[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 2)

unreasonable love2

Tittle/judul fanfic: Unreasonable Love [CHAPTER 2]
Author: AGEHA
Length: Chapter
Genre: Romance, drama, marriage life
Rating: PG – 14
Main cast & Additional Cast: Oh Sehun and Suiren Lee
Disclaimer: agehautada.wordpress.com , wattpad: agehach31
Author’s note: Don’t be a silent readers. Thanks to EXOFFI and SAYKoreanFanfiction

The Ringing Bell

 

Hari kedua bulan madu Sehun dan Suiren. Pagi yang cerah dan kedua orang itu masih saja meringkuk di dalam selimut dan enggan bangun. Pancaran sinar matahari yang masuk ke kamar mereka melalui jendela membuat ruangan terasa hangat dan itu membuat Sehun dan Suiren nyaman, bukannya terusik karena suhu ruangannya. Tiba – tiba, suara bel mengganggu tidur damai mereka berdua.

 

TING! TONG! TING! TONG!

 

“Nngghhh….” Suiren menggeliat dan membuka matanya perlahan. Gadis itu bangun dan berjalan gontai menuruni anak tangga dan berjalan ke arah pintu utama.

 

TING! TONG! TING! TONG!

 

“Ugh, berisik,” gerutu Suiren dalam hati. “Siapa yang bertamu pagi – pagi seperti ini?” pikirnya, masih merasa terganggu oleh kedatangan tamu sepagi ini. Saat Suiren membuka pintu, terlihat seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Sehun dengan wajah yang sedikit masam, dengan make up tebalnya itu.

 

“Di mana Sehun?” tanya wanita itu secara spontan. Suiren mengangkat alis, merasa tidak mengerti. Ia bahkan tidak tahu siapa wanita di hadapannya saat ini. Wanita itu sudah terlihat tidak sabaran dan bertanya lagi, “Aku tanya, di mana Oh Sehun?! Kau tuli, ya?!” wanita itu tiba – tiba berteriak tepat di depan wajah Suiren. Hal itu benar – benar membuat Suiren marah.Suiren langsung saja menutup pintu dan menguncinya.

 

Sehun berjalan menuruni tangga dengan wajah bangun tidurnya.Gelagatnya yang seperti anak polos yang baru saja bangun dari tidurnya membuat urat akal sehat Suiren hampir putus. “Siapa?” tanya Sehun seraya menguap saat menuruni anak tangga.

 

Suiren menahan rasa marah dan kesalnya lalu menoleh ke arah Sehun dan menjawab pertanyaan pria itu. “Aku tidak tahu. Wanita gila, sepertinya.” Meskipun wajah Suiren terlihat datar seperti biasanya, nada bicaranya yang terlampau datar menandakan bahwa ia sedang marah. Baru kali ini ia diejek dengan kata TULI! Dan yang lebih parah lagi dari itu, yang mengatakan hal itu adalah orang yang tidak dikenalnya.

 

“Wanita gila?” tanya Sehun tidak mengerti. Suiren hanya mengangguk.Gadis itu malas untuk mengeluarkan suaranya lagi.Saat Sehun berjalan mendekati pintu, Suiren berjalan melewati dirinya begitu saja.Ketika gadis itu sudah menaiki beberapa anak tangga, Sehun membuka pintu dan melihat wanita yang tadi membentak Suiren.

 

Saat melihat wajah Sehun, wanita itu tiba – tiba saja meloncat, memeluk Sehun. “Sehun… kau kemana saja, huh? Kenapa tidak menjawab teleponku?” tanya wanita itu dengan nada yang terdengar manja dan dibuat – buat.

 

Suara wanita itu benar – benar membuat Sehun merasa mual. Sehun langsung saja melepaskan pelukan wanita itu, menutup pintu, dan menguncinya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Suiren yang sedang menatapnya dengan wajah datar. Sehun mulai membuka bibirnya dan berbicara, “Kau benar.Dia wanita gila,” ucapnya membenarkan kata – kata Suiren tadi. “Tidak usah diperdulikan.Ayo, sarapan.Aku lapar,” lanjutnya, berbicara seolah menulikan telinga. Tidak memperdulikan suara bel dan suara wanita itu.

