Unbelieveable [Ficlet Series]

kairin2

Unbelievable by. morschek96

Angst, School life, Romance, Bully || PG-17!!

Kim Kai & Kang Jeorin (OC)

Other Casts.

WARNING! Cerita mengandung content bully dan unsur sarcasm.

Storylines are belong to morschek96, don’t be plagiator!

PREVIOUS : [1.Shame] || [2. Ain’t That Bad] || [3. Rumor] || [4. Night Changed]

***

Separuh pagi Jeorin gunakan untuk pergi dari rumah Sehun. Kai tampak lebih waspada dibandingkan biasanya saat mereka berada di dalam mobil menuju kediaman Jeorin. Angin berhembus begitu dingin sehingga membuat Jeorin sulit untuk bernapas, tapi hal itu tidak membuatnya surut. Berusaha mengabaikan ketidaknyamanan ini, dan tetap diam sampai ia tiba di rumah.

Jeorin berjalan secepat yang kakinya bisa menuju kamar sebelum kedua orang tuanya memergokinya pulang bersama seorang lelaki. Segera mandi dan bersiap-siap, memakai seragam sekolah Sekang dan Jeorin memandang bayangannya sendiri pada sebuah cermin. Lingkaran bawah matanya menghitam, lantaran sangat sulit untuk terlelap tadi malam.

Bagaimana lelaki itu menyentuhnya terus terbayang hingga tengah malam dan memaksa Jeorin untuk terus terjaga. Jeorin menggeleng kuat. Tidak— tidak terjadi apapun tadi malam. Seperti yang dikatakan lelaki itu. Lupakan, tidak terjadi apapun.

Menuruni tangga dan melihat kedua orang tuanya sedang menyiapkan sarapan. Nyonya Kang tersenyum kearah Jeorin. “Kapan kau tiba Jeorin-ya?”

“Tadi pagi eomma.” Jeorin menunduk bersalah, namun kedua orang tuanya malah tersenyum senang.

“Tidak apa-apa, selama ini kau tidak pernah terlihat keluar bersama seorang teman dan ketika tadi malam kau memberitahu untuk menginap di rumah temanmu kami sangat lega. Kami pikir ada sesuatu yang mengganjal seperti kau ‘anti-social’ atau sejenisnnya.” Tambah tuan Kang.

“Tentu saja tidak appa.”

Jeorin duduk dan memakan roti selai yang diberikan Eommanya. Dua lembar telah ia habiskan bersama segelas susu. “Aku berangkat, ne?”

“Ne Jeorin-ya. Hati-hati.”

.

.

***

Bukan aku yang ‘anti-social’, tapi mereka yang tidak menerimaku.

Aku tidak pernah membuat masalah, tapi mereka yang mencari masalah dengan melibatkanku.

Jeorin menggerutu dalam hati selama perjalanannya ke sekolah. Kedua tangannya memegangi tali tas, memandang lurus ke depan dengan datar.

“Jeorin-ya.”

Merasa namanya dipanggil, Jeorin menoleh ke sumber suara. Myungsoo berjalan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Membuat hari suram bagi Jeorin ini sedikit berwarna dengan adanya lelaki itu. “Kaja-ya kita ke kelas.”

“Tapi kita berbeda kelas Myungsoo-ah.”

“Tapi kelas kita sejalur, kita berpisah ketika melewati kelasmu.” Ujar Myungsoo yang bersikeras dengan ajakannya.

Selama menaiki anak tangga Myungsoo bercerita tentang kapten basket sekolah ini yang akan diganti karena pelatih tidak suka dengan kinerjanya. Dengan begitu, Jeorin hanya menjadi pendengar yang baik dan menyimak semua cerita Myungsoo.

Lelaki ini begitu hangat, tidak seperti Jeorin dengan segala bentuk perilakunya. Jeorin terlalu kaku dan berhati-hati, takut untuk mempercayai orang, dan sebagainya.

Jeorin melenggang masuk ke dalam kelas ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Melangkah masuk dan semua tatapan tertuju pada Jeorin, seperti hari-hari sebelumnya. Dan seperti biasanya pula, sebisa mungkin Jeorin mengabaikan mereka semua.

“Aku sangat heran mengapa Myungsoo oppa masih mau berdekatan dengannya.”

“Ssttt.. jangan keras-keras nanti dia mengadukanmu Yoonbi-ya.” Gadis itu membisikkan kalimat kepada temannya yang masih dapat Jeorin dengar.

