[EXOFFI FREELANCE] Promise From You (Chapter 4)

Promise From you poster 2

A FanFiction made by Riku. And also, the length is Chaptered. EXO’s Kai as the lead male and Red Velvet’s Seulgi as the lead female, supported by EXO members, Red Velvet members, Twice members, and last, NCT U member as an additional cast. Romance, Life, School-Life as the genre, so i will take you to my imagination world. And because of that, this is ratedPG-16.

DISCLAIMER!

Inspired by IRISH noona, i create this fanfiction, pure from my brain. With the BASIC from many stories, dramas, and fanfictions i made this fanfiction. If you find a similarity storyline, it was just a few, the storyline in my brain is same. But the whole story of my own. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. I just BORROW the name.

EXO, Red Velvet, Twice and NCT U Members belong to their real-life.

“Aku harus mengantarmu pulang…”

In Kai Side

Pagi yang sejuk serta dingin menghampiri kota Seoul pagi ini. Jam ditanganku menunjukkan pukul 06:29 pagi hari waktu Korea Selatan. Entah apa yang membuatku begitu ingin datang ke sekolah sepagi ini dan melangkahkan kedua kakiku menuju atap sekolah. Atap sekolah, dimana tempatku biasa berkumpul bersama Sehun, Irene, Baekhyun, dan Chanyeol. Kami bersahabat sejak kami kelas 1 dan menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul kami.

Aku memejamkan mataku menikmati hembusan angin yang datang melewatiku, membuat ingatanku berjalan mundur ke beberapa hari yang lalu.

BRAK!

“Woah… yeoja ini benar-benar keras kepala. Baiklah, aku akan menunggumu di sana. Buatlah konsep yang menarik dan bisa mengalahkanku. Aku ingin buktikan apakah ucapan Sehun tentangmu itu benar atau tidak.” 

Aku menatap pintu ruang dance yang baru saja di tutup dengan keras oleh Seulgi. Yeoja tidak berperasaan, jika aku menjadi pintu itu aku akan mendatanginya dan memarahinya. Untung saja pintu itu kuat. Aku tertawa, sepertinya aku akan berlama-lama berada di dekatmu. Sungguh, kau mempunyai aura yang membuatku ingin terus bersama denganmu dan melihat apa yang sebenarnya ada pada dirimu.

Sepertinya Sehun benar tentang dirimu, ada hal yang membuatmu menjadi seperti ini, meskipun kau terlihat sangat pendiam dan tak acuh kau mempunyai kehangatan di dalam. Seperti saat kau tersenyum di pelajaran minggu kemarin. Kkk, kau membuatku lama-lama menjadi gila, Kang Seulgi.

Aku tersenyum saat mengingat itu, rasanya sangat menyenangkan ketika ia cemberut atau marah. Sungguh, itu selalu teringat di kepalaku dan aku tak bisa untuk tidak tertawa. Kang Seulgi, mungkin ini terdengar aneh tapi kau benar-benar sudah meracuni diriku.

“Sebaiknya kau punya penjelasan yang baik agar aku tidak memukulmu karena sudah menyuruhku datang ke sini sepagi ini, Kim Jong In.” Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Baekhyun yang berjalan ke arahku dengan muka yang masam.

“Kemarilah, kau baru saja sampai. Biarkan angin menghapus keringatmu yang sudah bercucuran itu.” Baekhyun hanya mendengus kesal dan mencibir yang membuatku terkekeh.

Aku mengalihkan pandanganku menuju gerbang pintu sekolah, dari sini aku melihat beberapa siswa yang datang dan masuk ke sekolah. Beberapa siswa yang datang bergerombol, siswi perempuan yang bergossip sambil menuju ke kelas mereka, dan anak-anak yang menggunakan sepeda untuk datang ke sekolah ini. Para siswa kaya yang menaiki mobil pun tak luput dari pandanganku.

“Tak biasanya kau datang sepagi ini, Kai. Dan tak biasanya juga kau datang ke atas sini pagi-pagi. Biasanya kau akan ke dance room jam segini.” Baekhyun berbicara saat ia sudah berada di sebelahku.

“Entahlah, aku hanya saja ingin… kesini entah kenapa.”

“Kau menjadi aneh semenjak dikalahkan oleh Seulgi. Apakah separah itu?” Aku tersenyum.

“Benarkah? Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi padaku.”

