[EXOFFI FREELANCE] SOME BODY (Chapter 8)

somebody 4.jpg

SOME BODY

Title: Some Body (chapter 8)

Author: Jung21Eun

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), J-hope/Jung Hoseok (BTS).

Cast:

  • Park Chorong, Kim Namjoo (Apink)
  • Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Kim Nara, Lee Miju (Oc)
  • Hayoung and Sehun’s Parents

Genre: School life, Friendship, Brothership, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  Chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya, tapi cerita ini milik saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… ☺

Always pretending to be assertive, when alone

Pretending to be a strong woman,

sometimes all it really difficult

But if it’s you,

I really want to lean on you

Recommended Song:  I Need You – Apink, Reset – Tiger JK ft Jinsil.

*~*~*~*~*~*~*

Seoul 2015

Yeoja itu hanya memandang malas sebuah kotak hadiah di atas meja kerjanya yang telah terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu polos dengan sebuah pita merah muda yang menghiasinya, tanpa ada sedikit pun rasa bahagia dari tatapan itu karena telah mendapatkan sebuah hadiah ulang tahun, dan tanpa ada minat sedikit pun untuk membukanya dan mengetahui apakah isi hadiah yang diberikan kepadanya. Hanya sebuah tatapan datar yang yeoja itu berikan kepada hadiah malang itu.

Yeoja itu – Hani menggerakkan tangannya mengambil benda yang bagi orang lain akan terasa berharga itu. Membiarkan kotak itu menikmati waktunya untuk berada digenggaman lembut yeoja itu, sementara Hani sendiri masih menimbang-nimbang dimanakah dirinya akan meletakkan benda tersebut. Namun bukannya menyimpan hadiah itu ditempat yang baik seperti di loker atau apapun itu, Hani malah membuangnya ke sebuah tong sampah yang terdapat beberapa kotak hadiah lainnya yang belum tersentuh sedikit pun, masih rapi dengan berbagai macam kertas kado yang membungkus dan memperindahnya.

Hani memandang nanar tong sampah yang berisi hadiah-hadiah malang itu, hingga terlintas sebuah memori dikepalanya yang membuat Hani membenci semua itu.

Flashback

Seoul 2010

I was left alone like this, loneliness. Please hold my hand. Truth is hidden by scar. I want to go back to the place that is happy. (Reset – Tiger JK ft Jinsil)

Diatas sebuah kasur berukuran sedang milik rumah sakit tempat Hani dirawat, Hani hanya memandang malas sepasang suami istri yang sudah mulai menua seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang ditatap hanya menatap bingung kea rah Hani, dengan sebuah pertanyaan dikepala mereka. ‘kenapa-Hani-tiba-tiba-menyuruh-mereka-kesini-?’

“Hani-ah, ada apa?” Tanya sang suami kepada Hani yang duduk diranjang rumah sakit.

“Aku mau pulang.”

“Kau belum sepenuhnya pulih, kau masih harus dirawat.” Tolak sang istri lembut melihat kepala Hani yang masih berbalut kain putih dengan sedikit bercak darah disana.

“Aku mau pulang ke rumah.”

“Kau pasti merindukan Jiyeon. Jiyeon juga merindukanmu.”

“Ani.” Ucap Hani, membuat sepasang suami istri itu terkejut. Ini adalah pertama kalinya Hani berperilaku seperti ini kepada mereka, padahal biasanya yeoja ini adalah yeoja yang ceria. “Aku mau pulang ke rumahku.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah mendapatkannya kembali. Kalian tahu bagaimana kisahku kan? Makanya, aku mau pulang.” Ujar Hani datar, sementara suami istri itu tersentak mengingat bagaimana kisah Hani sampai Hani menjadi keluarga mereka. Mereka mengetahui sebagian kisah Hani, hanya sebagian, tidak sepenuhnya.

“Hajima.”

“Mwo?”

“Kumohon, jangan pergi. Jiyeon menyukai kehadiranmu. Tetaplah berada dirumah kami sebentar. Jika dia sudah bosan, kau baru boleh pulang.” Kata pria paruh baya itu tegas, membuat hati Hani tertohok seketika begitu mendengarnya.

“Mwo?!”

Flashback end

“Aku mau pulang. Apakah aku boleh pulang sekarang?”

Sampai akhirnya sebuah suara dari luar kamar menyadarkan Hani dari lamunan tidak bergunanya. “Hani-ah!! Cepat keluar! Ayo kita sarapan!”

“Ne!”

***

“CHANYEOL-AH! CEPAT KELUAR DAN SARAPANLAH!” teriak seseorang dari luar kamar Chanyeol yang menggema keseluruh rumah atau mungkin sampai keluar rumah (?) di pagi minggu yang cerah itu.

“Haishh, bahkan ini masih pagi. Yeoja itu benar-benar suka sekali berteriak.” Keluh Chanyeol yang mendengar suara teriakan lumba-lumba yang berasal dari noonanya.

“Sepertinya telingaku pecah.” Tambah Sehun berlagak membersihkan telinganya dari sebuah suara yang hampir memecahkan gendang telinganya. “Apa kau selalu hidup seperti ini, hyung?”

“Iya.”

“Aku turut berduka.” Canda Sehun sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol.

“Sudahlah. Ayo kita segera keluar dan sarapan, atau dia bisa memecahkan beberapa jendela.” Ujar Chanyeol kesal sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar benuansa abu-abu khas remaja laki-laki itu, diikuti oleh Sehun disampingnya.

“Baiklah.”

kamar park chorong.jpg

Sementara disebuah kamar yang bernuansa merah muda dan ungu khas seorang yeoja, Hayoung juga terkejut dengan suara teriakan yang ia yakini berasal dari noonanya Chanyeol karena setahu dirinya hanya ada dua yeoja dirumah ini yaitu dirinya dan noonanya Chanyeol yang hanya ia dengar namanya saja. Membuat dirinya menjatuhkan pakaiannya yang tengah ia kemas. Sedetik kemudian pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang yeoja dengan apron masak yang terikat dipinggangnya memasuki kamar itu dan mengalihkan perhatian Hayoung.

“Annyeong.” Sapa yeoja itu

“Annyeong haseyo oenni.” Balas Hayoung membungkukkan kepalanya, menghormati seseorang yang sepertinya lebih tua darinya.

“Perkenalkan aku Park Chorong, noonanya Park Chanyeol.” Ujar yeoja itu – Chorong memperkenalkan diri. “Kau adiknya Sehun kan?” Tanya Chorong, melangkahkan kakinya mendekati Hayoung.

“Ne. Joneun Oh Hayoung imnida.” Jawab Hayoung memperkenalkan dirinya dengan sopan sebagai orang baru.

“Apa kau sedang membereskan pakaianmu?”

“Ne. waeyo?”

“Nanti saja lanjutkan. Kalian belum sarapankan? Ayo kita sarapan dulu.” Ajak Chorong datar membuat kesan seperti orang yang dingin dan agak menyeramkan bagi Hayoung.

“Baiklah.”

Sebenarnya Hayoung dan Sehun sudah makan sup rumput laut tadi disebuah restoran untuk merayakan ulang tahun Hyemi, tapi hanya itu. Mereka belum makan nasi. Jadi tidak apa-apa lah.

Mereka berdua pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar beraroma cherry itu. Lalu lanjut ke ruang makan yang berada dibagian belakang rumah itu, dekat dengan dapur tempat Chorong sedari tadi memasak sarapan. Rupanya sudah ada dua orang namja tengah bercengkrama disana, Chorong mengambil tempat duduk disebelah Chanyeol sementara Hayoung mengambil tempat duduk disamping Sehun yang berseberangan dengan Chanyeol.

“Ayo kita makan!” ajak Chorong mengawali sarapan mereka berempat.

“Ne.”

Mereka pun memakan sarapan mereka dengan damai tanpa ada satupun percakapan yang keluar dari mulut mereka yang tengah mengunyah makanan buatan Chorong. Hanya suara dentingan sumpit dan sendok perak yang sengaja membentur piring keramik milik keluarga Park. Sup kaldu ayam yang hangat, nasi yang baru saja keluar dari termos, kimchi lobak, dan lain sebagainya yang tersedia diatas meja kayu berpoleskan cat berwarna maroon itu. Membuat Hayoung rindu dengan masakan eommanya karena sudah lama ia tidak memakan masakan rumahan apalagi masakan eommanya. Tanpa Hayoung sadari, dirinya mulai menitikkan air mata kerinduan.

“Hayoung-ah, ada apa? Apa masakanku tidak enak?” Tanya Chorong yang pertama kali menyadari hal itu, sontak membuat Chanyeol dan Sehun mengalihkan perhatian mereka, begitu juga dengan Hayoung yang baru menyadari bahwa dirinya mengeluarkan beberapa butir air mata dan segera menghapusnya.

“Ania. Masakan oenni enak kok, sampai aku merasa terharu.” Jawab Hayoung berdusta dan Sehun tahu itu. “Bagaimana oenni memasaknya? Aku ingin sekali diajari memasak.” Pinta Hayoung seperti anak kecil, demi mengalihkan perhatian dari air mata kerinduannya tadi.

