Husband Materials

10

 

Husband Materials

Author: Honeybutter26

Cast : Oh Sehun | Park Hani

Genre : Fluff | Marriage Life | Romance

Rate : PG -17

Length: 3735 w.c

Summary:

Hani rasa ia tidak butuh yang lain lagi, ia hanya butuh Sehun. Poros hidupnya, matahari paginya, roti tawar untuk selai coklatnya, coklat hangatnya, anggurnya yang memabukkan dan temannya hidup sampai ajal menjelang.

 

***

Hani tidak pernah menerapkan standar pada seorang yang akan menjadi partner hidup dan matinya nanti. Baginya, asal sama-sama cocok dan nyaman maka itu bukan masalah yang berarti. Dia termasuk orang yang cukup realistis daripada memikirkan tipe lelaki ideal yang hanya berujung delusi. Ekspektasi biasanya sering meleset dari realita.

 

Awal bertemu Sehun saja dikarenakan sebuah perjodohan bodoh yang diatur oleh kedua orang tua mereka. Sebenarnya Hani sudah mengenal Sehun mengingat pria itu adalah teman dari teman larvanya, Kim Jongin. Hanya saja mereka tak pernah bertegur sapa, apalagi Hani itu orangnya terlalu banyak diam dan sukar dekat dengan orang baru.

 

Mungkin memang takdirnya ada pada Sehun, mungkin. Jika menengok kembali dimasalalu tentang bagaimana hubungan mereka berawal juga tidak ada manis-manisnya. Mereka menjalani sesuai apa yang orang tua inginkan. Terikat tapi sebenarnya tak pernah benar-benar terikat. Sehun masih memiliki kekasih kala mereka dijodohkan, namun mungkin memang gadis itu bukan seorang yang akan menjadi rumah bagi Sehun. Hubungan mereka kandas saat Sehun mendapati gadisnya menduakan hati dan cintanya.

 

Hani masih ingat insiden pernyataan cinta Sehun padanya setelah memutuskan si gadis yang sudah menyelingkuhinya itu. Tidak keren. Menjadikannya alat putus lalu menciumnya di tengah kerumunan pengunjung taman hiburan. Ia malu jadi pusat perhatian. Ia juga tidak suka. Tapi ciuman itu entah kenapa membuat Hani hanya bisa diam. Tidak protes atau marah-marah.

 

Itu adalah awal mula Hani merasakan rasa sakit yang menyenangkan di dada kirinya. Rasa mual yang entah kenapa justru terasa menggelitik dan jantungnya yang berdentum keras membuatnya berpikir bahwa dirinya sakit. Dan kata Jongin dia memang sakit, sakit cinta pada Oh Sehun. Seorang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang yang awalnya hanya dijodohkan sepihak oleh keluarga mereka ternyata justru menjadi jodohnya yang sehidup semati.

 

Takdir Tuhan memang penuh misteri.

 

Banyak hal yang telah mereka lalui. Banyak cerita yang telah mereka arungi bersama. Dan seiring banyaknya detik yang berjalan mereka menemukan banyak sifat, karakter, watak dan perbedaan pada diri masing-masing.

 

Hani awalnya tak pernah berpikir bahwa Sehun adalah seorang yang rela melakukan banyak hal yang tidak terduga untuknya. Melihat riwayat Sehun sebagai playboy sialan yang selalu suka pamer pantat pada wanita –itu ejekan Hani untuk Sehun ketika mereka bertengkar dan Sehun benci ketika Hani mulai membahas ukuran pantatnya— juga Sehun yang dulunya adalah seorang badboy. Balapan liar, alkohol, tempat hiburan malam, rokok, bahkan judi sekalipun adalah hobinya. Tapi meski begitu Sehun tidak pernah bermain wanita, walaupun sifat playboynya terkadang tidak bisa ditolelir.

 

“Aku hanya bermain dengan mereka, sayang. Kau tidak perlu khawatir karena kau akan selalu jadi tempat pertama dan terakhirku untuk pulang,” Itu katanya saat Hani mendapati Sehun sedang digoda oleh seorang adik kelas mereka saat SMA.

 

Hani percaya saja karena memang itulah kebenarannya. Sehun hanya bermain tidak pernah lebih, ia menjaga tubuhnya dari bibir-bibir gadis kecentilan itu hanya untuk Hani seorang. Meski ia rela-rela saja kala tangan-tangan itu menggelayuti lengannya atau secara tidak sengaja tersentuh sesuatu yang bundar dan empuk.

 

“Bibir ini hanya untuk menciummu, bukan yang lain. Yeah, although you’re not my first kiss but I will make you as my last and forever kiss.”

 

Kalau Hani adalah Seulmi, dia pasti sudah memerah satu tubuh penuh. Sayangnya dia orang yang terlalu susah untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan. Jadi yang bisa dilakukannya hanya memalingkan muka lalu menunduk dan salah tingkah saat napas Sehun menerpa pipinya dengan hangat, posisi tangan Sehun di pinggangnya mengerat hingga tubuh mereka nyaris saling menempel. Saat memalingkan wajah dan hendak protes yang terjadi justru satu ciuman selembut kapas, semanis gula dan sehangat coklat hangat menyentuh bibirnya.

