[EXOFFI FREELANCE] Choose One (Chapter 5)

ff

[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (CHAPTER 5)

Title : Choose One

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-17

Cast : Bae Irene RV, Oh Sehun EXO, Kang Seulgi RV

Main Cast : Son Wendy RV, Byun Baekhyun EXO, Kim Jong In EXO

Disclaimer : Fanfiction pertama yang dibuat Author real 100% buatan author, tapi beberapa bagian diambil dari kisah nyata autor*abaikan*. dan beberapa bagian terinspirasi dari drama korea dan cerita-cerita romance lain. Dan ingat! Typo bertebaran dimana-mana, maklum pemula. Okey cukup basa basinya, selamat membaca~ ^_^

CHAPTER 5

“Sehun Sunbae? Kau sedang ap-“ Irene melihat Sehun sedang melihat album fotonya, dengan cepat Irene merebut album fotonya dari tangan Sehun. Sehun kaget dengan apa yang sudah dilakukan Irene, Sehun merebut kembali album foto yang sudah berada di tangan Irene. kini mereka saling memperebutkan album foto, sampai akhirnya.

Bruk!

Irene terjatuh menindih badan Sehun, kini wajah mereka berdua memerah, mata mereka saling bertemu, beberapa saat kemudian, Irene bangun dan segera mengambil album foto yang terjatuh di lantai. Sehun pun ikut terbangun dan segera berdiri.

“Sunbae, Mianhaeyo” Ucap Irene dengan malu, ia memalingkan wajahnya kearah lain, tidak berani menatap wajah Sehun.

“Tidak apa-apa, kenapa kau memalingkan wajahmu?” Sehun menepuk pundak Irene pelan, yang membuat Irene kaget.

“Ahh.. tidak apa-apa” Irene berjalan pelan kearah minuman yang tadi ia bawa.

Irene mengambil satu gelas minuman diatas nampan, ia segera meminumnya, dengan sekali teguk. Jika Irene merasa malu, ia akan minum sebanyak mungkin.

“Sunbae, Apa kau ingin melihat ini?” Irene berjalan menuju Sehun sambil memegang album fotonya.

Sehun mengambilnya pelan dari tangan Irene.

“Apa tidak apa-apa? Tadi kau tidak mengizinkanku untuk melihat ini” Sehun menatap Irene, Irene hanya tersenyum malu.

“Sekarang tidak apa-apa” Irene membenarkan rambut yang menutupi wajahnya.

“Geurae” Sehun membuka halaman pertama album foto milik Irene.

“Sunbae, apa sunbae tidak akan duduk?, sunbae boleh duduk dimana saja” Irene mempersilahkan Sehun.

Sehun mengangguk lalu duduk di pinggir ranjang Irene, Irene duduk di sebelah Sehun, ikut melihat album fotonya. Tawa mereka memenuhi setiap sudut kamar Irene, terkadang Irene menceritakan foto yang sedang dilihat mereka, kini mereka semakin akrab.

 Aku kira kau tidak suka bercanda, ternyata kau benar-benar sangat menarik. Irene, kau membuatku semakin menyukaimu, kenapa kau melakukannya? Senyum dan tawa mu membuat hatiku berdebar kencang, kau cantik, baik,dan unik. Aku belum pernah menemukan perempuan sepertimu. Saat ini, aku benar-benar ingin kau menjadi milikku.

Irene sudah terlelap di dunia mimpinya, kini tinggal Sehun yang matanya masih terbuka sempurna. Sehun sedang memandangi Irene, Irene terlihat beitu kelelahan. Sehun tersenyum tipis. Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Sehun berharap selalu melihat pemandangan yang indah ini.

Sehun berdiri dari duduknya lalu menuju jendela kamar Irene, memastikan jendelanya terkunci dengan aman, Sehun berjalan menuju pintu kamar Irene, membukanya perlahan. Sehun keluar dari kamar Irene, dan tak lupa untuk menutupnya.

“Oh, kau sudah datang” Sehun menyapa seorang perempuan yang baru saja datang dan sedang berdiri tak jauh dari Sehun, ia Wendy.