 

Suiren yang sudah menaiki beberapa anak tangga terpaksa harus turun dan pergi ke dapur, menyiapkan sarapan. Sehun menunggunya di meja makan seraya menikmati kopi hangat yang dibuat Suiren sebelum gadis itu memasak. Setelah selesai memasak, Suiren meletakkan hidangan di meja makan. Menu sarapan mereka kali ini adalah cream soup, beberapa potong sandwich, telur mata sapi, dan sosis panggang. Untuk minuman, Suiren lebih memilih menyuguhkan teh lemon hangat. Tidak ada kata yang terucap. Yang terdengar hanyalah suara bel dan suara teriakan seorang wanita yang mengganggu.

 

Tapi, Suiren tidak perduli. Ia tidak mengetahui siapa wanita tersebut dan hubungan apa yang dimilikinya dengan Sehun. Jika Sehun memilih untuk tidak memikirkan dan membahasnya, maka Suiren akan melakukan hal yang sama. Ia akan mengikuti dan menuruti segala keputusan Sehun selama hal itu tidak menjadi masalah dan gangguan bagi dirinya. ‘Tidak masalah’. Begitulah pikirnya.

 

Setelah selesai sarapan, Suiren mencuci alat – alat makan mereka dan mereka berdua mandi dan berpakaian secara bergantian. Saat Suiren menunggu di ruang tamu karena Sehun sedang berpakaian, gadis itu sama sekali tak mendengar suara bel dan teriakan wanita itu lagi. Benar – benar hening. Ketika sedang duduk diam, terdengar suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga.Suiren bangkit dari tempat duduknya dan mengantar Sehun ke teras. “Hati – hati di jalan,” ucap gadis itu saat Sehun dan dirinya terhenti di teras.

 

Sehun mengangguk dan lalu diam. Ia memperhatikan sekelilingnya lalu menoleh lagi ke arah Suiren. “Wanita itu sudah pergi?” tanyanya. Suiren hanya mengangguk sementara Sehun terdiam sesaat lalu tiba – tiba menarik lengan Suiren. “Hari ini aku tidak akan bekerja.Ayo pergi,” ucapnya seraya menarik lengan gadis itu dan membawanya ke mobil.

 

Suiren merasa setengah kaget melihat perlakuan Sehun. “Pergi? Kemana? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” pertanyaan Suiren tidak diindahkan oleh Sehun. Pria itu langsung saja membawanya masuk ke mobil dan menutup pintunya. Setelah Suiren masuk, Sehun pergi ke sisi mobil yang berlawanan dan masuk. Pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya, menancapkan gas, dan pergi.

 

Selama perjalanan, Suiren diusik oleh suara yang ditimbulkan dari getaran handphone Sehun. Gadis itu benar – benar merasa terganggu oleh suara yang dianggapnya tidak merdu itu. Beberapa menit setelah handphone Sehun berhenti bergetar, kali ini giliran handphone Suiren yang bergetar. Pada layar handphonenya tertera nama Sekretaris Kim. Gadis itu memiringkan alisnya dan tak lama ia menekan tombol direct di layar handphonenya. “Halo?”Suiren memulai percakapan. “Ah, ya, Sekretaris Kim. Dia bersamaku,” begitulah jawaban Suiren saat Sekretaris Kim menanyakan keberadaan Sehun.Suiren melirik Sehun diam – diam. Pria itu tetap mengemudi dalam diam dan mendengarkan setiap percakapan Suiren.

 

“Ah, jadi kau yang tadi meneleponnya?”

 

“Dia mengajakku pergi. Tapi aku tidak tahu kami akan pergi ke mana.”

 

“Ah, begitukah? Baiklah, nanti akan kusampaikan.”

 

“Eh? Harus kusampaikan sekarang? Kau butuh jawabannya sekarang juga? Baiklah. Tunggu sebentar,” Suiren sedikit menjauhkan handphonenya dari telinganya lalu menoleh ke arah Sehun. “Sekretaris Kim bilang kolega – kolega kerjamu sudah menunggu,” setelah berkata seperti itu, gadis itu mendekatkan handphonenya ke arah Sehun saat pria itu mulai berbicara.

 

“Kau saja yang pimpin rapatnya. Aku sedang sibuk,” ucap Sehun datar.

