[EXOFFI FREELANCE] Candour (Chapter 2)

Untitled-1.jpg

Tittle    : Candour [Chapter2]
Author  : halolen28
Cash     :   – Irene
– Krystal
– Sehun
– etc.

Lenght : Chaptered
Genre   : Romance/Hurt/Friendship
Rating  : PG 15+
Disclaimer : original bikinan aku. Pernah di publish di exofanfictionindonesia di fb dengan judul yang sama.

Happy Reading

-Chapter 2-

‘Dia … ‘

‘Laki-laki itu .. ‘

***

Sehun dan Irene saling berpandangan sekitar lima detik sebelum Sehun memutuskan untuk segera duduk di bangkunya.
Setelah membenarkan posisi duduknya,Sehun lalu memasang headphone di telinga nya,kemudian memejamkan matanya,dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Irene melihat Sehun dengan tatapan heran. Bagaimana bisa Sehun bersikap dingin seperti itu di lingkungan baru. Apakah itu karna ia belum terbiasa atau memang itu wataknya?

“Baechu,ada apa? Apa kau mengenalnya? Kyaaa~ dia sangat tampan! Bukankah dia terlihat seperti bintang hallyu?” mata Krystal berbinar-binar memandang si anak baru.

“Orang itu … Dia yang aku tabrak tadi” Irene menoleh pada Krystal yang kini sudah duduk di sampingnya.

“Apa?? Daebak! Kau beruntung sekali bisa bertabrakan dengan si blonde yang tampan itu” Krystal menyikut bahu Irene pelan.

“Jangan bicara omong kosong dan cepat kembali ke tempat mu” Irene memutar bola matanya jengah. Sedangkan Krystal menggerutu dan menuruti menuruti Irene untuk kembali ke mejanya.

***

Sekarang jam istirahat. Irene dan Krystal duduk di taman sekolah dengan setangkup roti di tangan mereka. Saat sedang asyik menikmati makan siang mereka,tiba-tiba Sehun si murid baru berjalan tepat di depan mereka dengan gaya cool nya yang mempesona.

“Sehun-ssi” tanpa diduga Krystal memanggil Sehun.

Sehun menoleh dengan tatapan dinginnya. Sungguh tatapan itu seolah membekukan hanya dengan satu lirikan.

“Sehun-ssi,apa kau mau roti?” Kystal berdiri dan menyodorkan bungkusan roti pada Sehun.

Sehun memandang bungkusan roti itu sesaat hingga ia berkata, “Aku tidak lapar” kemudian Sehun berlalu dan meninggalkan Krystal yang membeku di tempat.

Irene hanya geleng-geleng menyaksikan penolakan Sehun terhadap roti Krystal. Sementara itu,senyum Krystal yang sebelumnya mengembang,kini mulai hilang.

“Yakk,barusan dia menolak ku?! Menolak roti ku?! Akh chamm~ aku tak percaya ini. Aku Jung Soojung tak pernah di tolak laki-laki mana pun! Hah~ aku mulai tertarik padanya” Krystal memicingkan matanya.

“Berhentilah bereaksi berlebihan Krys dan cepat habiskan roti mu,sebentar lagi jam istirahat berakhir” Irene menasehati.

***

Sehun merebahkan tubuhnya di rerumputan bukit di belakang sekolah. Entah bagaimana caranya ia bisa menemukan tempat ini.

Rambut blonde Sehun bergerak tertiup angin. Matanya terpejam sesaat untuk menikmati angin sepoi yang berhembus,kemudian ia kembali membuka matanya dan menatap langin biru yang sangat cerah.

“Ahh,ini menyenangkan” Sehun kembali memejamkan matanya.

***

Jam pelajaran terakhir terasa sangat panjang bagi murid kelas 3 – 1. Choi songsaenim masih asyik menjelaskan berbagai rumus rumit yang membuat siswanya semakin frustasi di siang hari yang panas dengan angin sepoi yang terus bertiup bagai nina bobo untuk mereka. Meski demikian,Irene masih memperhatikan materi yang diberikan gurunya itu dengan serius.

Di samping Irene ada Sehun yang hanya diam tanpa alat tulis di tangannya. Ia melihat papan tulis dengan tatapan malas. Beberapa murid yang memperhatikan bertanya-tanya,apakah dia orang bodoh yang malas? Atau dia orang yang kelawat pandai hingga tak perlu materi macam itu?

