Talk Love (Part 2/2) – Shaekiran

Talk love.jpg

Talk Love

By: Shaekiran

Wendy Son (RV), Chanyeol (EXO)

Other Cast : Baekhyun (EXO), Irene, Joy (RV)

Genres : Romance? Friendhip? School life.

Length Twoshoot | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea.Ff ini juga dipost di wp pribadi aku (shaekiran.wordpress.com). Happy reading!

Previos Part

Part 1 | [NOW] Part 2 -END |

“Siapa kau sebenarnya?”

-Part 2/2-

“Bisa kita berteman?”

“Ne, ayo berteman chingu-ya..”

Wendy POV

Berbicara dengan Baekhyun mungkin menjadi salah satu rutinitasku sekarang. Yah, meskipun bukan berbicara tatap muka seperti kebanyakan orang. Meski hanya lewat email, tapi itu benar-benar menyenangkan. Pernah sekali dia minta id lineku agar chat kami jadi lebih mudah dan aku menolaknya mentah-mentah. Gila saja kalau sampai aku memberikan id lineku padanya, secara line ku itu berisi identitas asliku. Mana mau aku membongkarnya begitu saja. Satu-satunya manusia yang tau identitas asliku di fanfic adalah “Park Chanyeol” dan dia sama sekali tak peduli. Jadi yah, identitasku aman sampai sekarang.

Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Ah, aku frustasi melihat namja itu. Sudah 2 minggu dia tidak mau berbicara padaku. Itu sangat-sangat mengesalkan. Pacar mana yang tahan dicueki pacarnya selama itu? Aku rasa Juliet pun akan marah pada Romeo kalau Romeo mendiamkannya begitu lama.

“Park Chanyeol.”

Aku mengirimkan sebuah pesan line ke orang itu. Dan kalian tau apa balasannya? Dia hanya membacanya tanpa membalasnya. Oh ayolah Park Chanyeol, itu menyakitkan. Setidaknya kalau kau tidak mau membalas pesanku, tak usah membacanya. Dengan begitu aku masih punya harapan kalau kau memang tidak melihat pesanku. Demi semua author fanfiction, help me!

Menyerah, aku menyerah Yeol. I’m giving up.

“Anyeong…”

Sebuah pesan yang benar-benar mengembalikan moodku malam ini.

“Anyeong Baekhyun-ssi.”

Aku membalas pesannya cepat tanpa berpikir panjang.

“Baekhyun-ssi? Kenapa kau selalu memangilku begitu? Kita sudah chat selama semingu dan kita masih belum akrab?”

Lucu, orang ini benar-benar lucu bagiku. Dia selalu mempermasalahkan hal-hal yang sepele namun penting. Aku pun membalasnya lagi.

“Ani-yooo……Kita sangat-sangat akrab. Jadi aku harus memanggilmu apa?”

Aku terkekeh sendiri saat mengetik pesan itu. Kapan aku jadi sok imut? Menambahkan o begitu banyak dan memberikan emoticon-emoticon segala.

“Panggil saja aku Baekhyun. Kau tau? Sebenarnya kita ini seumuran. Aku ini masih 17 tahun.”

Omo, kami seumuran ternyata. Tapi darimana dia tau umurku 17?

“Chogi, darimana kau tau aku masih 17?”

Aku membalas pesannya dengan penasaran.

“Kau pernah menulisnya di salah satu ff mu. Jujur saja, aku membaca semua ff yang sudah kau tulis.”

Balasan yang benar-benar membuatku kaget. Dia membaca semuanya? Oh ayolah, aku menulis umurku di fanfic pertamaku 2 tahun lalu dan disana aku menulis umurku 15 tahun. Jadi dia membaca fanfic-ku dari 2 tahun lalu juga? Baik sekali.

Percakapan kami terus saja berlanjut tanpa diminta. Ntah kenapa aku  merasa sanat nyaman berbincang dengan namja bermarga Byun itu. Ah, andai aku bisa bertemu dia di kehidupan nyata. Pasti menyenangkan sekali. Aku yakin kami akan jadi teman yang sangat akrab karena kami punya kegemaran yang sama tentang fanfiction. Tidak seperti orang yang menghina hobiku ini beberapa minggu yang lalu, ‘Park Chanyeol’.

***

“Kya!!!! Tampan sekali.”

