[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 1)

philosophy of love

Tittle: Philosophy of Love
by nakashinine

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Short? Chapter | Romance | T

Disclaimer
Plot dan isi cerita original punya naka~

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

WARNING
Dialog saya-kamu dan sedikit berbelok dari EYD. Tapi masih dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Gaakan ada bahasa korea. Pure produk lokal. Wkwk.

Visit – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

 

 

-1-

“Perjalanan hati bukannya tanpa resiko.” –Perahu Kertas, Dee.

“Kenapa judulnya harus Filosofi Cinta?”

Sebuah suara yang nyaring dan riang menyambut pendengaran si pengendara mobil kala jemarinya mencoba mencari saluran radio yang mungkin menarik untuk disimak pagi itu. Sebaris kalimat Filosofi Cinta membuatnya berhenti memutar saluran. Bibirnya terangkat sedikit. Lalu menyiapkan telinga untuk menyimak.

“Banyak sekali yang penasaran dengan hal ini, kenapa Penulis novel fantasi paling terkenal tiba-tiba menulis buku dengan judul Filosofi Cinta?” Terdengar suara tawa yang ringan tepat setelah sang Dj melanjutkan komentarnya. Suara tawa yang amat familiar di telinga pemuda itu.

“Kamu memang benar. Banyak sekali. Para reader rata-rata sedikit kecewa mendengar buku terbaru saya justru pure tentang cinta. Tapi setelah mereka membacanya sampai hatam, saya bersyukur semua orang menyukainya. Filosofi Cinta mungkin memang terdengar sangat klise. Tapi tak bisa dipungkiri, meski romance adalah genre paling pasaran di dunia ini, peminatnya masih amat sangat banyak. Meskipun klise, coba bacalah. Saya menulis kisah yang amat luas dari sekedar filosofi cinta.” Ada nada advertising dalam kalimat terakhirnya, membuat si narasumber itu kembali mengeluarkan tawanya dengan pelan, yang diikuti oleh sang Dj.

Saya percaya, tidak ada tulisan seorang Bae Irene yang tidak menarik. Meskipun itu genre paling sederhana sekalipun. Agar lebih terdengar menarik, bisa ceritakan sedikit dan poin penting dalam kisah buku ini?”

“Sepertinya saya tidak bisa menceritakan isi kisahnya, tentu saja. Pembaca harus membacanya sendiri jika ingin tau,” Penulis itu tertawa lagi, membuat si pendengar ikut terkekeh pelan. “Tapi poin pentingnya adalah.. Bagaimana sang tokoh mencari penjelasan paling detail tentang cinta. Apakah cinta memang membutuhkan definisi dan memiliki filosofi tersendiri?”

xxxx

 

Pria itu menghentikan mobil yang dikendarainya di ujung halaman parkir sebuah gedung besar. Selama satu jam perjalanan, ia ditemani dengan perbincangan asik antara dj radio bersama narasumber Bae Irene. Sebelum kakinya melangkah keluar, dia meraih kantung kertas di samping jok yang didudukinya. Jemarinya meraih sebuah buku dengan cover berwarna merah  marun yang polos. Sebaris kalimat Filosofi Cinta berjejer abstrak di atasnya. Biasanya, pria itu hanya akan membaca buku pemberian, atau buku yang asal dia ambil di rak toko, lalu membelinya dan membacanya tanpa gairah apa-apa. Berbeda dengan buku milik penulis yang satu itu.  Kunjungan ke toko buku menjadi agenda wajib ketika penulis Bae Irene sudah menerbitkan karya terbarunya.

Bibir tipis pria itu tersenyum. Apakah cinta memang membutuhkan definisi? Lalu difilosofikan? Untuk yang kedua kalinya, dia membaca paragraf singkat di bagian belakang buku itu. Sinopsis yang apik, pikirnya. Namun, tidak seperti Irene yang biasanya.

“Mungkin saya harus bertanya langsung padanya. Kenapa dia mengambil tema se-kacangan ini.” Bibirnya kembali tersungging. Membayangkan bagaimana gadis itu akan bereaksi ketika bertemu dengannya.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Berbagai persoalan pelik sudah dia hadapi selama ini, sendirian. Banyak sekali yang sudah terlewati, dan mulai merubah dirinya sedikit demi sedikit. Perjalanan hati yang sempat macet karna tak tau arah, kini kembali berpetualang semenjak debutnya penulis Irene 3 tahun lalu.

“Sehun?” Seseorang mengetuk jendela pintu mobil. Pria yang dipanggil Sehun itu menoleh cepat lalu menurunkan kaca. “Saya lihat dari kejauhan, kok kamu malah diam di dalam? Masuk, yuk.”

“Hm. Kamu duluan saja, nanti saya nyusul.” Jawabnya seraya tersenyum.

Setelah pria tadi pergi meninggalkannya, Sehun kembali memasukkan buku itu ke tempat semula. Lalu meraih satu gelas cup kopi yang tadi sempat ia pesan di perjalanan menuju tempat kerjanya.