 

Sial, Sehun selalu bisa membuat jantungnya meledak!

 

Sehun menjadi jauh dan begitu jauh lebih baik lagi setelah menikah. Ia tinggalkan kebiasaan buruknya dan mencoba menjalani hidup dengan baik hanya untuk membuatnya nyaman. Padahal Hani tidak pernah menyuruh, walaupun ia pernah mengancam Sehun dengan kata putus saat pria itu diusir dari rumahnya karena sifat buruknya itu. Tapi untungnya berkat ancaman itu Sehun benar-benar berubah menjadi lebih baik setelah itu.

 

“Hei, Hani. Kenapa melamun? Kami tanya padamu apa Sehun juga terkadang seperti itu? Jujur saja aku benar-benar sebal saat Jongin mulai bertingkah bossy seperti itu. Dia pikir hanya dia yang lelah, aku juga lelah,” Soojin membawa Hani naik dari alam bawah sadar. Ia sedang berkumpul dengan para istri dari Jongin, Baekhyun, Luhan, dan istri Kakaknya, Park Chanyeol di café milik Jieun, istri Minseok.

 

“Kau benar, Baekhyun juga seperti itu. Apa dia pikir pekerjaan mengurus rumah  tangga itu tidak merepotkan? Apalagi jika artis baru di perusahaan membuat ulah. Bisa dipastikan Baekhyun berubah jadi dua ribu kali lebih menyebalkan,” tambah Seulmi dengan berapi-api.

 

“Sehun tidak pernah seperti itu,” jawab Hani setelah lama terdiam. Membenarkan posisi Sena yang sedikit melorot dari pangkuannya. Semua yang ada dalam lingkaran meja itu melotot tak percaya.

 

“Sungguhan? Sehun tidak pernah berbuat menyebalkan seperti itu? Kakakmu saja terkadang membuat ubun-ubunku panas jika sedang ada stres pekerjaan,” Itu Dasom yang berkata,Istri dari Kakaknya yang tampan setengah idiot dan setengah gila tapi seksi.

 

“Tidak, jika masalahnya benar-benar berat biasanya dia hanya akan diam. Kami sudah terbiasa membicarakan semua hal sebelum tidur agar semua masalah tidak terbawa sampai besok dan kemudian jadi makin buruk. Bukankah komunikasi adalah faktor utama?”

 

Semua tercengang. Bagaimana tidak? Ini Hani yang berkata, si gadis dingin jelmaan Queen Elsa yang selalu berekspresi sedatar papan.

 

Tapi Hani berkata yang sejujurnya. Masih hangat di ingatannya saat Sehun pulang dengan wajah yang kusut malam itu. Hani sudah bisa menebak pasti sudah terjadi sesuatu. Jadi dengan Sena yang ada di gendongannya, Hani berinisiatif untuk menghampiri suaminya. Mengambil alih koper di tangan Sehun dan menyodorkan Sena untuk mencium pipi Ayahnya.

 

“Mandi dulu ya, nanti kita makan bersama.”

 

Sehun mengangguk dengan lemas, itu pun rasanya seperti dipaksakan. Lalu selama makan malam Sehun masih juga diam. Padahal Sena sedang berceloteh dengan riang, membuat suasana berisik dengan mainannya. Biasanya Sehun akan antusias, tapi malam ini tampaknya ia sedang tidak berselera.

 

Selesai makan mereka duduk bersama di depan teve. Sena masih ada di pangkuannya, Sehun duduk di sebelah kanannya. Mata pria itu ada pada layar kaca yang menapilkan aksi Joa; Ara; Siro; Nado; dan Moya dalam kartun anak yang selalu Hani putarkan untuk Sena, tapi ia tahu jika pikiran Sehun sedang tidak ada disana. Entah berlayar atau terbang kemana.

 

“Ayah,” Hani memukul-mukulkan tangan Sena yang memegang mainan pada lengan Sehun, berharap dapat menarik perhatian pria itu.

 

“Ayah, ayah, ayah,” Meniru suara si kecil dan itu selalu bisa menarik perhatian Sehun.

 

“Ada apa, hmm? Kenapa Sena memanggil Ayah? Lihat, Joa dan Ara sedang membuat kue untuk Nado.”

 

“Sena mau Ayah, bukan Nado,” Sehun terkekeh. Melirik Hani yang memandangnya dengan sorot yang tidak biasa. Seperti ada satu tanya dalam pancaran matanya.

 

“Jangan mengajari Sena yang seperti itu. Nanti dia jadi ikut-ikutan galak sepertimu.”

 

Yang dibalas dengan cebikan oleh sang istri.

 

“Mmaaa.”

 

“Iya, sayang?”

 

“Mmaa mmmaaa mmaaa kyaaa,” Keduanya terkekeh saat si kecil sepuluh bulan itu meracau gemas.

 

“Ah, Sehun dengarkan ini. Sena sayang, coba bilang Pa,” Sena mengerjab dan Sehun mengerutkan keningnya. Si kecil menatap ibunya dengan mulut yang menganga.

