[EXOFFI FREELANCE] Married By Accident (Chapter 2)

yee

Married By Accident 2/?.

 

Author : Anemone.

Main cast : Oh Se Hun(EXO) || Kim Ha Ni(OC/YOU).

Genre : Marriage || Family || Romance || Comedy.

Leght : Chapter.

Ranting : PG-17.

Cover : Hermawati.

Ost.Song : Overdose(EXO).

 

Hai, Aku bawa FF abal-abalku entah ini ceritanya gimana, FF ini murni pemikiran author, mungkin judulnya pasaran tapi ceritanya berbeda dari FF yang mempunyai judul yang sama. Semoga hasilnya tidak buruk!! Warning!!! Masih banyak typo dimana-mana…

 

Summary : Pertemuan yang tidak terduga yang berujung pernikahan.

 

Kim Ha Ni, Yeoja yang sedikit tomboy ini harus bersabar menghadapi, bos sekaligus suaminya yang sifatnya berubah-ubah.

 

Oh Se Hun, Namja dingin sekaligus kekanak-kanakan, Dia tidak punya pilihan lain selain menikah dengan Kim Ha Ni untuk menyakinkan sahabat, orang yang di cintainya sekaligus menyelamatkan perusahaannya.

 

^^Married By Accident^^

 

Prew…

Part 1.

 

^^Happy Reading^^

 

Part sebelumnya…

 

Se Hun pov.

 

Benar-benar membosankan! Aishhh … Ingin rasanya aku lari dari sini, kalau bukan hal ini benar-benar penting. Bagaimana bisa, tidak ada satupun peserta interview yang cocok untuk aku jadikan sekertaris?!.

 

“Mereka peserta terakhirkan?” tanyaku.

 

“Ya. Mereka peserta terakhir!l.” jawab direktur Min.

 

Akupun membolak-balikkan kertas didepanku, tapi seketika mataku membulat saat melihat foto berukuran 4X6, Aku langsung mendongkakan kepalaku. Dapatku lihat 3 perserta sudah duduk didepan kusri yang di sediakan, didepan kami masing-masing, dan entah kenapa aku tersenyum saat gadis itu duduk didepanku sambil menunduk.

 

Kini gilirannya untuk memperkenalkan diri, Aku ingin lihat gadis tunawiracara ini untuk menyakinkan aku, direktur Min juga direktur Park, dengan cara apa ia menyakinkan kami, apa menulis di note yang pernah ia lakukan, atau menari-narikan tanganya?.

 

“Annyeonghaseyeo Kim Ha Ni imnidha.” ucapnya sambil berdiri dan membungkuk 90°, tapi ia masih menunduk.

 

Sontak aku menatapnya intens, Aku benar-benar kaget, bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia berbicara? Bukankah dia-.

 

Aku berdiri dari dudukku.

 

“kau!?” ucapku dengan suara yang aku naikan 1 oktaf, sambil menunjuknya dengan jari telunjukku tepat didepan wajahnya.

 

Dia mendongkak dan, “Kau!?” ucapnya.

 

“Gadis ini menipuku.” ucapku dalam hati.

 

***

 

Author pov.

 

“Kau?!” Ha Ni menunjuk Se Hun dengan jari telunjuknya, Dia benar-benar kaget saat melihat wajah namja didepannya. Dunia ini benar-benar sempit, pikir Ha Ni.

 

“Superman, Siperderman , Hiroman, Ultraman, Kim wobin tolong culik aku!” ucap Ha Ni dalam hati. Dia benar-benar ingin menghilang sekarang.

 

Atmosfir di ruangan itu tiba-tiba menjadi mengerikan untuk Ha Ni. Semua orang yang ada didalam ruangan, menatap bingung dua orang yang saling menunjuk.

 

“Kau diterima.” ucap Se Hun dengan senyum tipisnya.

 

“Ne?!” pekik Ha Ni kaget.

 

***

 

@.Ha Ni’s home.

 

“Aku pulang!” teriak Ha Ni saat memasuki rumahnya.

 

Kyung Soo yang hendak meminum tehnya kaget karena teriakkan Ha Ni, “aaa panas!” ringisnya.

 

“Pelan-pelan oppa.” ucap Ha Ra yang berada disebelahnya sambil mengupas buah apel.

 

“Ini bukan hutan pesek!” ucap Kyung Soo saat Ha Ni menghempaskan dirinya di sofa samping Ha Ra.

