[EXOFFI FREELANCE] Even It Hurts (Chapter 1)

PhotoGrid_1462416656309

Even It Hurts

By

Lawliet

Main cast

Bae Irene // Oh Sehun // Bae Suzy// Ten

Genre

Romance, Sad, Familyship, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

FF absurd ini murni buatan author yang juga absurd. Jadi jika ada kesamaan tokoh, latar dan sebagainya itu murni atau mungkin tidak sengaja. Dilarang memplagiat ff author atau mengcopy tanpa seizing author, awas typo disana-sini.

 

“Aku tahu ini salah tapi aku benar-benar mencintainya.

Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya.”

“Meskipun itu sakit, aku tidak akan pernah berhenti.”

“Sekali lagi, maafkan aku.”

 

CHAPTER 1-

 

 

Author’s Side

Kedua kakak beradik itu tertawa, membuat orang-orang yang melihat mereka hanya sekedar berbisik-bisik saja. Siapa yang berani menegur mereka? Dua gadis bersaudara yang hampir menyentuh kata ‘sempurna’ yang menjadi saingan seluruh mahasiswi di Universitas Seoul, namun menjadi impian bagi seluruh mahasiswa disana. Bae Suzy, gadis berusia 23 tahun dan adiknya Bae Irene,  gadis berusia 21 tahun. Kecantikan, otak cerdas, keluarga mapan, disandang oleh mereka. Maka tak perlu diherankan Suzy memegang gelar mahasiswi teladan di Universitas ternama Korea Selatan itu.

Deg!

Irene merasakannya lagi, setiap kali dia melihat pria bersurai kecoklatan, bertubuh jakung, dan berkulit putih itu jantungnya berdebar cepat, darahnya berdesir, namun tubuhnya terasa kaku. Ia lama menyadari bahwa hal seperti itu yang sering disebut orang lain dengan ‘cinta’. Namun hari ini akhirnya dia tahu, setelah dua tahun lamanya, akhirnya dia tahu bahwa dia menyukai sekaligus mencintai sunbae-nya itu.

Onnie,” Irene menoleh pelan kearah kakak perempuannya –Bae Suzy.

“Hm?” Suzy ikut menoleh kearah adiknya yang tubuhnya lebih pendek beberapa senti darinya.

Onnie, sebenarnya aku sedang menyukai seseorang.” Irene hanya sanggup menggigit bibir bawahnya, sedangkan Suzy sukses membulatkan bola mata dan bibir mungilnya.

“Benarkah? Siapa itu? Sejak kapan?” Suzy menarik-narik lengan baju adiknya, betapa senang sekaligus kagetnya dia mendengar kalimat yang sudah sejak lama ia ingin dengar dari bibir adiknya.

Irene menatap kakaknya kemudian menjulurkan lidahnya, “Tentu saja rahasia, namun yang pasti aku mulai menyukainya semenjak aku kuliah disini.” kali ini Suzy benar-benar ingin menendang pantat adiknya, namun ia hanya menokok kepala adiknya saja.

“Itu dua tahun yang lalu dan kau baru mengatakannya padaku sekarang? Wah..sincha.” dia menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat sehingga membuat Irene tertawa.

Onnie, hentikan itu! Kau membuatku geli.” Irene memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

“Biarkan saja, aku kesal karena adikku berkhianat padaku.” jawab Suzy kesal, mungkin kali ini sungguh-sungguh.

“Aku berkhianat? Baiklah, kalau begitu, siapa itu milky honey, eoh?” Irene melipatkan kedua tangannya di depan dadanya sambil meniup-niup wajahnya.

“A-apa, a-apa maksudmu?” Suzy tergagap, entahlah mungkin rahasianya terbongkar.

“Aku mengaku kalau aku salah, tapi itu ada alasannya. Aku terlalu lama menyadari perasaanku terhadap sunbae itu. Tapi kau, kau menyembunyikan seseorang padaku.” ujar Irene kesal, jika ia menyembunyikan orang yang disukainya maka Suzy menyembunyikan –pacarnya.

