[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Dear Santa

20160403102330.jpg

Dear Santa

Kim Joonmyeon | OC Choi Eun Na

FriendShip — Hurt — Romance — Angst

Only Teen Can Read!!!

Disclaimer;

FF is MINE. I just PLOT owner, not CAST. FF is belongs to Reader.If the reader find the groove and the same story, it’s an accident. It made me purely from my imagination. So, any false things here are for falsehood, place names, character, background, all just imagination and fiction.

Thanks, for Amazing Poster, By; Babyglam@ IFA

   a Fanfiction`s by Alona

 

“Please, Grant Me My Prayer!”

 

Eun Na merengut untuk yang kesekian kali. Dirinya lelah, tapi pria yang ada didepannya yang kini terus menarik lengannya menyusuri toko di dalam Mall itu sedari tadi. Tanpa lelah. Sebenarnya siapa gadisnya disini?

 

“Kau mencari apa Myeon?”Tanya Eun Na kesal.

 

“Banyak! sepatu, gaun, dan perhiasan.”Jawab pria itu cepat lalu semakin menarik lengan Eun Na kuat saat dirasa gadis itu melambat.

 

“Aish, memangnya untuk apa? Aku lelah,bodoh!”Pria itu menghentikan langkahnya. Lalu melepas pengannya pada lengan memerah gadis berambut hitam itu. Memilih memandang intens gadis yang kini berjongkok. Dapat Joonmyeon lihat bahwa gadis itu memang kelelahan.

 

“Maafkan aku… Ini jugakan untuk acara pesta itu!”Lirih pria itu,lalu mensejajarkan dirinya, dan mengelus lembut pipi memerah sahabatnya ini.

 

“Memangnya gadis yang ingin kau ajak itu tidak bisa membeli sendiri?”Tanya Eun Na, sedikit terlena oleh pandangan mengiba Joonmyeon.

 

“Mana bisa?

 

Kini, gadis itu malah kelelahan!”Jawab Joonmyeon lalu tersenyum menggoda.

 

“Aku sih, tidak akan ikut pesta ulang tahun bodoh temanmu itu! Siapa namanya? Bihun? Bae-Baehun? Bae-”

 

“Baekhyun”Ralat Joonmyeon. Lalu berdiri.

 

“Kenapa tidak ikut?”

 

“Kenapa kau malah marah? Aku kan tidak tau siapa namanya!”Bela Eun Na saat melihat pria berwajah malaikat itu cemberut.

 

“Baiklah, aku akan ikut! Tapi biarkan aku membeli minum lalu istirahat!”Sahut Eun Na yang diangguki setuju oleh Joonmyeon.

 

—o0o—

 

Burung berkicau, Sinar matahari menerangi setiap pelosok kota ginseng ini.

 

Eun Na sudah bersiap kesekolah hingga terkaget saat ada sebuah mobil sport parkir tepat didepan rumahnya. Dan seorang pria yang kini tengah duduk di ruang tamu, menikmati sebuah sandwich.

 

“YA! Apa yang kau lakukan disini?”Teriak Eun Na, lalu memandang sosok pria itu nyalang.

 

“Sebagai perempuan, dimana adabmu, Na?”Gadis bermarga Choi itu memilih menundukkan kepalanya, jika sudah Ibunya yang bertindak maka dia tak bisa apa – apa.

 

“Gwenchanha, Eommonim! Dia bercanda…”Bela Joonmyeon. Pria itu meminum segelas air putih yang ibu Eun Na berikan.

 

“Iya, Eommonim tau! Hanya saja tidak sopan, berteriak pada seorang lelaki seumurannya begitu… Siapa tau kau adalah jodohnya? Apa dia tetap begini? Dia harus berubah anggun…”Mata Eun Na membulat mendengat gurauan ibunya. Begitupun Joonmyeon yang tersedak air.

 

Ya.. Pagi ini setidaknya bisa melupakan masalah yang Joonmyeon ataupun

 

Eun Na rasakan.

 

Ya, walau sedikit.

 

—o0o—

 

Bel istirahat terdengar menggelegar di sekolah bernama Seoul High School itu.

 

Eun Na berjalan menyusuri koridor bersama murid – murid lainnya menuju kantin.

 

Gadis itu menenteng sebuah kotak bekal, dan sebuah buku tebal seperti kamus. Setelah sampai di kantin, dan menemukan tempat yang nyaman. Eun Na mulai membuka kotak bekalnya.

