[TAO BIRTHDAY PROJECT] BE HER HERO – by GECEE

tao-wushu

 

GECEE proudly present

BE HER HERO

 

Starring Huang Zi Tao, OC’s Wen Jia Mei

Ficlet || Sad, Angst, (slight!) romance

The storyline is purely mine. Huang Zi Tao belong to God, his family and his agency. Copy paste on any case is prohibited.

 

== HAPPY READING ==

Selama ini Huang Zi Tao hanya bisa memperhatikan gadis itu dari jauh.

Mana berani ia mendekati Wen Jia Mei, kakak kelasnya tersebut? Memangnya Tao tidak punya malu, mencoba bersahabat dengan putri konglomerat yang kehidupannya dipastikan jauh lebih baik darinya? Jia Mei pastilah seorang gadis terhormat, berbanding jauh dengannya yang hanyalah putra dari seorang preman yang hampir setiap malam pulang dalam keadaan mabuk.

Belum lagi dengan label yang diberikan warga kampus pada mereka berdua. Siapa sih yang tidak mengenal Wen Jia Mei, putri pemilik Wen-Liu Group yang memberi donasi terbesar untuk kampus mereka? Seorang gadis manis berkulit putih yang mempunyai prestasi dalam berbagai bidang. Masa depan yang cerah pasti telah menanti di hadapannya.

Sementara Tao? Ia memang tidak bodoh, tetapi kabar bahwa ayahnya adalah mantan narapidana yang sekarang terlibat kasus penipuan untuk kesekian kalinya dan masih menjadi buronan polisi tersebar kemana-mana, membuat mata setiap orang menatapnya sinis kemanapun ia lewat. Seolah-olah keburukan ayahnya menutupi semua prestasi yang diraih Huang Zi Tao, begitu pun masa depannya.

Menyedihkan, bukan?

Terdengar seperti bumi dan langit, ya kan?

Maka dari itu Tao hanya berani mengagumi Jia Mei diam-diam. Tak sekalipun ia berani mendekati gadis itu, mengajaknya bercakap-cakap, apalagi mengajaknya makan bersama. Memangnya apa yang hendak mereka obrolkan? Keuntungan saham perusahaan? Dan memangnya apa yang hendak Tao belikan untuk makan bersama dengan Jia Mei? Sesuatu yang malah biasa merupakan makanan pembantu rumah tangga gadis itu?

Tak apa. Bagi Tao, melihat gadis itu, menyadari keberadaan gadis itu, sudah lebih dari cukup.

Mendengar gadis itu menyebut namanya ketika mereka berpapasan, walau Tao hanya bisa membalasnya dengan sebuah anggukan singkat, sudah lebih dari cukup.

Sampai akhirnya, Tuhan mendengarkan doa Huang Zi Tao.

Tao belum pernah melakukan tindakan ini sebelumnya. Tidak. Meski ia mengagumi Jia Mei, ia tidak sampai mengikuti gadis itu kemana-mana. Tao yakin hal tersebut malah membuat gadis itu ketakutan.

Tapi hari ini untuk pertama kalinya Tao membuntuti gadis itu. Bukan bermaksud apa-apa, Tao hanya ingin tahu dimana gadis itu tinggal. Ia terlalu pemalu untuk menanyakannya langsung pada Jia Mei. Jadi, sepulang jadwal kuliahnya, Tao menunggu di depan gerbang kampus, menanti bayangan Wen Jia Mei.

Ketika akhirnya Tao melihat batang hidung gadis itu, senyumnya merekah. Perlahan dan diam-diam Tao berjalan di belakang gadis itu, mengikuti kemana langkah gadis itu pergi. Ada kalanya Tao menghentikan langkahnya, menjaga jarak dengan gadis itu, berusaha agar Jia Mei tidak sadar kalau ia sedang diikuti. Sekali lagi, Tao tidak ingin membuat sang gadis curiga apalagi takut.

Sejauh ini semuanya terasa lancar. Dari halte yang berjarak seratus lima puluh meter dari kampus, Tao hanya perlu naik bis satu kali, turun di dekat toko obat tradisional, berjalan lurus, berbelok ke kiri, lalu kembali lurus.

Gadis itu berbelok ke kanan, dan Tao pun menghentikan langkahnya. Senyumnya mengembang. Sepertinya cukup petualangannya hari ini. Setidaknya Tao sudah tahu sebagian besar jalan yang harus ia lalui bila suatu hari ia berniat mengunjungi rumah gadis itu. Tao berbalik, bersiap-siap untuk berjalan kembali pulang ke rumahnya.

