[EXOFFI FREELANCE] Promise From You (Chapter 5)

Promise From you poster 2

A FanFiction made by Riku. And also, the length is Chaptered. EXO’s Kai as the lead male and Red Velvet’s Seulgi as the lead female, supported by EXO members, Red Velvet members, Twice members, and last, NCT U member as an additional cast. Romance, Life, School-Life as the genre, so i will take you to my imagination world. And because of that, this is ratedPG-16.

DISCLAIMER!

Inspired by IRISH & NAKASHININE noona, i create this fanfiction, pure from my brain. With the BASIC from many stories, dramas, and fanfictions i made this fanfiction. If you find a similarity storyline, it was just a few, the storyline in my brain is same. But the whole story of my own. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. I just BORROW the name.

EXO, Red Velvet, Twice and NCT U Members belong to their real-life.

“Aku tunggu kekalahanmu, Kang Seulgi.”

Langit di kota Seoul tampak gelap, menunjukkan bahwa hari memang sudah larut malam, tapi itu tak menutup keceriaan yang ada pada wajah Sehun. Ia masih tersenyum-tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja ia lakukan bersama Irene tadi saat bersamanya lalu mengantarnya pulang ke rumah.

“Kkk, bahkan saat aku sampai ke rumah, aku masih teringat senyumnya itu.”

Siapapun pasti mengira Sehun seperti orang gila ketika melihatnya tersenyum-senyum seperti ini, dia berjalan-jalan di ruang tengah dengan kegirangan dan melompat-lompat. Ia tak henti-hentinya memandangi wallpaper handphonenya. Dan lagi, ia tersenyum seperti orang aneh.

“Woah, aku masih tak menyangka baru menghabiskan waktuku bersama Irene, senang sekali…”

TOK! TOK!

Sehun menghentikan ucapannya dan melirik ke arah pintu rumahnya, ia bangkit dan berjalan pelan menuju pintu itu untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Berhubung Seulgi belum pulang, Sehun yakin jika itu adalah Seulgi.

“Kenapa kau lama sekali membuka pintunya, eoh?”

Sehun terkejut ketika ia membuka pintu ia melihat seseorang, memang dugaannya tepat bahwa yang di balik pintu itu adalah Seulgi tapi yang membuat Sehun terkejut adalah Seulgi berada di punggung Kai dengan kondisi kaki yang terbuka tanpa sepatu dan Seulgi yang tertidur. Kai tanpa menunggu persetujuan sang pemilik rumah, langsung masuk ke dalam rumah Sehun. Kai cukup dekat dengan keluarga Sehun itulah ia kenapa masuk ke rumah Sehun sesuka hatinya.

“Kaiya, apa yang ter…”

“Dimana kamarnya?” Ucap Kai memotong perkataan Sehun.

“Eh? Hei, aku bertanya lebih dulu! Ap…”

“Aku bilang dimana kamarnya?!” Potong Kai lagi.

“Ya, bisakah kau menjawab pertanyaan tuan rumah terlebih dahulu?” Lanjut Sehun sambil menggeleng.

“Kau tak lihat aku sedang sibuk? Aku akan menjawab pertanyaan tidak bermutu mu itu nanti saja, kau tak lihat aku membawa sepupumu yang berat ini?” Celoteh Kai.

“Cih, kau memang benar-benar… kamarnya ada di lantai 2. Setelah naik tangga langsung belok ke kiri, pintu kamarnya berwarna pink muda.” Ucap Sehun pasrah karena apa yang ia katakan selalu di potong sahabatnya itu.

“Ah, baiklah. Tolong bawa 1 orang pembantu-mu dengan membawa 1 liter air dingin dan air panas. Tak lupa dengan handuknya, lalu juga bawa perban. Kau juga ikut aku ke atas. Akan aku ceritakan nanti.” Kai langsung melangkah menuju kamar Seulgi saat itu juga.

“Sebenarnya yang tuan rumah itu kau atau aku? Ckck. BIBI! Tolong bawakan 1 liter air panas dan dingin, jangan lupa dengan handuk kecil. Dan juga bawa perban yang ada di kotak P3K, setelah itu temui aku di kamar Seulgi.” Sehun lalu berjalan mengekori Kai yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Dalam benak Sehun, ia bertanya-tanya. Kenapa Kai bisa bersama Seulgi? Kenapa Seulgi bisa tertidur di palunggung Kai? Tapi yang paling menganggu pikirannya adalah. Kenapa Kai bisa sepeduli itu kepada Seulgi yang notabennya adalah perempuan yang sangat tidak ia sukai.

In Sehun Side

Aku memperhatikan Kai sedari tadi, saat ia masih menggendong Seulgi sampai meletakkannya di tempat tidurnya, lalu membuka kaos kaki serta sepatunya. Dan membuka ikatan yang ada di kaki Seulgi, lalu membasuh dengan air dingin dan mengompres nya. Aku memperhatikan setiap detik ekspresi yang ada di muka Kai, penuh kekhawatiran dan ketakutan. Sungguh, ini pemandangan yang sangat langka, terakhir kali aku melihat Kai seperti ini saat final event dance di Busan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Kkamjong?”

