Leaders’ Talk — by Len K

leaders-talk-nuevelavhasta1

 

Di suatu malam, Junmyeon duduk sendirian di depan api unggun. Lalu tiba-tiba Yifan datang menghampirinya dengan cengiran lebar. Seolah-olah pria jangkung itu tidak melakukan kesalahan besar, seolah-olah … tidak terjadi apa-apa …

LEADERS’ TALK

Storyline © LEN K. Standard disclaimer apllied. No profit taken from this fiction.

 

Starring : Wu Yifan, Kim Junmyeon–Suho EXO. Supported by the rest of EXO member | Rate : T | Genre: Angst, Tragedy, a little bit of adventure, family, Shounen-ai

 

Credit poster to  selviakimPoster Channel

WARNING!

Future!AU, Dystopia!AU, Parents!leaders, kids!rest of EXO member, age manipulation, shounen-ai, typo(s), rush (maybe), long shot (maybe, +5k words for the story itself)

A/N : Di sini yang paling tua adalah Yifan, disusul Junmyeon yang setahun lebih muda. Kemudian Minseok yang selisih lima tahun dari Junmyeon, dan selanjutnya urutan usianya seperti urutan usia asli member EXO. Hanya saja di sini mereka adalah anak-anak.

.

[LEADERS’ TALK]

.

                Dunia itu dinamis. Gejolaknya tidak bisa diprediksi. Masa depan juga sama saja. Tidak ada kepastian yang bisa diberikan.

Dunia sekarang sudah berbeda. Pemanasan global yang semakin parah juga menimbulkan dampak alam yang dahsyat. Iklim yang sudah jelas tidak bersahabat, kutub yang tinggal cerita, pulau-pulau kecil yang sudah mati di dasar laut, gurun yang menambah teritorinya, dan yang lainnya.

Mereka yang punya uang, kuasa, dan kedudukan masih bisa hidup dengan tenang di dalam fasilitas-fasilitas super mewah dan canggih yang hanya mampu dirogoh kocek mereka yang dalam. Mereka yang tidak seberuntung itu harus bersyukur karena masih bisa hidup meski rasa-rasanya ingin mati saja. Mati segan, hidup tak mau. Entah berapa banyak orang yang menjadikan kalimat itu sebagai pegangan hidupnya.

Sumber daya alam yang semakin menipis menjadi barang langka dan eksklusif yang jadi permainan kaum elit, dan pemerintahan yang semakin bobrok telah bertransformasi menjadi rezim yang kejam dan semena-mena. Hingga akhirnya perang besar meletus hanya karena perebutan sumber daya alam yang masih tersisa di beberapa tempat di bumi yang makin rusak ini.

Dunia benar-benar berubah. Kedamaian hanyalah bualan belaka. Uang dan kuasa adalah pemulus jalan yang bisa membawamu pada kenikmatan duniawi yang fana. Kemanusiaan dan moral lebih terdengar seperti mitos dan dongeng masa lalu.

Batas-batas negara semakin fana. Mereka mencari sekutu yang dapat memperkuat diri dan aliansi yang mereka bangun. Rezim terbentuk. Tatanan pemerintahan berubah. Keseimbangan timpang.

Inilah dunia yang baru.

 

======

 

“Cepat cari tempat berlindung!” seruan Junmyeon berlomba dengan suara ledakan dan desisan misil-misil di udara sore itu.

Kaki-kaki Junmyeon beserta kaki-kaki kesepuluh adik-adiknya berlari dalam irama berbeda namun memiliki tujuan sama; berlindung dari perang mendadak atas perebutan uranium di daerah yang mereka lewati. Sesekali berusaha menghindari cipratan ledakan dan menjaga agar tubuh tak terantuk puing-puing atau bebatuan yang ada. Nafas mereka semakin pendek-pendek, alveolus minta pasokan oksigen lebih banyak. Tapi keadaan belum mengijinkannya.

“Di sana!” Minseok menunjuk sebuah bangunan yang terbengkalai yang terletak tidak jauh dari mereka.

“Segera masuk ke sana!” komando Junmyeon.

Minseok jadi yang pertama sampai di bangunan itu tapi tidak langsung masuk. Ia menunggu adik-adiknya yang lain untuk masuk, memastikan mereka memasuki bangunan dalam keadaan aman dan tidak terluka.

“Cepat! Cepat! Jongdae, cepat! Baekhyun, ayo!” Minseok berseru―setengah memerintah, setengah menyemangati. Tangannya tidak lupa ia lambai-lambaikan.

Bagus, enam orang sudah berhasil masuk. Minseok mengabsen dalam kepalanya. Yixing menjadi orang ke delapan dan Sehun yang terpisah beberapa detik di belakangnya jadi yang ke sembilan. Minseok menatap cemas pada Luhan, Jongin, dan Junmyeon yang masih berlari sementara perang semakin menggila.

Dan tanpa diduga, sebuah misil jatuh tidak jauh dari Luhan dan Jongin. Keduanya tumbang. Junmyeon dan Minseok berseru panik. Yang lain menatap horor pemandangan tersebut. Beruntung Luhan dan Jongin berhasil berdiri kembali meski Luhan mengalami luka. Jongin dengan sigap memapah Luhan dan keduanya kembali berlari.

“Ayo! Ayo!” Minseok berseru tidak sabaran.

Junmyeon masih menjadi yang paling belakang. Bukan karena ia tidak mampu berlari lebih cepat. Hanya saja, ia harus memastikan keadaan semuanya.

Jaga mereka untukku. Sebuah pikiran mendistraksi Junmyeon.

Ketiganya semakin dekat dengan tempat berlindung mereka untuk sementara. Luhan dan Jongin tinggal beberapa langkah lagi sudah memasukinya. Namun saat Junmyeon menoleh ke belakang, Junmyeon bisa melihat sebuah bom akan jatuh tidak jauh dari tempat mereka saat ini.

“AWAS!” Junmyeon berseru keras seraya mendorong ketiga adiknya―Luhan, Jongin, dan Minseok―ke dalam bangunan itu.

“JUNMYEON HYUNG!”

Sementara yang lain berseru panik ketika melihat kakak tertua nomor dua mereka tumbang tak sadarkan diri tepat di hadapan mereka.

 

 

Mata Junmyeon memang masih terpejam, namun ia sudah berhasil kembali menemukan kesadaran dirinya. Seluruh indranya minus matanya sudah mulai bekerja. Ada bunyi retak kayu karena dibakar juga desir angin. Dingin mulai dirasa membelai kulitnya. Namun di sebelah kanannya terasa hangat api. Jadi meski matanya masih tertutup, tapi Junmyeon tahu jika di kanannya sebuah api unggun menyala.

Perlahan, Junmyeon mencoba mengangkat kelopak matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit malam yang bertaburan bintang. Sudah malam rupanya. Kemudian ingatan Junmyeon melayang pada kejadian sore hari tadi. Perang mendadak, bersembunyi di sebuah bangunan, lalu … aku tumbang.

Suasana malam yang sunyi menandakan jika perang telah berlalu dan Junmyeon tidak mau repot-repot tahu pihak mana yang menang atau kalah. Perlahan, Junmyeon menegakkan tubuhnya yang terlentang. Baru ia sadari jika ia sudah memakai kantung tidur. Dan kala ia melihat sekitar―tidak jauh dari tempat dirinya berbaring―ia melihat kesepuluh adiknya juga sudah terlelap dalam kantung tidur.

Syukurlah semuanya baik-baik saja. Junmyeon tersenyum lega lalu kembali melihat langit malam. Dia dan adik-adiknya memang lebih suka tidur beratapkan gemintang di langit. Bahkan mereka sering berlomba untuk menemukan rasi bintang. Kemudian Junmyeon kembali mengecek kondisi tubuhnya mengingat ia tadi sempat tumbang. Selalu begitu. Junmyeon selalu mementingkan kesepuluh adiknya hingga kadang melupakan dirinya sendiri.

Tidak ada luka berarti. Jadi artinya ia baik-baik saja. Kemudian Junmyeon keluar dari kantung tidurnya. Hawa dingin padang savana yang jadi tempat bermalam mereka saat itu membuat Junmyeon merapatkan jaket parkanya. Api unggun yang hampir padam kini kembali menyala terang berkat Junmyeon.

Sendirian, Junmyeon duduk di depan api unggun. Sementara pikirannya mengembara kemana saja. Kadang mencoba menebak masa depan, kadang memutar kenangan di masa lalu. Sudut-sudut bibirnya naik ketika menyadari fakta jika sudah enam tahun ia beserta adik-adiknya―dan seorang lagi―hidup nomaden seperti beberapa kelompok lain. Semuanya dimulai ketika perang meletus di daerah panti asuhan mereka dulunya. Ada begitu banyak hal yang terjadi pun berubah selama itu.

“Hai.”

Sebuah suara berat yang familiar―amat familiar―menyapa pendengaran Junmyeon. Tapi karena kaget akan kemunculan yang mendadak, tangan Junmyeon sudah meraih machete yang siaga tidak jauh darinya.

