[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Reminiscent of Another Flesh

PicsArt_05-21-06.15.43

[SUHO BIRTHDAY PROJECT]

Reminiscent of Another Flesh

Author Noranitas Cast EXO’s Suho Genre Fantasy Family AU Sad Length Oneshot Rating PG-15 Disclaimer Plot 100% pure from my brain

 

Summary

Suho yang merayakan ulang tahun dua kali dalam setahun.

***

 

Suho mencoba menutup matanya lebih keras. Denting jarum jam yang berada di luar kamar terasa begitu nyaring di pendengarannya. Jendela kamar sudah ditutup rapat pun lampu kamar yang sudah dimatikan tetap saja tidak membantu banyak.

Suho tidak bisa tidur malam ini.

Kini ia membiarkan kedua kelopaknya membuka. Merogoh sisi kiri badannya dan menemukan benda persegi panjang yang sedari tadi ia cari. Pukul sebelas malam. Satu jam lagi menuju tanggal dua puluh dua mei. Hari yang paling ditakuti oleh seorang Kim Suho sekaligus hari ulang tahunnya.

Detik menuju pukul dua belas terasa begitu cepat. Kedua irisnya terfokus pada telepon pintar yang menyala. Keringat dingin menuruni pelipisnya secara beraturan. Bukan, pendingin udara di kamar tidur Suho berfungsi dengan baik sejak pertama kali dipasang. Suhu dua puluh tujuh derajat sudah di sunting permanen namun masih kalah dengan rasa takut seorang Suho saat ini. Kini badannya pun sudah bersimbah keringat.

Lima belas menit menuju tengah malam.

Suho semakin takut.

Pemuda Kim yang satu ini memang berbeda dari kebanyakan orang. Jika orang lain selalu menunggu-nunggu hari kelahirannya dengan penuh suka cita, lantas menghabiskan hari spesial tersebut bersama orang terkasih, Suho justru sebaliknya.

Ia berharap Tuhan bisa menghapus tanggal 22 mei di setiap kalender yang ada di muka bumi.

Lima menit sebelum jam dua belas malam.

Suho tak sanggup lagi. Dengan sekuat tenaga ia menutup matanya. Tangannya menggenggam selimut dengan erat. Pasrah.

Pukul sebelas lewat lima puluh sembilan menit.

Angin berhembus menerpa kulit. Terdengar kicauan, entahlah jenis burung apa Suho tak pernah peduli. Ia hanya takut untuk membuka mata. Meskipun angin sepoi sekuat tenaga mendorong netranya untuk membuka, lagi… Suho takut.

Takut dengan seseorang yang akan menyambut kedatangannya nanti.

“Hei Suho.”

Suara itu! Walaupun matanya masih ditutup, Suho tahu bahwa orang tersebut berada tepat di hadapannya.

“Apa kau tidak senang bertemu denganku? Aku malah sebaliknya, bro. Aku menunggu kehadiranmu!” dari nada suaranya tergambar suasana hatinya yang penuh dengan semangat.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu. Berhentilah mengganggu hidupku, Junmyeon.”

Junmyeon –orang yang menyambut kedatangan Suho- tertawa kencang. Masih ada sisi inosen dalam suaranya. Begitupun nada suara Suho lima belas tahun yang lalu.

“Sementang kau hidup lebih lama dibandingkan denganku, lalu kini dengan tidak sopannya kau tidak menatap mataku balik? Kau sungguh keterlaluan, Suho-ya.” cuapnya panjang lebar.

Bukannya tidak sopan, Suho berdalih dalam hati. Ia hanya takut dan juga tidak tega melihat sosok Junmyeon yang berada di hadapannya. Suho takut ia akan menangis kencang layaknya ia menangisi Junmyeon lima belas tahun silam.

Tangan kecil itu meraba wajah Suho lembut. Kontras dengan lagak Suho yang menegang sedari tadi. Bulu kuduknya berdiri. Tangan kecil itu seolah mengindahkan reaksi alamiah dari tubuh Suho terhadap sentuhannya. Jari telunjuknya perlahan merajut langkah menuju kelopak mata, membukanya perlahan. Mengabaikan usaha dari Suho yang mati-matian menutup matanya kembali.

“Selamat ulang tahun, kembaranku!” Junmyeon bersua tepat di saat ia menurunkan jarinya dari wajah Suho. Junmyeon tersenyum riang menyambut Suho yang kini ketakutan luar biasa.

Suho tak lagi berada di kamar tidur berpendingin udara. Kamar yang gelap digantikan dengan kamar yang bermandikan cahaya. Ada tenda kecil di ujung ruangan, ring basket di sisi lain dan dua tempat tidur single dengan dua papan nama tercantum di bedside masing-masing.

Kim Suho dan Kim Junmyeon.

Suho tentu familiar dengan tempat ini. Tempat yang sudah direnovasi tepat di umurnya yang ke enam belas, yang selanjutnya menjadi kamar minimalis yang ia tiduri hingga beberapa menit yang lalu. Ruangan yang selalu ia ingat dalam relungnya.

Kamarnya dan Junmyeon.

“Selamat ulang tahun, kataku!” Suho terperangah setelah si empunya suara kini malah berdiri hanya berjarak lima senti dari tubuhnya.

“Maaf. Tapi selamat ulang tahun yang ke dua puluh lima, Suho-ya,” ia berhenti sebentar untuk mendengus, “aku iri padamu.”