Kai tak menggubris panggilan dan pertanyaanku, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri pembantuku yang berada di seberang tempat tidur Seulgi. Ia memberikan bahan-bahan kue yang sudah Seulgi beli dan memberikannya ke pembantuku.

“Tolong ganti kompresan di kakinya setiap 5 menit sekali, setelah 1 jam, lap kakinya lalu tunggu 10 menit. Setelah itu, basuh dengan air hangat perlahan-lahan, dan lap kembali kakinya. Jika sudah, tolong tekan kakinya lalu perban dengan kuat agar tidak kendur. Mengerti, bibi?” Kai menjelaskan apa yang harus di lakukan pembantuku nanti dengan menunjuk apa saja yang sudah ia suruh bawa. Aku masih kesal karena Kai tak menggubris panggilanku sejak tadi.

Kaiya.” Panggilku tak sabaran. Kai menoleh kepadaku sejenak lalu mengambil tasnya dan berbalik ke arahku. Kami bertatap mata untuk beberapa saat, Kai menghembuskan nafasnya pelan lalu memberi isyarat ‘agar sebaiknya aku keluar’ dengan tangannya. Aku mengerti dan langsung melakukan apa yang ia suruh, Kai mengikuti di belakangku.

“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Kai?” Ucapku tepat setelah Kai menutup pintu kamar Seulgi. Ia melipat kedua tangannya dan menyender ke tembok.

“Ia menerobos lampu pejalan kaki dan hampir tertabrak oleh sebuah mobil. Tapi aku berlari menyelamatkannya, hanya saja aku mendorongnya ke trotoar sehingga membuat kakinya terkilir.” Terang Kai yang membuatku terbelalak.

“Aku tak tahu harus berterima kasih atau apa.”

“Tak usah. Hanya saja, kenapa kau membiarkannya berkeluyuran malam-malam di luar?” Tanyanya tiba-tiba.

“Aku tak membiarkannya. Dia hanya membeli bahan-bahan kue yang di pesan ibuku. Aku sudah menawarkan untuk mengantarnya tapi ia menolak karena ia tak mau menganggu acaraku.” Belaku.

“Setidaknya, berikan ia pengawasan atau kendaraan agar tak terjadi hal seperti ini lagi. Bagaimana jika ia melakukan hal yang sama dan tak ada orang yang menyelamatkannya? Seulgi akan terluka, dan mungkin patah kaki dan kau tak mau itu terjadi kan?” Omelnya.

Aku terdiam mendengar ucapannya, terkejut sebenarnya. Aku menatap Kai dengan ekspresi yang sangat serius, setahuku Kai tidak pernah terlihat khawatir seperti ini pada seorang perempuan. Dan kenapa sikapnya menjadi aneh seperti ini? Harusnya kan aku yang marah-marah karena tak diberi penjelasan yang rinci dan tidak diberi tahu informasi langsung darinya saat itu juga.

“Kenapa kau sekhawatir itu pada Seulgi, hm?” Tanyaku dengan memicingkan mataku. Kai terdiam saat aku menanyakan itu.

“Eh? Ti-tidak. Aku biasa saja. K-Ka-Kau hanya salah paham. Tidak, tidak ada apa-apa.” Ucapnya dengan gelagapan. Aku tersenyum melihat tingkah Kai yang seperti ini, sangat menggelian ketika melihat seorang Kai menjadi gugup dan tidak fokus akan sesuatu.

“Benarkah? Aku tidak melihatnya seperti itu. Kau yakin, Kai?” Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celanaku, Kai terlihat sangat gugup. Aku bisa melihatnya dengan jelas, bola matanya berputar-putar untuk mencari alasan.

“Hei, Oh Sehun. Apa yang kau maksud hah?” Aku semakin tersenyum, nada bicara Kai mulai tak beraturan.

“Kau bertingkah seolah kau adalah kekasihnya? Kau tahu? Kau sangat mengkhawatirkannya tadi.” Ucapku akhirnya.

“N-nde? A-aku tidak mengerti perkataanmu.” Kai segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.

“Kau gugup, Kim Jong In? Ini pertama kalinya aku melihatmu sangat gugup seperti ini.” Godaku.

“Hei, aku juga pernah gugup saat final event dance di Busan.” Sergah Kai dengan cepat.

“Tapi ini yang pertama kalinya karena seorang wanita.” Sambungku.

“Sudahlah, aku lapar. Tolong masakkan aku ramen, tidak keberatan kan?” Kai melenggang pergi meninggalkanku yang terdiam disini. Cih, sikapnya sudah kembali lagi.

“Hei, beri aku penjelasan terlebih dahulu. Kau menyukai Seulgi ya? Ya kan?” Kataku tak menyerah dan terus menggodanya.

“Diamlah sebelum aku memukulmu.” Keluhnya yang sudah masuk dan duduk di kasur kamarku. Aku terkekeh mendengar Kai yang kacau seperti ini.

“Woah jadi kau benar-benar menyukai sepupuku?”

Kai menatapku malas dan membaringkan tubuhnya di kasurku, senang sekali bisa menggoda Kai dengan bebas seperti ini. Ini karena Kai tak pernah dekat dengan perempuan manapun di sekolah, itulah kenapa aku sangat senang bisa melihat Kai menjadi orang yang bodoh hanya karena beberapa pertanyaan dariku tentang Seulgi.