 

Jujur, Eun Na membenarkan bahwa dia memang tidak pantas menjadi sahabat Joonmyeon. Pria itu kaya. Sedangkan dirinya?  Hanyalah seorang gadis biasa yang memang berkecukupan lebih. Tapi, dia tidak memusingkan lagi. Toh, kalau Joonmyeon memang nyaman dengannya, kenapa dia tidak?

 

“Kenapa kau membawa bekal lagi? Tidak mau memesan?”Suara baritone membuat rungu Eun Na berpindah. Menatap mata jernih yang kini menyipit akibat kerutan di dahinya.

 

“Eomma, menyuruhku…”Jawabnya seadanya. Membuat pria dihadapannya tersenyum kikuk. Lalu mengusap tengkuknya gugup.

 

“Maaf ya… Tadi kau jadi dmarahi Eomminim!”Lihatlah, siapa yang tidak bangga? Bisa membuat pria macam Joonmyeon meminta maaf?

 

“Gwenchanha… Aku sudah kebal diomeli Eomma, mengenai adab perempuan!”Keduanya tertawa. Membuat beberapa pasang mata menatap iri dan kagum. Tentu pada Joonmyeon. Siapa yang mau memandang Eun Na?

 

“Aku akan menjemputmu, nanti malam untuk kerumah Baekhyun!”Eun Na mendelik kesal.

 

“Kau selalu mengubah jadwalku! Dasar Egois!”Lelaki itu tersenyum menang. Lalu menatap gadis berambut hitam dihapadannya yang

tengah memakan bekalnya kesal.

 

“Kau yang paling tau!”

Eun Na hanya memutar bola matanya malas saat, meja itu dipenuhi makanan pesanan Joonmyeon. Tapi dia hanya diam,tak berkomentar. Dia hanya memakan makanannya.

 

“Jangan lupa, pukul 7! Jika telat,aku tidak akan segan – segan mengganti bajumu!”Tiba – tiba pria itu berucap dengan nada menggoda.

 

“YA! Dasar byuntae!”Desis Eun Na kesal. Jujur, dia paling benci di goda Joonmyeon. Meski nyatanya pria itu sangat senang melakukan perbuatan itu.

 

—o0o—

 

Eun Na sangat cantik dengan balutan gaun biru langit semata kaki. Juga sebuah wedges berwarna hitam. Gadis itu memilih menguncir rambutnya gaya PonyTail.

 

“Astaga, Eomma tidak salah melahirkan anak secantik dirimu Na!”Suara pekikan Eommanya membuat Eun Na cemberut.

 

“Aku dipaksa…”Eommanya hanya mengelus rambut gadis itu lembut.

 

“Anak pria memang begitu,Na! Selalu memaksa, Egois! Tapi percayalah, itulah cara mereka melindungimu, dan menunjukan rasa kasih sayang mereka padamu…”Ucap Ibunya membuat Eun Na tersenyum manis.

 

Suara klakson mobil, membuat Eun Na melangkah keluar.

 

—o0o—

 

“Kenapa tempatnya jauh sih?”Tanya Eun Na bosan. Kini mereka tengah berhenti karna lampu merah.

 

“Baekhyun memang sengaja mengadakannya jauh dari rumahnya, Dia bosan selalu melakukannya di rumah, atau tempat di dekat rumahnya…”Jawab Joonmyeon dan memfokuskan diri karna lampu berubah hijau.

 

“Lokasinya dimana?”Tanya Eun Na, gadis itu mulai menguap.

 

“Di sebuah hotel Suite!”Dapat Joonmyeon lihat, Gadis disebelahnya menguap lagi.

 

“Kau biasa tidur jam berapa?”Tanyanya lembut.

 

“Entahlah, Aku kelelahan!”Eun Na menyenderkan dirinya pada bangkunya. Mencari posisi nyaman.

 

“Kita sampai…”Suara baritone Joonmyeon membuat Eun Na mengantuk dan merasa nyaman.

 

Dapat Eun Na lihat, parkiran khusus tamu Baekhyun sangatlah luas, dan kini hampir penuh. Astaga, Apa sebanyak itu yang datang?

 

“Baekhyun juga mengundang semua teman diluar sekolah, dan Rekan kerjanya…”Eun Na memejamkan mata, Mengusir rasa pening. Ya, itulah mengapa Eun Na merasa bangga menjadi ekonominya yang sekarang. Tidak miskin. Dan tidak terlalu kaya. Kadang dia berpikir, menjadi kaya itu membosankan, dan ribet.

