[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 13)

draftnew

Tittle: DRAFT
by: nakashinine
Length: Chapter | Genre: School life, Friendship, Romance | Rating: T
Cast: Oh Sehun – Bae Irene – Kim Kai – Kang Seulgi
With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak nakashinine yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.

Visit – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

 Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 12]

-13-

Tepat pukul 9 malam, setelah pertemuan itu. Dia mencoba menghubungi anaknya hingga hampir tengah malam. Namun respon baru datang sabtu pagi ini. Anaknya itu menelepon dan bertanya ada apa. Tentu, dia segera meminta Irene pulang ke rumah.

Ini sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Satu jam lagi, dia harus terbang ke Hongkong. Tapi Bae sajangnim tidak berniat beranjak kemanapun sampai anak gadisnya itu menghadap padanya.

Appa? W-we?” Gadis itu sampai di ruang kerja ayahnya dengan perasaan takut, tak seperti biasanya. Jika di tengah kesibukan beliau menyempatkan untuk mengajaknya berbicara, itu artinya ada sesuatu yang serius. Sejak perjalanan dari apartemen Sehun ke rumah, Irene terus mengingat-ingat apakah dia melakukan sesuatu yang bisa membuat ayahnya tiba-tiba memanggilnya seperti ini? Rasanya tidak ada, pikirnya.

Ayah Irene memalingkan wajah dari ponsel. Dia kemudian menghela nafas dan menatap putrinya tajam, “Nilai-nilaimu naik di semester lalu.”

N-nee.” Jawab Irene kemudian menggigit bibir bawahnya.

“Siapa teman jenius yang membantumu belajar itu?” Tanya ayahnya dengan nada santai tapi pasti.

“Eh?” Jantungnya tersentak sedikit. Kenapa ayah tiba-tiba menanyakan hal itu. Irene berpikir sejenak, “Itu…”

“Sehun?” Sahut ayahnya kemudian mengangkat kedua alis, memastikan.

Irene membuka mulutnya terkejut. “Bagaimana –“ Tenggorokannya tiba-tiba kering, bagaimana ayahnya bisa tau? Irene mencoba menebak-nebak, apakah kepala sekolah yang telah melakukannya atau bukan.

“Dia laki-laki, benar?” Sambungnya, membuat jantung Irene kembali berpacu.

Ne. Tapi dia anak yang baik, appa. Dia –“

“Lalu dimana kau menginap selama ini, hm? Orang tua Sehun mengizinkanmu menginap, begitukah?” Sergah ayahnya lagi, tak memberi kesempatan pada Irene.

Irene melipat bibirnya gugup, kemudian menghela nafas. “Tidak, appa. Aku menginap di… Rumah temanku. Yang ada di sekitar tempat tinggal Sehun.” Perasaan bersalah seketika meluas dalam hatinya. Lagi-lagi dia membicarakan kebohongan yang sama seperti yang pernah ia katakan pada kepala sekolah. Jantungnya semakin berpacu karna ia tau, jika hal itu sampai terbongkar. Matilah dia karna sudah berdusta seperti itu.

“Irene,” Bae sajangnim membetulkan posisi duduknya. “Anak temanku bilang, kau begitu dekat dengan 2 siswa populer di sekolah. Aku heran, tidak pernahkah kau tertarik berteman dengan perempuan?”

Irene memalingkan pandangannya ke arah lain, hatinya bergerutu pada anak teman ayahnya –entah siapa, yang sudah memberi tau hal semacam itu pada ayah. “Apa sekolahmu hanya punya murid pintar dari kalangan siswa laki-laki saja? Aku rasa tidak, Irene. Kenapa kau tidak pernah bilang padaku? Dan kenapa kepala sekolah tidak pernah memberitauku?”

Ne, aku minta maaf, appa. Aku yang meminta kepala sekolah untuk tidak memberitaumu.” Ujar Irene pelan. Tidak mau berdebat, kali ini. Namun kalimat ayah berikutnya membuat dia mulai khawatir.

“Aku akan membatasimu.”

Irene menatap ayahnya dengan tatapan cemas, “Membatasiku?”

“Satu semester lagi kau akan naik kelas, benar? Kalau begitu, dapatkan peringkat 10 kemudian jauhi mereka. Aku tidak suka jika anak gadisku bermain dengan laki-laki. Sebelum lulus, kau sudah harus membiasakan diri tanpa bermain dengan mereka.”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya lagi, itu cukup membuatnya kesal. Apa yang salah dengan bermain dan berteman bersama lawan jenis? Mereka berteman dengan normal selama ini, pikir Irene.

“Kenapa kau tidak membiarkanku saja, setidaknya sampai lulus?”

“Peringkat 10, atau pindah sekolah. Dan satu lagi, mulai sekarang. Sebelum jam 7 malam. Kau harus sudah ada di rumah.” Sambung ayahnya tanpa memperdulikan protes Irene.