Semua pertanyaan mereka terjawab ketika Choi songsaenim menyuruh Sehun untuk mengerjakan sebuah soal dengan tingkat kesulitan yang lumayan di papan tulis.

“Hey kau! Anak baru!” Choi songsaenim menunjuk Sehun.

Sehun menunjuk dirinya sendiri untuk meyakinkan apakah benar ia yang sedang di panggil.

“Iya,kau Oh Sehun. Kerjakan soal ini di  depan” perintah Choi songsaenim.

Sehun berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju papan tulis. Sehun mengambil kapur tulis yang di sodorkan oleh Choi songsaenim dan mulai mengerjakan. Hanya butuh sekitar dua menit bagi Oh Sehun untuk mengerjakan soal rumit tersebut. Bahkan Sehun mampu menjabarkan setiap detail dari jawaban soal tersebut.

Murid lain berdecak kagum melihat kemampuan Sehun.

“Daebak! Wah tak hanya tampan,dia juga pintar!”

“Iya,dia sungguh pangeran idaman”

“Apakah dia sudah memiliki pacar? Ahh,aku ingin menjadi pacarnya”

“Nado”

Begituh komentar siswi yang berada di kelas yang sama dengannya.

Irene dan Krystal pun tak kalah kagum. Tak percaya bahwa pangeran es itu sangat pintar.

“Ehemm” Choi songsaenim mendekati Sehun. “Jawaban mu benar,semua cara yang kau lakukan juga tepat. Kerja bagus Sehun” Choi songsaenim menepuk pundak Sehun sebelum memberi gestur pada Sehun untuk kembali ke bangkunya.

***

Sehun berada di perpustakaan untuk mencari beberapa buku referensi. Ia menelurusi rak-rak besar di perpustakaan. Tanpa sengaja Sehun melihat siluet seorang gadis di sudut ruangan. Entah mengapa ia penasaran dengan sosok itu.
Sehun berjalan mendekati gadis itu dengan langkah panjangnya.

TAP

TAP

TAP

Samar-samar sehun melihat gadis yang tertutup silau sinar matahari.

“Kau … ”

“Sehun”

Mereka bertemu pandang lagi. Irene merona karna di pandang oleh si murid baru.

“Siapa nama mu?” tanya Sehun.

“Bae Joo Hyeon. Tapi kau bisa memanggilku Irene”

“Bisa kau temani aku berkeliling sekolah?” kedua tangan Sehun berada dalam saku celanya ketika ia meminta Irene menemanya berkeliling.

“A-aku?” Irene terkejut ketika tiba-tiba Sehun memintanya berkeliling. Terlebih lagi permintaan itu di ungkapkan secara ‘To the point’

“Aku takkan mengulang perkataan ku dua kali” Sehun berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempatnya berdiri tadi.

Irene mau tak mau mengekor di belakang Sehun dengan kepala tertunduk. Ia bingung harus bagaimana. Sehun benar-benar membuatnya salah tingkah.

“Mengapa diam?” Sehun melirik ke belakang.

“Ap-apa?” Irene masih saja gugup.

“Sudah aku bilang aku tidak mengulangi perkataan ku dua kali” Sehun menatap lurus kedepan,sedangkan lawan bicaranya berada di belakangnya.

“Ah,lalu aku harus apa?” tanya Irene.

“Berjalanlah di sampingku. Sulit bagiku bicara pada seseorang yang berada di balakangku” Sehun kembali melirik ke belakang.

“Ah mianhae” Irene buru-buru mensejajarkan langkahnya dengan Sehun.

“Jadi kita mau kemana?” tanya Irene ragu-ragu.

“Bawa aku ketempat yang tenang. Disini terlalu berisik” Sehun memandang lurus kedepan.

Irene lalu memimpin jalan. Ia hanya diam sambil terus berjalan. Diam-diam Sehun memperhatikan Irene dari belakang.

Mereka sampai di bukit belakang sekolah.

“Aku sudah pernah kemari sebelumnya” Sehun menoleh pada Irene,namun Irene tak menoleh padanya. Ia kembali melangkahkan kakinya ke arah semak-semak di sisi bukit. Sehun mengikuti Irene tanpa banyak bertanya.

Irene menyibakan beberapa semak hingga bisa menjadi jalan untuknya lewat.

“Lihatlah” Irene menunjuk ke arah pohon yang sangat besar yang rimbun dan rindang dengan ayunan di salah satu dahannya yang besar.