Seorang yeoja teman sekelasku berteriak histeris dari dekat jendela. Sepertinya dia melihat makhluk tampan dari jendela kelasku yang ada di lantai 2 ini. Mcmcmc, kurang kerjaan sekali.

“Mana? Mana?”

Ku dengar suara yeoja-yeoja lain yang mulai bertanya pada Kristal yang barusan berteriak melihat namja tampan. Sekarang bisa ku lihat mereka semua mengerumuni jendela kelas. Dasar aneh.

Omo, bukankah itu Baekhyun?”

Sebuah pertanyaan polos dari Sulli membuatku menghentikan aktifitas mengetik di saat jam kosong yang sedang kulakukan sekarang. Siapa katanya tadi? Baekhyun?

“Sulli, kau bilang siapa tadi? Baekhyun? Apa marganya Byun?”

Aku bertanya tak sabaran pada Sulli dan membuat yeoja itu mempelototiku heran. Tentu saja heran, kami tak pernah akrab sebelumnya tapi aku malah mengajaknya bicara.

Oh, marganya Byun. Dulu kami pernah sekelas waktu SMP.”

Jawaban yang benar-benar membuatku kaget. Ternyata benar Byun Baekhyun temanku chatting selama ini. Teman sekelas Sulli berarti 17 tahun. Dengan sekuat tenaga aku menerobos kerumunan yeoja itu dan melihat sosok Baekhyun yang sedang berdiri seperti menunggu seseorang di gerbang sekolah.

Astaga, dia benar-benar tampan. Kalo idolaku Oh Sehun tampan karena kelihatan cool di kamera dan Chanyeol tampan karena wajahnya yang melelehkan karena benar-benar tampan dan punya senyum manis,maka namja bernama Byun Baekhyun itu tampan karena benar-benar manis, imut dan baby face. Aku merasa beruntug sekali punya teman chatting seperti makhluk di gerbang itu.

Opppa….oppa..”

Aishh, anak kelasku mulai berulah. Mereka semua mulai mengeluarkan teriakan sok imut sambil melambaikan tangan pada Baekhyun, dan namja itu malah tersenyum ramah dan melambaikan tangannya sebagai balasan. Omo, ramah sekali. Sikapnya menambah kadar ketampanannya menjadi lebih tingi. Dia sedang melihat ke arah kelasku sambil tersenyum tanpa henti. Apa dia mengenal wajahku?

Ntah niat dari mana, tapi tiba-tiba saja aku berinisiatif menemui namja itu dibawah. Segera ku lepaskan badanku dari kerumunan sesak yeoja-yeoja kelasku dan segera berlari ke arah tangga. Semoga saja orang itu belum pergi.

Nihil. Sialan. Kenapa Baekhyun sudah pergi sesampainya aku dibawah? Aishh, mungkin ini bukan hari keberuntunganku.

***

Mungkin tadi aku bilang hari ini bukan hari keberuntunganku, tapi sepertinya aku salah besar. Ini benar-benar hari keberuntunganku karena sepertinya aku mendapat jackpot hari ini. Byun Baekhyun, namja itu sedang ada di depanku sekarang, asyik memilah beberapa novel yang sepertinya ingin dia beli. Tuhan, terima kasih untuk membuatku ingin pergi ke toko buku hari ini.

Chogi..”

Aku menyapanya yang kelihatan sedang membaca synopsis novel yang sedang dia pegang. Dia menatapku yang sedang tersenyum padanya dengan heran.

“Kau bicara padaku?”

Dia bertanya kikuk sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Lucu sekali.

Ne.”

Jawabku singkat dan padat sambil terus memandangi makhluk ciptaan Tuhan di depanku ini.

“Apa kau mengenalku?”

Dia bertanya lagi dengan nada ingin tau. Omo, ternyata dia tidak mengenal wajah asliku. Dengan tersenyum aku menyodorkan tangan kananku padanya.

“Kau Byun Baekhyun kan? Perkenalkan, aku author flawless yang membuat cerita-cerita yang sering kau baca.”

Aku berkata dengan sangat percaya diri. Dia segera menjabat tanganku.

Ne, aku Byun Baekhyun. Auhor flawless? Apa kita saling mengenal sebelumnya?”

Ku cari-cari wajah bercanda dari raut tampan orang itu, tapi yang ku dapati hanya wajah super kebingungan yang tercetak jelas lewat kerutan yang bermunculan di dahinya. Dia benar-benar tak mengenalku.