“Hei, Kim Kai. Jangan bilang kalau kau…” Baekhyun menatapku penuh dengan selidik.

“Tidak. Aku tidak menyukainya. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Hanya bertanya. Aku hanya heran, karena kau bersifat aneh akhir-akhir ini.” Ucapnya sambil menatap lapangan sekolah.

“Ah, Kai. Apakah kau menyampaikan salamku pada adikmu itu? Kau memberitahunya kan?” Aku menoleh dan menatap Baekhyun.

“Jika kau menyukai Tzuyu, lakukanlah dengan caramu sendiri. Kau ini laki-laki atau bukan?”

“Yak, aku sudah mencobanya. Hanya saja, dia terlalu datar dan tidak berekspresi. Aku kesal sendiri saat menelfonnya 2 hari kemarin.” Ucap Baekhyun dan mengacak-acak rambutnya.

“Dengar aku, Baek. Tzuyu itu belum tahu apa-apa tentang cinta. Jadi jangan memberikan hal yang sulit padanya. Kau hanya perlu ‘beraksi’. Kau tahu maksudku kan?” Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya dan menempelkan dagunya di pagar.

Aku tersenyum melihat tingkah laku sahabatku ini, dan kembali mengalihkan pandanganku ke arah gerbang sekolah. Aku membulatkan mataku ketika Seulgi datang, bersama orang lain. Bukan Irene ataupun Wendy, tapi seorang namja. Aku terua memperhatikannya yang berbicara dengan namja itu, tersenyum… bahkan tertawa. Apa dia dekat dengan Seulgi?

“Aku tahu kau memperhatikan Seulgi, tapi ekspresimu tidak menunjukkan kebahagiaan. Kau melihat apa?” Aku tersenyum getir mendengar penuturan Baekhyun.

“Baekhyun-ah, kau tahu namja yang ada di sebelah Seulgi?”

“Ah? Dia? Mark Lee, siswa kelas 2A. Satu tim dengan Seulgi di club dance, dan pemain terbaru serta terbaik di club basket.” Aku segera menatap Baekhyun.

“Club dance? Aku tak pernah melihatnya.”

“Itu karena kau selalu datang di saat yang kau mau, dan juga ruang dance itu ada 2. Ruangan khusus untuk tim milikmu saja dan satu ruangan lagi untuk tim biasa, itulah kenapa kau tak pernah bertemu dengannya.”

“Darimana kau tahu?”

“Mark cukup terkenal di kalangan club dance tapi tak terlalu di besar-besarkan seperti Seulgi. Dan kalau tidak salah dia juga menyukai Seulgi. Dia mengikuti event club dance juga karena Seulgi.”

Aku menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya, aku tahu dia Ketua OSIS tapi aku tak tahu kenapa ia bisa mengumpulkan info sebanyak ini. Baekhyun seketika melihatku dan tersenyum.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kenapa bisa aku mengetahui semua ini? Aku cukup banyak mempunyai mata-mata, dan itulah kenapa aku bisa tahu informasi seperti ini. Dan aku selalu yang pertama tahu jika ada yang terjadi di sekolah ini.” Baekhyun tersenyum bangga atas pencapaiannya dan prestasinya, sedangkan aku hanya tersenyum masam membalasnya.

“Kau mengerikan, Byun Baekhyun.”

Dia hanya tertawa dan aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Seulgi dan namja yang bernama Mark itu. Jadi dia menyukai Seulgi? Dengan kemampuannya yang menjadi pemain terbaik di club basket? Apakah kau mau membuat dia jatuh cinta padamu, Mark? Hm, sepertinya aku harus memberimu sesuatu.

“Baekhyun-ah, kau bilang jika Mark menyukai Seulgi. Tepatnya sejak kapan?”

Baekhyun terlihat berpikir sejenak. “Hm, sepertinya saat Seulgi masuk ke tim yang sama dengannya. Aku mendengar jika Mark menyukainya saat itu juga. Cinta pada pandangan pertama sepertinya.”

“Ah, begitu kah?”

“Yap, memang ada apa sebenarnya?”

“Tak apa, hanya ingin bertanya. Oh iya, terima kasih telah menemaniku disini.” Aku memberinya senyuman yang membuatnya tertawa.

“Kkk, sama-sama. Bisakah kita turun? Bel sudah akan berbunyi, aku tak ingin di marahi Bo Young seongsangnim.”