“Apa katamu saja, Oh Sehun.” Aku tertawa setelah Kai menyerah dengan pertanyaan-pertanyaanku. Sungguh, dia terlihat sangat konyol.

“Bagaimana kencanmu dengan Irene?”

“Eh, apa yang kau mak…”

“Tak usah mengelak, Irene bilang padaku langsung tadi saat di dance room. Jadi bagaimana kencanmu dengannya?” Lanjutnya.

“Ahh… itu…” Aku terdiam sejenak.

Aku terdiam hanya mendengar pertanyaan dari Kai, entah kenapa. Aku hanya bingung harus menceritakannya dengan bagaimana, bagaimana jika pertanyaan Seulgi tadi benar? Bagaimana jika Kai memang berpacaran dengan Irene? Tapi, sepertinya… Arghhh… aku akan ceritakan saja…

“Baik, hanya mengantarnya makan, berjalan-jalan dan mengantarnya kembali ke rumah. Itu saja, ada apa memangnya?” Ucapku seadanya, itulah yang hanya ada di kepalaku.

“Ah, aku tidak yakin jika hanya itu saja.” Dia benar-benar. Aku paling benci ketika Kai sudah menjadi seperti ini, penuh keingintahuan.

“Aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau tidak percaya juga?” Dia tertawa penuh kepicikan.

“Hahaha, Oh Sehun sudah besar ternyata. Yakin kau tidak melakukan yang lain?” Dia menggodaku sekarang?

“Hei, kenapa kau menyebalkan sekali hari ini. Sudahlah, pulang saja kau!” Usirku dengan memukul badannya pelan.

“Hei, kau jahat sekali! Aku kan baru sampai, tawarkanlah aku minum atau ramen. Tubuhku pegal sekali. Aku berjalan sekitar 3 blok dengan membawanya. Kau tahu dia itu berat bukan?” Celotehnya tak jelas.

“Kau jika tidak rela membantunya, kenapa ka…”

“Sehun-ah, boleh eomma masuk?”

Perkataanku terhenti ketika ibuku datang kekamarku, Kai pun seketika membetulkan posisinya melihat ibuku datang. Aku dengan Kai saling berpandang-pandangan, Kai sepertinya kebingungan harus bertingkah seperti apa di hadapan ibuku. Aku memberikan tatapan ‘bersikap seperti biasanya’, dan dia mengangguk.

“Ah, Kaiya. Kau ada disini?” Tanya ibuku kepada Kai, dan Kai tersenyum.

“Ne, bibi. Aku tadi hanya lewat dan memutuskan untuk mampir sebentar kesini. Aku juga harus meminjam beberapa buku catatan milik Sehun.” Kai tersenyum memperlihatkan giginya yang tentu saja membuatku dan ibuku tertawa.

“Tak apa, bibi sudah tahu yang sebenarnya. Sehun yang memberi tahu bibi, dan terima kasih sudah menjaga dan mengantar Seulgi kemari. Terima kasih, Kai.” Kai menatapku dengan tatapan tak percaya dan kesal. Aku terkekeh lagi melihatnya, wajahnya sangat konyol.

“Ah, ne. Sama-sama bibi.” Jawab Kai kikuk.

“Sehun-ah.” Panggil ibuku.

“Ne, eomma?”

“Tolong antar Kai pulang nanti ya, setelah itu kita berbicara sebentar. Ada yang ingin ibu sampaikan dan bicarakan denganmu.” Terang ibuku. Aku mengangguk menjawabnya dan dia tersenyum padaku.

“Baiklah. Jongin-ah, bibi pamit dulu, ada yang harus bibi urus di kamar. Sehunnie, jangan lupa antarkan, Kai ya? Ibu pergi dulu.” Ibuku pergi setelah menyelesaikan pembicaraannya, dan pintu kamarku ditutup olehnya dari luar.

“Kau tahu aku tidak ingin di antar olehmu kan?” Kai melipat kedua tangannya dan memandangku.

“Kau kira aku sudi mengantarmu? Bensin di mobilku tak pantas di buang-buang untuk orang sepertimu.” Balasku tak kalah mengejek. Kai tertawa yang di ikuti oleh tawaku. Candaan di antara dua orang sahabat laki-laki memang rata-rata seperti ini.

“Baiklah, aku pulang dulu. Ini sudah larut malam. Aku harus bersiap untuk menari esok hari. Keberatan untuk mengantarku sampai pintu depan?” Kai bangkit dari posisinya dan mengambil tasnya. Aku pun melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan.

“Tentu saja tidak, Kai si Taring Hitam.” Ejekku. Kai memasang muka masam tepat setelah aku mengucapkan dua kata terakhir. Yap, si Taring Hitam adalah julukan Kai saat di jadi petarung di jalanan, ilmu taekwondo yang ia miliki sangat jauh berada di atas para petarung jalan biasa, bisa di bilang Kai adalah ‘Boss’ mereka semua.

“Kau tahu julukan itu sudah lama, tak perlu kau ungkit-ungkit lagi.”

“Tapi ilmu taekwondo itu masih ada kan?”