***

Aku pergi dari toko buku itu dengan perasaan super malu. Baekhyun menatapku seperti aku adalah orang aneh dan bisa ku lihat dia sama sekali tak peduli dengan kepergianku. Dia kembali sibuk dengan bukunya. Aku menatap namja itu nanar dari luar toko buku yang transparan. Jadi siapa Byun Baekhyun yang selama ini ku kenal?

“Siapa kau sebenarnya?”

Aku mengirim email itu dengan emosi pada orang yang katanya Byun Baekhyun itu. Mungkin saja dia memang bernama Byun Baekhyun karena setauku Negara ini sangat luas dan mungkin banyak Byun Baekhyun yang lainnya.  Tapi ntah kenapa aku merasa seperti aku sudah dibohongi.

“Apa maksudmu? Aku Byun Baekhyun.”

Pesan balasannya datang 5 menit kemudian. Apa katanya? Dia Byun Baekhyun? Dasar gila.

“Berhenti berbohong. Aku sudah bertemu dengan Byun Baekhyun yang asli dan dia sama sekali tak mengenalku.”

Aku membalas pesan orang itu dengan perasaan meluap-luap. Tak sampai sedetik pesan itu sudah terkirim pada Byun Baekhyun. Tapi selama apa pun aku menunggu, balasannya tak pernah datang.

Ya, setidaknya bilang kalau banyak orang bernama Byun Baekhyun di Korea dan kebetulan aku bertemu dengan salah satu orang yang punya nama sama sepertimu, bodoh!

Apa kau mengakui kalau kau sudah berbohong padaku sekarang? Kalau tidak kenapa tidak membalas emailku?

***

Sudah 2 hari Baekhyun tidak membalas pesanku meski sebanyak apapun aku mengirim pesan padanya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Rasanya aku benar-benar menyedihkan sekarang. Dalam beberapa minggu aku dikhianatai oleh 2 orang yang sangat kupercaya. Pertama Park Chanyeol yang statusnya masih pacarku atau tidak, dan seorang lagi adalah seseorang yang mengaku bernama Byun Baekhyun dan ingin menjadi temanku.

“Ayo bertemu. Datanglah ke belakang gedung sekolahmu setelah pelajaran terakhir selesai. Aku akan menunggumu disana.”

Sebuah email masuk dari Baekhyun dan aku segera membacanya. Ya, apa maksudnya ini? Dia tau sekolahku? Jangan-jangan dia seorang penguntit. Bagaimana ini? Haruskah aku meminta Chanyeol menemaniku? Ah, bodoh. Orang itu sama sekali tak peduli lagi denganmu.

“Baik, ayo bertemu.”

Dasar nekat kau Son Wendy. Semoga saja dia orang baik yang kebetulan bernama Byun Baekhyun. Tapi bagaimana kalau dia memang benar seorang stalker? Son Wendy, hentikan gengsimu dan minta saja Chanyeol menemanimu bodoh. Bagaimana pun dia itu masih pacarmu.

Aku menatap Chanyeol yang sedang mengutak atik handphonenya sedari tadi. Dia balas menatapku dengan tatapan seperti bertanya ‘kenapa kau menatapku?’, tapi masih dengan mata tajam yang seperti ingin memakanku saja.

Segera saja ku alihkan pandanganku dan menutup kepalaku yang kini suda tergeletak di meja dengan buku tulisku yang lumayan besar.

“Bagaimana ini? Mati saja kau Son Wendy, dasar bodoh.”

Aku membatin dalam diam dan merutuk diriku sendiri yang tidak berani meminta bantuan kepada Chanyeol.

***

Dan disinilah yeoja nekat itu sekarang. Seperti perintahnya, aku datang ke belakang gedung sekolahku. Tempat ini benar-benar terlihat menyeramkan bagiku sekarang. Aku sangat berharap besok pagi tidak ada koran yang memuat berita “Seorang remaja SMA terbunuh di belakang gedung sekolahnya sendiri.” Jangan sampai hari ini menjadi hari terakhirku di dunia. Eomma, appa, aku takut…

“Kau sudah datang? Aku sudah menunggumu sedari tadi.”

Sebuah dering email mengejutkan ku dan ternyata itu dari Baekhyun. Dimana orang itu?

