[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Decidéiert

decideiert

Title: Decidéiert
Author: ohmynes
Cast:
-Kim Junmyeon (EXO)
-Yoon Jinri (OC)
-Hong Jisoo (Seventeen)
Length: Oneshot
Genre: Psycho
Rating: PG16

Hujan. Saat yang pas untuk membaca buku.

Aku menuju ruang perpustakaan dan mengambil sebuah buku yang kuperlukan. Tak lupa segelas wine dengan kadar alkohol rendah ditanganku.

Mungkin diantara kalian ada yang bertanya-tanya,apa buku yang kubaca?

Harry Potter? Cih,cerita lama. Komik berseri Tintin? Oh,ayolah,aku bukan seorang anak kecil yang masih meminum susu dalam botol. Lalu buku apa?

Jawabannya,buku kematian.

Semua orang yang pernah kubunuh identitasnya pasti terdaftar dalam buku tersebut.

Kalian mungkin sudah bisa menebak siapa aku. Aku adalah Kim Junmyeon,seorang psikopat kelas tinggi dengan ribuan identitas palsu.

Jika kalian bertanya mengapa polisi tidak menangkapku,maka jawabannya adalah mereka terlalu bodoh untuk berhadapan denganku. Siapa yang bisa mengalahkan seseorang dengan IQ 192?

Aku menenggak wine-ku seraya membaca buku tersebut. “Siapa targetku selanjutnya?” Aku menutup buku tersebut seraya ber-smirk ria.

[Pukul 06.24AM waktu setempat.]

Aku segera mengunci pintu apartemenku dan berjalan menyusuri koridor untuk menaiki lift. Saat pintu lift terbuka,terlihat seorang ibu yang sepertinya berusia sekitar 40 tahun-an didalamnya.

“Kudengar ada seorang gadis yang baru pindah kemari bersama kakaknya.” Ibu tersebut membuka pembicaraan.

“Oh,ya?” Ucapku antusias.

“Satpam Shin bilang seperti itu tadi malam. Sepertinya ia tinggal di apartemen nomor 390,ruangan itu kosong,kan?”

“Ehm,ya. Setelah suaminya merenggang nyawa akibat kecelakaan,nyonya Yoon pindah ke China beberapa hari yang lalu.” Ujarku cepat lalu memalingkan wajahku dari hadapan ibu tersebut.

Kakak beradik? Sasaran yang tepat!

[Pukul 6.30PM waktu setempat.]

“Naik atau turun?” Tanyaku pada gadis disebelahku yang tampaknya kesulitan memencet tombol lift karena ia sedang membawa banyak barang di tangannya.

“Naik.”

TING!

Pintu lift terbuka. “Kau lebih dulu,” aku mempersilakannya masuk lift.

“Terima kasih.” Ia tersenyum.

“Aku akan menuju lantai tiga,kau?”

“Sama.” Ucapnya pendek.

“Apa kau sesorang yang baru pindah ke apartemen nomor 390?” Tanyaku. “Bagaimana kau tahu?” Ia mengernyitkan dahinya.

“Seorang ibu memberi tahuku tadi pagi. Dan soal nomor apartemenmu,memang hanya apartemen nomor 390 yang tersisa,yang lain penuh. Ngomong-ngomong aku penghuni apartemen nomor 389,Kim Junmyeon.” Ucapku seraya memandangnya.

“Oh? Y-ya,senang bertemu denganmu. Aku Jinri,Yoon Jinri.” Tuturnya.

“Kalau kau butuh sesuatu,jangan sungkan datang ke tempatku,aku akan membantumu.” Aku berjalan beriringan dengannya setelah keluar lift. “Tentu. Terima kasih.” Ia mengulum senyum.

“Mungkin hanya sampai sini percakapan kita,lain kali kita mengobrol,ya!” Tanpa kusadari,aku telah sampai di pintu apartemenku. Ia hanya mengangguk kecil. “Oh,ya. Bolehkah aku minta id line-mu?” Tanyaku sebelum masuk ke apartemenku.

