The Falling Leaves (Chapter 2) – Shaekiran

The Falling Leaves Chapter

The Falling Leaves

By: Shaekiran

Main Cast

Chanyeol [EXO], Wendy [RV], [SNSD]

Other Cast

Byun Baekhyun [EXO], V [BTS]

Genres Romance, Drama, Hurt, Sad (?)

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer:

Ff ini murni buatan author yang otaknya rada sengklek banyak (?). Nama cast disini hanya minjam dari para member boyband and girlband korea yang ganteng dan cantik bingits terutama dari SM Entertainment dan terkhusus untuk abang-abang EXO yang selalu setia di tulis di bagian paling atas bias list saya. Happy reading!

 

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | [NOW] Chapter 2 |

“Kau mengatakannya sepihak dengan alasan yang tak bisa ku mengerti, membuat daun-daun pinus itu seakan berubah menjadi ribuan jarum yang menusuk hatiku.”

 

 

-Chapter 2-

“Kenapa kau meninggalkanku padahal aku sangat mencintaimu?”

Seunghwan menghentikan langkahnya, lantas dia berbalik dan terpaku menatap mobil yang terparkir itu. Namja itu masih tertidur, dengan air mata yang terus saja menganak sungai. Mengigaukah?

Byan, Seunghwan-ssi, “ seseorang menepuk bahu yeoja itu. Membuatnya sedikit terkaget karena dia masih terpaku menatap namja yang tertidur pulas 2 meter di depan sana.

“Ah, Baekhyun-ssi.”, jawabnya kaget.

“Maaf aku lama, kumawo sudah menjaga temanku.”, lanjut Baekhyun dengan senyum manis yang kini bertengger di wajah baby face itu.

“Ah, sama-sama. Byan, sepertinya aku harus kembali ke posku. Semoga selamat sampai rumah.”, kata Seunghwan kemudian dan langsung berlari ke posnya karena sudah ada mobil yang mengantri di pom bensin itu tanpa membiarkan Baekhyun menjawab.

Ne..”, balas Baekhyun lirih yang mungkin tak akan didengar yeoja yang mulai sibuk itu. Baekhyun sedikit tertawa melihat Seunghwan yang kini kikuk membungkukkan badannya yang seperti sedang meminta maaf pada pelanggannya.

“Aissh, semoga saja kau tidak dipecat karena orang ini, Seunghwan-ssi.”, batin Baekhyun sambil menatap kepala Chanyeol yang kini menjulur keluar dengan mata sembab.

***

Seunghwan POV

“Kenapa dia mengingau seperti itu,? Apa dia sedang patah hati, wae??”, pikiranku melantur tak jelas. Aishh, kenapa perkataan namja itu terus saja  berngiang di otakku.

“Tapi, itu bukan untukku kan?”, lanjutku lagi sambil berjalan di lorong sempit menuju rumahku.

“Hei, tapi aku kan tidak meninggalkannya, kenal saja tidak. Bodoh kau Seunghwan.”, batinku lagi. Sepertinya aku mulai gila. Gara-gara orang itu membuatku bengong aku hampir saja dipecat tadi. Aishh.

Aku sampai di rumahku. Rumah yang sangat terbilang sederhana. Kecil dan kumuh. Ah, kenapa aku begitu miskin. Untung saja otakku sedikit encer sehingga aku bisa terus kuliah karena mendapat beasisiwa, kalo tidak ntah jadi apa aku sekarang. Kulirik jam yang bertengger di tangan kiriku, pukul 06.30 pagi. Ah, rasanya kakiku sudah mau patah saja karena berjalan 30 menit dari pom bensin tempat kerjaku itu.

“Trakkk..”,

Tiba-tiba saja pintuku yang sepertinya bisa rubuh kapan saja itu terbuka sendiri.

“Apa ada pencuri?”, racauku tak jelas. Dasar bodoh, untuk apa ada pencuri di rumah super kumuh ini. Memangnya apa yang mau dia curi?

“Kau sudah pulang noona?”, Tanya orang yang baru saja keluar dari rumahku itu.