Dan ketika Junmyeon menoleh ke kanan, ia mendapati orang itu―seorang lagi yang dimaksud. Laki-laki bertubuh jangkung itu tengah berdiri, memamerkan cengiran lebar tak berdosa khas miliknya, dan nampak kumal dalam balutan seragam ala militer. Oh, ralat. Jauh lebih kumal dari Junmyeon dan adik-adiknya.

Sesuatu kembali mengganjal pikiran Junmyeon tapi buru-buru ia tepis. Sungguh, rasanya Junmyeon ingin menghajar wajah orang di hadapannya saat ini juga. Hei, orang itu masih bisa menyengir lebar seolah tak terjadi apa-apa! Wajar saja jika Junmyeon kesal. Tapi Junmyeon tidak melakukan itu. Alih-alih menghajar, Junmyeon justru membiarkan orang itu duduk di samping kanannya―masih ada spasi di antara mereka. Dan berusaha mati-matian menahan gejolak di hatinya.

Junmyeon juga rindu orang itu.

“Lama tidak bertemu ya, Junmyeon,” katanya.

Junmyeon tidak menjawab orang itu―Yifan, orang yang paling tua dalam kelompok mereka, selisih satu tahun dengannya. Ia memalingkan wajahnya ke lain arah. Rasa kesal masih mendominasi hatinya.

Ya, kesal. Junmyeon teramat kesal pada Yifan yang pergi meninggalkannya dan adik-adiknya tepat di hari ulang tahunnya yang kedelapan belas, dua tahun lalu. Yifan pergi untuk bergabung bersama pasukan pemberontak rezim pemerintahan saat ini. Yifan pergi begitu saja. Mengabaikan tangis Tao dan Yixing, mengabaikan diamnya mayoritas adik-adiknya, juga mengabaikan permintaan Junmyeon agar ia tetap tinggal. Meski Yifan pergi dengan tak lupa memeluk mereka satu-persatu, tapi … apa sebuah pelukan cukup?

Yifan pergi demi memperjuangkan idealismenya; meruntuhkan rezim busuk yang berkuasa saat ini demi kehidupan yang lebih baik bagi mereka, juga orang lain. Hanya demi alasan seperti itu. Alasan yang masih belum bisa diterima oleh Junmyeon. Dan mungkin, adik-adiknya juga.

Yifan tidak mengerti. Junmyeon sudah masa bodoh pada rezim busuk saat ini, Junmyeon tidak peduli pada keadaan dunia yang makin bobrok dan kejam pada penghuni-penghuninya. Junmyeon juga tidak mengerti definisi ‘kehidupan yang lebih baik’ di mata Yifan. Karena bagi Junmyeon, selama mereka berdua belas bersama-sama, tidak peduli sekeras apa dunia pada mereka, itulah kehidupan yang lebih baik versi Junmyeon. Lihat? Junmyeon tidak butuh apapun. Hanya ‘kita berdua belas dan bersama-sama’ yang dibutuhkannya.

Tapi Yifan tidak begitu. Dan perbedaan itu membuat Junmyeon terluka.

“Bagaimana kabarmu?” Yifan kembali bersuara.

Junmyeon masih memalingkan wajahnya. Tapi kedua tangannya yang saling berpangku mengepal keras. Machete-nya sudah jatuh di tanah. Dadanya begitu sesak, rahangnya mengeras, dan seperti ada sesuatu yang tercekat di kerongkongannya.

“Kau masih punya nyali untuk menanyakan hal itu?” Junmyeon membalasnya dengan satu pertanyaan sinis dalam satu helaan nafas pula. Mengertilah jika hanya untuk mengatakan itu, Junmyeon butuh perjuangan keras.

Yifan terdiam. Merasa tertohok oleh pertanyaan yang dilontarkan Junmyeon. Juga karena ia sudah tahu jawabannya; Junmyeon tidak baik-baik saja.

Oh, tentu saja itu bisa terjadi! Mengurus kesepuluh bocah bukanlah hal gampang untuk dilakukan seorang diri!

Sejak usia belia, mereka sudah berada di panti asuhan. Disanalah mereka bertemu dan waktu membuat mereka berdua belas bersatu dan mulai menganggap satu sama lain sebagai saudara atau keluarga meski tak ada hubungan darah. Dan karena keduanya adalah yang tertua di antara mereka berdua belas, hal ini menjadikan Yifan dan Junmyeon seperti orang tua bagi sepuluh anak yang lain.

Yifan dan Junmyeon saling melengkapi. Yifan sebagai sosok ayah yang tegas dan tidak begitu ekspresif secara verbal jika menyangkut perasaan. Lalu Junmyeon sebagai sosok ibu yang hangat dan tidak canggung-canggung dalam mengungkapkan perasaannya.

Terlebih lagi saat enam tahun lalu karena perang yang memaksa mereka untuk hidup nomaden. Yifan dan Junmyeon benar-benar satu-kesatuan yang kompak dan kompatibel. Lalu apa? Semua berubah saat Yifan memutuskan untuk pergi. Separuh jiwa Junmyeon serasa remuk.

Yifan tersenyum miris. “Aku tahu maaf saja tidak akan cukup.”

“Kau tidak akan pernah mengerti kesulitan apa saja yang telah kulalui!” Junmyeon sedikit berseru. Emosinya mulai naik.

Tidak. Aku mengerti meski aku tidak melihatnya secara langsung.

“Mengurus mereka bersepuluh seorang diri itu tidak mudah,” lanjut Junmyeon.

“Aku tahu.” Sahutan Yifan tidak bisa memuaskan Junmyeon. Dirinya yang mengurus kesepuluh adiknya bersama Junmyeon saja masih kewalahan, apalagi Junmyeon seorang diri?

Junmyeon tanpa Yifan tidak akan pernah menjadi sempurna. Pun sebaliknya. Junmyeon butuh ketegasan Yifan untuk mengendalikan kesepuluh adik mereka. Sama halnya Yifan yang membutuhkan kelembutan Junmyeon dalam mengasuh mereka bersepuluh. Mereka berdua saling bergantung, saling bersandar. Namun saat Yifan pergi, Junmyeon limbung. Tempatnya bersandar tidak ada. Dan itu sempat membuat Junmyeon frustasi.

“Kalau kau tahu, kenapa kau masih nekat pergi waktu itu?” Junmyeon kembali mengungkit masa lalu. Kepergian Yifan merupakan hadiah ulang tahun yang paling tidak ia inginkan.

“Karena aku―”

Kini Junmyeon menoleh dengan cepat ke arah Yifan, menatap pria jangkung itu dengan amarah membara di mata. “Kau pergi karena egomu yang teramat tinggi demi idealismemu yang sering kau ucapkan itu. Hanya demi sebuah idealisme. Hanya demi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian!”

“Selalu ada pengorbanan untuk semua, Junmyeon. Selalu ada harga yang harus dibayar.”

“Jadi harga yang harus kami bayar adalah kau? Waktu kebersamaan kita? Hhh,” Junmeyon meringis perih sekaligus meremehkan, “sungguh mahal ya?” sindirnya.

Yifan terdiam. Tidak tahu harus membalas apa. Yang bisa dilakukannya hanyalah balas menatap Junmyeon. Berusaha mengetuk hati Junmyeon dan meruntuhkan pertahanan yang sengaja dibangun oleh Junmyeon. Dengan sengaja Yifan mengulurkan tangannya untuk meraih Junmyeon. Namun tepisan kasar yang didapatnya membuat perihnya makin terkoyak.

Tatapan Junmyeon beralih kepada api unggun. Sebenarnya ia takut. Takut jika ia memandang lebih lama lagi ke dalam mata Yifan, maka pertahanannya akan luluh lantah.

Hening melingkupi keduanya dengan selaput tak kasat mata. Suara kayu yang dibakar dan angin sepoi-sepoi jadi latar belakang tersendiri. Api unggun yang kini kembali membesar karena ulah Yifanpun tidak―ralat―belum dapat mencairkan kebekuan di antara mereka berdua.

“Kau tahu? Aku selalu, dan akan selalu merindukan mereka.” Yifan menatap pada kesepuluh adiknya yang terlelap. Lalu ia kembali menatap Junmyeon. “Juga dirimu.”

Buru-buru Junmyeon kembali memalingkan wajahnya. Tidak bisakah Yifan tidak mengatakan hal itu padanya?

Aku juga…. Kata itu tidak terucap secara lisan dari mulut Junmyeon. Hanya bersemayam di dalam hatinya saja.

“Mereka semua telah tumbuh besar eh? Seingatku saat aku pergi dulu mereka belum sebesar atau setinggi itu. Mereka juga tumbuh dengan baik,” ujar Yifan.

“Tentu saja mereka tumbuh dengan baik!” balas Junmyeon sedikit ketus.

Sialan! Junmyeon mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Hei, bukankah ia sudah berjanji untuk tidak beramah-tamah ataupun menanggapi Yifan? Lalu apa yang barusan ia perbuat? Tapi … Junmyeon juga rindu. Ia rindu saat-saat dimana hanya ada dia dan Yifan, dua pemimpin, bicara empat mata.

