Rooftop Romance (Chapter 1) – Shaekiran

Rooftop Romance

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast
Wendy Son (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

Other Cast
Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene, Joy, Seulgi (RV), Kyuhyun (SJ)

Genres
Romance? Family? Frienship? AU?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer
Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea.Ff ini juga dipost di wp pribadi aku (shaekiran.wordpress.com). Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | [NOW] Chapter 1 |

“Ya! Apa yang mau kau lakukan dengan sandal itu?”

-Chapter 01-

Author POV

 

Anyeonghaseyo, Son Seunghwan imnida.”

 

Gadis bersurai kecoklatan itu memperkenalkan dirinya, tentu saja dengan nama Korea-nya sambil memasang senyum teramah yang dia punya. Gadis itu sedikit menggigit bibir bawahnya saat tersenyum, bukti bahwa dia sedikit tertekan dengan sikap ‘sok’ ramah yang sedang ia tunjukkan.

 

Sok ramah?

 

Tentu saja sok ramah. Bagaimana bisa seorang Wendy yang dikenal sebagai siswi paling pendiam dan tidak punya teman di Kanada berubah menjadi gadis dengan senyum manis di Korea Selatan? Bahkan dulu gadis itu mempelototi semua teman sekelasnya saat memperkenalkan diri di MOS sekolahnya saat SMP.

 

Wendy kembali tersenyum terpaksa saat teman-teman barunya mulai bertanya lebih tentang gadis yang berbahasa Korea agak ‘aneh’ itu. Tentu saja aneh, 16 tahun dia hidup di dunia dan selama itu dia hanya melihat orang berambut pirang blonde atau mata biru di sana sini.

Seumur hidup, dia hanya pernah punya 1 teman, ah lebih tepatnya musuh orang Korea tulen di kelasnya, dan sekarang dia punya 30 teman Korea yang sekarang akan mengelilinginya sepanjang dia bersekolah di tempat itu.

 

“Darimana asalmu Seunghwan?”

 

Sooyoung memberikan sebuah pertanyaan pada Seunghwan, nampaknya yeoja itu cukup antusias dengan siswi baru yang sedang berdiri canggung di depan mejanya yang berada di urutan pertama.

 

Wendy merutuki dirinya sendiri. Tidak mungkin gadis yang sedang main kucing-kucingan dengan appa-nya itu memberitahu teman-teman barunya kalau dia berasal dari Kanada dan merupakan putri dari seseorang yang sangat terkenal dalam dunia bisnis.

 

“Bu…Busan.”

 

Wendy menjawab pertanyaan Sooyoung dengan ragu-ragu. Oke, sebenarnya dia tidak berbohong-bohong amat, toh kampung halaman orang tuanya memang Busan. Jadi, secara tidak langsung dia memang berasal dari Busan kan?

 

“Baiklah, cukup pertanyaan untuk hari ini. Sekarang kau boleh duduk di bangku itu Seunghwan-ssi.”

 

Cho Kyuhun menunjuk sebuah bangku kosong di pojok kelas yang tepat berada di sebelah jendela sehingga yeoja itu bisa melihat koridor sepuasnya.

 

Ne Ssaem.”

Wendy, ah mungkin lebih tepat memanggilnya Seunghwan sekarang meski gadis itu sebenarnya juga merasa agak risih dengan nama barunya. Seunghwan pun segera duduk di bangku yang ditunjuk oleh wali kelasnya dan lagi-lagi menebarkan senyum terpaksanya yang kini semakin terlihat natural setelah semakin sering ‘dipergunakan.’

Anyeong Seunghwan.. aku Kang Seulgi, kau bisa memanggilku Seulgi saja.”

Gadis yang mengaku bernama Seulgi itu menyapa Seunghwan dengan ramah meski dengan nada setengah berbisik karena guru mereka yang notabene guru musik itu sudah mulai mengoceh tentang not balok dan sangkar nada. Seunghwan membalas sapaan teman barunya itu tidak kalah ramah, kali ini senyumnya sudah nampak tidak dipaksakan lagi.