Thanks, pinjamannya, Kai.” Sehun melempar kunci mobil ke arah sang pemilik ketika dia sudah sampai di lantai 3 gedung itu. Lantai dimana dia menghabiskan hari-harinya selama ini.

“Yo.” Balas Kai yang kembali fokus ke depan layar komputernya setelah berhasil menangkap lemparan Sehun.

Sementara pria itu sendiri terus melangkah menuju meja kerjanya, melewati beberapa editor yang tengah berdiskusi dan mengedit. Atau proofreader yang sibuk berkutat dengan tumpukan naskah yang sesekali melontarkan gerutuan tak jelas. Pemandangan yang amat biasa. Kesibukan yang menyenangkan untuk ditonton, menurutnya.

“Hun! Kamu sudah kosong editing, kan?” Tepat ketika Sehun meletakkan kantung beserta kopi di atas meja kerjanya, seorang wanita menghampirinya bersama setumpukan hardcopy naskah. Lalu menyodorkannya pada pria jangkung itu, “Nih. Kamu tidak keberatan kan, kalau saya berbagi naskah untuk diseleksi? Meja saya terlalu banyak tumpukan hardcopy. Pusing!” Wanita itu bergidik dan mengangkat tangan menyerah seraya berlalu dari hadapan Sehun untuk kembali ke mejanya.

Baru saja pria itu duduk, dan menarik satu hardcopy naskah untuk dibacanya, seseorang menghampirinya lagi.

“Hun, sepertinya kamu harus jadi illustrator untuk projek utama tahun ini.”

“Buku siapa?” Tanya Sehun acuh tak acuh, sambil membuka lembaran pertama naskah dan mulai membacanya dengan seksama.

“Bae Irene. Karya selanjutnya akan menjadi karya fantasi trilogi, katanya.”

Kepala pria itu menoleh cepat, matanya membulat dengan penasaran. “Bae Irene? Di Penerbit kita?”

xxxx

 

Sebuah sedan hitam kini terparkir di halaman parkir gedung itu, beberapa orang yang berlalu-lalang memandangnya penasaran. Pasalnya, mobil mewah seharga mendekati semiliyar itu begitu asing. Bisa dikatakan, itu pertama kalinya mobil dan sang pemilik datang kesana. Beberapa orang dengan santai menebak itu pasti salah satu penulis besar yang punya projek baru dengan tim penyunting. Dan benar saja, Bae Irene turun dari sana dengan gaya santai yang casual. Surai hitamnya lurus sampai pundak. Kemeja denim dan jeans hitam membalut tubuhnya yang langsing. Ditambah flatshoes merah marun kesukaannya yang menghiasi kaki. Sebuah tas hitam selendang tergantung dibawah lengannya. Gadis itu berjalan cepat menuju pintu lobi, sambil membalas sapaan orang-orang di sekitarnya dengan ramah.

“Iya, editor Baekhyun? Saya sudah di lobi. –ah tidak usah, saya baru mau naik lift. –hmm. Terima kasih.” Setelah selesai menerima telepon dari sang calon editor, Irene masuk ke dalam lift sampai ke lantai 3. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri kala ia keluar dari lift di sebuah lorong berdesain modern.

“Penulis Bae Irene! Ah, sebelah sini.” Tiba-tiba seorang pria menghampirinya dan mengajaknya menuju ruangan yang dituju. Dia adalah calon editornya, Byun Baekhyun. “Saya mendengar siaran radiomu pagi tadi.” Katanya.

“Ah, benarkah?”

“Iya. Kamu benar, semua pembaca harus mencoba Filosofi Cinta dan menikmatinya sampai tamat. Saya jatuh cinta dengan isi ceritanya. Endingnya yang tidak diduga-duga meninggalkan pertanyaan bagi pembaca yang tidak berhasil hanyut di dalamnya. Padahal, jelas-jelas semua pertanyaan sudah terjawab tuntas dalam cerita. Meskipun, saya tidak setuju bahwa cinta memang membutuhkan definisi.”

Begitulah editor Baekhyun. Kenalan Irene bercerita sedikit tentangnya, editor yang sebentar lagi akan menikah itu adalah komentator cerewet, katanya. Kadang bisa memuji habis-habisan, tapi kalau sudah nge-judge. Bakal nyinyir habis-habisan. Irene tersenyum lebar. Sebelum ia sempat membalas komentar calon editor buku terbarunya, keduanya sudah sampai di sebuah ruangan luas yang berisi berbagai kubik kerja para penyunting. Namun tempat yang didominasi warna-warna cerah itu terlihat cukup nyaman baginya.

“Oh? Penulis Irene! Selamat datang.” Seseorang yang tengah melintas di depan mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memberi hormat untuk Irene.

Penulis cantik itu disambut hangat oleh para pegawai penyunting. Beberapa ada yang memberinya pujian untuk karya romance pertamanya. Sampai mereka berdua tiba di ujung ruangan. Di sebuah meja bundar berwarna hijau terang dekat jendela besar kantor. Irene dan Baekhyun memilih tempat duduk, bergabung bersama 2 orang lain calon tim redaksinya. Kemudian seorang pekerja magang membawakan nampan berisi 4 cangkir berisi kopi.

