KAJIMA – Slice #17 — IRISH’s Story

irish-kajima-5

   KAJIMA  

  EXO`s Sehun & Luhan; OC`s Injung & Ahri

   with EXO Members  

  fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Reading list:

〉〉 TeaserChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7 – Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 – Chapter 13Chapter 14Chapter 15  –  Chapter 16  〈〈

Chapter 17

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Semuanya jadi terasa aneh. Asing. Dan tidak kukenal. Keadaan mencekam mulai muncul terang-terangan mengingat kami sudah tahu siapa musuh kami. Luhan tidak lagi duduk denganku, ia bersama dengan Yixing di sudut lain kelas, dan sekarang bisa dengan kentara menunjukkan sikap bermusuhan nya pada Sehun, Kai, Ahri, atau Chanyeol—saat Chanyeol datang ke kelas kami.

Luhan memang tidak menunjukkan sikap semacam itu padaku. Aku tahu Luhan tidak bercanda soal ucapan nya yang menganggapku sebagai Injung yang ia kenal. Tak jarang bahkan ia melemparkan senyum khas miliknya yang berhasil meredam rasa rindu yang timbul tanpa sadar.

Tapi keadaan seperti ini justru membuatku semakin waspada. Tidak adanya Luhan di dekatku, juga permusuhan kentara ini, semuanya terasa menakutkan.

“Aku tidak pernah tahu pikiranmu seberisik ini.”

Aku menoleh pada Kai yang tertawa pelan.

“Kau mendengarnya?”

“Tentu. Sedari tadi. Apa pikiranmu selalu seberisik ini?” tanyanya.

“Tidak juga. Dulu aku tidak banyak berpikir seperti ini.” kataku.

Kai mengangguk.

“Ya. Pikiranmu saat kau pertama kali ke sini benar-benar sepi. Sangat berbeda dengan sekarang.”

Aku terbelalak.

“Kau sudah mendengar pikiranku sejak pertama kali aku pindah?” ucapku tak percaya.

“Ya. Aku mendengarnya tanpa kuminta. Begitu sulit rasanya jika harus hidup dengan mendengar pikiran orang lain.” ucap Kai membuatku tertawa pelan.

“Tapi itu kemampuan yang sangat hebat.” ucapku.

“Tidak juga. Aku terkadang merasa bersalah saat tidak sengaja mendengar pikiran—yang sangat pribadi—milik orang lain. Juga saat aku mengetahui niat buruk seseorang, padahal aku tidak bisa mencegahnya. Aku sering merasa bersalah karena hal itu.”

“Tapi kau juga tidak memaksa dirimu untuk tahu pikiran mereka. Dan kau juga tidak bertindak apapun menanggapi pikiran mereka. Kurasa kalian pantas untuk punya kemampuan seperti itu. Aku tidak bisa bayangkan seperti apa jika kami yang punya kemampuan semacam itu. Keadaan disini akan jadi menyeramkan.”

Kai tergelak. “Keadaan sekarang sudah menyeramkan tanpa harus membayangkan hal seperti itu.”

“Benar. Keadaan yang sekarang juga menyeramkan.” aku membenarkan.

Kai terdiam sejenak.

“Aku mendengar pikiranmu soal yang kau baca di internet beberapa hari lalu. Aku tidak tahu apa yang lain mendengarnya juga—aku hanya tidak sengaja mendengarnya saat lewat di perpustakaan. Tapi, rasanya sampai sekarang belum ada satupun dari kita yang mungkin bisa menjadi pengganti.” ucap Kai.

Aku mengangguk setuju.

“Sejauh ini keadaan kita masih baik-baik saja. Tapi, kemungkinan besar tetap akan ada pengganti kan?” kataku.

“Ya. Dan juga… dari kekhawatiranmu—jika Jiwa itu mungkin mengambilmu sebagai pengganti—aku harus bisa memastikan bahwa kau tidak akan jadi pengganti itu.”

Aku memandang Kai bingung.

“Maksudmu?”

“Aku akan menjagamu, Injung. Setidaknya sampai aku yakin Jiwa ku tidak akan mengambilmu sebagai pengganti. Kau banyak menolong kami.” ucap Kai

“Kau tidak seharusnya begitu. Lebih baik kau bersama yang lain, dan berada di tempat yang aman.” kataku.

“Tidak ada tempat aman untuk sekarang. Cepat atau lambat. Aku yakin mereka pasti menunjukkan sosok aslinya.”