Mereka sering melakukannya. Berbicara mengenai banyak hal secara empat mata hingga larut. Mulai dari rute perjalanan, hal-hal yang terjadi sepanjang hari, membicarakan kesepuluh adik mereka, dan lainnya. Mereka berdua selalu jadi dua orang yang tidur paling akhir dan bangun paling awal. Jadi … salahkan rasa rindu Junmyeon pada Yifan yang kelewat besar.

“Oh, tentu saja. Itu karena kau menjaga dan merawat mereka dengan baik. Tidak bisa kubayangkan jika aku yang merawat mereka seorang diri. Aku pasti akan membuat banyak kekacauan.” Yifan terkekeh di akhir.

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” balas Junmyeon ketus. “Hendak memujiku? Sayang sekali itu tidak akan mempan.”

Yifan mengangkat bahu. “Aku tahu. Dan aku tidak bermaksud apapun.”

Kembali diam.

“Jadi … apa yang terjadi dalam dua tahun belakangan?” lagi-lagi Yifan yang memulai pembicaraan.

Perlahan, Junmyeon mulai terbawa arus.

“Banyak,” jawab Junmyeon. “Aku harus mulai dari mana?”

“Dari mana saja boleh.”

Jawaban Yifan membuat Junmyeon menimbang-nimbang.

“Saat kau pergi, setelahnya maksudku, Tao tidak bisa berhenti menangis. Semua berusaha menenangkannya termasuk Jongin dan Sehun yang lebih muda darinya juga. Tao menangis semalaman dan bangun dengan mata sembab. Benar-benar sembab dan itu menjadikan dia bahan ejekan oleh Chanyeol dan Jongdae.”

Yifan tertawa membayangkannya. “Lalu bagaimana dengan yang lain? Reaksi mereka saat atau sesudah aku pergi.” Yifan mengimbuhi tanpa diminta.

“Kecewa, sedih, tidak terima. Bahkan diamnya Yixing dan Chanyeol kuanggap sebagai rasa marah. Tapi yah, itu ada benarnya. Hanya beberapa yang memahami maksud kepergianmu. Seperti Luhan dan Minseok. Itupun setelah kau pergi selama dua bulan. Sisanya … seperti yang kukatakan tadi―kecewa, sedih, tidak terima, marah, tidak mengerti dan kebingungan. Bahkan aku juga … masuk dalam kelompok ‘sisa’ itu tadi.”

“Akupun tidak meminta untuk dimengerti.”

“Kenapa kau selalu seperti itu? Bertindak sesukamu dengan alasan yang tidak bisa dimengerti, dipahami oleh semua orang?”

Yifan melemparkan kayu yang ada di dekatnya ke api unggun. “Kau bertanya seolah-olah baru mengenalku kemarin sore saja.” Ia mengerling pada Junmyeon.

Giliran Junmyeon yang tidak bisa membalas.

Ya, Yifan selalu seperti itu. Bertingkah semaunya dan sering membuat orang menerka-nerka apa yang ada di pikirannya. Ia seperti hidup dengan aturannya sendiri. Aturan dan jalan pikiran yang tidak bisa diterima secara luas.

“Lalu … ada apa lagi? Apa mereka masih sering berlatih?” tanya Yifan.

Ah, pertanyaan Yifan membuat Junmyeon sedikit bernostalgia. Sedari dulu Yifan memang sering melatih adik-adiknya―termasuk dirinya yang setahun lebih muda dari Yifan―untuk belajar beladiri. Jumlah mereka yang genap juga memudahkan mereka dalam melakukan latih tanding.

“Tentu,” jawab Junmyeon, “bahkan kini partner tanding mereka bukan hanya mereka sendiri.” Yifan menaikkan alisnya. “Maksudku … mereka mulai menunjukkan kemampuan mereka di hadapan atau dengan orang lain. Kau tahu kan? Menghajar beberapa orang yang berniat buruk pada kami, semacam itulah.”

Yifan tertawa mendengarnya. “Siapa saja pelaku utamanya?”

“Minseok, Luhan, Chanyeol … Jongdae juga diam-diam mengejutkan, Tao apalagi, Jongin dan Sehun juga. Mereka menimbulkan banyak masalah karena itu tapi juga menguntungkan. Chanyeol, Jongdae, dan Luhan bahkan jadi tiga orang yang sering pamer akan kemampuan mereka.”

Yifan menyukai ini. Saat dimana Junmyeon mulai terbawa arus pembicaraan.

“Lalu bagaimana dengan penggunaan senjata?” Yifan kembali bertanya.

“Baekhyun dan Kyungsoo jadi sniper andalan kami. Mereka sangat bisa diandalkan. Yah, keduanya tidak begitu ahli dalam pertempuran jarak dekat tapi harus sangat diperhitungkan jika dalam pertempuran jarak jauh. Yixing juga sama dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Aku juga, meski tidak seahli mereka. Yang lain juga tidak perlu diragukan kemampuannya. Pisau, machete, flamethrower, busur, senjata api, senjata tajam lainnya … kami menguasai semua itu. Dan kami juga bisa membuat senjata sendiri.”

“Wah, wah, perkembangan yang pesat ya?”

“Keadaan yang memaksa kami,” balas Junmyeon disertai senyum getir.

“Keahlian yang lain bagaimana?”

“Yixing dan Luhan sudah seperti ahli medis kami. Mereka yang paling jago soal itu dibandingkan aku dan lainnya yang masih menguasai P3K dasar. Dan kalau kau bertanya soal keahlian yang lain, itu agak susah dijawab―”

“Kenapa?” potong Yifan.

“Karena kami mempelajari banyak hal dari orang-orang yang kami temui sepanjang perjalanan kami,” jawab Junmyeon. “Kami belajar bagaimana caranya bertahan hidup di alam yang tidak lagi bersahabat ini. Di era dimana ego diri sendiri semakin berjaya. Tapi kurasa … ada satu hal yang tidak berubah.”

“Oh ya? Apa itu?” Yifan bertanya dengan antusias.

“Memasak.” Junmyeon nyengir pada Yifan. “Koki yang paling hebat masih Kyungsoo. Yixing dan aku nomor dua―aku tidak bermaksud narsis atau apa. Luhan nomor tiga. Dan yang lainnya … masih sama. Sama parahnya maksudku.”

Tawa Yifan pecah mendengarnya. Well, dia masuk ke golongan ‘yang lainnya’ itu.

“Beberapa waktu lalu saja Jongdae, Chanyeol, dan Baekhyun yang bersikeras memanggang daging malah menggosongkan semua dagingnya,” lanjut Junmyeon. “Dan sialnya, kami terpaksa memakannya karena terdesak. Sehun dan Jongin benar-benar partner in crime yang kompak. Kerja mereka hanya mengganggu saja. Dasar bocah, eh? Masakan mereka juga jauh lebih buruk dari ransum. Mengerikan.”

Lagi-lagi Yifan tertawa mendengarnya. Tidak mengherankan sih jika duo Jongin–Sehun masih begitu usil. Mereka masih anak-anak, masih sebelas tahun.

“Dan apa mereka bersepuluh masih sering bertengkar?”

Junmyeon memutar kedua bola matanya. “Tentu saja masih!” serunya penuh penekanan pada Yifan. “Hal-hal sepele saja bisa jadi masalah besar jika mereka bahas. Luhan dan Minseok sudah lebih dewasa jadi mereka sudah mengerti. Meski kadang masih terlibat pertengkaran juga. Tapi yang lainnya … oh, kurasa kata yang cocok untuk menggambarkan mereka yang sedang bertengkar adalah kacau. Benar-benar kacau.

“Terutama para bungsu―Tao, Jongin, Sehun. Mereka selalu jadi biang kerok di banyak hal. Membuatku pusing saja. Yixing dan Kyungsoo cenderung tenang. Tapi Kyungsoo itu diam-diam menyebalkan juga. Kadang―tidak, seringkali perkataannya begitu pedas dan menusuk. Dan itu acap kali menimbulkan perselisihan. Chanyeol dan Baekhyun masih dan akan selalu jadi mood-maker. Satu lagi duo partner in crime yang menyusahkan selain Jongin–Sehun. Jongdae selalu bisa membaur dengan siapa saja. Dia pandai menyesuaikan diri. Saat bersama Luhan dan Minseok, ia bisa mengimbangi. Pun saat ia bersama para bungsu. Diam-diam dia juga banyak membantuku.”

Yifan mendengarkan dengan seksama. Memang ada beberapa hal yang tidak berubah. Tapi ada begitu banyak hal dan waktu yang dilewatkannya.

Tangan Yifan yang panjang dengan mudah menjangkau kepala Junmyeon, kali ini Junmyeon tidak menepisnya dan memberi tatapan heran pada Yifan. Yifan menggerakkan tangannya, mengacak-acak surai Junmyeon seraya nyengir lebar. “Lihat kan? Kau melakukan melakukan semuanya dengan baik tanpaku.” Acakan itu berhenti bersamaan dengan berhentinya kalimat Yifan.