“Aku sudah datang, dimana kau? Keluarlah.”

Aku tidak membalas emailnya dan lebih memilih berteriak. Toh tempat ini kosong dan ku rasanya hanya namja Byun itu yang ada di sini.

Sebuah email kembali masuk. Dengan cepat aku segera membukanya.

“Aku di sekitarmu Wendy. Kau tau? Sebenarnya aku menyukaimu.”

Mati aku. Bisa ku rasakan keringat dingin yang tiba-tiba membasahi telapak tanganku. Aku melihat sekelilingku, tapi  kosong. Aku ketakutan. Aku pun jongkok dan menutup kedua telingaku. Jangan dengarkan email lagi Wendy, jangan. Dia itu penguntit.

“Bodoh, seharusnya kau bukan jongkok tetapi lari dari sana Wendy.”

Hati kecilku memberikan ide yang sangat brilian, lari. Tapi mau bagaimana? Kakiku keram dan tak bisa diajak kompromi.

Dering email kembali terdengar dan mau tak mau aku memberanikan diri membacanya.

“Kenapa malah jongkok Wendy?”

“Maaf, jangan ganggu aku. Ku mohon. Aku tak bisa menerima perasaanmu. Aku sudah punya pacar.”

Aku berteriak pada si pengirim email yang tidak ku tau dimana letakknya sekarang, masih dengan posisi jongkok. Bisa ku dengar langkah kaki dari arah belakangku. Tuhan, bagaimana ini? Tau begini aku akan menarik Chanyeol paksa untuk menemaniku. Bisa ku rasakan keringat sudah membasahi seragamku sekarang.

“Wendy, kau sedang apa disana?”

Suara yang sangat familiar terdengar olehku. Aku mengenal suara itu, itu seperti suara…Park Chanyeol. Ya, aku yakin itu suara Chanyeol. Dengan langkah takut-takut aku berdiri dan membalikkan badanku. Dan benar saja, itu memang Chanyeol. Namja yang kuharapkan kedatangannya sedari tadi.

Tanpa gengsi yang membumbung tinggi dan kaki yang tiba-tiba tak keram lagi dan bisa diajak kompromi, aku berlari ke arah namja itu dan langsung memeluknya.

“Park Chanyeol, aku merindukanku.”

Akuku setengah berbisik. Namja bermarga Park itu nampaknya tidak kaget dengan perlakuanku dan balas memelukku.

“Aku juga merindukanmu Wendy.”

Sebuah kalimat yang sangat kurindukan keluar dari bibir namja itu. Park Chanyeol, ternyata aku benar-benar membutuhkanku. Tak lama kemudian aku melepas pelukanku dan menggenggam tangan kanan Chanyeol yang tidak lagi di-gips.

“Kau lihat kan Byun Baekhyun. Aku sudah punya pacar, jadi jangan menggangguku lagi.”

Aku berteriak lantang sambil tetap menggenggam tangan Chanyeol, berharap namja Byun itu mengerti kalau aku tidak bisa menerimanya dan berhenti menggangguku.

“Sedang apa kau?”

Aku bisa mendengar Chanyeol bertanya. Tentu saja namja ini tidak tau masalah penguntit bernama Byun Baekhyun itu. Belum sempat aku menjawabnya Chanyeol sudah melanjutkan kalimatnya lagi.

“Byun Baekhyun yang kau maksud itu aku.”

Apa katanya? Aku tidak salah dengar kan? Aku melepas genggaman tanganku dan menatapnya tidak percaya.

“Kenapa kau menatap seperti itu Wendy, kan sudah ku bilang kalau aku Byun Baekhyun yang kau maksud.”

Dia mengucapkannya lagi dan kali ini dia menyodorkan handphone-nya. Dengan pola kunci yang kuhapal mati aku membuka handphone itu dengan mudah dan membuka email-nya. Dan benar saja, dia memang Byun Baekhyun yang ku maksud. Aku menatapnya tak percaya. Aku menutup mulutku sendiri dengan kedua tanganku hingga membuat benda persegi panjang berwarna hitam itu jatuh ke tanah.

“Sekarang kau percaya?”

Chanyeol kembali berucap sambil menatap dalam ke bola mataku tanpa memperdulikan handphone-nya yang jatuh dan membentur tanah. Tidak ada rasa bersalah atau keraguan di manik hitamnua. Dengan penuh akal sehat aku melayangkan tanganku ke pipi mulusnya. Aku menampar Chanyeol.

