[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 4)

ff

[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (CHAPTER 4)

Title : Choose One

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-17

Cast : Bae Irene RV, Oh Sehun EXO, Kang Seulgi RV

Main Cast : Son Wendy RV, Byun Baekhyun EXO, Kim Jong In EXO

Disclaimer : Fanfiction pertama yang dibuat Author real 100% buatan author, tapi beberapa bagian diambil dari kisah nyata autor*abaikan*. dan beberapa bagian terinspirasi dari drama korea dan cerita-cerita romance lain. Dan ingat! Typo bertebaran dimana-mana, maklum pemula. Okey cukup basa basinya, selamat membaca~ ^_^

CHAPTER 4

“Sehun Sunbae?” Irene bergumam kaget setelah melihat kejadian yang sedang terjadi depannya sekarang.

Seorang laki-laki , mendorong badan Sehun, untungnya Sehun dapat menahan itu. Sebuah pukulan mendarat di pipi kiri Sehun. Sehun tidak melawan, melainkan hanya diam.

Seseorang yang diketahui namanya itu adalah Kim Jongin kini sedang mengoceh marah, Sehun hanya menatap dingin Jongin. Jongin yang kesal karena Sehun tidak menanggapi apapun, Jongin mendaratkan satu pukulannya lagi ke pipi kiri Sehun yang sudah lebam oleh pukulan Jongin yang sebelumnya.

Beberapa detik kemudian, seseorang masuk ke lingkaran yang dibuat oleh para  mahasiswa untuk menonton apa yang terjadi, ia adalah Baekhyun.

Ya! Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Ini kampus! Tempat untuk belajar! Tidak dipakai untuk saling bertengkar!” Baekhyun berteriak marah. Lalu melihat Sehun yang masih memandangi Jongin dingin.

“Kau tidak usah ikut campur! Pergi sana! Bocah!” Jongin mendorong badan Baekhyun, tetapi tidak sampai membuat Baekhyun jatuh.

“Apa kau bilang? Bocah?” Baekhyun tertawa kaku lalu mendaratkan pukulannya ke pipi kanan Jongin.

“Apa yang mereka lakukan? Apa tidak ada yang ingin menghentikannya?” Wendy berkata cemas.

“Aku tidak tahu” Seulgi menggelengkan kepalanya, lalu lanjut memperhatikan Sehun, pasti Sehun.

Irene tidak berkata apa-apa, ia hanya khawatir terhadap seseorang. Laki-laki yang selalu memberikannya senyuman yang indah, laki-laki yang selalu menyapanya diwaktu Irene sampai di kelas, laki-laki yang menolongnya dalam keterpurukan di alam trauma, laki-laki yang kini berada di tengah lingkaran dengan luka lebam bekas pukulan Jongin, Sehun.

Irene tidak tahu kapan perasaan itu tumbuh, ketika melihat Sehun, jantung Irene berdegup kencang, kedua pipnya bersemu merah, entah harus melakukan apa. Irene sudah dapat menghilangkan rasa traumanya dan kini mulai menyukai seorang laki-laki, perasaan yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya, jatuh cinta, apa benar itu?.

Irene memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan Sehun, ia tidak ingin Sehun terluka lebih dari itu.

Baekhyun berhasil membubarkan kerumunan para mahasiswa, Jongin sudah pergi dengan beberapa luka bekas pukulan Baekhyun. Lalu Baekhyun menghampiri Sehun yang kini sedang berjalan menuju luar gedung management.

Irene menghembuskan nafas lega, lalu ikut keluar dari gedung management bersama kedua sahabatnya. Syukurlah, batin Irene.

Waktu menunjukkan pukul 15.00, kini Irene sedang berada di taman Universitas yang terletak di dekat gedung management, ia sedang berkeliling di sekitar kolam kecil yang berisi ikan-ikan hias.

Sesuai rencana Sehun ketika di kelas tadi, sore ini mereka akan bekerja kelompok untuk mebereskan tugas yang akan di presentasikan 3 hari lagi. Sehun sudah memberi tahu kapan dan dimana tempat berkumpul. Pukul 16.00 di perpustakaan Universitas.

Karena belum waktunya untuk berkumpul, Irene memutuskan untuk mencari udara segar di taman Universitas. Pada awalnya Irene bersama Seulgi tetapi beberapa menit yang lalu, Seulgi meminta izin untuk keluar sebentar karena ada urusan di luar sana.

Ketika Irene sedang memainkan air di kolam, Irene melihat Sehun sedang berjalan dengan luka yang tadi di berikan oleh Jongin menuju kursi taman. Nampakya Sehun belum mengobati lukanya.

Entah keberanian dari mana, Irene tiba-tiba berjalan menuju Sehun, lalu duduk di sebelah Sehun. Sehun kaget dengan kehadiran Irene yang tiba-tiba datang lalu duduk di sebelahnya.

“Irene?” Sehun menatap wajah Irene yang kini bersemu merah. Irene hanya tersenyum sambil menatap waja tampan Sehun yang dipenuhi lebam berwarna ungu.

“Apa itu sakit?” Irene menunjuk luka lebam yang berada di sebelah kiri pipi Sehun.

“Ahh, ini? Tidak terlalu” Sehun menunjuk wajahnya sendiri. Lalu tersenyum kearah Irene.

“Sunbae harus mengobatinya, jika tidak, nanti lukanya akan semakin parah” Irene berdiri dan langsung menarik tangan Sehun. Irene ingin membawa Sehun ke UKS universitas. Irene ingin mengobati luka Sehun, tetapi Irene tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk mengobati luka semacam itu, jadi ia membawa Sehun ke UKS Universitas.