“Sehun-ssi,”

Tiba-tiba saja Cho ssaem yang sedang asyik menerangkan itu memanggil nama seseorang dengan tatapan mematikan. Seunghwan celingak-celinguk ingin tau siapa orang yang baru saja dipanggil gurunya itu.

“SEHUN-SSI!!”

Kali ini guru muda itu menaikkan nada suaranya, tapi bukan nada merdu seperti yang biasa dia praktekkan di depan kelas sebagai materi pelajaran, melainkan sebuah teriakan melengking yang bisa saja merusak gendang telinga 31 murid di kelas itu.

“Ah, ne… Aku hadir.”

Sehun terbangun sambil melafalkan kata-kata itu cepat, mengira bahwa guru di depan itu sedang mengabsent namanya.

“Apa kau tau apa yang baru saja ku jelaskan tentang sangkar nada? Sekarang apa fungsi sangkar nada bagi not balok?”

Deg..

Kyuhun memberikan pertanyaan yang sangat mematikan bagi namja itu. Yah, sebenarnya itu pertanyaan yang tidak terlalu sulit jika Sehun mendengar penjelasan wali kelasnya itu barusan.

“Aku tidak tau ssaem.”

Sehun menjawab pertanyaan itu pelan, menahan malu karena baru saja ketahuan ketiduran di kelas sekaligus member tahu dunia tentang kebodohannya dalam seni musik.

“Keluar dari kelasku sekarang dan jangan masuk sampai kelas membosankan ini selesai.”

Selesai sudah, guru dengan tampang kalem itu sudah menjatuhkan vonis yang sama untuk ke-39 kalinya bagi Sehun dalam bulan ini. Bisa dibilang Sehun akan ditendang keluar setiap jam pelajaran Cho ssaem dimulai.

“Dasar bodoh. Masa guna sangkar nada saja tidak tau.”

Seunghwan mulai membatin sambil memperhatikan sosok namja bernama Sehun itu keluar kelas sambil mengacak-acak surai hitamnya.

***

Eomma, aku pulang.”

Namja tinggi itu berteriak cukup nyaring saat masuk ke rumah bertingkat 2 itu. Dia menatap sekeliling rumahnya yang kosong, bahkan hyung-nya yang mungil itu tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.

“Akhirnya pulang juga kau, dasar anak bandel.”

Memang ada suara yang menjawab teriakan namja bernama Chanyeol itu, tapi yang menjawab bukanlah orang yang sedang dia cari. Dia bisa melihat bahwa appa-nya yang masih menggunakan kemeja kerja dan jaket hitamnya yang menjawab barusan, oh jangan lupa benda yang sedikit menyembul dari dalam jaket yang dipakai appa-nya itu.

“Ah, appa. kau sudah pulang? Bagaimana penyelidikanmu?”

Namja itu nampaknya mengalihkan pembicaraan ketika tau appa-nya ada di rumah. Lelaki yang berparas mirip bahkan sangat mirip dengan Chanyeol itu menatap putranya dengan seksama, sementara Chanyeol malah bergidik ngeri melihat tatapan appa-nya yang nampak seperti siap menerkamnya itu.

Appa tidak boleh tau masalah yang sudah ku buat.”, batin Chanyeol dalam diam sambil terus berusaha mengalihkan pembicaraan dengan ayahnya.

Oh, penyelidikannya sukses. Pembunuh berantai di daerah Itaewon itu sudah tertangkap dan kami yakin tidak akan ada korban yang berjatuhan lagi.”

Lelaki itu menjawab pertanyaan Chanyeol sambil membuka jaketnya dan meletakkan benda itu di atas kursi. Nampak disana benda yang sangat akrab di mata Chanyeol selama 18 tahun hidupnya, pistol.