“Penulis Irene, suka kopi?” Tanyanya dengan ramah.

“Asalkan tidak terlalu manis, saya suka. Terima kasih.” Jawabnya sambil tersenyum. Pekerja magang itupun berlalu santai dari sana.

“Siapa kemarin yang tidak setuju kalau cinta butuh definisi detail?” Sambil meraih cangkir miliknya, Baekhyun kembali bersua dengan semangat. Bukannya mulai membahas projek terbaru, malah mengungkit-ngungkit masalah cinta.

“Duh, Baek. Maaf-maaf saja, ya. Awalnya saya pikir cinta memang gak butuh apa-apa. Tapi setelah saya baca sampai selesai. Dang! Semua wanita pasti akan merasakan hal yang sama kalau cinta bukan sekedar gabungan huruf dari c-i-n-t-a beserta filosofi-filosofinya. Alasan, tujuan, sebab, makna, sampai de-fi-ni-si yang jelas, cinta butuh itu semua!” Seorang wanita yang duduk di sebrang Baekhyun berseru dengan berapi-api, seperti sudah menemukan sesuatu paling sakral di dunia ini.

“Ah, kamu tidak konsisten, Wen.” Balas Baekhyun. Irene si pemilik novel itu tertawa ringan.

“Itu alasan kenapa saya tidak pernah menulis pure-romance dan baru memberanikannya sekarang.” Sambungnya.

“Kenapa?” Tanya seorang pria lain di dekat Baekhyun. Ketiga calon timnya itu kini mulai menyimak.

“Karna cinta itu rumit! Konflik paling pelik di muka bumi ini. Jalan cerita cinta sih, begitu-begitu aja. Tapi pengertian cinta yang berbeda-beda itulah yang bikin susah.” Irene mengernyit jenaka lalu meraih cangkir miliknya, membuat orang-orang di sekitarnya tertawa ringan.

“Saya setuju!” Komentar pria itu sembari menjentikkan kedua jarinya.

“Cih. Kalau Suho yang mengalaminya, lain cerita. Bukan cinta yang nyusahin. Tapi sendirinya yang bikin cewek susah.” Ledek Baekhyun lalu tertawa terbahak-bahak. Lelaki yang diledeknya mendelik sambil melempar pulpen kearah Baehyun.

“Oh? Iya, ini dia satu lagi anggota tim kita.” Tepat setelah itu, Suho tiba-tiba menatap dan menunjuk ke arah belakang Irene.

Gadis itu menoleh kebelakang dan saat itu juga eskpresi cerianya redup seketika. Dia nyaris saja tersedak air liurnya sendiri. Wajah familiar yang sudah tampak berbeda itu, kini tengah tersenyum kaku kearahnya. Irene hampir membuka mulut lebar-lebar jika ia tidak sanggup mengontrol diri.

“Dia juga salah satu editor kami, tapi kali ini dia akan menjadi illustrator novel fantasimu. Namanya –“

“O-Oh Sehun?”

“Apa kabar, Irene?” Balas Sehun pelan.

“Loh? Kalian sudah saling kenal?” Tanya Baekhyun.

“Hm. Dia ma –“

“Kita satu SMA.” Sambung Irene memotong kalimat Sehun, yang sudah ditebaknya akan menjadi jawaban paling mengganggu yang pernah ada.

“Wah. Kebetulan sekali, kalau begitu.” Sahut Suho.

xxxx

 

Sudah lama sekali, Irene menjadi wanita yang tidak mudah percaya dengan kebetulan. Kini baginya, dasar dari segala apa yang terjadi adalah takdir. Tapi kali ini, dia sulit sekali menerima kenyataan bahwa pertemuan itu adalah takdir. Irene ingin meyakini bahwa itu hanyalah kebetulan. Tapi nyatanya, masa lalu yang telah lama karam kini seakan bangkit dari kubur. Sehun adalah takdir, mungkin. Perjalanan hati yang sempat terhenti, tiba-tiba menggebu dalam dadanya. Dan dia kepayahan menahan semua gejolak yang bermacam-macam itu dalam dirinya.

Selama hampir 2 jam meeting santai itu berlangsung. Mulai dari menjelaskan kembali story line lebih detail, menentukan deadline naskah, judul yang tepat, kapan proses editing, proofreading, kapan diskusi sampul buku, deadline illustrasi, sampai metode pemasaran. Juga hal-hal penting lainnya dalam proses produksi buku.

Irene sama sekali tidak berniat menghitung sudah berapa kali matanya dengan mata pria tampan itu bertemu. Dia merutuki dirinya sendiri yang sulit mengontrol pandangan. Untuk tidak sekedar melirik ke arah Sehun tanpa alasan. Dan berusaha menahan kekaguman terhadap pribadi Sehun yang lebih santai dan lebih.. Berbeda. Matanya mungkin terpesona. Tapi hatinya ketakutan dan mencoba untuk bersembunyi.

“Illustrasinya tidak akan terlalu banyak, Tuan Oh. Jangan lupa kamu harus tetap kerja editing.” Sindir Wendy, ketika melihat Sehun merapihkan alat catatannya dan merenggangkan tubuh.

