[TAO BIRTHDAY PROJECT] Say No To Gengsi

Say no to Gengsi

[Tao Birthday Project] (Say no to Gengsi)

Author: HanYooRa’Hyr | Genre: Romance, Comedy(?) | Cast: Tao, Shin Ae Ri |Rating: G |

Note: This Story 100% real from my imagine. Please don’t plagiarize. And, sorry for typos

Happy Reading^^

Kau tahu apa yang paling menyebalkan di suatu hubungan? Rasa gengsi. Hanya karena rasa itu, terkadang semua hal bisa berantakan. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Hubungan ku dengan Aeri sudah berakhir. Itu juga karena rasa gengsi ku yang cukup besar, hingga berujung pertengkaran hebat yang mengakhiri hubungan kami.

Tidak bisa ku pungkiri, aku memang masih mencintainya. Walaupun sudah putus dengannya, aku masih tetap memperhatikannya—dengan diam-diam tentunya—Jika bisa, aku ingin mendatanginya dan memohon agar ia kembali lagi padaku. Namun, sekali lagi, rasa gengsi ini menghalangiku.

Sebenarnya, walaupun rasa gengsi ku yang besar ini, bukan berarti aku sama sekali tidak pernah mencoba untuk mendekatinya lagi. Pernah beberapa kali aku mendekatinya, dengan semua keberanian yang ku kumpulkan di dalam diriku. Tapi sialnya, saat aku sudah berada di dekatnya aku malah terlihat seperti orang bodoh. Begitulah, rencana ku akhirnya pun selalu gagal.

Dan hari ini aku melihatnya di lapangan utama. Ia sedang berolahraga kecil untuk meregankan otot-ototnya. Aneh, aku melihatnya dari hari ke hari dan dia semakin cantik. Ahh, aku sungguh menyesal kenapa aku bisa mengakhiri hubunganku dengannya. Aku terus memperhatikannya, setiap geraknya, aku lihat sesekali ia bercanda bersama temannya. Senyum itu.. sangat indah.

Tidak sengaja pandangan kami saling bertemu satu sama lain. Dap! Aku hanya bisa mematung tanpa mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Bodoh! kali ini aku benar-benar seperti orang bodoh. Aku tidak tahu kenapa, tetapi sepertinya terjadi peperangan di dalam diriku. Otakku menyuruhku untuk mengalihkan pandanganku darinya, namun hatiku meminta aku untuk melihatnya lebih dan lebih lagi.

Untuk beberapa detik keadaan ku tetap seperti ini. Dia pun sama, matanya menatap ke arah ku. Mungkin kah ia merasakan sesuatu? Ahh! Lihat, aku melihatnya tersenyum kepadaku walaupun hanya sedikit dan akhirnya ia membuang pandangannya.

Kecil, hanya simpul kecil yang terlukis dibibir mungilnya tadi. Tapi aku bisa melihatnya dengan jelas, walau dari jarak yang lumayan jauh ini. Sungguh, sekarang aku merasakan seperti gravitasi bumi tiba-tiba saja menghilang. Jika saja Chanyeol tidak menyadarkan ku mungkin aku sudah terbang dan menetap di langit.

Mengingat senyum kecil yang ia lemparkan tadi kepadaku, aku berfikir apakah ia merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah ia juga ingin kembali kepadaku? Terdapat satu harapan kecil di hatiku untuk bisa kembali bersamanya lagi. Ahh, baru memikirkannya saja sudah membuatku merasa sangat bahagia.

-***-

Hari ini, di dalam perjalanan menuju sekolah aku melihatnya lagi. Ia berada tidak jauh dariku. Aku hanya bisa meliriknya diam-diam. Lagi-lagi aku terbawa suasana saat ini, aku mengingat saat aku masih bersama dengannya. Setiap berangkat ke sekolah ia selalu cerewet dan mengusili ku seperti anak kecil.

Kenangan yang indah memang, tapi sekarang aku hanya bisa memeperhatikannya dari jauh. Kali ini aku hanya menunduk dengan sesekali tersenyum mengingat kejadian-kejadian lucu yang ku lewati bersama dengannya dulu.