Appa.” Suara gadis itu mulai bergetar, “Kau adalah tokoh bisnis yang selalu di perhatikan banyak orang. Kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya diabaikan, appa.” Suaranya tercekat, menahan rahang agar ia tidak mengeluarkan segala umpatan yang sudah mengelilingi benaknya saat ini.

Lelaki paruh baya itu diam, memperhatikan perkataan Irene selanjutnya, “Bukan aku yang tidak tertarik berteman dengan perempuan. Tapi mereka yang tidak pernah tertarik berteman denganku. Cuma Sehun dan Kai yang memberiku ruang, appa. Kami beteman dengan baik meski mereka siswa paling populer sekalipun.”

“Irene –“

“Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada mereka? Aku sudah mulai mengurangi kebiasaanku membuat masalah di sekolah. Nilaiku sudah naik sesuai keinginanmu, dan sekarang aku punya teman yang mau menerimaku. Tapi, kau ingin memanfaatkan Sehun hanya untuk peringkatku dan memintaku agar menjauhi mereka begitu saja? Kau tidak pernah tau rasanya tidak di anggap, appa.” Lanjut Irene dengan suara yang semakin gemetar.

Suasana ruangan kerja besar itu lengang sesaat. Setelah menghembuskan nafas, Irene berbalik dan berjalan menuju pintu dengan cepat. Tak berniat mengatakan apapun lagi selain pergi tanpa menghiraukan ayahnya yang berusaha memanggil.

xxxx

Irene menutup pintu kamar rapat-rapat, ia menyalakan lampu seraya memandangi seisi kamarnya yang rapih. Sudah berapa hari dia tidak tidur dalam kamarnya? Semenjak berteman dengan Kai dan Sehun, tempat itu jadi jarang sekali terjamah olehnya. Kaki Irene melangkah gontai menghampiri ranjang, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sana sambil menghembuskan nafas.

Eotteoke?” Gumamnya di atas bantal. Dia mulai berpikir, naik kelas mungkin akan menjadi hari paling menakutkan baginya. Ah, tidak. Hari kelulusan adalah hari yang amat paling tidak ingin Irene alami.

Ddrrt

Tiba-tiba ponselnya bergetar, dengan malas ia pun membukanya dan menemukan pesan dari Sehun.

Sehun: Sesuatu terjadi?

Gadis itu menghela nafas lagi, menatap pesan singkat Sehun beberapa detik. Kemudian membalas.

Irene: Ayah tau kalau selama ini aku bermain dengan kalian.

Sehun: Jinjja? Apa katanya?

Irene: Sampai naik kelas 3 nanti.. Entahlah. Sepertinya aku benar-benar tidak boleh bermain dengan kalian lagi.

Irene benar-benar ingin menangis saat mengetik balasan itu. Dia memajukan bibirnya, kalau Sehun ada di depannya sekarang, bisa dipastikan ia akan merengek sepuasnya seperti anak kecil. Beberapa menit berlalu, Sehun belum juga membalas. Irene mengerutkan keningnya, kemudian mengetik lagi balasan baru.

Irene: Ya! Jawab aku.

Sehun: Aku tidak tau harus jawab apa.

“Aish!” Irene membanting ponselnya kemudian kembali membenamkan wajah di atas bantal.

xxxx

Sehun menatap ponsel setelah mengirim balasan terakhir. Ia tidak bohong, Sehun benar-benar tidak tau harus jawab apa. Pelan-pelan perasaan kecewa menembus dalam dadanya. Semangat untuk bekerja hari ini tiba-tiba luntur karna itu. Dengan malas, ia membuka pintu apartemen, berjalan santai keluar gedung dan menuju café tempatnya bekerja paruh waktu.

Selama perjalanan, yang ada di dalam otaknya hanyalah isi pesan Irene. Entah kenapa, dia mulai takut. Takut jika Irene benar-benar tidak bisa bermain lagi dengannya. Dan lagi, kelas 3 nanti adalah waktunya mereka harus pensiun dari klub dance. Padahal, itu adalah pelarian paling tepat jika Irene benar-benar tidak bisa bermain di apartemennya lagi.

Sehun menggelengkan kepala, kenapa dia harus memikirkan itu. Yang paling penting, mereka masih akan tetap ada dalam satu sekolah sampai lulus.

Setidaknya, itu yang ia harapkan.

xxxx

 

Senin sore itu, semua berkumpul di ruang klub dance. Kecuali Irene. Changmin-ssaem sedang berdiskusi dengan Kai, tentang dia yang belum bisa berpartisipasi langsung dalam latihan. Namun ia akan tetap mempelajari gerakan lewat memperhatikannya terlebih dahulu. Dan tentu saja, Changmin harus memberi space untuk posisi Kai nantinya.

Sementara itu, semua sedang bersiap-siap selagi menunggu. Sampai akhirnya Irene datang. Sehun adalah orang pertama yang menatapnya. Gadis itu masuk dengan wajah kusut, rambut tergerai tanpa ikatan yang biasanya selalu melekat di sana.