“Kau mau aku menggunakannya untuk membungkam mulutmu yang tak berhenti bicara itu?” Ucapnya sambil merogoh sakunya.

“Uhh… aku takut…” Godaku, tapi Kai tak menanggapinya, ia meraba-raba saku jasnya, lalu saku celananya, tapi tak menemukan apa-apa. Ia melanjutkan memeriksa tasnya, tapi ia tetap tak menemukan apa yang ia cari.

“Mencari apa?” Tanyaku yang kebingungan.

“Handphoneku… tak ada di saku maupun di tasku. Sial!” Umpatnya yang masih mengacak-ngacak isi tasnya.

“Hei, jangan bercanda! Ini sudah malam!” Aku ikut mencari handphonenya itu. Kami berdua kelimpungan, mencari ke seisi kamarku namun hasilnya nihil. Kai menunduk dan memegang dahinya, sepertinya memikirkan dimana dia letakkan handphonenya terakhir kali.

“Apa kau meletakkannya di kamar Seulgi? Kau kan tadi cukup lama berada di kamarnya.”

Kai memandangku sesaat, tak lama mulutnya membentuk huruf O, dengan mata yang berbinar-binar. Ia mengahampiriku dan memegang kedua pundakku dengan tersenyum. Aku hanya memandangnya dengan tatapan yang aneh.

“Kau pintar, Oh Sehun!” Ucapnya dan langsung pergi keluar dari kamarku secepat mungkin dan meninggalkan pintu kamarku yang terbuka. Aku hanya menatap kosong pintu yang terbuka itu.

“Tentu saja aku pintar, jika tidak untuk apa aku sekolah? Bodoh!” Ucapku sambil terkekeh dan berjalan mendekati pintu untuk menutupnya.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Seulgi Side

Aku membuka mataku perlahan dan menemukan diriku berada di ruangan berwarna putih dan cahaya lampu yang redup, aku menolehkan kepalaku mencoba mencari tahu dimana aku sekarang. Ah, ini kamarku. Aku menyadarinya ketika melihat fotoku dan Sehun oppa di dinding di dekat meja belajarku. Aku membuat badanku dalam posisi duduk dengan kepala kasur dan bantal sebagai sandarannya.

“Hm, kenapa bisa aku ada disini? Dan, kenapa juga aku sudah memakai piyama? Coba aku ingat-ingat, terakhir aku itu berada di trotoar dan… ah si Kai itu! Aku naik ke punggungnya dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Apa mungkin dia yang mengantarku kemari? Sepertinya tidak mungkin… mana mungkin dia mau mengantarku?”

TING!

Aku menolehkan kepalaku ke meja yang berada di sebelahku, aku menemukan sebuah handphone di sana, itu bukan handphone milikku, bukan juga milik Sehun oppa. Aku bergeser sedikit dan mengambil handphone itu, memutar dan memastikan siapa pemilik handphone ini. Ketika aku menekan tombol lock, layar handphone itu menyala dan di wallpaper handphone tersebut menunjukkan sebuah foto laki-laki yang memakai kaos basket bernomor punggung, 88. Dan ketika ku lihat lebih teliti, nama yang ada di atas nomor tersebut adalah, Kai. Aku membulatkan mataku tak percaya.

“Ternyata dia benar-benar mengantarku sampai ke sini. Tapi dimana dia? Meninggalkan handphonenya disini saja. Hm, sepertinya aku akan melakukan sesuatu dengan handphonenya terlebih dahulu, siapa tahu aku bisa menemukan videonya sedang latihan menari untuk event besok? Tak apa kan jika aku melihat-lihat sebentar?”

Pikiranku mulai memikirkan ide-ide aneh seperti, menemukan foto Kai yang memalukan dan mengirimnya kepada Baekhyun agar di tempel di mading sekolah, ataupun menyebarkan isi chatnya yang penuh kekonyolan. Hahaha, Kang Seulgi… kau memang jenius. Eh, apa ini? Ada pesan dari Taeyong?

“Baiklah, Taeyong? Tak apa jika ku buka sedikit kan? Sepertinya juga Kai sudah tak berada di sini.” Aku tersenyum dan mulai menjelajahi handphonenya.

From: Taeyong
“Hyung, bagaimana? Apakah berhasil?”

To: Taeyong
“Apanya yang berhasil?”

From: Taeyong
“Aku tahu kau sedang mendekati Seulgi, aku memperhatikanmu akhir-akhir ini.”

To: Taeyong
“Ah, jadi kau si penguntit berbaju hitam itu ya? Datang kau ke ruang dance agar segera kupukul wajahmu itu!”

From: Taeyong
“Hehehe. Peace, hyung. Besok aku akan mentraktirmu Ddeokbokki di tempat biasa. Okey?”

To: Taeyong
“Baiklah, aku ampuni kau kali ini.”

Aih, dasar orang-orang bodoh. Kalian ini memang benar-benar orang yang bodoh. Hanya bertengkar dan berbaikkan kembali dalam beberapa saat? Kalian ini memangnya apa, eoh?

From: Taeyong
“Hyung, aku mau bertanya sesuatu yang penting.”

To: Taeyong
“Tanyakan saja.”