“Ah. Teganya. Saya pikir saya benar-benar harus fokus pada illustrasi saja.” Desahnya lalu menyengir lebar.

“Terima saja nasibmu.” Ledek Baekhyun.

“Yang paling mirisnya adalah, gajih saya tetap sama.” Desah Sehun lagi nyinyir. Ketiga orang lainnya kemudian tertawa meledek.

“Oh ya, aku harus pergi sekarang. Ada foto pre-wedding. Terima kasih, Irene. Kamu memang jenius! Selamat menulis. Saya duluan, ya.” Editor Baekhyun berdiri sembari membawa buku agendanya yang tebal.

“Kok curang?” Sahut Sehun merasa tak adil.

“Makanya cepet nikah!” Ledek Baekhyun sambil melangkah cepat keluar ruangan besar itu menuju lift.

“Kalau begitu, saya juga duluan. Terma kasih kerja samanya.” Irene berdiri, menyelendangkan tasnya sambil menunduk sopan.

“Saya temani, ya. Kebetulan saya harus ke lantai percetakan.” Sahut Wendy. Keduanya pun mulai berjalan bersama sambil membahas kembali projek mereka dengan santai.

Sementara Sehun masih di tempatnya, diam-diam tersenyum memandangi punggung Irene yang kini berlalu di pintu lorong menuju lift.

“Sst! Saya tau Irene memang sangat cantik. Tapi jangan terlalu banyak berharap, dia pasti sudah ada yang punya.” Nyinyir Suho sembari berdiri dan cekikikan, menyadari ada sesuatu yang mungkin Sehun rasakan. Yang diledek hanya mendelik ketus.

“Apaan, sih! Sok tau.” Sehun pun berdiri meninggalkan meja bundar itu menuju meja kerjanya.

“Bagaimana?” Tanya rekan kerja di sampingnya mejanya. Lelaki itu menarik tubuh bersama tempat duduknya mendekati kursi Sehun.

“Bagaimana apanya sih, Yeol?” Pria itu balik bertanya, matanya tak berpaling dari hardcopy naskah yang tadi sempat tertunda untuk diseleksi olehnya.

“Irene, Hun. Irene!” Decak Chanyeol gemas. “Dia itu mantanmu, Hun. Mantan yang selalu kamu bahas gak jelas. Masa cuma gitu aja? Gak niat nerobos hatinya lagi, nih?” Lanjut Chanyeol dengan intonasi super gemas. Sehun menghela nafas, kemudian menoleh ke arah temannya dan menatap lelaki itu dengan serius.

“Nerobos? Kamu pikir saya bulldozer, bisa nerobos tembok yang kokoh gitu aja?”

xxxx

 

Irene keluar dari lift dan melintasi lobi dengan perasaan campur aduk. Sehun. Itu Sehun! Teriaknya dalam hati. Makhluk 7 tahun lalu yang dia pikir sudah tenggelam di perairan paling dalam  samudra. Dia mungkin tidak akan pernah lupa. Tapi, perasaannya sudah ikut tenggelam sejak lama. Lama sekali. Itu salah satu alasan kenapa hatinya masih tertutup rapat untuk segala tetek bengek soal cinta. Usianya 25 tahun, tapi tak satupun laki-laki bisa menariknya ke urusan semacam itu.

“Irene.” Seseorang tiba-tiba memanggil namanya ketika langkahnya baru saja akan melewati pintu kaca gedung itu. Sebelum menoleh, dia menarik nafas. Irene hafal sekali suara siapa yang baru saja memanggilnya itu. Dia kemudian berbalik, dan menemukan Sehun sudah berdiri di hadapannya.

“Ya?” Balas Irene, mencoba tersenyum ramah. Sehun ikut tersenyum.

“Abis ini kamu ada acara lain?”

“Eh?” Senyum Irene mulai memudar, kedua alisnya terangkat tanda tak paham.

“Saya mau mengajak kamu makan siang. Kalau kamu tidak sibuk, sih.”

Irene diam sejenak, memalingkan matanya untuk sekedar berpikir. Dia rasa, tidak. Jika tak ada urusan apapun, dia tidak seharusnya menerima ajakan Sehun.

“Ada yang mau saya bicarakan juga.” Ucap lelaki itu lagi, mencoba membujuk.

“Harus?” Tanya Irene sambil tersenyum.

Itu jawaban yang sedikit kecut bagi Sehun. Namun dia tak mau menyerah.

“Saya rasa, harus. Ada tempat makan enak dan murah di sekitar sini. Bahkan kalau kamu tidak lapar sekalipun, saya harap kamu tetap mau mampir.”

Setelah berpikir, dan mengkesampingkan logika, akhirnya Irene dan Sehun saat ini berada di sana. Duduk saling berhadapan di tempat makan pinggiran jalan yang sederhana. Setelah memesan makanan masing-masing, Sehun membuka percakapan sambil tersenyum.

“Sepertinya kamu belum menjawab pertanyaan saya.”

“Pertanyaan? Pertanyaan yang mana, ya?” Alis Irene menyatu, mencoba mengingat kapan Sehun melontarkan pertanyaan padanya.

