[TAO BIRTHDAY PROJECT] Don’t Like Me

Don't Like Me

[TAO BIRTHDAY PROJECT]
Don’t Like Me
Written by: pandalion
Genre: Romance
Rating: PG-15

Malam itu, kelas malam di sekolahku baru saja berakhir. Setelah berkemas, aku mendadak sadar bahwa sesuatu telah hilang dari dalam tasku. Buku bersampul biru itu tidak ada di dalam tasku.

Gawat. Benar-benar gawat.

Aku ingat jelas aku menyimpan buku berharga itu di dalam tasku. Buku itu adalah buku paling berharga sekaligus memalukan yang kumiliki.

Dalam buku itu, aku menyimpan catatan-catatan penting seperti daftar ulang tahun orang-orang. Aku juga selalu menempelkan foto-foto yang menurutku berharga, seperti foto bersama teman-teman dan… orang yang kusukai. Aku juga suka menulis coretan-coretan nama orang yang kusukai… dan tentu saja, tidak ada yang boleh melihat hal itu!

Aku mengingat-ingat kembali kejadian hari ini. Seingatku, tidak ada yang menyentuh tasku, kecuali… Astaga.

Kecuali Huang Zitao.

Siang tadi, ia melempar kepalaku dengan penghapus dari belakang. Aku menoleh, dan ia menunjukkanku cengiran lebar khasnya.

“Boleh aku pinjam pensilmu?”

Aku mendengus dan menyuruhnya mengambilnya dari tasku. Tao lalu mengambil tasku dan… Apa jangan-jangan ia yang mengambil buku itu?

Gawat. Hal itu tidak boleh terjadi.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari ke luar ruangan kelasku dan pergi ke lapangan sepak bola untuk mencari Tao. Seharusnya, saat ini ia sudah selesai berlatih sepak bola.

Benar saja, sesampainya aku di lapangan, pria itu ada di sana. Ia sedang duduk di pinggir lapangan sambil membaca sesuatu. Aku berjalan mendekat ke arahnya, dan ternyata dugaanku benar. Ia sedang memegang buku itu, buku yang hilang dari tasku.

“Huang Zitao!!” seruku sambil berlari ke arahnya. Secepat kilat, ia langsung bangkit berdiri dan menyembunyikan buku itu di balik punggungnya. “Jangan baca itu!!” seruku panik. Langkahku terhenti tepat di hadapannya, napasku tersengal.

“Kau sedang membaca bukuku kan? Kau mengambilnya dari tasku?” tanyaku kesal. Pria ini benar-benar…

Tao menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Berada di bawah tatapannya membuatku sangat sangat gugup. Astaga, Huang Zitao, jangan menatapku seperti itu…

“A… apa kau sudah membacanya?” tanyaku, tiba-tiba saja merasa begitu takut. Bagaimana jika ia sudah membaca semuanya? Bagaimana jika ia melihat lembaran “itu”? Bagaimana jika… ia tahu siapa orang yang kusukai?

Tao masih saja menatapku tanpa suara. Tiba-tiba saja, secepat angin yang berembus malam itu, ia menarikku ke dalam pelukannya yang terasa hangat. Seketika, aku memejamkan mataku.

Mengapa ia memelukku?

Tao melingkarkan lengannya di tubuhku dan menumpukan dagunya di pundakku. Embusan napasnya terasa begitu hangat.

Mendadak, lututku terasa bergetar. Jantungku berdebar dengan sangat keras. Seluruh tubuhku terasa hangat, dan kupu-kupu begitu banyak berterbangan di dalam perutku.

“Ternyata benar,” bisiknya pelan. “Ternyata kau memang menyukaiku. Jantungmu berdebar keras sekali.”

Tao kemudian melepaskan pelukannya. Ia mengulurkan buku itu ke arahku, dan dengan tangan gemetar, aku mengambilnya.

Ia tahu. Huang Zitao tahu aku menyukainya. Ia sudah membaca buku itu… Tidak salah lagi.

Tao menatapku, kali ini, tatapannya terasa dingin, lebih dingin dari angin musim gugur malam itu.

“Jangan menyukaiku.”

Setelah mengatakan hal itu, ia berbalik dan pergi menjauh dari lapangan. Aku hanya menatap punggungnya yang semakin tampak kecil.

Mengapa setelah memelukku seperti itu, ia malah pergi begitu saja?

Aku terduduk di pinggir lapangan, kemudian membuka lembaran-lembaran buku bersampul biru itu.

Di salah satu lembaran buku itu, tertempel sebuah foto. Di foto itu, aku dan Tao sedang duduk bersama di halte bus. Saat foto itu di ambil, aku dan Tao sedang menunggu bus bersama-sama. Kemudian, Tao mengambil ponselnya dan mengambil foto kami berdua. Kami sama-sama tersenyum saat itu. Keesokan harinya, diam-diam aku mengirim foto itu dari ponselnya.

Di bawah foto itu, aku menulis namanya dengan simbol hati di sebelahnya.
Mengapa aku tidak boleh menyukainya?

Mengapa setelah memelukku, ia malah menyuruhku untuk tidak menyukainya?
Malam itu, aku duduk di pinggir lapangan sambil menatap langit yang gelap, memikirkan betapa hebatnya Huang Zitao dalam mempermainkan perasaan orang lain.

***

Setelah malam itu, Tao tidak pernah lagi bicara padaku. Ia tidak lagi melempariku dengan penghapus. Ia tidak lagi meminjam alat tulisku. Kami tidak lagi pulang bersama-sama. Ia tidak pernah mengucapkan sepatah katapun padaku.