“Kau belum pandai memasak?” Tanya Chorong tidak percaya.

“Belum.”

“Gwenchana, nanti akan kuajarkan cara memasak yang baik.”

“Komawo oenni.” Ujar Hayoung berterimakasih kepada yeoja itu, membuat Chorong semakin gemas terhadap Hayoung. lalu Hayoung pun melanjutkan sarapannya.

“KYA!”

Detik berikutnya, sebuah perubahan drastis dari suara serak-serak basah yang lembut menjadi suara jeritan lumba-lumba membuat Chanyeol, Sehun dan Hayoung yang tengah menikmati sarapan mereka menjadi terkejut. Tentu saja sangat terkejut. Jeritan lumba-lumba itu benar-benar mengganggu sarapan dan pagi minggu mereka bagi yang mendengarnya. Kenapa yeoja ini suka sekali berteriak? Mungkin inilah yang dipikirkan oleh ketiga insan malang itu, terutama Chanyeol yang berada satu atap dengan Chorong sejak lahir.

“Haishh, Noona! Kau mengejutkan kami!” tegur Chanyeol kesal dengan tingkah aneh noonanya tadi.

“Chanyeol-ah, ini bukan mimpi kan? Ini nyata kan?” Tanya Chorong penuh harap dengan tatapan tidak percayanya.

“Iya, noona. Ini bukan mimpi, oleh karena itu BANGUNLAH!” Jawab Chanyeol dengan menekankan kata ‘bangunlah’ sambil mencubit pipi chubby noonanya dengan gemas, berniat menyadarkan noonanya itu dari mimpi.

“Yak! lepaskan!” seru Chorong tertahan karena bibirnya yang tertarik lebar akibat cubitan Chanyeol, sambil memukul-mukul pelan tangan namja itu agar Chanyeol melepaskan tangan kekarnya dari pipinya.

“Memangnya kenapa noona? Noona sedang tidak mengkhayalkan hal-hal yang aneh kan?” Tanya Chanyeol curiga dengan Chorong yang pikirannya selalu melayang tiba-tiba memikirkan sesuatu yang diharapkannya dan terlalu terbawa perasaan. “Hah? Ani.” Jawab Chorong dengan percaya diri. Sementara Chanyeol hanya mendengus kesal karena Chorong pasti tiba-tiba membayangkan hal yang tidak jelas, seharusnya jawabannya adalah ‘iya’.

“Sehun-ah, Hayoung-ah, komawo.” Ujar Chorong berterimakasih tanpa angin apapun kepada Sehun dan Hayoung, membuat keduanya hanya menautkan alis mereka bingung. Ada apa dengan yeoja itu?

“Ne? memangnya ada apa noona?” Tanya Sehun yang merasa aneh dengan tingkah noonanya Chanyeol itu.

“Pilihan kalian untuk menginap disini sangatlah tepat. Kalian bisa menginap disini selama yang kalian mau.” Kata Chorong riang. Sementara Sehun dan Hayoung hanya berjengit heran sedangkan Chanyeol semakin geram dengan tingkah noonanya.

“Haishh, noona! Berhenti bersikap aneh!”

“Memangnya apa yang aneh?”

“Semuanya!”

“Mwo?! Aku biasa aja kok.”

“Memangnya kenapa noona berterimakasih kepada Sehun dan Hayoung? Noona membuat mereka takut.”

“Aku tidak membuat mereka takut kok.” Jawab Chorong dengan kepercayaan dirinya, membuat Chanyeol tertohok detik itu juga atas kepercayaan diri noonanya. “Kau tau kan, kalau aku selalu menginginkan seorang adik perempuan.”

“Noona, jangan membahas itu.”

“Wae? Apa yang salah dengan itu?”

“Noona membuatku merasa kalau noona tidak mengharapkanku.” Jawab Chanyeol lemas.

“Aigoo, mianhee uri dongsaeng. Noona benar-benar menyayangimu. Kalau noona tidak menyayangimu, noona tidak akan memberikanmu makan.” Ujar Chorong sambil mengelus-elus lembut rambut hitam berponi milik Chanyeol. “Lagipula, kenapa kau harus lahir sebagai laki-laki hah? Padahal aku sudah meminta seorang adik perempuan kepada appa dan eomma.” Cerocos Chorong membuat Chanyeol geram dan merasa sangat kesal. Sebenarnya mau yeoja ini, apa sih?

“Lupakan!” Dengan kasar, Chanyeol menghentikan pergerakan tangan Chorong dirambutnya dan menjauhkan tangan itu dari kepalanya, mengembalikan tangan itu kepada pemiliknya. Chanyeol kesal dengan noonanya yang tidak peka dan selalu mengungkit soal adik perempuan. Apakah yeoja itu tidak bosa menghargai dirinya yang berjenis kelamin laki-laki? “Sehun-ah, Hayoung-ssi, lanjutkan saja sarapan kalian. Abaikan saja noonaku ini.”

“Yang sabar, ya hyung.” Canda Sehun disertai kekehan jahilnya. Sementara Hayoung hanya menahan tawanya, dan meninggalkan sebuah senyuman manis yang terpatri dibibirnya. Chorong sama saja dengan Chanyeol, mereka sama-sama peribut walaupun terkadang menjadi seseorang yang pendiam atau dingin. Mungkin Hayoung harus mengubah pemikirannya bahwa Chorong adalah orang yang dingin dan menyeramkan, menjadi Chorong adalah orang yang ceria dan menyenangkan. Sementara Chanyeol hanya terdiam dan menikmati senyuman itu sebentar, hanya sebentar, tidak terlalu lama. Karena didetik berikutnya, Chanyeol kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda akibat jeritan tanpa anginnya Chorong.

“Oh iya, Sehun-ah. Apa kau sudah memberitahukan kepada teman-teman tentang hal ini?” Tanya Chanyeol mencari percakapan lain sambil melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda karena ulah noonanya.

“Apa?”

“Hayoung sudah keluar dari rumah sakit.”

“Belum.”

“Memangnya Hayoung sakit apa sampai harus masuk rumah sakit?” Tanya Chorong ikut campur kedalam percakapan kedua namja itu, membuat kedua namja itu hanya menggerutu dalam hati. Kenapa yeoja ini harus ikut campur?

Sehun memberikan tatapan menuntut kepada Chanyeol, seakan bertanya kepada namja itu. ‘kau-belum-memberitahunya-?’ sementara Chanyeol hanya membalasnya dengan sebuah gelengan pelan, membuat Sehun kesal dan memberikan sebuah tatapan tajam kepada hyungnya itu. ‘kenapa-kau-harus-membicarakan-hal-ini-didepannya-?’

“Apa yang kalian lakukan? Jawab pertanyaanku!”

“Aku masuk rumah sakit karena usus buntu.” Jawab Hayoung spontan, setelah berpikir-pikir terlebih dahulu didalam kepalanya. Sementara Sehun dan Chanyeol hanya memandang heran ke arah Hayoung. usus buntu? Kenapa harus usus buntu?

“Usus buntu? Bagaimana bisa?”

“Aku hanya makan sesuatu yang tidak benar-benar baik untuk tubuhku.”

“Kau tidak boleh seperti itu kedepannya, arachi?”

“Ne, oenni.”

Disaat Chorong tengah melanjutkan sarapannya, Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Hayoung dan membisikkan sesuatu disana. “Kenapa kau menjawab usus buntu?” Tanya Sehun didalam bisikannya, lalu Sehun pun mengembalikan wajahnya ke posisi semula. Namun setelahnya mereka bergantian tempat, Hayounglah yang mendekatkan wajahnya ke telinga Sehun dan membisikkan sesuatu disana. “Setidaknya itu lebih baik dari pada obat tidur.” Jawab Hayoung, lalu segera mengembalikan kepalanya ke posisi semula dan melanjutkan sarapannya dengan damai.

Tiba-tiba sepasang sumpit yang tengah menjepit sepotong ikan sarden yang sudah dimasak dengan baik, meletakkan ikan tersebut ke atas mangkuk nasinya Hayoung. “Makanlah. Aku memasaknya dengan baik kan?” Tanya sang pemilik sumpit dengan senyuman cerahnya kepada Hayoung. Sementara Hayoung yang tadinya merasa heran dengan sepotong ikan yang tiba-tiba saja berada dimangkuk nasinya, mendongakkan kepalanya melihat sang pemilik sumpit itu dan menatapnya teduh. Entahlah, mungkin ia teringat eommanya yang dulu sering melakukan ini.

“Ne, komawo oenni.”

Chorong noona benar. Sepertinya pilihanku untuk membawa Hayoung kerumah ini adalah pilihan yang tepat. Batin Sehun lega sambil menatap Hayoung dalam dan kembali memakan sarapannya.

***

Empat pasang roda yang tadinya bergelinding di aspal dengan kecepatan sedang itu, kini mulai melambatkan kecepatan lajunya sampai akhirnya berhenti didepan sebuah rumah minimalis bercat cream atau lebih tepatnya dipekarangan rumah yang tidak sempit itu. “Kita sudah sampai. Turunlah! Kita masih harus ke kantor bukan?” Tanya seorang pria paruh baya yang menyetir mobil tersebut kepada wanita yang berada disampingnya sambil bergerak melepaskan sabuk pengamannya.