 

Setelah Sehun selesai bicara, Suiren mendekatkan handphonenya ke telinganya lalu mulai berbicara. “Kau sudah dengar jawabannya? Baiklah. Akan kututup teleponnya,” ucap gadis itu lalu memutus panggilan dari Sekretaris Kim. “Jadi, hari ini kau ada rapat?” tanyanya dengan wajah datar kepada Sehun dengan pandangan fokus ke depan.

 

“Ya. Ada,” jawab Sehun santai seraya mengemudi lalu diam.

 

“Lalu, kenapa kau tidak menghadiri rapatnya? Rapat itu penting, bukan?” tanya Suiren lagi. Butuh beberapa menit bagi Suiren untuk menunggu Sehun menjawab pertanyaannya itu.

 

“Ya,” jawab Sehun datar. Sungguh cara menjawab yang tidak gentle. Suiren hanya mengangguk – angguk, padahal ia sedikit terganggu dengan jawaban itu. Apa boleh dikata. Perangai seseorang tidak dapat berubah dalam waktu beberapa hari saja. Itu hal yang sulit sebenarnya. Dan suasana menjadi hening kembali. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat tujuan mereka.

 

Toko bunga.

 

Suiren memandangi toko bunga secara keseluruhan lalu menoleh ke arah Sehun. “Untuk apa kita ke sini? Kau ingin membeli bunga?” tanya Suiren dan hanya dijawab anggukan oleh Sehun. Setelah itu, di sapa oleh pegawai yang ada di toko itu dan Sehun memesan satu buket bunga snap dragon, krisan, dan lily. Lagi – lagi, Suiren menatap buket bunga itu secara keseluruhan. “Untuk siapa?” tanyanya lagi dan Sehun hanya diam.

 

Sehun meminta Suiren untuk memegang buket bunga itu lalu mereka melanjutkan perjalanannya. Setelah itu, mereka sampai di sebuah pemakaman. Suiren hanya mengikuti Sehun yang akhirnya berhenti di satu tempat. “Makam siapa ini?” Tanya Suiren seraya melihat Sehun yang sedang menatap makam tersebut.

 

“Ibuku,” jawab Sehun yang berusaha menutupi wajah sendunya dengan ekspresi datarnya. Suiren menatap lekat – lekat makam tersebut. Mereka berdua lalu berdoa dan Suiren meletakkan buket bunga itu di atas makam. Suiren hanya merasa kaget mengetahui bahwa pria ini masih memiliki sisi kemanusiaannya. Setidaknya hari ini ia tahu satu sisi dari seorang Oh Sehun yang sebenarnya rapuh ini.

 

“Ayo pulang,” ucap Sehun seraya membalikkan badan dan berjalan melewati Suiren.

 

Suiren menghela napas pendek. “Aku benar – benar heran,” ucap gadis itu tiba – tiba. Sehun menoleh lalu Suiren bangun dan berjalan ke arah pria itu. Gadis itu berhenti tepat di hadapan Sehun.

 

“Soal apa?”

 

Suiren tiba – tiba saja menangkup kedua sisi wajah Sehun dengan tangannya. Sedikit mendongak ke atas dan menatap mata pria itu lekat – lekat meskipun dengan wajah datar miliknya itu. “Jika kau benar – benar sedih, maka menangislah.” Mendengar perkataan Suiren, Sehun sedikit kaget. Mungkin juga sedih? Karena mataya sedikit berkaca – kaca, tapi tetap bertahan. “Percuma kau menahannya. Aku tahu,” ucapnya lagi dan hal itu benar – benar membuat benteng pertahanan Sehun perlahan hancur.

 

Sehun menundukkan kepalanya dan menyematkannya di bahu Suirennya itu. Menangis dalam diam. Benar – benar pria yang pemalu, bukan? Untuk saat ini, Suiren hanya bisa menggunakan tangan kanannya untuk mengelus kepala pria itu, tangan kirinya untuk memeluk punggung Sehun, dan membiarkan bahunya digunakan untuk sementara.

 

Suiren menutup matanya dan sedikit tersenyum. “Anak baik….”

 

***

 

“Maaf,” satu kata yang diucapkan Sehun saat dia sudah mulai tenang. Mendengar itu, Suiren hanya terkekeh kecil. Sehun mulai mengangkat kembali kepalanya dari bahu Suiren dan menatap gadis itu dengan heran. “ Kenapa kau tertawa? Kau senang, ya?” tanyanya.