“Kita akan pergi kemana?” Sehun berjalan di belakang Irene dengan tangan yang masih Irene pegang dengan erat. Sehun tersenyum kecil.

Mereka sampai di UKS Universitas, seorang petugas UKS menghampiri Irene dan Sehun. Irene meminta petugas itu untuk mengobati Sehun. Lalu petugas itu bergegas untuk mengobati Sehun. Irene hanya bisa melihat Sehun sedang diobati.

Sehun duduk di ujung ranjang UKS, Sehun hanya di kompres dengan air es, dan menempelkan sebuah plester kecil di bagia pipi Sehun yang terluka. Setelah itu petugas itu meminta izin untuk pergi keluar.

Irene menghampiri Sehun, lalu duduk di ujung ranjang UKS yang berada di depan Sehun. Irene menatap Sehun. Sehun membalas tatapan Irene.

“Apa yang sedang kau lihat?” Sehun mengibaskan tangannya didepan wajah Irene.

“Tidak, aku sedang tidak melihat apa-apa” Bohong. Irene berbohong. Irene mengalihkan pandangannya.

“Benarkah?” Sehun tidak percaya. Irene hanya menganggukkan kepalanya polos. Setelah itu sepi, tidak ada yang berbicara. Seling satu menit, Irene meluncurkan pertanyaan .

“Sunbae, sebenarnya tadi ada apa? Kenapa Jongin Sunbae terlihat sangat marah denganmu? Kenapa Sunbae hanya diam saja ketika dipukuli oleh Jongin Sunbae?”

“Itu karena salah paham” Sehun menundukkan kepalanya.

“Salah paham? Memangnya Sunbae melakukan apa?” Irene tetap melihat kearah  Sehun meskipun Sehun menundukkan kepalanya.

“Beberapa hari yang lalu tersebar fotoku dengan Wendy, sahabatmu. foto itu terlihat seperti aku sedang mencium Wendy, foto itu diambil dari samping jadi membuat seolah olah aku sedang mencium Wendy, aku tidak melakukan apapun pada Wendy” Sehun mengangkat kepalanya, menatap wajah Irene.

Memang, kemarin, Sehun dan Wendy sedang bersama. Mereka mengerjakan suatu tugas. Kalian tau? Sudah lama, sejak Irene dan Wendy berada di kelas 1 SMA, Jongin selalu mengerjar-ngejar Wendy, Jongin sangat menyukai Wendy. Jongin berkuliah di Universitas yang sama dengan Irene dan Wendy, itu karena Jongin mengetahui Wendy berkuliah disana.

“Oh begitu, pantas saja Wendy selalu melamun ketika kelas dimulai, tapi kenapa Sunbae hanya diam saja saat dipukuli Jongin”

“Kalau membalasnya, untuk apa? Tidak akan menyelesaikan masalah, jika aku membalsnya hanya akan memperbesar masalah saja” Sehun menggelengkan kepalanya.

“Sunbae kan bisa menjelaskannya kepada Jongin”

“Percuma, aku menjelaskannya, Jongin tidak akan pecaya” Sehun turun dari ranjang UKS. Sepi, tidak ada yang berbicara setelah itu. Seling beberapa menit, Sehun angkat bicara.

“Irene-ah, aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi berjanjilah kau akan menjawabnya” Sehun berkata dengan Serius. Irene hanya mengangguk, siap mendengar pertanyaan Sehun.

“Apa yang membuatmu takut terhadap laki laki?” Sehun menatap Irene lamat-lamat, memperhatikan setiap inci wajah cantik Irene.

“Emmm.. karena masa lalu, ahh aku tidak ingin mengingatnya” Irene menundukkan kepalanya. Menahan tangis. Ketika Sehun melontarkan pertanyaannya, tiba-tiba hati Irene seperti tertusuk sesuatu. Perasaannya bercampur aduk.

“Apa kau sudah menghilangkan traumamu? Aku melihat kau sudah berubah dari  sebelumnya, biasanya kau selalu menghindariku, dan sekarang kau telah berubah” Sehun menatap Irene yang sedang menundukkan kepalanya.

“Aku sudah dapat menghilangkan traumaku, tetapi disisi lain, aku masih sedikit takut.” Irene berbicara dengan nada yang bergetar, menunjukkan bahwa Irene sedang berusaha menahan tangisnya.

Sehun menegngkat kepala Irene perlahan. Sehun dapat melihat wajah Irene dengan jelas, ia merasa bersalah karena telah menanyakan hal itu kepada Irene.

Sehun menanyakan hal itu karena Sehun sangat penasaran dengan gadis yang membuat ia tertarik ketika pertama bertemu.

“Kau sudah berhasil Irene” Sehun menatap Irene dengan wajah yang serius.

“Berhasil? Aku sudah berhasil apa?” Irene menjatuhkan air matanya lalu kembali menundukkan kepalanya.

“Berhasil membuatku tertarik padamu” Sehun mengangkat kembali kepala Irene.

Ne?! maksud sunbae apa? Aku tidak mengerti”Irene menggelengkan kepalanya sambil turun perlahan dari atas ranjang yang ia duduki, lalu melangkah mundur.

Sehun hanya diam, menatap wajah Irene yang kini wajahnya sudah bersemu merah. Sepi selama beberapa saat, sampai akhirnya Sehun angkat bicara.

“Aku menyukaimu” Sehun menatap Irene serius.

Irene hanya bisa menatap Sehun tidak percaya, apa yang harus ia lakukan sekarang? Rasanya tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, kini wajahnya bersemu merah lebih dari sebelumnya.

“Ahh.. Sunbae, sepertinya aku harus ke luar sekarang, Seulgi sudah menungguku, aku duluan Sunbae” Irene pergi meninggalkan Sehun sendiri di uks. Sehun hanya tertawa kecil melihat Irene salah tingkah.