Aku terdiam. Fakta itu mengusikku. Oh ayolah. Memangnya kapan fakta tentang mereka tidak mengusikku? Semua orang disini membuat pola pikirku berubah.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Kai.

“Setelah apa? Setelah jam pelajaran ini berakhir? Atau setelah masalah ini berakhir?” tanyaku balik.

“Pilihan kedua.” Kai tersenyum.

“Aku tidak berpikir terlalu jauh, tapi kurasa… aku akan masuk ke sekolah desain, atau mencari pekerjaan, yang jelas aku akan menjauh dari Mokpo. Bagaimana denganmu? Apa kau akan hidup terpisah dengan Sehun?” tanyaku.

Kai mengangguk.

“Tidak bisa untuk tidak. Walaupun rasanya sangat berat—mengingat aku tinggal dengan Sehun dan Suho hyung sejak kecil—tapi aku harus pastikan keadaan kami sama-sama amannya. Mereka mungkin akan mengincar kami lagi setelah ini.”

“Itu artinya… kita semua akan berpisah.” kataku.

“Ya. Akan selalu ada perpisahan dalam hidupkan?”

Aku mengangguk-angguk. Walaupun mungkin… ini pertama kalinya aku merasa berat ketika akan kehilangan orang-orang di dalam hidupku.

“Mungkin karena akhirnya kau bisa benar-benar punya keluarga dan menghargai orang lain.” ucap Kai menjawab pikiranku.

“Ya. Mungkin juga begitu.” ucapku membenarkan.

Kai menepuk bahuku pelan, tersenyum. Ia lantas beranjak pergi. Aku kembali sendirian. Di saat seperti ini, aku merasa kehidupan lamaku kembali. Kehidupan lamaku sebelum aku datang ke tempat ini. Entah apa yang mungkin akan terjadi padaku jika dulu kehidupan lamaku terus berjalan.

Apa aku akan terlibat dalam masalah seperti ini? Apa aku akan bertemu dengan mereka semua? Apa aku akan bertemu Luhan? Selalu ada kemungkinan bukan? Tapi kurasa seperti inilah takdirku berjalan. Tanpa bisa kucegah, tanpa bisa kuatur. Aku terlibat dalam masalah seperti ini, kembali kehilangan keluargaku. Menemukan keluargaku yang sudah lama meninggalkanku. Mendapatkan teman. Setidaknya ada sisi baik yang kudapatkan.

Apa hidupku akan berjalan dengan baik setelah ini? Mungkin ya. Mungkin tidak. Aku tidak seperti Ahri yang punya Eomma untuk menjamin masa depannya. Pendidikan Ahri nantinya. Ahri tinggal bersama Eomma begitu ia—tidak. Tidak mungkin.

Eomma juga termasuk dalam orang yang begitu dekat dengan Ahri.

Apa masuk akal jika Jiwa itu mengambil Eomma?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Ahri’s Eyes…

“Kemana Injung?”

Hm? Mollaseo Eomma. Aku tidak pulang bersama Eonni tadi.” ucapku.

Eomma menyernyit.

Eomma tidak tahu banyak soal Injung…” Eomma berucap pelan membuatku sadar bahwa Eomma merasa bersalah sekarang. Walaupun terlambat.

“Injung Eonni murid yang bermasalah Eomma. Eonni sudah berpindah-pindah sekolah begitu sering. Mungkin ia juga terbiasa pulang terlambat.” ucapku berusaha menghibur Eomma

Tapi tindakanku malah membuat Eomma semakin merasa bersalah.

“Seharusnya dia bisa tumbuh lebih baik jika bersama Eomma. Ah. Harusnya saat itu Eomma tidak menciptakan masalah seperti itu… Seharusnya Eomma tidak membenci Injung hanya karena Appa mu…”

Aku terdiam. Memang sampai saat ini aku masih tidak menyangka jika Injung adalah Eonni ku. Karena aku sama sekali tidak ingat tentangnya. Tapi melihat rasa bersalah Eomma, aku bisa yakin dulu Injung tidak di tinggalkan dengan baik.

Eomma akan ke kantor sebentar. Telepon Eomma jika Injung sudah pulang.” ucap Eomma sambil menjinjing tas kecilnya.

Arraseo Eomma.” ucapku.

Eomma melangkah pergi. Dan aku hanya duduk diam di ruang tamu. Menunggu Injung pulang. Dan akhirnya, Injung pulang sekitar setengah jam setelah Eomma keluar.

“Dimana Eomma!?” ucap Injung panik.