Sehun terpana melihat tempat itu. Ia tak menyangka ada tempat semacam ini di sekolah barunya.Sehun mendekati pohon itu,meninggalkan Irene yang mengekor di belakangnya dengan langkah lambat-lambat.

Sehun menengadahkan wajahnya untuk melihat batangnya pohon yang menjulang tinggi. Kemudian ia melihat berkeliling sebelum akhirnya ia menyandarkan dirinya pada batang pohon. Irene mendekat. Kemudian melihat kearah Sehun sesaat lalu menduduknya dirinya di ayunan.

Lagi-lagi mereka diam. Mungkin mereka enggan bicara atau sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sehun bangkit dan menghampiri Irene yang sedang melamun.

“Tempat ini … bagaimana kau menemukannya?” tanya Sehun.

“Hanya aku yang mengetahui tempat ini. Bahkan Krystal sekalipun tak mengetahuinya” jawab Irene.

“Lalu,mengapa kau mengajak ku kemari?”

“Kau bilang ingin tempat yang tenang? Ini adalah tempat terbaik untuk mendapatkan ketenangan” Irene berdiri dan menyelipkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telingan. Irene berdiri tepat di depan Sehun, mendongakan kepalanya agar dapat melihat wajah dingin Sehun. “Maka dari itu,jangan katakan pada orang lain tentang tempat ini” Irene tersenyum tipis kemudian meninggalkan Sehun yang masih berdiri di tempatnya. Sehun melihat punggung Irene yang semakin menjauh hingga menghilang di balik semak-semak.

“Dia … menarik”

***

“Baechuu!! Darimana saja kau? Aku mencarimu kemana-mana?” Krystal bergelayut di lengan Irene.

“Mian,ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi” Irene tersenyum pada Krystal.

“Yakk,kau melakukan sesuatu tanpa aku,eoh??” Krystal menghempaskan tangan Irene.

“Bukan hal penting. Sudahlah,berhenti merengek dan temani aku ke kantin” Irene menarik tangan Krystal.

***

Krystal melahap makanan yang ia pesan dengan lahap padahal beberapa menit lalu ia baru saja menghabiskan berbagai cemilan yang ia beli.

“Krys,jangan terlalu banyak makan. Kau akan menyesal di kemudian hari” Irene memperingatkan.

“Arraseo. Aku takkan jadi gemuk” lagi-lagi Krystal menyepelekan nasehat Irene.

“Terserah saja”

“Ngomong-ngomong dimana si pangeran es itu ya? Aku belum melihatnya sejak istirahat tadi” Krysral mengedarkan pandangannya ke selurah ruangan kalau-kalau ia menemukan sosok Sehun.

“Uhhukk! Apa? Pangeran es?” Irene tersedak mendengar panggilan yang diberikan Krystal untuk Sehun.

“Eoh,dia seperti es bukan? Benar-benar dingin! Dan satu lagi,ia sering sekali menghilang. Bukankah harusnya ia beramah tamah dengan teman sekelasnya?” suara Krystal memenuhi gendang telinga Irene.

“Mungkin ia tidak suka suasana yang bising. Sudahlah berhenti membicarakan orang,itu tidak baik Krys”

“Arraseo!”

***

Irene pulang terlambat hari ini karna ada beberapa yang harus di urus mengenai ekstrakulikuler yang ia ikuti. Jam menunjukan pukul lima sore. Setelah merapikan lokernya,Irene bergegas pulang. Tapi Irene terkejut ketika melihat Sehun sedang berjalan menuju gerbang.

‘sepertinya ia akan pulang’ batin Irene.

Irene tak berani mensejajarkan langkahnya dengan Sehun atau pun mendahuluinya,Irene memilih berjalan di belakang Sehun dengan wajah tertunduk.

Sehun menoleh ke belakang ketika merasa ada seseorang di belakangnya.

“Irene” merasa namanya di sebut,Irene menegakkan kepalanya.

“Kau mengikutiku?” Sehun bertanya dengan intonasi datar.

“Ah tidak,rumah ku juga ke arah sana” jawab Irene kegalapan.

“Kalau begitu ayo pulang bersama”

“Apa??”

***

TBC

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Candour (Chapter 2)”

  1. Omo!!! cinta segitigakah?? Irene-Sehun-Krystal woh woh woh sehun berada diantara dua wanita cantik ^_^ maaf author aku baru nemu ff ini keep writing thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s