Senin kali ini hancur bagi Irene. Tinggal di rumah, membuatnya kembali ke kebiasaan buruk; terlambat. Sialnya, ini senin. Guru killer pagi tadi berhasil menghabisinya dengan hukuman menulis permintaan maaf sebanyak 10 lembar HVS. Belum lagi, ia harus mencari materi presentasi untuk kelompoknya karna hanya dia yang belum bekerja sama sekali dalam kelompok. Lalu Irene harus berada dalam kelas lebih lama di jam pelajaran terakhir untuk mengerjakan tugas yang 2x lipat lebih banyak, karna ia kelupaan tidak membawa PRnya. Tapi, yang terburuk baginya dari semua itu adalah; kehilangan ikat rambut.

Sehun, Seulgi, dan Krystal yang sejak tadi asik pemanasan, memperhatikannya dengan seksama. Irene meletakkan ransel, mengambil baju ganti kemudian masuk ke dalam ruang ganti. Tatapan gadis itu kosong, tapi ekspresinya benar-benar kusut. Terlihat menahan kesal.

Kai masih sibuk berdiskusi dengan Changmin mengenai beberapa ide gerakan yang ia miliki. Agak sulit menjelaskannya jika dalam keadaan kaki yang masih seperti itu.

Gadis itu keluar, tanpa menyadari tatapan Sehun yang baru menyadari bahwa Irene dengan rambut tergerai adalah hal termanis. Tapi itu adalah salah satu hal yang membuat Irene terlihat kalut.

We?” Sahut Sehun ketika Irene sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan memelas.

“Aku tidak bisa menari tanpa mengikat rambut. Ah!” Irene mulai merengek pelan di depan Sehun, kemudian membelokkan tubuh menghadap cermin. Bibirnya maju sedikit, memandangi rambutnya sendiri di hadapannya. Irene tidak bisa jika tidak mengikat rambutnya. Tapi, bukan berarti ia membenci rambut panjang.

Sehun diam beberapa saat, kemudian ia menghampiri Seulgi dan Krystal yang sedang mengobrol sedikit.

“Kalian punya ikat rambut menganggur?” Tanyanya.

Krystal menggeleng, “Aku tidak suka mengikat rambut.”

“Aku ada.” Setelah mengingat-ingat, Seulgi segera menghampiri ranselnya dan mengambil sebuah ikat rambut hitam miliknya untuk Sehun.

Gomawo.”

Irene masih merengek pelan di depan cermin. Dia benar-benar mendapatkan mood terburuk hari ini. Untuk pertama kalinya, dia lebih ingin pulang ketimbang latihan dance. “Aish.” Desahnya pelan, seraya menunduk, menempelkan ujung kepalanya pada cermin.

Tiba-tiba sebuah sentuhan hangat mulai terasa di belakang kepalanya. Ia mengangkat wajah perlahan, dan menemukan Sehun tengah meraih seluruh rambutnya dari depan ke belakang dengan pelan-pelan. Lalu mulai mengikatnya dengan pasti. Di cermin, ia memandangi wajah Sehun yang datar. Jantungnya mulai berdegup kencang.

Suara tepukan dari kedua tangan Changmin-ssaem memanggil semua anggota untuk berkumpul dan memulai latihan. Sementara Irene masih menatap Sehun lewat cermin di depannya, lelaki itu hanya menoleh ke arah sumber suara pelatihnya. Setelah dia selesai mengikatkan rambut Irene dengan semampunya, Sehun segera menghampiri semua orang tanpa mempedulikan Irene yang kini hanya mematung.

Gomawo.” Bisik Irene pada dirinya sendiri, kemudian tersenyum.

Sore itu semua orang mulai berlatih satu-persatu gerakan yang sudah Changmin dan Kai rencanakan bersama. Meskipun Kai sendiri masih harus duduk manis memperhatikan. Suasana ruangan itu tampak lebih serius dari biasanya. Setiap anggota dalam tim kompetisi itu benar-benar melakukan yang terbaik bahkan hanya untuk latihan. Jelas saja, ada waktu sekitar 2 minggu lagi kompetisi dance babak ke dua.

Tapi di sisi lain, Kai tampak tidak terlalu fokus pada Changmin-ssaem. Matanya melirik Seulgi beberapa kali. Adik kelasnya itu begitu mudah belajar dan memahami. Benar-benar mengangumkan, pikirnya.

Seulgi bersyukur. Hari ini datang tanpa secanggung yang ia bayangkan. Sejam yang lalu, dia dan Krystal adalah anggota yang paling awal datang. Sunbaenya itu dengan santai mengajaknya mengobrol, memberi reaksi antusias karna bisa kembali latihan. Mantan kekasih Kai itu sangat santai menanyakan hubungan Seulgi dengan Sehun dan Kai. Bertanya apakah dia sama sekali tidak menyukai salah satu di antara keduanya, membuat Seulgi terkekeh. Bahkan, sesuatu hal yang mengejutkan. Saat situasi hanya berdua satu jam yang lalu, Krystal meminta maaf padanya. Karna pernah bersikap kasar hanya karna seorang Kai. Meski Seulgi sendiri tidak tau, dan tak ingin mencari tau apakah Krystal masih menyimpan perasaan pada Kai atau tidak. Namun, kini justru berada dengan Krystal lebih nyaman ketimbang dengan Kai. Itu Jelas.