 

Lamunannya membuyar kala jemari hangat Joonmyeon menggenggam erat lengannya yang terekpos. Pria itu tersenyum begitu menawan saat bertemu dengan teman di Seoul High School.

Dan, entah menyapa membuat Eun Na berdegup,juga memerah.

 

Tempat Pesta Baekhyun ternyata berada di lantai 3, Jadi mereka harus menaiki lift. Dan sungguh, Eun Na hanya berdecak kagum melihat betapa mewahnya pesta itu.

 

“Baekhyun memang kaya, tapi aku lebih kaya…”Eun Na tertawa kala mendengar kalimat bernada sombong Joonmyeon.

 

“Oh ya? Aku lupa, Kau adalah tuan Kim!”Sahut Eun Na dengan nada meledek. Sementara Joonmyeon hanya mendelik kesal.

 

Di dalam ruangan Ball Room yang bisa berisi lebih dari 4k orang itu. Terdapat Baekhyun yang melambai pada Joonmyeon.

 

“Eiii… Kalian menjadi

 

sepasang kekasih,eoh?”Tanya pria yang berbalut pakaian yang sama seperti Joonmyeon. Sebuah kemeja putih yang dibalut jas bermerk dan dasi. Sangat menawan.

 

“Andwae… Kami hanya bersama..”Rungut Eun Na kesal. Diikuti Joonmyeon yang mendelik.

 

Baekhyun memang mengetahui perihal persahabatan antara Joonmyeon dan Eun Na. Apalagi kedua orang itu tidak bisa jauh. Dimana ada Eun Na pasti ada Joonmyeon begitupun sebaliknya.

 

“Dimana yang lain?”Eun Na mengerutkan keningnya. Dia ingin bertanya soal siapa itu ‘yang lain’, tapi dia hanya diam saat Baekhyun tersenyum ceria, dan menunjuk sekumpulan pria yang tengah meminum sambil berbincang, ada yang sambil mengamit jemari seorang Gadis dan ada yang tidak. Tapi dirinya semakin bingung kala Joonmyeon mala berjalan cepat dan menyerukan nama seseorang, dan dia seorang gadis.

 

“Irene, Irene…”Sayup – sayup Eun Na mendengar teriakan kecil Joonmyeon pada gadis yang tengah berbincang dengan seorang pria tinggi berkulit albino.

 

Dapat dia lihat gadis berambut hitam legam itu menatap Joonmyeon dalam tatapan lain.

 

Eun Na hanya mengerjap kala merasakan perasaan sesuatu di hatinya. Dapat dia lihat Joonmyeon tersenyum bahagia.

 

“Dia Bae Irene, Sahabat kecil Joonmyeon yang bersekolah di USA, Dan juga seorang gadis yang menjadi cinta pertama Joonmyeon…”Eun Na menatap Baekhyun yang tersenyum senang menatap senyum di wajah Joonmyeon dan Irene. Hingga dia tau…

 

Dia memang tidak pantas bersanding dengan Joonmyeon. Dan omongan Baekhyun perihal

 

dia kekasih Joonmyeon adalah palsu. Itu hanyalah bualan dan basa – basi.

 

Sekali lagi Eun Na mengerjap, kini diikuti senyuman hangat yang menyimpan segala sakit.

 

FLASHBACK On

 

Seorang anak laki – laki berlari menghampiri anak perempuan yang tengah memakan cookies berprirasa mocca itu tenang.

 

“Eunnie.. Kau tau? Aku baru saja bertemu dengan teman kolega Appa…”Anak perempuan itu menengok, menatap anak laki – laki itu bingung.

 

“Memangnya kenapa? Apa dia baik?”Tanyanya diikuti binaran dikedua matanya.

 

“Huum.. Dia cantik! Kami bersahabat tadi..”Jawab anak laki – laki itu diikuti anggukan senangnya.

 

“Aku juga mau..”Sahut anak perempuan yang dikuncir itu.

 

“Itu, Itu dia teman kolega Appa… Dia sahabatku!”Seru Anak laki – laki itu membuat seorang anak perempuan dengan rambutnya yang diurai menengok dan berlari menghampiri anak lelaki itu lalu mereka berpelukan. Di depan gadis dikuncir yang ternyata Eun Na kecil.

 

“Joonie… Kau taukan? Aku dibolehkan menginap dirumahmu…”

 

“Waah.. Jinjja? Eum.. Irene.. Aku menyukaimu…”

 

“Nadooo…”

 

“Ayo pacaran jika sudah besar!”Irene kecil mengangguk dengan binaran di matanya.