From: Taeyong
“Apakah Tzuyu sudah tidur? Aku menyapanya tapi tak di balas. Bisa tolong cek apakah dia sudah tidur?”

To: Taeyong
“Yak, aku akan benar-benar membunuhmu.”

Aku tak bisa menahan tawaku saat membaca ini, Kai ternyata tidak seburuk yang aku kira. Cukup menyenangkan dan orang yang humoris, aku benar-benar salah menilaimu. Dan, aku baru tahu kau mempunyai adik, Tzuyu? Nama yang bagus. Cih, tapi tetap saja kau masih menyebalkan, aku akan benar-benar mengalahkanmu besok! Lihat saja nanti.

From: Taeyong
“Ahahaha. Baiklah. Ah hyung, jadi bagaimana dirimu dengan Seulgi.”

To: Taeyong
“Tidak tahu, aku hanya senang memperhatikannya akhir-akhir ini.”

From: Taeyong
“Uh, itu berarti kau menyukainya, Hyung.”

To: Taeyong
“Ah, benarkah?”

From: Taeyong
“Tentu saja. Kau pasti menyukainya ya, hyung?”

To: Taeyong
“Mungkin saja? Sudahlah. Ini sudah malam, aku harus pulang.”

From: Taeyong
“Baik, hyung!^^”

“Eh? Apa ini?”

Aku terkejut membaca beberapa pesan terakhir, apa maksud Taeyong? Kai menyukaiku? Bukankah dia membenciku? Bahkan dia menganggapku sebagai rivalnya. Jadi apa maksudnya ini? Aku membaca ulang pesan ini dari awal tapi tetap saja membingungkan.

“Kau tahu kan jika membuka handphone seseorang adalah perbuayan tercela? Mengganggu privasi orang itu sungguh keterlaluan.” Aku mengadahkan kepalaku dan terkejut ketika Kai sudah bersender di depan pintuku. Sontak aku melepaskan handphonenya.

“Aku hanya memegangnya, tidak membuka apapun. Kenapa kau percaya diri sekali?”

“Karena aku tak yakin kau hanya memegangnya saja.” Ucapnya sambil mendekat ke arahku.

“Lagipula, kenapa kau belum pulang? Ini sudah larut malam.”

“Karena ini.” Ucapnya dan mengambil handphonenya yang tergeletak di atas selimutku.

“Oh, baiklah. Sekarang, pergi sana! Aku tak mau melihat wajahmu di tempat suciku ini.” Usirku.

“Kau kira aku masuk kesini karena keinginanku? Tidak. Aku harus mengambil alat berhargaku ini.” Kai berbalik dan berjalan keluar ke arah pintu kamarku.

“Ya! Pergi sana! Lihat saja, besok aku akan mengalahkanmu! Tunggu saja.” Kai menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadapku.

“Sungguh, kau masih mengingatnya? Hei, kakimu sedang cedera. Kau harus istirahat, jangan memikirkan taruhan itu. Jika cederamu semakin parah bagimana?”

“Berhentilah berbicara seperti itu. Aku tahu kau hanya berpura-pura baik agar aku tak datang besok, betul kan? Jadi jangan harap aku akan mendengarkanmu. Aku akan datang dan mengalahkanmu supaya kau berdiam diri dan tak mengusikku lagi.” Ucapku dengan lantang.

“Cih, dasar keras kepala. Sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kau beristirahat.” Kai pergi dan menghilang di balik pintu kamarku.

Aku terdiam dalam posisiku, pikiranku larut dalam hal yang aku bingungkan. Besok. Apakah aku harus datang atau tidak? Jika iya, maka aku harus memikirkan cara bagaimana aku bisa memperkecil rasa sakit di kakiku ini. Jika aku tidak datang, maka Kai otomatis akan memenangkan taruhan itu. Ah, bagaimana ini? Aku tak sanggup menghadapinya jika aku benar-benar kalah darinya.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Author Side

Sehun duduk dihadapan kedua orang tuanya setelah mengantarkan Kai sampai ke depan pintu rumahnya, sesuai perintah sang ibunda. Kini, Sehun memandang dengan tatapan penuh curiga membuat Tuan Oh mempertanyakannya arti dari tatapan sang putra.

“Kenapa kau?” Tanya Tuan Oh, memecah keheningan yang ada sejak tadi.

“Apa yang sedang Appa dan Eomma rencanakan? Tak biasanya kalian ingin berbicara denganku selarut ini. Katakan padaku.” Tanya Sehun yang akhirnya mengucapkan apa yang ia pikirkan dan bingungkan sejak tadi.

“Sebenarnya, Sehun…” Tuan Oh menoleh kearah istrinya dan keduanya terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan putranya ini.

“Aku bertanya. Ada apa sebenarnya? Ada apa? Kenapa Appa dan Eomma memintaku untuk berbicara semalam ini? Kalian tahukan jika aku harus mengurus acara sekolah besok? Katakan apa yang Eomma dan Appa rencanakan?” Tuan Oh dan Nyonya Oh saling melirik kemudian mereka mengangguk seolah setuju akan mengatakan sesuatu, mereka tersenyum dan melirik Sehun.

AppaEomma…” Panggil Sehun kepada kedua orang tuanya, Nyonya Oh menyenderkan badannya ke sofa dan dengan suara pelan ia menjawab pertanyaan Sehun.