Hampir satu jam berlalu, Changmin memberi break untuk anggotanya. Kemudian kembali membicarakan gerakan yang harus di perbaiki bersama Kai.

Kini Sehun dan Irene berada di kantin sekolah yang masih buka. Mencari sesuatu yang segar untuk di beli, juga membelikan minuman-minuman pesanan teman-temannya.

Irene jongkok, mencari minuman kesukaannya di jajaran bagian kulkas paling bawah. Sambil menghembuskan nafas.

“Sehun-ah,” Sahutnya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari kulkas.

“Hm?”

“Aku harus mendapat peringkat 10 di akhir semester ini.” Setelah menemukan yang dicarinya, Irene berdiri dan menghampiri Sehun yang sedang menampung beberapa botol di pangkuan lengannya.

“Peringkat 10?” Balas Sehun, lalu berjalan menuju kasir bersama Irene.

“Ya. Itu pasti lebih sulit dari sekedar mengambil posisi 20.  Aku tau, orang-orang dalam 10 besar adalah orang-orang yang saling kejar-kejaran dan tak pernah keluar lebih dari peringkat 10, benar? Bagaimana aku akan menggeser setidaknya satu orang saja?” Suara Irene menurun, terdengar frustasi di telinga Sehun.

“Sepenting itukah peringkat bagi ayahmu?” Lelaki itu mengeluarkan dompet, membayar semua minuman itu dengan uang yang sudah dikumpulkan dari ketiga temannya. Kecuali milik Irene, tanpa di sadari gadis itu, Sehun telah membayarkannya untuk Irene. Setelah membayar, Sehun membawa kantong keresek itu dan mulai berjalan menuju kelas dance dengan Irene di sampingnya.

“Tak ada pilihan yang menyenangkan yang ayah beri. Dapatkan peringkat 10 lalu jauhi kalian. Atau tidak mendapat peringkat 10 berarti pindah sekolah. Dia benar-benar berubah. Dia bukan ayah yang aku kenal saat dulu.” Suara gadis itu semakin muram.

“Dapatkan peringkat 10. Yang terpenting kau masih di sekolah ini. Benar?”

Irene mengangguk pelan, “Kau benar. Tapi, aku ingin bersama kalian sampai lulus.”

Tangan Sehun bergerak, menepuk puncak kepala Irene dengan lembut, “Kita akan bersama sampai lulus.”

Gadis itu menoleh, memberi tatapan memelas pada Sehun.

“Atau kau akan ikut denganku ke universitas yang sama?” Sambung Sehun, dengan suara bergurau. Irene tertawa kecil dan mengangguk cepat.

“Aku inginnya sih begitu, Hun. Tapi itu tidak mungkin. Ayah tidak akan membiarkanku dekat-dekat dengan kalian lagi.” Irene tersenyum getir.

Sehun bergumam, menggaruk kepalanya dengan telunjuk sambil sedikit berpikir, “Apa salahnya berteman dengan laki-laki? Ayahmu juga kan laki-laki. Dia aneh sekali, ya.”

xxxx

Krystal menghampiri kursi Kai setelah melihat Changmin berjalan menjauh. Gadis itu melipat tangannya di dada sambil memandangi kaki Kai.

We?” Tanyanya.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, “Sampai kapan kakimu seperti itu?”

“Entahlah. Mungkin 2 sampai 3 hari lagi. Kenapa? Kau kangen, ya, ingin melihatku ngedance lagi?” Gurau Kai sambil menyengir jahil.

Krystal memutar bola matanya, “Cih.”

Beberapa detik kemudian, Sehun dan Irene masuk. Lelaki itu mendekati mereka, menyodorkan sekeresek pesanan teman-temannya setelah ia mengambil 2 botol minuman dingin. Sehun kembali menghampiri Irene yang kini duduk di tengah lantai. Setelah membukakan tutup botol untuk gadis itu, dia ikut duduk di hadapannya.

“Kau bisa kabur, sekali-sekali.” Usul Sehun pelan, kemudian meneguk isi botol miliknya.

Irene memajukan bibir, “Mulai sekarang, dia pasti akan menyuruh orang untuk memperhatikanku apakah aku melanggar perjanjian atau tidak. Itu akan sulit.” Kepalanya menggeleng pelan kemudian meneguk isi botolnya dengan cepat.

Tanpa keduanya sadari. Kini Seulgi, Krystal dan Kai tengah memperhatikan mereka. Kai dan Seulgi mungkin sudah terbiasa. Tapi Krystal, wajahnya menjadi satu-satunya yang paling berekspresi heran. Gadis itu meraih dagunya sambil memiringkan kepala, “Heol. Apakah perasaanku saja atau mereka memang seperti orang pacaran sejak tadi?”

Kai yang duduk di sampingnya, tak menjawab. “Apa mereka pacaran?” Krystal menoleh cepat, bertanya dengan nada amat penasaran. Alisnya kini bertautan, memandangi Kai dengan tak percaya.