Deg!

Junmyeon kembali merasakan rasa sesak itu. Kenapa? Kenapa Yifan kembali mengungkit-ungkit soal itu?

“Kau lihat sendiri bukan? Bahkan meski aku tidak ada di dekat kalian, kalian baik-baik saja.”

“Tapi akan lebih baik jika kau ada!” balas Junmyeon yang menahan nafas, dengan membentak. Yifan tercenung di tempatnya. “Apanya yang baik-baik saja? Kami hanya berusaha membiasakan diri tanpamu!” mata Junmyeon mulai memanas. “Dan nampaknya … aku masih gagal…”

Junmyeon kembali dibuat kesal oleh Yifan. Kapan Yifan akan mengerti kalau tidak ada yang baik-baik saja tanpa dirinya? Kapan Yifan mengerti kalau tanpa ia, Junmyeon hanyalah setengah dirinya? Kenapa Yifan selalu menguatkan Junmyeon?

Padahal harusnya Yifan paham di luar kepala jika Junmyeon tidak bisa hidup tanpa dia. Jika Junmyeon tidak bisa hidup tanpa … orang yang ia cintai.

Tanpa sadar, air mata di pelupuk mata Junmyeon sudah jatuh, turun membasahi pipinya. “Rasa-rasanya aku tidak sanggup melewati ini semua tanpamu. Ini semua begitu berat. Tidak ada yang baik-baik saja tanpamu,” kata Junmyeon di sela tangisnya, “terutama aku,” imbuhnya lirih.

Junmyeon mengepalkan tangannya dan tangan Yifan yang lebih besar dari miliknya menggenggam tangan Junmyeon erat.

“Tapi kau, dan yang lain, sudah berhasil melewati dua tahun ini tanpaku. Kalian pasti bisa melakukan itu lagi untuk kedepannya. Karena … mau tidak mau, kalian harus melakukannya kan?” Yifan tersenyum getir.

Dan satu fakta yang sedari tadi mengganjal pikiran Junmyeon membuat air mata pria berusia dua puluh tahun itu mengalir semakin deras.

 


 

Yifan sudah pergi selama dua tahun. Bergabung dengan pasukan pemberontak bernama Frontliner demi menggusur rezim yang berkuasa. Selama dua tahun pula Junmyeon dan kesepuluh adiknya harus menjalani dan mulai terbiasa hidup tanpa Yifan. Meski rindu di hati makin menyiksa saja rasanya.

Tidak banyak kabar yang bisa Junmyeon atau yang lain dapatkan dari Yifan. Satu-satunya petunjuk mereka adalah dari siaran radio. Radio hasil jarahan Junmyeon dari mayat tentara korban perang yang ia dapatkan beberapa tahun sebelum Yifan pergi.

Junmyeon selalu mencari saluran yang sama. Saluran yang selalu menyiarkan kabar berita soal Frontliner. Kadang Junmyeon tanpa sadar tersenyum jika ia mendengar berita kemenangan Frontliner. Kadang Junmyeon juga tersenyum saat secara mengejutkan mendapatkan titipan salam dari Yifan.

“Untuk keluargaku yang entah dimanaini bukan karena aku acuh pada mereka tapi karena mereka hidup secara nomadenhari ini aku kembali memikirkan kalian. Dan tanpa sadar rindu ini sudah membengkak sebelum aku menyadarinya. Hahaha, terdengar gombal. Tapi percayalah, aku merindukan kalian.”

Itu adalah salah satu salam dari Yifan yang paling Junmyeon hafal. Karena setelah mendengar salam itu, Junmyeon tergelak. Tidak menyangka jika Yifan yang ‘pendiam’ bisa menulis sesuatu yang puitis seperti itu.

Kemudian kemarin, Junmyeon mendapat kabar jika pasukan Frontliner tiba di pelabuhan tidak jauh dari tempatnya dan adik-adiknya berada. Dengan penuh tekad dan kerinduan untuk menemui Yifan, Junmyeon bergegas berangkat seorang diri setelah sebelumnya berpesan pada Minseok dan Luhan untuk menjaga yang lain. Juga mengatakan untuk melanjutkan perjalanan ke utara jika sampai tengah hari besok ia belum kembali.

Dan tibalah Junmyeon di pelabuhan. Membaur bersama orang-orang lain yang bersiap menyambut kedatangan Frontliner. Junmyeon yakin, beberapa dari mereka juga menunggu anggota keluarga mereka sama seperti yang ia lakukan.

Tidak lama kemudian, sebuah kapal merapat. Sebuah kapal besar dengan tulisan Frontliner yang terstensil di ujung badannya. Suasana jadi begitu ramai. Ada banyak tangis bahagia di sana karena kembali bertemu orang terkasih. Tapi juga ada tangis pilu karena kehilangan.

Di tengah lautan manusia itu, Junmyeon kepayahan dalam mencari Yifan. Ah, andai saja ia memiliki tinggi badan seperti Yifan, mungkin itu akan memudahkannya. Tapi kemudian Junmyeon bertemu Shim Changmin, orang yang sempat mereka temui dalam perjalanan mereka dan menjelaskan apa itu Frontliner. Bisa dibilang, Yifan bergabung dengan Frontliner setelah bertemu dengan Changmin.

“Hei! Hei! Changmin! Shim Changmin!” Junmyeon berseru seraya melambai-lambaikan tangannya. Tatapan keduanya bertemu dan Junmyeon dengan segera menghampiri pria bertubuh jangkung itu. “Kau masih ingat aku?”

Kening Changmin berkerut, berusaha mengingat. “Oh!” Changmin berseru. “Kim Junmyeon, bukan?” tebaknya antusias. “Kalau tidak salah sih…”

“Ya, ya, kau benar. Aku Kim Junmyeon.” Junmyeon merasa lega karena Changmin masih mengingat dirinya. “Aku kemari mencari Wu Yifan.”

Dan Junmyeon sudah tahu, ada yang tidak beres dengan ekspresi wajah Changmin yang langsung berubah itu. Tapi Junmyeon menepis gagasan itu dan berusaha menyirami pikirannya dengan pikiran-pikiran yang jauh lebih positif.

“Ikut aku,” perintah Changmin.

Junmyeon mematuhinya. Ia dan Changmin berjalan melawan arus para pasukan Frontliner yang berbondong-bondong keluar dari kapal. Sempat beberapa kali Junmyeon hampir kehilangan jejak Changmin.

“Kenapa? Apa Yifan terluka?” buru Junmyeon.

“…ya.”

Mereka akhirnya masuk lebih jauh ke dalam kapal sebelum akhirnya berhenti di sebuah ruangan.

“Yifan ada disini?” tanya Junmyeon.

Changmin hanya mengangguk tanpa bersuara, lalu ia membukakan pintu untuk Junmyeon.

Di sanalah Yifan. Tidur terlentang di sebuah tempat tidur. Masih mengenakan baju seragam. Terbujur kaku dengan luka di sekujur tubuh dan nyawa yang tak lagi ada di raga. Wajahnya sudah amat pucat. Dadanya tidak bergerak sama sekali.

Hati Junmyeon langsung hancur berkeping-keping melihatnya. Tangisnya tak mampu ia bending lagi. Diarahkannya kepalan tinjunya ke tembok hingga berdarah. Berharap rasa sakit yang ditimbulkan bisa meredam sakit yang didera hatinya. Tapi tidak bisa.

Ingin rasanya Junmyeon menyalahkan seseorang atau lebih atas meninggalnya Yifan. Tapi siapa? Apa Changmin? Karena orang itulah Yifan bergabung dengan Frontliner. Ah, tapi … tidak. Saat Junmyeon kembali mengingat sorot mata Yifan yang berkilat penuh kesungguhan, Junmyeon urung memarahi Changmin.

Yifan pergi atas kemauannya. Bukan karena paksaan Changmin.

“Dia meninggal dalam perjalanan kemari. Luka karena terkena ledakan bom dan pendarahan dalam. Beberapa tulang rusuknya patah, bahu kirinya juga. Ada beberapa serpihan benda-benda termasuk logam yang bersarang di beberapa titik di tubuhnya. Telinganya tuli sebelah. Setelah mengetahuinya ia bahkan masih sempat tertawa. Ia berkata, “Setidaknya aku masih bisa mendengar suara mereka, keluargaku”,” jelas Changmin tanpa diminta. “Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Tapi takdir berkata lain. Juga … kalau kau tak keberatan, kami akan memakamkannya di dekat pegunungan di sebelah utara. Itu daerah yang aman. Tentunya setelah kami selesai melakukan identifikasi pada semua jenazah pasukan kami.”

Dan Junmyeon kembali pulang pada adik-adiknya dengan hati hancur dan jiwa yang sudah robek setengah.

Diamnya Junmyeon yang ganjil sekembalinya dari pelabuhan menimbulkan tanda tanya di kepala semua adiknya. Tapi setelah mendapat jawaban “tidak apa-apa” dua kali setelah “kenapa” yang terlontar berkali-kali, semua menyerah. Mungkin belum saatnya, pikir mereka.