“Maksudmu, aku merahasiakan sesuatu?” Suzy memandang Irene, Irene mengangguk cepat pertanda bahwa jawaban untuk pertanyaan Suzy adalah, iya.

“Hah, seorang Bae Suzy bukanlah seseorang yang mau menyembunyikan rahasia. Itu sangat, eww.” Suzy berbicara angkuh sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.

Heol. Apakah itu sebuah bualan saja? Bagaimana jika seorang Bae Irene memiliki bukti, hm?” Irene tersenyum penuh kemenangan, sambil mengangkat ponselnya ke atas dan disitu terpampang sebuah gambar screenshoot percakapan Suzy dengan.. mungkin pacarnya.

Lagi, mata Suzy membulat sempurna bahkan kali ini hampir keluar.

Ya! Bae Irene darimana kau mendapatkan itu?” Suzy berusaha merebut ponsel yang ada ditangan Irene, namun Irene dengan gesit mengelak dari tubuh Suzy.

Ya! Bae Irene, segera hapus itu dari ponselmu!” Suzy kehabisan kesabaran, bagaimana mungkin adiknya membaca semua percakapannya dengan pria itu?

“Tidak akan, sampai kau memberi tahuku siapa itu milky honey.” Irene tertawa senang, ternyata cukup menguntungkan memiliki gambar ini di ponselnya.

“Baiklah, aku akan memberi tahunya. Jadi, hapus itu sekarang.” Suzy menghentakkan kakinya, andai saja ia punya sesuatu juga untuk mengancam Irene, namun nihil ia tidak pernah sempat untuk menyimpan hanya satu saja aib adiknya.

“Hahaha.. onnie, jangan membohongiku. Aku sudah sering menerima segala macam tipuan darimu.” Irene tertawa lagi, dia tertawa karena Suzy sedang membohonginya sekarang.

Gurae, aku tidak bohong kali ini, itu adalah .. mantan pacarku, jelas, dia itu mantan pacarku!” jawab Suzy yakin dan pasti, namun jawabannya membuat Irene semakin terpingkal-pingkal.

Mwo? Mantan pacar? Apakah mantan pacar akan mengirim pesan seperti, sayang aku sangat ingin memelukmu sekarang? Heol. Mantan pacar macam apa itu?” Irene tersenyum jahil, kali ini dia yakin bahwa onnie-nya sudah kalah telak.

Aishhh..Ya! Baiklah itu PACARKU! KAU PUAS SEKARANG?” Suzy mendengus kasar, kemudian pergi meninggalkan adiknya dengan senyum terkecut yang pernah dimilikinya.

“Hihihi.. onnie, kenapa baru memberitahuku sekarang? Siapa pria itu? Sejak kapan kalian pacaran?” Irene mengikuti Suzy yang kesal dengan senyum kemenangan miliknya.

***

“Hihihi.. aku tidak menyangka onnie pacaran diam-diam. Apa ini sejenis backstreet?” Irene tetap bercuap, menjahili Suzy yang jengkel walaupun saat ini pelajaran sedang berlangsung.

“Diamlah, aku sedang fokus sekarang.” Suzy membalas pertanyaan Irene dengan nada dingin.

“Uwaah.. onnie sudah terkena virus apa? Onnie fokus kemana? Ke Dosen Park atau rahasia onnie yang sudah ketahuan?” Irene tetap menggoda Suzy walaupun sudah diperingatkan untuk diam.

Ya! Kau tidak bisa diam, eoh?!” Pekikkan Suzy membuat Dosen Park berhenti berbicara dan seluruh warga kelas menoleh ke arahnya.

“Nona Bae, jika tidak bisa diam silahkan keluar.” Dosen Park menatap Suzy dengan tatapan dingin.

“Nona Bae yang mana, pak?” seorang pria tiba-tiba saja ikut campur dengan santainya.