Byan.”

Dia mengucapkan 4 huruf itu sambil memelukku paksa. Aku meronta minta dilepaskan tapi ada dayaku melawan kekuatan namja sepertinya. Aku berhenti meronta dan pasrah dipeluk oleh namja tinggi itu. Aku menangis sejadi-jadinya hingga membasahi almamater yang sedang dia pakai. Masa bodoh dia akan ilfeel dengan gaya menangisku sekarang. Toh memang dia yang salah.

Byan.”

Lagi-lagi dia mengucapkan itu sambil mengelus pucuk kepalaku. Chanyeol-ah, kenapa kau membuatku ketakutan? Rasanya seperti aku mau mati saja tadi.

***

Chanyeol POV

Flashback On.

Hari ini aku bertengkar hebat dengan Wendy. Ah, pacarku itu memang membuatku sangat kesal hari ini hingga amarahku meluap begitu saja dan meninggalkannya sendirian di UKS. Aku tidak peduli padahal aku masih bisa mendengar dia menangis meraung-raung di UKS tadi. Itu semua karenaku dan aku malah membiarkannya menangis. Dasar brengsek kau Chanyeol. Harusnya dia menyumpahiku saja.

Aku sampai di rumah dengan gips yang sekarang menjadi penghias lenganku yang cedera saat lomba tadi. Eomma menatapku khawatir dan terus saja bertanya kenapa putranya pulang dengan keadaan super menyedihkan seperti sekarang. Aku bilang aku baik-baik saja. Aku malas mendengar ceramah eomma, belum lagi sarannya yang memintaku berhenti dari klub basket. Lebih baik aku menghindar sebelum mendengar semua itu.

“Whahaha…..Dia romantis sekali.”

Suara itu terdengar nyaring. Bisa ku lihat eomma hanya geleng-geleng melihat Park Sooyoung, adik perempuanku yang masih SMP. Gadis nakal itu sedang tidur-tiduran di sofa dan mengutak-atik benda persegi panjang di tangannya.

“Kau tidak mengkhawatirkan oppa-mu yang pulang seperti ini?”

Aku bertanya dengan nada sarkatis sambil mempelototi adikku itu. Dia melihatku sebentar dan kembali berkutat dengan handphonenya. Dia sama sekali tidak peduli melihat tangan oppa satu-satunya ini yang di-gips. Daebak!

“Oppa!”

Aku bisa mendengar teriakan kesalnya saat aku mengambil paksa telephone genggam yang sedari tadi dia mainkan. Dia menatapku garang dan aku balas menatap garang, tak mau kalah dari anak SMP itu.

“Memangnya apa yang kau lakukakan dengan benda satu ini?”

Aku bertanya dengan nada mengejeknya. Sooyoung datang menghampiriku dan mulai melompat-lompat menggapai handphone-nya yang ku angkat tinggi-tinggi dengan tangan kiriku yang tidak di-gips. Ternyata ada juga gunanya menjadi tinggi.

Sooyoung akhirnya menyerah dan kembali duduk di sofa. Dia menekuk mukanya kesal dan memanyunkan bibirnya cemberut. Dasar bodoh. Memangnya oppa-nya ini mau mengembalikan handphonenya kalau dia bertingkah seperi itu? Ingat, aku ini namja yang bahkan bisa membuat yeoja menangis. Aku ini brengsek.

Penasaran, aku pun mengaktifkan handphone adikku dan membuka kuncinya dengan cepat. Langsung saja hal yang sangat ku benci muncul di layar persegi panjang yang sedan ku pegang. Fanfiction.

“Kau membaca fanfiction?”

Adikku tidak menjawab dan malah semakin memayunkan bibirnya. Tak perlu dijawab pun aku tau kalau deretan kata-kata yang ada di depanku ini adalah fanfiction. Kenapa semua yeoja tergila-gila dengan fanfiction? Wendy dulunya juga hanya suka membaca ,tapi sekarang malah beralih menjadi seorang pembuat fanfic. Itu pengakuannya padaku. Dan sekarang Sooyoung yang berulah. Ku rasa sebentar lagi dia akan sama seperti Wendy, membuat fanfic tak jelas.