Namun pendengarannya menangkap suara teriakan.

Teriakan gadis itu.

Seketika Tao kembali berbalik, berlari menuju belokan tadi, lalu mendapati Jia Mei sedang berusaha mempertahankan tas tangannya dari rampasan tiga orang lelaki berbadan besar. Mata lelaki itu membulat, apalagi ketika menyadari salah satu dari sang perampok tas. Lelaki yang berbadan paling besar, kulitnya agak gelap, dan memakai ikat kepala berwarna merah. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah ayahnya.

“PAPA!!” teriak Tao.

Lelaki bertubuh besar dengan ikat kepala merah mengangkat kepalanya sejenak, bertemu pandang dengan Tao, namun tampaknya ia tidak menghiraukan panggilan anak lelakinya dan sibuk merampas tas tangan Jia Mei.

Seakan belum cukup, netra Tao menangkap sesuatu mengkilat yang dikeluarkan sang ayah dari kantong celananya.

Sebuah pisau.

Meski belum tahu apa yang akan ayahnya lakukan dengan pisau tersebut, Tao berlari menghampiri Jia Mei. Ia punya firasat buruk gadis itu akan celaka di tangan ayahnya. Tao berlari dan dalam sekali gerakan ia membawa Jia Mei ke dalam pelukannya.

ZEBB!!

Tusukan itu terasa nyeri pada pinggangnya. Amat sangat nyeri, bagaikan seluruh tubuhnya dirobek menjadi bagian-bagian kecil. Belum lagi darahnya yang mengalir keluar dari tubuhnya.

“HUANG ZI TAO!”

Teriakan ayahnya… Tao berharap pemandangan ini dapat menyadarkan ayahnya dari segala tindakan kejahatan yang ia lakukan.

Namun harapan tinggallah harapan. Seolah belum cukup penderitaan yang ia alami, sebuah tendangan pada perut dihadiahkan kepadanya.

“Itu hukuman untuk anak yang suka mencampuri urusan orang tua!” ujar sang ayah, marah. Lalu beberapa detik kemudian Tao mendengar suara langkah kaki, dan ia mengambil kesimpulan sang ayah serta anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.

“ZI TAO!” kali ini suara teriakan Jia Mei. Tao yang hampir melepas kesadarannya sekuat tenaga membuka matanya kembali, mendapati gadis itu yang menatapnya dengan khawatir. Lebih lengkap, khawatir bercampur dengan ketakutan.

“Bangun, Huang Zi Tao! Kumohon… sadarlah…”

Tao ingin berkata bahwa ia tidak apa-apa, bahwa ini semua bukanlah masalah bila dibandingkan dengan keselamatan gadis itu. Lebih baik ia melihat gadis itu baik-baik saja daripada harus menyaksikan ia celaka. Bahwa rasa sakitnya itu tidaklah seberapa ketika ia melihat bahwa gadis itu selamat.

Namun Tao tidak punya tenaga bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya, ia hanya tersenyum. Itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa menguras tenaganya lebih banyak lagi. Ia berharap Jia Mei menyadari perasaannya ketika melihat senyuman tersebut.

Tangan Jia Mei mendekapnya erat, seraya rungu lelaki itu menangkap suara isakan. “Jangan pergi…” ujar gadis itu di tengah isakannya.

Tao ingin, ingin bersama-sama dengan gadis itu. Kalau bisa memilih, ia tidak ingin pergi. Tetapi nampaknya Tuhan tidak mengizinkannya.

Perlahan Tao menutup matanya, sambil membisikkan satu kata perpisahan dalam hatinya.

“Maaf…”

 

E   N   D

 

A/N
Plot yang sangat ga jelas, aku tahu. Ini hanyalah seulas ide yang terpikir saat mendengarkan guru ceramah tentang agresi militer belanda /abaikan/

Udah telat banget tapi… Izinkan aku mengucapkan HAPPY BIRTHDAY untuk HUANG ZI TAO!! Makin sukses ya karirnya hehehehe 😀

And still, don’t forget to RCL 🙂

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

3 tanggapan untuk “[TAO BIRTHDAY PROJECT] BE HER HERO – by GECEE”

    1. iyaaaa…… aku juga sedih pas buatnya, sedih pas mikirin ceritanya, sedih bayangin tao meninggal… /abaikan/

      makasih sudah baca dan komen 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s