Sehun sengaja menghubungi Wendy, agar Wendy bisa menemani Irene. tidak mungkin Sehun yang harus menemani Irene semalam itu bukan?.

 

“Apa Irene sudah tertidur?” Wendy mendekati pintu kamar Irene. Sehun hanya mengangguk.

“Yasudah, terimakasih Sunbae” Wendy menmbungkuk sopan.

“Jaga dia, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku, aku akan segera menuju kesini. Aku sudah memeriksa semua jendela kamarnya, dan semuanya aman, tenang saja” Sehun berjalan menuju tangga.

Wendy mengangguk lalu segera masuk kedalam kamar Irene.

♡♡♡

Besoknya, Irene pergi ke universitas seperti biasa, ia berjalan bersama Wendy menuju gedung jurusan management. Irene melihat Seulgi sedang mengobrol dengan mahasiswa lain, Irene segera memanggil Seulgi.

Yang di panggil mengalihkan pandangannya kearah Irene, Irene tersenyum sambil melambaikan tangannya. Tetapi tak lama setelah itu, Seulgi menatapnya dengan tatapan yang belum pernah Irene liat, Seulgi memalingkan pandangannya kearah mahasiswa yang sedang mengobrol dengannya.

“Wendy-ya, ada apa dengan Seulgi? Kenapa akhir-akhir ini Seulgi selalu menghindar?”

“Molla, biarkan saja, aku sudah malas berurusan dengannya” Wendy menarik tangan Irene agar berjalan lebih cepat.

“Kau dan Seulgi sedang bertengkar?”

“Tidak, sudah lupakan saja, lebih baik kita bersenang-senang hari ini”

Irene dan Wendy sudah sampai di kelas mereka. Wendy memilih tempat untuk di duduki, Wendy memilih tempat duduk di paling belakang.

“Wendy-ya, apa kau sedang bertengkar dengan Jongin?” Tanya Irene tiba-tiba.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu? Ahh… aku malas menjawabnya” Wendy mendelik kepada Irene dan menidurkan kepalanya diatas meja.

“Ayolah, kau kan sahabatku, aku ingin mengetahuinya” Irene memohon kepada Wendy.

“Ahh.. baiklah. Aku dan Jongin sedang bertengkar. Kau pasti sudah tau kenapa kemarin Jongin memukuli Sehun Sunbae. Jongin benar-benar tidak sopan kepada Sunbaenya. Sudah pasti, dia akan di cap sebagai mahasiswa kurang ajar”

Irene hanya diam setelah mendengar perkataan Wendy. Tak lama kemudian, beberapa mahasiswa lain datang, diantara mereka, ada Seulgi disana, ia sedang mengobrol dengan teman-teman ‘barunya’.

Seulgi melihat Irene dan Wendy. Seulgi berjalan kearah Irene. seulgi menatap Irene dengan tatapan yang benar-benar membuat Irene tidak ingin melihat wajah Seulgi, menyebalkan.

“Irene-ah, bolehkah aku berbicara denganmu? Hanya sebentar, tetapi hanya kita berdua. Ikuti aku” Seulgi berbalik badan dan segera berjalan menuju pintu kelas.

Irene hanya menghela nafas dan segera mengikuti Seulgi dari belakang. Irene terus mengikuti Seulgi sampai akhirnya mereka tiba di atap gedung jurusan management. Seulgi menatap Irene tajam.

“Bae Irene” Seulgi melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau benar-benar, haha, aku tidak percaya. Kau mulai mendekati Sehun sunbae” Seulgi tertawa meremehkan.

“Aku mendekati Sehun sunbae? Itu tidak benar, aku tidak mendekatinya” Irene membantah. Memang benar, Irene tidak mendekati Sehun, tetapi Sehun yang selalu mendekati Irene.

“Kau jangan bohong, aku tahu, kau menyukai Sehun sunbae kan?” Perkataan Seulgi barusan membuat Irene mematung.

“T..Tidak, aku tidak menyukainya!”