Aku menggeser layar itu ke atas, kembali ke halaman fanfic yang paling atas. Tunggu, siapa castnya? Oh Sehun? Kenapa semakin mirip Wendy saja. Dan lihat nama authornya, flawless. Aku pernah mendengar kata itu, sepertinya bukan dalam pelajaran bahasa inggris tapi dari mulut Wendy. Aku masih ingat ucapannya waktu itu.

“Nama penaku flawless. Aku mem-post-nya di blog oppadeulfanfiction.wordpress.com. kau harus membacanya kapan-kapan.”

Segera ku lihat nama blog fanfic yang sedang dibaca Sooyoung itu, dan benar saja itu oppadeul-oppadeul yang dimaksud Wendy. Jadi ini fanfic yang ditulis Wendy? Aku menggerakkan layar handphone itu lagi dan sampai ke halaman terakhir. Di sana ada sebuah kalimat yang katanya ‘catatan absurd author.’ Aku pun membaca catatan yang lebih mirip disebut curhatan Wendy.

“Aku baru saja selesai membuat ff ini sore tadi. Ah, kalian tau aku membuatnya dimana? Di gymnasium saat anggota klub basket sekolahku sedang berlatih. Kalian tau kan bagaimana ributnya decitan sura sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan basket? Tau kan bagaimana ributnya yeoja-yeoja yang berteriak memangil nama para pemain basket? Tau kan bagaimana dingin dan patahnya punggungku saat duduk berlama-lama di tribun lapangan basket? Itulah yan kulakukan saat membuat fanfic ini.”

Dia tersiksa. Seperti perkataannya di UKS tadi. Aku lanjut menggeser layar itu lebih ke bawah dan membaca beberapa komentar. Aku tertarik membaca salah satu komentar di sana.

“Kenapa kau membuat ff di gym eonnie? Kau sedang menunggu pacarmu selesai latihan ya? -,-“

Aku tertawa membaca komentar itu..Dan dibawahnya aku bisa melihat Wendy yang balas mengomentari komentar salah satu pembaca fanfictionnya itu. Aku kembali membaca komentarnya. Masa bodoh dengan Sooyoung yang menatapku heran.

“Ne, aku menunggu namchin-ku di dunia nyata. Hehe, begini-begini author laku juga lho. Meski tersiksa gapapa deh, nan gwenchana. Yang penting author bisa ngeliat pacar author latihan meski lebih fokus ke notebook sih. Tapi daripada author gak nemenin latihan, bisa bahaya nanti. Lah, pacarnya disini aja masih berani teriak-teriak trus caper sama pacar author, gimana kalau author gak disana? Bisa-bisa pacar author dimangsa rame-rame. (maksudnya yeoja-yeoja yang teriak-teriak sama anak basket itu lho.) Jadi author disana untuk menghalangi mereka semua, woiiii..pacar resminya disni woiiii..keep calm!, yah seperti itulah peran author disana.”

Aku terdiam saat membaca komentar Wendy. Benar, memang aku sering merasa terganggu dengan tingkah yeoja-yeoja itu. Wendy selalu datang dan menarikku pergi dari kerumunan yeoja yang selalu mencari perhatian padaku. Aku ingat sekali dulu saat Wendy absent karena sakit dan dia tidak bisa menemaniku latihan. Yeoja-yeoja itu benar-benar seperti memangsaku. Sejak itu aku selalu meminta Wendy menemaniku latihan. Aku yang memaksanya, seperti perkataanya di UKS tadi.

“Ya! Oppa! Kembalikan handphone-ku. Kenapa malah melamun sambil memegangi barang orang?”

Perkataan Sooyoung barusan menyadarkanku. Ternyata aku melamun, dan tanpa sadar ternyata benda putih tadi tidak lagi ada di tanganku. Bisa ku lihat Sooyung yang mengejekku sambil mengeluarkan lidahnya dan tentunya menggoyang-goyangkan benda yang tadinya ada di tanganku itu.

“Kau lengah Oppa.”

Terserah dia mau mengejekku. Masa bodoh dengan dia yang sekaran merasa menang dariku. Aku lebih memilih masuk ke kamarku di lantai 2, meninggalkan Sooyoung yang kembali membaca fanfic Wendy. Sesampainya di kamar aku langsung menghidupkan handphone-ku sendiri dan mulai membaca fanfic Wendy. Ntah kenapa aku malah membaca semua fanfic yeoja itu, bahkan fanfic pertamanya 2 tahun lalu. Harus kuakui, dia berbakat dalam bidang ini. Aku sudah salah menghina hobinya dan meragukan perhatiannya padaku.