 

Suiren menghentikan tawanya dan mulai berbicara. “Yah, setidaknya, itu yang kurasakan sekarang,” jawabnya seraya sedikit tersenyum.

 

Melihat Suiren tersenyum dan kali ini ia benar – benar melihatnya dengan jelas, Sehun merasa agak senang. Pria itu berbalik. “Tapi, sepertinya tidak percuma aku menangis di hadapanmu,” ucap Sehun tersenyum membelakangi Suiren. “Ayo pulang,” ajak pria itu lalu menarik tangan Suiren dan membawa gadis itu ke mobil dan pulang.

 

“Ah, aku lelah,” keluh Sehun saat merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

 

Suiren yang sudah mengganti pakaiannya itu kini berdiri menatap Sehun. “Apa malam ini kau masih harus mengerjakan sesuatu? Ingin kubuatkan kopi?” Tanya gadis itu lalu duduk perlahan di pinggir ranjang mereka.

 

“Buatkan aku secangkir. Tapi malam ini kau juga harus menemaniku,” ucap Sehun. Suiren yang pada awalnya sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan Sehun, beberapa detik kemudian mengangguk dan segera pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi.

 

A few minutes later, at the terrace of the villa…

 

Sehun kali ini sangat sibuk untuk berkutat dengan laptopnya dengan ditemani oleh Suiren dan dua cangkir kopi hangat di meja. Suiren sedari tadi hanya diam memandangi Sehun sambil sesekali juga menatap laut dan menikmati kopinya. Malam ini benar – benar malam yang terang ditemani oleh hamburan bintang di langit. Seraya memandangi Sehun, gadis itu hanya bisa berbicara sendiri dalam hatinya.

 

Jadi, dia memakai kacamata saat bekerja? Berapa lama lagi pekerjaannya akan selesai? Apa segitu banyaknya hingga ia harus mengerjakannya sampai larut malam seperti ini? Sepertinya, memang seharusnya kami tidak pergi hari ini, ya?” pikir gadis itu seraya menopang dagunya. Merasa sedikit bosan.

 

“Hei, Sehun…” Suiren tiba – tiba membuka percakapan. “Apa aku boleh menanyakan sesuatu?”

 

Sehun menoleh ke arah Suiren sebentar lalu kembali menatap laptopnya. “Apa?” Tanya pria itu seraya tetap fokus pada pekerjaannya.

 

“Kau pernah jatuh cinta?”

 

Setelah mendengar pertanyaan dari Suiren, Sehun langsung saja menghentikan kegiatannya dan menatap gadis itu secara seksama. “Kenapa kau menanyakannya?” Sehun balik bertanya dengan wajah yang serius.

 

Suiren menutup matanya mencoba untuk menenangkan suasana. “Entahlah… mungkin karena aku tidak pernah jatuh cinta,” jawab gadis itu seraya tersenyum kecil dan menutup kelopak matanya. Perlahan – lahan, ia mulai membuka kelopak matanya seraya berkata, “Mungkin terdengar aneh, ya?”

 

Sehun balik bertanya. “Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apa saat ini, kau juga tidak sedang jatuh cinta?” tanya Sehun saat matanya dan mata Suiren bertemu. Suasana menjadi hening sesaat setelah Sehun menanyakan hal tersebut.

 

Suiren tersenyum. “Aku tidak tahu,” jawabnya.

 

“Begitu…” Sehun kembali melanjutkan pekerjaannya setelah mendengar jawaban dari Suiren.

 

Setelah satu jam menemani Sehun, Suiren mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas dengan posisi kepala dan tangannya berada di atas meja. Setelah pekerjaannya selesai, Sehun melepas kacamatanya lalu menoleh ke arah Suiren. Ia menghela napas kecil saat melihat gadis itu sudah tertidur. Sehun mengangkat tubuh gadis itu secara perlahan dan membawanya ke dalam kamar.

 

***

 

Pagi hari yang cerah, Suiren sudah bersiap dan sekarang sedang memasak, sedangkan Sehun sedang bersantai membaca koran ditemani secangkir kopi hangat. Sehun memutuskan untuk tidak bekerja lagi hari ini dan lebih memilih untuk beristirahat. Memang bagi dirinya hal itu bukan masalah, tapi bagi sekretaris Kim hal itu akan menjadi masalah besar bagi dirinya karena ia harus mengurus seluruh pekerjaan Sehun.