“Ku bilang jangan Bohong! Katakan saja yang sebenarnya!. Ahh… berbicara denganmu membuatku pusing. Langsung to the point saja, aku menyukai Sehun Sunbae, dan sekarang aku mulai menjauhimu, aku sudah tidak mau berhubungan denganmu dan juga Wendy. Ku rasa kau sudah tau jawabannya kenapa aku menjauhimu” Seulgi pergi meninggalkan Irene sendiri.

Kelas sudah bubar 10 menit yang lalu, Irene dan Wendy masih berada di kelas mereka. Mereka sedang larut dalam lamunannya masing-masing. Beberapa mahasiwa yang masih berada di dalam kelas memperhatikan Irene dan Wendy yang sedang melamun, termasuk Sehun.

aku menyukai Sehun Sunbae, dan sekarang aku mulai menjauhimu, aku sudah tidak mau berhubungan denganmu dan juga Wendy. Ku rasa kau sudah tau jawabannya kenapa aku menjauhimu

kata-kata Seulgi ketika di atap gedung terus terngiang-ngiang di otak Irene, apa yang dimaksud Seulgi? Irene sama sekali tidak mengerti. Sesekali, Irene mengacak ranbutnya pelan. Menghela nafas berat. Irene mencoba mencari jawabannya.

aku menyukai Sehun Sunbae, dan sekarang aku mulai menjauhimu

Ku rasa kau sudah tau jawabannya kenapa aku menjauhimu

Irene memjamkan matanya. Tiba-tiba Irene membuka matanya, Irene menemukan jawabannya. Dengan cepat, Irene berdiri dari duduknya lalu mengambil tasnya, Irene segera meninggalkan kelas.

Irene berlari mencari seorang bermarga Kang itu, Irene mancari Seulgi. Irene melihat seorang perempuan sedang mengobrol dengan temannnya di dekat pintu keluar gedung.

Irene berjalan mendekati Seulgi. Seulgi melihat kearah Irene yang sedang berjalan kearahya. Seulgi hanya menatapnya dan segera memalingkan pandangannya.

“Seulgi-ya, aku ingin berbicara denganmu” Irene menarik tangan Seulgi menjauh dari teman-temannya.

“Kau tidak perlu menarik ku seperti ini, lepaskan!” Seulgi menghempaskan pegangan tangan Irene.

Kini mereka sedang berada di lorong yang selalu dipakai mahasiswa untuk mengobrol bersama teman-temannya, lorong yang cerah ini membuat siapa saja yang berdiri isana merasa nyaman, tetapi tidak untuk Irene dan Seulgi saat ini.

“Aku ingin meminta maaf padamu” Irene menatap Seulgi dengan waja yang bersalah.

“Haha, kau bodoh sekali” Seulgi tertawa meremekan sambil menatap Irene.

“Aku benar-benar ingin meminta maaf, aku lupa, aku lupa bahwa kau menyukai Sehun Sunbae, dan Sehun sunbae yang mendekatiku, jadi jangan salahkan aku”

Heol, Lupa? Kau bilang lupa? Kau lupa aku menyukai Sehun Sunbae? Selama kita bersahabat, kau meganggapku apa huh?! Namaku Seulgi, dan kau lupa juga?! ” nada bicara Seulgi menaik, Seulgi terlihat benar-benar kesal.

“Bukan begtiu, aku-“  perkataan Irene terpotong oleh Seulgi.

“Sudahlah! Permintaan maafmu  aku tolak! Kau terlambat! Aku sudah tidak menerima perminaan maaf dari siapapun, dan ingat! Kau harus menjauhi Sehun sunbae! ” Seulgi mendelik kearah Irene dan segera meninggalkan Irene.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Irene sedang dalam perjalanan menuju stasiun kereta, Irene memutuskan untuk pulang lebih awal, karena ia merasa tidak enak badan.

Ketika sedang berjalan menyusuri trotoar, seseorang menepuk pelan pundak Irene yang membuat lamunannya buyar, dengan cepat Irene membalikkan badannya. Sehun sudah berada di hadapannya, tersenyum.