 

“Katakan Pa. Paaa,” Ulangnya.

 

“Mmaaa.”

 

“Bukan, sayang. Bukan Mmaa tapi Ppaa. Ppaa.”

 

“Mmmaa,” Hani mendengus tapi Sehun justru terkekeh.

 

“Jangan dipaksa kalau belum bisa.”

 

“Tapi tadi dia bisa!”

 

“Benarkah?” Sehun rupanya mulai tertarik. Kalau memang Sena sudah bisa memanggilnya, ia juga ingin sekali mendengar.

 

“Kalau begitu biar aku yang coba. Ayo sayang, katakan Ppaa.”

 

“Mmaa.”

 

“Pppaa, sayang. Ppaa.”

 

“Aaakkk.”

 

“Ayo sayang, bilang Ppa. Ayo, Sena anak pintar. Bilang Ppaa.”

 

“Mmaaa kyaaa mmaaa.”

 

Sena malah tergelak saat layar kaca memperlihatkan Nado dan Moya yang dikejar kucing.

 

“Lupakan saja, kurasa yang tadi itu hanya delusi setelah tidur siang,” ucap Hani menyerah, begitu pula dengan Sehun. Keduanya menghela napas.

 

“Kyaaa kyaaa mmaaa mmaaa,” Tunjuknya pada televise dan menoleh pada sang Ibu untuk memberitahu keseruan yang terjadi di dalam layar kaca. Hani tersenyum dan mengangguk pada putrinya.

 

“Ppaaa Ppaa Ppaaa.”

 

Hani dan Sehun saling berpandangan, kemudian menoleh pada Sena yang masih berteriak kegirangan.

 

“Sayang, kau dengar tadi?”

 

“Aku bilang juga apa, Sehun. Sena sudah bisa memanggil Ayahnya.”

 

Sehun tersenyum dengan cerah. Ini sesuatu yang membahagiakan. Setelah sekian lama Sena hanya bisa berteriak tidak jelas dan hanya bisa memanggil Ibunya saja, si kecil rupanya sudah bisa memanggil Ayahnya. Ia senang sekali sampai melupakan permasalahan yang sempat membuatnya murung tadi. Sebenarnya Hani sengaja, ini bahkan sudah lewat jam tidur si kecil, tapi ia membiarkan Sena tetap bangun untuk menghibur Ayahnya yang pulang dengan keadaan mendung.

 

Hani sudah menidurkan Sena di keranjangnya. Mereka memang tidur terpisah tapi tetap satu kamar. Ia menghampiri Sehun yang masih duduk diam di pinggir kasur. Sepertinya Sehun ingat pada masalahnya lagi.

 

Sehun merasakan tempat tidurnya bergelombang saat Hani naik diatasnya. Ia cukup terkejut saat sepasang lengan melingkar di perutnya. Satu hembusan napas hangat menggelitiki tengkuk. Dan satu kecupan hangat menembus dari balik punggung bajunya. Satu kebiasaan lain lagi.

 

“Ada masalah apa? Kau bisa cerita padaku.”

 

“Tidak ada apa-apa.”

 

“Jangan bohong, Sehun. Aku sudah cukup megenalmu untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi hanya dengan melihat tingkahmu. Ada apa, hmm?”

 

Sehun berbalik hingga pelukan di tubuhnya lepas. Memandang lekat paras partner hidupnya yang selalu membuat hatinya merasa tentram.

 

“Terjadi sesuatu di kantor. Aku mengacaukan proyek dan Ayah marah besar padaku. Apa aku gagal? Perusahaan hampir merugi banyak karena kecerobohanku.”

 

Sehun tampak kacau, terlihat dari sorot matanya yang sayu. Hani mendekat, membawa tangannya mengelus rahang Sehun yang sudah jadi hal yang selalu ia favoritkan.

 

“Kita belajar dari kesalahan, kalau sudah benar tidak ada yang perlu dipelajari lagi. Kesalahan membuat kita tumbuh lebih baik diwaktu yang akan datang, dan kebenaran menjadi penentu akan keberhasilan kita dalam belajar. Oh Sehunku adalah orang yang tidak akan membiarkan kesalahan menjatuhkannya dua kali. Am I wrong?”

 

“Aku tidak tahu apa jadinya hidupku tanpamu,” Sehun membawa Hani dalam pelukannya. Ia bersyukur, begitu bersyukur dalam setiap hembusan napasnya karena Tuhan mempertemukannya dengan wanita sehebat Hani.

 

***

 

“Ini tidak bisa dipercaya. Kalian berdua memang pasangan yang tidak terduga,” Marry menanggapi cerita Hani tadi dengan gelengan tidak percaya.

 

“Aku benar-benar kesal! Apa maksudnya si Panda ini mencurigaiku menggelapkan uang belanja untuk menekuni hobi alamiku sebagai wanita? Sialan sekali! Awas saja, akan kulakukan sesuatu padanya nanti!” Tiba-tiba Victoria datang dengan segala amarah, melempar ponselnya dimeja dan tas dibangku yang masih kosong lantas menenggak jus jeruk yang entah milik siapa secara brutal.