 

Setelah selesai memasak, Suiren menghidangkan sarapan di atas meja makan. Gadis itu menatanya dengan sangat rapi. Saat Suiren hendak duduk, bel rumahnya berbunyi.

 

TING! TONG! TING! TONG!

 

Sehun menghentikan kegiatan membacanya dan Sehun segera berjalan menuju pintu utama. Saat membuka pintu, terlihatlah seorang wanita yang sama yang datang ke villa mereka kemarin. Suiren menghela napas pelan. “Sebenarnya aku tidak ingin melihatmu. Tapi tidak sopan mengusirmu untuk yang kedua kali. Ah, biarlah. Kau siapa dan ada perlu apa?” tanyanya.

 

“Aku kekasih Sehun,” jawab gadis itu tegas membuat Suiren tak dapat mengubah ekspresi datarnya.

 

Saat Suiren tidak bergerak dari tempatnya tapi bukan karena shock atau apapun itu namanya, Sehun tiba – tiba memeluk Suiren dari belakang. “Dia berbohong. Aku tidak pernah punya kekasih,” jawab Sehun lalu mencium singkat leher Suiren dan menunjukkan perhatiannya pada gadisnya tersebut. “Dia hanya orang yang bekerja sama dengan perusahaanku,” tambahnya lagi.

 

Suiren menoleh ke arah Sehun. “Benarkah? Lalu, kenapa ia menyebut dirinya kekasihmu?” tanyanya. Sehun hanya menggelengkan kepalanya pelan.

 

Bahkan setelah memperlihatkan kedekatan mereka berdua, wanita itu tetap bersikeras mengaku bahwa ia adalah kekasih Sehun. Sehun menatap tajam wanita tersebut. “Dengar, aku bahkan tidak pernah mengatakan apapun padamu. Jadi jangan berharap hal yang mustahil. Sudahlah, akan kami tutup pintunya. Sehun dan Suiren masuk ke dalam dan menutup pintu.

 

To be continued…

 

Apa kabar semuaaaa? Lama nggak berjumpa dengan author cantik ini (ehe). Mungkin udah pada lupa sama cerita ini ya? Maaf, hiatus kelamaan dan tanpa pemberitahuan. Author yang satu ini sedang dalam masa stress yang luar biasa. Diusahain chapter selanjutnya cepet rilis… sabar menunggu, ya.

15 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 2)”

  1. lanjut….lanjut ….
    meskipun sifat mereka sama” dingin tp mreka brdua saling perhatian….
    aq suka bgt dgn moment” sweet mereka, tanpa bnyak kata dan lgsg ditunjukkan dgn tindakan nyata 🙂
    ditunggu next chapternya kak, jgn lama” updatenya….
    kpan nih adegan mlm pertama mereka secara mreka kan lg bulan madu, hehehe…

  2. Next next kak..
    Makin seru nih.,
    Jdi mksud kk d chap ini ada sesuatu itu si cwe gila yg dteng ke villa sehun n suiren and ngakunya kkasih sehun / sehun yg nangis nd d tnangin sma suiren..? *ahh molla..

    D tunggu klanjutanya kakk..
    Fighting.. 🙂

  3. huwaaa akhirnya di post juga
    sumpah bikin ngfly sehun bikin gemes
    aku suka adegan pas sehun bagus terus suiren nenangin sehun
    sama adegan ada wanita gila bilang pacar nya sehun terus tiba” sehun melukai pinggang suiren
    huwaaa sumpah thor gak sia” nunggu ff ini
    next chap di tunggu

  4. ceritanya makin menarik…
    BTW kita tuh cewe beneran pacar sehun apa bukan ya….
    wah bakal ada konflik nih

    semangat terus ya… cara menulis dan cerita kamu bagus.. patut di acungi jempol nihh

  5. oh oh….
    sedikit familiar dg judulnyA
    dan ternyata benar pernah bacaa…
    udah lupa sihh sm ceritanyaa tp masih bisa ambil intinyaa kokk…
    dan ituu baguss…
    oke next authornimm

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s