Eomma-mu tadi pergi belanja dan hyung-mu menemaninya.”

Appa Chanyeol yang berprofesi sebagai detektif polisi itu menambahkan. Namja di depannya hanya mengangguk mengerti sambil terus menatapnya yang sedang melepaskan peluru-peluru dari pistol yang selalu setia menemani ke setiap misinya itu.

“Ingat, cukup bermain-main dengan wanita saja dan jangan pernah memainkan benda yang satu ini.”

Ayah Chanyeol kini mengangkat pistolnya yang sudah kosong ke arah Chanyeol sambil sedikit menyindir hobbi Chanyeol yang suka menjadi playboy itu. Chanyeol hanya mengangguk mengerti, yah…dia mana mau membahayakan dirinya sendiri. Baginya hanya hidup 18 tahun di dunia terlalu sedikit.

“Ah, berat sekali.”

Tiba-tiba saja sebuah keluhan terdengar dari namja yang tiba-tiba saja muncul diantara ayah dan anak itu. Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata yang dibuat sememelas mungkin. Dengan langkah terseret-seret namja tinggi bermarga Park itu pun segera keluar membantu mengangkat barang belanjaan eomma dan hyung-nya itu.

Aigoo, itu gunanya punya adik yang seperti raksasa sepertimu.”

Baekhyun mulai berceloteh riang sementara Chanyeol menggerutu sambil mengangkat belanjaan yang beratnya seperti anak SD itu. Ingin rasanya namja itu mengeluh, tapi tidak saat melihat appa-nya masih berdiri dengan manis di sana. Lebih baik tidak mengeluh atau appa-nya itu akan segera membanting Chanyeol dengan jurus Taekwondo sabuk hitam. Bagi appa-nya, lelaki harus kuat dan tak boleh mengeluh.

“Tunggu saja kau Byun Baekhyun. Dasar hyung sialan.”

Chanyeol kembali menyumpahi hyung-nya itu dalam hati.

“Jangan jadi pemalas Yeol, hyung-mu sudah capek membelinya tadi.”

Tuan Park menasehati namja yang tengah menggerutu itu lalu mulai bertos riang dengan Baekhyun. Chanyeol menatap pemandangan di depannya dengan malas.

“Oh iya, setelah itu tolong panggil penyewa rumah atap restoran kita yang baru. Eomma ingin mengajaknya makan malam sebagai ucapan selamat datang.”

Wanita yang berstatus sebagi eomma kedua namja itu pun menambah satu tugas lagi yang harus dilakukan oleh Chanyeol. Kini Chanyeol benar-benar menatap mereka semua dengan kesal.

Arasseo, araseo! Sepertinya kalian bertiga sepakat mengerjaiku. Hebat sekali.”

Ketiga manusia yang disebut Chanyeol hanya mulai ber-high five lagi, tidak peduli dengan celotehan Chanyeol yang sedang bolak-balik mengangkat belanjaan itu dengan kesal.

 

***    

-Chanyeol POV-

Aku terus menggerutu saat keluar dari rumahku sendiri. Aku menarik nafas kesal, menghirup sedikit udara dingin malam ini .Yah, tak apa sih meski aku disuruh-suruh begini oleh mereka, yang penting aku bisa merasakan kembali artinya sebuah keluarga. Itu menyenangkan meski aku harus keluar malam-malam menuju restoran tteokboki keluargaku yang jaraknya hanya tinggal menyebrang jalan saja karena restoran itu tepat berada di depan rumahku.

Aku membelokkan langkahku sedikit ke kiri. Tentu saja tujuanku bukan ke restoran tteokboki itu, tapi menuju rumah atap di atasnya. Aku menaiki tangga di samping restoran satu demi satu dan berujung dengan sebuah pintu kayu berwarna coklat. Terkunci. Ah masa bodoh, toh aku juga mempunyai kunci cadangannya.