Oh, kau mau sekolah?”, tanyaku basa-basi. Tentu saja orang ini mau sekolah karena aku bisa melihat pakaian sekolah yang sedang dia pakai sekarang.

Ne, noona..jangan bekerja terlalu keras, kau ada kuliah kan nanti. Gimana kalo noona ketiduran di kelas dan beasiswa noona dicabut hah?”, katanya marah padaku sambil merapikan jaket yang kupakai. Aishh, adik yang perhatian.

Gwencana, kuliahku jam sebelas, aku bisa tidur 4 jam dan pergi kuliah tepat waktu.”, jawabku pada Taehyung.

Ara, ara, kau kan memang bisa tidur 4 jam saja sehari. Dasar gila kerja.”, kataya tak mau kalah.

“Sudah, sekolah sana. Jangan bolos.”, kataku setengah  mengusir dia pergi, kalau tidak orang ini akan terus mengomel dan membuat kantukku hilang saja.

Oh, aku pergi noona.”, pamitnya yang kemudian pergi ke jalan yang kulalui tadi.

“Kau sudah sarapan kan? Ini uang jajanmu.”, kataku setengah mengejar namja labil itu. Dia berhenti dan berbalik menatapku yang mengejarnya. Aku membuka dompetku dan  meletakkan beberapa won di tangan kanannya.

“Kenapa aku harus pakai uangmu noona? Aku tau kau begitu susah di kampus, jangan mengasiahaniku. Aku bisa cari uang sendiri.”, balasnya agak marah sambil meletakan uang itu kembali ke tanganku.

“Aku pergi.”, pamitnya untuk kedua kalinya padaku yang kini berdiri mematung.

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir padamu Taehyung, kau selalu saja kerja sambilan di restoran dekat sekolahmu dan membuat teman-temanmu menghinamu. Memangnya kau tidak sakit hati dihina begitu hah? Melihatnya saja membuatku ingin menjambak orang-orang itu.” Batinku sambil melihat punggung Taehyung adikku yang mulai menjauh.

***

Chanyeol POV

Lagi-lagi kurasakan mataku basah. Ah, orang ini selalu saja menggangku tidurku. Dengan malas akupun bangun dan menatap noona dengan gelasnya.

“Ah noona….”, rengekku pada yeoja rambut pendek itu. Dia hanya nyengir kuda menatapku tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Kenapa kau mabuk semalam? Baekhyun mengantarmu pulang jam 1 malam, mengganggu tidurku saja. Untung saja appa dan eomma tidak di rumah, kalau tidak appa mungkin saja sudah melemparmu keluar dari rumah.”, terang Park Yoora padaku. Aishh, ternyata aku sangat mabuk semalam. Berapa botol yang kuhabiskan? 20 atau 30? Aku tidak bisa mengingat jumlahnya dengan jelas.

“Memangnya apa urusan noona aku mabuk atau tidak? Toh aku  membayarnya dengan uangku sendiri.”, jawabku sarkatis pada wanita itu.

“Kau mau kemana?”, tanyanya padaku yang kini beranjak dari tempat tidurku ke kamar mandi.

“Kuliah, aku sudah absent beberapa bulan karena F3 itu.”, jawabku sambil terus berjalan tanpa menatapnya. Aku menutup pintu kamar mandi sedikit keras, tandanya aku ingin noona-ku itu pergi meninggalkan kamarku.

Byan Channyeol-ah..”, ucapnya sangat pelan tanpa tau kalau aku masih bisa mendengarnya. Kurasa noona sudah pergi sekarang karena ku dengar suara pintu kamarku yang menutup.

Ini bukan salahmu noona, tapi salahku yang terlalu menyukai orang itu. Kau tau alasannya, jadi jangan tanya kenapa aku mabuk-mabukan semalam. Itu menyakitkan.

 

***

Daun-daun pinus berjatuhan di taman Universitas Seoul. Banyak orang yang keliatan sibuk berjalan menuju fakultasnya masing-masing, tak ada waktu untuk sekedar menatap batang tinggi yang selalu menggugurkan daunnya tanpa memandang musim itu. Berbeda dengan namja satu ini, yang dengan setia mendongakkan kepalanya ke atas, meresapi angin sepoi-sepoi yang membawa serta helaian dedaunan mungil itu pergi.