“Apa aku sudah di tolaknya? Haha”Sehun tertawa kecil, lalu tersenyum.

“Oke, aku harap 2 hari kedepan, kalian sudah mengumpulkan tugas kalian masing-masing. Dan yang akan membuat slide bab ketiga adalah Irene” Sehun menutup pertemuan kelompok untuk presentasi.

Irene hanya diam mematung, tidak mampu berkata apapun, bahkan ketika Irene melihat wajah Sehun, rasanya ia ingin segera pergi dari pertemuan itu.

Langit sudah gelap, Irene sedang berdiri di dekat pagar Universitas menunggu Ibunya datang menjemput. Sesekali Irene menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia memandangi mobil yang berlalu lalang di jalan raya dihadapannya, berharap ibunya segera menjemput.

“Irene-ah” Seseorang memanggil namanya, dengan cepat Irene mencari sumber suara, Sehun sunbae?!.

“N.. Ne?” Irene berkata dengan patah-patah, ia kaget plus malu. Wajahnya seketika memerah.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Sehun mendekat dan menempelkan punggung tangannya di kening Irene.

“Suhu badanmu tidak menunjukkan kau sedang sakit” Sehun menurunkan tangannya lalu memasukkan tangannya kedalam saku celana jeans yang ia pakai.

“Ahh… apa karena tadi? Uks?” Sehun tersenyum dan tertawa renyah. Irene dapat melihat dengan jelas pipi Sehun berubah menjadi sedikit memerah. Apa Sehun juga malu?.

Irene tidak membalas pertanyaan Sehun, ia masih melihat kearah Sehun. Lalu memalingkan pandangannya ke sepatu yang Irene pakai, Irene menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba terlintas memori kejadian ketika Sehun menyatakan perasaannya, Irene menggelengkan kepalanya dan segera memukul pelan pipinya sendiri.

Sebuah mobil berhenti di depan gerbang Universtas, dengan cepat Irene menuju mobil tersebut, nampakya Irene sudah di sebut, sebelum masuk kedalam mobil, Irene melihat kearah Sehun dan tersnyum. Sehun membalas senyuman Sehun.

“Ahh lihat Irene! sekarang pukul berapa?! Kenapa kau tidak bisa tidur?” Irene menggerutu kesal, Irene terus menatap jam dinding kamarnya, waktu menunjukkan pukul 00.00, tetapi Irene belum tertidur juga, pikirannya masih melayang kesana kemari, otakya tidak menti-hentinya menayang kejadian tadi sore di Uks.

Irene memejamkan matanya berusaha untuk tertidur, tetapi tetap tidak bisa, akhirnya Irene memutuskan untuk menyalakan televisi yang tertempel di dinding kamarnya tepat di depan ranjang Irene, hanya berjarak beberapa langkah.

Sampai akhirnya, Irene bisa tertidur dengan berbagai mimpi yang ia aami, mimpi yang sangat bahagia, membuat Irene menjadi semakin bisa keluar dari alam traumanya.

♡♡♡

2 hari berlalu, pagi ini, Irene dan teman sekelasnya bersiap-siap untuk presentasi tugas yang diberikan oleh Prof.Kim. Teman sekelas Irene sibuk dengan naskah-naskah yang mereka baca, mengahfalkannya. Anggota kelompok Irene belum semuanya datang, yang sudah datang hanya Seulgi.

20 menit kemudian, anggota kelompok Irene sudah komplit, semuanya sudah hadir, mereka duduk di bangku yang berdekatan. Prof.Kim datang, semua mahasiswa duduk dengan rapi.

“Baiklah, sepertinya kalian sudah siap untuk presentasi kali ini. Kelompok pertama silahkan maju kedepan” Prof.Kim mempersilahkan kelompok pertama , lalu Prof.Kim duduk di bangku paling depan, siap menilai.

Kelompok pertama selesai, kali ini kelompok kedua yang maju kedepan ntuk presentasi. Kelompok yang diketuai oleh Sehun berjalan kedepan dengan semangat.

Kelompok Sehun menampilkan slide-slide yang rapi juga dapat dipahami. Orang pertama yang menjelaskan bab petama adalah Sehun. Irene terus memandangi Sehun. Hatinya seketika meleleh ketika menjelaskan materi bab pertama. Sehun terlihat sangat keren juga tampan.

Sekarang, bab ketiga yang akan dijelaskan oleh Park Chanyeol. Chanyeol maju kedepan, memperkenalkan diri dan bersiap untuk menjelaskan bab ketiga, tetapi slide bab ketiga tidak muncul sama sekali di layar besar itu.

Sehun mencoba mengklik beberapa kali file yang dimaksud, tetapi file itu sama sekali tidak muncul.

“Irene-ah , apa kau sudah membuat slidenya?” Sehun berbisik ketelinga Irene.

“Aku sudah membuatnya, dua hari yang lalu sepulang dari perpus Universitas. Aku mengerjakannya bersama Wendy” Irene mencoba mengingat. Irene yakin sudah mengerjakannya, bahkan Irene sudah mengeceknya pagi tadi.

“Ada apa ini?” Prof.Kim bertanya memecah percakapan pelan Irene dan Sehun.

Kelompok Sehun tidak menjawab, semuanya terdiam, wajah Irene berubah menjadi wajah yang sangat tegang dan juga khawatir.

“Sepertinya slide bab ini belum dikerjakan” Prof.Kim berdiri dari duduknya dan menuju kedepan kelas. Irene menggigit bibir bawahnya, cemas.