“Tidak. Kau jangan pernah menanyakannya lagi padaku. Tapi mereka memang benar-benar tidak saling menyukai. Mereka-ha-nya-te-man. Oke?”

Krystal kembali memandangi kedua makhluk itu. Sehun dan Irene terlihat seolah-olah dunia ini hanya ada mereka berdua. “Astaga. Bagaimana bisa? Jika aku ada di posisi Irene, aku akan jatuh cinta berat pada Sehun.” Kepalanya kembali bergeleng-geleng tak percaya.

Kai terkekeh pelan, “Kalau begitu kau tinggal jatuh cinta padanya saja, Krystal.”

“Aih. Itu tidak mungkin.”

We? Kau masih belum move on dariku, ya?” Guraunya kemudian tertawa lebar.

Gadis itu menoleh kembali pada Kai, kemudian terkekeh. “Cih. Kau ini.. Geer sekali, sih. Astaga.”

Tidak hanya Seulgi, Kai, bahkan Krystal yang beberapa kali memperhatikan kedekatan Sehun dan Irene. Hampir kebanyakan penghuni sekolah pernah memperhatikan dengan seksama, dan mempertanyakan pertemanan mereka. Namun keberadaan Kai selalu menjadi alasan banyak orang untuk bertahan dalam keyakinan bahwa Sehun tidak menyukai Irene sama sekali, begitupun sebaliknya. Mereka berdua dan Kai hanyalah teman. Semua orang tau itu.

Meski, pada kenyataannya. Sehun mencintai Irene dengan segala kesederhanaan yang ada pada diri Irene. Dan tak satupun orang bisa menyadarinya, termasuk akal Sehun sendiri. Kai yang sudah terlalu terbiasa dengan kedekatan mereka berdua pun bahkan tak bisa menerima kenyataan bahwa perasaan itu benar-benar ada di antara kedua temannya. Semua orang terlalu naif untuk sekedar menerima fakta bahwa sikap saling peduli Sehun dan Irene bukanlah sekedar hanya karna teman. Semua orang pastilah lupa, atau mungkin bahkan tidak memahami, bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa selamanya hanya berteman.

xxxx

“Aku akan pulang kerumah,” Pamit Irene ketika mereka bertiga sudah berada di depan gerbang sekolah.

We? Tumben sekali.” Balas Kai heran.

“Nanti kujelaskan.” Sahut Sehun. “Tapi, Irene. Bukankah masih ada 2 jam lagi sebelum jam 7?”

Irene menghembuskan nafas, “Tidak bisa. Kalian tau sendiri, aku akan lupa waktu jika sudah ada di sana. Lagipula, hari ini cukup hancur. Aku ingin segera tidur.”

Sehun dan Kai diam tak menyahut, baru kali ini mereka melihat Irene tak sebergairah itu. “Sudah, ya. Aku duluan.” Setelah melambaikan tangan sambil tersenyum tipis, Irene segera berbalik dan meninggalkan kedua temannya yang tak memberi balasan apapun.

Gadis itu berjalan lunglai menuju halte. Beberapa kali kepalanya menoleh kebelakang, menatap jalan menuju rumah Sehun beberapa detik sambil terus berjalan. Ah, keluhnya dalam hati. Hari yang cukup menyebalkan. Entah kenapa, saat ini perasaannya merasa tidak yakin, apakah hari-hari selanjutnya akan lebih baik?

Ketika kakinya hendak berbelok, ia terkejut tiba-tiba seorang Kim Junmyeon kini tepat berdiri di depannya sambil tersenyum dan mengangkat sebelah alis.

“J-Junmyeon?” Gumamnya.

“Kau tidak pulang bersama Sehun hari ini?” Tanyanya dengan senyum menyindir. Irene mencium bau-bau tidak enak dalam pertanyaan Junmyeon. Ia benar-benar malas menanggapi. Gadis itu hendak mengabaikannya dengan melangkah ke sisi lain, namun lelaki itu ikut menggeser tubuh dan kembali menghalangi jalan Irene.

Dia melipat tangannya di depan dada, “Jika kau memang tidak ada urusan denganku, minggir dari jalanku. Kim Junmyeon.” Sahut Irene ketus.

“Jika aku memang tidak ada urusan denganmu, untuk apa aku ada disini? Bae Irene.” Balas Junmyeon tak kalah ketus.

“Kalau begitu, bicaralah. Jika dalam 5 detik kau tidak mengatakan apa urusanmu padaku. Aku akan –“

“Ikut aku.” Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya lagi.

Tak berapa lama kemudian, keduanya sudah duduk di sebuah kedai kopi di sekitar halte. Duduk bersampingan di meja panjang menghadap jendela besar kedai. Irene menatap cangkir di depannya dengan malas. Ia bersumpah, dia tak punya niat sama sekali untuk menyentuh secangkir kopi yang di pesankan Junmyeon untuknya itu.

“Cepatlah. Sebelum seseorang melihat kita dan berpikir bahwa aku sedang mengencanimu.” Sahut Irene.