 

Hei, Vict. Calm down, okay. Take a breath and take it out, slowly,” Jieun yang ada disamping Victoria memberi instruksi dan menyodorkan tissue untuk membersihkan jus yang membasahi dagunya.

 

“Ada apa lagi, Nyonya Huang?”

 

“Aku sebal. Kau tahu? Zitao menuduhku menggunakan uang bulanan untuk bersenang-senang. Ya Tuhan, apa dia tidak pernah melihat berita ekonomi? Barang-barang kebutuhan sedang naik sekarang. Dan si Panda itu menuduhku dengan kejam seperti itu! Aku benar-benar membencinya!” Bara api dan asap mengepul dan menyebarkan hawa panas disekitar tubuh Victoria.

 

“Luhan juga terkadang begitu. Para lelaki ini pikir mengelola uang rumah tangga tidak sesulit mengurus uang perusahaan apa?”

 

“Aku setuju denganmu, Marry. Awas saja kau, Huang. Awas!”

 

“Hei, Hani aku penasaran pada caramu dan Sehun mengelola uang rumah tangga. Apa Sehun juga seperti Zitao dan Luhan?” Jieun entah dapat bisikan darimana bertanya begitu secara tiba-tiba.

 

“Eh, kenapa aku?”

 

“Karena kau diam saja sedari tadi,” Jawab Seulmi asal.

 

“Kau juga diam tadi.”

 

“Aku yakin Sehun juga sama saja. Hampir semua suami punya kecenderungan berburuk sangka pada sang istri jika sudah menyangkut keuangan rumah tangga,” Victoria berujar sinis. Sepertinya wanita itu masih terbakar emosi.

 

“Ayo ceritakan saja, Hani. Kami penasaran,” kata Jieun. Semuanya mengangguk antusias kecuali Victoria yang tampak linglung karena baru saja bergabung.

 

“Ini ‘kan rahasia perusahaan.”

 

“Sudahlah ceritakan saja, sayang,” Bujuk Dasom. Hani pasti akan menurut kalo Dasom yang turun tangan untuk membujuknya karena ia menyayangi wanita itu seperti ia menyayangi ibunya. Hani menghela napas sedikit kasar.

 

“Sehun tidak seperti itu, dia memberikanku wewenang dan kepercayaan sepenuhnya untuk mengelola uang. Kalau tanggalnya masih lama tapi uangnya habis, dia pasti akan memberikannya lagi jika aku meminta.”

 

“Benarkah?” Semuanya tampak kaget. Tak terkecuali Victorian yang tadi tampak bingung.

 

“Sudah kubilang mereka pasangan yang tidak terduga,” Marry lagi-lagi berkata seperti itu.

 

“Sehun tidak menuduhmu macam-macam? Seperti kau menggunakannya untuk membeli krim SK II atau menggunakannya untuk membeli koleksi Gucci terbaru?”

 

Hani menggeleng, dan membuat Vitoria menganga tak percaya.

 

“Apa yang Sehun katakan padamu saat memberikan uang itu?”

 

“Kenapa kalian begitu ingin tahu?”

 

“Jawab saja,” lagi-lagi Dasom yang menyuruhnya.

 

“Dia bilang, ‘Sayang, ini uang bulan ini, jika nanti kurang aku akan bekerja lebih keras lagi agar semua kebutuhan kalian tercukupi dan tidak kekurangan satu apapun. Kau kelola dengan baik ya, jangan sungkan untuk meminta lagi kalau kurang. Kau juga boleh meminta untuk dirimu sendiri. Tidak apa, itu hakmu dan sudah jadi kewajibanku untuk memenuhinya,’ seperti itu.”

 

“Ya Tuhan, aku tidak percaya Sehun bisa berkata seperti itu. Beda sekali dengan Chanyeol. Kau tahu? Terkadang  Kakakmu bisa sama menyebalkan dengan Zitao dan Luhan saat aku meminta tambahan untuk diriku sendiri.”

 

Hani terkekeh kecil. Kakaknya memang sangat protektif dan selektif kalau menyangkut keuangan, entah itu dalam bentuk apapun. Uang bulanan ya uang bulanan, kalau mau tambah jangan minta saat jatah uang bulanan diberikan. Nanti perhitungannya jadi susah. Begitu katanya.

 

“Kau memerah tidak saat Sehun berkata seperti itu?”

 

“Yoo Seulmi, kau mau aku melakukan sesuatu padamu?” Seulmi nyengir, Hani memang sensitif jika ditanyai tentang ekspresi. Walau sebenarnya di dalam kepala Hani tengah terputar momen Sehun yang mengecup keningnya dengan hangat usai berkata semanis tadi. Sehun memang selalu membuat jantungnya melompat ke nirwana.

 

“Sepertinya menyenangkan sekali menjadi Hani. Suami memberi kepercayaan secara penuh seperti itu,” Victoria mendengus, dan yang lainnya mengangguk dengan kompak menyetujui.