“Oh Sehun, keluar.” pertanyaan pria bernama Oh Sehun itu tidak dijawab tetapi dia malah diusir.

“Ah… terimakasih banyak, pak. Aku sangat ingin keluar dari tadi.” Sehun mengangkat tubuhnya kemudian bersiap untuk keluar.

“Aku juga ingin keluar, pak.” Suzy berdiri dan mengikuti jejak Sehun membuat warga kelas semakin kaget.

Onnie, kau marah, ya?” Irene memegang pergelangan tangan kanan kiri Suzy, dia mulai merasa bersalah karena Suzy juga ingin keluar.

“Tidak, nanti temui aku di café depan kampus, ya.” Suzy beranjak tanpa menoleh, meninggalkan Irene dengan perasaan bersalahnya.

“Terserah kalian saja.” Dosen Park kemudian melanjutkan pelajarannya tanpa mempedulikan kedua orang tadi, toh nilai mereka yang bakalan buruk nantinya.

Irene hanya diam, ia berpikir apakah dia sudah terlalu kelewat batas?

Irene’s Side

Berjalan sendiri adalah hal yang paling aku benci. Namun kali ini mau tak mau aku harus melakukannya. Aku berjalan sambil sesekali menoleh kesana dan kemari, siapa tahu nanti aku dapat  melihat pujaan hatiku, Sehun sunbae. Tapi entahlah,  mungkin saja pria itu sudah pulang karena dia diusir tadi. Lagipula pria bernama Sehun itu selalu tidur  atau melamun saat pelajaran berlangsung. Dia tidak pernah serius, apalagi pada saat kelas Dosen Park. Melihatnya menguap selalu saja membuatku tertawa, wajah tampan itu ah.. aku malu mengakuinya. Namun yang aku bingungkan sekarang, bagaimana caranya menyampaikan perasaan tololku ini kepadanya? Aku ini ‘kan seorang gadis dan umurku sudah 21 tahun, mana mungkin aku menggodanya ‘kan? Jadi apa yang harus kulakukan agar perasaanku sampai padanya?  Aishhh… bicara apa aku ini?

Entah mengapa café itu terasa  sangat jauh bagiku, mungkin karena berjalan sendiri, ya?

Dan sekarang aku sudah bisa melihat gedung café itu dari gerbang kampus, mataku melihat sepasang kekasih atau semacamnya sedang duduk sambil berpegangan tangan di kursi yang berada di luar gedung café. Tapi tunggu, aku mengucek mataku sebentar dan sekarang aku yakin mataku tak salah lihat. Itu.. itu.. onnie dan Sehun sunbae.

Author’s Side

“Oh, Irene-ah.” Suzy melambaikan tangannya agar Irene dapat melihat mereka, walaupun sebenarnya Irene sudah tahu.

Kaki Irene lemas, enggan untuk melangkah. Pemandangan yang dia lihat ini hanya mimpi ‘kan? Dia harap begitu, namun itu semua hanya harapan. Siapa yang bakalan menyangka bahwa pria yang dicintai kakaknya adalah pria yang sama dengan pria yang disukainya?

Dengan langkah terpaksa dia berjalan ke meja tempat kakaknya dan Sehun duduk. Memasang ekspresi kaget dan senang adalah hal yang paling tepat dilakukannya sekarang.

Irene menarik kursi disamping kakaknya, kemudian duduk disitu dengan perasaan sangat canggung.

“Irene-ah kenalkan ini pacar onnie, Oh Sehun.” Suzy tersenyum manis seraya berdiri kemudian duduk di kursi disamping Sehun.

Irene menatap Sehun canggung, “Annyeonghaseyo, Bae Irene imnida.” ia menunduk dan tersenyum sedikit.

“Ini adikmu? Dia lebih cantik daripada kau.” Sehun tersenyum jahil kemudian menyeruput cappuccino di depannya.

“Benarkah? Kalau begitu kau pacaran saja dengannya.” Suzy memasang senyum kecut yang dibuat-buat, membuat Irene tertunduk.