Jeorin duduk di tempatnya, yakni bangku dipaling pojok belakang ruangan. Menatap ke jendela dengan wajah datar. Mati-matian mengabaikan bisikan orang-orang tak punya kerjaan itu.

“Aku tidak takut, memang apa yang bias dilakukan gadis sepertinya?” Temannya mencibir. Ia meletakkan tangan diatas meja, dagu bertumpu diatasnya. “Tapi— kalau aku tidak salah lihat, aku melihat Kang Jeorin bersama Kim Kai tadi pagi keluar dari rumah Oh Sehun.”

“Mwoya? Bicara apa kau ini..”

Yoonbi mendesis, tatapannya menerawang pada kejadian tadi pagi. Rumah Yoonbi berjarak sekitar empat rumah dari kediaman Sehun. “Aku yakin, meskipun tadi masih pagi sekali— aku yakin yang tadi itu Kai bersama Jeorin.”

Satu teguk, apakah ia ketahuan?

Dengan sangat tenang Jeorin mengubah posisi duduknya menghadap kebawah, memperhatikan ujung roknya.

“Entahlah.. tapi kurasa mustahil jika Kai bisa bersamanya. Kau tahu kan selama ini Kai sangat membenci Jeorin?” Timpal Yoonbi sekali lagi.

Jeorin membuang napasnya perlahan, genggaman tangannya pun mengendur ketika Mr.Lee memasuki ruang kelas pertanda pelajaran akan segera dimulai.

***

Jeorin melenggang masuk ke dalam toilet wanita. Menyalakan kran air dan sedikit membasuh kedua tangan dan kelopak matanya yang terasa panas, lingkaran hitam pada matanya pun terlihat lebih jelas. Jeorin menyesal karena tidak tidur semalam.

“Apakah benar yang kau katakan? Kai dan Jeo—“

Merasa nemanya dipanggil, Jeorin menoleh ke sumber suara. Pintu kamar mandi dibuka dan beberapa orang gadis masuk ke dalam. Kim Minah, gadis yang barusaja menyebut namanya memandang Jeorin dengan nyalang.

Dibelakangnya terdapat Yoonbi teman sekelas Jeorin, Cha Saeron, dan Lee Jinri. Semua gadis itu memandang Jeorin dengan tatapan remeh.

“A-aku pergi dulu.” Ucap Yoonbi ketika matanya bertemu dengan manic milik Jeorin.

Suara pintu tertutup, Jeorin menatap mereka dengan pandangan bingung. Apa yang salah lagi denganku?

“Bukankah seekor serangga harus tahu tempat dimana ia harus berada.” Ucap Minah mengawali pembicaraan.

Persetan, Jeorin sama sekali tidak mengerti.

“Dia membencimu, bukannya tertarik padamu.” Tambah si gadis berambut sebahu, Saeron.

“Mengacalah dan jangan berharap terlalu banyak.” Kini Jinri yang berbicara.

Jeorin tersenyum remeh, sangat perih melihatnya karena wajah pucat tak bersemangat itu tetap memaksakan untuk melawan. “Apa yang kalian bicarakan?”

Minah maju selangkah, ketukan suara sepatunya berbenturan dengan lantai marmer menyebabkan bunyi yang terdengar sangat mengerikan bagi Jeorin. Ini tidak akan berjalan baik.

“Apa yang telah kau lakukan hingga kau bisa keluar dari rumah Sehun bersama Kai tadi pagi?” Ucapnya to the point.

Rasanya telah tertohok dengan keras. Jeorin kalap. Oh tidak, ia ketahuan.

“A-aku tidak bersama Kai, mungkin kalian salah lihat.”

#PLAKK!!

Rasa panas menjalari pipi kiri Jeorin. Kini Minah tengah memandangnya nyalang.

“Jangan pernah mencoba berbohong padaku..!!!”

#PLAKK!!!

Kini giliran pipi kanan Jeorin, lebih kencang dan perih daripada sebelumnya.

“Seret dia, bawa gadis jalang ini ke lapangan..!” Teriak Minah pada kedua temannya. Bergerak cepat, kedua lengan Jeorin telah dipegang dengan erat oleh si gadis-gadis itu. Menyeret Jeorin dengan cara kasar, sesekali menjambak rambut Jeorin ketika ia melawan dan sebagainya.

Satu lagi kesialan karena telah berdekatan dengan Kim Kai. Jika boleh, Jeorin inin kembali ke waktu ia hampir ditabrak Kai dan mati pada saat itu juga. Daripada harus seperti ini akhirnya. Hidup Jeorin sudah kacau dan kali ini akan lebih kacau lagi.