“Ada apa Sunbae?” Irene menatap Sehun kaget.

“Apa kau akan pulang sekarang?”

Irene hanya mengangguk. Lalu segera membalikkan badannya, melanjutkan perjalanannya menuju stasiun kereta. Tak lama kemudian, seseorang menari pergelangan tangan Irene, Irene tidak membalikkan badannya, ia sudah tau siapa yang menariknya.

“Ada apa lagi?” Irene berbicara tanpa melihat Sehun yang sedang memegang tangannya.

“Maukah kau menemaniku hari ini?” Sehun melepaskan pegangan tangannya.

Irene hanya diam, tidak menjawab apapun, Sehun yang sudah menunggu jawaban Irene berjalan dan berdiri di depan Irene. lenggang beberapa menit, hanya terdengar suara pejalan kaki sekitar yang sedang mengobrol bersama teman di sebelahnya dan dengan teepon di telinga mereka.

“Aku tidak bisa” Irene berkata datar.

Wae?” Sehun menyegritkan dahinya.

“Sepertinya mulai sekarang kita tidak usah berhubungan lagi, sunbae urusi urusan sunbae sendiri, dan aku mengurusi urusanku sendiri. Dan mulai sekarang tidak usah menyapaku lagi. Jangan mengajakku mengobrol, kecuali hal penting. Terimakasih atas semua yang sudah Sunbae lakukan padaku selama ini” sebenarnya Irene tidak mau mengatakan hal itu, tetapi mau bagaimana lagi? Itu pilihan terbaik agar tidak ada permusuhan anatara dirinya dengan sahabatnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa kau menjadi seperti ini? Kemarin kita kan baik-baik saja” Sehun tidak percaya sama sekali dengan apa yang diakatakan Irene.

Mianhae. Kumohon, jangan dekati aku lagi” Irene menitikkan air matanya. Irene tidak kuasa menahan air matanya.

“Jelaskan apa yang terjadi! Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau katakan” Sehun memegang kedua bahu Irene dan menggoyangkannya pelan.

Irene hanya diam.

“Irene-ah, ayo katakan” Sehun emnggoyangkan bahu Irene, kali ini lebih cepat.

“Semenjak bertemu dengan Sehun Sunbae, aku selalu mendapatkan masalah, aku sangat terganggu dengan keberadaanmu. Sunbae selalu menggangguku sehingga aku tidak bisa fokus belajar , sekali lagi, aku mohon kau jauhi aku” Bohong, jelas bohong. Irene sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Sehun, karena keberadaan Sehun, ia bisa menghilangkan traumanya, Sehun sudah banyak membantu Irene, dan Irene merasa beruntung bisa dekat dengan Sehun, Mahasiswa pintar nan tampan. Irene tidak tega sama sekali mengatakan hal jelek seperti itu, tapi mau bagaimana? Irene benar-benar terdesak .

“Jadi selama ini kau terganggu oleh keberadaanku? Heol, aku tidak menyangka” Sehun menggelengkan kepalanya pelan.

“Jika keberadaanku mengganggu dirimu, kau bisa mengatakan hal ini lebih awal, oke tidak apa-apa, aku akan menuruti perintahmu, mulai saat ini, kau jangan menita banuanku lagi. Aku kecewa” Sehun meninggalkan Irene sendirian, Sehun benar-benar marah, ia mengacak rambutnya kesal.

Irene masih berdiri di tempatnya, Irene menyesal sudah mengatakan hal itu, Irene tau, pasti hati Sehun kini sedang terluka. Irene menundukkan kepalanya, tak lama, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju stasiun kereta.

“Kenapa aku harus mengatakan hal itu? Aisshh! Irene! kau bodoh sekali” Irene mengacak rambutnya setiba dikamarnya. Irene melempar tasnya ke sembarang arah, lalu menghempaskan badannya ke ranjang miliknya.

Irene menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu. Memikirkan kejadian di trotoar tadi. Sesekali berteriak kesal. Irene meraih ponselnya yang ia simpan di atas bantal.