“Siapa yang bertugas untuk membuat slide bab tiga?” semua mahasiswa diam, tidak ada yang bergerak sedikitpun. Jika Prof.Kim marah, tidak akan ada yang berani untuk melawan, menatap pun tidak sanggup.

“Saya” Irene mengacungkan tangannya ragu.

“Apa kau sudah mengerjakannya?” Prof.Kim berjalan kearah Irene yang berdiri di sebelah Sehun.

“Aku sudah mengerjakannya dua hari yang lalu, aku sudah sering mengecek. bahkan tadi sebelum kelas dimulai,  aku sudah mengeceknya dan masih ada” Irene berbicara dengan nada yang bergertar.

“Saya tidak mau mendengar alasan, terhapus, hilang atau apalah itu. Saya tidak ingin kejadian ini terulang kembali. Dan saya memutuskan nilai kalian, C. silahkan kembali ke tempat duduk kalian” pernyataan Prof.Kim barusan membuat seluruh mahasiswa kelas kaget. Sebelumnya tidak ada yang pernah mendapatkan nilai C. ini adalah kesalahan pertama yang dilakukan Irene selama masa kuliah.

Kelompok Sehun kembali duduk di tempat duduknya. Wajah anggota kelompok lainnya terliat kesal kepada Irene, kecuali Sehun dan Seulgi. Irene merasa sangat bersalah, ia menopang dagunya, memperhatikan kelompok lain berpresentasi dengan lancar, tanpa ada satu slide yang kosong.

Kelas telah usai, semua mahasiswa membereskan barang-barangnya dan segera meninggalkan kelas. Irene memasukkan kertas-kertas kedalam tasnya dengan malas.

Ya, apa benar kau tidak mengerjakannya?” tiba-tiba Chanyeol bertanya dengan tatapan kesal.

“Aku sudah mengerjakannya” Irene berkata sambil meliat kesarah lain.

“Kau membuat nilai kami anjlok, apa kau akan bertanggung jawab atas kesalah yang kau lakukan?” Joon Myeon ikut bertanya dengan tatapan kesal.

“Aku tidak menyangka, Irene orang yang pemalas” Yerim berkata sambil meninggalkan mejanya dengan tatapan kesalnya.

Chanyeol dan Joon Myeon meninggalkan Irene yang masih diam mematung. Irene yakin, ia sudah mengerjakannya. Ia yakin seratus persen. Seulgi menepuk pundak Irene pelan, lalu Irene melihat kearah Seulgi yang berada di sebelahnya.

Seulgi tersenyum menyemangati. Lalu Wendy datang menghampiri Irene dan Seulgi. Kini di kelas hanya tersisa Irene, Wendy, Seulgi, Sehun dan 2 orang laki-laki yang sedang mengobrol dengan Sehun.

“Irene-ah, kau kenapa?” Wendy mentap Irene yang sedang melamun. Irene tidak merespon pertanyaan Wendy, dengan terpaksa Wendy berteriak. Teriakan Wendy membuat Irene kaget dan lamunannya buyar.

“Ya! Kau mengagetkanku” Irene memegagi dadanya, Irene benar-benar terkejut.

“Kau kenapa?” Wendy duduk di atas meja Irene.

“Entahlah, tapi aku yakin aku sudah mengerjakannya, kau kan saksinya, kita mengerjakan tugas bersama-sama dirumahku. Itu bukan mimpikan?” Irene memegangi kepalanya.

“Iya, memang benar, kau mengerjakannya bersamaku” Wendy menganggukkan kepalanya.

“Lalu kenaa bisa hilang?” ucap Seulgi. Irene menggelengkan kepalanya. Setelah itu, tidak ada yang berbicara, hanya terdengar tawa laki-laki yang sedang mengobrol dengan Sehun di belakang.

“Wendy-ya, sebelum kelas dimulai, kau meminjam laptopku bukan? Apa yang kau lakukan?” Irene menyelidik Wendy, merasa curiga.

“Aku hanya mengecek fileku yang berada di dalam flashdisk milikku” Wendy melipat kedua tangannya di dadanya.

“Sebelum kau meminjam laptopku, file milikku masih ada, … apa kau yang menghapusnya?” Irene menyimpan tasnya yang sedari tadi berada di atas paha Irene.

“Ya! Apa kau sedang menuduhku?!” Wendy membuka mulutnya tidak percaya, nada bicaranya pun sedikit meninggi.

“Wendy-ya, aku hanya bertanya, kenapa kau marah?” Irene manatap Wendy aneh.

“Ahh jinjja, aku tidak percaya, kau menuduhku. Haha, teman seperti apa kau ini, menuduh sahabatnya sendiri. Benar-benar, aku salah menilaimu selama ini, aku kecewa” Wendy turun dari bangku Irene dan segera meninggalkan kelas, Weny menarik tangan Seulgi menuju luar kelas.

“Ahhh” Irene mendesah kesal, lalu membenamkan wajahnya diatas tasnya, mengacak rambutnya frustasi.

“Aku hanya bertanya padanya, akupun tidak menuduhnya. Apa salahku? Selalu aku yang disalahkan, Kenapa hari ini aku sial sekali? Hari ini adalah hari yang sangat buruk, aku sudah membuat dua kesalahan hari ini, apa yang harus aku lakukan?” gumam Irene, lalu ia mengacak rambutnya lagi, frustasi.

“Hey, sudahlah, rambutmu berantakan” seseorang mengusap lembut kepala Irene, membereskan rambut Irene yang acak-acakan. Dengan cepat Irene mengangkat kepalanya dan meliat siapa yang sedang memegang rambutnya itu.

“S..Sunbae?” Irene berdiri ketika melihat laki-laki yang berada di hadapannya itu, Sehun.