Lelaki itu menyengir lebar, “Apa kabar, Irene?”

“Aah. Itu? Itu pertanyaannya?” Balas Irene sambil menganggukkan kepala, “Saya sudah menjadi penulis sesuai mimpi saya, Oh Sehun. Tentu saja kabar saya baik.” Senyum Irene mengembang, menyombongkan diri sembari sedikit bergurau.

Sehun terkekeh pelan, “Kamu benar. Terlihat dari penampilanmu, juga mobil mewahmu. Dan produktifitasmu dalam menulis, kamu amat baik-baik saja. Bae Irene.”

“Jelas, dong.”

“Bahkan tanpa saya, mimpi besar kamu benar-benar menjadi nyata.” Senyum Sehun sedikit menurun, ada ekspresi sesal yang tersirat dalam wajahnya.

Irene diam, menoleh ke arah lain lalu berdehem, ketika menemukan topik pembicaraan lain. “Kamu sendiri? Bukannya kamu itu seorang pelukis? Kenapa banting setir jadi editor? Jauh banget.” Tanyanya dengan nada nyinyir khas Irene.

“Tujuh tahun. Banyak yang terjadi selama itu, Irene. Saya terpaksa mengubur mimpi saya menjadi pelukis. Semenjak meninggalkan kamu, saya jadi takut sekali untuk bermimpi.”

Irene terkekeh, “Saya yang ditinggalin. Kok kamu yang takut bermimpi.” Sindirnya sambil tersenyum meledek.

Lelaki itu tersenyum kecut, “Justru karna saya sudah meninggalkan kamu. Mimpi saya jadi tercampur aduk dengan ingatan-ingatan tentang kamu. Dan itu membuat saya takut.”

Irene mendesah pelan mendengar jawaban Sehun yang terlalu jujur. Kepalanya menoleh lagi ke arah lain, tak ingin ikut campur dengan masa lalu yang mulai tergambar dari mata pria itu.

“Lagipula, saya tidak bisa seperti Vincent van Gogh yang bisa menciptakan lukisan jutaan dollar. Saya juga tidak sejenius kamu dalam menampung ide. Buku pertama kamu saja bahkan berhasil menjadi best seller hanya dalam waktu 4 bulan. Lukisan saya –“

“Jadi kamu melukis hanya untuk uang?” Sindir gadis itu lagi sembari tersenyum ketus.

“Bukan begitu maksud saya.” Sehun tertawa miris, merasa jatuh karna sejak tadi Irene mengeluarkan nada-nada yang sarkastis terhadapnya. “Ada banyak realita yang harus saya hadapi, sejak itu. Sampai saya akhirnya harus memutuskan menjadi laki-laki yang punya pekerjaan tetap dan bukannya cuma duduk berkutat dengan kanvas di markas. Saya benar-benar gagal lupa setiap saya melukis. Itu membuat saya frustasi, Irene.”

Suasana lengang beberapa saat. Sampai semua pesanan mereka datang di atas meja, keduanya masih terdiam. Sehun meraih gelas dan meneguk isinya untuk sekedar menyegarkan tenggorokannya yang mulai kering.

“Saya hampir ditendang dari rumah karna minta resign dari kampus hanya karna saya ingin fokus melukis. Meskipun akhirnya saya tetap lanjut kuliah sampai sarjana dan terjun ke dunia penerbitan.” Lanjut Sehun pelan. Mendengar hal itu, gadis di depannya segera menjawab dengan cepat.

“Saya sudah ditendang dari rumah, saat saya memutuskan secara sepihak untuk resign di semester 5 dan memilih fokus menulis.” Irene kemudian tersenyum kecut, mencoba untuk tidak mengingat lagi masa-masa sulitnya.

Sehun terbelalak mendengar itu. Gadis nekat, komentarnya dalam hati.

“Tapi setelah ayah melihat kesuksesan buka saya. Dia meminta saya untuk kembali, menerima saya dan meminta maaf karna sudah tidak mempercayai mimpi saya.”

Sehun tersenyum, “Kamu memang pemberani, Irene. Keberanian kamu terlahir bukan karna adanya saya. Jadi pantas, jika kamu berhasil naik sejauh ini sampai sekarang.”

“Saya pikir, hidup saya gak kalah susah dibanding hidup kamu, waktu itu.”

Sehun tak merespon selain mengangkat ujung sebelah bibirnya. Lalu keduanya meraih sumpit masing-masing. Mulai menyantap menu di hadapan mereka.

“Tapi kok, kamu bisa jadi editor sih? Kamu kuliah bahasa?”

Sehun menggeleng, “Saya kuliah Management. Tapi cari kerja di kota ini benar-benar susah. Waktu itu, kenalan saya yang bekerja di penerbit, tau keahlian saya dalam menggambar. Dia menawari saya untuk menjadi illustrator. Tapi freelance karna butuhnya gak lama. Saat itulah dimana saya bertemu para editor kemudian tertarik untuk belajar editing selama beberapa bulan. Dan alhasil, inilah saya sekarang. Editor. Kadang-kadang juga jadi illustrator kalau memang dibutuhkan.”