“Eum,jinri0916.”

“Ok. Terima kasih!” Aku segera masuk dan kembali menutup pintu apartemenku.

•To: Jinri
From: Junmyeon

Hai!

Aku mencoba untuk me-line Jinri setelah aku mandi. Aku membuka home line nya dan menemukan beberapa foto yang ia post.

Cantik.

Itu kata pertama yang keluar dari bibirku saat melihat fotonya. Hey,apa aku jatuh cinta pada targetku sendiri? Tidak mungkin!

•To: Junmyeon
From: Jinri

Hai juga^^v

Aku hanya tersenyum kecil.

Lucu.

Itu kata kedua yang kuucapkan tentang dirinya.

•To: Jinri
From: Junmyeon

Apa kau ada di apartemen mu?

Send.

•To: Junmyeon
From: Jinri

Tidak. Aku ada di minimarket,membeli makanan(⌒_⌒;)

Astaga. Bisakah ia tidak menggunakan emotikon-emotikon aneh yang dapat membuatku jatuh melayang?

•To: Junmyeon
From: Jinri

Jangan bergerak! Aku kesana!

Aku segera melempar ponselku dan meraih mantel yang kugantung di balik pintu.

Aku berlari secepat kilat. Tak sampai tiga menit,aku sudah berada di lantai satu. Untuk informasi,aku tidak menggunakan lift,melainkan menggunakan tangga darurat.

“Dimana ia?” Aku mengedarkan pandanganku pada sekeliling minimarket. Ah,itu dia! Seorang gadis bersurai hitam yang memakai poncho merah. Aku segera berlari menghampirinya.

“Hei!” Aku menepuk bahu mungilnya.

“Kau disini? Kau tak membaca pesanku? Aku bilang jangan kemari,sebentar lagi aku selesai,kok.” Ujarnya seraya memasukkan ramyun terakhir di keranjang belanjanya.

Aku menggeleng,”aku meninggalkannya di rumah.”

“Aku takut kau kenapa-napa. Akhir-akhir ini marak kasus pemerkosaan di daerah ini. Aku takut para ‘Jones Gila’ itu menyakitimu. Jadi aku kemari,” aku memberi jeda,”untuk memastikan kau baik-baik saja.” Aku tersenyum kecil.

“Oh,tidak perlu! Aku bersama kekasihku kemari,kau tidak perlu khawatir!” Serunya enteng. “K-ke-kekasih?!” Ucapku terbata.

“Ya,itu sebelah sana!” Ia menunjuk seseorang yang tengah terduduk seraya memainkan ponselnya. “Namanya Jisoo. Dan kami akan melangsungkan pernikahan minggu depan,maka dari itu kami membeli sebuah apartemen.” Suaranya terdengar sangat bahagia saat ia mengucapkan paragraf terakhir.

“Bukankah kau akan tinggal bersama kakakmu? Seingatku ibu tersebut berkata bahwa gadis yang akan menempati apartemen nomor 390 akan tinggal bersama kakaknya.” Ini aneh.

“Kakak? Aku anak tunggal.” Ucapnya.

Jadi,yang akan tinggal bersamanya adalah calon suaminya? Bukan kakaknya?

Sakit. Sakit. Sakit. Lebih sakit daripada ditusuk beribu-ribu jarum. Mengapa harus kesan buruk yang ditinggalkan saat aku baru pertama kali jatuh cinta?

“Hey,Junmyeon! Kau melamun? Ayo,aku sudah selesai membayar!” Jinri melambaikan tangannya di hadapan wajahku.

“Eh-oh,ya. Ayo.”

“Jisoo oppa!” Ia memanggil seseorang yang digadang-gadang ‘kekasihnya’ itu,jijik sekali aku melihatnya.

“Sudah selesai?” Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku mantelnya.

Jinri mengangguk. “Perkenalkan,ini Junmyeon,tentangga baru kita.”

“Jisoo.” Ia mengulurkan tangannya. “Junmyeon.” Aku menyambut uluran tangannya. Padahal dalam hati ingin aku menusuk tangannya dengan pensil.