Disaat fikiran ku sedang terbawa oleh kenangan di masa lalu, langkah ku harus terhenti karena melihat sesuatu yang sepertinya tidak asing bagiku. Benda itu tergeletak di jalanan yang kupijaki ini. Itu adalah gelang milik Aeri. Sepertinya gelang ini terjatuh, dan ia tidak menyadarinya. Dan kuputuskan untuk membawa gelang itu untuk diberikan kepadanya saat aku bertemu dengannya.

Terbesit di dalam fikiran ku satu hal yang membuat senyum ku merekah. Dengan adanya gelang ini, mungkin saja bisa memperbaiki hubungan ku dengan Aeri. Lalu aku pun segera berlari untuk menyusul Aeri yang kini sudah tidak terlihat berada di sekitarku lagi.

Saat aku menemukannya, aku mencoba untuk mendekatinya. Namun sepertinya rencana ku gagal lagi. Bukan karena gengsi ku, oke aku akui memang masih ada rasa gengsi di dalam diriku. Namun kali ini rencana ku gagal karena teman-teman Aeri sudah berkumpul menghampiri Aeri.

Oke, mungkin lain kali aku bisa memberikannya. Sekarang aku hanya akan menemui Chanyeol teman sebangku ku. Aku akan berkonsultasi dengannya. Karena Chanyeol terkenal di sekolah sebagai Dokter spesialis Cinta.

-***-

Banyak saran yang ku dapat dari Chanyeol, dan aku akan melakukan itu sekarang. Pertama-tama aku harus menemukan dimana Aeri. Dan jika sudah, aku harus melihat situasi yang berada di sekitarnya. Kata Chanyeol ini penting, karena keadaan lingkungan mendukung usahaku berhasil atau tidaknya.

Dan aku menemukannya sedang duduk sendirian di taman sekolah dengan sebuah earphone yang menempel di kedua telinganya. Sebelum aku mendekatinya, aku harus melatih pernafasan ku terlebih dahulu. Chanyeol bilang ini fungsinya agar aku tidak terlalu gugup saat berbicara dengannya.

Saat sudah selesai aku mengumpulkan keberanian di dalam diriku. Dan aku mulai mendekatinya. Namun, kurasa keberuntungan sedang tidak berpihak padaku. Saat aku menghampirinya aku melihat sebuah lebah terbang ke arah ku. Bukan suatu hal yang besar memang, tapi sungguh aku sangat benci lebah.

Dengan susah payah aku mengusir lebah itu tanpa mengeluarkan sedikit suara. Namun kurasa rasa takut ku terhadap lebah lebih besar dari pada rasa takut ku membuat Aeri mengetahui keberadaan ku di dekatnya yang sedang bersusah payah mengusir lebah.

Sial! Ada apa dengan lebah ini? Ia terus terbang disekitar ku dengan suara kepakan sayapnya yang mengganggu ku. Dan kali ini lebah itu terbang ke arah wajahku. Aku pun berteriak hingga Aeri yang mendengar suara teriakkan ku yang lumayan besar menengok ke arah ku.

Aku sungguh kehilangan akal, aku berlari menuju tempat Aeri berada. Dan aku mencoba untuk berlindung di balik badan mungilnya. Tapi tetap saja lebah itu mengikuti ku kemana pun. Aeri melihat ku dengan wajah kebingungan. Lalu ia sadar apa yang membuat ku bersembunyi di balik badan mungilnya.

Kulihat Aeri melepaskan sepatunya dan menepis lebah itu kuat-kuat hingga terpental jauh dari kami. Walaupun lebah itu telah pergi, aku masih tetap merasa kan takut. Aeri berbalik ke arah ku dan memperhatikan wajah ku. Aku hanya bisa menunduk.

Oh sial, apa ini? aku merasakan sebuah cairan bening jatuh dari mataku. Kumohon jangan sekarang. Lagi-lagi aku menangis karena lebah. Kenapa harus lebah yang selalu membuat ku menangis. Dan aku mendengar sebuah kekehan kecil dari hadapanku.