“Memangnya ada apa?” kataku kaget saat Injung masuk dengan tergopoh-gopoh ke dalam rumah.

“Dimana Eomma!?” ulangnya lebih panik.

Aku segera mengambil ponselku, menelepon Eomma.

Yeoboseyo?”

Eomma. Eodiseo?” tanyaku larut dalam kepanikan Injung.

Eomma sedang di jalan. Apa Injung sudah pulang?”

“Ya. Injung baru saja pulang Eomma.” ucapku, menatap ke arah Injung.

Ia tampak bernafas lega. Lalu mengambil ponsel dari tanganku.

Eomma, cepatlah pulang.” ucap Injung.

“Ah, Ya Injung. Eomma sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Ini pertama kalinya aku bicara denganmu lewat telepon. Aigoo. Suaramu sangat mirip denganku. Makanlah dengan Ahri, Eomma akan menyusul.”

“Aku akan makan jika Eomma sudah pulang.”

“Ah. Jangan menunggu Eomma. Eomma mungkin tidak—CKIIIITTT! Injung sebenta—”

PIP!

Aku terpaku. Begitu juga dengan Injung. Kami saling berpandangan, sebelum akhirnya dengan gerakan refleks kami berdua sama-sama berlari keluar rumah.

“Dimana jalan ke tempat Eomma?” ucap Injung panik.

Aku segera berlari mendahului Injung. Aku hafal jalan ke kantor Eomma. Walaupun aku tidak yakin tadi Eomma berada di jalan mana. Yang jelas Eomma sedang dalam perjalanan pulang. Dan aku juga tidak bisa untuk tidak panik mendengar suara rem begitu memekakkan telinga di telepon tadi. Injung tampaknya juga sama paniknya denganku. Apa yang terjadi pada Eomma?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Ini sudah keterlaluan…”

Baekhyun mendongak. Menatap sendu ke arah Chanyeol yang tampak menahan marah. Sangat marah. Baekhyun meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan Chanyeol untuk segera beranjak pergi dari tempat itu.

Sementara Baekhyun kini mengusap lembut puncak kepala gadis yang terbaring di tempat tidur. Tampak pucat. Dan tidak sehat.

“Maaf Injung-ah… Kau jadi mengalami hal seperti ini…” ucap Baekhyun pelan sebelum ia beranjak meninggalkan Injung dan Ahri yang tertidur di salah satu ranjang di rumah Sehun.

Pemuda itu kemudian melangkah mendekati teman-temannya.

“Mau tidak mau kita harus menghadapi mereka.” ucap Baekhyun.

“Tapi, kau tahu kan seperti apa mereka? Dan juga… Jiwa kita sudah kembali.” ucap Kyungsoo.

“Apa kalian mau terus-terusan menyiksa mereka berdua? Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan VPGN, atau A-VG. Mereka tidak bisa terus-terusan menderita karena permasalahan kita. Mereka harus dapat kehidupan yang layak. Kehidupan yang baik-baik saja. Bukan kehidupan menyedihkan seperti ini.” ucap Baekhyun.

Sehun tercenung.

“Setelah perang ini pun mereka akan sendirian…” ucap Kai pelan.

“Setidaknya kita harus pastikan mereka tidak akan terluka lagi karena rasa kehilangan…”

“Baiklah. Lalu apa rencanamu?”

Baekhyun memandang teman-temannya satu persatu.

“Perang itu harus terjadi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Luhan memandang kosong rumah tinggi di hadapan nya. Tahu benar musuh-musuhnya ada disana. Dan pemuda itu tahu, sosok yang ia sayangi juga ada disana.

“Luhan yang kusayangi… Bukan Luhan yang ingin membunuh temanku…”

Ucapan Injung kembali terngiang di benak pemuda itu. Pemuda itu menghela nafas panjang. Tahu benar jika Injung baru saja kehilangan orang yang ia sayangi karena Jiwa itu. Keberadaan Jiwa itu.

Luhan berbalik, menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pagar rumah itu. Seharusnya ia tidak berada disini di saat seperti ini. Tapi pemuda itu seolah ingin memastikan jika Injung baik-baik saja.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Luhan terkesiap. Berbalik. Dan terbelalak saat sosok yang ia nantikan kini tengah berdiri tak jauh darinya. Memandangnya antara bingung, takut, dan senang.

“Injung-ah…”

Luhan memperhatikan keadaan gadis itu. Injung benar-benar tampak kacau. Wajah gadis itu pucat, dan tatapan gadis itu jelas menggambarkan betapa ia tengah terluka.