Tiba di lorong locker siswa, Minah dengan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Membuat yang berada dibelakang pun berhenti pula. Terlihat pada sebelah kanan terdapat Kai dan kedua temannya yakni Sehun dan Tao. Mereka pun melihat ke arah Minah dan teman-temannya yang sedang membawa paksa Jeorin dengan pandangan penasaran.

Minah tersenyum sinis, ini akan menarik.

Minah melangkahkan kakinya menuju tempat Kai, sedangkan kedua temannya tetap berada di posisi dengan memegangi Jeorin. Minah menatap Kai lekat, “Oppa, apa benar kau keluar dari rumah Sehun oppa bersama Jeorin, huh?” ucapnya dengan nada manja.

“Apa urusanmu, dasar—“ Sehun hendak menghardik gadis ini, namun Kai menyela dengan menahan lengan Sehun agar tidak memukul Minah.

“Ya, aku bersamanya.” Ucap Kai datar, melirik ke arah Jeorin sekilas. Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik hingga Kai kembali melihat Minah.

Jawaban Kai sontak membuat seluruh siswa yang berada di lorong tersebut tercengang.

Apa-apaan ini? Batin Jeorin dalam hati.

Jeorin menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Akankah ia aman—, atau malah menjadi semakin buruk.

“Mwoya? Apa— apa yang kau lakukan bersama Jeorin, oppa?” Minah merengek, terlihat jelas raut mukanya yang telah merah padam memendam cemburu dan marah.

Kai masih dengan wajah datar tanpa ekspresi melanjutkan kalimatnya. “Dia ingin bersamaku, jadi aku membawanya. Apa itu salah?”

“Oppa!”

“Hanya satu malam, dan paginya dia ingin cepat-cepat pulang jadi aku mengantarnya. Bukankah yang tadi malam itu menyenangkan, hm?” Melirik ke arah Jeorin dengan wajah genit. Jeorin mati-matian menahan hasratnya untuk tidak menampar mulut besar Kai.

Tidak, ini tidak benar.

“Tapi hanya karena satu malam bukan berarti aku peduli padanya. Tidak sama sekali. Dia tak pantas mendapatkan sedikitpun rasa belas kasihanku.”

Minah berbalik, memandang jeorin nyalang—

#PLAKKK!!!

#BUGHH!! #BUGHH!!

Tamparan dan tendangan bertubi-tubi Minah arahkan kepada wajah dan perut Jeorin. Nyeri dan perih terasa disekujur tubuh dan hatinya. Jeorin memilih untuk mati. Ia lebih baik mati saat ini juga.

Samar-samar Jeorin melihat Kai dan teman-temannya memandang khawatir padanya, namun detik selanjutnya Kai memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi dan tidak ikut campur.

Kai melirik Jeorin sebentar dan berbalik, dengan tega meninggalkan Jeorin yang babak belur di tangan Minah dan teman-temannya. Semakin jauh, rasanya semakin sakit pula luka yang berada di hati Jeorin.

Kapan ini akan berakhir?

***

Mereka semua brengsek. Mulai kali ini Jeorin akan tetap kepada pendiriannya untuk tidak mempercayai siapapun. Percaya hanya akan membuatnya sakit, dan sakit lagi.

Jeorin tidak membutuhkan orang-rang seperti itu di dunia ini. Percuma kemarin Jeorin sempat berpikir jika Kai akan berubah, setidaknya— tidak mengganggunya sama sekali. Namun yang terjadi kali ini lebih parah, lelaki itu menfitnahnya.

Menjadikan Jeorin sebagai sosok gadis jalang yang tak tahu malu. Bersedia dibawa kemana saja oleh seorang lelaki. Namun kenyataannya tidak seperti itu, dan Kai tahu persis seperti apa.

Dengan darah di sudut bibir, wajah lebam, dan nyeri di sekujur tubuhnya, Jeorin melangkahkan kakinya menuju halte bus. Ini sudah terlalu sore untuk pulang, dan Jeorin khawatir jika kedua orang tuanya akan sedih melihatnya pulang dengan keadaan seperti ini.

“Ommo, Jeorin-ya.” Seseorang menahan lengan Jeorin, rasa nyeri itu datang kembali jika disentuh seperti ini. Jeorin meringis kesakitan dan menoleh kepada orang itu.

“M-myungsoo..”

Myungsoo memperhatikan setiap detail wajah dan tubuh Jeorin, “Apa yang terjadi padamu?” ucapnya dengan nada khawatir.