“Tao-ah? Kau menangis?” tanya Aeri

“Ah tidak. Siapa bilang? Memang kenapa aku mesti menangis?” aku mengelak dengan mengusap mataku pelan untuk menghilangkan air mata itu.

“Kkkk, jangan berbohong. Aku mengetahui mu dengan baik Tao-ah. Sudah lah, lebah itu sudah pergi. Jangan menangis lagi eoh?” Ucap Aeri dengan mengelus pundakku

Jika bukan karena rasa takut yang sekarang aku rasakan, mungkin aku akan terbang karena mendengar dan mendapat perlakuan manis dari Aeri. Kulihat wajah nya ia hanya tertawa kecil dengan sesekali mengelus pundakku.

-***-

Karena peristiwa waktu itu, aku bisa dekat dengan Aeri perlahan-lahan. Walaupun dengan status “Teman” setidaknya aku bisa berada di dekatnya dan bisa melihat senyum indahnya lagi. Tapi sepertinya rasa egois di diriku kini mulai muncul.

Sifat alami manusia, yaitu selalu menginginkan sesuatu lebih dari apa yang ia miliki saat ini. Sama sepertiku, aku mulai menginginkan sesuatu yang lebih dari Aeri. Aku ingin menjadi lebih dari sekedar “Teman”. Bersama dengannya setiap saat, melihatnya tersenyum karena ku, mendapat perhatian lebih darinya, membuat ku tidak bisa berbohong bahwa aku tetap ingin memilikinya.

Dan kurasa saat ini adalah saat yang tepat. Karena saat ini aku dan Aeri sedang berada di sebuah cafe untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bermain di Lotte World. Setelah sebuah Cappucino dan Coffee latte tersedia di meja, aku mulai sebuah pembicaraan.

“Emm.. Aeri-ya, aku ingin mengatakan sesuatu. Apa boleh?”

“Kenapa bertanya? Katakan saja apa yang ingin kau katakan.” Ia menjawab dengan senyum manis khasnya

“Aku bahagia kita bisa bersama lagi seperti ini. Menghabiskan waktu bersama dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama.” Aku menghentikan perkataan ku dan mulai menatapnya dalam. Kulihat ia tersenyum lagi kepadaku sembari meminum Cappucino yang ada di genggamannya.

“Aku juga sama. Ini pun karena lebah yang mengganggu mu. Haha sangat lucu jika mengingat kejadian itu.” Jawabnya setelah selesai meminum Cappucino miliknya.

“Namun aku tidak ingin berteman denganmu.”

“Maksudmu?” kini wajahnya menjadi penuh tanda tanya

“Aku tidak ingin hanya menjadi teman. Karena semua hal itu menyiksaku. Semakin kita sering bersama, itu membuatku semakin ingin memliki mu. Bagaimana jika kita kembali seperti dulu lagi? Sungguh, aku masih mencintaimu. Dan tidak pernah sedetikpun rasa itu hilang dari hatiku.”

Kini suasana menjadi hening. Aku memperhatikan wajahnya dengan serius. Kemudian ia menatapku, dan sebuah senyuman terukir di bibir mungilnya.

“kenapa kau baru bilang itu sekarang huh? Kau tidak tahu aku sudah terlalu lelah menunggu mu?”

Kini aku yang terdiam karena mendengar jawabannya. Butuh waktu untuk mencerna perkataan yang keluar dari bibirnya.

“Lalu bagaimana? Apa kau menerimaku lagi?” tanyaku penuh harap

“Apa kau mendengar ku menjawab ‘tidak’”? ia menjawab dengan sebuah senyuman yang sangat indah.

Sungguh aku tidak mengetahui jika semuanya akan berjalan dengan mudah seperti ini. Jadi selama ini aku hanya membuang waktu ku karena rasa gengsi yang menguasai tubuh ku. Kini aku mengerti. Tidak perlu merasa gengsi ataupun takut dalam memulai sesuatu. Karena jika kita belum mencobanya maka kita tidak akan mengetahui hasilnya. Dan jangan biarkan rasa gengsi menguasai mu atau hidupmu akan berantakan.

Dan sekarang hidupku menjadi lebih berwarna.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s