“Ini salahku. Ini salahku.” Bukannya menjawab, wanita itu hanya bergumam tidak jelas dan menatap kosong ke arah depannya.

“Apa?” Tanya pria itu meminta pengulangan kepada wanita itu yang notabenenya adalah istrinya. Namun istrinya hanya memandang kosong ke arah pintu kaca mobil yang tembus pandang dari dalam itu, pria itu hanya bisa mendesah berat. Ia ingat, sejak mereka keluar dari rumah sakit sampai detik ini juga, wanita itu hanya memiliki pandangan yang kosong tanpa sedikit pun cahaya didalamnya. Mungkin cahaya itu redup karena anak-anaknya yang pergi meninggalkannya. Tentu saja, karena ini semua terjadi secara tiba-tiba.

“Ini semua salahku. Aku yang membuat mereka kabur dari rumah sakit. Mereka pasti marah kepadaku. Mereka pasti membenciku. Aku. Aku adalah nappeun eomma. Aku adalah nappeun eomma.” Isak wanita itu sambil meneteskan beberapa liquid bening dari mata coklatnya, membuat suaminya tidak tega dengan dirinya yang hanya menyalahkan dirinya sendiri.

Pria itu pun beranjak merengkuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya dan mengelus lembut surai hitam panjang wanita itu, berusaha menenangkannya. “Ania, ini bukan salahmu. Kau bukan nappeun eomma.”

“Aku adalah nappeun eomma.”

“Ani. Kau bukan nappeun eomma.”

“Aku yang membuat mereka pergi! Bagaimana mungkin aku bukan seorang nappeun eomma?!” seru wanita itu kepada suaminya yang sedari tadi menyanggah ucapannya sambil melepaskan pelukan suaminya yang tidak dapat menenangkannya sama sekali.

“Kalau begitu, aku juga seorang nappeun appa. Aku adalah seorang appa yang gagal. Aku tidak merawat anak-anakku dengan baik, sampai akhirnya mereka kabur.”

“Ania, kau tidak bersalah. Hanya aku yang bersalah disini.” Ucap wanita itu lembut. Ia tidak menyalahkan suaminya, tidak pernah. Ia merasa menjaga anak-anak mereka agar tetap aman dirumah adalah tanggung jawabnya sebagai seorang eomma, maka hanya dirinyalah yang patut disalahkan.

“Jangan seperti itu. Aku benci melihatmu menyalahkan diri sendiri, padahal aku juga bersalah.” Ujar pria itu sendu, membuat wanita itu hanya menundukkan kepalanya.

“Mian.”

“Nado.”

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya wanita itu sambil kembali mendongakkan kepalanya.

“Pertama, ayo kita masuk ke rumah dulu.”

“Arasseo.”

***

Didalam sebuah gedung dengan warna putih serta bau obat-obatan kimia yang mendominasi, seorang namja dengan sebuah plastic berisi beberapa buah-buahan didalamnya yang berada ditanga kirinya melangkahkan kedua kakinya dengan santai diantara beberapa orang lainnya yang berlalu lalang di gedung itu untuk memenuhi tujuan mereka.

Sampai akhirnya namja bersurai hitam kecoklatan itu berhenti didepan salah satu pintu kamar rawat. Lalu namja itu – J-hope mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh gagang pintu kayu itu dan memutarnya sambil mendorong pintu itu agar pintu itu terbuka dan dirinya dapat menemui seseorang didalamnya. Namun bukannya bertemu dengan seorang yeoja yang diharapkan, J-hope malah mendapati sebuah kamar rawat yang kosong membuat namja itu kebingungan.

“Kemana Hayoung?” tanyanya kepada diri sendiri. J-hope beranjak dari tempatnya menuju pintu kamar itu dan mengecek nomor pintu rawatnya, hanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah kamar. “203. Sudah benar kok. Tapi kenapa Hayoung-nya tidak ada?” Tanya J-hope bingung.

“Sebaiknya aku tanyakan saja kepada Sehun.” Gumam J-hope sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang dari sana. J-hope menarikan jari jemarinya diatas layar benda yang disebut handphone itu, mulai dari mengaktifkan handphonenya sampai mencari-cari sebuah nama didalam list kontak handphonenya dan menemukan sebuah nama. Lalu J-hope pun menempelkan handphonenya ke telinganya dan menunggu seseorang menerima panggilan tersebut sambil melangkahkan tungkainya keluar dari kamar rawat kosong itu.

“yeoboseyo?”

“Sehun-ah, apa kabarmu?” Tanya J-hope sekedar berbasa-basi dengan temannya.

“Baik. Kau juga kan?”

“Tentu saja. Tapi, Sehun-ah. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Apa itu?”

“Hayoung ada dimana? Kenapa dia tidak berada diruang rawatnya?” Tanya J-hope bertubi-tubi sesuai dengan hal yang ia bingungkan sedari tadi sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit besar ini.

“Ohh, soal itu. Hayoung sudah keluar dari rumah sakit.”

“Benarkah? Kenapa dia tidak mengabariku?”

“Entahlah. Tapi, kami tidak pulang kerumah. Kami menginap dirumah Chanyeol hyung.”

“Chanyeol hyung?” gumam J-hope heran namun entah kenapa ada yang lain dari nada gumamannya itu. Bukan hanya ada nada heran didalam gumamam itu tapi ada semacam nada kesal didalamnya. “Kenapa tidak dirumah Luhan hyung saja?” Tanya J-hope mengalihkan pemikiran anehnya tadi.

“Aku malas harus berurusan dengan paman dan bibi Xi. Mungkin mereka akan melaporkan kepada appa dan eomma bahwa kami kabur dari rumah.” Jelas Sehun tanpa mencurigai gumaman J-hope tadi.

“Kenapa tidak dirumahku saja? Aku kan sahabatnya Hayoung?” Tanya J-hope kesal. Mungkin inilah yang ia pikirkan tadi ketika Sehun bilang bahwa mereka menginap dirumah Chanyeol, bukan dirumahnya.

“Malas.”

“Haishh, yang benar saja. Tapi kenapa kalian kabur dari rumah?”

“Ceritanya agak panjang. Mungkin.” Jawab Sehun ragu.

“Jawaban macam apa itu?”

“Lupakan saja! Keurigu, tolong suruh Jimin dan yang lain berkumpul di basecamp. Kita akan membuat pesta penyambutan untuk Hayoung.”

“Arasseo.”

“Jangan lupa undang Namjoo juga, mungkin Hayoung akan senang bila yeoja itu datang.”

“Ne. Apakah aku harus mengundang Nara juga?” goda J-hope disertai seringaian jahilnya.

“Terserahmu sajalah. Aku tutup.” Jawab Sehun dengan nada kesalnya, membuat J-hope hanya terkekeh jahil.

Tuut… tuut…

J-hope pov

Aku menghentikan langkahku sejenak setelah anak ini memutuskan sambungan telepon kami. aku merasakan hembusan angin hangat menerpa tubuhku berbeda dengan ketika berada didalam gedung besar itu, aku hanya merasakan hawa dingin karena gedungnya ber-AC dan beberapa bau obat-obatan yang menyeruak ke hidungku. Aku menyapukan pandangan ke sekelilingku dan melihat beberapa pohon-pohon dan taman-taman tertata rapi disana serta beberapa orang yang berlalu lalang. Ternyata aku sudah berada diluar rumah sakit.

“Haishh, anak ini. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Bagaimana mungkin ia kabur rumah?” tanyaku kesal entah kepada siapa, mungkin kepada handphoneku karena aku masih memandangi layar handphoneku yang menunjukkan nomor kontak Sehun beserta foto wajah dinginnya. Namun tiba-tiba aku teringat Hayoung yang pernah menceritakan bahwa kedua orang tuanya yang sibuk bekerja sementara Sehun waktu itu masih acuh tak acuh kepada Hayoung, membuat yeoja itu harus merasa kedinginan dirumahnya sendiri tanpa ada yang menghangatkannya.

Aku hanya mendesah berat mengingat bagaimana penderitaan Hayoung sewaktu Hayoung masih kecil. “Apakah orang tua mereka seburuk itu?”

Akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan handphoneku ketempat asalnya, yaitu di saku celanaku. Dan melanjutkan perjalananku ke parkiran rumah sakit untuk mengambil motorku agar aku bisa pulang kerumah.

“Jimin!”

Baru setengah perjalanan menuju parkiran, aku segera menghentikan langkahku. Aku baru teringat bahwa aku harus menghubungi Jimin dan yang lain untuk mengabari mereka bahwa Hayoung telah keluar dari rumah sakit dan kami akan membuat pesta untuk Hayoung. segera kukeluarkan handphoneku dari tempatnya, yaitu dari saku celanaku. Lalu kucari nama ‘Park Jimin’ didalam kontak handphoneku.