“Pergilah Luhan… Kau tidak bisa menciptakan perang di tempat ini…” ucap Injung sambil melangkah mundur, menjauhi Luhan.

“C-Chakkaman Injung-ah!”

Langkah Injung terhenti. Luhan memandang gadis itu, lama. Menahan perasaannya yang ingin merengkuh gadis itu ke dalam pelukan nya, membiarkan gadis itu meluapkan segala kesedihan nya.

“Apa?” tanya Injung pelan, nada suaranya jelas menggambarkan betapa lelahnya gadis itu.

Luhan diam. Lidahnya terasa kelu saat ia sekarang sudah melihat gadis itu. Padahal tadinya ia sangat ingin menanyakan segalanya yang terjadi pada Injung. Menunjukkan betapa khawatirnya Luhan pada keadaan gadis itu.

Tapi sekarang semua kalimat yang sudah Luhan karang di dalam benaknya langsung hilang. Melihat wajah Injung seolah berhasil menghapus semua rasa penasaran dalam benak pemuda itu.

Setidaknya walaupun tidak melihat Injung dalam keadaan baik-baik saja, pemuda itu senang, karena Injung masih bicara padanya. Luhan menunggu saat Injung melangkah mendekatinya lagi. Dan sekarang Injung sudah berdiri menunggu di hadapan nya.

“Boleh aku bicara denganmu?” pinta Luhan, tanpa maksud menyakiti, hanya ingin meluapkan perasaannya pada gadis yang begitu dirindukannya.

Perlahan, seolah benteng pertahanannya perlahan runtuh karena luka yang ia derita, Injung melangkah mendekati Luhan. Kabut bening mulai menutupi pandangannya saat ia sadar, Luhan adalah satu-satunya yang tersisa untuk ada di sisinya.

“Aku sangat merindukanmu, Injung-ah…” Luhan berucap lembut, menghancurkan pertahanan yang susah payah diciptakan Injung untuk menunjukkan batas ‘pihak’ nyata yang sudah ia kibarkan pada Luhan di hari sebelumnya.

Masa bodoh dengan semua permusuhan, Injung tak lagi ingin menahan kerinduan dan rasa sakitnya.

Gadis itu melangkah keluar dari gerbang tinggi yang membatasi antara dirinya dan Luhan, untuk kemudian menghamburkan diri ke pelukan pemuda itu, merengkuhnya, erat, meledakkan semua emosi yang sempat tertahan, membuat Luhan tak ayal ikut hancur di dalam.

Eommaku… Kenapa harus Eommaku… Luhan-ah… Aku bahkan baru bertemu dengannya…”

Lembut, Luhan mengeratkan pelukannya di tubuh sang gadis, begitu ingin, mengambil semua rasa sakit yang dirasakan Injung jika saja bisa. Meski harus mengorbankan hidupnya sekalipun, Luhan rela.

“Aku akan ada di sini… Injung-ah. Aku akan melindungimu.” janji Luhan dalam perih, ia sendiri tak tahu apa yang akan terjadi kemudian, tapi satu yang pasti, ia tak akan membiarkan Injung terluka lagi.

Luhan terdiam saat dirasakannya Injung menggeleng dalam pelukan, sementara jemari gadis itu masih erat memeluknya.

“Kau juga meninggalkanku. Bersama A-VG itu… Kau meninggalkanku sendirian…” Injung berucap di sela-sela tangis.

Luhan tersenyum miris, pertemuan dengan Injung adalah hal yang tak pernah direncanakan dan tak pernah juga ia duga. Pertemuan dengan Injung adalah musibah sekaligus keajaiban bagi seorang Luhan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Injung-ah. Aku bahkan tak akan mati, jika bukan karena melindungimu.”

Injung kini mendongak, menatap Luhan dengan sepasang mata yang berkaca-kaca dan wajah basah karena air mata.

“Kau percaya padaku bukan? Aku yakin, Virus itu sudah menceritakan semuanya padamu. Tentang kami, tentang mereka. Dan kau bisa percaya padaku, Injung-ah. Aku tak akan melukaimu. Aku akan selalu ada di sisimu.”

Tak masuk akal. Di pendengaran Injung semua ucapan Luhan sebenarnya tak masuk akal. Tapi akal Injung sekarang sudah berada dalam keadaan yang tak bisa ditoleransi. Semua ucapan Luhan terdengar begitu benar, dan sanggup dipercayainya dan bahkan mengikis kesedihan yang tadi mendominasi.