 

FLASHBACK Off

 

“Kau mau sebuah Vodka,Eun Na-Ssi?”Tanya Baekhyun. Pria bermata sipit itu bingung kala melihat wajah Eun Na yang datar.

 

“Gomawo… Tapi aku akan duduk disana saja..”Gadis bergaun biru langit itu berjalan meninggalkan Baekhyun yang menatapnya tak terbaca.

 

“Kau menyukainya! Tapi, kau sangat pintar menyembunyikannya…”

 

—o0o—

Eun Na hanya menatap beberapa pasangan yang mulai berdansa saat ini dengan pandangan datarnya, dia sudah menguap lebih dari 3 kali.

 

Waktu menunjukan pukul 11 PM. Dan pesta belum selesai.

 

Joonmyeon entah kemana bersama gadis bernama Irene itu. Eun Na hanya berharap jika Joonmyoen mengingatnya. Untuk mengantarnya pulang.

 

“Kau sahabat Joonmyeon, Ya?”Tiba – tiba seorang pria berkulit agak tan menghampirinya.

 

“Hanya teman sekolah…”Jawab Eun Na. Entahlah, dia kesal dengan pria berwajah malaikat itu.

 

“Jinjja? Tapi, dari kalian masuk tadi, Aku melihat pandangan Joonmyeon Hyung yang nampaknya menyayangimu..”Sahut pria itu. Membuat pusing Eun Na kembali menari.

 

“Mungkin karna kami, berteman dari kecil!”Pria itu tersenyum.

 

“Berarti kau juga mengenal Irene…”Dapat pria itu lihat, Eun Na mengangguk malas.

 

“Maaf, aku sedikit mengantuk!”

 

“Joonmyeon Hyung sedang melepas rindu dengan gadisnya! Sebentar lagi ddia kembali..”Wajah Eun Na memerah kesal. Beruntung pria itu sudah beranjak.

 

“Bisakah, Tidak ada satu manusia yang mengingatkanku siapa, gadis itu..?”Bisiknya sendu.

 

—o0o—

 

Eun Na merasakan aroma berbeda.

 

Ini bukanlah aroma kamarnya. Selimut yang membalut dirinya juga bukan yang ada dikamarnya.

 

Dan dia hapal dimana dia berada.

 

Mansion, Joonmyeon.

 

Eun Na memilih duduk, Dan menatap ruangan yang didominasi gambar bunga itu.

 

Sepi.

 

Mungkin, Joonmyeon mengurus Irene. Ah, Ya pacaran mungkin. Entahlah, Dia sebal.

 

Eun Na mengerutkan keningnya.

Mengapa tiba – tiba dirinya begitu sensi terhadap Si Kim itu?

 

“Aah, kau sudah bangun? Kau itu sekali tidur seperti kerbau!”Sosok pria yang kini ada dipikirannya memasuki kamar itu, dengan kedua tangan membawa nampan berisi teh.

 

Eun Na hanya menatapnya datar. Membuat Joonmyeon menatapnya bingung.

 

“Gwenchanha?”

 

“Terima kasih sudah mengantarku! Tapi, Eomma pasti mencariku…”Eun Na melipat selimut hangat. Dia masih tau diri.

 

Eun Na melangkah menuju pintu keluar, Sebelum tangan putih menahannya.

 

“Minum dan makan ini dulu… Setelah itu kau mandi, Dan kita akan jalan – jalan bersama Irene… Tenang saja, Aku sudah menelfon Eommamu tadi!”Pria itu tersenyum manis. Membuat Eun Na ingin sekali menangis, membayangkan betapa sakitnya batinnya.

 

Ya, Eun Na menyadari.

 

Dia mencintai Joonmyeon.

 

Eun Na tersenyum pahit. Lalu menatap mata sang empunya tangan sendu.

 

“Apa kita sahabat?”Joonmyeon terenguh kala mendengar nada bergetar Eun Na. Gadis itu menatapnya menuntut.

 

“Tentu.. Dan selalu!”Joonmyeon tersenyum hangat saat mengatakannya, apalagi pria itu mengangguk mantap.

 

“Jika kau sahabatku, apa kau tau bagaimana keadaan hatiku saat ini?”Tanya Eun Na datar. Gadis itu menyembunyikan air matanya.

 

Joonmyeon menatap Eun Na bingung. Dia merasa gadis ini bukan Eun Na.