Lalu sorenya, Junmyeon tumbang.

 


 

“Tapi kau, dan yang lain, sudah berhasil melewati dua tahun ini tanpaku. Kalian pasti bisa melakukan itu lagi untuk ke depannya. Karena … mau tidak mau, kalian harus melakukannya kan?” Yifan tersenyum getir.

Dan satu fakta yang sedari tadi mengganjal pikiran Junmyeon membuat air mata pria berusia dua puluh tahun itu mengalir semakin deras.

Yifan sudah meninggal.

Junmyeon menyadari itu dan mengutuk, kenapa semua ini terasa begitu nyata? Presensi Yifan di sampingnya, suara Yifan, serta sentuhan Yifan di kepalanya. Semuanya terasa begitu nyata, dan itu menyiksa Junmyeon. Dan obrolan empat mata mereka yang terasa begitu menangkan dan hangat membuat Junmyeon semakin sesak.

“Dasar kejam. Meninggalkan kami begitu saja dan menyuruh kami untuk terbiasa tanpamu. Coba saja waktu itu kau tidak bergabung dengan Frontliner…” Junmyeon masih menangis.

Kemudian Yifan menepuk punggung Junmyeon dengan mantap bahkan terbilang keras. Seakan-akan Yifan mencoba untuk mentransfer kekuatan pada Junmyeon.

Lalu Yifan tersenyum tipis. “Tidak ada gunanya menyesali masa lalu,” katanya. “Lagipula … aku bergabung dengan Frontliner atau tidak, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin hidupku sudah digariskan seperti ini.”

“Lalu bagaimana aku harus mengatakannya pada mereka?” tanya Junmyeon. “Bagaimana aku harus mengatakan pada adik-adik kita kalau kau … sudah … meninggal?” dengan susah payah Junmyeon menyebutkan dua kata terakhir.

Ya, Junmyeon belum memberitahu adik-adiknya akan hal ini.

“Katakan saja yang sebenarnya. Katakan jika aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

“Tapi itu akan menyakitkan. Sangat, mungkin. Mereka semua pasti merasa sangat kehilangan. Terutama Tao dan Sehun, Chanyeol juga.”

“Kau pernah dengar cerita ini?” pertanyaan Yifan tidak digubris Junmyeon. Namun Yifan tetap melanjutkannya. “Suatu hari, Kematian dan Kehidupan berbincang-bincang. Kehidupan lalu bertanya pada Kematian, ‘Kematian, kenapa orang-orang begitu membencimu dan memujaku?’. Lalu Kematian menjawab, ‘Karena aku adalah kenyataan yang menyakitkan sementara kau adalah kebohongan yang menyenangkan dan manis’. Begitu. Jadi … katakan saja yang sebenarnya. Lebih baik mencerna kenyataan pahit daripada kebohongan manis. Ah, kau juga bisa menceritakan cerita tadi pada yang lain sebelum mereka tidur.”

“Bodoh. Mana ada cerita penghantar tidur semacam itu?”

Mau tak mau Yifan tertawa pelan mendengar balasan Junmyeon. Yah, mana ada? Tapi Yifan maklum. Ia tidak pandai bercerita. Berbeda dengan Junmyeon yang selalu punya banyak ide untuk diceritakan. Mulai dari rasi bintang, sejarah dunia, mitologi-mitologi yang ada di dunia, hingga bahkan cerita rakyat dan lainnya. Junmyeon selalu punya hal untuk diceritakan.

“Yah, kau benar,” kata Yifan. Ia lalu menggeser duduknya untuk mengeliminasi spasi antara dia dan Junmyeon. Ibu jarinya bergerak di atas wajah Junmyeon untuk mengusap air mata Junmyeon. Membuat ia dan Junmyeon saling bertatapan. “Sudah, jangan menangis lagi.”

Tapi Junmyeon justru semakin menangis.

Yifan kembali mengacak rambut Junmyeon. “Kau sudah melakukan semuanya dengan baik. Dan aku yakin kedepannya juga akan begitu, semakin baik malah.” Lalu Yifan mengakhiri ucapannya dengan sebuah ciuman di pucuk kepala Junmyeon ditambah dekapan di akhir.

Hati Junmyeon benar-benar sudah tak berbentuk saat ini. Pertahanannya bukan sudah hancur lagi. Pertahanannya sudah hancur sedari tadi, entah kapan. Sekarang pertahanannya sudah hilang, luluh lantah tak berbekas.

Kenapa ciuman dan aroma tubuhnya terasa begitu nyata? Hati dan akalnya memberontak.

“Sekarang … kembalilah. Mereka masih membutuhkanmu,” bisik Yifan.

Junmyeon menatap Yifan bingung. Terlebih saat Yifan mendorong dirinya.

 

 

Kelopak mata Junmyeon terbuka perlahan. Cahaya yang dengan nakal menelusup masuk ke netranya membuatnya menyipit secara otomatis sebelum mengerjap-ngerjapkan matanya agar terbiasa dengan intensitas cahaya yang ada. Langit di atasnya sudah berganti menjadi langit pagi. Junmyeon tahu karena matahari belum tinggi. Kepalanya menoleh ke sekitar. Dirinya ada di padang savana. Junmyeon rasa ini belum jauh dari lokasi perang …

Tunggu.

Bukankah saat perang ia tumbang? Sesaat setelah mendorong Luhan, Jongin, dan Minseok ke dalam bangunan untuk berlindung? Dirinya tidak sadarkan diri? Tapi … untuk berapa lama?

Junmyeon berusaha menggerakkan tubuhnya. Masih terasa sedikit rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya yang membuatnya meringis. Tidak terlalu parah, kurasa. Pikir Junmyeon.

Hyung?”

Seseorang memanggilnya. Junmyeon mendapati Luhan menatapnya dengan mata yang membulat tidak percaya. Kemudian Luhan berseru dengan sangat keras.

“HEI! JUNMYEON HYUNG SUDAH SADAR!”

Dan dalam hitungan detik, Junmyeon sudah dikerubungi oleh kesepuluh adiknya yang tidak henti-hentinya menanyakan keadaannya. Jawaban “aku baik-baik saja” dan bahkan dengan duo Yixing dan Luhan yang mengecek kondisi Junmyeon nampaknya belum bisa meyakinkan semua yang ada di situ.

“Jadi … sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Junmyeon.

“Tiga hari,” jawab Yixing.

Junmyeon tertawa hambar. “Ya ampun, lama juga ya?” dengan posisi duduknya, Junmyeon bisa dengan jelas melihat sekitar. Saat matanya menemukan bangunan tempat berlindung mereka dari perang tempo hari, Junmyeon tidak bisa menahan tawanya. “Dan kita belum beranjak jauh dari tempat persembunyian kita tempo hari?”

“Yaaaa … Hyung tidak bisa menyalahkan kami karena kami tidak mungkin melakukan perjalanan dengan membawa orang yang terluka seperti Hyung. Itu merepotkan. Beruntung perang tidak meletus lagi di daerah ini. Eh, atau belum ya? Selain itu, sejak pulang dari pelabuhan Hyung kelihatan aneh. Lebih sering diam dan itu menakutkan tahu. Jadi kami takut kalau kami melakukan hal-hal di luar persetujuan Hyung, itu akan membuat Hyung marah,” cerocos Jongdae.

Ah, Junmyeon jadi teringat sesuatu kan?

Hyung juga sering mengigau,” celetuk Sehun.

“Oh ya?” Junmyeon balas bertanya.

“Iya!” sambar Baekhyun cepat. “Hyung terus mengigau soal Yifan ge dan tidak berhenti memanggil-manggil namanya. Kelihatan tersiksa sekali sepertinya. Lalu―HEI! Kenapa kau mencubitku?!” ucapan Baekhyun terpotong oleh seruannya sendiri yang ia tujukan pada Kyungsoo yang mencubit pinggangnya.

Atmosfer di sana seketika berubah menjadi begitu canggung.

Ah, lagi-lagi Junmyeon teringat sesuatu.

“Maaf Hyung…” Kyungsoo buka suara. “Kami tidak bermaksud mencuri dengar. Hanya saja … igauan Hyung beberapa kali terdengar begitu keras. Jadi yaaaa … kami … mengetahui hal yang belum kami ketahui menyangkut Yifan ge.”

Ada rasa bersalah yang menghinggapi kesepuluh adik Junmyeon. Igauan Junmyeon yang tak sengaja mereka dengar membuat mereka merasa baru saja melewati batas privasi kedua kakak tertua mereka. Dalam hal ini adalah Junmyeon. Karena tidak peduli sedekat apapun Yifan–Junmyeon dengan mereka, selalu ada ruang tersendiri untuk keduanya. Ruang yang khusus diperuntukkan oleh Yifan dan Junmyeon, sebuah privasi.

Junmyeon tersenyum maklum. “Bukan masalah.”

“Jadi … benar ya, Hyung? Soal Yifan ge?” tanya Chanyeol. “Dia … sudah meninggal?”

Ah, dada Junmyeon kembali terasa sesak jika ia mengingat pembicaraan empat mata dirinya dan Yifan.

