[TAO BIRTHDAY PROJECT] Started With Task

Started With Task

Author: Raina KD
Cast: Huang Zi Tao, Sheila Kim (OC)
Genre: Romance, Fluff
Rating: PG-15
Length: Oneshoot

***

Di sinilah aku sekarang. Bersimpuh di atas lantai apartemen yang penuh dengan ceceran remah popcorn, dengan laptop yang berada di depanku. Singkat saja. Aku lupa besok deadline skripsi akhirku, dan aku malah menonton film di laptop.

Sekarang apa?

Dengan pandangan yang mengabur karena air mata, aku menatap layar ponselku. Mencari-cari nama yang sekiranya bisa membantuku—siapa saja.

Jariku berhenti menggulir layar begitu menangkap sebuah nama di barisan huruf T. Nama yang lama sekali tidak kuhubungi. Mungkin sekitar dua tahun lebih dua bulan?

Tao, dulunya seniorku di kampus yang sama, jurusannya juga sama denganku, jarak umur kami dua tahun. Dia lulus dua tahun lebih dua bulan yang lalu, dan sudah mendapat pekerjaan sekarang. Dia pintar, jadi tidak begitu sulit menemukan pekerjaan. Juga memiliki aura yang menarik.

Yah, dia mantan pacarku. Makanya aku hafal persis lama dia lulus, karena lamanya sama seperti saat aku putus dengannya.

Kenapa putus? Aku juga tidak mengerti. Waktu itu aku hanya bilang kalau aku jengkel dengannya karena dia dekat-dekat mahasiswi hukum, dan memintanya agar jangan menghubungiku. Beberapa hari setelah itu, aku mengiriminya pesan yang berisi permintaan maaf atas sikapku, dan dia menjawab, ‘kalau memang sudah tidak nyaman, tidak apa-apa. Kita berteman saja.’

Dengan jari yang agak gemetar, aku memilih option dial pada nomor Tao. Mengesampingkan seluruh gengsiku.

“Halo?”

Aku mendengar suara ini lagi setelah dua tahun lebih dua bulan tidak mendengarnya. Apa yang harus kukatakan, ya…

“Halo? Sheila? Kau baik-baik saja? Mengapa menangis?”

Aku tersentak. Tanganku terangkat untuk meraba pipiku. Basah.

“Tao…,” panggilku serak sambil terus menangis. Air mata sialan.

“Ada apa?” balasnya dengan suara lembut. “Ada masalah?”

“Maaf… Aku mengganggu, ya?” isakku.

“Tidak, aku baru ingin pulang. Kenapa?”

“Benarkah? Kau tidak sibuk?”

“Iya.” Terdengar suara mesin motor yang dinyalakan. Sepertinya dia sedang bersiap-siap pergi dari kantornya. “Apa sesuatu yang buruk terjadi?”

“Mmmh, begini. Aku sedang dalam proses skripsi akhir. Aku… belum mengerjakan apa-apa. Seharian ini aku malah meratapi Mario Maurer lewat laptop. Aku tahu aku bodoh, jadi kau tidak perlu bilang hal itu padaku. Sekarang, aku bingung apa yang harus kulakukan. Jadi, jadi…”

“Kau ingin aku ke sana?” Tao menyela.

Aku menghela napas. “Kau… bisa ke sini? Aku butuh bantuanmu.”

Detik-detik menunggu jawaban Tao terasa sangat lama sekali. Aku menggigit bibirku kuat.

“Tunggu, ya.”

Telepon ditutup. Aku menggenggam ponselku kuat-kuat. Perkataan Tao barusan sama saja dengan mengiyakan permintaanku. Dia masih baik—sangat, padaku.

Tidak sampai satu jam, dia datang. Tidak ada perubahan yang berarti pada fisik Tao. Hanya saja, dia terlihat lebih dewasa. Dia bukan seorang anak kuliahan yang masih bergantung pada orangtuanya lagi. Dia sudah benar-benar menjelma menjadi seorang laki-laki yang mencari uang sendiri dengan usahanya.

Tapi senyumnya tidak berubah.

“Hei,” sapanya. “Long time no see.”

Aku membalas senyumnya setenang yang kubisa. “Masuklah dulu. Tapi apartemenku masih berantakan, maaf.”

Tao mengangkat kedua bahunya, yang berarti dia tidak masalah dengan fakta itu.