Akhirnya ketemu! Dengan segera kutekan tombol panggil yang tersedia dilayar handphoneku dan menunggu panggilanku dijawab oleh Jimin.

“Yeoboseyo?” sapa seseorang dari sana membuatku menghela nafas lega. Akhirnya diangkat juga. padahal biasanya, Jimin tidak terlalu suka bermain handphone, Jimin lebih suka bermain dengan Taehyung atau Jimin.

“Jimin-ah!” balasku sambil melanjutkan perjalananku menjemput motorku.

“Tumben hyung menelponku. Memangnya ada apa?”

“Aku hanya ingin memberitahu kalau Hayoung sudah keluar dari rumah sakit.”

“Jinja?! Kapan?!” seru Jimin kegirangan. Apakah dia sebahagia itu ketika mengetahui adik hyungnya sudah sembuh?

“Baru saja. Apakah kau sebahagia itu?”

“Tentu saja. Karena Hayoung adalah adiknya Sehun hyung, Sehun hyung pasti senang bahwa adiknya sudah keluar dari rumah sakit. Kalau begitu aku juga senang.” Jawab Jimin girang. Ciri khas seorang Park Jimin, selalu senang apabila orang lain senang. Dia adalah orang yang ceria setiap saat sama sepertiku, dia adalah orang yang penyabar apabila bersama dongsaeng-dongsaengnya, namun terkadang ia adalah orang yang pesimis. Sayang sekali.

“Yak! Park Jimin! Kau tidak sendirian disana kan?” tebakku begitu mendengar ada beberapa suara ribut dibelakangnya.

“Iya, aku bersama Taehyung dan Jungkook. Kami sedang main PSP. Kau mau ikut hyung?”

Sebenarnya aku ingin, tapi mengingat Hayoung yang sudah keluar dari rumah sakit, aku pun menolaknya. “Ani. Tapi hentikan permainan itu segera.”

“Waeyo?” dari nada bicara Jimin, aku tahu bahwa ia sedikit kecewa dan meminta penjelasan. Maaf mengganggu kesenanganmu sebentar Jimin-ah.

“Pergilah ke basecamp bersama Taehyung dan Jungkook. Kita akan membuat pesta penyambutan untuk Hayoung disana.”

“Baiklah. Sampai jumpa hyung.”

“Aku tutup.”

Tuut… tuut…

Jimin, Taehyung dan Jungkook sudah kuberitahu. Walaupun hanya Jimin yang kutelpon, tapi aku yakin dia akan memberitahukannya kepada Taehyung dan Jungkook. Kalau Luhan hyung dan yang lain, aku yakin mereka sudah diberitahu oleh Sehun dan Chanyeol. Tapi bagaimana aku bisa memberitahukannya kepada Namjoo?

Aku bisa saja menelpon yeoja itu karena aku memiliki nomor handphonenya. Tapi apakah aku akan menyuruhnya pergi ke basecamp kami, sementara dia baru mengenal kami? Bagaimana kalau dia akan tersesat nantinya?

Ketika aku sedang dibingungkan dengan ‘bagaimana-membawa-Namjoo-ke-basecamp-kami-untuk-membuat-pesta-penyambutan-Hayoung-?’ aku melihat punggung seorang yeoja bersurai hitam kecoklat-coklatan pendek sebahu. Rambut pendek sebahu dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan sweater abu-abu panjang selutut, sweater yang sama dengan yang dipakai seseorang ketika kami bersembilan menjenguk Hayoung, aku rasa aku tahu siapa yeoja itu.

“KIM NAMJOO!” teriakku memanggil nama yeoja itu. Yeoja itu berjarak cukup jauh dariku, aku berharap yeoja itu mendengarnya dan berbalik dengan wajah yeoja yang kuharapkan. Karena akan sangat memalukan kalau aku berteriak memanggil yeoja yang salah.

Yeoja itu akhirnya berbalik dan memfokuskan pandangannya. Membuatku dapat menghela nafas lega karena yeoja yang kupanggil adalah yeoja yang benar. Dia melambaikan tangannya kepadaku dan membalas panggilanku tadi sambil berjalan ke arahku dengan dua yeoja – Nara dan Miju dibelakangnya. “J-hope oppa!”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku begitu ia sudah sampai dihadapanku.

“Tentu saja menjenguk Hayoung. memangnya apa lagi?’

“Kau tidak perlu menjenguknya karena Hayoung sudah keluar dari rumah sakit.”

“Jinja?! Kapan?! Kenapa dia tidak memberitahukannya kepadaku?”

“Molla.” Hanya satu jawaban abstrak yang keluar dari mulutku membuat yeoja ini memberenggut kesal. “Kau mau ikut membuat pesta untuknya?”

“Pesta? Pesta apa?”

“Tentu saja, pesta penyambutan untuk Hayoung.”

“Aku ikut!” serunya girang. Tentu saja Namjoo akan ikut, dia kan temannya Hayoung. Didetik berikutnya, dia menoleh ke kakaknya – Nara dan menatap yeoja itu dengan tatapan ‘bolehkah-aku-ikut-?’ atau ‘kumohon-temani-aku’, atau mungkin keduanya. Aku tidak terlalu tahu. Tapi aku dapat melihat Nara sedikit ragu dengan apa yang akan ia jawab, terlihat dari bola matanya yang sedikit sedikit mengarah ke objek lain. Namun akhirnya yeoja itu menjawab, “Baiklah.”

“Dimana kita akan merayakannya?” Tanya Namjoo kepadaku dengan senyuman girang yang tidak dapat ia sembunyikan.

“Di basecamp kami.” namun seketika itu juga senyumannya sedikit meluntur. Mungkin karena ia tidak tahu dimana basecamp kami. “Tenang saja, aku akan mengantarkanmu kesana.” Membuat yeoja itu kembali menyungging senyuman girangnya sampai-sampai menampakkan lesung pipitnya.

“Bagaimana dengan Nara oenni dan Miju oenni?” oh iya, aku melupakan kedua yeoja itu. Yang kupikirkan hanya bagaimana membawa Namjoo kesana karena Namjoo adalah temannya Hayoung yang merupakan aset penting supaya Hayoung bisa bahagia di pesta itu.

“Kalian kesini dengan apa?”

“Bus.” Aku menggerutu dalam hati. Kenapa yeoja suka sekali menggunakan bus atau jalan kaki ataupun diantar oleh namja mereka? Apakah mereka sebegitunya ingin kurus? Atau mereka saja yang kerajinan? Mungkin untuk yang meminta diantar, aku akan mengatakan mereka manja, tapi… ya sudahlah. Ayolah, Jung Hoseok! Pikirkan sesuatu!

“Aku akan menyuruh teman-temanku mengantarkan mereka.” Jawabku sambil mengambil handphoneku dan bergerak mencari nama ‘Park Jimin’ lagi disana. Aku menunggu panggilanku dijawab.

“Apa lagi?” Tanya Jimin begitu ia mengangkat sambungan teleponku, namun membuatku sedikit tersentak karena kurasa nada bicara Jimin sedikit kasar, sepertinya dia sedang kesal dengan sesuatu.

“Jimin-ah, bisakah kau kesini?”

“Aku baru saja akan ke basecamp bersama Taehyung dan Jungkook. Tunggu saja disana.”

“Ani, jangan pergi dulu. Temui aku di parkiran rumah sakit tempat Hayoung dirawat dulu.”

“Apa-apaan ini? tadi kau bilang basecamp, sekarang rumah sakit. Sebenarnya apa maumu hyung?” Tanya Jimin kesal. Ada apa dengan anak ini? Tidak biasanya dia seperti ini?

“Yak! kenapa nadamu seperti itu hah?! Memangnya aku ada salah apa sampai-sampai kau kesal seperti itu hah?!” tegurku dengan nada yang meninggi. Dari ekor mataku, aku dapat melihat Namjoo, Nara dan Miju menatapku keheranan dengan apa yang terjadi denganku, kenapa aku tiba-tiba begini.

“Itu bukan karenamu hyung.” Jawabnya pasrah.

“Lalu?”

“Karena… lupakan saja! Aku akan bercerita nanti. Tidak seru berbicara ditelepon dan juga baterai handphoneku hampir habis.”

“Ya sudah! Cepatlah kemari bersama Taehyung dan Jungkook. Arasseo?”

“NE!”

“Cepat ya! Jangan—“

Tuut… tuut…

“Pakai lama.”

Aku menatap handphoneku yang masih menampilkan foto Jimin dengan kesal. Aku merasa ingin memakan anak itu sekarang juga. jika saja dia ada disini, mungkin aku sudah meninju-ninjunya ataupun menendang-nendangnya sekarang. ada apa dengannya? Kenapa dia bisa sekesal itu sampai-sampai memutus sambungan telepon kami secara sepihak?

“J-hope oppa?” panggil Namjoo ragu membuatku mengehntikan omelanku didalam hati dan mengalihkan perhatianku kepada yeoja itu. “Jadi bagaimana? Apakah oenniku juga bisa ikut?” Namjoo tampaknya sedikit ragu dengan keputusanku karena mungkin nada bicaraku yang kesal ketika berbicara dengan Jimin tadi.