Pintu kayu itu terbuka dan aku segera naik ke atas. Aku mendapati pemandangan rumah atap yang masih nampak sama seperti terakhir aku kemari. Aku sedikit mengadahkan kepalaku ke atas, kembali terpaku menatap langit malam disana untuk kesekian kalinya

Tempat ini benar-benar istimewa bagiku. Tempat ini adalah pelarianku dan merupakan salah satu tempat favoritku. Dulu aku bahkan sering kabur ke sini saat ayah marah padaku atau sekedar memanjakan diri dengan pemandangan langit malam seperti yang sedang kulakukan sekarang.

Ah, mengingatnya kembali bisa saja membuat orang di sekitarku salah paham menganggapku gila karena tertawa atau senyam-senyum sendiri. Untung saja disini sedang tidak ada orang. Mungkin bukan tidak ada orang, tapi aku saja yang belum menemui orang itu.

Aku segera menuju pintu rumah atap berwarna biru muda itu dan mengetoknya cukup kuat.

“Permisi, aku putra pemilik rumah atap ini. Eomma-ku ingin kau turun dan ikut makan malam bersama kami.”

Aku kembali mengetok pintu itu lagi, berkali-kali dengan hentakan yang semakin kuat. Tapi nyatanya? Nihil. Aku mencoba membuka pintu biru itu, dan lagi-lagi terkunci. Apa orang itu tidur? Masa bodoh dengan itu. Aku segera merogoh sakuku dan lagi-lagi mengeluarkan kumpulan kunciku yang salah satunya adalah kunci rumah atap ini.

“BRUGHH!!”

Bisa kurasakan sebuah benda mengenai kepalaku dengan cukup keras. Aku menatap benda yang baru saja mendarat di lantai setelah menimpuk kepalaku itu. Ramen?

 

***

-Wendy POV-

Tinggal di Seoul ternyata tidak terlalu buruk. Aku sangat mensyukuri keputusanku kabur dari bandara Incheon kemarin. Lihat saja aku sekarang, bebas berjalan ke sana-sini tanpa ada larangan dari appa menyebalkan yang selalu melarangku ini itu dan memerintahku seenaknya. Aku menenteng plastik kresek berisi beberapa ramen yang baru saja ku beli di mini market dengan riang. Lihat, bahkan sebentar lagi aku bisa makan mie yang selalu dilarang appa.

Aku menaiki tangga rumah baruku dengan riang. Segera saja ku masukkan kunci untuk membuka pintu ditangga itu, tapi aneh. Bukannya aku sudah mengunci pintunya? Aku sangat yakin tadi aku menguncinya sebelum pergi.

Dengan langkah takut-takut, aku membuka pintu kayu itu dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dan benar saja dugaanku, sekarang bisa ku lihat seorang namja sedang berusaha membuka pintu rumahku.

Siapa dia? Pencuri? Memangnya ada pencuri yang mencuri ke sebuah rumah atap? Atau jangan-jangan dia suruhan appa?

Berbagai spekulasi bermunculan di otakku, tapi sepertinya kemungkinan terakhir itu yang paling masuk akal. Ya, orang itu pasti suruhan appa yang sedang mencariku karena kabur kemarin.

Mungkin karena tau kalau suruhan appa itu tidak akan berani melukaiku, dengan seenak jidat aku mulai melempari namja itu dengan plastik kresek berisi ramen yang sedari tadi ku pegang.

“BRUGHH!!”

Binggo! Plastik itu benar-benar tepat sasaran mengenai kepalanya. Bisa ku lihat orang itu mulai memegangi kepalanya yang baru saja ku ‘timpuk’ dengan 6 cup ramen dan bonus sekaleng coca-cola ukuran sedang.

“Siapa kau?”

Aku mulai bertanya dengan bersiap-siap melempar benda lain yang mungkin saja bisa ku lempar ke orang itu. Mungkin sandal yang sedang ku pakai ini bisa menjadi pilihan.