Melihat Injung yang terus terdiam, Luhan lantas melepaskan lengan sang gadis untuk meraih sebuah kalung yang ada di saku celana yang ia kenakan.

Eomma ku dulu berpesan… Aku harus memberikan kalung ini pada orang yang sangat berarti bagiku…” ucap Luhan, tersenyum lembut sambil memasangkan kalung itu di leher Injung.

Injung tertegun. Kalung itu adalah kalung yang dulu pernah ia curi di kamar Luhan dan ia letakkan di tas Yixing. Kalung dengan permata bundar kecil.

“G…Gomawo…” ucap Injung tulus.

Luhan tersenyum. Lalu mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

“Masuklah… Jaga dirimu baik-baik…” ucap Luhan akhirnya.

Injung diam sebentar. Lalu Ia mengangguk.

“Aku akan menjaga diriku baik-baik…” ucap Injung sebelum ia melangkah meninggalkan Luhan. Tapi langkah gadis itu terhenti. Ia memandang Luhan. Membuat Luhan menunggu.

“Luhan…”

“Ya Injung?”

Injung terdiam.

“Apa yang membuatmu menyerang Chanyeol?” tanya Injung.

Luhan tak lantas menyahut. Membuat Injung kemudian kembali memberanikan diri untuk bicara.

“Bukankah kalian bertengkar dulu sebelum penyerangan? Apa kalian bertengkar tentangku? Apa yang kalian bicarakan?”

Luhan diam. Tidak ingin menjawab pertanyaan Injung. Beberapa lama gadis itu menunggu. Sampai akhirnya ia tersenyum samar.

“Kalau memang benar karena aku… gomawo.” Luhan kini menyernyit mendengar ucapan Injung.

Bukankah melukai VPGN itu akan membuat Injung membenci Luhan?

“Kena—”

“Terima kasih karena selalu peduli padaku, Luhan-ah.”

Injung melangkah menjauh, meninggalkan Luhan. Sementara pemuda itu masih mematung. Memandang sosok Injung yang sekarang bahkan sudah tidak tampak. Perlahan emosi aneh menguasai pemuda itu. Membuatnya kembali tersandar di tembok.

“Maafkan aku Injung-ah… Maafkan aku…”

Hanya angin malam yang tahu. Dan hanya Luhan yang tahu. Di saat itu, air mata menetes pelan dari pelupuk mata Luhan. Menunjukkan betapa sedihnya pemuda itu atas apa yang akan terjadi setelah ini. Dan betapa ia sangat tidak ingin menyakiti Injung atas apa yang akan ia lakukan pada VPGN yang dipihak gadis itu.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ahri adalah sosok yang lebih hancur lagi karena semua yang sudah terjadi. Tragedi, memang. Karena gadis itu harus kehilangan keluarga yang ia cintai, dan bahkan, kini ia kehilangan kepercayaannya pada sosok yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil, Park Chanyeol.

Ahri memang tak bisa berbohong, ia dulu menyatakan diri sebagai seorang yang jatuh cinta pada Oh Sehun, meski pada akhirnya hubungan itu berada di bawah tekanan dan rahasia, kehadiran Injung seolah berhasil mendepak Ahri dari benak Sehun, membuat gadis itu merasa terbuang hingga akhirnya Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang berada di sisinya.

Meski tahu Chanyeol seringkali mengumbar rasa suka pada Ahri—yang kerap kali memicu kemarahan Sehun—tapi Ahri juga tak pernah merasakan perasaan lain selain teman, pada Chanyeol.

Injung-lah, yang kembali muncul sebagai sosok yang membuat Ahri menyadari perasaannya. Bahwa perasaan tulusnya sebenarnya tertuju pada Chanyeol. Meski lagi-lagi, sebuah kenangan berhasil mendepak Ahri dari benak sosok yang berusaha dijaganya untuk tetap ada di sisi, Ahri tahu, ia pada akhirnya akan menemukan seseorang.

Chen adalah sosok yang kini gadis itu percayai, sebagai sosok yang tak akan mendepaknya dari sisi hanya karena masa lalu, atau karena perasaan untuk seorang yang lain.

Ahri ingat bagaimana ia dan pemuda Kim itu bertukar cerita masa lalu, saat ia berada di rumah rahasia. Ia juga tahu, bagaimana gadis yang memiliki nama serupa dengan Lee Injung, adalah sosok yang sudah pasti membuat Ahri tak berarti di mata Chen.