“Bisa. Tapi kita tunggu dulu teman-temanku. Oke?”

“Ne.”

J-hope pov end

***

“Chanyeol-ah! Aku akan pergi bersama temanku. Kau jaga rumah ya!” pesan Chorong kepada Chanyeol yang sedang menonton televise dengan Sehun yang berada disampingnya dan Hayoung yang berada disamping Sehun walaupun agak berjarak. Entah kenapa sampai saat ini, Hayoung masih menjaga jarak dengan Sehun. Apa Hayoung masih membenci Sehun? Entahlah, hal itu hanya Hayoung dan Tuhan yang tahu.

“Kau akan pergi kemana?”

“Ke rumah teman.”

“Untuk?”

“Mengerjakan tugas.”

“Ooh, kupikir kau akan berduaan dengan Kim Joonmyeon-mu.” Ujar Chanyeol datar, membuat Chorong agak gelagapan dan Chanyeol dapat melihat itu.

Chanyeol tahu kalau sebenarnya Chorong akan pergi dengan pacarnya – Kim Joonmyeon, karena Chorong berdandan dengan cantik dari biasanya. Kalau hanya mengerjakan tugas dirumah teman, mungkin Chorong hanya akan menggunakan celana jeans dengan kemeja putih yang tidak dimasukkan kedalam. Namun kali ini berbeda, Chorong mengenakan sweater sebatas bawah dada yang diikuti dengan rok dongker sebatas pahanya sehingga menampakkan sebagian perut datar yeoja itu, dan high heels putihnya, begitu juga dengan sebuah tas kecil berwarna biru muda yang disandangkan dibahu kanannya, tak lupa polesan make up tipis yang mempercantik wajahnya.

“Kalau kau ingin berkencan dengan pacarmu, bilang saja. Tidak usah malu. Bahkan aku sudah pernah melihat kalian ‘berduaan’ dirumah.” Sambung Chanyeol datar. Membuat Sehun dan Hayoung kebingungan dengan apa yang sedang kakak beradik ini bicarakan.

“Yak!” tegur Chorong begitu mendengar Chanyeol mengatakan hal itu dengan datarnya didepan anak SMA. Jujur saja, Chorong merasa malu mengingat kejadian itu. Chorong mengutuk dirinya yang terlena begitu saja dengan ketampanan pacarnya dan tertangkap basah oleh Chanyeol yang baru saja pulang sekolah.

“Aku pikir kau adalah orang yang polos, tapi ternyata…” Chanyeol sengaja menggantung kalimatnya yang malah disambung dengan sebuah gelengan pelan, seperti mengatakan bahwa hal itu bukanlah hal yang bagus untuk dicontohkan dari seorang kakak kepada dongsaengnya. Sementara Sehun hanya terkekeh ketika ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan kakak beradik Park itu, namun Hayoung hanya mengerjapkan matanya pelan karena ia masih belum mengetahui maksud keduanya. Geure, kau masih terlalu polos Oh Hayoung. “Kau tahu? Kau telah mengotori kepala adikmu ini waktu itu.”

“YAK! DIAM KAU! PARK CHANYEOL!!” Chanyeol menggerutu kesal didalam hatinya karena teriakan lumba-lumba itu harus keluar lagi dari mulut noonanya. Chanyeol bingung kenapa Tuhannya harus menganugerahi Chorong dengan kekuatan nada tingginya atau bisa dibilang dengan teriakan. Bisakah anugrah itu diberikan kepada orang lain? Bahkan Chorong tidak bisa bernyanyi.

“Noona! Kau saja yang diam! Kau hampir membuat telingaku tuli!”

“Siapa suruh kau berbicara seperti itu didepan Sehun dan Hayoung?”

“Kau saja yang tidak mau jujur. Pergilah!”

“Apa kau baru saja mengusirku?”

“Ne. Pergilah noonaku tercinta. Hati-hati dijalan. Jangan sampai kau mengotori pikiran anak-anak yang lain. Arasseo?” pesan Chanyeol dengan nada manis yang dibuat-buat membuat Chorong kesal dengan adiknya itu.

“Chagia. Kau sudah siap?” Tanya seseorang dari arah pintu rumah mereka, sontak membuat mereka yang berkumpul didepan televisi melirik ke sumber suara yang ternyata milik seorang namja tampan tidak terlalu tinggi bersurai hitam berponi yang sedang melangkahkan kakinya ke arah mereka atau lebih tepatnya Chorong.

“Joonmyeon! Kenapa…”

“Kau sangat cantik sayang.” Puji namja itu – Kim Joonmyeon sambil mengecup pipi kekasihnya, membuat pipi Chorong memanas seketika. Ini terlalu memalukan! Bagaimana mungkin namja itu melakukannya didepan anak dibawah umur?

“Jangan disini. Kau itu memalukan.” Bisik Chorong, sementara tangannya beranjak mencubit pelan perut Joonmyeon.

“Maaf, chagi.” Balas Joonmyeon ditelinga Chorong membuat Chorong geli karena dapat merasakan hembusan nafas hangat Joonmyeon ditelinganya.

“Yak! Jangan mengumbar asmara kalian disini! Apa kalian lupa bahwa ada anak dibawah umur disini?”

“Bilang saja jomblo.” Ledek Chorong yang benar adanya karena memang tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang memiliki seorang pacar.

“Mian, adik ipar. Kalau begitu, kami pergi dulu ya.” Ujar Joonmyeon, sementara tangannya beranjak merangkul bahu sempit Chorong.

“Ne, jaga noonaku baik-baik ya hyung.” Pesan Chanyeol malas tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi.

“Tentu saja. Sampai jumpa adik ipar.” Balas Joonmyeon sambil menarik Chorong yang berada dirangkulannya menuju pintu rumah mereka yang masih terbuka.

Blam!

“Lihat itu. Dia memanggilku dengan sebutan ‘adik ipar’. Kenapa mereka tidak menikah saja hah?” cerocos Chanyeol begitu pintu rumah mereka tertutup yang menandakan bahwa sepasang kekasih itu sudah pergi dari rumah mereka.

“Itu mengherankan. Bukankah mereka masih kuliah?”

“Iya sih.”

“Hyung cemburu karena hyung belum punya pacar?” goda Sehun disertai kekehan jahilnya.

“Ani. Tidak sama sekali. Aku bangga masih berstatus single.”

“Memangnya hyung tidak menyukai seorang yeoja? Seolma, hyung  adalah seorang gay?” canda Sehun dengan berpura-pura takut. Sehun menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Chanyeol, membuat Hayoung mendelik aneh ke arah Chanyeol.

“Yak! Itu tidak akan terjadi! Aku masih normal tahu! Aku hanya belum menemukan seseorang, puas?”

“Yang sabar ya hyung. Cinta itu bisa datang kapan saja.” Sehun menepuk-nepuk pundak Chanyeol memberi namja itu semangat dan nasihat seakan-akan Sehunlah yang lebih mengetahui tentang hal itu daripada Chanyeol.

“Daripada kau, cintamu tidak terbalas.” Ledek Chanyeol yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Hayoung, bukan dari Sehun, Sehun hanya mendesah berat. Entah kenapa, Hayoung tidak suka ada yang membahas tentang itu yang ia yakini akan menyakiti hati Sehun yang bahkan belum sempat mengatakan rasa sukanya.

“Sudahlah hyung.”

“Geure. Sekarang ayo kita ke basecamp! Sepertinya yang lain sudah menunggu.”

“Kalian mau pergi?” Tanya Hayoung yang akhirnya membuka suara.

“Iya. Kau jaga rumah ya, Hayoung-ah.” Jawab Sehun sambil mengulurkan tangannya ingin mengelus rambut coklat Hayoung. namun sebelum hal itu terjadi, Hayoung sudah terlebih dahulu memundurkan kepalanya, menghindari tangan oppanya. Membuat Sehun sangat kecewa didalam hati.

“Terserah kau saja. Aku mau mengerjakan tugasku dulu.” Ujar Hayoung dingin tanpa memandang Sehun sama sekali. Hayoung beranjak berdiri dari duduknya dan langsung melesatkan kakinya ke kamar Chorong. Jujur saja, Hayoung kecewa dengan Sehun yang akan meninggalkannya lagi sendirian dirumah. Hayoung hanya berpikir bahwa Sehun masih membencinya, ia tidak ingin mengetahui bahwa sebenarnya Sehun sangat menyayanginya.

Sementara Sehun hanya menatap nanar punggung Hayoung yang semakin menjauh darinya. Disaat ia ingin mengejar Hayoung, sebuah tangan menahan bahunya, membuat Sehun tetap berada disana. Sehun menoleh dan mendapati Chanyeol tengah menggeleng pelan kepadanya. “Kita harus segera ke basecamp dan membuat pesta untuknya. Ia akan tersenyum kepadamu setelah ini.”

“Ne, hyung.”

“Kajja.” Ajak Chanyeol sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh Sehun.

***

Disebuah meja makan yang dipenuhi dengan beberapa hidangan disana, seorang wanita paruh baya hanya menatap kosong makanan-makanan itu tanpa ada minat untuk menyentuh mereka sama sekali, padahal perutnya sudah merengek-rengek ingin diisi namun hal itu tidak digubris sama sekali oleh si empunya.