“Ya,” Junmyeon tersenyum getir, “Yifan ge sudah meninggal. Ia meninggal dalam perjalanan ke pelabuhan karena luka akibat ledakan bom dan pendarahan dalam. Maaf tidak memberitahu kalian lebih awal mengenai hal ini. Ini karena aku sendiri belum siap menerima kenyataan ini. Selain itu aku juga bingung harus berkata bagaimana pada kalian.”

Semua yang ada di sana diam. Air mata mereka mulai meleleh.

“Hei, kenapa kalian semua jadi diam begini?” tegur Junmyeon. “Aku tahu kalian sedang berduka. Akupun begitu. Tapi kita harus bergegas untuk pergi ke pegunungan di sebelah utara.”

“Kenapa?” tanya Sehun yang paling bungsu.

“Karena itu daerah yang aman,” jawab Junmyeon. “Selain itu … kita bisa mengunjungi Yifan ge di sana. Changmin bilang, ia akan memakamkan jenazah para pasukan Frontliner di sana.”

Semuanya masih berduka karena kehilangan salah satu sosok pemimpin di antara mereka. Bahkan air mata mereka semua perlahan keluar makin deras tanpa diperintah.

“Ayo, kita kesana.” Luhan berkata dengan suara serak.

“Ya, ayo. Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya,” kata Yixing.

“A-Aku janji tidak akan menangis.” Bohong. Buktinya sekarang Tao sudah menangis.

Lalu semuanya menangis bersama-sama. Dan Junmyeon langsung memeluk mereka semua. Junmyeon tahu betapa kehilangannya mereka. Tapi, mereka harus tetap dan semakin kuat bukan?

 

Leaders’ Talk FIN

 

A/N        :

HOMINAAAAA KELLLLAAAAAARRRR!! AAAAAAKKK! Biarkan Len histeris untuk beberapa saat. AAAAAAAA! Nggak percaya banget kalo Len yang nulis ini! AAAAAAA! Astaga, yang beneran ini Len yang nulis? AAAAA! Fic shounen-ai ini Len yang nulis?! AAAAAAA. Bahkan Len amat sulit percaya kalo ini Len yang bikin. Kalo pada akhirnya Len nulis fanfiksi shounen-ai. AAAAAA!

Ini semua karena fanart dan foto-foto duo lider ini yang asjsfhofhdohfosdfdwfei! Ini semua karena bejibunnya archives #krisho di tumblr! Berjibunnya gif dan fakta-fakta kedekatan mereka! Salahkan mereka! Len nggak salah! Salahin Junmyeon juga yang di Problematic Men! Kronologinya begini :

MC : Jadi ada nggak, grup yang punya dua lider?

SH : Nggak. Setau gue, nggak.

/Ya, Len tau itu acara taun kemaren. TAPI ANE BARU TAU BARU-BARU INI! Oke, ane emang kudet karena udah setaun lebih ampir dua tahun kagak ngikutin dunia kipop/ Emang di situ Junmyeon bilang ‘nggak’, tapi raut wajahnya itu lhooooo … kayak gimanaaaa gitu. Kayak ada perih-perihnya gitu. Dan ane langsung bilang “ANJIR” begitu liat gif-nya itu. MC-nya pinter yang tanya! Junmyeon juga pinter banget yang ngeles elah! Kemudian baper akan OT12 yang berujung browsing soal duo lider ini, kuota makin kesedot, dan hati ini makin baper. Okesip -_- fak lah fak ini. Fak. Fak! SALAHIN JUGA KRISHO MOMENTS YANG LAIN! FOR THE GODDAMN’S SAKE! MY FEELS!

Sebelumnya, Len mau lurusin satu hal. EHEM /dehem kece/ Jadi gini, genre ‘Yaoi’ sama ‘Shounen-ai’ itu BEDA. Iya sih sama-sama menceritakan soal hubungan romantika sesama jenis (dalam hal ini cowok) tapi TETEP BEDA. Kenapa beda?

Ini karena genre ‘Yaoi’ itu lebih tinggi, lebih berani. ‘Yaoi’ ini juga lebih menekankan ke arah seksualitas. Entah itu yang sedang atau ampe yang level selanjutnya XD Sedangkan ‘shounen-ai’ itu lebih menekankan ke perasaan si tokoh. Jadi kesimpulannya, semua yaoi itu pasti shounen-ai, tapi nggak semua shounen-ai itu yaoi. Dah paham? XD So, inilah kenapa fanfiksi satu ini genre-nya shounen-ai dan bukannya yaoi. /cium kepala doang mah, nggak ape-ape lah ya? XD / Penjelasan ini ane dapet berdasar riset dengan para senpai.

Dan … jujur, ini pertama kalinya Len bikin fanfiksi slash alias fanfiksi yang menceritakan hubungan percintaan sesama jenis kalo baca udah lumayan sering bikos para senpai di FanFiction.net berhasil meramu ceritanya dengan apik, dengan diksi dewa dan cerita yang nendang. /Sekali lagi, salahin fanarts KrisHo di tumblr yang ANJIR! Juga momen-momen mereka yang bikin kokoro ini kembali lemah bikos teringat ot12!/ Jadi maapkeun kalo masih … masih apa ya? Banyak kurangnya lah! Entah itu kaku /karena selama ini ane cuma nulis straight!/, atau kurang nge-feel, de-el-el.

Ini juga fanfiksi distopia Len yang pertama. Jadi maapkeun juga kalo distopianya kurang nendang. Sebenernya sempet kegoda buat pake dystopia!AU yang udah ada. Kayak Divergent!AU, The Hunger Games!AU, atau The Maze Runner!AU. Tapi akhirnya Len putusin buat menciptakan distopia!AU sendiri /dan kayaknya masih gaje dan jwuwawuh dari kata sempurna dan nendang/ hwhwhwhw. Percayalah, ini fanfiksi Len rombak tiga kali sebelum akhirnya jadi begini /dan ane cukup puas sama hasil akhir ini/ XD

Gimana nih fanfiksinya? Semoga dengan ini kalian nggak anti baca fanfiksi flash alias yaoi maupun shounen-ai ya? Kekurangan pastilah ada. Dan mata readers-lah yang jeli melihatnya. Maka dari itu nggak perlu sungkan-sungkan buat meninggalkan jejak. Oke? 😉

Yosh, ni A/N udah macem drabble aja XD Sorede, see ya in the next fanfiction! Adios!

 

59 tanggapan untuk “Leaders’ Talk — by Len K”

  1. Len.. U made me cryin’ 😭
    suka bgt sm style nulis kamu, crita’ny kren bgt 👍 alur’ny ok. Diawal gambaran crita ttg our current situation in this planet, called Earth, tu ky di MV “O” 정반합 우리 사랑하는 동방신기. Ini prtm x bc genre shounen ai, I prefer this genre than yaoi ‘thing’. Awal Kris muncul, sm 1x ga ngira klo tu cm kjadian di alam bwh sadar’ny Suho 😢 kirain Kris bner2 dtg nengokin klrg’ny. Leaders’ talk’ny itu brasa obrolan yg ‘real’ bgt & success bikin saya mewek sjadi-jadi’ny 😭 tp trus ada cameo ganteng 😍 창민 ku yg lg wamil. Tp.. Kris jgn mati..! 😭 ga rela!! Ditinggal Kris prg u/ jd tentara frontliner ja udah sngt menyesakkan 😢 apa lg di tinggalin Kris u/ slama2ny 😭 apa dy sudah tenang di Exo Planet, home land’ny atau.. di Galaxy t4 fave’ny 🌌

    1. Omg, ane nggak nyangka dikau beneran mampir ke epep-epep ane Kak! >.<
      DBSK? Sebenernya, Kakak ini line berapa? XD XD XD No offense, okay? DBSK pan soalnya idol veteran.
      Ide Kris yang muncul di alam bawah sadar itu juga dateng nggak permisi, nyelonong gitu aje. Kemudian ane sadar kalo ini hampir mirip scene Kakashi pas lagi ngomong-ngomong ama Bapaknya, yang waktu Konoha diserang itu LOLOL
      Ya ampun, ane bikin anak orang mewek lagi XD

      Ane prefer abang jidat lebar sih, a.k.a Yoochun XD Tapi pengen jadi satu kaum, yaitu kaum dedemit, macem Changmin LOL XD

    2. 누나 line ’87 Len,
      5months older dr 창민 ☺
      beda 2th 5bln sm Miura Haruma,
      3th 1bln sm Kris &
      6th 5bln sm 세훈 😘
      *maksa bgt spy lbh irit ngitung’ny 😅 mksd ht spy ga trlalu jauh gt age gap sm ja2ran bronis di atas 😋

      유천 오빠 tuh dah ky my own big bro yg I’ve never had & always longing for since my childhood days 😢 cz we had same kind of family issue gt, ky Kris jg *curcol again! Never mind, ok 😉

    3. Aaaaakkk, ane bertemu sesepuh dimari! /brb sungkem/ XD
      Wew, ane suka sih Miura, tapi baru ngeh kalo dia line 85 masa O_O LOL
      Ane malah baru tau kalo Yoochun juga punya family issue XD Ane taunya Jaejoong XD