 

“Aku itu tidak pesek oppa, tapi mancung kedalam oke!” ucapnya sambil merebut apel yang sedang di kupas Ha Ra, memakannya dengan rakus. Ha Ra hanya mengelengkan kepalanya.

 

“Bagaimana interviewmu?” tanya Ha Ra.

 

Bukannya menjawab, Ha Ni malah berdiri dari duduknya, “Aku mau mandi dulu ya. Oppa aku titip ya.” ucap Ha Ni sambil menyerahkan bekas apelnya ditangan Kyung Soo.

 

Kyung Soo hanya terbengong menatap sisa apel bekas Ha Ni di tangannya, begitupun dengan Ha Ra. Sedangkan Ha Ni, Dia menaiki tangga dengan menahan tawanya melihat wajah kedua kakaknya.

 

“Kim Ha Ni!” ucap Kyung Soo dan Ha Ra bersamaan.

 

“Hahahahahaha….” suara tawa Ha Ni dari lantai atas.

 

***

 

Next day…

 

“Tunggu!” Ha Ni menahan lift yang akan menutup.

 

“Selamat pagi.” sapanya ramah.

 

“Selamat pagi. Nona Kim.” ucap Baek Hyun.

 

Se Hun hanya diam, dan menatap Ha Ni lekat. Didalam lift itu hanya mereka bertiga karena lift itu khusus kelas eksekutif. Ha Ni tidak peduli toh dia sekertaris Se Hun kan, berarti ia boleh masuk ke lift itu.

 

“Waeyo?” tanya Ha Ni karena Se Hun terus memperhatikannya.

 

“Berapa umurmu?” tanyanya.

 

Se Hun tidak habis pikir, kenapa gadis didepannya mengunakan tas pungung? Bukan tas seperti yang digunakan wanita-wanita karir lainnya, yang mahal dan tren masa kini. Apa ia pikir akan berangkat sekolah?

 

“Oh, Aku ingin pendek, jadi aku memakainya.” jawab Ha Ni asal, yang tau apa maksud Se Hun menanyakan berapa umurnya. Memang anak sekolah saja yang boleh memakai tas pungung.

 

Baek Hyun tertawa mendengarkan jawaban Ha Ni.

 

“Maaf.” ucap Baek Hyun karena hanya ia yang tertawa.

 

Ting~

 

Pintu lift terbuka, Se Hun berjalan lebih dulu meninggalkan Baek Hyun dan Ha Ni. Dia benar-benar tidak habis pikir ada sosok gadis seperti Ha Ni.

 

“Hwaiting!” ujar Baek Hyun sambil mengepalkan tangan kanan ke udara.

 

Ha Ni tersenyum,”hwating!” ucapnya.

 

“Aku ingin pendek. Jadi aku memakainya, jawaban macam apa itu.” gumam Se Hun.

 

***

 

“Manager Jung! Apa anda melihat presdir?” tanya Ha Ni kepada yeoja yang baru saja melintas didepannya.

 

“Kau masih belum menemukannya?” tanya manager Jung.

 

“Ne.” jawab Ha Ni.

 

“Tapi sepertinya, Aku melihat presdir sedang berjalan-jalan di pertokohan depan kantor.” ucap manager Jung.

 

“Khamsamnidha, Manager Jung.” ucap Ha Ni sambil membungkuk beberapa kali.

 

Ha Ni tersenyum, akhirnya ia menemukan bosnya yang menyebalkan.

 

“Ne.” jawab manager Jung, lalu berlalu dari hadapan Ha Ni.

 

Ha Ni langsung berlari untuk mencari bosnya.

 

“Namja itu benar-benar seenak jidatnya, rapat akan di mulai 20 menit lagi.” ucap Ha Ni.

 

“Aishhhh….” ucap Ha Ni saat akan memasuki lift, liftnya penuh. Kalau mengunakan lift satunya harus memutar arah. Akhirnya dengan terpaksa ia turun melalui tangga darurat, beruntung ia berada di lantai 3, tapi tetap saja melelahkan.

 

Bukkkk!

 

“Aaww…. !” ucap seorang namja tampan.

 

Ha Ni hampir saja terjatuh dari tangga, kalau saja pergelanggan tangannya tidak di pegang oleh namja yang tidak sengaja ia tabrak.

 

“Lain kali hati-hati nona.” ucap namja tampan itu sambil tersenyum.

 

“Ne. Mianhae. Terimakasih tuan.” ucap Hani sambil membungkuk kemudian melanjutkan kembali kegiatannya, berlari menuruni tangga darurat.

 

“Hei! Tunggu!” panggil namja tampan itu, tapi percuma sosok Ha Ni sudah menghilang.