“Makanlah. Kau belum makan sama sekali dari tadi.” Tegur seorang pria paruh baya yang berada diseberang wanita itu. Pria iru hanya merasa kasihan karena sedari tadi, pria itu dapat melihat bahwa istrinya tidak memiliki semangat hidup 1% pun.

“Aku tidak nafsu makan.”

“Kau akan sakit.”

“Biarkan saja. Aku sudah pantas untuk mendapatkan hal itu.”

“Jangan seperti itu. Sehun dan Hayoung akan sedih.”

“Memangnya apa yang kau tahu tentang itu? Bahkan Sehun dan Hayoung tidak ada disini.”

“Lupakan! Terserahmu sajalah!” bentak pria itu kesal. Menurut pria itu, istrinya ini terlalu sensitive. “Aku akan pergi bekerja. Kau tidak?” Tanya pria itu membuat sang wanita hanya menyengir sinis.

“Ani.”

“Baiklah. Aku pergi dulu.” Pamit pria itu sambil beranjak dari duduknya dan menyandang tas kerjanya.

“Hati-hati dijalan.” Pesan wanita paruh baya itu tanpa melirik suaminya yang sudah melesat keluar rumah, meninggalkannya sendirian didalam rumah yang dingin padahal musim ini bukanlah musim dingin.

Wanita itu kembali menatap kosong beragam makanan yang berada diatas meja makan kayunya. “Seharusnya aku memakan ini bersama Sehun dan Hayoung.”

“Sehun-ah, Hayoung-ah, kalian ada dimana?”

***

Diatas sebuah meja terdapat beberapa kantong plastic maupun kantong kertas dengan isi yang bermacam-macam. Ada yang isinya balon-balon atau topi-topi atau bendera-bendera kecil dan lain sebagainya. Sementara itu, terdapat tujuh orang namja dan tiga orang yeoja yang berdiri mengelilingi meja tersebut.

“Apa semua sudah berkumpul?” Tanya Luhan sementara matanya menyapu ke sekeliling ruangan memastikan semuanya sudah ada disana.

“Ani. Chanyeol dan Sehun belum datang.” Jawab Kai membuat Luhan berdecak kesal.

“Haishh, Sehun. Anak itu selalu saja lambat datang.” Gerutu Luhan pelan. “Ya sudah kita lanjutkan saja.” Luhan mulai beranjak mengambil salah satu kantong plastic berisikan balon-balon beserta peniupnya, diikuti oleh yang lain.

“Baiklah.”

Mereka memulai pekerjaan mereka dengan meniupkan gas helium ke dalam balon-balon warna-warni yang mereka beli tadi, memberikan alas bermotif bunga-bunga di atas meja serta merapikan beberapa barang disana, dan lain sebagainya. Mereka melakukan segala hal yang dirasa perlu untuk membuat sebuah pesta kecil-kecilan.

Selama itu juga, J-hope merasa risih dengan tingkah Jimin yang terus menghindari Taehyung dan Jungkook sedari tadi, dengan sebuah pertanyaan yang bersarang dikepalanya ‘ada-apa-dengan-anak-ini-hah-?’

“Yak! park Jimin! Kim Taehyung! Jeon Jungkook! Kemari kalian!” seru J-hope membuat semua orang yang berada dibasecamp itu terkejut terutama pemilik nama yang baru saja dipanggil oleh J-hope.

“Memangnya ada apa hyung? Kenapa kau tiba-tiba begini?” Tanya Jungkook heran dengan seruan J-hope yang tiba-tiba dan menghentikan pekerjaan mereka semua.

“Seharusnya akulah yang menanyai hal itu.” J-hope menjawab pertanyaan Jungkook dengan kasar membuat si empunya agak terkejut dengan J-hope yang tidak seperti biasanya. “Duduk!” J-hope mengulurkan jari telunjuknya menunjuk sebuah sofa empuk yang terdepat di basecamp, menyuruh ketiga dongsaengnya untuk duduk disana.

Tanpa bu-bi-bu, Jimin, Taehyun dan Jungkook pun duduk disana menatap bingung J-hope yang hanya berdecak kesal didepan mereka. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?” Tanya J-hope agak frustasi membuat mereka bertiga mengerutkan kening keheranan.

“Apa maksudmu hyung?”

“Jangan bertanya hal itu lagi! Jawab saja pertanyaanku!” seru J-hope kesal, mengundang kemarahan Luhan karena J-hope yang tiba-tiba aneh daripada biasanya. Luhan tidak suka hal-hal seperti ini

“Jung Hoseok!” tegur pria berdarah China itu, namun tidak digubris sama sekali oleh sang pemilik nama.

“Kami benar-benar tidak mengerti apa maksudmu hyung! Bertanyalah dengan jelas!”

“Park Jimin, ceritakan apa yang telah terjadi tadi! Kenapa kau mendadak menghindari Taehyung dan Jungkook?”

“Haruskah?” Tanya Jimin yang sedari tadi hanya terdiam dan murung dengan ragu.

“Kau sudah berjanji tadi.”

“Baiklah.”

Flashback

“Baiklah, sampai jumpa hyung.”

“Aku tutup.”

Tuut… tuut…

Jimin segera mematikan handphonenya tepat setelah J-hope menelpon dirinya serta memberikan kabar gembira dan melihat bahwa baterai handphonenya hampir habis, mungkin sekitar 10%. Jimin harus memberi makan makan handphonenya terlebih dahulu, baru ia memberitahukan kabar gembira tadi kepada Taehyung dan Jungkook.

Jimin segera mencari alat berkabel yang biasa ia gunakan untuk memberi makan handphonenya. Setelah menemukannya, Jimin segera mencolokkan ujung kabel hitam itu ke sebuah lubang yang telah tersedia disalah satu sisi handphonenya dan membiarkan benda persegi panjang tipis itu istirahat sejenak.

Jimin melirik kea rah Taehyung dan Jungkook yang masih asyik bermain PSP. Bahkan terkadang mereka saling menendang satu sama lain dengan tujuan mengalihkan perhatian lawan mereka. “Taehyung-ah! Jungkookiie! Hentikan itu sekarang! Ayo kita ke basecamp!” seru Jimin yang tidak digubris sama sekali oleh dua namja yang sudah masuk ke dalam dunia mereka.

“YAK! KIM TAEHYUNG! JEON JUNGKOOK!”

“Haishh, Park Jimin! Kenapa kau ribut sekali sih?! Bagaimana kalau aku kalah dari Jungkook nanti?!”

“Biarkan saja. Memangnya aku pikirin?”

Jimin mendesah berat. Jimin pikir dengan berteriak, kedua manusia ini akan merasa terganggu dan menghentikan permainan mereka lalu mendengarkannya agar mereka bisa langsung ke basecamp. Tapi hasilnya, NOL besar. Mereka tidak mengindahkan teriakan Jimin sama sekali. Poor Jimin…

Namun Jimin masih belum menyerah sebelum Taehyung dan Jungkook menghentikan permainan mereka. Jimin pun melakukan aksi keduanya, yaitu menghalangi pandangan mereka dari televise yang sedang mereka gunakan untuk bermain PSP saat ini. mulai dari menarikan tarian pinggulnya Nonono, berlanjut ke tarian Touch My Body, Up and Down, dan lain sebagainya. Tapi yang didapat Jimin adalah beberapa tendangan dari Taehyung maupun Jungkook, sampai akhirnya kedua namja itu sepakat untuk mengurung Jimin disebuah kamar agar tidak mengganggu permainan mereka.

“YAK! KIM TAEHYUNG! JEON JUNGKOOK! BUKA PINTUNYA!!” teriak Jimin dari dalam kamar itu sambil terus menggedor-gedor pintu kayu malang itu. Sementara diluar kamar tersebut, Taehyung dan Jungkook malah ber-high five ria dan kembali melanjutkan permainan mereka.

“Hayoung sudah keluar dari rumah sakit! Kita harus segera ke basecamp dan membuat pesta penyambutan untuk Hayoung!”

“Yak! Cepat keluarkan aku dari sini, brengsek!”

Sial! Jimin mulai mengeluarkan beberapa umpatan dari bibir tebalnya. Kedua dongsaengnya itu mungkin sudah cukup keterlaluan, mengurungnya didalam kamar hanya agar dirinya tidak mengganggu mereka bermain PSP.

Sementara diluar kamar tempat Jimin dikurung, Taehyung mendapatkan sebuah panggilan di handphonenya dari seseorang. Setelah Taehyung menge-pause  permainannya, Taehyung pun menerima sambungan telepon dari Luhan.

“Yeoboseyo. Ada apa Luhan hyung?”

“Taehyung-ah, bisakah kau ke basecamp sekarang bersama yang lain?”

“Untuk apa?” bukannya menjawab, Taehyung malah mengerutkan keningnya bingung. Melihat hal itu, Jungkook pun juga merasa bingung dengan apa yang sedang hyung-nya bicarakan didalam sambungan telepon itu.