“Iya, kadang-kadang. Tapi illustrator jelas-jelas berbeda dengan melukis.”

“Saya masih suka melukis kok, kalau sedang free. Kapan-kapan saya akan ajak kamu ke markas saya, deh.”

Irene diam, memandang Sehun dengan kaku. Itu ajakan tak disengaja, atau bagaimana? Pikirnya.

Lelaki itu mengangkat wajahnya, menatap Irene beberapa detik sampai dia sadar apa yang baru saja dikatakannya. “Kalau tidak tertarik, juga tidak apa-apa. Saya cuma menawarkan.” Dia tersenyum lalu kembali menyumpit makanannya.

“Kamu bilang, kamu takut bermimpi karna itu membuat kamu ingat saya.”

“Hm.” Sehun mengangguk.

“Tapi kamu malah masuk ke dunia dimana pasti ada saya di dalamnya.”

Sehun menoleh membalas tatapan Irene, “Saya bilang kan, saya takut bermimpi. Bukan takut bekerja. Kamu paham betul bahwa dunia kepenulisan sama sekali bukan mimpi terbesar saya.”

Irene lalu terkekeh pelan, “Kamu memang aneh. Sejak kapan jadi editor?”

“2 tahun yang lalu.”

“Tuh, kan. Bahkan waktu itu kamu pasti sudah tau kalau saya sudah berhasil menjadi penulis.”

Sehun tertawa pelan, “Tentu saja. Saya bahkan sudah menjadi penggemar rahasia buku kamu sejak pertama kali kamu debut menjadi penulis.”

Irene menggelengkan kepalanya heran, dihiasi dengan tawa ringannya yang khas.

“Oh iya,” Sambung Sehun setelah meneguk habis isi gelasnya, “Saya ingin sekali menanyakan pertanyaan ini. Kenapa kamu memutuskan untuk menulis buku kacangan seperti Filosofi Cinta?”

“Kacangan, katamu?” Sergah Irene lalu menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan, lagi. “Saya sudah mengatakan ini pada tim kita tadi di kantor. Saya baru berani menulis pure-romance karna itu adalah genre paling manyusahkan bagi saya. Genre paling membingungkan dan abstrak. Saking susahnya, draft dari Filosofi Cinta ini membusuk bertahun-tahun, prosesnya lama sekali. Lebih lama dari semua novel-novel fanstasi saya, asal kamu tau.”

Lelaki dihadapannya mengangguk-anggukan kepala pelan, “Jadi, selama itu apakah kamu benar-benar menemukan jawabannya? Apakah cinta memang membutuhkan definisi yang jelas? Apakah filosofi cinta itu penting?”

Irene meneguk isi gelasnya sampai habis, lalu tertawa sambil menggelengkan kepala.  “Saya sama sekali tidak tau jawabannya sampai detik ini. Tapi saya berani membuat si tokoh utama wanitanya menjadi manusia yang tidak percaya kalau cinta itu tidak butuh apa-apa. Tokoh ciptaan saya itu bilang; cinta tanpa definisi adalah omong kosong.”

Sehun diam sejenak, menatap Irene penuh lekat. “Bukankah kamu juga seperti itu?”

Seketika Irene menurunkan tawa ringannya, menyisakan sedikit senyum sambil mengerutkan kening dengan gemas, “Jangan bahas itu. Saya tidak mau terlalu terbawa perasaan karna sudah mengingat hal semacam itu.”

Sehun terkekeh pelan, melihat reaksi sarkasme Irene. Agaknya, gadis itu memang cukup sensitif terhadap masa lalu.

Beberapa menit selanjutnya, mereka mengobrol santai layaknya dua partner kerja yang sudah lama kenal. Meski begitu, pada kenyataannya mereka memang dua partner kerja yang sudah lama kenal. Hanya saja disisi lain, mata Sehun memandang Irene berbeda. Memandang fakta bahwa gadis cantik itu adalah cinta pertamanya.

“Banyak sekali yang ingin saya tanyakan seputar buku-buku kamu sebelumnya. Kadang-kadang, untuk beberapa tokoh yang pernah kamu ciptakan, saya seperti sedang membaca diri kamu.”

Sehun dan Irene kini sampai di halaman parkir gedung tempat mereka akan membangun projek bersama. Gadis itu kini bersandar di sisi mobilnya sambil melipat tangan di dada, menghadap Sehun yang tengah menatapnya seraya tersenyum ringan.

“Kalimatmu iitu,” Irene terkekeh, lagi-lagi mengeluarkan nada sarkastis sambil menggeleng pelan, “Seolah-olah kamu sangat tau saya itu seperti apa.”

Sehun tertawa pelan, “Apa saya harus menyebutkannya satu-persatu?”

“Lebih baik saya pergi sekarang, sebelum kamu berubah jadi laki-laki paling cerewet di dunia ini.” Irene tersenyum meledek sambil membuka pintu mobilnya, baru saja dia akan menaikkan kaki untuk duduk di balik setir, tangan Sehun menahan pintu mobil itu.