    1. Haduh, daku ngakak liat kamu yang panik gitu komen panjangnya gak masuk masa XD XD
      Dua kali? Tapi ane baru liat kamu menampakkan diri satu kali tuh /raise eyebrows/ wkwkwkwkwkw

    2. trus kata” diatas yang ‘Dunia itu dinamis. Gejolaknya tidak bisa diprediksi. Masa depan juga sama saja. Tidak ada kepastian yang bisa diberikan.’ Gilakkk itu kata”nya keren bangeddd.. ><

    3. haduh.. jongin gembel.. 😂😂😂 jujur aja waktu baca commentan” kak len sama kak IRISH aku ngakak poll dan kata” JONGIN GEMBEL bener” ke bayang bangett… 😂 may good…
      .
      uda ketemu id saya kak? wkwkwk xD

  2. thor, KRISHO YAN KEK GNI APALAGI BAHASA INDO ITU JARANG BANGET, DAN INI. GUE NYASAR, AKHIRNYA NEMU FIC DUO LEADER LAGII,

    KRISHO ITU NYATA men. . . . NYATA… mau dibilang kek gmana, tapi KRISHO ITU NYATA,
    dari pandang pandangannya.
    dari bisikan bisikan yang asdgjhtm
    mereka itu suka banget pegang tangan, T_T Pas exo showtime eps. 12 beuh, itu sweeet, nyesek nyesek gmana gtuh,

    yang pas bagian LEADER TALK nya huwah, kamvret, sakit.

    ya amvon, mencintai krisho itu syakeeth. TAPI JUGA MANIS.

    1. Maka dari itu ane coba bikin.
      KAMUUUHHH BENERRRR!! MENCINTAI KRISHO TUH MANIS TAPI LEBIH BANYAK NYESEKNYA :”
      Ane udah speechless kalo ditanya mereka nyata apa nggak. Tapi, tapi, tapi, kalo liat momen-momen mereka itu rasanya kek pengen gigit bantal, pecahin piring, jungkir-balikin meja,dsb XD
      IYA! MEREKA SUKA BANGET SKINSHIP-AN DI TANGAN! KRIS AJA AMPE NYIUM TANGANNYA SUHO LHO! GIMANA NGGAK KEMERETEKAN KOKORO INI?! T_____T
      Hidup KrisHo! Meski … meski … yaahhh, tahu sendiri gimana mereka sekarang :” ANJIR DAH

    2. iya thor, heboh sendiri geregetan sendiri.
      nasib fangirl. yg pling nyesek itu ALLKPOP.COM TEGA BANGET nge-post SUHO komen tentang kris lawsuit, dan bodohnya banyak yg prcya. gue gak percaya, artikel itu terllu ambigu. kalo junie sampe tega ngmg kek gtu, dia sama aja bunuh dirinya sendiri, karena suho tanpa kris itu kayak dayung(?) tnp perahu, sama aja junie cm bw dayung tpi nyebur kelaut. mati.
      kpn kpn bkin krisho lg ya, trsrh mau rating nya apa.
      buat gue,suho tuh uke mutlak. shipable ma everyone.

  3. LEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN, INI KEREN BANGET, HUAAAAAA. MALEM-MALEM BAPER ELAAAAH,
    ENGGAK NYANGKA BANGET KAMU NULIS BEGINIAN, WKWKWKW. FEEL NYA, LOH, FEELNYA. RETAK SUDAH HATIKU BERKEPING KEPING. KYAHAHAHAHA.
    KEREN DEH LEN POKOKNYA. BYE-BYE LEN, KECUP JAUH BUATMU, UWUWU ^^

    1. Astaga Zee, nggak nyangka dikau bisa nyangkut dimari. Akakakakakakak XD XD XD XD
      ANE JUGA NGGAK NYANGKA NULIS BEGINIAN. ADUH EOTTEOHKAEEEEEEEEE? XD XD XD
      Hati lu retak malah ketawa ngakak ye? Hahahaha
      Yosh, makasih~~

  4. LEEENNNN~~~ SINI PEN MBACA, TAPI DARI WORDCOUNTNYA MATA INI BERKATA TIDAK. UDAH PERIH BGT DARI TADI DEPAN LAPTOP TERUS NGURUS MASA DEPAN /PDHAL BROWSING SANA SINI JUGA :V
    SAOLOH~ INI DYSTOPIA MAMEN~

    DAN AKHIRNYA, MARI BACA~ BODO AMAT SAMA SHOUNEN-AI~ DUDUDUH~ /GAK. GPPA, NAD. SKIP AJA. WKWKWK~ PENASARAN NGGAK BISA DI TAHAN. ANJIRLAH!! BACA! BACA! BACA! SELAMA INI JUGA KARYA2 NUEVELAVHASTA GAK MENGECEWAKAN. JADI, MARI BACA! HAHAHA~

    DAAN.. DAAN.. DAAN..
    LEN, KUSUKA INI KUSUKA :”) HUHUHUH~ LEADER’S TALKNYA NGENA BANGET HUWEH~ :”)
    UDAH LAH, BODO AMAT AJA SAMA SHOUNEN-AI. SKALI SKALI PAN~ WKWKWK

    ITU BOCAH2NYA JUGA, BAH~ PARTNER IN CRIME. LOLOL

    LEN, MAAPKEUN CAPSLOCK JEBOL INI.
    OPEROL, ANE SUKAK 😀 😀 😀 HUHUH
    KKKK~ 😀 😀

    1. :V That happened to me too. Saat diri ini pengen fokus buat prepare masa depan, godaannya itu WANJIIIRRRRR GILAKK XD XD XD

      Demen distopia ye? Sini juga, wkwkwkwk
      BAGUS NAK! ABAIKAN AJA KALO INI SHOUNEN-AI! XD

      And you know what? Ane ngakak KERAS BANGET pas baca “Selama ini juga karya2 Nuevelavhasta gak mengecewakan” XD Antara believe or not /macem ripley’s aja/ XD Daaannn ini berasa jadi beban tersendiri, kayak … gimana kalo ini nggak sesuai ekspektasi pembaca? :”)

      Kusuka, dirimu kusuka kuberlari sekuat tenagaaaaaa~~ Kusuka selalu kusukaaa /lalu digampar sendal ama Nadia/ XD
      Untung kagak fail deh XD

      Berkali-kali juga nggak masalah kok XD /WOEEEEE/
      Salahmu sudah kumaafkan Nak /pukpuk/ XD

    2. wakakakak~

      diinget2 lagi, junmen ini sering jadi uke sama lu ya, Len? -_-
      plis, jgn bilang dia cocok. plis! :”)

      gapapa2 selagi ngakak belum berbayar mah silahkan aja, Len. Ane serius kok itu. enak aja baca fenfik yg berdasarkan riset mendalam gitu 😀 😀

      Lu ngiklan kripik, Len?

      Duh, mkasih udh dimaapin mak {} /sungkem /udah mau sya’ban pan? :V

    3. Lah, ane pernah baca KPF, komen juga, Len nggak inget? :”) /dih, maksa :v

      NGGAK! NGGAK COCOK! NGGAK! :V

      Harusnya emak yg bayarin fitrah atuh :”) 😀

    4. OH IYES, ANE INGET NAMA LU PERNAH NYEMPIL! XD Ya sorry, nama ‘Nadia’ itu banyak soalnya /niatnya mau nulis pasaran tapi nggak jadi/ XD

      COCOOOKKKK! Kalo kata Demian mah “SEMPURNA” XD XD

      Elu kan emak ane :v

    5. APA?! MAKANAN? LU NYAMA2IN NAMA ANE SAMA MAKANAN, LEN? :”)) JAHAT SEKALI KAU! :3 /DOR!

      NGGAK!

      Perasaan kemaren ane yg dipanggil “nak”~~

  5. aku baper baca ff ini, kelingan maneh ama abang kris#LOGATJAWAKELUAR
    Entah kenapa ingat ot12 itu menyenangkan tapi di sisi lain menyedihkan#malahcurhat ah tapi gak papa lanjut aja deh….