“Kau yang siapa, berani-beraninya melempariku dengan ramen!!”

Orang itu malah balas bertanya dengan nada marah. Hei, apa haknya lebih marah dariku?

“Jujur saja, kau pasti suruhan appa kan?”

Aku mulai bertanya lagi, langsung ke pertanyaan inti. Sekarang aku sudah bersiap-siap melepas sandalku. Bagiku menghajar orang ini lebih baik daripada harus lari karena takut. Mana mau aku melepas kebebasan yang baru saja ku dapat kemarin.

“Suruhan appa-mu? Ya! Aku memang disuruh untuk memanggilmu, tapi aku bukan disuruh oleh appa-mu. Kau penyewa rumah atap ini kan? Aku putra pemilik rumah atap ini.”

Apa katanya? Putra pemilik tempat ini? Jangan berbohong. Kau pasti suruhan appa. Aku pun mulai melepas sebelah sandalku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Ya! Apa yang mau kau lakukan dengan sandal itu?”

Bisa ku dengar nada heran dari nada bicaranya. Ya, untuk apa heran. Bukannya kau memang tau kalau aku memang suka melempari kalian – para pesuruh appa dengan barang-barang saat aku kesal? Sekarang aku sedang kesal melihatmu dan kau tau kan apa artinya?

“ Memangnya untuk apa lagi? Tentu saja untuk melemparimu bodoh.”

 

To Be Continued

 

 

49 thoughts on “Rooftop Romance (Chapter 1) – Shaekiran

  1. Ping-balik: Rooftop Romance (Chapter 13) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: Rooftop Romance (Chapter 14) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ketimpuk ramen 6 sma cola 😂😂😂 kasian bang Ceye😢😢
    Ijin baca ya thorr…mau marathon nie kmaren2 kehabisan kuota😅😅😅

    • Kesian kan suami eki chingu? /plakkk/ OPEN YOUR EYES EKI!/😄
      Monggo dibaca, selamat marathonan chingu, kuota eki juga sering abis /PLAKK/😄
      Thanks for reading, cintakuh padamuh❤

    • Kuat dong, orang dia jago ceritanya jago taekwondo (*lupa part berapa eki kasih tau kalau si chan jago taekwondo, pokoknya dia jago berantemlah. so, dia kuat.) wkwkwk, dia gak mau ngeluh, aku sering nasehatin soalnya /PLAKK/

      Thanks for reading, cintakuh padamuh❤

  4. waaahh wahahh seru ah ff nya..
    mo lanjut baca chapter selanjutnya deh
    oh ya btw gua reader baru disini
    salam kenal buat semuanya^^

    • Duh, ff absurd dibilang seru, makasih lo chingu.😄😘
      Monggo dilanjut bacanya.😄
      Salam kenal juga chingu, rajin” mampir di ff shaekiran ya, (*promosi..😂)
      Thanks for reading.😄😉

  5. Tidakkkkkk jangan tbc…….:v
    Aku menunggu kapel wenhun, semoga mereka cepat dipertemukan
    Sudah ketemu sih :v
    Ditunggu nextnya yak

  6. Waaah aku wenyeol shipper nih. Jarang nemu ff yang cast nya wendy sama chanyeol, apalagi ada si sehunnya.
    Pokoknya gak mau tau harus di lanjutin secepatnya.
    Hehehehe
    Fighting thor nulisnya…

  7. Bwahahahaha.,
    Chanyeol kasian bgt..wkwkwk
    Niat bcanya kmarin mlm, eehh mati lampu jdinya agx lemot😦 jdi bcanya bru skarang#curhat..wkwk

    Next kakk..
    D tunggu ya..🙂
    Hwaiting!!

  8. Chanyeol playboy?? Wah wah wah semoga Wendy ngak jadi korban Chanyeol selanjutnya deh… Keep writing thor ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s