“Hahaha, baiklah. Ayo kita turun.”

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Seulgi Side

Hari ini begitu menyenangkan, moodku sangat bagus dan hari ini Mark membuat hariku menjadi semakin bagus. Dia datang dan mengajakku untuk pergi ke sekolah bersama, rumah kami memang searah. Dan kami berteman di club dance dan satu tim, menyenangkan bisa bersamanya.

“Seulgi noona, apa kau begitu sibuk di kelas 3?” Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“Tidak, menyenangkan. Hanya saja ada beberapa masalah yang datang.” Kami berbicara dan memasukki gerbang sekolah.

“Ah, benarkah? Masalah tentang apa?”

“Percayalah, Mark. Kau tak ingin mendengarnya. Masalah ini tidak cocok untukmu.”

“Eyy, noona. Walaupun aku masih kelas 2 tapi aku sudah dewasa. Dan aku juga cukup membanggakan di tim dance dan berguna di tim basket.” Dia berkata sambil membenarkan jasnya. Dan aku hanya tertawa untuk menanggapinya.

“Lalu, apa benar orang yang sudah dewasa merengek meminta es krim di rumahnya? Dan juga, menangis ketika ada yang menyembunyikan sepatunya?” Ucapku dengan cekikikan dan ketika aku tersadar bahwa di sampingku tidak ada Mark, aku menoleh kebelakang. Dia terdiam disana dan menatapku.

“B-ba-bagaimana kau bisa tahu, noona?” Ucapnya gelagapan.

“Kkk, kemarilah. Aku tidak akan memberi tahu siapapun, kemari.” Ucapku sambil mengayunkan telapak tanganku seraya menyuruhnya mendekat ke arahku. Mark menurutinya walaupun aku bisa melihat dia masih mencibir.

“Noona, kau janji tidak akan memberi tahu siapapun?”

“Aku janji, aku tidak akan memberi tahu siapapun. Termasuk tim dance.” Dia tersenyum.

Kami berjalan kembali menuju ke kelas kami, di koridor sekolah kami bertemu beberapa teman dan beribicara sebentar dan melanjutkan kembali. Di koridor utama aku harus berpisah dengan Mark karena kelas kami arahnya berlawanan. Kami berpisah dan aku segera melangkahkan kakiku ini ke kelasku, berjalan dengan penuh semangat hari ini. Sepertinya, aku akan bahagia sepanjang hari ini.

CKREK!

Aku masuk ke dalam kelas dan melihat belum ada Bo Young seongsangnim datang ke kelas pagi ini. Aku memasang nafasku lega dan segera melambai ke arah Wendy dan Irene yang mereka balas dengan senyuman. Aku berjalan riang ke arah mereka tapi aku langkahku mulai lambat saat melihat namja tak tahu diri sedang duduk di belakang Irene sambil mendengarkan lagu dari headsetnya itu. Bagus sekali, Kim Kai. Kau merusak kebahagiaanku yang baru berjalan sekitar 1 menit. Aku berjalan mendekat dan duduk disampingnya, dia kemudian menatapku dan aku membalas tatapannya.

“Kenapa?” Tanyaku dingin dan datar seperti biasanya, ia hanya diam sambil membuang muka dan aku melakukan hal yang sama.

“Apa kau sudah siap?” Tanyanya yang membuatku menoleh ke arahnya lagi.

“Apa urusanmu? Kenapa kau peduli aku siap atau tidak? Itu bukan urusanmu dan ada apa denganmu? Biasanya kau tidak suka berbicara denganku.” Kataku dengan kemarahan yang sudah lama aku pendam, tepatnya sejak kejadian di dance room.

Dia tersenyum mendengar ucapanku namun segera merubah ekspresinya, sungguh… aku tidak bisa membaca ekspresinya. Apakah dia memang mempunyai kepribadian yang ganda seperti itu?

“Kau membentakku?” Katanya sinis.

Kenapa aku langsung bungkam hanya mendengar ucapan dengan nada tanpa emosi dari namja itu. Aku ingin sekali membalas ucapannya yang menyebalkan itu, tapi dia seperti memiliki aura aneh yang membuat bibirku terasa kelu dan tak berani berbicara dihadapannya. Apa yang terjadi padaku?

“Tidak. Kenapa kau sensitif sekali? Kau kan tidak PMS. Aku hanya merasa kesal denganmu.”