 

“Apa sekarang aku adalah seorang pangeran yang menemukan sepatu cinderella?” ucap namja itu sambil memungut sepatu yang jatuh di bawah kakinya.

 

“Sepertinya kita akan bertemu kembali.” ucapnya lagi sambil tersenyum.

 

***

 

Ha Ni pov.

 

“Huuuuuhhh … Huhhhh!” Aku pegangi lututku dengan kedua tanganku sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Namja itu benar-benar mengerjaiku ternyata, tidak heran kenapa aku bisa lolos tanpa interview terlebih dulu.

 

Aishhh … Bahkan semua orang menatapku sekarang, entahlah apa yang ada dalam pikiran mereka melihat kondisiku. Aku usap keringat yang ada di dahiku. Belum cukup apa ia mengerjaiku kemarin, yang harus mengulang laporan sebanyak 10 kali, membentakku, mengataiku sesuka hati.

 

Flashback on.

 

Brakkkk! Se Hun baru saja membanting berkas laporan yang baru aku perbaiki.

 

“Ulangi!” ucapnya tanpa memoleh kearahku.

 

“Tapi-”

 

Ia menatapku tajam, seperti memberi isyarat, ‘kerjakan dan jangan banyak protes!’

 

Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, Aku remas ujung blaser yang aku pakai. Aku yakin asap bermunculan di kedua telingaku, dan wajahku seperti ketiping rebus sekarang. Demi apapun, orang ini ingin aku makan!

 

“Sabar-sabar.” ucapku dalam hati.

 

“Yak. Yeoja pabo! Otakmu itu dimana hah?! Begini saja tidak bisa, menulis namaku dengan huruf latin saja salah, Oh Se Hoon bukan Oh Se Hon.” bentaknya padaku.

 

“Ulangi!” ucapnya.

 

Sudah cukup, emosiku benar-benar sudah tidak bisa di tahan lagi. Kau benar-benar membangunkan induk singa yang sedang tertidur nyenyak Oh Se Hun.

 

“Yak, ini sudah ke 10 kalinya. Kau pikir pekerjaanku hanya membuat laporan ini eoh. Aku bahkan melewatkan jam makan siangku, ULANGI SAJA SENDIRI!” ucapku lalu berlalu dari ruangannya dan menutup pintu dengan kasar, tidak peduli jika pintunya rusak. Toh dia banyak uangkan.

 

Flashback End.

 

“Apa ia belum puas mengerjaiku?” tanyaku pada diri sendiri sambil melihat sekeliling, dan disana. Seorang namja dengan setelan jas yang sangat cocok, melekat di tubuhya, sedang berjalan santai menuju ke arahku.

 

“Apa kau habith lari maraton nona Kim?” tanya Se Hun dengan muka yang ia buat polos.

 

Demi Tuhan! Aku ingin mencekiknya. Tunggu, kenapa aku baru sadar. Tsk, Dia cadel. Bodohnya aku.

 

“Rapat akan dimulai sebentar lagi presdir sebaik-” ucapku terpotong, karena ia langsung berbicara yang membuatku terdiam dan menatap ke bawah.

 

“Ada apa dengan kakimu?” tanya Se Hun sambil menunjuk kakiku dengan jari telunjuknya.

 

“Eoh, apa?” ucapku sambil melihat kakiku, astaga…. ! pantas saja orang-orang memperhatikanku.

 

“Apa itu penting? Sekarang lebih baik anda kembali kekantor karena rapat akan segera dimulai!” ucapku sambil berkacak pinggang. Aku menatapnya tajam, tidak aku perdulikan bagaimana penampilanku sekarang yang hanya memakai sepatu sebelah saja.

 

Oh Se Hun berlalu melewatiku begitu saja… Dia benar-benar!

 

“Yak, Presdir!” ucapku tidak habis pikir denganya. Apa ia buta arah? Kenapa berjalan kearah berlawanan. Aku berlari menyusulnya. Tidak habis pikir kenapa aku ditakdirkan bertemu dengannya. Apa ini hukum karma?

 

Se Hun masuk kesebuah toko tas dan sepatu di salah satu toko yang berjejer, untuk apa ia masuk kesitu? Jangan bilang kalau mau membelikan sepatu baru untukku.

 

“Ani tidak usah presdir, Aku bisa meminjam sepatu milik nona Bomi, Ia biasa membawa sepatu cadangan yang di simpanya dibawah meja kerja.” ucapku berusaha menolak.

 

“Masuk!” ucapnya dingin.