 

Eun Na adalah gadis yang selalu mempercayai dirinya. Gadis yang selalu mengerti dirinya. Dan gadis tulus yang pertama kali Joonmyeon temui.

 

Gadis itu tak pernah bertanya apa yang Joonmyeon lakukan padanya untuk apa.

 

Gadis itu jarang berkomentar.

 

Namun kini?

 

“Aku akan mandi… Kau tunggu aku ya…”Joonmyeon terperanjat kala, Melihat gadis itu kini malah tersenyum manis dan melangkah menuju kamar mandi.

 

-Dan, Eun Na itu penuh kejutan.

 

—o0o—

 

Joonmyeon tersenyum cerah saat melihat betapa manisnya Eun Na, dengan kaos putih dilapisi jaket baseball. Juga celana training pendeknya, berwarna hitam.

 

“Kau.. Cantik!”Gadis yang kini rambutnya di kuncir asal itu merona hebat kala kalimat itu keluar dari belahan bibir tebal milik Joonmyeon.

 

Tapi rasa malunya itu membuyar kala tangan putih nan kekar milik Joonmyeon menariknya menuju sebuah sepeda.

 

“Kita tinggal menunggu Irene! Astaga, kita bernostalgia kini…”

 

Eun Na tersenyum kikuk mendengarnya. Ya, dulu dia, Joonmyeon dan Irene memang pernah bersepeda bersama setelah pria itu meminta bersahahat dengan Irene. Jadilah,ke-3 sahabat itu bersepeda bersama mengelilingi sungai Han.

 

Setidaknya dulu, Eun Na kecil tidak merasakan perasaan sakit seperti kini. Dan Eun Na kecil tidak tau perasaan apa itu.

 

Tapi, Eun Na tersenyum kala melihat senyum manis Joonmyeom saat Irene datang.

 

Eun Na merasa dirinya hanyalah seorang pengawal untuk Joonmyeon dan Irene.

 

Dia bersepesa dengan lambat, membuatnya hampir tertinggal jauh, dari kedua insan itu.

 

Eun Na sangat ingin pulang kerumah. Menyembunyikan wajahnya dibawah selimut ddan memeluk bantal guling empuknya. Dan bermimpi indah.

 

Tapi, kakinya seolah menolak permintaannya.

 

Kakinya seolah memintanya untuk melihat kedua insan itu tertawa riang.

 

“Astaga, kupikir kau hilang,Eun Na-Ah..”Seru Irene saat, Eun Na melajukan sepedanya hingga sejajar dengan kedua sahabatnya.

 

“Tadi, aku kelelahan…”

 

“Kau mau beristirahat?”Tanya Joonmyeon khawatir, Tapi Eun Na hanya menggeleng lembut.

 

Eun Na bingung. Mengapa dia malah terjebak perasaan bersama sahabatnya sendiri? Dirinya sangatlah jauh dibandingkan Irene dan Joonmyeon yang sangat dieluk – elukan.

 

Dia bagaikan seenggok daging yang mengemis sebuah perhatian.

 

Dia bagaikan sampah yang hanya dilirik sekali dan langsung dibuang jauh.

 

Lantas, jika dirinya juga hatinya sadar menyapa perasaannya makin bertambah? Mengapa?

 

Lamunannya terbuyar kala sayup – sayup mendengar sebuah suara yang begitu menyakiti saraf hatinya. Membuatnya menghentikan ayuhan lemahnya.

 

“—Iya,Kau memang mau pernikahan seperti apa?”

 

“Aku sungguh, terkejut! Bagaimana bisa Eomma dan Appa menjodohkan kita? Astaga, aku sangat ingin Eun Na menjadi pendamping didepanku nanti!”

 

Kedua bola mata Eun Na membola. Menatap kedua insan yang kini menatapnya bingung.

 

“Maafkan kami,Eunie… Kami tidak memberitahumu… Aboenim dan Appa baru memberi tau saat pesta Hut Baekhyun tadi malam…”

 

Oh, jadi karna itu kau meninggalkanku sendiri tadi malam? Kupikir kau melupakanku!

 

“Iya, Maafkan aku dan Joonmyeon! Ini berkat dirimu yang dulu mengatakan pada Appa dan Aboenim! Kalau kami saling menyukai! Dan berniat pacaran saat besar! Kini saat besar kami malah dijodohkan..”Sahut Irene menggebu – gebu. Merah padam menghiasi kedua pipinya.