“Aku merasa kasihan terhadap seseorang yang mempunyai kemampuan namun tak tahu cara mengeluarkannya, dan itu adalah hal yang bodoh.” Aku memandangnya dengan serius dan penuh amarah. Apa dia baru saja mengataiku?

“Woah, kau benar-benar namja yang tidak mempunyai hati. Apakah fansmu buta karena menyukai orang sepertimu?” Ucapku tak kalah sinis.

“Hei, namja yang kau baru sebut itu adalah bintang sekolah, apakah kau tidak tahu? Aku membuat sekolah ini terkenal karena dance clubnya.” Aku tersenyum getir mendengarkan bualannya.

“Kau terlalu percaya diri, Tuan Penari. Aku bahkan tak akan pernah mengakui seorang namja yang sepertimu” Ucapku yang membuatnya terkejut, aku bisa melihat itu dari matanya.

Aku terus menatapnya, Kai terdiam dan segera menatapku dengan tajam, aku terkejut mendapat tatapan tajam darinya yang seperti itu. Aku tidak pernah melihatnya, aku hanya mengalihkan pandanganku ke arah yang lain.

“Katakan, apa yang membuatmu tak mengakuiku?”

Aku menelan ludah dan merutuki kebodahanku sendiri, aku mencoba untuk menutupi kegelisahanku ini tapi sepertinya ini tidak berhasil. Aku benar-benar telah mengucapkan hal yang benar benar fatal. Kenapa kau bodoh sekali, Kang Seulgi!? Bagaimana bisa kau mengatakan ini terhadap namja yang menyeramkan ini? Kau harus belajar mengontrol mulut dan emosimu ini. Oh, aku berbohong, Kai. Maafkan aku.

“Kepribadianmu dan Sifatmu.”

“Kaiya, Seulgi-ah. Sudahlah, Bo Young seongsangnim sudah masuk.” Sehun menegur kami berdua, tetapi aku masih menatap Kai dengan serius tapi ia malah tersenyum dan membuang mukanya.

Aku pun menatap Bo Young seongsangnim yang sudah memberikan ucapan selamat pagi, aku menghembuskan nafasku pelan-pelan, mencoba menenangkan detak jantungku yang bergerak dengan sangat cepat seperti genderang perang. Aku menempelkan telapak tanganku di dadaku, mengecek apakah detak jantungku sudah kembali normal atau tidak dan untuk terakhir kalinya, aku melirik Kai yang sedang memainkan bolpoinnya. Namja menyebalkan.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Author Side

Hari ini Seulgi menghabiskan jam terakhirnya di sekolah dengan menari di dance room bersama dengan anggota yang lainnya, mereka berlatih untuk event yang akan diadakan besok, semua orang sibuk dengan aktivitas dan pikirannya masing-masing dengan berlatih, terkecuali Seulgi yang duduk termenung di pojok ruangan.

Seulgi duduk terdiam dengan tatapan yang kosong, entah karena apa hanya ia yang tahu. Ia tidak menggubris panggilan dari orang-orang di sekitarnya termasuk sepupunya, Sehun. Melihat sang sepupu termenung tak berjiwa, Sehun menghampiri dan duduk di hadapannya.

“Ada apa?” Seulgi mengadahkan kepalanya.

“Ah, Sehun oppa. Tidak, tidak apa-apa.” Sehun mengernyit mendengar balasan Seulgi yang seperti itu.

“Apa yang kau khawatirkan?” Tanya Sehun membuat Seulgi memandanginya.

“Apa karena event besok? Kau gugup?” Tanya Sehun kembali dan alasan itu masuk akal karena itu Seulgi menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.

“Take it easy, dear. Aku yakin kau bisa melakukannya, walaupun Kai punya banyak fans tapi keputusan terakhir tetap mutlak milik juri” Seulgi tersenyum secara terpaksa mendengar ucapan sepupunya.

“Tidak usah menghiburku, oppa. Aku tahu para juri pasti akan melihat Kai dengan harapan dan ekspetasi yang tinggi. Dan aku yakin Kai tahu akan hal itu dan dia akan menampilkan semua kemampuannya.” Seulgi mengusap mukanya berusaha untuk menghilangkan stress yang ada padanya.