 

“Berapa ukuran sepatumu?” tanyanya saat kami sudah memasuki toko tas dan sepatu ini. Astaga aku jamin harganya setinggi langit.

 

“Nona Kim!” bentaknya.

 

“Ah. Ne 39.” jawabku. Namja ini sebenarnya punya kepribadian berapa si?

 

“Nona tolong bawakan sepatu ukuran 39 dan- ” Ia melirikku sesaat, “bawakan saja sepatu kets.” ucapnya.

 

Aku hanya bisa mengangga. Bagaimana bisa ia tau kalau aku tidak suka lebih tepatnya tidak bisa memakai sepatu hak tinggi, apa ia memperhatikanku dengan sedetail itu.

 

“Pabo! Apa yang aku pikirkan.” ucapku dalam hati sambil memukul kepalaku, tentu saja ia akan tau karena hampir setiap hari bertemu.

 

Pelayan toko membawakan sepatu berwarna putih dan coklat, sepatunya benar-benar cantik.

 

“Cepat pakai! Apa kau sengaja agar aku mau memasangkannya untukmu.” ucap Se Hun sambil berjongkok didepanku dan menyodorkan sepatu berwarna coklat padaku yang sedari tadi hanya diam.

 

“Kyeopta.” gumamku saat memakainya.

 

***

 

Se Hun pov.

 

“Kyeopta.” ucap Ha Ni, Aku hanya tersenyum tipis.

 

“Bungkus saja sepatu rongsokan itu!” ucapku pada pelayan toko dan menunjuk sepatu sebelah punya nona Kim itu.

 

“Ne tuan.”jawabnya.

 

“Yak! Presdir kenapa kau tidak membayarnya?” tanya Ha Ni yang menyusul dibelakangku.

 

“Beberapa toko disini adalahh milikku. Apa aku harus membayarnya nona Kim?” ucapku.

 

“Ah pantas saja.” ucapnya, lalu aku melihatnya bertanya kepada pelayan toko tadi. Sudahku duga ia akan melakukannya.

 

“Agasshi. Berapa harga sepatu ini?” tanya Ha Ni sambil berbisik kepada pelayan tadi.

 

“Mwo?!” ucapnya kaget.

 

Gadis itu, apa ia suka sekali berteriak, apa itu hobinya?

 

“Yak. Presdir!” panggil Ha Ni saat aku keluar dari toko.

 

Ha Ni pov.

 

“Agasshi. Berapa harga sepatu ini?” tanyaku pada pelayan tadi. Dia bilang ini tokonya. Aisshh … Dasar namja sombong.

 

“15 juta Won nona.” jawab palayan itu.

 

“Mwo?!” benarkan dugaanku, harganya sama saja dengan 3 bulan gajiku. Astaga…. !

 

“Yak. Presdir!” panggilku saat ia keluar dari toko.

 

“Aku akan potong gajimu.” ucapnya cuek

 

“Apa?” ucapku kaget, Namja ini menyebalkan sekali si.

 

“Bisakah kau diam dan menurut saja maka sepatu itu gratis untukmu.” ucapnya sambil berbalik, membuatku hampir saja menabraknya.

 

“Ah bila perlu kau menjadi gadis tunawicara saja.” ucapnya lagi sambil menatapku dan memainkan jari telunjuknya didepan wajahku. Apa ia baru saja menyindirku soal kejadian tempo hari itu? Se Hun hanya tersenyum manis padaku. Senyumnya membuatku ingin muntah!

 

“Presdir kita mau kemana? Arah kantor itu ke selatan, ini kenapa ke utara!” ucapku, ternyata benar ia buta arah.

 

Se Hun hanya diam dan lagi-lagi tersenyum, senyum yang memuakkan menurutku. Ingin rasa aku tendang bokong itu.

 

“Presdir rapatnya akan dimulai 5 menit lagi.” ucapku berusaha membujuknya.

 

“Rapatnya ditunda 1 jam.” jawabnya santai lalu masuk ke dalam restorant.

 

Aku hanya bisa melonggo. “Kenapa kau tidak memberi tahuku!” teriakku dan menyusulnya masuk kedalam.

 

“Kau tidak bertanya.” jawabnya cuek lalu berjalan kesebuah meja yang paling pojok. Demi planet Jupiter, Neptunus aku benar-benar ingin menjambak rambutnya.

 

“Aisshhh….” ucapku sambil mengacak rambutku sendiri. Aku bisa gila kalau begini caranya.

 

***

 

Author pov.