“Hahaha.. aku hanya bercanda nona Bae. Kau tidak asyik, ah.” Sehun menarik pelan hidung Suzy, dilanjutkan dengan mencubit pipi Suzy gemas.

Irene meremas roknya dengan kuat, ingin sekali dia menampar kedua orang ini sekarang. Tapi apa haknya? Toh, tidak ada yang tahu perasaannya sekarang.

“Oh iya, Irene-ah kau mau pesan apa?” Sehun berpaling ke Irene, membuat Irene tersentak kaget, dia menatap Sehun untuk beberapa detik, kemudian menggeleng pelan.

“Aku mau pulang, dadaku rasanya sakit.” Irene memasang wajah perih, itu sebenarnya sungguh-sungguh, dadanya benar-benar perih saat ini.

“Benarkah? Atau itu hanya bualanmu saja? Jangan bilang kau tidak mau terkena balasanku?” Suzy tertawa pelan, disusul dengan tatapan serius Irene.

“Permisi, sunbae.” Irene beranjak, meninggalkan atmosfer kebingungan diantara Sehun dan Suzy.

“Apa kalian ada masalah?” Sehun menatap Suzy, mencari jawaban.

“Tidak, kami masih baik-baik saja tadi. Lagipula, seharusnya aku yang marah padanya tapi malah sebaliknya.” Suzy menaikkan bahunya kemudian menyeruput coffe latte-nya.

***

Sakit, adalah kata yang pantas buat Irene. Dia tidak pernah menyangka keterlambatannya menyadari perasaannya menjadi sesuatu yang fatal. Lalu mengapa kakaknya juga tidak mengatakan bahwa faktanya dia adalah kekasih Sehun sedari kemarin? Mungkin Irene akan berpikir dan akan mulai move on. Tapi sekarang semuanya terlambat, cinta Irene terlalu menggebu-gebu untuk move on. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya jatuh dan mengalir di pipinya. Tak ada kalimat yang sanggup ia keluarkan, dadanya terlalu perih bahkan hanya untuk menghapus air matanya.

Ini bukan salahnya, bukan salah kakaknya, dan juga bukan salah Sehun. Tapi mengapa hatinya menuduh kakaknya sebagai biang kerok atas sakit hatinya? Dia tidak mau membenci kakaknya namun pikirannya kalut, kalah akan rasa muak dan benci pada kakaknya. Hatinya tidak mau mengalah, dia tidak mau menyerahkan Sehun begitu saja.

“A-apa.. yang harus kulakukan?” Tubuhnya terjatuh ditengah taman bunga tempat dia dan kakaknya selalu bermain kala kecil dulu. Tubuh mungilnya bergetar, dia masih terisak. Entahlah, mengapa dia bisa berujung ditempat ini.

Onnie, apa yang harus kulakukan, eoh?

Ya! Kenapa kau melakukan ini padaku?!”

“Jawab aku…” Irene merintih kemudian terduduk, memegangi dadanya sambil sesekali memukulinya.

“Irene-ah?” Irene menoleh namun segera mengalihkan pandangannya dari orang yang memanggilnya dan lekas menghapus air matanya.

“Apa yang kau lakukan, disini?” orang yang memanggil Irene duduk di samping Irene.

“Tidak melakukan apa-apa.” jawab Irene dengan suara serak.

“Apanya yang tidak melakukan apa-apa, dari tadi kau menangis sambil teriak-teriak disini.” orang itu menarik dagu Irene agar wajah Irene bertatapan dengan wajahnya.

Aishh.. kau ini, mengapa kau menangis, eoh?” orang itu masih memegang dagu Irene sambil menatap mata gadis itu.

“Aku tidak apa-apa, Ten-ah.” Irene menarik tangan pria bernama Ten itu dari dagunya.

“Kau bohong.” Ten menghempaskan tubuhnya, sehingga dia terlentang dan menatap langit seutuhnya.