Sehun memindahkan posisinya dengan berada di sebelah Seulgi, Sehun merasakan depresi yang sedang dirasakan sepupunya ini. Ia mengusap lembut puncak kepala Seulgi yang sukses membuat Seulgi terkejut dan menatap Sehun.

“Jangan berfikiran buruk, aku melakukan ini karena aku merasa kasihan padamu. Sebagai sepupu yang baik, aku harus menyemangatimu.” Seulgi mendengus sebal mendengar ucapan Sehun.

“HAHAHA! APA KAU BENAR-BENAR MELAKUKANNYA!? DAEBAK!!!”

Gelak tawa di sisi lain ruangan dance mengalihkan perhatian dua sepupu ini, mereka menemukan Kai dan Irene yang terduduk disana, Kai yang sedang tiduran di paha Irene dan tertawa bersama tanpa beban, Irene membetulkan beberapa helai rambut yang jahil menutupi muka Kai, dan kemudian mereka tertawa lagi. Semua orang yang melihatnya mungkin akan mengira jika Kai dan Irene adalah sepasang kekasih yang sangat bahagia sekarang.

“Aku tidak tahu jika Kai dan Irene sedekat itu. Bahkan mereka terlihat sangat akrab. Apa mereka berpacaran?” Tanya Seulgi yang memecahkan keheningan di antara dia dan Sehun.

“Ah, itu adalah hal biasa untuk di lihat disini.” Balas Sehun yang membuat Seulgi masih menatapnya keheranan.

“Kai dan Irene memang seperti itu jika sedang bersama terutama saat di ruang dance, jika Irene dan Kai sedang bersama di ruang dance mereka memang akan sangat akrab seperti sepasang kekasih. Jika sudah berada di dalam kelas mereka akan bersikap normal kembali. Membingungkan bukan?” Jelas Sehun.

“Benarkah?”

“Yap! Ah! Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?” Tanya Sehun yang tersadar bahwa Seulgi baru saja menanyakan pertanyaan yang aneh.

“Apakah aku tidak boleh bertanya hal itu? Aku hanya ingin bertanya saja.”

“Hm, benar juga sih. Ah, kau ingat jika ibuku menyuruh membeli bahan-bahan untuk kue?” Seulgi mengangguk untuk membalas pertanyaan sepupunya itu.

“Aku ingat, aku akan ke toko kue setelah sepulang sekolah.”

“Apa perlu ku antarkan? Kau mungkin akan kelelahan setelah berlatih untuk event besok. Aku tidak akan sanggup melihatmu mengantuk besok karena pulang terlalu malam hari ini.” Seulgi tertawa mendengar Sehun yang mengkhawatirkannya.

“Aku tidak apa-apa, oppa. Kau bisa pulang duluan, bukankah kau ada janji dengan Irene untuk mengantarnya ke toko buku?” Ungkap Seulgi yang berhasil membuat Sehun terkejut.

“Bagaimana kau bisa….”

“Aku tahu dari Irene, aku meminta untuk pulang bersamanya hari ini. Tapi, ia menolak karena dia bilang dia ada janji dengan sepupuku ini.” Potong Seulgi cepat, tak ingin mendengar ocehan Sehun.

“Tapi bagaimana jika kau kelelahan di jalan? Bagaimana jika hujan? Dan bagaimana jika hujan itu besar?” Seulgi mencubit hidung Sehun, merasa gemas akan kekhawatirannya yang berlebihan.

“Aku akan naik bis atau menelfon Tuan Park. Aku tidak ingin merepotkan sepupuku ini dan menghancurkan rencana sahabatku. Aku janji aku akan baik-baik saja.” Sehun mengacak-acak rambutnya pelan merasa kesal terhadap Seulgi yang selalu bersikap seperti ini, tidak ingin membuat orang di sekitarnya kesusahan karenanya.

“Baiklah, tapi jika ada sesuatu yang terjadi atau kau membutuhkan apapun, telefon Tuan Park atau aku saja. Oke?”

“Aku mengerti.” Seulgi mengucapkannya dengan yakin agar membuat Sehun tenang, dan Sehun tersenyum membalasnya. Mereka berdua kembali menari dengan tenaga mereka yang tersisa, menghabiskan hari mereka dengan menari untuk hari esok.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

Matahari sudah mulai turun menandakan bahwa ia akan turun dan hari mulai gelap, Seulgi berjalan di trotoar sejak melangkahkan kakinya keluar dari sekolah tadi. Ia sedang berjalan menuju toko kue untuk membeli bahan-bahan kue dan beberapa kue untuk bibi Oh, ibunda Sehun. Ia berjalan sambil menggenggam telefon genggamnya, tak mengalihkan pandangannya dari apapun.