 

“Sebenarnya tidak juga, secara tidak langsung Sehun mengajariku untuk mengelola dengan baik soal keuangan kami juga membuatku merasa segan. Jika ada seseorang yang menaruh kepercayaan secara tulus pada kita bukankah kita harus membalasnya dengan tulus pula? Itu yang Sehun coba tularkan padaku. Hanya saja memang cukup menyenangkan karena Sehun tak pernah menaruh curiga atau menuduhku sembarangan. Tapi tetap saja kalau sudah begitu rasanya aku jahat sekali kalau mengingkari kata-katanya. Jadi poin kedua adalah kepercayaan.”

 

“Sehun ternyata seorang suami idaman.”

 

Husband materials.”

 

***

 

Pukul sembilan malam dan Hani masih berkutat dengan pekerjaan membersihkan rumah. Memang biasanya ia baru bisa membersihkan rumah saat Sena sudah tidur.

 

“Sayang, mau dibantu apa?” Sehun baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dan ada handuk kecil melingkar di lehernya. Pria itu pulang kerja lebih cepat hari ini karena tidak ada lembur.

 

“Tidak usah. Kau pasti lelah, lagipula ini sudah akan selesai.”

 

“Kita sama-sama lelah, tapi sepertinya kau lebih lelah karena pekerjaanmu seharian ini pasti lebih banyak daripada aku yang hanya berada di depan komputer seharian. Kau mandi saja, biar aku yang selesaikan,” Sehun mengambil alih penyedot debu dari tangan Hani. Sial, gara-gara senyum Sehun yang kelewat terang itu Hani jadi lemas seperti benang begini.

 

“Sehun.”

 

“Ya?”

 

Saat menengok, Sehun mendapat satu kecupan di pipi. Lalu Hani segera beranjak darisana, takut wajahnya yang merah diketahui oleh Sehun. Sehun sendiri hanya bisa diam sambil tersenyum penuh arti. Ia gembira sekali.

 

***

 

“Tadi kau berkumpul dengan teman-temanmu, ya?”

 

“Iya.”

 

“Apa menyenangkan?” Hani mengangguk dalam dalam pelukan Sehun. Mereka sedang bersiap untuk tidur sekarang. Tapi seperti biasanya, mereka akan melakukan percakapan kecil tentang apa yang mereka lakukan hari ini sebelum satu sama lain mengucapkan selamat tidur.

 

“Sehun.”

 

“Ya, sayangku,” jawabnya sambil memainkan helaian rambut Hani. Wanita itu selalu bergetar tiap kali Sehun memanggilnya semesra itu. Seakan dia benar-benar sangat spesial.

 

“Kenapa kau tidak pernah melarangku menekuni hobiku?” Mereka saling berpandangan.

 

“Memangnya kau ingin aku melarangmu?”

 

“Tidak.”

 

“Kalau begitu, ya sudah.”

 

“Sehun,” Hani terdengar merengek dalam pendengaran Sehun, kalau orang lain yang mendengar pasti nadanya sama saja. Datar.

 

“Kau suka tidak jika ada seseorang yang melarang atau menghalangi keinginanmu?” Hani menggeleng.

 

“Aku ingin kau melakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak melarangmu bertemu dengan teman-temanmu, atau kalau kau ingin pergi ke salon dan melakukan perawatan. Aku juga tak akan memarahimu jika ingin bekerja. Itu hakmu sebagai seorang individu. Aku tidak apa, sayang. Hanya saja yang perlu kau ingat adalah bahwa kau juga seorang istri, seorang Ibu yang punya tugas lebih mulia. Asal kau tidak menelantarkan rumah dan Sena untuk melakukan hobimu, maka lakukanlah. Akau akan senang jika kau senang.”

 

Hani mengeratkan pelukannya. Rasanya perkataan teman-temannya ada benarnya. Sehun is  husband material too much.

 

“Tapi aku melarangmu untuk melakukan beberapa hobimu. Apa kau merasa marah karena itu?”

 

“Tidak. Kalau kau melarang itu artinya hal itu memang tidak baik untuk dilakukan. Kau melarangku untuk bertemu teman-teman dari zaman kenakalanku karena tidak ingin aku terjerumus lagi. Dan itu ada benarnya, mereka memang kurang baik untuk diajak berteman. Lagipula aku sudah berjanji padamu. Aku tidak akan membuatmu merasa kecewa dan menangis lagi karena itu.”

 

“Sehun, terimakasih, ya.”

 

“Sama-sama. Ayo tidur. Tapi sini, kucium dulu. Kenapa kau jadi makin manis seperti ini? Aku gemas sekali rasanya.”

 

“Kau suka? Biar aku saja yang menciummu.”

 

“Dengan senang hati.”

 

***

 

Hari ini adalah jadwal berbelanja kebutuhan rumah tangga. Hani sedang menata penampilannya di depan cermin saat Sehun datang  dan memeluknya dari belakang. Menyematkan satu kecupan singkat di tengkuknya yang terbuka kerena rambutnya yang ia kucir ke atas.

 

“Istriku kenapa cantik sekali?”

 

“Lebih cantik mana aku dengan Miranda Kerr?” Hani memandang Sehun dari cermin dan Sehun  juga sedang menatapnya.

 

“Tentu saja istriku.”