“Memang.” Irene tersenyum miris, tanpa disuruh air matanya mengalir lagi.

“Dari dulu, kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu.” perkataan Ten membuat Irene menatapnya, Ten duduk kembali lalu membalas tatapan Irene.

“Kau masih Irene yang ku kenal, masih saja menangis disini.” Ten menghapus air mata Irene dengan kedua ibu jarinya. Irene hanya diam, sambil menatap wajah tampan pria Thailand itu.

“Kapan kau kembali ke Korea?” Tanya Irene kemudian, dia tetap membiarkan Ten menghapus airmatanya.

“Semalam.” jawab Ten asal, masih sibuk dengan wajah Irene.

“Mengapa kau kembali kesini.” Tanya Irene lagi, perasaannya mulai tenang entah mengapa.

“Aku merindukan seseorang.” Ten menjawab asal lagi, kali ini dia sibuk dengan anak rambut Irene.

“Siapa?” Kali ini Irene menarik wajahnya dan memalingkan pandanganya ke paparan langit yang berada diatasnya.

“Gadis cengeng.” Ten berucap kemudian menghempaskan tubuhnya lagi.

Irene tak bereaksi, walaupun dia merasa sebagai gadis cengeng yang dirindukan Ten. Namun itu mustahil, karena Ten selalu menyukai kakaknya, Bae Suzy sejak dulu. Jangan Tanya mengapa Ten tahu taman ini, karena Ten adalah sahabat Irene dan kakaknya sejak kecil. Ten sebaya dengan Irene sehingga dia sangat akrab dengan Irene.

“Dan kau, mengapa kau menangis?” Ten tak menoleh ke Irene, ia hanya melirik gadis itu saja.

“Ada saatnya, aku harus merahasiakan sesuatu darimu.” perkataan Irene membuat Ten berdecih pelan. Apapun yang dikatakan Irene, Ten selalu tahu perasaan gadis bermarga Bae itu.

***

Pagi canggung pertama yang dirasakan Irene dan Suzy. Bagaimana tidak, Irene tak bergeming sedari tadi, membuat Suzy merasa tak enak untuk sekedar mengatakan ‘selamat pagi’ kepada adik bungsunya itu.

“Aku berangkat.” nada dingin dari bibir Irene membuat Suzy yakin bahwa telah terjadi sesuatu terhadap gadis itu.

“Kita berangkat bersama Irene­-ah.” ucap Suzy akhirnya, menepis kecanggungan yang terjadi diantara mereka.

“Aku tidak pergi kuliah hari ini, aku akan pergi dengan Ten. Onnie, berangkat sendiri saja.” Irene tak menoleh, membuat Suzy diam seribu bahasa namun dia tidak mau menyerah ditariknya pergelangan tangan Irene dan mulai meminta penjelasan.

“Irene,”

“Lepaskan.” Irene menarik tangannya cepat, tak membiarkan Suzy menyelesaikan kalimatnya.

“Irene­-ah.” Suzy bergumam pelan menatap punggung adiknya yang semakin lama, semakin menjauh dari pandangannya.

Ten’s Side

Apa aku terlalu bersemangat, aku sudah berada dua jam lebih di depan rumah gadis itu. Padahal, kencannya -ini hanya menurutku- dijanjikan pukul sembilan pagi dan aku sudah disini kurang lebih pukul tujuh pagi tadi.

Omo!” akhirnya gadis itu muncul, bisa kulihat ekspresi terkejut di wajah cantiknya.

Aigoo, ahjussi anda cari siapa pagi-pagi begini?” gurau Irene tiba-tiba, aku tersenyum akhirnya gadis itu kembali ke seperti semula.

“Ah.., haelmoni aku mencari seorang gadis.” jawabku sambil celingak-celinguk kesana-kemari.

Ya!” Irene mengangkat tasnya kemudian memukul-mukul pelan tubuhku dengan tasnya mungkin dia kesal karena kupanggil haelmoni.