“Kau kenapa? Kenapa hari ini wajahmu kusut seperti itu?” Sehun duduk di atas bangku.

“Aku tidak tahu” Irene menundukkan kepalanya.

“Hey! Berhentilah menundukkan kepalamu seperti itu” Sehun mengangkat dagu Irene, kini Sehun dan Irene saling bertatapan.

“Kau tidak salah, kau sudah melakukan yang terbaik” Sehun tersenyum kearah Irene. Tetapi Irene tdak mengukir senyuman di wajah cantknya, hanya terlihat raut wajah yang sedih dan juga merasa bersalah. Irene menghembuskan nafas berat, lalu ia mengambil tasnya dan segera pergi dari kelas meninggalkan Sehun.

Langit sudah menunjukkan waktunya manusia untuk beristirahat, langit mulai berubah menjadi warnah biru kehitaman, cahaya bulan menerangi bumi, bintang-bintang menghiasi langit malam, indah sekali.

Sepulang dari Universitas, ia merasa sangat hampa, biasanya Wendy dan Seulgi selalu menemani Irene berjalan-jalan, tetapi kini tidak, setelah kejadian itu, rasanya Irene ingin pergi dari dunia ini, sebelumnya Irene belum pernah meghadapi masalah yang seperti ini. Irene tidak tahu cara mengatasinya.

Irene meutuskan untk menuju sebuah bar di dekat taman kota, Irene selalu melampiaskan keluh kesahnya dengan meminum wine, menurutnya, itu hal terbaik yang bisa di lakukan untuk melupakan semua masalah.

Irene memesan sebotol wine, sambil menunggu, ia membuka ponselnya, memeriksa pesan, siapa tau ada pesan. Tetapi tidak ada yang mengirim pesan hari ini, Irene mematikan ponselnya, memasukkannya kedalam tasnya.

Sebotol wine yang di pesan Irene datang, Irene segera menuangkan isi dari botol itu kedalam gelas kecil yang berada di hadapannya. Irene meminum minuman itu dengan sekali tegukkan. Lalu Irene menuangkan lagi isi dari botol winenya, menaguknya dalam sekali tegukkan, lagi dan lagi.

Irene sudah menghabiskan hampir 3 botol wine, kini kepalanya mulai terasa pusing, keadaan sekitarnya seperti berputar-putar. Irene membayar wine yang ia habiskan, lalu ia keluar dari bar itu dan berjalan di trotoar menuju stasiun kereta.

Irene berjalan kesana kemari, tidak dalam satu jalur, terkadang hampir menabrak pejalan kaki lainnya. Penglihatannya mulai kacau, Irene terus berjalan menuju stasiun kereta, sampai akhirnya ia sampai di jalan komplek rumahnya.

Irene melirik kearah belakang, Irene merasa ada yang mengikutinya, setelah dilihat, ternyata tak ada siapapun disana kecuali dirinya. Irene melanjutkan menuju rumahya.

Irene membuka pintu rumah dan segera menuju kamarnya, ia menghempaskan badannya di ranjang miliknya, lalu tertidur.

***

“Ahh.. perempuan itu, aneh sekali dan juga cantik sekali” Gumam Sehun setelah sampai di kamarnya.

“Ia berjalan kesana-kemari dan hampir menabrak orang di sekitarnya, tetapi ia tidak meminta maaf sedikitpun” Sehun membuka jaket yang ia pakai, ia menyimpannya diatas meja belajarnya.

Sehun menuju dapur, membuat secangkir kopi, setelah selesai, ia menuju balkon apartementnya, berdiri di dekat pagar menikmati angin malam, meneguk kopinya, menatap bulan purnaman yang sangat indah, mengeluarkan cahayanya.

“Kenapa kau selalu ada dalam pikiranku?” Sehun berbicara sendiri sambil menatap bulan purnama.

“Kau cantik sekali” kali ini Sehun tersnyum malu mengingat wajah Irene. Sehun terus menatap bulan purnama, tiba-tiba ia melihat bayangan dirinya dan Irene sedang berciuman dua hari yang lalu di uks Universitas.

Heol, kenapa kau menunjukkan bayangan itu? Kau membuatku malu” Sehun kaget ketika melihat bayangan itu, ia mengomeli bulan sambil menunjuknya, menujukkan wajah yang bersemu merah.

“Ahh Sehun! Apa yang kau lakukan waktu itu?! Kenapa kau melakukannya?” Sehun kembali ke dalam apartementnya sambil mengacak rambutnya, lalu meneguk kopinya kembali sampai habis.

♡♡♡

Satu minggu berlalu, Irene dan Wendy tak kunjung akur, mereka terus menghindar satu sama lain. Selama satu minggu setelah kejadian preentasi, Irene hanya sendiri, tidak mengobrol dengan Wendy, tidak jalan-jalan bersama Wendy, tidak bercanda bersama Wendy. Ingin rasanya Irene meminta maaf kepada Wendy, waktu itu Irene tidak bermaksud menuduh Wendy, Irene hanya bertanya. Selama persahabatan Irene dan Wendy kendur, Sehun selalu menemani Irene. itu membuat Sehun dan Irene semakin dekat, yang menemani Irene jalan-jalan, mengerjakan tugas adalah Sehun. Selain itu, Sehun juga membujuk Irene agar segera meminta maaf kepada Wendy.

“Sunbae, apa sebaiknya akau meminta maaf duluan kepada Wendy?” Tanya Irene ketika sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan Universitas.

“Eung, kau harus meminta maaf kepadanya” Sehun membuka halaman baru di buku yang sedang ia baca.

“Tapi aku tidak salah, Wendy yang salah” Irene terus menyalahkan Wendy.