“Irene.”

“Hm?” Gadis itu menoleh spontan.

“Jika besok-besok saya ajak kamu lagi untuk makan siang seperti ini. Tidak akan ada yang keberatan, kan?”

Irene tersenyum, membuat Sehun berharap-harap cemas. Arti dari senyuman Irene selalu diluar ekspektasi.

“Tidak, sih. Tapi mungkin saya yang akan keberatan.” Alis Irene terangkat jenaka, dia lalu duduk di balik kemudi dan menutup pintu mobil.

Sehun tersenyum menyerah sambil menggaruk pinggir kepalanya dengan telunjuk. Setelah mobil itu berlalu dari sana, ia baru bisa menghela nafas dengan lega. Sudah jelas, kan? Tidak akan ada orang lain yang keberatan. Selain diri Irene sendiri.

–To be continued–

NAKA’s STORY:

Huahahahah Naka tiba-tiba dateng bawa ff baru ih. DRAFTnya apa kabar? YAA GITU DEH HAHA. Ngga deng.

Jujur, minggu ini aku cuma kirim ff ini, draftnya belum lanjut karna pas mau lanjut tiba-tiba ada masalah personal yang gak bisa dihindari. Jadi ya, aku cuma sempet bikin ini aja minggu ini hiks T.T

Kenapa ya, sehun-irene lagi? Wkwkwk. Entah kenapa, waktu proses casting(?) yang melintas di otak cuma sehun-irene lagi yang paling cocok. Alhasil, meskipun punya kisah lain tentang hunrene. Tapi da aku mah apa atuh. Gak bisa ngelak dari pesona sehun. /ganyambung/

Jadi ada 2 kisah hunrene yg berbeda dalam otakku saat ini (lebih sih sebenernya): yang satu tentang 2 anak SMA yang super naif. Dan yang satu ini tentang 2 orang dewasa yg terjebak nostalgia setelah 7 tahun lamanya gak ketemu. /tjie/

Jadi, apa yang aku ambil dari film PK dan AADC2 sebagai inspirasi?

Pertama, cerita tentang seorang pelukis dan seorang penulis seperti karakter Kugy-Keenan di Perahu Kertas. Kedua, tentang 2 sejoli yang terjebak nostalgia kaya Cinta-Rangga di AADC2. DAN ketiga, kedua film ini sama-sama pake dialog saya-kamu. Suka aja, kesannya jadi nggak centil aku-kamu-an gitu :3 hehe MESKIPUUN semua FF aku dialognya aku-kamu. lol.

Catatan (gak) penting: Ff ini cuma ff selingan aja antara Draft dan projek baru. Ini ceritanya lebih romance dari Draft, tapi lebih ringan juga dan chapternya lebih pendek. Karna otakku selama ini isinya mikirin Draft mulu sampe mentok susah nembus(?). Aku butuh refresh otak, nulis kisah lain supaya feel di Draft naik kembali hoho.

Aku gamau janji sebenernyaa. Tapi, minggu depan aku usahakan kirim 2 chapter Draft. DAN tidak lupa kaiseul momentnya wkwk. Gak sadar aku udah melupakan kaiseul di 2 chapter berturut-turut wkwkwkwkwkwkwkwkwkk. Ngakunya kaiseul hard shipper tapi bikin FF HUNRENE MULU HUAHAHAHH.

Catatan (gak) penting lagi: Philosophy of love ini bisa diibaratkan pemanasan sebelum aku mendebutkan projek baru. Tapi masih belum siap. BOCORAN: ceritanya bakal mirip kaya ff ini, tentang dunia kepenulisan. Tapi topik utamanya ada pada dunia kepenulisan itu sendiri, sedangkan romancenya cuma bumbu penyedap, rencananya. DAAN CASTNYAAA bukan sehun-irene. Hoho. Jangan ditungguin, deh ya. Lol. Orang naskahnya aja masih 10% wkwkwkwkwkwkwkk /calon-calon php/

Catatan terakhir: Aku gak yakin loh. Ff ini bakal selaku draft nggak, ya? (emang draft laku? Wlek.)

Tinggalkan jejak dan xekian.

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 1)”

  1. Hallo aku reader baru di sini, aku lagi bosan dan cari cari ff pas ketemu ini ehh tertarik banget dengan quotes quotes nya jadi aku baca dan ternyata menarik ceritanya. Aku ijin baca ya!! . Aku juga mau tanya apa akhirnya cinta memang membutuhkan filosofi?? Atau buku yang di tulisnya itu akan salah??. Thanks ya, semangat untuk crita crita yang lainnya. (Jujur aku suka pemakaina saya – kamu) 👍👍👍

  2. Baru tau kalo author-nim publish ff ini buat selingan draft. Bagus thor ceritanya ngebayangin kalo ini drakor yg disiarin di tipi trus dubbingannya pakai saya-kamu hihihi so unique

  3. Bagus thor aku suka^^
    Tapi kenapa aku rada gimana gitu kalau baca kamu, apa karna keseringan baca kau ya
    Penasaran sama kelanjutannya^^