 

“Ahh itu Se Hun, Ia datang juga akhirnya.” ucap seorang namja sambil memeluk Se Hun di susul 4 namja lain. Ada 5 namja dan 1 yeoja.

 

“Mianhae hyung. Aku ada urusan sebentar tadi.”ucap Se Hun.

 

“Duduklah!” ucap namja yang paling tinggi mempersilahkan Se Hun.

 

Se Hun menghampiri Ha Ni lalu menariknya untuk bergabung.

 

“Wahhhh, Aku pikir kau hanya bercanda, apa dia kekasihmu?” tanya namja berkaca mata.

 

“Ne. Dia kekasihku.” jawab Se Hun.

 

Ha Ni pov.

 

“Ne. Dia kekasihku.” jawabnya sambil merangkul bahuku. Aku hanya bisa melotot ke arahnya. Telingaku tidak bermasalahkan? Apa ini yang dia maksud aku harus menurut padanya?

 

Se Hun mencekram bahuku memberi isyarat untukku memperkenalkan diri. Aku tidak mungkin mencakarnya sekarang. Berani-beraninya dia.

 

“Annyeonghaseyeo Kim Ha Ni imnidha.” ucapku sambil melepas rangkulannya. Tapi ia malah kembali merangkulku, bahkan tangannya memeluk pinggangku.

 

“Oh Se Hun.” gumamku. Dia hanya tersenyum manis kearahku. Aku injak kakinya dengan sepatu yang baru saja di belikannya.

 

“Hehehe … Lepas.” bisikku. Dia hanya tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Rasakan itu Oh Se Hun.

 

“Ah, annyeong. Aku Kim Jun Myeon kau bisa memanggilku Suho.” ucap namja bernama Suho itu ramah, kemudian di susul oleh yang lain. Park Chan Yeol, Byun Baek Hyun yang memang sudah aku kenal, Lu Han dan Kim Jong Dae dan-

 

“Oia perkenalkan. Dia tunanganku, Park Min Ah.” ucap Suho sambil tersenyum ramah memperkenalkan yeoja cantik disebelahnya.

 

Aku perhatikan yeoja bermarga Park itu hanya menatap intens seseorang disampingku, dan Se Hun , Ia melenggos melihat kearah samping kiri.

 

“Ada yang tidak beres.”ucapku dalam hati.

 

Se Hun pov.

 

Ha Ni hanya menatapku tajam, tanpa berbicara sedikitpun, Aku tau banyak sekali pasti pertanyaan yang akan ia ajukan soal kejadian tadi. Kini hanya tinggal aku dan Ha Ni di restoran ini.

 

“Tanyakan saja apa yang ada di dalam kepalamu yang kecil itu.” ucapku dengan senyum tipis sambil meminum white coffeku.

 

Lagi gadis itu hanya diam dan menatapku tajam. Hahahaha gadis ini lucu sekali. Aku baru sadar kalau matanya itu kecil satu, pantas saja dia mengidolakan Kim Woo Bin. Aku tau karena pernah melihat wallpaper komputernya.

 

“Apa yang kau tertawakan?” tanyanya, akhirnya ia bersuara setelah hampir 10 menit hanya diam sambil menatapku tajam.

 

“Aku pikir kau jadi bisu sungguhan.” sindirku. Sungguh aku tidak bisa menahan tawaku. Hidungnya yang pesek itu kembang kempis karena marah. Aku rasa ia akan cepat tua karena cepat sekali marahnya.

 

“Kau?!”

 

“anni.” jawabku menghentikan tawaku, lalu menyenderkan punggungku di kursi.

 

“Kau membayarku dengan sepatu seharga 15 juta won untuk kau jadikan kekasih pura-puramu?” ucapnya tajam. Sepertinya ia paham kondisi sekarang.

 

“Hmmm…. ” gumamku sambil mengangguk.

 

Dapatku lihat gadis itu mengerang kesal. Aku bahkan punya rencana yang jauh lebih dari ini nona Kim.

 

“Ini bukan sesimple yang kau bayangkan.” ucapku mencoba menjelaskan.

 

“Kau menyukai, ani lebih tepatnya mencintai nona Park Min Ah kan? Bahkanku lihat kalian saling mencintai.” ucapnya sambil meletakan kedua tangannya yang melipat diatas meja dan mencondongkan wajahnya ke arahku. Wajahnya seriusnya. Sungguh aku ingin tertawa tapi aku tahan.

 

Aku hanya diam sambil membuang muka, apa mudah sekali di tebak?