    1. Kelingan pas jaman semono, pas wonge durung lungo ya?
      Kelingan eseme kelingan nguyune. Kelingan Kelingan Kelingan kabehe. Yen nyawang lakune katon ngregetake. Ojo-ojo aku ditingalke~~~ /plis Len, stop/
      ot12 emang bikin wafer(?) emang :v
      Lanjut apa Nak? Lanjut nge-wafernya? :v

  6. oke, aku udah gak bisa berkata kata lagi..
    smua pertanyaan dan perasaan suho disini bener2 mewakili perasaan ku..
    sampai sekrang aku masih membiasakan diri tanpa ada kris ditengah2 exo. tapi slalu berakhir gagal..
    knapa? knapa kamu membawaku mengingat ngigat lagi ot12 yg penuh kebahagiaan sekaligus menyakitkan itu Len?? kenapaaaa?
    fict mu fix bikin baper. dan latar perang2an itu.. keren bgt Len, jinja…

    1. Bah! Dusta kau Nak! Buktinya masih bisa komen tuh :v /WOEEEEEEIII/
      Aduh, kok kita samaan sih? :3
      Jangan tanyakan mengapa, karna ku tak taauuuuu~~~ XD
      Makaseh yuiah, kkkk XD

  7. KAMU ADA PERSEDIAAN TOMBOL LIKE LAGI GAK PLIS PLIS PUNYAAAAA watashi no kokoro … kemeretekan di lantai T.T sejujurnya kris x everyone in exo itu otpku tapi yg paling top ya krisho huahuaaaaaaaa terus latarnya g canon tapi sangat menyimbolkan canon. dulu aku pernah bikin yg serupa tapi lebih ke fantasi, crossover sama f(x), tapi stuck dan ga jalan lagi. DAN INIH T.T ada rasa2nya anime gunslinger girl di sini, maksudku anak2 yg dari kecil udh latihan bertarung dan pake senjata, a simple magic touch yg bikin aku tambah cinta. terus dialog2nya juga heart warming. dan ciuman di kepala. iya2 cuman ciuman di kepala TAPI KOKOROKU GAK SELAMET shonen-ai kadang memang sangat tempting buat ditulis, apalagi exo itu waktu jaman ber12 chemistrynya kayak kurang, walau momen2nya yg dikit sangat menginspirasi dibikin FF. dan yah, shonen-ai yg angsty dgn pairing yg *lumayan* real itu tambah bikin kemeretek kibarkan kembali bendera krisho! #exosappaeommaforevah #ot12delusioncontinues tapi tadi aku inget di pargraf awal ada ‘kaki-kaki kesepuluh adik-adiknya’, gak enakan dipendekin jadi ‘kesepuluh adiknya’ tah? krn ‘kesepuluh’ itu kyk semacam ‘para’ klo menurutku, jadi kalo stlhnya diikutin kata ulang itu rasanya rada boros bukan? keep writing (krisho)! XD

    1. Dan pipi ini kram karena baca komenmu Kak! XD HELEP MIIII!
      Kokoroku juga udah macem remah-remah rengginang pas bikin ini (dan tiap baca ini) :”)

      Ane belum liat tuh anime masa >.<
      Yokattaaaaa … ane kira ane bakal fail bikin epep ini, huahahahaha.
      LHA KRIS NYIUM TANGANNYA SUHO AJA KOKORO INI GAK SELAMET, APALAGI BAYANGIN DOI NYIUM PALANYA SUHO! XD XD XD

      Yes, I agree. Dan epep slash itu (seringnya) emang tempting banget buat dibaca XD
      Emang sih, dulu pas ot12 chemistry-nya kurang berasa. Sekarang ane nggak tau soalnya bisa dibilang nggak ngikutin XD

      Nih Kak, ane kasih hadiah biar makin kemretek ngibarin bendera KrisHo-nya : http://www.asianfanfics.com/story/view/427079/facts-and-moments-of-the-leader-couple-krisho-exo-kris-suho-krisho
      HIIIHHH GEMES AKU LIATNYA!

      Daaaaannnn … as usual, you can see my blind-spot :") Bener juga Kak. Doh, paboyaaaa XD Makasih Kak, saranghaekk XD

  8. Author ini KEREN BANGET!!!
    Awal baca sih keinget sama beberapa anime perang yang hidup nomaden juga, tapi lama2 kok berasa suami istri cerai yang masih cinta abis itu ketemu lagi 😀 *gampar aja*
    Ini tuh berasa baca kehidupan ot11 setelah ditinggal sama *sensor*, dan ini membuatku galaaaaaaawwwww :’V
    But overall ini keren abis, bahasanya juga bagus (y) *udah gampar aja* 😀

    Keep writing!!

    1. Hey, OHitsL! Kok ane berasa nggak asing ya sama uname-mu ini. Sumpah, ane pernah tau ini nama tapi dimana lupaaaaa XD

      Lemme batuk dulu plus ngakak ketika dikau berkata kalo ini keren XD Antara percaya ama nggak percaya sih, tapi makasih juga! XD

      Wait, lu suka anime jugakah? /sipitin mata/
      ANJAAAAYYYY! Pengandaian lu itu bikin ane ngakak so hard! XD XD XD
      Dan kenapa dengan baca komen lu ini ane jadi galau-in ot12 lagi elah? :”D
      Sebegitu jahatnyakah bapak ane sampe kalian nyebutin namanya segan? Dia bukan Voldemort padahal XD

    2. Pernah melihat uname ini ngambang(?) Mungkin 😀 😀 wkwkwk

      Udah percaya aja napa inikan reader 😀 #lahterus?
      Kembali kasih, *peluk*

      Suka dong :v Mau ngomongin anime yang mana? Sebelah mana? Sini2 #eaaakk

      Serius itu, apalagi pas awal2 dialog tuh yaaa berasa banget feel mama junmyeon yang bener2 berasa.. Aww pokoknya mah 😀 *udah dibilang gampar aja

      Seakan2 tulisan inituh sindiran kasar buat itu holang botak :’3 huhuuu *bakar udah inimah

    3. IYA PERNAH! Tapi dimananya lupa! Hahahahaha

      Iya deh, iya XD
      Doh, lu tanya mau ngomongin anime mana ane malah bingung sendiri XD SnK, KnB, Gekkan Shoujou, Black Butler, Black Bullet, Nichijou, Monster, Charlotte, Aoi Bungaku, Danganronpa, dkk … itu belum semuaanyaaaa! XD

      Yokatta~ kalo nge-feel. Ane kira ini bakal jadi fail gitu XD

      Ini bukan sindiran. Ini jelas-jelas ditujukan buat si Naga Burik yang selepasnya dari esem kok karirnya makin melejit aje XD

    4. hahaa yasudah mungkin suatu hari nanti bakalan liat ini uname ngambang lagi 😀 wkwk

      Natsume tau gak ka? hihi paporit aku ituu :3 #gaknanya

      iya itu maksudnya, ini bener2 buat abang yipan pan?

    5. Hahahahaha, oke dah
      Natsume Yuujinchou? TAU LAH! ANE KAN JUGA SUKAKK ITU! Kamvret dah, dari empat season baru punya dan nonton dua season … ehhhh, udah mau ada aja season lima -______-
      Hmm, bisa dibilang gitu. Meski ini juga terhitung perwakilan suara hati dan pelampiasan rasa delusi XD

    6. Duh kak Len kudet bat aahhhhh. buruan nonton. season 3 sama 4 kan kece badaaaaaaaaaaaiiiii :3
      iyanih gasabar pan ahh.

      kembali ke topik.
      awalnya liat cover sama judul ini tulisan, “wedeeehhh kece nihh” lalu setelah yipan muncul dan mereka berdialog… “Anjaaaaaaaayyyy kenapa segala ada adegan ketjup@ gitchu yaaaak? sepertinya author butuh belaian” bhahaha *lalu di tabok

    7. AKU JUGA ASLINYA MAU NONTON. MANA TEMEN UDAH PUNYA KOMPLIT. TAPI TAPI TAPI TAPI MEMORI NOTEBOOK ANE KRITISSSSS!! ;A; Udah merah taukkkkk. Mana belom ada eksternal disk. SAKITTTTT KAKAK T——T

      Kamu bakal bilang hal yang sama kalo ketemu sama yang bikin /sisir rambut ke atas/ ditendang OHitsL/ XD Eh btw ane manggil lu enaknya apa nih?

      ANJIRRRR! Sini butuhnya gula! XD
      Udah dibilangin, salahin tags #krisho yang bejibun di tumblr, salahin momen-momen krisho yang kamvret, salahin mereka, salahin delusi ot12, ANE GAK SALAH! XD

    8. Yaaaaaahhhhh sisakanlah tempat untuk Natsume kuuuuuu :v
      sumpeh season 3 4 bakalan bikin baper sampe ke ubun ubun cyiiiin :3 wkwkwk
      pasti tau juga dong Attack on Titan? ada bebev akuh kan disitue *gandengLevi

      yang bikin apa? yang bikin yipan? mau doooooong #apaseeehhh

      L(dibaca el) saja. whaha biasa dipanggil seperti itu 😀 😀

      Keuriseeee T_T mantan terindah :’3

    9. Season 2 endingnya bikin greget pengen banting laptop! Kamvret! Mana banyak misteri yang belum keungkap pulak! Fak!
      TAU DONG! Wait, what? Levi bebebmu? Bangun Nak, bangun -__-
      Ogah, entar kayak manggil el infinite. Hits aje ya? XD
      Mantan njiiirrrr XD Bapak ane tuh XD

  9. Reblogged this on Kapten Kentang and commented:

    It’s hard to believe but … this is my first shounen-ai fanfiction XD Aman untuk dikonsumsi kok.
    Lalu teringat setelah pas bikin nih fanfiksi, di perombakan terakhir, setelah selama lima jam atau lebih di depan lappy, pusing di kepala ini hilang 80% XD XD XD XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s