Eomma dan Appa sudah mengurus kepindahan kita dan Seulgi ke Vienna, Austria. Sesuai permintaanmu.” Mulut Sehun mengaga karena terkejut kemudian ia mengedipkan kedua matanya.

“Benarkah? Kalian tidak bercanda? Kita akan ke Vienna? Tidak mungkin, ini baru semester 1, eomma. Dan Seulgi baru saja pindah kemari, dan kau ingin memindahkannya lagi? Siapa yang menyetujui permintaanku ini tanpa berdiskusi lagi denganku?” Tanya Sehun bertubi-tubi.

“Tenanglah, ide ini tidak terlalu buruk. Eomma harus setuju, mau bagaimana lagi? Appamu di pindah tugaskan ke sana. Komandan appa juga menyarankan kita semua saja yang kesana.” Terang Nyonya Oh.

“Benar, Sehun. Appa di pindah tugaskan ke Vienna, appa tidak bisa menolak perintah Komandan. Appa tidak meminta kepada Komandan agar di pindah tugaskan ke sana. Awalnya appa juga kaget, tetapi setelah dipikir-pikir, tak ada masalah juga. Terutama kau ingin bersekolah disana kan?” Terang Tuan Oh panjang lebar agar menenangkan putranya mengerti tetapi Sehun sepertinya terdiam saja.

“Aku tak masalah jika di pindahkan ke Vienna, tapi bagaimana dengan Seulgi? Dia pasti sedih karena harus pindah lagi dan mengenal lingkungan yang baru lagi.” Kata Sehun pada
akhirnya mengucapkan apa yang mengganjal di kepalanya.

“Apa yang kau khawatirkan? Aku rasa Seulgi akan baik-baik saja, Seulgi bisa beradaptasi dengan cepat.” Terang Nyonya Oh.

“Jadi mulai besok kau harus membantu kami agar Seulgi tak kaget saat kami beritakan kepindahan ini, kau mengerti kan?”. lanjut Nyonya Oh, Sehun hanya mengusap mukanya pelan.

“Sehun-ah, appa pikir tidak ada salahnya membawa Seulgi ikut. Appa selalu mengkhawatirkan Seulgi disetiap Appa memikirkannya, appa berjanji pada ibunda Seulgi untuk selalu menjaganya sampai kapanpun, jadi tolong bantu kami.” Jelas Tuan Oh membuat Sehun mengangguk.

“Akan kucoba. ” Ucap Sehun dengan pasrah.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

Sebuah rumah megah dengan desain yang futuristic menyala terang di malam hari. Kai baru saja memasuki rumahnya itu, ia melirik jam ditangannya dan sudah menunjukkan pukul 10.06 p.m KST. Kai menghela nafasnya pelan, bersyukur karena lampu di ruang utama sudah padam, menandakan kedua orang tua dan adiknya sudah tidur. Kai berjalan tenang, tak ingin membuat kegaduhan sedikitpun yang bisa membuat orang dirumah terbangun, tapi sepertinya semua itu sia-sia. Langkah Kai terhenti di ruang keluarganya, ketika lampu ruang keluarga menyala ternyata di sana sudah ada kedua orang tua Kai tak ketinggalan Tzuyu sang adik sudah ada disana. Kai mendesah pelan, menggaruk kepalanya dan berjalan mendekati mereka.

“Kau tahu ini sudah jam berapa, Kim Jong In?” Tanya ibunda Kai.

Eomma, jangan marah pada Jongin oppa.” Bela Tzuyu sang adik.

“Aku baru pulang dari rumah Sehun, eomma. Mengurus beberapa masalah tentang event besok yang di adakan oleh club dance.” Jawab Kai yang sudah berdiri di hadapan mereka.

“Benarkah? Kau tidak berbohong?” Selidik Nyonya Kim.

“Sayang, Jongin baru pulang. Jangan terlalu keras padanya.” Ucap Tuan Kim menenangkan istrinya.

“Tak apa, appa. Eomma, aku mengatakan yang sejujurnya.” Balas Kai dengan menatap eommanya.

“Baiklah, eomma percaya. Tapi ada yang ingin appa dan eomma beritahu.”

“Eh? Apa?”

“Kami sudah memutuskan untuk menerima permintaanmu masuk ke Akademi Militer setelah kau lulus nanti.” Ucap Tuan Kim sambil tersenyum.

“Aku tidak salah dengar kan?” Kai tidak menunjukkan ekspresi apapun, ia hanya menatap kedua orang tuanya. Ia mencoba menatap Tzuyu tetapi sang adik hanya tersenyum.

“Yap, kau tidak salah dengar. Appa menyetujuinya, sesuai permintaanmu. Kau tak perlu memikirkan apapun, kau hanya harus fokus. Appa lebih suka kau masuk ke sana daripada melihatmu bertarung di jalanan.” Jelas Tuan Kim.