Suho tidak membalas kalimat Junmyeon. Yang ia takutkan sedari tadi akhirnya terjadi; ia melihat rupa Junmyeon sekarang.

Junmyeon tidak berubah sama sekali. Masih terperangkap di dalam tubuh 150 sentinya. Dengan atasan berkerah juga celana pendek putih yang sudah berwarna merah pekat sebagian. Kepalanya masih terus-terusan mengeluarkan cairan merah berbau anyir. Suho ragu menatap wajahnya. Karena seingatnya, beling kaca mobil masih tertancap di mata kiri Junmyeon. Persis layaknya penampilan di saat terakhir sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Aku tidak akan lama ‘kok.”  Junmyeon memecah keheningan.

“Tahun ini adalah tahun terakhir aku bisa menemuimu, Suho-ya. Bedebah sekali si dewa tua itu. Ia hanya memberiku 15 kali pertemuan sebelum benar-benar mengirimku ke dunia sebelah. Padahal lima belas kali kurasa tak akan pernah cukup untuk bertemu denganmu.”

“Apa maksudmu?” Suho membuka mulut untuk pertama kalinya.

“Maksudku, kita tak akan bertemu lagi di hari ulang tahun kita ah maksudnya ulang tahunmu yang ke dua puluh enam. Dan kali ini aku hanya ingin minta maaf sekaligus berpamitan denganmu.” Suho terdiam mendengar tiap kata yang keluar dari mulut kembarannya tersebut.

“Maaf sudah membuatmu ketakutan di setiap hari ulang tahunmu, Suho-ya. Aku tahu kau tak pernah ingin melihat rupaku yang mengenaskan ini –salahkan supir bus jelek yang menabrakku dulu- dan membuatmu selalu berpikir bahwa 22 mei adalah mimpi buruk karena aku selalu mengajakmu kesini. Maafkan aku. Aku hanya merindukanmu, Suho-ya. Aku rindu waktu dimana kita bermain bersama sepulang sekolah dan hal kecil lainnya.” Suho menggigit bibir bawahnya sembari menelaah baik-baik ucapan Junmyeon.

“Maaf sudah membuat ulang tahunmu berubah menjadi nightmare. Maafkan aku.”

“Junmyeon­-ah….”

“Sial! Dewa tua itu sudah menungguku sejak tadi. Aku persingkat ya! Intinya maafkan sekali lagi karena aku telah meninggalkanmu lebih cepat. Ini semua bukan kehendakku tetapi maaf sudah membuatmu kesepian selama lima belas tahun ini, Suho-ya!”

Suho tak dapat lagi menahan bendungan air matanya. Beratus-ratus bulir air turun dari kedua netranya.

“ Jangan menangis! Kalau kau menangis, lebih baik kau susul aku ke dunia sebelah, pengecut. Sudahlah apa kau tidak malu menangis di hadapan bocah berumur sepuluh tahun?” ia tertawa renyah. Tangisan Suho malah bertambah nyaring.

“Sampai jumpa, Suho-ya.”

Dan gelap.

Semuanya gelap. Badan Suho terbaring di atas tempat tidur empuknya masih berselimutkan kain tebal. Sedikit cahaya masuk menerobos dari sedikit celah sempit kain gorden. Pendingin udara masih bekerja di suhu dua puluh tujuh derajat. Tak ada yang menyalakan lampu kamar. Semuanya masih pada tempatnya. Tidak ada satu benda pun beralih posisi sejak terakhir kali Suho membuka mata.

Sang pemuda Kim menghirup nafas panjang. Air mata yang membasahi pipinya tak kunjung reda. Bayangan terakhir tubuh 150 senti itu kembali terputar di otaknya. Bulir kristal semakin semangat jatuh dari kedua matanya.

.

.

“Selamat ulang tahun, Kim Junmyeon.”

.

END
 

 

a/n Happy birthday my favorite papa, Kim Suho aka Kim Junmyeon!

6 tanggapan untuk “[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Reminiscent of Another Flesh”

  1. HAI HELO ANYYEONG KAKNITCHUUU KUDISNIIII WKKWKWKW
    ADUU SENANG RASANYA BISA BERTEMU DENGANMU LAGI SETELAH SEKIAN LAMAAAAA NDAK BACA FANFIC NYA KAKNIT :”””))))
    .
    KAKNIT AKU SYUUUUKAAAA BANGET PAKE TELOR SAMA FIC INIII
    Kaknit keknya nyoba genre lain nggak si dan ini 1000% SUKSESSSS. DUH KAK IKUT SENENG!!!
    penyampaiannya jg makin aluuuusssss kek pipi mas wonho /? Hahahahah trusss ide ceritanya jg briliaant syukaaaa nemen 💟💟💟💟💟

    KEEP WRITING WITH YOUR OWN STYLE YA KAAAAKKKK LOVE CHUU DARI ADEK IPARMUU 💘💘💘💜

  2. ya ampun. kirain ini bakalan canon, ternyata kagak, tapi penggambarannya bagus. paling suka tentang 2 sisi ini antara suho sama junmyeon. asyik aja kalau diulik hehe. thanks udah buat ini.

  3. sedih …… T.T
    ini kyk versi lebih sakitnya dari film hello ghost ya
    hehe kirain awalnya tuh ini mau cerita soal suho dan junmyeon dalam setting suho sbg persona stagenya junmyeon, ternyata au aku lupa genrenya hahaha.
    bagus tapi ufufu, keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s