“J-hope belum memberitahumu?” Tanya Luhan keheranan. Ia mungkin berpikir bahwa J-hope sudah memberitahu Taehyung dan lain, namun entah kenapa sampai sekarang mereka belum datang juga ke basecamp.

“Memberitahu apa?”

“Hayoung sudah keluar dari rumah sakit, jadi kita akan membuat pesta penyambutan untuk Hayoung.”

“Ooh, benarkah? Baiklah. Kami akan segera kesana. Sampai jumpa hyung.”

Tuut… tuut…

“Ada apa hyung?” Tanya Jungkook heran, begitu Taehyung menutup sambungan teleponnya dengan Luhan.

“Luhan hyung menyuruh kita ke basecamp. Kita akan membuat pesta untuk menyambut Hayoung karena dia baru saja keluar dari rumah sakit.” Jelas Taehyung sesuai dengan apa yang ditangkapnya tadi dari Luhan.

“Ooh, baiklah. Ayo pergi!”

Mereka pun mematikan permainan mereka yang tadi sempat di-pause dan mematikan televise berlayar 32’ inch itu. Lalu beranjak bangun dari duduk mereka dan melangkahkan tungkai mereka keluar dari rumah yang cukup luas itu. Namun baru setengah jalan menuju pintu utama rumah itu yang akan membawa mereka keluar dan melihat pemandangan yang lebih cerah plus alami daripada dirumah, Jungkook menghentikan langkahnya seakan-akan ada yang menjanggal dipikirannya. Taehyung yang tidak merasakan pergerakan dibelakangnya pun ikut berhenti dan menoleh ke Jungkook yang sepertinya sedang memikirkan seseuatu.

“Ada apa?”

“Aku merasa ada sesuatu yang tertinggal. Tapi aku tidak tahu apa itu.”

Cukup lama mereka terdiam dan memikirkan benda apa yang ditinggalkan oleh Jungkook atau apapun itu yang sepertinya tertinggal didalam rumah. Sampai akhirnya telinga kedua namja itu dapat menangkap sebuah nada dering dari sebuah handphone yang terletak disamping televise tempat mereka bermain PSP tadi, mereka pun menoleh ke handphone itu dan membuat mereka memikirkan satu nama.

“Jimin!”

Ya, hanya satu nama dan satu kata, tanpa ada embel-embel ‘hyung’ didalamnya. Yang sabar ya, Jimin.

Flashback end

“Aku kan sudah meminta maaf.” Ujar Taehyung dengan nada memelasnya kepada Jimin yang tidak mau menolehnya sedari tadi.

“Hyung.” Jimin mengingatkan satu panggilan untuknya yang selalu dilupakan kedua namja yang baru pubertas itu.

“Hyung, aku minta maaf. Aku benar-benar kelupaan waktu itu.” Jungkook pun akhirnya ikut turun tangan setelah mengingat kejadian yang baru saja diceritakan oleh Jimin.

“Yak! bagaimana mungkin kau melupakan hyung-mu ini hah?! Memangnya aku hanyalah sebuah angin yang lewat didepan kalian?!”

“Hyung, kami minta maaf.”

“Shireo! Aku tidak akan memaafkan kalian.” Jimin memalingkan wajahnya ke arah lain. Jimin sudah terlanjur kesal dengan kedua dongsaengnya. Ani, ia sangat sangat kesal dengan Taehyung dan Jungkook yang terkadang mengabaikan dirinya yang lebih pendek dari mereka berdua.

Sementara yang lain hanya menatap Jimin, Taehyung dan Jungkook dengan gusar. Mereka merasa geram dengan ketiga namja itu yang biasanya baik-baik saja dan selalu bermain bersama, kini harus berada pada posisi saling memalingkan wajah dengan perasaan kesal yang terpampang diwajah mereka.

Tiba-tiba Jungkook menepuk-nepuk pundak Taehyung, membuat si empunya menoleh ke Jungkook dengan tatapan ‘ada-apa-?’ kepada namja itu. Lalu Jungkook pun membisikkan sesuatu ke telinga Taehyung. Beberapa detik kemudian setelah Jungkook membisikkan apa yang mau ia katakan tanpa diketahui oleh yang lain, Taehyung membentuk sebuah senyuman miring diwajahnya dan memberikan tatapan ‘kau-pintar-juga-ya-Jeon-Jungkook’ kepada namja itu.

Taehyung yang berada disebelah Jimin pun membisikkan sesuatu ke telinga Jimin. Tak lama setelah Taehyung membisikkan sesuatu yang seperti rahasia ke telinga Jimin, Jimin membentuk sebuah senyuman miring sama seperti Taehyung beberapa menit yang lalu. Jimin meninju pelan bahu Taehyung. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Baiklah, aku memaafkanmu dan Jungkook.”

“Memangnya apa yang Taehyung katakana kepadamu?”

“Rahasia namja.”

j-hope terdiam sebentar memikirkan jawaban singkat Jimin dan kembali dengan sebuah senyuman sumringah diwajahnya. “Yang benar saja? Kau sudah besar sekarang, Jimin-ah.”

“Memangnya ada apa dengan ‘rahasia namja’?” Tanya Namjoo dengan polosnya karena ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Jimin maksud.

“Sudahlah jangan dipikirkan Namjoo-ya. Biarkan itu menjadi ‘rahasia’ mereka.” Ujar Miju memberikan nasihat kepada Namjoo yang masih polos. Biarkan otak yeoja labil ini tetap polos.

“Iya, ayo kita melanjutkan pekerjaan kita.” Ajak Nara sambil menarik Namjoo menjauh dari perkumpulan namja yang sepertinya masih merasa malas untuk bergerak dari posisi nyaman mereka (mager…).

Tidak lama kemudian, sebuah pintu sengaja dibuka oleh seseorang menyebabkan sebuah suara derit yang dapat didengar oleh semua orang yang berada di ruangan itu dan membuat mereka semua menoleh ke arah dua namja tinggi – Chanyeol dan Sehun yang baru saja memasuki basecamp tersebut.

“Ternyata kalian semua sudah berkumpul ya?”

“Tentu saja. Kenapa kau selalu saja terlambat Sehun-ah?” tanya Luhan yang hanya dibalas cengiran jahil oleh Sehun.

“Mian hyung. Ada sedikit kendala tadi.” Luhan hanya mengerutkan keningnya heran dengan kendala apa yang dimaksud Sehun. Sehun pun mengarahkan dagunya ke Chanyeol yang berada disampingnya sebagai penjelasan singkatnya.

“Memangnya ada apa denganku?”

“Bukan kau, hyung. Tapi noonamu.”

“Tapi kenapa malah aku yang kau tunjuk seperti itu hah?”

“Sudahlah, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita.” Lerai Baekhyung yang tidak ingin mendengar perdebatan antara kedua namja pemilik suara berat itu, berbeda dengannya yang memilik suara yang nyaring.

“Kapan ini akan selesai?” tanya Sehun khawatir, karena ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan Hayoung sendirian dirumah. Ia tidak ingin lagi hal itu terjadi kepada Hayoung karena ia sudah berjanji kepada Hyemi dan dirinya sendiri.

“Kau bahkan belum memulainya.” Jawab Kai kesal

“Hehe.” Sehun hanya menyengir. Dia hanya menyengir seperti mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda dan baik-baik saja dengan itu, tapi nyatanya tidak. Sehun sangat ingin persiapan pesta ini cepat berakhir dan dia akan langsung menjemput Hayoung dirumah.

***

Sementara disebuah kamar bernuansa merah muda dan ungu itu, seorang yeoja berponi dengan surai panjang berwarna blonde kecoklatan tengah menenggelamkan diri kedalam sebuah buku tebal dengan tulisan ‘FISIKA’ yang terpampang jelas di covernya. Namun sayangnya, lama kelamaan yeoja itu – Hayoung merasa kebosanan dengan buku tebal yang sudah lama dibelinya itu terlihat dari dirinya yang beberapa kali memainkan penanya atau menyandarkan keningnya di meja belajar milik Chorong yang dipenuhi dengan aksesoris berwarna merah muda atau pun merah dan beberapa bingkai foto.

Hayoung pov

Bosan. Itulah yang tengah melanda diriku saat ini, seharusnya aku dapat membiasakan diri dengan suasana ini karena aku selalu mengalaminya beberapa tahun yang lalu. Namun pada kenyataannya tidak, karena mereka terutama J-hope oppa selalu menghapus kebosanan itu. tapi bagaimana dengan sekarang? Aku sudah beberapa kali menelpon J-hope oppa dan Namjoo, tapi mereka tidak menjawab panggilan telpon mereka. Memangnya apa yang sedang mereka lakukan? Apakah mereka sangat sibuk sampai mereka tidak bisa menjawab telponku? Sahabat macam apa itu? Padahal aku hanya ingin memberitahu mereka bahwa aku sudah keluar dari rumah sakit, mereka pasti akan senang, apalagi aku.