“Coba ku lihat, tepung sudah kubeli, begitu juga dengan mentega, gula pun tak aku lupakan. Sepertinya sudah semua.” Seulgi bergumam sambil mengecek daftar belanja yang ada di telefon genggamnya. Yap, Seulgi adalah orang yang teliti.
Telefon genggam Seulgi bergetar dan muncul wajah Bibi Oh tertera di handphonenya itu. Seulgi memindahkan kantung yang berisi bahan-bahan kue yang baru ia beli tadi untuk mengangkat telefon dari Bibi Oh.

“Ya, bibi?”

“…”

“Sepertinya aku bisa pulang sekarang.”

“…”

“Aku tahu sekarang sudah pukul 8 malam, bibi.”

“…”

“Tidak, tidak usah. Tidak perlu menyuruh Tuan Park untuk menjemputku.”

“…”

“Aku? Tinggal beberapa blok lagi menuju rumah.”

“…”

“Aku akan segera sampai, bibi.”

“…”

“Aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir, bibi.”

Seulgi menutup panggilan itu dan memasukkan telefon genggam miliknya itu ke saku seragamnya. Ia tersenyum dan menikmati pemandangan malam kota Seoul, gemerlap kota Seoul tak kalah menarik saat Seoul disinari matahari. Seulgi mengalihkan pandangannya, melihat-lihat etalase yang berada di sampingnya yang menampilkan beberapa barang yang sedang trend.

Kembali menyalakan handphonenya dan memasangkan headset ke handphonenya. Seulgi mulai menaruh alat itu di telinganya, untuk menemaninya menyusuri malam yang dingin ini. Larut dalam lagu pun tak dapat di pungkiri oleh Seulgi. Ia mulai memejamkan matanya, dan bernyanyi pelan.

BRUG!

Seulgi seketika membuka matanya dan menemukan dirinya tengah terjatuh di atas trotoar dalam pelukan seseorang. Ia mulai merasakan sakit di pergelangan kakinya dan Seulgi mulai meringis kesakitan. Ia memukul-mukul orang yang sudah membuatnya terjatuh, dan melepaskan headset yang masih terpasang di telinganya.

“YAK! APA KAU GILA?!”

Seulgi terkejut ketika ia diteriaki setelah ia dia dibuat kesakitan, aturannya yang seharusnya marah adaah Seulgi. Tapi, yang membuat Seulgi sangat terkejut adalah orang yang membuatnya terjatuh adalah Kai.

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

In Kai Side

Aku kenyang sekarang, setelah makan ramen di kedai dekat sekolah. Taeyong benar-benar menepati janjinya untuk mentraktirku, dia memang baik. Aku masih berjalan menuju rumah, ini karena aku lupa membawa skateboard ataupun sepeda ku. Resikonya ya aku harus berjalan pulang menuju rumah.

Aku mengeratkan jaket yang menutupi tubuhku serta membetulkan posisi syal yang melilit menghangatkan tubuhku. Aku tak lupa memasang sarung tangan juga, cuaca Seoul akhir-akhir ini cukup dingin.

“Shhh, kenapa aku harus lupa membawa skateboardku di saat Seoul sedang dingin seperti ini. Kau memang bodoh, Kai.”

Aku berceloteh sendiri, menyalahkan cuaca tak menentu yang membuatku menggigil kedinginan. Meskipun aku sudah memakai pakaian yang menghangatkan badan, tapi sepertinya ini tetap saja. Seharusnya aku kepanasan sekarang karena aku sudah berkeringat tadi selama latihan menari bersama Irene tapi itu semua sepertinya tidak berlaku. Aku membelokkan badanku, kemudian berjalan lagi karena rumahku masih jauh. Aku mengambil handphoneku dan melihat SNS ku yang penuh dari fansku mengucapkan ucapan semangat untukku  yang akan berlomba di event besok. Aku tersenyum melihat ini, jujur saja aku sangat menghargai fans-fansku yang tidak bertindak radikal seperti ini.