“Ah, baiklah. Aku harus berpikir, aku mau ke kamarku dulu dan memikirkan ini. Selamat malam.” Kai membungkuk ke orang tuanya dan pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Ia menghempaskan badannya ke kasurnya dan larut dalam pikirannya tentang masuk ke Akademi Militer.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

Pagi hadir menggantikan malam, kehadirannya membuat semua orang segera bergegas melakukan aktivitasnya. Kediaman keluarga Oh pun mulai menjalankan aktivitasnya. Seulgi duduk dengan pasrah di mobil Mazda RX-8 milik Sehun, sedangkan Sehun yang sudah duduk di kursi pengemudi menatap sepupunya itu sambil mengemudikan mobilnya.

“Kau yakin?” Tanya Sehun masih memperhatikan Seulgi.

“Jika kau terus berbicara, aku akan pergi berjalan kaki saja.” Ancam Seulgi membuat Sehun tersenyum paksa.

“Kau tahu jika kakimu sedang cedera, lalu kenapa kau masih bersikeras untuk datang ke sekolah? Apa yang menjadi alasanmu?” Tanya Sehun.

“Aku harus datang meskipun aku tahu jika aku akan kalah dari Kai, seandainya jika aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan menerima taruhan ini.”. Kata Seulgi sambil memanyunkan bibirnya yang sukses membuat Sehun tertawa lebar.

“Ada yang lucu, Tuan Oh Sehun?” Protes Seulgi dengan memandang sepupunya itu.

“Kau tidak perlu memikirkan apa yang sudah Kai dapatkan. Kau hanya perlu percaya diri dan membuat juri terpukau. Apa susahnya dengan semua itu?” Balas Sehun.

“Kalau seandainya itu tidak terjadi dan Kai menang. Kira-kira apa yang akan Kai lakukan kepadaku? Mungkinkah dia akan menyuruhku untuk membersihkan seluruh toilet atau…”

“Hentikan! Kenapa kau berlebihan sekali? Tidak perlu sekhawatir itu, tetapi aku dapat memprediksikan jika kau gagal Kai akan menyiksa dirimu, dan membuatmu menderita seumur hidupmu.” Ucap Sehun sambil menyeringai.

“Bagaimana jika kita berputar saja dan kembali ke rumah?” Ucap Seulgi tiba-tiba sambil menatap Sehun yang sudah memarkirkan mobilnya di depan sekolah, ia menatapku dan menaikkan alisnya.

“Apa yang kau bicarakan?” Tanyanya sambil memasang sebuah mic yang berada di kepala yang biasa di pakai para idol untuk bernyanyi.

“Aku tidak yakin. Aku benar-benar takut.” Rengek Seulgi dan Sehun hanya menatapnya kosong.

“Aku sangat tahu apa yang kau fikirkan sekarang. Datang atau tidak itu sama saja, kau harus yakin. Bukankah kau sangat yakin saat di jalan tadi?” Tanya Sehun.

“Kau tahu kan jika mood itu sering berubah-ubah? Aku mohon, aku benar-benar tidak yakin.” Rengek Seulgi kembali membuat Sehun mendesah.

“Berhenti merengek atau aku benar-benar akan menyuruh Kai menyiksamu.” Ucap Sehun dan keluar dari mobilnya.

In Kai side

Pagi ini sangat cerah tetapi moodku sangat buruk. Aku memiliki kantung mata karena semalam aku tak bisa tidur. Semua ini karena aku memikirkan tentang Akademi Militer yang dibicarakan orang tuaku semalam, aku memang meminta mereka agar memasukkanku ke Akademi Militer, tetapi itu sudah lama. Dan, bukan hanya itu yang mengganggu pikiranku, satu hal yang menggangguku lagi adalah Kang Seulgi. Apakah yeoja itu baik-baik saja? Apakah dia sudah sembuh? Apakah dia akan datang? Aku masih memikirkannya meskipun aku harus bertanding dengannya hari ini. Argh, ini semua sangat menyebalkan.

“Sial!” Umpatku sambil melemparkan botol kosong ke lantai.
Aku melupakan satu hal, sekarang aku sudah berada di ruang dance dan semua panitia memperhatikanku. Aku tersenyum kepada mereka, seolah mengatakan semua baik-baik saja, dan mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka. Aku mengambil jaketku dan pergi menuju ke aula utama, dimana event club dance di adakan. Aku pergi ke sana, tapi tak menemukan apa-apa. Hanya beberapa panitia yang sedang mengecek lightning, sound system, dan lain-lain. Aku memakai maskerku dan menutup kepalaku dengan hoodie, menyembunyikan keberadaanku agar tak di ketahui oleh penggemarku yang fanatik. Aku berjalan menuju backstage agar bersiap-siap, aku menemukan yeoja yang memusingkan kepalaku bersama Sehun di sebelahnya, keduanya sama-sama memunggungiku. Dan karena aku yang ingin duduk, aku memustuskan duduk di belakang mereka tetapi tetap memunggungi mereka, tanpa sepengetahuan mereka berdua. Dan, pastinya aku bisa mendengarkan obrolan mereka.

“Oppa…”

“Hmmm…” Jawab Sehun yang menimpalinya.

“Bagaimana ini? Bagaimana jika dia benar-benar menyiksaku?”

Menyiksanya? Siapa?

“Maka dari itu, kau harus menurutiku agar memberikan yang terbaik.”

Ah jadi tentang taruhan itu? Ckck. Dia terlalu berlebihan menilaiku dan  Sehun. Aigo, dia suka sekali mengerjai orang.