 

Eun Na sangat membenci Eun Na kecil.

 

Membenci sifat polosnya. Sifat bodohnya. Sifat penurutnya. Dan sifatnya yang terlalu peduli.

 

Dia membenci dirinya dulu.

 

Coba saja, dia mengatakan dulu pada Ayah Joonmyeon, Kalau dia juga menyukai lelaki itu, mengingat Ayahnya adalah teman seperjuang Ayah Joonmyeon.

 

Harusnya dulu dia mengatakan, bahwa dia mencintai Pria itu.

 

Harusnya dulu dia tidak bertanya siapa itu Irene. Seharusnya dia bilang bahwa dia cemburu.

 

Ya, Harusnya.. Karna kini semua itu hanya angan – angan bodohnya. Dan perasaan menyesal yang menguasai dirinya.

 

“Kau maukan? Pernikahan kami, tinggal menghitung hari…”

 

Maaf, Aku tidak bisa.

 

“Ya…”

 

—o0o—

 

Eun Na View.

 

Gereja sudah didesain seindah mungkin. Ukiran bunga berada dimana – mana. Ya, mengingat gadis itu menyukai bunga. Ya, Bae Irene namanya.

 

Bangku – bangku telah tersusun rapi. Petugas mulai menyisir tiap sudut. Heh, Mereka pikir akan ada pengeboman, Eoh?

 

Eommaku datang bersama Appa. Mereka sepasang suami istri yang menampilkan lovey dovleynya. Kini, berbincang dengan Appa dan Eomma Joonmyeon. Dan Juga keluarga Irene.

 

Mereka melirikku. Mengatakan sebuah lelucon yang mengejekku. Karna sepengatahuan mereka-

 

-Aku tidaklah menyukai Joonmyeon.

 

“Aigoo, Kau kalah cepat dengan Irene, Euniie-Ah!”Mereka tertawa.

 

Mengapa tebakanmu tetap sasaran?

 

“Astaga, Eomma pikir, Kau yang akan berakhir

bersama Joonmyeon! Bukan Uri Irene…”Sahut Eommaku.

 

Iya, Makanya aku menyesal. Aku harus bagaimana?

 

“Nyatanya, Joonmyeon lebih memilih gadis anggun! Berubahlah menjadi anggun,Eun Na!”Ledek kakak perempuanku.

 

Lalu, jika aku begitu! Apa dia akan melirikku! Dan menceraikan Irene?

 

“Maafkan kami, ini hanya bercanda…”Aku mulai merasa suasana menjadi akward.

 

Ya, mereka mengetahui aku Bad Mood, dari pandanganku yang terlewat datar bahkan dingin.

 

“Ayolah… Pesta akan dimulai! Masa dengan kau sedih saat sahabatmu menikah?”Ujar Eommaku. Aku berdelik.

 

Masalahnya, aku mencintainya.

 

—o0o—

 

Piano mulai terdengar. Pintu kayu dihadapanku terbuka. Diikuti suara jeprekan kamera.

 

Tentu kearah Irene yang tengah bersipu malu. Bukan kearahku yang menebar senyum kaku. Seraya menyebar bunga.

 

“Kudengar, Saat pengantin selsai mengucapkan janji! Dan kau berdoa. Doamu akan dikabulkan… Ya, itu sih hanya opiniku!”Bisik Kaka Kandungku. Aku telah duduk karna tugasku selsai mengantar sang pengantin menuju altar.

 

‘Aku mencintai Joonmyeon… Hapuslah perasaan ini bila dia tidak cocok untukku. Dan teruskanlah bila memang dia orang yang tepat! Maafkan aku,Tuhan. Bisakah kabulkan satu permintaanku…-

 

-Berikanlah padaku,suatu kebahagiaan’

 

FIN

 

Aku  tau ini Absurd binti GJ.

 

Aku gak tau, mau apa permintaan si Eun Na. Jadi ya kepikirannya itu. Dan beginilah jadinya.

 

HBD MY STRONG LEADER! AND MY LOVELY ANGEL! Always Love U! Tetep kuat ya jalanin hidup sekeras ini *uhuk. Maksudnya hidupmu. Dan ke-8 anak buahmu *Uhuk Ver.2

Ini 2k+ words. Kalau mau tau(?).

 

Makasih yang udh mau baca. Thanks YOU!

 

XOXO,

 

ALONA

2 tanggapan untuk “[SUHO BIRTHDAY PROJECT] Dear Santa”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s