“Tao,” mulaiku sambil mengamatinya yang sedang melipat lengan kemejanya sampai siku. Dia menatapku dengan wajah yang seakan menjawab panggilanku. “Maaf.”

“Untuk?” tuntutnya sambil berjalan mendekatiku.

“Menghubungimu tiba-tiba dan minta tolong untuk membantu mengerjakan skripsi akhir. Seharusnya aku tidak begitu.” Aku berusaha menjelaskan setenang mungkin meskipun hatiku seakan ingin lompat dari tempatnya karena jarak kami yang sempit.

“Bukan masalah,” tanggapnya ringan. “Lagipula ada yang ingin kubicarakan.”

Dahiku mengerut. “Apa?”

“Nanti saja, kita tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan skripsimu.”

Kami mengerjakan skripsi bersama kira-kira sampai jam dua belas malam, kurang lima belas menit. Sebenarnya Tao lebih dominan mengerjakan sih. Aku memang payah.

Tao tersenyum setelah semuanya sudah beres. Sementara aku? Hampir menangis.

“Akhirnya…” Aku menatap haru skripsiku yang sudah jadi. “Aku akan membalas budi. Sumpah.”

“Tidak per—”

“Perlu!” protesku dengan nada ngotot langsung. “Sekarang katakan, kau ingin apa dariku?”

Dia tidak langsung menjawab, tetapi tertawa. Tawanya masih sama seperti dulu. Matanya agak menyipit, dan berhubung pakaiannya tengah malam ini adalah kemeja kerja yang lengannya ditekuk hingga siku, dia tampan. Adakah kata yang lebih dari ‘tampan’? Kalau ada, kupakai kata itu.

“Aku hanya ingin meminta satu hal. Sederhana sekali. Jadi kuharap kau bisa memenuhinya.”

“Memangnya apa?”

Kedua sudut bibirnya terangkat. “Datang ke pernikahanku.”

Oh, pernikahan.

Yah, umurnya dua puluh tiga (oh, sebentar lagi dia akan berulang tahun), sudah mempunyai pekerjaan, pula. Dulu, Tao pernah bilang kalau ingin menikah muda. Tapi sebelum itu terjadi, dia harus menjadi pria mapan dahulu agar tidak menyusahkan keluarganya kelak.

Sekarang semuanya akan terwujud.

“Oh, keren?” Aku mencoba memuji, tapi malah terdengar seperti bertanya. “Aku pasti akan datang. Kapan tanggalnya?”

“Tergantung mempelai wanitanya,” jawabnya. “Bahkan aku sudah bilang dengan orangtuanya. Mereka setuju, jadi tinggal menunggu mempelai wanitanya.”

“Dia beruntung.” Aku bersungguh-sungguh saat mengucapkan ini. Perempuan yang akhirnya dipilih Tao, pasti perempuan yang beruntung. “Siapa dia? Apa aku kenal?”

“Kurasa iya,” jawab Tao.

Aku mengangguk-angguk sok paham. “Jadi si wanita bilang apa?”

Tao mengangkat kedua bahunya. “Tidak bilang apa-apa, dia belum tahu.”

“Apa?” tanyaku terkejut.

“Aku berniat bilang hari ini, atau besok.”

Hari ini tersisa tujuh menit lagi, berarti bisa dipastikan dia akan bilang besok.

Tao menoleh. “Doakan agar dia bilang ‘iya’, ya? Aku takut dia menolak.”

“Pasti dia bilang ‘iya’. Hanya orang bodoh yang menolak pria sebaik dirimu.” Sial. Aku merasa mataku agak basah, dan tenggorokanku tercekat.

“Begitu?”

“Iya.”

“Oke,” Tao melihatku. “Kapan?”

Dia gila atau bodoh, sih? Dia yang mau menikah, kenapa bertanya padaku? Apa dia mabuk?

“Kenapa bertanya padaku?” Sebenarnya aku berusaha keras agar nadaku tetap terdengar tenang.

“Karena kau mempelai wanitanya.”

Jam dua belas kurang lima menit. Pantas saja aku salah dengar. Aku pasti sudah sangat mengantuk.

“Apa? Aku tidak dengar, maaf.” Sambil menguatkan hati untuk mendengar siapa yang dimaksudnya.