“A—aniya.”

“Jeo—“

“Berhenti peduli padaku, aku sudah cukup dikasihani.” Ucap Jeorin pelan. Rasanya tenaganya sudah menguap entah kemana.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi”

..

..

“Haruskah aku memberi pelajaran kepada Kai, Minah dan teman-temannya.” Seperti yang Jeorin duga, Myungsoo akan cepat terbakar emosi.

“Tidak perlu, akulah yang akan membalas Kai— nanti.” Wajah Jeorin berubah serius. Namun ia yakin, suatu hari nanti ia akan membalas semua perbuatan Kai padanya, meski dengan cara apapun.

Jeorin teringat bagaimana perlakuan lelaki itu yang selama ini membullynya, mengejek dan mengucapkan kata-kata kasar padanya, memfitnah dan meninggalkannya dengan sangat keji.

Myungsoo mendecih, “Bagaimana kau akan—“

“Apakah kau percaya padaku?” Sela Jeorin cepat.

“A-aku percaya padamu.”

“Dan bisakah aku juga percaya padamu Myungsoo-ah?”

“Ya, kau bisa percaya padaku.”

“Kalau begitu, biarkan aku menyelesaikan ini. Dan percayalah padaku, aku akan berhasil.” Jeorin memaksakan senyumnya. Nyeri di pipi itu sama sekali tak ia hiraukan, membuat Myungsoo pula harus membalas senyum itu meski dirasa pahit.

Mengapa ada orang yang membenci gadis sepertimu? Orang itu pasti sangat bodoh.

Myungsoo mendekatkan wajahnya dan mencium Jeorin telak dibibirnya. Sentuhan dan gerakan lembut Myungsoo seakan tidak ingin gadis dihadapannya ini hancur berkeping-keping. Ia memperlakukan Jeorin dengan sangat berhati-hati, membuat Jeorin seakan tak sadar mengapa ia tidak menghindar atau melawan.

Myungsoo memperdalam ciumannya namun masih dengan kelembutan sentuhannya. Saliva keduanya meleleh keluar dan dengan cepat dijilat kembali oleh Myungsoo. Mengecup dan menggigit bibir bawah Jeorin sekali dan mengakhiri ciumannya.

Myungsoo tersenyum lembut, dan dibalas Jeorin dengan senyuman kaku ciri khasnya.

Percayalah Myungsoo-ah, ini semua akan segera berakhir. Believe me.

.

.

-END-

Author Note :

Annyeong..!!

Tuhh.. ya kan tambah serem, tambah sadis.. sekali lagi ini Cuma FF yaa.. don’t take it personal readers..^^

Makasih ya buat yang masih nungguin dan masih mau baca FF ini. Jangan lupa kasih komentar dong dimana ynag masih kurang-kurang, siip. Masih mau baca lanjutannya gak? DON’T BE SILENT READER then.

Yes / No?

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

48 tanggapan untuk “Unbelieveable [Ficlet Series]”

  1. ini Kai maunya apa sih?
    dia beneran suka Jeorin nggak? pokonya jangan biarin Jeorin gampang maafin Kai kalo dia udah berubah!
    kzl tau nggak sih sama Kai, jahat banget huaaa 😭
    Semangat lanjut series nyaaa 😉

  2. lanjut kaaaak

    aku udah suka banget nih sama couple myungsoo sama jeorin

    habisnya kalo sama kai, kasian jeorin

    ditunggu ya chap berikutnyaaa

  3. Sialan si Kai, kirain bakal berubah. Taunya makin kejam aja tuh orang #emosi
    Terus apa arti ciuman kemarin? Ck.
    Aduhduh myungsoo tiba-tiba banget 😙
    Semoga Kai liat, terus cemburu dong 😂

  4. Sialan si Kai. Udah diharepin bakalan berubah, nyatanya makin kayak iblis aja sifatnya #emosi
    Trs apa maksud ciuman kemarin?
    Eh tapi itu myungsoo, fufufufu 😙
    Coba aja Kai liat, trs cemburu 😂

  5. Astaga setelah ini apa lagi yang akan terjadi, kasihan banget jeorin. Kalok aku jadi Jeorin udah aku kulitin tuh minat and geng sama kai juga sekalian….
    Cepatlah membalaskan dendam mu jeorin. Myungsoo lain kali kalau udah gak tahan jangan di halte yaa, cari tempat yg lebih sepi 😁😅

    Tetap semangat menulis author dan ditunggu next chapnya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s