Lawan bicaranya terkekeh sambil mengeluarkan ponsel, “Aku tidak akan lama, sebenarnya. Itu tergantung pada kesepakatan yang akan kau ambil.”

Irene berdecak sebal, kalimat Junmyeon barusan benar-benar rumit untuk dipahami.

“Jadi, kau benar-benar tinggal bersama Sehun di apartemen?” Pertanyaan yang keluar dengan begitu lancar itu mengejutkan Irene, dan lebih dari itu. Ketika ia menoleh cepat pada laki-laki yang duduk di sampingnya, Junmyeon kini tengah mengangkat ponsel di depan wajahnya dan memperlihatkan sebuah foto ketika Irene dan Sehun masuk ke dalam gedung apartemen bersama. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dalam kondisi panik seperti itu, anehnya akal Irene berputar lebih cepat dari biasanya. Dia mengangkat tangannya, untuk sekedar merebut ponsel itu namun pemiliknya berhasil menghindar dengan cepat. Membuat Irene kembali berdecak kesal.

“Kau adalah anak teman ayahku? Dan kau orang yang sudah memberitaukan kedekatanku dengan mereka padanya? Benar?” Tanya Irene. Suaranya sedikit berat menahan emosi.

“Mari kita bicarakan topik intinya dulu, Irene.” Balas Junmyeon santai. Masih dengan senyum puas di wajahnya, ia menarik ponselnya kemudian menggeser layar beberapa kali. “Ini rekaman cctv yang aku dapatkan dari salah satu cctv di depan gedung apartemen. Dan aku sudah mempercepatnya agar kita tidak usah membuang banyak waktu hanya untuk menonton hal seperti ini.”

Tangan Irene mengepal saat melihat rekaman ketika Irene, Sehun dan Kai masuk ke dalam gedung itu. Video kemudian berjalan dengan lebih cepat, melewati menit-menit saat Kai pulang pada malam harinya. Dipercepat kembali sampai pagi harinya, dimana dia bersama Sehun keluar dari sana bersama. Ceroboh sekali, gerutunya dalam hati.

Irene ingin membentak orang itu, namun tidak mungkin di tempat seperti ini. Jadi dia kini menatap Junmyeon dengan amat tajam, “Apa maumu?”

Ujung bibir kanan lelaki itu terangkat sedikit, “Tak kusangka, kau cepat mencerna juga ternyata.” Balasnya kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Apa kau tau? Peringkat nilai itu tidak hanya ditentukan dari nilai ujian dan nilai-nilai harian lainnya.”

“Cepat katakan apa yang kau mau Junmyeon-ssi.” Pekik Irene tak sabaran.

“Ah, baiklah. Aku ingin nilai UTSku nanti menjadi yang paling tinggi. Hm, sebenarnya nilai ujianku selalu hampir sama seperti Sehun. Maka dari itu, aku ingin namaku harus naik ke peringkat 1. Bisakah kau atasi itu?”

Kepalan tangan Irene mendebrak meja pelan, namun suaranya cukup mengundang tatapan-tatapan penghuni di sekitar mereka, “Lalu kau pikir apa yang bisa aku lakukan untuk itu, ha? Sedangkan aku sendiri saja amat susah payah untuk naik peringkat.”

“Buatlah agar poin-poin nilai Sehun dikurangi. Sejak dulu, kau adalah jagonya membuat pelanggaran. Jadi aku yakin, kau bisa membuat Sehun seolah-olah melakukan pelanggaran dan membuat dia mendapat poin minus.”

Irene menggelengkan kepalanya pelan, menatap Junmyeon dengan tak percaya. Itu benar-benar kotor. “Lalu jika aku tidak mau melakukannya?”

“Aku siap melaporkannya pada kepala sekolah.” Jawabnya santai seraya menyeruput isi cangkirnya perlahan.

Irene terkekeh meremehkan, “Kau pikir aku sebodoh itu, oh? Mengikuti permintaanmu atau tidak mengikutinya sama saja akan menurunkan peringkat Sehun.”

“Tepat sekali! Tapi, sadarkah kau bahwa aku sedang memberimu pilihan yang cukup berat?” Sebelah alis Junmyeon kembali naik. “Peringkat Sehun turun karna kau yang membuatnya mendapat poin minus. Atau,” Lelaki itu menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum kecut, “Manjatuhkan prestasi Sehun dengan membongkar rahasia bahwa kalian tinggal bersama di apartemen? Kau tau betul, Irene. Itu akan menjadi masalah besar jika semua orang tau.”

“Aish jinjja.” Irene menarik nafas. Amarahnya kini benar-benar memuncak. Rasanya tangannya sudah sangat gatal ingin meninju laki-laki picik di dekatnya detik itu juga. “Aku hanya menginap di rumah seorang teman, dan tidak melakukan apapun. Tapi kau memanfaatkannya hanya untuk hal kotor semacam ini? Kau benar-benar gila tahta, ya.”