 

“Bohong.”

 

“Miranda Kerr cantik. Istriku lebih cantik. Kau tahu kenapa? Karena istriku hanya menunjukkan kecantikannya padaku. Yang membuatku jatuh cinta lagi dan lagi dan lagi dan lebih besar setiap harinya. Miranda Kerr mana bisa melakukan itu? Dia saja bercerai dengan Bloom. Itu artinya cinta mereka tidak cukup besar untuk membuat satu sama lain saling jatuh cinta setiap harinya. Begitu, sayangku. Jadi jangan membandingkan lagi dirimu dengan siapapun, karena kau sungguh tiada bandingannya.”

 

GOD!

 

Kenapa auranya tiba-tiba jadi pink semua? Kenapa Sehun selalu saja bisa menerbangkannya dengan kata-kata seperti itu? Memang tiada yang bisa membuat wanita lupa diri selain pujian akan kecantikannya. Tapi kenapa Sehun selalu bisa menambah nilai plus yang Hani sendiri bahkan tidak bisa menjabarkannya dalam setiap pujian dan kata-kata yang pria itu ucapkan? Hani malu sekaligus senang bukan main.

 

“Dasar gombal. Lepas, nanti kita kesiangan. Kau tidak lupa akan mengantarku belanja, bukan?”

 

“Mana mungkin lupa? Minggu kedua setiap bulan, aku sudah menetapkannya sebagai hari menemani istriku berbelanja. Ayo.”

 

Mereka keluar sambil bergandengan tangan awalnya, tapi ketika sampai di dalam lift Hani melepas genggaman mereka dan mengubahnya jadi gelayutan manja di lengan. Sehun senang tak terkira.

 

***

 

“Sayang, kita jalan-jalan sebentar, ya?”

 

“Kemana?”

 

“Kesekitaran sini saja, kita masukkan dulu belanjaannya ke dalam mobil. Ayo.”

 

Sehun membawa Hani ke pusat perbelanjaan. Pria itu tanpa memberi tahu apapun langsung membawa Hani ke make up corner.

 

“Aku lihat SK II milikmu sudah mau habis,”

 

Hani terdiam, padahal dia sudah menyembunyikannya. Kenapa masih ketahuan juga?

 

“Kau tidak perlu berusaha untuk menyembunyikannya lagi. Aku baru dapat uang lebih dari proyek kemarin. Jadi aku ingin istriku membeli krim-krim perawatan wajah yang akan membuat kecantikannya bertambah seribu kali lipat lebih cantik daripada Miranda Kerr.”

 

Bagaimana Hani tidak meleh kalau begini? Sehun mengelus pipinya dengan lembut dan wajah pria itu juga begitu lembut. Lalu kalimat yang dia katakan bahkan terasa lebih lembut dari kapas. Mereka sukses jadi perhatian sekarang. Apalagi mereka yang hanya berdua saja tanpa Sena pasti membuat orang-orang mengira mereka pasangan yang baru satu bulan menikah.

 

Selanjutnya Sehun membawa Hani ke beberapa toko pakaian. Tapi wanita itu menolak bahkan ketika Sehun menawarkan tas baru milik Gucci. Lebih baik uang itu dibelikan sesuatu untuk Sena, katanya.

 

Jadilah mereka disini, di Baby stuff corner, sedang memilih kereta bayi baru untuk putri kecil mereka dan beberapa mainan. Sehun memperhatikan Hani yang sedari tadi menatap pada sebuah kereta bayi dengan desain ala kereta Inggris.

 

“Kenapa hanya dipandangi saja? Kalau suka beli saja.”

 

Sehun memeluknya dari belakang dan sukses membuatnya terlonjak juga membuat mereka jadi pusat perhatian –lagi—.

 

“Harganya terlalu mahal, Sehun. Kita cari yang lainnya saja.”

 

“Tidak apa. Ambil saja kalau kau suka.”

 

“Tapi nanti cuma digunakan sebentar. Kita cari yang lebih murah saja.”

 

Hani menarik tangan Sehun tapi Sehun menarik balik Hani hingga kini keduanya saling berhadapan. “Kenapa wanita ini keras kepala sekali, huh? Kita beli yang itu, dan jangan menolak.”

 

“Tapi ‘kan—”

 

“Tidak boleh menolak!”

 

Sesudah itu mereka pun pulang. Selama perjalanan Hani hanya diam seribu bahasa. Dan Sehun membiarkan saja. Jangan menyelesaikan masalah ketika sedang berkendara. Lagipula ini juga bukan masalah yang besar.

 

Diparkirkan Volvonya di basement. Alih-alih segera turun, Sehun justru mengunci pintu secara otomatis. Saatnya bicara.

 

“Jangan diam saja.”

 

“…”

 

“Sayang..”

 

“…”

 

“Hei..”

 

Hani tak kunjung menjawab. Kepalanya masih tertunduk ke bawah. Tangannya memelintir sabuk pengaman yang belum ia lepas. Kebiasaan saat marah dan kesal. Sehun melepas sabuk pengamannya lalu berbalik pada Hani. Melepas tangan wanita itu yang masih memelintir seatbelt dan mengangkat dagunya agar Sehun dapat menatapnya.