“Sudahlah tidak usah menyalahkan Wendy terus, kau juga salah. Kalian berdua sama-sama salah” Sehun menatap Irene yang berada di depannya.

“Ahhh, benar juga. … Ahh! Molla!!” Irene mengacak rambutnya lalu tertunduk di meja yanga ada dihadapannya.

Aigoo, kau ini” Sehun mengacak rambut Irene, lalu tertawa kecil.

Irene duduk di kursi coffee shop yang sering Irene dan Wendy kunjungi. Irene memasang wajah yang pura-pura tidak melihat sesuatu, ia terus mengalihkan pandangannya menuju luar jendela. Irene tidak ingin menatap kedepan. Kenapa? Karena di depannya sekarang ada seorang perempuan yang sedang melakukan hal yang sama dengan Irene, ia adalah Wendy.

“Heii, kalian belum mengobrol? Ayolah, mengobrol” Sehun duduk di kursi sebelah Irene, menyimpan segelas kopi di depan Irene dan satu lagi di depan Wendy.

Tidak ada jawaban satupun dari Irene atau Wendy. Mereka memilih diam.

“Sampai kapan kalian akan seperti ini? Aku ingin kita seperti dulu lagi” Seulgi yang berada di sebelah Wendy merasa sedih karena kedua sahabtnya tidak ingin mengobrol satu sama lain.

Irene, Sehun, Wendy dan Seulgi sedang berada di coffee shop dekat Universitas. Sehun dan Seulgi berencana untuk membuat Irene dan Wendy berbaikan. Tetapi itu gagal, sudah berbagai cara dilakukan, tetapi cara-cara itu tidak berhasil sama sekali.

Sampai akhirnya mereka semua diam.

Mianhae” sebuah kata yang keluar dari mulut Wendy membuat Irene, Sehun dan Seulgi kaget.

“Irene-ah, mianhae, aku yang salah, aku salah paham. Maaf waktu itu aku tiba-tiba marah kepadamu, aku mempunyai masalah di keluargaku jadi aku terbawa emosi oleh itu semua, yang membuat kita jadi seperti ini. Mianhae” mata Wendy berkaca-kaca menahan tangis.

“Wendy-ya” Irene menatap Wendy

“Irene-ah” Wendypun menatap Irene

“Wendy-ya”

“Irene-ah” Wendy berdiri dari kursinya menuju kursi Irene, Irene pun ikut berdiri. Lalu Irene dan Wendy berpelukan, saling meminta maaf, merka berdua menangis.

“Kalian sudah merasa lebih baik?” Seulgi menatap Irene dan Wendy secara bergantian. Irene dan Wendy mengangguk.

“Geurae, kajja kita pergi, kita jalan-jalan” Seulgi berdiri dari duduknya. Irene dan Wendy mengangguk ikut berdiri.

“Tunggu, aku bagaimana?” Sehun menghentikan langkah ketiga bersahabat itu, mereka hampir melupakan Sehun.

“Eumm.. ikut saja dengan kami” Seulgi tersenyum kearah Sehun.

“Ahh.. hanya aku sendiri? Kalian semua perempuan sedangkan aku laki-laki sendiri.” Sehun memutar bola matanya.

“Ajak saja teman sunbae” Wendy mengusulkan. Sehun berfikir sejenak lalu mengangguk. Sehun mengambil ponselnya dari saku jeans yang ia pakai, menelfon temannya.

“Kajja, kita tunggu dia di depan saja” Sehun mengambil tasnya lalu segera menuju pintu keluar diikuti oleh Irene, Wendy dan Seulgi.

—-

Hati Seulgi berdebar kencang, Seulgi tak percaya laki-laki yang ia sukai ikut bermain dengannya. Laki-laki itu sedang berada di depannya sekarang, sedang berjalan bersama temannya.

Seulgi menunggingkan senyumannya selama perjalanan, tak terasa mereka sudah sampai disebuah mall yang mereka tuju. Mereka berencana akan menonton film terbaru di bioskop.

Suasana di dalam mall eperti biasanya, ramai. Mereka menaiki escalator menuju lantai 3 mall, letak bioskop itu berada di lantai 3.

Mereka membeli tiketnya bersama-sama. Karena film akan diputar satu jam lagi, mereka memutuskan untuk berkeliling mall.

“Irene-ah, Seulgi-ya, kajja kita ke toko aksesoris itu” Wendy menunjuk sebuah toko aksesoris yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Ahh aku malam, kalian saja ya” Irene menolak. Wendy dan Seulgi mengangguk lalu segera berlalu menuju toko aksesoris yang dimaksud.

“Sehun-ah, aku ingin ke toilet sebentar, jadi kalian boleh duluan, bye” Baekhyun berbalik arah dan segera menuju toilet yang berada di lantai 2.

“Ahh anak itu. Sekarang kita hanya berdua, kau ingin kemana? Akan aku temani” Sehun menatap Irene yang berada di sebelahnya.

“Eumm, aku ingin ke toko kamera disana”Irene menunjuk sebuah toko kamera yang berada di depan toko aksesoris yang terpisah oleh beberapa stan di tengah mall.

“Yasudah, ayo” Sehun menarik pergelangan tangan Irene.

“Kalau yang ini bagaimana?” Irene memegang sebuah kamera DSLR berwarna hitam, menunjukkannya kepada Sehun yang sedang melihat-lihat kamera lainnya.

“Bagus” Sehun melihat kamera yang sedang di pegang Irene sekilas, lalu sibuk melihat kamera lainya lagi.