Aku berusaha melupakan pria bodoh itu dengan ikut kencan buta. Teman sebangkuku, Choi Harin, berjanji akan mempertemukanku dengan murid paling tampan dari SMA Seungri. Aku dan pria tampan dari SMA Seungri itu akan bertemu di Cafe Yoon malam ini, setelah kelas malam berakhir.

Malam itu, aku berjalan keluar dari gedung sekolah sendirian. Harin bilang, pria tampan dari SMA Seungri itu sudah menungguku di cafe Yoon.

Namun, entah mengapa, tetap saja aku terus-terusan memikirkan Huang Zitao. Apa salahku pada pria itu?

Baru saja beberapa langkah aku keluar dari gerbang sekolah, seseorang menahan pergelangan tanganku. Mau tak mau, aku membalikkan tubuhku.
Huang Zitao.

“Kau mau ke mana?” tanyanya dengan napas tersengal. Sepertinya, ia baru saja berlari. Dan ini adalah pertama kalinya ia bicara padaku setelah peristiwa itu, dua minggu yang lalu.

Dengan cepat, aku menepis tangannya yang memegang pergelangan tanganku. Ekspresinya tampak terkejut.

“Kau mau ikut kencan buta?” tanyanya lagi. Dari mana ia tahu?

“Aku mendengarnya dari Harin,” pria itu menjawab tanpa aku bertanya. Sepertinya, selain mempermainkan perasaan orang, ia juga pintar membaca pikiran.

“Bukan urusanmu, Huang Zitao,” ucapku pelan.

“Jangan pergi,” ujarnya dengan ekspresi serius. Ia menatap mataku dalam-dalam. “Jangan pergi ke kencan buta itu, Baek Hana.”

“Aku tidak peduli. Aku akan pergi,” ujarku dingin, kemudian membalikkan badanku. Namun, belum sempat aku melangkah, Tao meraih tanganku dan membalikkan tubuhku ke arahnya.

Tanpa berkata-kata, ia menyentuh kedua pipiku dan mencium bibirku.

Seketika, aku memejamkan mataku erat-erat. Ribuan kupu-kupu kembali berterbangan di dalam perutku. Kakiku mendadak terasa lemas sehingga aku memegang erat kedua pundaknya. Tao kemudian melingkarkan kedua lengannya di tubuhku.

Namun, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Tao pernah memelukku, dan setelah itu, ia malah berkata, “Jangan menyukaiku.”

Apa setelah ini, ia akan kembali mengatakan hal itu? Jangan menyukaiku.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung mendorong tubuh Tao menjauh.

Tao menatapku dengan tatapan… sedih?

“Maafkan aku,” gumam Tao pelan. “Maafkan aku karena aku begitu bodoh,” ujarnya dengan kepala tertunduk.

Aku hanya menatapnya tanpa suara.

“Saat itu, aku membaca buku milikmu. Kau menyukaiku. Kau menulis namaku di buku itu. Malam itu, aku memelukmu,” ujarnya, masih dengan kepala tertunduk.

Ya, malam itu, ia memelukku. Dan setelah itu, ia menyuruhku untuk berhenti menyukainya.

Tao kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mataku. “Malam itu, aku hampir saja menyatakan perasaanku padamu. Tetapi aku benar-benar takut.”
Apa?

“Park Chanyeol dan Seo Miyoung. Mereka berdua berteman dekat. Mereka kemudian berpacaran, lalu putus, dan membenci satu sama lain. Oh Sehun dan Heo Yunhee, mereka bersahabat, kemudian berpacaran, lalu putus dan bertingkah seperti orang asing.”

Aku menatap Tao bingung.

“Aku takut, jika kita berpacaran, kita akan jadi seperti itu,” akunya dengan kepala yang kembali tertunduk. “Itulah sebabnya aku memintamu untuk tidak menyukaiku. Padahal… aku juga menyukaimu, Baek Hana.”

Ia menghela napas. “Selama dua minggu, aku tidak berani bicara padamu. Aku terus berpikir; apa yang aku lakukan itu benar? Apa sebaiknya kita berteman saja? Apa sebaiknya aku juga berhenti menyukaimu? Tapi aku tidak bisa, Baek Hana.”

“Aku ingin menggenggam tanganmu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin menciummu. Aku ingin melakukan banyak hal denganmu, bukan hanya sebagai teman.”

Aku menatap Tao dengan tatapan tak percaya. Ia, Huang Zitao, juga menyukaiku?

“Lalu, apa keputusanmu saat ini, Huang Zitao?” tanyaku pelan.

“Ayo kita berpacaran, Baek Hana,” ujarnya dengan yakin sambil menatap kedua mataku. “Dan aku akan berusaha supaya kita akan tetap bersama-sama. Sampai kapanpun. Bagaimana menurutmu, Baek Hana?”

Astaga. Aku benar-benar membenci pria ini. Pria yang selalu melemparku dengan penghapus. Pria yang selalu menemukan cara untuk menjahiliku. Pria yang selalu membuatku kesal. Pria yang pernah menyuruhku untuk jangan menyukainya, namun sekarang mengatakan padaku bahwa ia menyukaiku. Ia adalah pria yang paling membingungkan yang pernah kutemui. Tetapi, bagaimanapun juga, aku menyukai pria menyebalkan ini. Sangat.

Tanpa berkata apapun, aku melingkarkan tanganku di leher pria itu dan menciumnya. Aku dapat merasakan bahwa pria itu, Huang Zitao. Tersenyum lebar.

Baiklah, Huang Zitao. Mari kita berpacaran, dan jangan pernah berpisah.

Sepertinya aku akan terjebak bersama pria menyebalkan ini selama-lamanya? Tsk. =_=

***

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s