  4. Haloha Tyar,,,ye wlopun telat tp karna aku suka kamu/ alah modus/ ga denk serius karna penasaran pastinya,,n oas dapet banyak sinyal,/ klo ini seriusan.. huhuu tp masi error mulu pas koment ‘DRAFT’ tau masuk pa ga,,kaya nya musti kirim ulang nanti..
    –Hunrene– Exix abis ya,,Kaiseul hem Tyar masi kebayang KaiStal ya,makanya moment Kayseul dikit,
    -btw disini ada Kaiseul jg ga,,??
    – lanjut chap 2 nya aj x ya biar tau

  5. Ihh seru banget jadi gereget…
    Mari bernostalgia hehe 🙂
    Seru ihh jadi penasaran lanjut lagii…
    Semangat

  6. aq penasaran knp mereka dlu mmilih untuk putus?
    dan yg mutusin sehun lagi….tp dia justru gk bisa move on,heeemmm….
    mereka sama” mmpunyai impian.
    apa alasan mreka putus krna ingin mngejar impian mreka masing” ya?
    tp dsini sehun mmilih mnyerah trhadap mimpinya dan dia lbih mmilih mnuruti kemauan ortunya untuk lanjutin kuliahnya….
    yah walaupun akhirnya mlah jd editor,hehehe…
    eh si sehun milih jd editor itu jg krna irene kan?
    secara irene udh 3th debut jd penulis, jd dia pngen bisa ktemu irene lg gitu????
    moga mereka brdua bisa kmbali bersatu deh, syang bgt klau smpe gk jadian lagi…
    sehun kejar irene ya, menangkan hati ny lagi,okey 🙂

  7. Kak Naka tahu ngakkkm aku selalu stay tiap sabtu buat baca FF DRAFT?? FF itu anti mainstream kak aku suka sekali huhu :’) akh tapi ff ini juga keren apalagi main castnya HunRene. Sebenernya aku punya banyak banget pertanyaan tapi sudah terjawab di Naka’s Story wkwk, kak Naka udah janjinya minggu depan DUA CHAPTER FF DRAFT #wkwkmaksa owh buat ff ini pertama baca kirain future story dari draft #draftlagidraftlagi ternyata bukan. Aku nunggu ff kakak yang selanjutnya biarpun main castnya bukan bias tapi rapopo aku legowo kok 🙂 kakak tetap semangat menulis ff untuk readersmu ini ok! satu kata biat kak Naka keep writing, fighting,ganbatte,hwaiting dan semangat… yosh yosh… Sekian cuap-cuap dari reader absurdmu ini. Owh dan maafkan karna aku tak pandai berkomentar kakak ^_^

    1. OKE OKE PARA KOMENTERS NAGIH DRAFT TERNYATA 😂😂
      Janji gak ya…..kekekekekk aku usahakan deh hiks aku terhura makasih sudah setia menunggu yea keep reading fighting!! Makasi makasi 😂

  8. Aku liat ff author-nya kak naka langsungg kagettt …jujur ya ,dri seminggu yg lalu udh nunggu klanjutan draft padahal …tpi gpp dh,biar selingan 🙂
    Aku suka kok,soalnya aku hunren garis keras :v haha
    Keep writing ya Kak Naka,
    Pokoknya janji ya bsok draft-nya kak2 chapter!!!!

    1. #HUNRENEGARISKERAS 😁
      wkwkwkwkwkk iya nih tanpa aba aba aku tiba tiba ga apdet draft huhuhuu janji gak yaaaa huahahahahh aku usahakan deh ya selamat menunggu makasiih 😂

  9. Bagus banget asli ceritanya
    beda banget dr crta yang lain
    ohh yaaa draft laku kok aku nungguin dan ga muncul muncul taunya muncul ini
    seru banget tetep semangat bikin fanfic hunrene yaa sering” bias aku
    diblog ini cuma baca hunrene hehe

  10. Haaiii authornim tersayang…
    Lg buka ini wp kirain draft udh apdet, eehh ada epep baru..
    Ane suka2 ajin krna emg castnya hunrene hehe..
    Bahasanya baku yeth? Ala ala aadc “saya kamu” gt jd agak kagok dengernya.. Tp gpp koq cocok2 aje
    Ditunggu draftnya yaaa.. Fightiiingg

    1. Haai sehun’s skin kekekekk mulai sekarang panggil aku tyar aja yaa 😁
      Duh banyak yg nungguin draft ya wahahahahahh selamat menunggu draft yaa makasiih 😁

  11. Kak Naka ini mah beda jauh sangat sama draft. Aku sempat mikir, apa jangan-jangan ini kelanjutan kisah dari draft? Ternyata beda, semoga benar ya kisahnya lebih romance gitu :v. Kak naka mah jagonya mencuri hati orang dengan kisah HunRenenya 😀 okey aku tunggu chap duanya, juga ff baru, terutama draftnya :v FIGHTING!!

    1. Wkwkwkwkwkk kan kan aku ini anaknya rada tukang php gitu sih ya jadinya :v masa sih doh doh udah mau nungguin draft aja aku udah syukur wkwk makasihyaa selamat menunggu 😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s