Irene kembali menyimpan kamera, lalu melihat yang lainnya. Terkadang mengobrol dengan pegawai toko. Selama didalam toko, Irene dan Sehun terus bermain-main, membuat pengunjung lain memperhatikan mereka, tetapi Irene dan Sehun mengabaikannya.

Di sebrang sana, sepasang mata sedang memperhatikan kesenangan Irene dan Sehun. Ia menunjukkan wajah yang tidak suka, siapa lagi jika bukan Kang Seulgi. Perempuan yang sangat menyukai Sehun, sangat ingin ia dekati, sangat ingin ia ajak mengbrol, sangat ingin jalan berdua dengannya. Kini laki-laki itu sedang bersenang-senang dengan sahabatnya sendiri.

Hatinya kini serasa di tusuk oleh ribuan pedang, sakit, sakit sekali. Seulgi mengepalkan tangannya, setelah itu ia melanjutkan memilih aksesoris bersama Wendy. Wendy membeli 3 buah pita berwarna biru muda, satu untuknya, satu untuk Seulgi dan satunya lagi, untuk siapa lagi jika bukan sahabat baiknya sejak beberapa tahu yang lalu, Bae Irene.

Waktu menunjukkan pukul 14.50, 10 menit lagi film yang akan mereka tonton kan segera dimulai. Mereka segera menuju bioskop dan segera menuju ruangan. Sebelum mereka menu ruangan, Wendy dan Irene pergi untuk membeli popcorn dan minuman.

Film akan segera dimulai, Irene, Wendy, Seulgi, Sehun dan Baekhyun bersiap untuk menonton film yang mereka tunggu-tunggu.

Film sudah diputar setengah jam yang lalu, kini semua pasang mata fokus pada layar besar yang berada di depan mereka, tangan mereka tidak henti-hentinya memakan popcorn yang berada di tempat khusus menyimpan popcorn. Sesekali minum.

“Uwahh! Daebak! Film terkeren yang pernah aku tonton, film-film yang sudah aku tonton tidak ada yang sekeren ini” Baekhyun berteriak riang.

Irene, Wendy dan Seulgi hanya terkekeh pelan melihat Baekhyun bersikap seperti itu.

“Kau ini” Sehun menepuk pundak Baekhyun.

“Ah aku lapar, ayo kita cari makanan”Baekhyun berjalan lebih dulu, di ikuti Sehun. Irene, Wendy dan Seulgi tidak bisa menolak, karena merekapun lapar, popcorn yang tadi mereka makan hanya mengganjal lapar untuk sementara.

“Irene-ah, kapan kau membeli ini?” Wendy megangkat tas kamera DSLR yang Irene gantungkan di pundak Irene.

“Tadi ketika kalian sedang di toko akseoris, aku ke toko kamera bersama Sehun sunbae” Irene tersenyum sambil menatap kamera baru miliknya.

“Geurae, oh iya, tadi aku membeli ini tiga, satu untukku, satu untuk Seulgi dan satu lagi untukmu.” Wendy mengeluarkan pita berwarna biru muda dari saku celananya.

“Wahhh, kyeopta” Irene mengambil pita yang diberi Wendy. Tiba-tiba Wendy mengambil kembali pita yang barusan ia berikan kepada Irene. lalu Wendy memasangkan pitanya kerambut indah Irene.

“Kau cantik sekali” Wendy mencubit kedua pipi Irene. Irene mencoba melepaskannya.

“Ahh! Sakit! Lepaskan” Wendy melepaskan cubitannya, lalu melanjutkan berjalan mengikuti Sehun dan Baekhyun yang berada di depannya menuju sebuah resto.

“Irene-ah, aku duluan! bye!” Wendy melambaikan tangannya kearah Irene, lalu Wendy menjalankan mobilnya menjauh. Sampai akhirnya tak terlihat lagi.

“Irene-ah, kau pulang dengan siapa?” Sehun tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

“Emm, aku tidak tau, mungkin meminta ibu menjemput” Irene mengeluarkan ponselnya dari saku jeansnya.

“Akan aku antar” Sehun meraih pergelangan tangan Irene.

“Tapi Sunbae,..” belum selesai Irene berbicara, Sehun sudah menarik tangannya, menuju mobil Sehun yang sudah terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Irene dan Sehun sudah berada di dalam mobil milik Sehun. Sehun mulai menancap gas meninggalkan bangunan tinggi itu. Tidak ada yang berbicara selama di perjalanan, hanya terdengar suara mesin mobil dan beberapa kendaraan lain. Irene sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara, sampai akhirnya Irene mulai berbicara.

“Sunbae, terimakasih sudah mau mengantarku pulang” Irene menatap Sehun yang sedang menyetir mobilnya.

“Tak masalah, sudah tugasku sebagai laki-laki untuk menjaga seorang perempuan” Sehun masih fokus pada jalanan di depannya.

Irene hanya mengangguk. Lampu lalu lintas menampakkan lampu merahya, menandakan kendaraan harus berhenti, Irene menatap sekitar, hanya beberapa kendaraan yang sedang berhenti di sebelah mobil Sehun, ketika sedang melihat sekitar, Irene melihat seseorang yang sangat ia kenali, yaitu ibunya.

Irene melihat ibunya sedang bersama seorang laki-laki di dalam mobil, ibunya terlihat sedang tertawa-tawa bersama lak-laki itu. Siapa laki-laki itu?, batin Irene sambil mengerutkan dahinya.

Irene sempat berpikiran yang tidak-tidak terhadap Ibunya, Irene langsung menepis jauh pikiran negatif itu, mungkin itu adalah rekan Ibunya atau pelanggannya. Lampu lalu lintas sudah menampakkan lampu berwarna hijau, menandakan kendaraan boleh berjalan kembali.