 

“Aku benarkan?” tanyanya lagi, lalu memposisikan dirinya sama denganku menyenderkan punggungnya di kursi.

 

“Ya.” jawabku.

 

“Lalu?” tanyanya.

 

“Proyek kali ini harus mendapatkan insvistor dana dan -” ucapanku terpotong karena Ha Ni lebih dulu berbicara.

 

“Namja bernama Suho itu yang jadi insvistor, Kau mengorbankan cintamu hanya karena itu? Heiii … Namja macam apa kau ini?!” ucapnya memandangku remeh.

 

“Kau tidak tau masalahnya!” ucapku mulai emosi karena dipandang remeh, apa lagi oleh seorang yeoja.

 

“Terserahlah … Rapat akan dimulai sebentar lagi, lebih baik kita segera kembali ke kantor.” ucapnya lalu berdiri dan meninggalkanku.

 

***

 

Author pov.

 

“Semoga proyek kali ini berhasil dengan baik dan bisa membantu masyarakat yang nanti akan menggunakan jasa kita.” ucap Se Hun mengakhiri presentasinya didepan dan mendapat tepuk tangan dari hadirin yang menghadiri rapat.

 

Ha Ni hanya diam menatatap bos sekaligus kekasih pura-puranya itu. Se Hun menatap Ha Ni dan memberikan senyum terbaiknya dan itu membuat Ha Ni bergidik.

 

“Nona Kim Ha Ni! Kemari!” ucap Se Hun sambil memberi Ha Ni isyarat untuk berdiri disebelahnya.

 

Ha Ni hanya menurut dan memposisikan diri disebelah Se Hun, Ia hanya diam. Se Hun mengenggam jemari tangan Ha Ni lalu tersenyum manis kepada Ha Ni. Ha Ni merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

 

Suasana ruang rapat itu tampak sedikit gaduh, saling berbisik satu sama lain mengenai hal apa yang akan di sampaikan sang presdir (Oh Se Hun).

 

Ha Ni memejamkan matanya dan saat ia membukanya.

 

“Aku Oh Se Hun dan nona Kim Ha Ni akan menikah secepatnya!” ucap Se Hun dengan penuh keyakinan.

 

Ha Ni menoleh dengan wajah kagetnya, dan dapat ia lihat raut keseriusan terpancar dari sosok di sebelahnya. “Apa lagi ini, demi Tuhan kalau aku punya riwayat jatung pasti sudah tewas.” ucap Ha Ni dalam hati.

 

Ruang rapat itu hening seketika namun detik berikutnya terdengar suara tepuk tangan bergemuruh.

 

“Wahhhh. Cukkhae presdir!” ucap Baek Hyun

 

“Oh. Cukkhae presdir!”

 

“Cuhkkae presdir. Nona Kim!”

 

Ha Ni merasa kakinya tidak lagi menginjak bumi. Se Hun yang tahu kondisinya memeluk erat pinggang Ha Ni.

 

“Cukkhae Oh Se Hun!” ucap Suho bertepuk tangan sambil berdiri dari duduknya dan tersenyum lebar.

 

Tanpa mereka sadari ada sosok yang berlari dari ruangan tersebut sambil menangis. Tapi Ha Ni ia melihatnya.

 

Dia Park Min Ah…

 

“Entah aku harus bagaimana, yang bisa aku lakukan sekarang adalah tersenyum, tersenyum hambar lebih tepatnya. Aku tatap seseorang disebelahku, Ia menoleh dan tersenyum manis padaku, mengeratkan jeraminya pada jemariku seperti memberi sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Ia juga memeluk erat pingangku. Entah kenapa ada sesuatu yang menari mengelitik di perutku dan aku merasakan kehangatan yang menjalar ke tubuhku.Tangan ini memberiku kehangatan.” batin Hani.

 

***

 

Next day…

 

Ha Ni pov.

 

“Ada apa dengan mereka semua?” tanyaku pada diri sendiri saat melihat semua karyawan membungkuk hormat padaku saat aku lewat dan berpapasan.

 

Aku mengehela nafas kasar, apa karena kabar itu? Begitu cepatkah menyebar. Namja itu berani-beraninya dia menarikku ke dalam masalahnya. Dia pikir dia itu siapa? Tidak peduli dengan sepatu seharga 15 juta won atau di pecat sekalipun, Dia pikir pernikahan itu sebuah hal yang gampang, siapa juga yang mau menikah dengan namja super menyebalkan seperti namja bermarga Oh itu. Aku bahkan belum genap 1 minggu mengenalnya.