Tapi tidak, keadaan buruk semacam itu sama sekali tidak terjadi pada Ahri. Anehnya, tidak seperti Injung yang merasa waspada dan menjauh dari A-VG, Ahri justru menemukan sandarannya kala bersama dengan seorang A-VG.

“Mereka bilang, Eomma ku mati karena harus menggantikan nyawa dari Jiwa yang kalian serang.” Ahri bergumam tenang, seolah pembicaraan semacam ini tak mengganggunya maupun lawan bicara.

“Apa kau akan membenciku karena itu?” lawan bicaranya, Chen, lantas bertanya.

Ahri menatap ragu, apa ia harus menyalahkan Chen atas keputusan yang diambilnya? Adalah keputusannya, dulu menyetujui permintaan Injung untuk menyimpan Jiwa milik Kai.

Dan jika saja dulu ia tak menyimpan Jiwa siapapun, Ahri yakini ia tak akan kehilangan Eomma nya, bahkan karena A-VG sekalipun.

“Kurasa aku yang salah…” Ahri kembali bergumam.

“Maafkan aku…” Chen berucap, membuat Ahri menatapnya dengan alis bertaut.

“Kenapa kau meminta maaf?” tanyanya.

“Karena kami sudah membuatmu terluka, Ahri-ah.” Chen mengusap kedua kelopak mata Ahri bergantian.

Sudah bisa ditebak, gadis itu pasti menghabiskan berjam-jam lagi untuk menangis di pangkuan Chen yang tak juga jemu menghadapinya.

“Ini bukan salahmu, Jongdae-ah…”

Chen lantas menggenggam lembut jemari Ahri. Membuat Ahri mengalihkan pandangan, tak ingin degup jantungnya makin tak karuan lantaran memandang wajah menenangkan milik sang pemuda.

“Kau tahu, dibandingkan perang yang kalian bicarakan, aku lebih takut pada keadaan seperti ini.” ujar Ahri.

“Seperti ini?” ulang Chen tak mengerti.

“Karena kau begitu baik padaku, karena kau selalu ada saat aku membutuhkan sandaran, aku takut… aku mungkin tidak ingin berpisah denganmu, Jongdae-ah.”

Chen tertawa lembut. “Apa itu artinya kau menyukaiku?” tanyanya, dijawab dengan sebuah anggukan tanpa ragu oleh Ahri.

“Kalau begitu jangan.” ucap Chen.

“Eh?”

Chen menatap serius, meski dengan senyum di wajah, Ahri tahu, pemuda itu tak akan mengatakan sesuatu yang baik untuk mereka berdua.

“Jangan menyukaiku, Ahri-ah. Cukup aku saja yang menyukaimu. Aku adalah monster, yang sudah membunuh banyak orang. Kau tak boleh menyukai seseorang sepertiku.”

“Tapi aku—”

“Jika nanti ada jalan yang lebih baik, aku akan mengizinkanmu untuk menyukaiku, Ahri-ah. Kau tahu sendiri, aku tak ingin kau terluka karenaku.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

NOOOOOOOOOOOO!!!

JIWA-ku gabisa tenang setelah menganiaya Luhan di dua chapter. Aku tuh gabisa bikin fanfiksi penuh momen sedih-sedih macem ini. Jiwa aku ini jiwa keras yang sukanya cerita keras-keras memacu adrenalin, bukan cerita berbaper-baperan gini.

Tapi entah kenapa dua chapter ini malah jadi baper-baperan, mungkin karena Luhan-Injung terpaksa kupisahkan (padahal aku kan Luhan-Injung shipper, huhu!)

Mau gimana lagi, karena aku baik aku terus bikin cerita yang kuanggep bakalan merebut perhatian kalian walau itu artinya melukai perasaanku (APAAN SIH RISH)

Dan well, aku juga gak betah berbaper-baper ria, jadi tralala trilili be ready for the war, guys.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

237 tanggapan untuk “KAJIMA – Slice #17 — IRISH’s Story”

  1. Kok dipisahkan sih kak? Aku lebih setuju kalo injung sama luhan~ huhu.. Sehun kan bukan biasku. Eh, tapi ceritanya sudah selesai. Menyesal aku kak~ lagian biarpun ceritanya belum selesai emang kak Irish bakalan setuju? Kan ceritanya kakak. Ngomong apa sih aku?

  2. Kak aku boleh minta pw untuk chapt.18 nya gak kak?, maaf banget baru comment, karena aku baru tau cara commentnya kak, kedepannya nanti aku janji bakal comment difanfic2 kakak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s