Tiba-tiba aku merasa tertarik dengan salah satu pigura yang terdiri dari tiga orang anak kecil yang saling merangkul bahu satu sama lain dengan sebuah senyuman bahagia yang terpatri diwajah masing-masing. Mereka terdiri dari satu orang yeoja yang dapat kukenali sebagai Chorong oenni, karena wajahnya yang begitu mirip dengan Chorong oenni yang sekarang. Ternyata sejak kecil Chorong oenni sudah cantik, aku iri. Dan dua orang namja lainnya, namja yang satu dapat kukenali sebagai Chanyeol karena telinganya yang ternyata sudah runcing sejak kecil, namun aku tidak dapat mengenali siapa namja yang satu lagi.

Tapi, tunggu dulu.

Namja itu memiliki mata bulat yang lucu, mengingatkanku pada Kyungsoo oppa. Tanpa kusadari, aku menarik kedua sudut bibirku. Kalau Kyungsoo oppa masih ada saat ini, pasti ia sangat tampan dan membuatku semakin menyukainya. Namja itu hampir mirip dengan Kyungsoo oppa yang pernah kukenal.

Seolma… dia… namja itu…

Heyy, maldo andwae! Namja itu pasti bukan Kyungsoo oppa. Kyungsoo oppa kan anak tunggal, jadi namja itu tidak mungkin Kyungsoo oppa. Tapi…

Ah sudahlah! Aku tidak ingin memikirkan hal itu! Masa bodoh dengan namja itu! Aku tidak mengenalnya, jadi untuk apa aku perduli?!

Aku memundurkan kursi belajar yang kududuki dan beranjak melangkahkan tungkaiku keluar dari kamar ini. Aku terus berjalan tanpa minat ataupun tujuan diatas lantai dengan kakiku yang mengenakan sandal rumahan milik keluarga Park. Hhh… aku merasa kebosanan lagi. Mungkin mengemil sesuatu sambil menonton televisi akan menghilangkan sedikit rasa bosanku. Atau jalan-jalan disekitar sini akan lebih baik daripada hanya termenung dirumah. Kalaupun aku jalan-jalan disekitar sini, aku rasa aku tidak akan terlalu tersesat karena aku sempat memerhatikan beberapa jalan ketika aku dan Sehun pergi kerumah ini. Baiklah, aku harus refreshing sebentar, melihat pemandangan kota Seoul yang padat ini.

***

Still Hayoung pov

Kini rasanya lebih baik. Aku melangkahkan kakiku diantara beberapa orang lainnya yang juga menggunakan jalan setapak ini, namun terkadang aku dibuat iri oleh mereka karena mereka berjalan-jalan bersama teman atau pacar atau keluarga mereka, sedangkan aku hanya sendirian. Aku hanya menyeruput dan menikmati buble tea chocolate yang kubeli beberapa saat yang lalu.

Ramai dan padat. Sudah menjadi ciri khas sebuah negara maju seperti Korea Selatan yang beribukota di Seoul ini. Berbagai gedung-gedung pencakar langit berserakan ditanah berlapis aspal yang kupijaki ini. Ada beberapa taman yang sengaja di buat sebagai penghias di tengah kota. Dan aku juga menikmati semua itu, walaupun tanpa seseorang yang menemaniku.

Entah karena terlalu menikmati semua ini, aku sampai-sampai tidak terlalu fokus dengan langkahku dan menabrak seorang yeoja didepanku, membuatku tidak sengaja menumpahkan buble tea-ku ke baju pink yang dikenakan yeoja itu. yeoja itu pun menoleh ke hadapanku, namun aku malah menundukkan kepalaku karena merasa bersalah.

“Kau pikir apa yang kau lakukan hah?! Ini adalah pakaian mahal!” seru yeoja itu dengan nada yang agak tinggi membuatku tersentak.

“A-aku min-ta maaf. Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Aku gelagapan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kumohon seseorang tolong aku keluar dari sini.

“Yak! Kalau mau meminta maaf, lakukanlah dengan benar!” seru yeoja itu dengan nada yang lebih tinggi dari yang tadi. Mau tak mau, aku pun mendongakkan kepalaku dan menatap yeoja yang baru saja kutabrak dan menjadi korban buble tea-ku.

Namun begitu melihat yeoja itu, aku hanya membulatkan mataku karena terkejut dengan yeoja itu. sementara yeoja itu langsung memiringkan senyumannya setelah juga merasa terkejut dengan diriku yang menjadi pelaku atas bajunya yang basah dan lengket.

“Jadi ternyata itu kau. Kenapa kau selalu saja membuat masalah denganku?” tanya yeoja itu sinis, sementara teman-temannya mulai beranjak ke sisi kanan dan kiriku membuatku semakin ketakutan.

“A-aku m-minta maaf. Kumohon maafkan aku.”

“Kau tidak bisa lari begitu saja setelah merusak bajuku ini. Harganya mahal tau.”

“Aku akan menggantinya berapapun itu. tapi kumohon jangan sakiti aku.” Oh Tuhan, bisakah sehari saja aku dapat merasa bahagia tanpa kehadirannya di hidupku? Aku benar-benar menyesal telah mengenalnya dulu.

“Hey, kau membuatku menjadi orang jahat disini. Padahal aku adalah korban disini.”

“Mianhee.” Ucapku singkat namun penuh dengan pengharapan dan ketulusan, namun yeoja itu malah menghela nafas sinis seolah-olah kata maaf yang baru saja kukatakan adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah ia dengar.

“Kau pikir itu cukup? Kalau kau mau membayar semua ini…” Yeoja itu sengaja menggantungkan kalimatnya dan mengambil satu langkah mendekatiku, lalu ia melanjutkan kalimatnya didepan wajahku. “Ikuti aku.”

Fuck! This gonna be long Sunday.

Tbc

Suprise!

Yey! Aku gak jadi hiatus dua bulan-nya! Tapi  malah jadi hiatus satu bulan. ☹

Apakah ada yang ingin bertanya kenapa aku gak jadi hiatus dua bulan? Kalaupun gak ada yang mau bertanya akan tetap kujawab saja. Sebenarnya waktu itu sekitar tanggal 11 April, aku harus mengerjakan UAMBN yang akan menentukan kelulusanku. Dan hal itu akan dilanjutkan dengan UN yang akan diadakan pada tanggal 9 Mei. Jadi sementara waktu aku memutuskan untuk belajar dengan tenang. Namun karena merasa kebosanan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ff ini.

Ditengah ujian itu, aku menerima beberapa godaan seperti Eunji oenni yang baru debut solo. Oh my god! Eunji oenni benar-benar cantik disana dan lagunya juga sangat bagus. Aku menyukainya!

Dan juga BTS yang baru mengeluarkan sebuah MV dadakan, yaitu Young Forever, yang bikin aku galau setengah mati (alay). Mereka udah berhasil membuatku baper-an pas nonton MV Young Forever, apalagi disaat aku mendalami arti lagunya.

Oh iya, gimana ceritanya? Bagus gak? Sebenarnya waktu mengerjakan part ini, ada beberapa bagian yang aku bingungkan. Apakah aku akan benar-benar menulisnya atau tidak. Tapi semoga kalian semua menyukainya. Ditunggu vote dan comment nya ya.

(ngomong-ngomong, apakah ini pertama kalinya aku mengoceh panjang lebar? Hehehe…)

chorong chanyeol.jpg

Meet Park siblings

lee miju.jpg

Meet Lee Miju

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SOME BODY (Chapter 8)”

  1. Next thor…
    Pnasaran gmna lnjutan 2 brsaudara itu…
    Apa sbenernya slah hayoung sih??
    Kok bnyak bnget yg gk suka hayoung,smpek dbully gtu dia..
    Sehunya juga,jahat bnget sih sm hayoung??
    Next chap 9nya thor..
    Pnasaran nii…

  2. Waaaa,,seruuu!!!
    Hayoung bkalan d’apain itu??
    Ini critanya uda mau nyampek klimaksnya kyknya nii??
    Ntar yg nolongin hayoung biar sehun,trus smua orng bkal tau klau mreka sodara..biar hayoungnya gk dbully mulu,kn kasian…
    Minn,eunji kok cma bntar munculnya??
    Kok skarang ilang lgi??
    Jadiin slah satu karakter donk,ntar biar couple’n ma chanyeol..hehe chanji shipper…
    Lanjut yaa min,uda lma bnget nii nunggu chap 9nyaa…
    Semangat….

  3. Jung author yg cantikk??
    Kpan nii di pos lg chap 9 nyaa..
    Saking pnasaran,Uda kbawa mimpi ajja mrekanyaa..
    Eunji’nya masukn cast lg donk thor,ntar jadi’n couplenya sapa gitu,chanyeol da ya thor..
    Jeball nee,jgn lama” ng’pos nya jung author…

    1. Jung authorr,,uda sminggu lbih nii..
      Kpan dpos chap 9nya??
      Readersmu ini nungguin ampek lumutan loo…
      Jeball jung author,,cepet” dpos yaa..
      Yg smangat yaa nulisnyaa…

  4. knp hayoung harus kluar rumah sih, jd tmbh lagi deh msalahnya….
    bisa gk bikin sehun dan hayoung baikan dlu????
    itu sehun udh brusaha bkin pesta pnyambutan lho…..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s