 

“Jangan marah. Aku hanya ingin menyenangkanmu saja, sayang,” katanya dengan setenang mungkin. Mereka memang selalu berusaha tetap menjaga nada bicara meski dalam keadaan yang kurang mengenakkan, sama seperti sekarang. Tujuannya tak lain dan tidak bukan untuk tidak membuat masalah jadi makin besar.

 

“Tapi tadi itu terlalu mahal, Sehun. Uang itu harusnya bisa kita gunakan untuk yang lainnya. Lagipula itu hanya akan digunakan sekali.”

 

Sehun tersenyum, mengelus pipi setengah bulat istrinya dengan begitu lembut. “Siapa bilang itu hanya bisa digunakan sekali, hm? Nantinya kereta bayi itu bisa digunakan oleh adiknya Sena, adiknya lagi dan lagi. Lebih untung lagi jika bisa sampai pada anaknya Sena. Jadi jangan katakan itu membuang uang,” Hani memandang Sehun tepat di mata. Ada ketenangan saat ia berenang dalam pancaran hazel almond milik Sehun.

 

“Aku ingin menyenangkanmu, sayang. Aku senang kau selalu berusaha memprioritaskan kebutuhan daripada keinginanmu semata. Tapi adakalanya aku juga ingin kau meminta sesuatu yang lebih. Kau tahu kenapa? Agar aku bisa bekerja lebih keras lagi untuk memenuhinya ketika saat kau meminta aku tidak bisa langsung memberikan.”

 

“Dan yang harus selalu kau ingat, semua hal yang bersangkutan dengan masa depanmu, masa depanku, masa depan Sena, dan masadepan keluarga kita sudah aku persiapkan dengan baik. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

 

Hani menghembuskan napasnya perlahan. Hatinya langsung sejuk seketika. Padahal sedari tadi rasanya AC mobil tidak berfungsi sama sekali tapi sekarang rasanya seperti baru diterpa angin yang membawa kesejukan musim semi. Meraih tangan Sehun yang masih berada di pipi, lantas membawanya untuk dikecup dengan lembut.

 

“Sehun, tahu tidak kalau aku mencintaimu?”

 

“I love you too.”

 

Bibirnya berkedut kedut ingin tersenyum, darahnya bergerak cepat menuju bagian pipi dan memanaskannya hingga memerah. Jantungnya berdegup tidak karuan seakan ingin lepas dari tempatnya. Hani penasaran tentang bagaimana Sehun selalu bisa membuatnya tampak seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.

 

“Peluk,” cicitnya seperti burung gereja dengan wajah yang menunduk salah tingkah. Sehun jadi gemas. Pipinya sampai pegal karena tidak bisa berhenti tersenyum akan tingkah istrinya ini.

 

“Astaga.. Imut sekali istriku ini. Sini kupeluk, aku gemas sekali padamu.”

 

FIN

 

 

69 tanggapan untuk “Husband Materials”

  1. Beyond expectation from Mr Oh SeHun .. its too sweet .. far from reality, he is too perfect .. but i love it .. a perfect husband that all women has ever dream in their married life, eventhough there is somone like Mr Oh SeHun, i wonder knowing his weakness or bad side coz the perfections are not belong to human being .. its too sweet but once again i said … its too sweet but i really like it .. thanks for EXO FF .. once again i really love it

  2. Aaaaaaaa njiiiirrrr it’s goals husband material gilaaaaa gilaaaaaaa andai yg jd hani itu gue,gimana gk melayang ke tingkat ketujuh yeeee beeehhh sumpah bacanya aja uda melayang apalagi ngerasain,gk bisa bayangin keren bgt sumpah 👍👍👍👍

  3. kyaaaa… sumpah yaaa kenapa mrk bisa se-so sweet ini siihh, bikin aku cembokur ajaa/? aduhh sehunnya gak nahan banget yaa, udah sabar, cinta pula sama istrinya, gak kaya temen-temennya yang suka nuduh istrinya yang engga-engga

  4. aduuuhhh aku senyum” sendiri bacanyaaaa…aahhhhh sehun aaaahhh 😍😍😍 dimana bsa dapet cowo kek bgni didunia nyataaa???? sweetnya, romantisnya, cakepnya, baiknya, mesranyaaa *melting* ga bsa berkata kata lagi .. keren thor 👌👌👌👍👍👏👏👏

  5. Ampun dehh :3 padahal ini cuma imajinasi belaka,tpi kok pengennya gk hanya sekedar ekspetasi. Saking manisnya😂 jdiin nyata pliss tuhan 😄*plak
    Ditunggu karya selanjutnya,semangat kak😁

  6. Hwaaa manis bgt si sehun,,, :'(apa d dunia nyata ada suami yg kaya gitu,??? Aku mau satu yg kaya sehun gituuuu….
    Hahaha