“Bagaimana kalau kita adakan pesta kecil-kecilan di apartemenku malam ini? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi tetangga yang baik untukku dan Jinri. Spesial,hanya kita bertiga.” tawar Jisoo.

Aku menaikkan sebelah alisku. Rupanya ia ingin aku mencabut nyawanya,ucapku dalam hati.

“Oke! Jam 8 aku akan ke apartemenmu. Aku pergi lebih dulu kalau begitu,terima kasih.” Aku berlari menuju apartemenku setelah mengucapkan terima kasih.

Aku segera menyiapkan sebilah pisau jenis Military Classic,pisau andalanku,dan langsung memasukannya ke dalam saku belakang celanaku. Aku siap.

Hanya butuh lima langkah untuk dapat sampai ke apartemen Jinri. Setelah aku menekan bel,tak lama kemudian kepala Jisoo menyembul dari balik pintu.

“Silakan masuk,” ia membukakan-ku pintu. Aku melangkah masuk ke dalam apartemennya. Belum terlalu rapi,masih banyak box berisi barang-barang yang diletakkan di sudut ruangan.

Setelah menutup pintu,Jisoo berbalik dan berjalan membelakangiku. Waktu yang tepat.

Tsek.

Aku menusuk perutnya dari belakang dengan Military Classic kesayanganku. Darah segar mulai berlomba-lomba untuk keluar melalui celah di perutnya yang telah kubuat.

“Arggghhh!” Erang Jisoo.

Jinri yang sedang memasak tergopoh-gopoh menuju ruang tamu karena mendengar erangan kekasihnya.

“Op-oppa…” Jinri menatap nanar kekasihnya yang sudah terkulai lemas dengan tubuh bersimbah darah.

“Junmyeon… A-apa yang k-kau lakukan?” Ia terisak dengan tetes air mata yang mulai membasahi wajah pucatnya.

Dengan pelan tapi pasti,aku berjalan menuju Jinri dengan sebilah pisau di tangan kiriku yang sudah berlumuran darah milik Jisoo.

Aku mengikis jarak antara diriku dan Jinri dan hanya menyisakan lima senti jauhnya. Jinri diam tak bergeming,seakan tak takut kalau-kalau aku membunuhnya kapan saja.

“Jinri,suaramu bagaikan dentingan piano klasik yang seolah-olah dapat membuatku tertidur. Senyummu bagaikan sebuah cahaya yang dapat membantuku keluar dari kegelapan.” Aku menatap matanya tajam.

“Kau adalah orang pertama dan satu-satunya yang dapat membuka hatiku yang sebelumnya belum pernah terjamah. Aku pikir kehadiranmu akan membawa berbagai macam warna dan akhirnya kita akan bersatu sebagai pelangi. Tetapi,kau hanya dapat membawa warna kelabu dan membuat kehidupanku semakin kelam. Kau bahkan sudah berani menyusup kedalam kehidupanku dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.” Aku berhenti sejenak.

“Hatiku sakit,ah tidak,sudah hancur mungkin,saat mengetahui kau sudah memiliki kekasih. Jadi agar adil,kau juga harus merasakan rasa sakit itu,bukan? Dan aku memutuskan untuk menorehkan tanda tanganku di perut Jisoo menggunakan kawanku ini.” Aku mengacungkan pisau tersebut tepat di depan mata Jinri.

“Tetapi,aku tak tega melihat Jisoo sendirian di alam sana. Jadi bolehkan aku ikut menorehkan tanda tanganku diperutmu,Jinri-ssi?”

THE END.

* Decidéiert diambil dari bahasa Luxemburg yang berarti psikopat.

2 tanggapan untuk “[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Decidéiert”

  1. Suho oppa ngeri iiihhh..
    Tpi ksian jga sihh bru mnyukai org tpi org itu dah pnya kkasih and mau nikah lg.. iiihh tpi ttep aja ngbayanginya serem eugh..*labilnih

    D tunggu crita yg lainya kakk 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s