Di layar ponsel Irene sudah tertera nomor ponsel Sehun, Irene ingin meneleponnya, tetapi Irene tidak berani, ia takut.

Sampai akhirnya Irene tidak menghubungi Sehun selama beberapa minggu, hubungan mereka benar-benar sangat buruk, setiap Irene dan Sehun berpapasan bertemu, mereka saling memalingkan pandangan, yang biasanya menyapa di pagi hari ketika masuk kelas, kini tidak. Mengobrol pun tidak.

♡♡♡

Irene sedang berdiri menatap langit di balkon kamarnya, kini liburan telah tiba, Ia harus mengosongkan pikirannya, tugas-tugas telah selesiai ia kerjakan. In hari ke 5 para mahasiswa berlibur, Irene memijat bau kanannya dengan tangan kirinya, ia merasa sangat pegal.

Irene menuju dalam kamarnya, ia meraih ponselnya yang ia simpan di atas meja belajar, ia akan menghubungi Wendy.

Nada tunggu telepon terdengar, tak lama kemudian, seorang perempuan di sebrang sana mengangkat teleponnya.

“Yoboseyo?” ucap Wendy di telepon.

“Wendy-ya, kau sekarang sedang sibuk tidak?”

“Tidak, memangnya ada apa?”

“Begini, aku ingin jalan-jalan, diam dirumah membuatku bosan, apa kau bisa menemaniku?” Irene berharap Wendy bisa menemaninya jalan-jalan.

“Baiklah, kau ingin pergi kemana?” Wendy menyetujui ajakan Irene, Irene tersenyum riang.

“Emm, bagaimana jika pergi ke sungai Han? Sudah lama aku tidak pergi kesana. Aku tunggu di jembatan sungai Han pukul 3 sore, oke?”

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa disana!” Wendy memutus teleponnya.

Irene bersiap-siap, ia segera menyambar handuk yang tergeletak di lantai, allu segera berjalan kearah kamar mandi.

Waktu menunjukkan pukul 14.30, Irene sudah siap untuk berangkat ke sungai Han. Irene segera keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju stasiun kereta.

“Sunbae, kau ingin pesan apa? Biar aku pesankan” Ucap Seulgi sambil tersenyum kearah sunbaenya.

“Apa saja” Ucap sunbaenya itu dingin. Seulgi hanya mengangguk dan segera memberi tau pelayan restoran apa yang ingin ia pesan.

“Sehun sunbae? Kenapa kau hanya melamun saja? Apa kau tidak enak badan?” Seulgi menatap Sehun khawatir. Sehun hanya menggeleng.

Lenggang selama beberapa menit, sampai akhirnya pesanan yang Seulgi pesan sudah datang. Seulgi segera mengambil sumpit yang berada di sebelah piring berisi makanannya.

Seulgi sudah menghabiskan setengah makananya, sementara Sehun belum menyentuh makanannya sama sekali. Banyak hal yang dipikirkan Sehun sehingga ia tidak nafsu makan. Sehun hanya menghabiskan minumannya.

“Sunbae? Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?” Seulgi membuyarkan lamunan Sehun.

“Ahh.. aku sudah kenyang”

Jinjja? Ahh seharusnya aku tidak memesankanmu ini” Seulgi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidak apa-apa, kau habiskan saja” Sehun tersenyum kearah Seulgi.

“Ahh… tidak, aku tidak makan sebanyak itu”Seulgi menggeleng sambil tertawa kecil.

“Seulgi-ya, aku ingin bertanya sesuatu” Sehun menatap Seulgi yang sedang asyik memakan makanannya.

“Sunbae ingin bertanya apa?” Seulgi menghentikan aktivitasnya.

“Seandainya kau menjadi seorang laki-laki, lalu kau mendekati seorang peremuan, tetapi di tengah kedekatannya tiba-tiba perempuan yang kau sedang dekati ingin kau menjauhinya. Kau akan berbuat apa? Kau akan terus mendekatinya atau kau menjauhinya sesuai keinginan perempuan itu?” Sehun siap mendengar jawaban Seulgi, tetapi Seulgi diam selama beberapa saat.