 

Tapi tunggu ada apa dengan jantungku. “Kenapa berdetaknya cepat sekali, Aku tidak punya riwayat penyakit jantungkan?” ucapku sambil memegangi dada kiriku, mustahil rasanya hanya karena memikirkannya jantungku berdetak tak karuan begini.

 

Se Hun pov

 

“Apa sebenarnya rencanamu?” tanya Chan Yeol hyung.

Aku hanya mengeleng dan tersenyum tipis dan masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada dihadapanku.

 

“Mina mencintaimu dan kau juga mencintainya, kalian saling mencintai.” ucap Chan Yeol hyung.

 

“Suho hyung sangat mencintai Mina.” ucapku.

 

Brakkk!

 

“Kau tau, Mina selalu menangis setiap malam dan menyebutkan namamu semenjak kau mengenalkan gadis itu sebagai kekasihmu.” ucap Chan Yeol hyung sambil mengebrak meja kerjaku.

 

“Aku mencintainya hyung.” ucapku berbohong, iya memang benar aku mencintai adik Chan Yeol hyung Park Min Ah bukan Kim Ha Ni.

 

“Kau pikir aku tidak tau Oh Se Hun. Apa karena dana insvestor dari Suho hyung kau melakukan ini semua?! Apa perusahaanmu akan bangkrut begitu mudahnya tanpa dana insvestor, tidak mungkin!” ucap Chan Yeol hyung, percuma juga aku membohonginya.

 

Aku hanya bisa menghela nafas kasar. “Ini semua demi persahabatan kita hyung.” ucapku.

 

“Mina adikku Se Hun, Aku jelas tau apa kebahagiaannya.”

 

“Mianhae hyung. Tapi Suho hyung sangat mencintai Mina, Aku yakin ia pasti bisa membahagiakan Mina. Aku ingin egois hyung tapi bagaimana dengan persahabatan kita, Aku tidak bisa membiarkan kita terpecah bela hanya masalah ini, kalian sudah seperti keluargaku.” ucapku menjelaskan semuanya.

 

Chan Yeol hyung hanya diam menatap kearahku.

 

“Aku menyukainya hyung, setidaknya ia membuatku nyaman.” ucapku sambil tersenyum tipis, membayangkan sosok yeoja yang sudah aku seret ke dalam masalah ini.

 

“Kim Ha Ni mianhae.” ucapku dalam hati.

 

“Terserah kaulah!” ucap Chan Yeol hyung dan berlalu meninggalkan ruanganku dengan menutup kasar pintu ruanganku.

 

Brakk!

 

Aku pejamkan mataku, “mianhae Mina-ya. Saranghae.” ucapku.

 

***

 

Author pov.

 

Bukk!

 

“Aaww…. !” ringis Ha Ni saat ada seseorang yang menabraknya dari arah belawanan saat akan membelok di ujung koridor menuju ruangannya.

 

“Selamat nona Kim. Sepertinya kau akan menjadi nyonya besar mulai sekarang.” ucap Chan Yeol sinis.

 

Ha Ni hanya bisa diam memandangi namja yang kini sudah menghilang dari pandangan matanya.

 

“Nyonya besar?” ucap Ha Ni sambil tersenyum miris.

 

“OH SEHUN!” ucap Ha Ni dalam Hati.

 

Ha Ni pov.

 

Aku percepat jalanku untuk menuju ke sebuah ruang di ujung kanan lantai ini. Tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu aku langsung masuk, tidak aku pedulikan letak kesopanan.

 

“Aku menggundurkan diri!” ucapku.

 

Namja itu hanya diam, masih sibuk dengan berkas-berkas yang di periksanya tanpa memperdulikanku. Bahkan tidak menganggap keberadaanku sekarang.

 

“AKU MENGUNDURKAN DIRI PRESDIR DAN BESOK AKU KIRIM SURAT PERNYATAAN PERMOHONANNYA!!!!!” teriakku.

 

“Tidak bisakah kau berbicara layaknya seorang wanita terhormat nona Kim!” ucapnya lagi-lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ia kerjakan.

 

Demi Tuhan apa yang kau rencakan sebenarnya Oh Se Hun?

 

“Aku tidak peduli!” ucapku dan berbalik meninggalkan ruangan ini, percuma berbicara dengan mahkluk aneh itu.

 

“Bukan hanya karena insvertor dari Suho hyung, tapi persahabat kami, nasib karyawan Hean group! Bagaiman jika mereka di PHK!?” ucapnya saat aku berada didepan pintu ruangannya. Aku berhenti untuk mendengarnya berbicara tanpa berkomentar apapun dan aku langsung pergi dari ruangan itu.