Aku menghentikan langkahku, saat aku berada di tepi jalan untuk menyebrang dan melihat sekitarku. Tak ada orang ternyata, aku masih melihat sekelilingku dan penglihatanku terhenti saat aku melihat Seulgi si yeoja bodoh itu tersenyum di seberang jalan, dia bernyanyi sepertinya sampai-sampai ia menutup matanya karena terlena oleh lagu yang mengalir dari headsetnya.

“Cih, lihatlah dia. Dia bilang ingin mengalahkanku tetapi dia sungguh tenang malam ini. Dan masih bisa tersenyum. Kau memang aneh, Kang Seulgi.”

Aku tak bisa tak tersenyum ketika melihat ia menari-nari dan tersenyum, sungguh ia sama seperti apa dibilang Sehun, begitu menawan. Aku melipat kedua tanganku sambil memandanginya dari seberang sini.

“Sepertinya ia tidak menyadari kehadiranku, baiklah aku akan memperhatikanmu. Hitung-hitung sambil menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.” Ucapku yang diiringi senyum yang mengembang.

Senyumanku hilang seketika ketika Seulgi terus berjalan melewati trotoar ketika lampu untuk pejalan kaki masih merah, dan saat aku melirik kesebelah kananku sebuah mobil sedang melaju kencang sekitar 20 meter dari Seulgi. Aku berlari dan membawanya ke trotar dan membuat kami terjatuh bersama, untungnya kami terjatuh di trotoar. Dia terkejut dan memukulku tanpa sadar, kemudian langsung melepas headsetnya.

“YAK! APA KAU GILA!!?”

Aku berteriak tepat setelah ia melepas headsetnya, ku rasa ia masih terkejut dan tubuhnya menegang ketika ia menyadari bahwa aku lah yang mendorongnya. Ekspresinya seketika berubah saat melihatku, ia mendorongku lalu mengacuhkanku dan berusaha untuk berdiri.

“Aku baik-baik saja. Untuk apa kau ada disini? Argh!” Katanya sambil masih berusaha berdiri namun ia kehilangan keseimbangannya dan membuatnya terjatuh kembali. Aku dengan sigap menangkapnya.

Untuk beberapa saat aku menatap matanya, keadaan sejenak hening untuk saat itu. Bisa di katakan jarak kami sangat dekat, tapi aku segera membetulkan posisi kami dengan mendudukkannya di trotoar lagi.

“Aw!”

Ia mengalihkan pandangannya pada kakinya lalu mengusapnya pelan-pelan. Aku ikut mengalihkan pandanganku pada kakinya, dan mulai mencari titik sakitnya. Aku mencengkram pergelangan kakinya dan memberi tekanan sedikit. Kakinya mengejang dan ia seketika merintih. Aku menatapnya dan melepaskan tasku.

“Pergelangan kakimu terkilir, tidak terlalu parah. Tapi ini akan sembuh dalam waktu yang cukup lama. Seharusnya kau lebih hati-hati. Kenapa kau ceroboh sekali? Kau harus memperhatikan keadaan sekelilingmu, kau baru saja menerobos trotoar dan untungnya aku berlari menangkapmu. Jika tidak, kau akan tertabrak oleh mobil yang sedang melaju ke arah mu. Mobil itu sudah membunyikan klakson tetapi kau sepertinya tidak mendengarnya karena kau memakai headset merahmu itu”. Omelku panjang lebar, aku melepaskan dasiku dan menekan kakinya lalu mengikatnya agar tidak kendur yang akan membuat kakinya terkilir semakin parah. Dia menahan rasa sakitnya dengan mencengkram pundakku dan untuk kali ini dia sepertinya menurut.

“Kau pulang ke rumah Sehun? Berarti jaraknya hanya beberapa blok dari sini. Aku akan mengantarmu”

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Aku memiringkan kepalaku. Yeoja ini gila? Kakinya sedang terkilir dan ia harus pulang dengan berjalan kaki. Dia benar-benar bodoh atau apa.

“Apa kau gila? Kakimu sedang sakit karena terkilir dan jika memang kau pulang naik bis. Kau ke halte bis itu menggunakan apa?” Dia benar-benar membuatku pusing, sangat keras kepala. Baru saja aku terpesona dan khawatir karenanya tapi kini ia sudah kembali ke sikap aslinya.

Ku rasa ia tidak menghiraukan ucapanku ataupun memikirkannya. Aku mengambil tasku dan membantunya, namun ia sama sekali tak menggubris kehadiranku untuk menolongnya dan malah menepis lenganku.