“Jika aku menjadi seorang laki-laki…. Aku akan terus mendekatinya” Seulgi menjawabnya dengan percaya diri.

Geurae” Sehun mengangguk sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Sehun berdiri dari duduknya.

“Seulgi-ya, aku harus pergi sekarang, ada urusan penting” Ucap Sehun sambil berjalan menuju pintu keluar. Seulgi mendesah kesal. Seulgi melanjutkan memakan makanannya.

***

“Wendy-ya!” Teriak Irene ketika melihat Wendy yang sedang bingung mencari keberadaan Irene, Irene melambaikan tangannya riang.

Wendy berlari mendekati Irene, lalu tersenyum lebar.

“Huahh, aku merindukanmu Irene-ah” Wendy memeluk Irene, Irene hanya tertawa pelam.

“Ya! Baru beberapa hari tidak ketemu, kau sudah merindukanku, kau ini” Irene melepaskan pelukan Wendy, dan segera mengajak Wendy duduk di sebuah kursi di pinggiran sungai Han.

“Oh iya, Wedny-ya, tadi aku bertemu dengan Jongin, dia berkata padaku nanti malam Jongin ingin bertemu denganmu, dia bilang sepertinya kau sedang marah padanya, jongin sudah berkali-kali menelfonmu, tetapi tidak kau jawab, apa benar kau sedang marah padanya?” Irene menatap wajah sahabatnya yang kini sedang memasang wajah kesalnya. Wendy hanya diam sambil menatap sungai di depannya.

“Wendy-ya, jawab aku, kau jangan diam seperti ini” Irene menggoyangkan lengan kanan Wendy.

“Irene-ah, aku sedang tidak ingin membahas itu” Wendy melirik Irene kesal.

Wae? Jangan jangan benar” Irene tersenyum jail.

“Tetapi aku heran, yang aku tau, kau tidak pernah berkomunikasi dengan Jongin, bahkan kau tidak mempunyai nomor ponselnya, apa kalian berdua??/” nada bicara Irene berubah, kini ia sedang menggoda Wendy.

Mwo?!” Ucap Wendy cuek.

“Pacaran” Jawab Irene singkat.

YA!” Wendy berteriak kesal sambil menatap Irene.

“Eyy, kenapa kau marah? Aku hanya bercanda”

“Bercandamu keterlaluan”

“Bukannya itu biasa saja? Semua orang bercanda seperti itu, kita tak pernah sekalipun bercanda tentang pacaran, aku ingin mencobanya, dan aku sudah melakukannya, tetapi apa respon darimu? Apa seperti itu?” Irene mengerucutkan bibirnya, ia kesal.

“Mianhae, Irene-ah. Aku benar-benar tidak ingin membicarakan soal itu, aku malas” Wendy mengacak rambutnya pelan.

“Hmm, Wendy-ya, sepertinya kau harus cepat-cepat mempunyai seorang kekasih” gurau Irene.

Wae?”

“Kau kelihatan tidak semangat hidup, kau harus mempunyai penyemangat, dan penyemangat itu seorang kekasih” Irene tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan, tetapi ia tetap mengatakannya.

“Aku selalu semangat, jadi aku tidak butuh seorang kekasih”

“Aku akan mencarikanmu seorang kekasih” Irene berkata mantap. Irene berdiri dari duduknya an mulai berjalan menjauh.

“Ya! Jongin mauku kemanakan?!” Wendy menarik tangan Irene. Irene benar-benar kaget ketika Wendy mangatakan Jongin mauku kemanakan? ­. Apa maksudnya itu?.

Mwo? Kau bilang apa barusan?” mata Irene membulat, tidak percaya.

“Aku pacaran dengan Jongin” Wendy merendahkan nada bicaranya. Dengan cepat Irene kembali ke tempat duduknya, bersiap untuk ‘mewawancarai’ sahabatnya itu.

“Sejak kapan kau berpacaran dengan Jongin?”

“Sehari sebelum liburan”

“Kenapa kau bisa berpacaran dengan Jongin?”

“Entahlah”

“Dimana Jongin menyatakan perasaannya?”