“Sekali lagi terimakasih sudah mengantarkanku” Irene turun dari mobil Sehun, lalu membungkukkan badannya.

“Tidak masalah, cepat kembali-“ perkataan Sehun terhenti, Sehun melihat beberapa orang penguntit yang selalu mengikuti Irene. Dengan cepat Sehun turun dari mobilnya dan segera menghampiri Irene, menutup pintu mobil dan segera menekan tombol kunci.

“Sepertinya disini tidak aman, apa ibumu ada dirumah?” Sehun berkata sambil melihat sekitar.

“Sepertinya ibuku sedang tidak ada di rumah. Memangnya tidak aman kenapa?” Irene bingung, Irene terus memperhatikan Sehun yang sedang melihat sekitar.

“Apa penguntit itu masih selalu mengikutimu?” Sehun mantap Irene cemas.

“Akhir-akhir ini tidak ada, tapi kenapa Sunbae menanyakan hal itu?” Irene semakin bingung.

“Kapan terakhir kau melihat penguntit itu?”

“Satu minggu yang lalu, para penguntit itu mulai berani membobol jendela kamarku dan juga pintu yang menghubungkan kamarku dengan balkon. Aku benar-benar takut, tidak hanya satu, tapi aku melihat mereka bersama dua orang yang lain” Irene mencoba menjelaskan kejadian yang pernah ia alami, tiba-tiba ia menjadi merasa takut, badannya menegeuarkan keringat dingin.

“Apa mereka ada disini? Ada disekitar sini?” Irene menatap Sehun, wajah Irene menunukkan bahwa ia sedang takut.

Sehun hanya mengangguk, Irene melangkahkan kakinya mendekati Sehun. Sehun mearaih bahu Irene, menggoyangkan pelan bahu Irene.

“Kau tidak perlu takut, ada aku disini” Sehun meyakinkan Irene. tetapi tidak ada respon apapun dari Irene.

“Sekarang dirumahmu ada siapa? Jika ada keluargamu, masih aman”

“Aku tidak mempunyai Kakak ataupun adik, aku anak tunggal, aku hanya tinggal bersama Ibu dan beberapa pembantu di rumah, tetapi pembantu itu sedang tidak ada dirumah beberapa hari ini, Ibuku juga tidak pulang selama satu hari yang lalu, aku tidak tau kapan ia pulang, sepertinya malam inipun ibuku tidak akan pulang” Irene menundukkan kepalanya.

Gwencahana, aku akan menemanimu” Sehun mengusap kepala Irene pelan. Lalu mereka berdua berjalan melewati pagar lalu masuk kedalam rumah, Irene menutup kembali pintu dan tak lupa menguncinya.

Irene dan Sehun menuju kamar Irene. Bersih, Nyaman dan wangi, itu yang dirasakan Sehun ketika masuk kedalam kamar Irene. Ini pertama kali Irene mengizinkan seorang laki-laki masuk kedalam kamarnya.

Sehun melihat-lihat sekitar, lalu tatapan Sehun tertuju pada sebuah album foto yang berada diatas ranjang Irene, Sehun mengambilnya lalu membuka halaman pertama. Di halaman pertama itu, tertlis nama Irene, Ibunya dan juga Ayahya dengan hangul. Tulisan yang tidak beraturan, itu adalah tulisan tangan Irene ketika Irene baru belajar menulis. Sehun membuka halaman kedua, terlihat beberapa foto masa kecil Irene, Sehun tertawa kecil ketika melihat foto-foto itu. Dari sejak kecil, Irene memang sudah cantik, wajahnya benar-benar cantik.

“Sunbae?” Irene melihat Sehun sedang bediri di dekat ranjangnya, Irene tidak tau Sehun sedang melakukan apa, yang pasti, itu membuat Irene curiga.

Irene menyimpan nampan berisi dua gelas minuman di atas meja belajarnya, lalu Irene menghampiri Sehun.

“Sehun Sunbae? Kau sedang ap-“ Irene melihat Sehun sedang melihat album fotonya, dengan cepat Irene merebut album fotonya dari tangan Sehun. Sehun kaget dengan apa yang sudah dilakukan Irene, Sehun merbut kembali album foto yang sudah berada di tangan Irene. kini mereka saling memperebutkan album foto, sampai akhirnya.

Bruk!

Wajah Sehun dan Irene kini memerah, entah apa yang harus mereka lakukan, mata Irene dan Sehun bertemu, mereka tidak bisa bergerak sama sekali. Ada apa dengan mereka?

TBC

Chapter 4 beres, ahh~ Author bener-bener keabisan ide HEHEHE, Author nulis chapter ini ngasal, bener-bener ngasal, apa yang ada dipikiran Author saat nulis, semua author tulis, beberapa kali Author baca, mastiin kalo ceritanya nyambung, haha… makasih buat yang uda nungguin chapter ini di publish. Gomawo!^^

DON’T BE A SIDERS! OKE?

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 4)”

  1. eh itu sehun lihat bayangan dirinya yg sedang mncium irene di uks?
    kpan sehun mncium irene?
    koq gk diceritain sih wktu di uks?
    apa aq yg kelewatan bacanya ya…smpai gk tau ada adegan kissing di uks?????

  2. Iya bner critanya bkin snyum” sndri.,hihihi..

    Itu sehun sma irene jatuh ya.,krna brebut album foto nd kyanya yg ada di ats irene nd sehun d bwh deh coz kan tnaga namja lbih kuat dri yeoja/lupakan*sok tau..wkwkwk

    Next kakk.. 🙂

  3. harusnya yang makasih itu aku thor
    sumpah nih cerita bikun senyum senyum gakjelas gitu
    sudahlah
    nexttt ya thooorrr….^^^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s