“Aku harap mesin penilai atau mata para juri itu rusak sehingga membuatku menang dan Kai kalah.”

“Yak, kau takut padanya?”

Bagus sekali! Pertanyaan yang bagus, Oh Sehun!

“Aku? takut padanya? Tidak sama sekali! Hanya saja aku tak bisa berada di dekat namja seperti dia.”

“Kau menyukainya?”

Aku mengerutkan keningku, apa maksudmu, Oh Sehun?

“Omong kosong, bertemu dengannya saja adalah sebuah kutukan.”

Perempuan ini benar-benar menyebalkan, kau lihat saja setelah event ini selesai. Aku sangat yakin kau akan gagal dan setelah itu aku punya rencana untukmu, lihat saja.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menyukai Kai, Kai adalah namja yang perfectionist. Dia idaman semua wanita.”

“Jika seorang namja sudah sempurna, maka ia tidak perlu menjalin hubungan. Karena sebuah hubungan itu adalah suatu proses melengkapi dari dua orang, namja dan yeoja yang kekurangan akhirnya mereka bersatu dan saling melengkapi. Itulah artinya kesempurnaan.”

Jujur saja, aku menahan tawaku sebisa mungkin sekarang. Bagaimana bisa ada yeoja sekonyol dia?

“Woah, apa kau tersambar petir? Kenapa kau tiba-tiba menjadi bijak?”

“Bagaimana? Kau terkejut? Kemana saja kau sampai tidak menyadari sisiku yang satu ini?”

Aku tersenyum mendengar ucapan Seulgi yang satu ini, rasanya bukan seperti Seulgi yang aku kenal. Melainkan seperti Seulgi yang di ceritakan oleh Sehun.

“Hentikan pikiran konyolmu itu. Kau harus fokus untuk menari sekarang, bagaimana koreo mu? Sudah lancar? Aku harap rencanamu berhasil. Ah, aku pasti yakin Mark akan menyemangatimu.”

“Hei, jangan melibatkan Mark. Dia hanya teman biasa. Aku pun tak menganggapnya lebih, kau tahu kenapa? Ia tak masuk kriteriaku.”

Memangnya seperti apa namja yang kau inginkan, Kang Seulgi? Tunggu, kenapa aku harus peduli? Kim Jong In, kau sudah bilang pada dirimu sendiri agar membuat Seulgi yang menyukaimu.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Author Side

Event dance akan segera di mulai, aula utama yang menjadi tempatnya sudah terisi oleh siswa dan guru yang ingin menyaksikan acara ini. Seulgi berdiri di belakang panggung, ia mengelus dadanya. Mencoba untuk mengurangi ketegangan yang mengalir di sekujur tubuhnya, ia semakin tegang ketika melihat Kai berada di seberangnya, keluar setelah di rias di make up room. Pesonanya bertambah dua kali lipat, ia memang selalu berhasil membuat semua orang takjub ketika melihatnya. Aura yang ia pancarkan selalu menghipnotis siapapun yang melihatnya, bahkan dengan lirikkan matanya, iti sanggup membuat para fansnya berteriak histeris. Bahkan sebelum acara ini dimulai, Seulgi bisa mendengar mereka meneriakkan nama Kai disana. Kai berjalan dengan tenang dan berhenti di hadapan Seulgi, ia menunduk dan mengikat tali sepatu Seulgi. Setelah itu, ia bangkit dan bertatap muka dengan Seulgi. Seulgi hanya menatap Kai dengan serius, dan tak lama ia mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.

“Aku melakukan seperti yang dilakukan Big Boss pada Kang Mo Yeon di drama ‘Descendants Of The Sun’ apa kau tidak kaget? Hm, lupakan saja. Apa kau sudah siap?” Kai membuka pembicaraan di antara mereka berdua.

“Tak usah berbicara padaku.” Ucap Seulgi dengan ketus.

Kai melipat kedua tangannya, ia memperhatikan setiap detail wajah lawan bicaranya ini. Ia lalu mendekatkan wajahnya menjadi dekat dengan wajah Seulgi. Ia pun tersenyum jahat sambil memandangi lekat-lekat wajah Seulgi.

“Apa yang kau bilang? Apa kau tidak dengar teriakkan fansku diluar sana? Apa itu tidak cukup membuatmu takut? Kakimu sudah cedera? Apa kau yakin masih bisa mengalahkanku?” Tanya Kai tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap menatap mata Seulgi.

“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba, Kim Kai.” Balas Seulgi dan menatap Kai dengan serius.

“Meskipun kau sudah tahu jika kau akan kalah?” Kai menyeringai.

“Ya!” Ucap Seulgi dengan mantap, membuat Kai terkekeh karena tak habis pikir dengan yeoja yang ada di hadapannya ini.

“Baiklah, aku tunggu kekalahanmu, Kang Seulgi.”
To Be Continued~

 

Note: Maafkan jika alurna cepet banget kaya kereta Shinkanshen☹

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Promise From You (Chapter 5)”

  1. Suka eung…. Please Kai yg menang, kayaknya asik aja kalo kai yg menang bisa lebih banyak godain seulgi…. Di tunggu next nya thor….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s