“Oh.. appo..appo..” aku mengelus-elus lenganku pura-pura kesakitan, Irene memberhentikan pukulannya kemudian memasang wajah khawatir.

“Ah..mianhae..” Irene mengelus lenganku lalu tiba-tiba menggigitnya.

“Argh!Ya!” gadis gila ini!

***

Author’s Side

“Sekarang kau benar-benar Bae Irene.” Ten mengemudikan mobil sport-nya di jalanan Seoul yang ramai.

“Maksudmu yang semalam itu bukan Irene, begitu?” Irene menautkan kedua alisnya kemudian mengalihkan pandangannya dari Ten.

“Hm, semalam mungkin saja Irene jadi-jadian yang bicara sambil menangis di taman sana.” Ten terkekeh sendiri, membuat Irene menatapnya kesal.

“Tidak lucu, Ten.” Irene mengerucutkan bibirnya sambil mendengarkan suara tawa Ten, sesekali dia melirik Ten penuh heran.

Ten menatap gadis yang kesal disampingnya dengan penuh arti, tanpa ia sadari..

“Ten lampu merah, awas!” pekikkan Irene membuat Ten kembali fokus ke jalanan. Dia mengerem cepat karena jika tidak mungkin dia akan berdiam di balik jeruji selama masa mudanya karena telah menabrak orang pada saat lampu merah.

*

*

*

To be continue..

 

 

Sebenarnya author gak tau mau berkicau apa, karena hati author sedang galau sama kaya Irene. Author  Cuma mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya.. terutama buat Tuhan, karena udah nyediain kesempatan buat author sehingga author bisa mengetik ff abstrak and absurd ini.

Kedua buat staff EXOFFI karena udah nyempetin waktu buat ngepost ff author dan yang paling-paling utama buat readers yang udah mau ngebuang waktu buat baca dan meninggalkan corat-coret di ff sengklek author. Terimakasih banyak.. mohon ditunggu chapter selanjutnya.

 

 

 

22 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Even It Hurts (Chapter 1)”

  1. Aq pikir harusnua irene terus terang sm suzy… Soalnu buakan salah suzu juga… Suzy kan juga ga tau kl irene suka sehun… Semoga 2 saudata ini tdk saling menyakiti… Lgan aq ngerasa irene dan ten lebih sweet… Kekeke

    1. Kan udah dijawab kak Shiraa tapi ngawur ya? Iya kak, ini kisah cinta segiempat/maybe/ jadi untuk kejelasannya ditungu terus next chapnyaa 🙂 terimakasih

  2. Waaahh bakal rame banget nih kayaknya
    Penasaran banget kelanjutannya
    Sangat ditunggu yaa author
    Oh ya izinkan untuk membaca karyamu author hehe

    1. Rame gimana nih? Terimakasih sudah singgah, boleh-boleh yuk mari baca ff author yang yahh.. Begitulah :v :3 mohon ditunggu :v

  3. Aslinya Irene lebih tua dari Suzy tapi disini Irene malah jadi adiknya Suzy hehehehe tapi cocok si sama wajahnya yang masih cimit cimit. emang kalo dibandingin mah muka irene lebih baby face dibanding Suzy 😀
    Kya!!! Kira-kira nanti Sehun sama siapa ya?? Apa yang terjadi di antara cinta segitiga mereka?? hehehe ditunggu kelanjutannya 😀
    Fighting!!! 🙂

    1. Waduh, Sehun bakalan sama siapa ya? Penasaran? Mohon ditunggu chap Selanjutnya, fiighting!! 😀

  4. Huahhh irene yang terluka mengapa dadaku yang sesak??? Akh HunRene again 🙂 😀 ^_^ daebakk aku ngak sabar liat chap berikutnya hmm entah kenapa aku merasa Irene-Ten cocok #digamparsehun akhh wait for the next keep writing author 🙂

    1. Thankyou :D, Sesame Hunrene shipper :v aku juga sesak kok :v. Mohon ditunggu chap selanjutnya cinta :v 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s