Tapi sepertinya tindakanku salah. Karena selanjutnya Tao mendekatkan bibirnya ke telingaku, sampai aku bisa merasakan napasnya berhembus di pipiku. Demi apapun, dia mau membuatku semakin gagal move on atau bagaimana?

“Kau.” Kata ini penuh penekanan. “Mempelai wanitanya.”

“Oh—APA?!” responsku kelewat histeris sambil menjauhkan wajahku dari mulutnya.

“Apa tidak ada reaksi yang lebih wajar?” keluh Tao sambil mengusap pelan telinganya.

“Tunggu!” seruku. “Apa maksudnya? Kau bilang akan menikah dan aku mempelai wanitanya? Yang benar saja!”

“Memangnya salah? Aku sudah mapan. Kau akan lulus. Orangtuaku, juga orangtuamu setuju. Dan yang terpenting, aku menyayangimu,” balas Tao. “Apa jangan-jangan kau sudah tidak sayang padaku? Punya laki-laki lain?”

“Tidak! Aku masih sayang—ups.”

Mulutku memang sialan. Bagaimana pula pengakuan memalukan itu terucap begitu saja?

Sementara itu, wajah Tao yang tertekuk menjadi cerah lagi. “Benarkah?”

Aku hanya diam, memalingkan wajahku. Astaga, aku benar-benar malu. Bodoh. Menjijikkan. Ew.

Tubuhku tertarik. Tangan Tao kini menggenggam kedua tanganku. Ya Tuhan, kuyakin kakiku berubah menjadi jelly sekarang.

“Dengar.” Aroma anggur khas Tao tercium sangat jelas. Doakan aku agar tidak pingsan setelah ini. “Aku tidak pernah berhenti menyayangimu sejak saat itu. Aku terus memikirkanmu. Aku ingin kembali padamu, meminta maaf untuk semuanya, dan menyesal dengan perkataanku soal kita-berteman-saja dan sebagainya itu.

“Tapi kupikir kalau aku berbicara saat itu akan sia-sia. Aku tidak pantas. Memangnya waktu itu aku siapa? Hanya seorang mahasiswa yang masih bergantung dengan orangtuanya. Jadi aku mengejar kuliah agar cepat lulus, mapan, dan setelah itu barulah aku pantas menemuimu. Sekarang, aku sudah percaya diri untuk menemui.”

Air mataku meleleh tanpa bisa kutahan. Tao tersenyum, menghapusnya pelan. Tangan kirinya merogoh kantong celananya, dan menarik sesuatu keluar dari sana, yang semakin membuat air mataku mengalir.

“Cheesy, menjijikkan, dan berlebihan, ya? Tapi aku jujur. Jadi,” Tao menyodorkan kotak beludru merah itu di hadapanku. “Apa kau mau menikah denganku?”

Oh, apa aku bisa mengatakan ‘tidak’? Aku menghambur langsung dalam pelukannya, menangis sambil mengangguk-angguk di bahunya.

Entah bagaimana, Tao sudah memakaikan cincin emas putih itu di jariku. Tepat saat jam berdentang, menandakan pukul dua belas malam.

“Aku menyayangi—ah, mencintaimu,” bisik Tao. “Maaf selama ini menghilang.”

Aku menjauhkan wajahku dari bahu Tao, menatap mata panda laki-laki ini. “Aku juga minta maaf tidak menghubungimu duluan selama ini.”

Tao tersenyum manis, lalu ibu jarinya mengusap bibirku. “Tahu, tidak? Aku merindukan bibir ini.”

Aku tertawa sengau. “Dasar.”

Tengah malam itu kami habiskan dengan saling berciuman, melepas rindu, dan tertidur di atas karpet apartemenku.

END

One thought on “[TAO BIRTHDAY PROJECT] Started With Task”

  1. sweet banget! XD
    aku suka penggambaran sosok tao di sini, juga kefluffyan cerita ini dan penulisannya yg lumayan rapi walau ada beberapa kata asing yg lupa dimiringin. sayangnya plotnya ketebak dan awalnya agak ganjil. lupa skripsi? like wow, ada ya org di dunia ini yg lupa skripsi. dgn sebegitu banyaknya proses bimbingan mengerjakan skripsi, agaknya membuat skripsi terlupakan itu tidak masuk akal. mungkin klo ada tugas laporan apa yg juga penting aku masih lebih bisa menerima.
    keep writing anyway! ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s