“Di tempat ini”

“Jinjja? Uahhh.. kau beruntung sekali. Lalu setelah Jongin menyatakan perasaan padamu, apa yang terjadi?”

“Kami pulang”

“Apa tidak … k..k..kiss?”

“Ya! Pertanyaan macam apa itu? Kau sudah seperti polisi saja, menayakan banyak hal pertanyaan yang tidak penting” Wendy melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Aku penasaran Wendy-ya” Irene mempoutkan bibirnya.

“Kami tidak melakukan itu”

Irene hanya mengangguk. Tak terasa hari mulai malam, langit sudah mulai menghitam, pertanda malam akan datang, bintang-bintang kecil sudah mulai terlihat, jalanan di dekat sungai Han mulai menyepi, hanya beberapa orang saja yang berlalulalang. Wendy berpamitan untuk pulang, Irene sudah mengingatkan Wendy untuk menemui Jongin, tetapi Wendy bersikeras tidak mau menemui Jongin. Irene hanya bisa diam, dan ia sudah menyampaikan amanat Jongin.

Irene berjalan di jalan sepi sungai Han, Irene menatap langit penuh bintang, indah sekali. Irene berjalan sambil menundukkan kepalanya,dan tiba-tiba, ia tidak sengaja menabrak seseorang, Irene hampir terjatuh tetapi, Irene dapat menahannya. Dengan cepat ia meminta maaf kepada orang yang ia tabrak.

Mianha-“ Irene berhenti berbicara setelah melihat orang yang ia tabrak. Ia tidak mampu berbicara lagi. Dengan cepat, Irene meninggalkan tempat itu dan segera berlari pelan, menjauh.

Siapa yang ditabrak Irene? kenapa Irene tidak melanjutkan permintaan maafnya? Kenapa Irene menjauh dari orang yang sudah ia tabrak? Nantikan di Chapter berikutnya!~

TBC

 

Haii! Kembali lagi dengan Author favorit kalian!!*Apaini?!abaikan* , sebelumnya Author mau minta maaf soal Chapter sebelumnya, Chapter sebelumnya ada kesalahan teknis, yang soal di UKS, cerita sebelum itu Author hapus, dan ternyata masih ada yang nyempil/? Disana, jadi maafkan Author yang tidak teliti ini U_U. Dan semoga kalian suka sama FF ini. Makasih yang udah ngikutin update-an FF ini sampai sini, Author bener-bener terhura*lebay**eh maskudnya terharu:’ .

Sekali lagi makasih buat para readers yang Author cintai dan banggakan *kok tiba-tiba pidato?**lupakan. Semoga kalian terus baca FF ini sampai Chapter akhir. Fighting!. 😀

DON’T BE A SIDERS! OKE?

 

 

 

 

 

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Choose One (Chapter 5)”

  1. Wahh bnerkan dugaan ku klo irene yg ada d atasnya sehun pas lg brbut album..wkwkwk

    Seulgi kok gtu bgt sihh#kesel
    Gara” seulgi sehun and irene jdi kya gtu 😦
    Buat sehun and irene baikan lg dong kakk ya ya ya..

    buat sehun nyatain prasaanya ke irene kakk kan mreka sma” suka*plakkk/seenak jidattt/ nanti End lg ya klo sehun nyatain prasaanya ke irene..wkwkwk/mian^^v
    yg d tbrak irene pasti sehun, klo bkan sehun knapa jga irene gx nglanjutin klimatnya and lari gtu aja#cerewetbgtnihanak
    maafkan aku kakk krna bnyak ngomong^^v

    Next kakk d tunggu klanjutanya, bkin pnasaran n greget soalnya..
    Hwaiting!!!

  2. itu sehun bukan ya yg ditabrak?
    penasaran nih kak….
    moga sehun dan irene bisa baikan lagi deh…
    ditunggu next chapternya 🙂

  3. FF Choose one d update dua minggu sekali ya thor??? owh aku tak suka menunggu tapi ya sudahlah selama HunRene aku rapopo… keep writing author ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s