Flashback Off.

Byan.”

Aku terus saja membisikkan kata itu pada Wendy yang sedang menangis di pelukanku. Dia tidak menjawabnya dan terus saja menangis, membuatku merasa bersalah telah membohonginya.

“Kenapa kau mengirimiku pesan dengan mengaku-ngaku sebagai Byun Baekhyun?”

Akhirnya yeoja ini berbicara juga. Aku semakin mempererat pelukanku pada gadis yang sangat aku cintai ini.

“Karena aku merindukanmu.”

Jawabanku membuatnya melepaskan pelukan kami dengan paksa.

“Merindukan apa bodoh? Lalu kenapa kau mendiamkanku selama 3 minggu ini?”

Yeoja itu menatapku marah sambil megelap air matanya.

“Karena aku merasa bersalah padamu Wendy. Aku selalu egois, memaksamu menemaniku setiap saat. Dan saat kau menemaniku aku malah marah karena kau menyambilkannya dengan mengetik fanfiction. Aku minta maaf, padahal semua fanfictionnu sangat bagus. Kau berbakat Wendy, tapi aku malah menghalang-halangimu.”

Gadis itu hanya diam, menunggu penjelasanku selanjutnya. Akupun segera melanjutkan penjelasanku.

“Aku membaca semua fanfictionmu selama seminggu penuh dan membaca semua curhatanmu di catatan absurd yang sering kau tulis di bagian bawah fanficmu. Membaca semua komentarmu. Aku membaca semuanya Wendy.”

Lagi-lagi dia hanya diam. Menuntut penjelasan lebih dariku.

“Dan soal perkelahian kita, aku minta maaf.  Hari itu aku hanya sedang emosi karena aku membuat team-ku kalah. Lalu soal Irene.”

Belum selesai aku bicara Wendy malah pergi meninggalkanku. Aku berlari mengejarnya dan langsung memeluknya dari belakang.

“Aku belum selesai bicara Wendy.”

***

Wendy POV

“Aku membaca semua fanfictionmu selama seminggu penuh dan membaca semua curhatanmu di catatan absurd yang sering kau tulis di bagian bawah fanfic-mu. Membaca semua komentarmu. Aku membaca semuanya Wendy.”

Aku sedikit tersentuh mendengar penjelasan Chanyeol. Nampaknya dia sangat menyesal sudah membuatku menangis. Sepertinya aku bisa memaafkannya.

“Dan soal perkelahian kita, aku minta maaf.  Hari itu hanya sedang emosi karena aku membuat team-ku kalah. Lalu soal Irene.”

Kenapa harus Irene lagi Yeol? Tanpa menungunya selesai bicara aku langsung pergi dari tempat itu. Bisa ku dengar langkah kaki Chanyeol yang sepertinya mengejarku. Tapi aku tidak peduli dan terus saja berjalan.

“Aku belum selesai bicara Wendy.”

Ku rasakan lengan Chanyeol memelukku dari belakang. Oh ayolah, bisa kurasakan pipiku mulai memanas. Bisa ku tebak mukaku sudah sangat merah sekarang.

“Soal Irene, kami hanya teman, tak lebih. Dia manager team-ku, kau tau kan? Aku tak akan pernah bisa berpaling darimu.”

Sebuah kalimat yang menenangkan amarahku. ‘Aku tak akan pernah bisa berpaling darimu’

“Yeol, kau benar-benar menyukaiku? “

Sebuah pertanyaan lolos dari bibirku begitu saja. Bisa ku dengar Chanyeol berbisik ke telingaku untuk menjawab pertanyaan konyolku itu.

“Tentu saja aku menyukaimu. Perlu ku buktikan Wendy? Mau ku cium sebagai hadiah setahun jadian kita?”

Jawaban namja ini membuatku semakin memerah. Astaga, kenapa dia menggodaku seperti itu? Tunggu, setahun jadian katanya? Benar juga, dasar bodoh Son Wendy. Kau memang pelupa. Hari ini kan tepat setahun setelah Chanyeol menyatakan perasaanya dan dalam hitungan dua detik kau menjawab iya. Itu tepat di belakang gedung sekolah, seperti sekarang.