  7. huaaaaa, ini mah idaman bangettt, bikin senyum senyum sendiri /gila/
    sehuniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

    keep wraiting thor^^

  8. Woaahhh!!! Iri akuu iriii :’) yaampun ini sweet bgt, kpn coba dpt partner yg bgitu sweetnya? Cuma di hayalan aja dptnya :’D
    Alur ceritanya good (y) tanda baca tepat, watak tokohnya juga dibuat dgn alur pemikiran sndri ya? Hmm, itu nmbh bikin kesan tersendiri pada ceritanya… keep writing! 😉

    1. hehehe jangankan kamu, aku aja ngiri liat mereka :3

      iya penokohannya emang dibikin pake karakter sendiri, cuma minjem nama sehun aja aslinya, etapi sehun wajahnya kan datar datar begitu tapi kayanya sweet sekali :3

      makasih yaa :*

  9. OMG mereka sweet bgt deh 🙂
    sehuuuun kamu romantis bgt sih, tiap kata yg terucap selalu berhasil mikin hati meleleh….
    keren bgt dah ceritanya ^^

  10. lucuuu banget. gemeesss. kpn ya punya nikah? hahaha duh jd baper pgn nikah thor. kereeeen bgtt💕 awww manis banget alurnyaa🌼

  11. Ya ampun sweet banget sihh
    kalo ada suami yg kyak sehun gth waahh beruntung banget yg jd istri nya kekekee

    keluarga idaman ^^
    niceee authorrr ^^

  12. Manis banget storynya… ^_^ aduh eonii jadi senyam senyum sendiri aku sehun future husband banget, emang ya cinta bisa merubah segalanya sehun yang tadinya perfect badboy jadi perfect husband karna cinta ^_^ kyaaaa pengen teriak sambil senyum -senyum jadinya. Good job author (y)

  13. Ceritanya sweet banget,aku suka aku suka,,Aduh coba yang gue jadi Hani pasti seneng banget#Mimpi ketinggian hehe..
    Author daebakk
    Ditunggu karya selanjutnya ya author
    Keep writing and fighting ^^

  14. Huaaa DAEBAK..
    bcanya smpe snyum” sndiri..
    Sena lcu bngettt pas lg blajar ngomong ppaa ppaa yg kluar mlah mma mma..wkwkwk tpi akhirnya brhasil jga ngomong ppa ppanya..hahaha
    Hunhan mreka saling pengertian + prhatian stu sma lain..
    Iya kakk cba klo d bkin Chapter pasti seru dehh/squel gtu*plukk#seenak jidat..^^

    Sehun 🙂 🙂 #뿌잉뿌잉(pasang aegyo)*huaa maluu :-[ /di tendang..wkwkwk 😀 😀

    1. mulai hari ini kamu harus ngebiasin sehun ce :3

      ini kak farah betewe.. inget kan?? kalo gak inget tak kasih cipokan sama traktor ntar bwahahahah

      makasih yaa :* sini cipok lagi :* :* :*

    2. Sehun udah punya temanku kak lagipula aku sudah sama kyung.. Aku tidak mau nikung kedua belah pihak wkwkwkwk

      Oh ini kak parah toh.. Hihihi.. Teman macam apa aku ini coba sampe ga apal pen name temennya… /dicipok kak parah/
      Eh tp aku maunya dicipok sama mark aja gmn dong? ._. #abaikan

    3. bilang temen kamu suruh lepasin sehun ato aku tabrak dia pake traktor hahahaha /plak/

      iyes.. ini dedek emesh yang selalu dirindukan kehadirannya :# /plak/

      gamau sama aku aja?? mumpung lagi gratis lhoo hahahaha

    4. Saiko amat kaaakkk…..
      Katanya nanti dia bales tabrak kak parah pake tank baja XD
      ((Dedek emesh)) ahahahaha aku selalu merindukan kehadiran kak parah kok /peluk/ btw kalo kakak itu dedek emesh aku apa ya? Bayi emesh? Embrio emesh?
      Yowesh mark lagi sibuk jd sama kak parah aja ahahaha/sodorin pipi/

    5. hahahaha aku emang dikenal begitu ce bwahahahaha

      gamasalah, ntar aku diselametin sama kapten yoo sijin bwahahaha

      kamu hantu perawan /plak/

      gamau ahhh gajadi cipok

    6. Saiko macam chef kwon di the girl who see smell (nonton ga kak? Wkwkwk)
      Eyyy… Andwaeyoo… Yoo shijin aka song joongki tidak diizinkan adeknya (re: gece) menyelamatkan sembarangan orang XD
      Hantu perawaaannnn XD biarin yang penting kyungzu tetap sayaaannggg

  15. ini udh kesekian kalinya aku baca ff ini di wp author dan sekarang disini dan aku ga bosen malah pengen baca lagi wkwkwk… ga bisa ga bikin aku senyum2 setiap kali baca ini… sumpah deh mereka sweet bangeettt iriii haaaaaaahhhhhh sisain yg kaya sehun buat aku :’)

  16. ini udh kesekian kalinya aku baca ff ini di blok author dan sekarang disini dan aku ga bosen malah pengen baca lagi wkwkwk… ga bisa ga bikin aku senyum2 setiap kali baca ini… sumpah deh mereka sweet bangeettt iriii haaaaaaahhhhhh sisain yg kaya sehun buat aku :’)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s