengar permainan pianomu dan mengajakku ke toko itu, aku menyadari itu semua saat kau mengatakan selamat tinggal padaku, aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku tapi inilah yang ingin kukatakan padamu selama ini” Myungeun diam mendengar itu semua, jantuggnya terasa terhenti. Ini benar-benar menyakitkan.Tatapan Minseok padanya semakin dalam dan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Myungeun hingga wajah keduanya semakin dekat dan dekat, Myungeun bisa melihat air mata yang juga keluar dari mata Minseok lalu… Minseok mengecup pelan bibir Myungeun mengungkapkan perasaanya selama ini.

 

 

 

 

 

 

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 6)”

  1. Hwaaaa sedih 😥
    Myung eun gx usah balik lg k dnianya, dsini aja sama minseok.. kan ksian minseok oppanya

    Next kakk dtunggu klanjutanya 🙂
    Fighting!!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s