Lelaki itu tak menghiraukan kalimat Irene, “Ada waktu kurang dari 3 bulan sebelum UTS, Bae Irene. Jika sampai menjelang UTS, kau masih belum membuat Sehun melakukan pelanggaran, itu artinya –“

Geurae! Beri aku waktu untuk berpikir. Dan jika kau mendapatkan kabar Sehun sedang membuat pelanggaran, maka detik itu juga kau harus menghapus semua file itu.”

“Menghapus? Kau pikir, aku akan membiarkanmu setelah UTS, hm? Masih ada 2 setengah semester lagi sebelum lulus, Bae Irene.” Balas Junmyeon masih santai, merasa amat puas.

“A-apa kau bilang?” Ucap Irene semakin tak percaya. Dia menggelengkan kepala lagi, “Kau benar-benar licik, ya. Aku tidak bisa melakukan itu sampai lulus, dasar sinting!”

“Terserah kau saja.”

“Eugh!” Gadis itu mulai muak. Ia segera berdiri, dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun sebelum kakinya benar-benar melangkah, Irene mengangkat telunjuknya, “Aah. Aku hampir lupa.” Jarinya kini mendekat ke arah wajah Junmyeon, “Kau? Jangan bilang, kau juga orang yang memoto Sehun dan Seulgi?”

Untuk kesekian kalinya, lelaki itu mengangkat ujung bibirnya sambil mengedikkan bahu, “Bukan sepenuhnya salahku. Kalian semualah yang terlalu ceroboh dan naif.”

Bukk!

Sebuah pukulan berhasil mendarat di pipi Junmyeon dengan mulus. Lelaki itu meringis sambil menyentuh ujung bibirnya yang berdarah, kemudian menatap Irene yang kini tersenyum kecut.

“Itu untuk dendam Sehun dan Seulgi yang tidak punya salah apapun. Tunggu saja, jika kau berbuat ulah lagi. Seluruh wajah memuakkanmu itu takkan selamat.”

“Itu menyakitkan.” Balas Junmyeon, kembali dengan senyum terkecutnya.

xxxx

Irene masuk ke dalam rumah dengan lagkah kesal. Ia segera membuka kulkas dari dapur dan meneguk sebotol air es dengan brutal. Nafasnya terengah-engah, menahan emosi seperti habis lari belasan kilometer. Firasatnya benar, sepertinya hari selanjutnya tidak akan menjadi hari yang lebih baik dari hari ini.

Ayahnya dan Junmyeon sama saja. Sama-sama memberinya 2 pilihan yang sulit. 2 pilihan yang keduanya sama-sama tak menguntungkan.

Gadis itu berjalan cepat menuju kamarnya, mambanting pintu kemudian duduk di tepi ranjang dengan perasaan kalut.

“Sial!” Gerutunya. Kenapa manusia semacam Junmyeon harus ada di dunia ini.

Ia tiba-tiba teringat penjelasan Sehun mengenai orang-orang osis. Ada apa dengan dunia ini? Pikir Irene. Orang seperti Junmyeon pasti berhamburan di sekolah tanpa disadarinya. Lantas apa yang akan terjadi pada Sehun jika semua orang dalam osis berebut tempat ingin di posisi teratas? Pikirnya cemas.

—To be Continued—

Astogeh aku sayang suho aku sayang baekhyun. Kenapa aku bikin mereka sesat begini? Wkwkwk :v Maafkan aku karna gak bikin chapter sepanjang sebelumnya hehehe. Don’t forget saatnya bertransformasi meninggalkan jejak ayee~

tengkyuh

49 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 13)”

  1. masalah yang satu ini sedikit nyebelin, dan ah sehun ngiketin rambut irene, sweet banget. semakin kesini gue suka sama ceritanya, mskipun kadang gereget karna mereka gak saling peka satu sama lain. lu bener2 berhasil ngaduk2 perasaan gue thir hihi
    fighting ya 😀

  2. Aduhhj gmn nih jangan donggg kasihan sehun kan kalau nilainnya turun, irene kasihan harus memilih pilihan yang sulit😭😭 dasar suho jahat banget sihhh . Semangat ya buat lanjutny , thank you!!

  3. Suho si guardian angel-nya exo disini berperan sbg holang jaad hhmm menarik thor. Konfliknya juga bagus thor bikin greget. Jangan sampai hubungan HunRene ancur gegara si bad junmyeon! Ga bisa brenti thor buat baca chapter selanjutnya. Daebak!!!

  4. Terkutuk kau Kim Junmyeon! /ga ding/ :v ih licik beneran deh. Greget, ngeselin, minta dicium /hah?/
    Kasian Irene, beneran. Anak seceria dia jadi mrengut seharian gara-gara bapaknya ditambah Junmyeon yang makin ngeselin tingkat akut.