 

Se Hun pov.

 

Ha Ni berhenti melangkah, mendengarkan penjelaskanku namun setelah itu ia langsung pergi dari ruanganku tanpa berkata apapun.

 

Aku pijit pelipisku yang terasa berdenyut. Kenapa masalahnya jadi serumit ini, Aku hanya ingin menyelamatkan persahabatanku yang sudah lama terjalin sejak masuk Senior High School dengan para hyungku dan juga bagaimana nasib karyawan nanti jika terjadi penggurangan jumlah karyawan. Aku ingin egois tapi aku akan menjadi orang terkutuk di dunia yang hanya memikirkan diri sendiri. Cinta tak harus memiliki bukan?.

 

“Apa aku salah?” gumamku.

 

***

 

Author pov.

 

“Nona Kim Ha Ni!” panggil seorang pemuda tampan saat Ha Ni keluar dari lift.

 

“Ne.” jawab Ha Ni sambil menoleh ke belakang.

 

“Apa kau masih menginggatku? Selamat sepertinya kau menarik perhatian uri Hunnie.” ucapnya sambil tersenyum manis.

 

“Ah tuan Lu Han?” ucap Ha Ni ragu.

 

“Ne. Kau manis sekali nona. Annyeong sampai berjumpa lagi.” ucap Lu Han sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

Ha Ni hanya bisa melonggo saat sosok Lu Han sudah masuk ke dalam lift dan lift itu menutup.

 

“Yang tadi marah-marah dan ini satunya tersenyum tidak jelas, mereka sama saja anehnya.” ucap Ha Ni dan melanjutkan jalannya. Se Hun dan teman-temannya sama anehnya menurut Ha Ni.

 

“Yak!” teriak Ha Ni begitu ada yang mengendongnya dengan tiba-tiba seperti karung beras.

 

“Lepaskan aku!” teriak Ha Ni.

 

“Diam atau aku cium!” ucap Se Hun.

 

Se Hun mengendong Ha Ni dan membawanya kemobilnya. Mereka menjadi bahan tontonan karyawan lainnya. Se Hun tidak perduli soal hal itu.

 

“Pakai sabuk pengamanmu!” perintah Se Hun begitu masuk mobil.

 

“Apa mau mu?” tanya Ha Ni.

 

“Dirimu!” jawab Se Hun membuat Ha Ni terdiam.

 

Se Hun memasangkan sabung pengaman kepada Ha Ni, Ha Ni harus menahan nafasnya saat wajah Se Hun begitu dekat dengannya, bahkan ia merasakan deru nafas hangat milik Se Hun.

 

Mobil Se Hun melaju dengan kecepatan tinggi.

 

“Pelan-pelan bodoh! Kau mau membunuhku ya!” teriak Ha Ni.

 

“Oh Se Hun pelan-pelan!” teriak Ha Ni lagi.

 

Se Hun benar-benar tidak peduli dengan teriakan Ha Ni. Entah setan apa yang merasukinya.

 

“Aku tidak mau lepas!” ronta Ha Ni begitu Se Hun menyeretnya untuk masuk kesebuah gedung.

 

“Aaaaa…. !” ringis Se Hun saat Ha Ni menendang bagian selakangannya.

 

“Kau?!”

 

“Yak!” teriak Ha Ni begitu Se Hun kembali mengendongnya.

 

“Oh Se Hun turunkan aku!” teriak Ha Ni. Se Hun dengan semena-mena mengendongnya layakknya beras dalam karung.

 

“Aku tidak mau!” teriak histeris Ha Ni.

 

Tbc…

 

Maaf kalau hasilnya jelek. Mohon kritiknya…
Kalau ada salah dalam penulisan maklumi ya. Ini FF pertamaku, kalau ada salah dalam pengaturan pov mohon maaf. Sengaja ngak aku edit biar jadi kenang-kenangan tersendiri buatku.
Terimakasih…

 

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Married By Accident (Chapter 2)”

  1. aduh hampir lumutan dua hari ff sehun kagak ada yang di update -_- tapi syukurlah udah update lagi wkwk #happysmile owh ceritanya makin seru sehun kok gitu sih sikapnya ke hani bikin hani bimbang wkwk lanjut thor keep writing ye 🙂

    1. Aih ngak perlu minta maaf authornim udah di update aja aku bersyukur sekali…. ^_^ apapun ceritanya selama sehun castnya aku rapopo wkwk 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s