“Aku tak suka berada di luar sini lama-lama terutama saat dingin seperti ini, kau mau atau tidak?”

“Pergilah. Aku tak butuh bantuanmu” Aku menatapnya dengan serius, mukanya memerah dan dia berucap tanpa ekspresi.

“Aku bukanlah tipe orang yang suka membuang waktu dan kepedulianku. Aku akan menolong siapapun yang bisa aku tolong. Jika dia butuh bantuan aku akan membantunya dengan semampuku, itu termasuk dirimu.”

“Kau memang peduli kepadaku atau kau hanya berpura-pura baik di hadapanku agar aku rela kalah di event besok?”

Dia benar-benar menganggap tantanganku itu serius? Dia benar-benar tidak percaya bahwa aku rela menolongnya? Aku tak berniat sama sekali untuk menyuruhnya berbuat aneh jika aku menang.

“Kau terlalu menganggapku sebagai orang yang sangat jahat. Aku tak sebengis yang kau kira dan tak seburuk yang kau lihat.” Ia hanya menatapku dengan getir dan mengalihkan wajahnya. aku masih memperhatikannya dan melihat apa yang ia lakukan.

Ia mengambil tasnya dan membuka tasnya, sepertinya ia sedang mengecek sesuatu. Dan tak lama ia mengambil handphonenya yang berada di saku. Aku melihat apa yang sedang ia lakukan, ternyata ia sedang mengirim pesan.

“Siapa yang akan kau beritahu?”

“Bukan siapa-siapa. Dan bukan urusanmu.” Ucapnya tanpa melihatku.

Yeoja ini benar-benar. Apakah ia benar-benar mengira bahwa aku akan melakukannya? Dia benar-benar keras kepala dan membuatku gila. Aku melihat ke sekitarku, tak ada orang sama sekali dan jalanan cukup sepi. Aku mendesah dan akhirnya aku harus mengantarnya pulang, tak mungkin jika aku meninggalkannya disini semalam ini. Orang jahat pasti akan melakukan sesuatu padanya.

“Naiklah!” Perintahku sambil berjongkok bertanda bahwa aku akan mengendongnya.

“Sudah kukatakan aku tidak perlu!”. Teriaknya.

“Diam atau aku akan benar-benar melakukan apa yang kau takutkan.” Ancamku.

Dia terdiam dan menunduk, sepertinya dia benar-benar takut akan disuruh-suruh olehku nanti. Oh ayolah, aku tak sekejam itu.

“Tapi rumah Sehun berlawanan dengan rumahmu. Aku tak ingin merepotkanmu.” Katanya dengan ragu, aku tersenyum mendengarnya. Akhirnya ia bicara juga, dan dia mengkhawatirkanku. Tapi aku harus menyembunyikan senyumku ini.

“Kau seorang yeoja, dan ini sudah malam. Tak baik jika kau pulang sendiri dengan keadaan terluka seperti itu.” Kataku sambil membetulkan tasku dan mengambil tasnya.

“Tidak perlu, aku benar-benar tidak mau merepotkanmu.” Katanya dengan lirih. Aku terkekeh dan berbalik menghadap dan berjalan ke arahnya lalu berjongkok dihadapannya.

“Dengar Seulgi, aku membantumu dengan senang hati. Sekarang ini sudah malam, Bibi Oh dan Sehun pasti mengkhawatirkanmu. Kita singkirkan masalah event besok, karena sekarang kau sedang terluka dan aku tak mau ada orang jahat yang menemukanmu dan berbuat jahat padamu. Sekarang, naiklah. Aku akan menggendongmu dan mengantarmu pulang.”

Aku mengambil tasnya dan berbalik badan, bersiap-siap untuk menggendongnya. Tak ada jawaban darinya tapi aku dapat merasakan dia naik ke punggungku dan mengalungkan tangannya di leherku, aku lalu berdiri dan membetulkan posisiku agar ia nyaman. Dan mulai berjalan menuju rumahnya.

To Be Continued~

Note: Maafkan jika ceritanya garing, aku hanya seorang author lelaki pemula. Heu-heu^^

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Promise From You (Chapter 4)”

  1. gak garing kok
    buktinya aku senyum senyum gak jelas
    hahak
    oke sekarang aku yg garing , maafkan reader kag jelas ini kak author^^

    next

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s