  5. Oh GOD!!! Suho nya nyebelin ya :”
    Pdhl suho ma bias kedua abis sehun wkwk
    Kerenlah :”
    Sedih bgt rasanya jd irene :”
    Keren! Mau lanjut baca selanjutnya deh wkwk

  6. Authornim…
    Aku baru kemarin nemu ff daebak ini..
    Jadi aku bacanya marathon..
    Dan..
    Mianhae… 😢
    Aku cuma komen di part 13 ini…
    Mianhae.. Mianhae thornim..
    Bukan maksud jadi siders, tapi ffnya udah di part 13, jadi sekalian aja ya thor aku komennya disini#plakk
    Mianhae…
    Tapi ffnya bener bener daebak thor..
    Fighting ne, authornim!!!

    1. Gapapa saaay hohoho😁 selamat datang di ff absurd ku wkwk thanks yaaa hihi fighting 😁

  7. Ih sumpah ya rada greget sndri baca part ini -_- gak ayahnya irene gak joonmyeon pada bikin pusing-_- Udaahh semunya pindah sekolah aja -_- kalau lama2 kyk gini mah pngen garuk tembok (?) melulu jadinya… next deh thor, penasaran sm kelanjutannya pngen tau juga gmn cara irene menyelesaikan mslh ini, keep writing author 🙂

  8. Iyaloh astogeh bingo, ngpa bang joonmyeon jd gila peringkat begono? Klo airin mw bejek2 tuh orang gw bantuin deh, aigoo
    Ciecieee cinta berawal dr nyaman satu sm lain lhoo sehun ssi… Wkwkwkw

  9. Suho membuat suasana tegang 😑 Pengen dah gue aduin si Suho sama bokapnya biar gak suka ngerusak hubungan orang 😬 Ah.. SehunIrenya jangan pisah dong, tuh Sehun udah jatuh cinta ke Irene. 😉 Next kak, fighting!

  10. Suho oh Suho mengapa engkau licik? Setiap ff HunRene pasti si Suho lah pengganggunya. Ah.. Andaikan Irene dan Sehun jadian ya.. Next kak fighting! 😉

  11. ih suho jahat bgt deh….licik tau….
    eh aq baru baca prolognya hari ini.
    trnyata cerita ini flasback ya?
    jadi nanti akhirnya irene mlanjutkan study di amerika gitu…
    dan sehun apakah dia jg blum mnyadari perasaannya smpai lulus nanti?
    apa dia udh mngungkapkan perasaannya pada irene sbelum irene berangkat ke amrik?
    gimana nih kisah mreka selanjutnya,, apa nanti mereka bisa bersatu kmbali stelah 3th tidak brtemu?????

    1. Akhirnya ada yang ngeuh sama prolognya setelah sekian lama wkwkwkwk(?) thanks ya selamat menunggu kelanjutannya 😂

  12. Suho oppa mukanya doang polos astajim… -_- authornya kenapa??? di bagian awal chapter 13 agak pahit sepahit jamu di bagian tengah berasa manis banget kadar insulin di tubuhku meningkat cepat karna liat HunRene story semanis gulaku 🙂 eh di bagian akhir insulinku turun dengan drastis liat HoRene yang storynya kaya minum air yang berisi buah angsana -_- :(. Tapi thank udah di update… 🙂 keep writing thor (y)

  13. Chapter kali ini bener” bikin emosi deh.. kasian irene am,sehun hiks
    Tp bagus thor jd ngk monoton critanya,,,
    Lanjut ya thor n jgn kejem” sm irene n sehun ya, aku nanti tak kuasa yg baca hahaha
    Next chapter ,,,,

  14. diihhh pengen bgttttt mukul suho tuh

    kan dari awal cerita irene ke Amerika

    berarti irene ga dapet peringkat 10 dong atau gimana yah ?? penasaraaaannnnn

    lanjuuuuttttt thoooorrrrrr fighting !!

  15. Doh. Rasanya pngen bgt mukul suho ck. My patcharrr eaaakkk sian kn. Jrg2 ad crta sehun pinter peringkat satu haha. Irene pasti bisa ambil keputusan yg bnr kok.

    Semangay lanjutinnya thor. Bnyakin moment hunren aww.. Gue melting wktu sehun nguncirin rambut irenee aww awww aq scream scream nich. Ggg *njs alay*

  16. Appa-nya irene ama si sujo bener” ngeselin, mintak dijitak tuh orang…😂
    Kristal, maksud kai hanya te-man itu hanya teman tapi mesra, gitu loh..😄
    Adegan sehun ngikat rambut irene jadi inget adegan yoo si jin ngiket rambut kang mo yeon di urk. 😂 (*cielah, inget drakor descendants of the sun ini mah shaekiran -nya..😂😂)
    Next kak, hwaiting!!😄

    1. Wkwkwkwkwkwkwkk awalnya acara ilang iket rambut tuh emang udah ada dri awal, tapi pas liat dots, jdi di masukin deh adegan itu nya. Lol 😂

  17. Pertama! Lebih fokus ke konflik ya chapter ini? Jadi moment HunRene atau KaiSeulnya di kurangin, tapi gapapa. Suhonya jangan dibikin kejam banget ya, noona. Susah bayanginnya^^

    1. Wkwk thanks riku siap siap aja buat kedepannya aku lagi fokus konflik huahahahahahahah :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s