“Dan soal Byun Baekhyun yang kau temui di toko buku, dia itu sepupuku. Kau tidak menyumpahinya kan?”

Aku hanya terkekeh geli mendengar pertanyaan Chanyeol. Aku bahkan lupa aku menyumpahi Baekhyun atau tidak.

“Siapa disana?”

Sekarang kami berdua membeku. Baik, mari perjelas. Aku sangat yakin itu suara Pak Kim penjaga sekolah kami. Memangnya sudah jam berapa sekarang? Tanpa aba-aba kakiku mulai saja berlari karena Chanyeol menarik tanganku pergi. Ah, pak Kim itu mengganggu kencan dadakan kami saja.

“Ah, ahjussi itu mengganggu saja. Dialogku yang sudah kusiapkan matang-matang hari ini kan belum selesai. Aku belum memberi Wendy kalung yang kubeli khusus untuknya dengan uangku sendiri dan aku belum menciumnya.”

Aku masih bisa mendengar gerutuan Chanyeol saat kami berlari. Jadi dia menyiapkan kado untukku? Aishh, aku baru tau kalau dia sangat romantis. Tunggu saja saat kita selesai berlari Yeol, sekarang giliranku memulai perayaan setahun jadian kita. Aku akan mengaku kalau aku juga sangat mencintaimu.

“Kau memaafkanku kan Wendy? Untuk kesalahanku selama jadi pacarmu dan kegagalan perayaan setahun jadian kita?”

Pertanyaan bodoh Yeol, tentu saja aku memaafkanmu.

FIN

Catatan Absurd:

Thanks for reading. Ini adalah ff twoshoot pertama author yang buatnya pas lagi setengah ngantuk. Ada yang menungu part ini? Semoga aja ada (*berharap lalu digampar reader.)

Maaf kalau ceritanya absurd dan membuat pembaca jadi bingung. (Yakin lo thor ada yang baca? *plakk/ ngegampar diri sendiri.)

Please read, like and comment. Shaekiran aja setia nunggu bias coming ke depan rumah author, apalagi nungguin kamu yan nge-read dan ninggalin jejak di ff ini. ☺ (*plakk/ digampar lagi..)

-_-

Regards,

Shaekiran

17 thoughts on “Talk Love (Part 2/2) – Shaekiran

  1. Akhirnya chap2nya ktmu jga, 🙂

    Eoh., ternyata yg krim psn ke wendy slama ini chanyeol bukan baekhyun toh.. kirain itu baekhyun bneran..wkwkwk

    Ffnya bagus kak🙂

  2. ini kaya pengalaman pribadi ya?? jangan2 pengalaman authornya nih.. hehehe…

    Qpikir Baekhyun jadi hantu loh td, ternyata chanyeol ya? hahaha😀

    • Alamak, si Baek jadi hantu yg main email…😂😂
      Gak koh chingu, itu kerkaan Chanyeol aja…😄
      Kog banyak ya yg ngoment ff ini pengalaman pribadi shaekiran? 😅
      Nggak lo, nggak…ini murni ide yg tercetus gitu aja…😂 (*pas nyuci, 😳)

  3. Baca ini jadi ngerasa jadi Wendy deh /plak >_</ sakit ati juga digituin Chanyeol, parah deh Chanyeolnya. Dan kirain ini kisah nyatanya author 😁

    • Wkwkwk, emang sakit hati sih, tapi akhirnya kan happy ending juga. Chanyeol itu gak berani ngomong langsung aja ke wendy sebenernya, jadi dia mau minta maaf setelah paham sama hobby wendy sendiri,..😂
      Gpp kog chingu, shaekiran sendiri aja pengen jadi wendy…😂
      Kog banyak ya yg bilang ini kisah nyata author?😅
      Nggak kog chingh, ini cuma ide author yg muncul pas lagi nyuci baju..(*mesti ya shaekiran idenya mucul pas lagi nyuci?😂)
      Lah orang shaekiran sendiri jomblo sejati chingu..😂 (*efek terlalu setia sama oppa /plakk/ efek gak laku maksudnya..😂)

  4. Kirain akhirnya sama baekhyun tapi setelah ribuan kalimat kebaca balik ke chanyeol juga…… Ngganggu aja pak kim itu :^ kan dah seru serunya
    Bagus thor ceritanya:-)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s