Hyung, kau sudah kembali? Aku sudah liat beritanya. Kau menang 9 kali F3 kemarin. Congratulations.”, kata namja yang sedikit lebih pendek dari Chanyeol sambil mengulurkan tangan kanannya.

Thanks Hun..”, balas Chanyeol pada Sehun yang sejurusan dengannya di manajemen bisnis. Namja bernama lengkap Oh Sehun itu balas tersenyum dan merangkul Chanyeol yang lebih tua 2 tahun darinya itu menuju kelas mereka.

“Ada pr dari Prof.Park, kau sudah mengerjakannya?”, Tanya Sehun lagi sambil tetap merangkul hyung-nya itu.

“Aissh, mana ku tahu pr dari Profesor galak itu kalau kerjaku hanya memacu ‘pacarku’ si sirkuit.”, balas Chanyeol asal.

Hyung, cari pacar sana. Bagaimana bisa kau bilang mobil balapmu sebagai pacarmu. Bicheoso?”, jawab Sehun sambil melepas rangkulannya.

“Memangnya kenapa? Dia itu pacar paling setia.”, elak Chanyeol bercanda. Sehun hanya tertawa menanggapi tanpa tau arti perkataan seorang Park Chanyeol yang sebenarnya menyindir seseorang dari masa lalunya itu.

“Ahh..Aku lupa hyung. Aku ada janji dengan seseorang di perpustakaan. Aku duluan hyung.”, lanjut Sehun cepat sambil menepuk keningnya sendiri dan langsung berlari meninggalkan Chanyeol yang kini melongo melihatnya.

“Aissh, dasar jahat.”, balas Chanyeol sambil berteriak yang membuat beberapa orang yang berlalu lalang disana menatapnya heran.

***

Byan, aku terlambat.”, bisik yeoja itu pada Sehun yang sedang membolak-balik sebuah buku dan langsung duduk di sebelah namja itu.

“Ku kira aku yang telat tadi, ternyata malah kau Wendy.”, balas Sehun pelan sambil tetap membolak-balik bukunya.

“Pletak”

Yeoja itu memukul kepala Sehun pelan dengan buku yang tergeletak begitu saja di meja. Kalau saja mereka tidak berada di perpustakaan mungkin dia sudah memukulnya lebih keras lagi.

“Jangan memanggilku dengan nama Wendy, namaku Seunghwan bodoh.”, kata yeoja itu lagi setengah berbisik.

“Ya, mau Wendy atau Seunghwan kan sama saja, toh orangnya tetap kau kan.? Lalu kenapa kau memukulku, hah?”, balas Sehun tak suka kepalanya dipukul.

Byan Sehun-ah.. Jadi kau mau mulai dari mana?”, Tanya Seunghwan kemudian.

“Dari sini.”, kata Sehun sambil menyodorkan buku yang sedari tadi dia bolak-balik dengan asal.

***

Byan hyung, kau sudah menungguku lama ya?”, tanya namja yang baru saja berlari ke dalam café dan duduk di depan lawan bicaranya.

“Kabar buruk Yeol..”, sahut lawan bicaranya yang adalah Baekhyun.

“Kabar buruk apa Baek? Kau salah mencat warna rambutmu lagi? Tunggu, bukannya kemarin rambutmu hitam di Jepang, kenapa tiba-tiba blonde?”, lanjut Chanyeol dengan sederet pertanyaan tanpa henti.

“Bukan itu, bukan masalah rambutku sekarang. Lagian aku sudah mengganti warnanya ketika menjemputmu pulang kemarin, makanya jangan mabuk bodoh.”, jawab Baekhyun sambil mengibas-ngibaskan rambut blondenya.

“Jadi kabar buruk apa hyung?”, akhirnya pertanyaan inti pun dilontarkan oleh Chanyeol yang baru saja meminum kopi hitam pekat yang sudah disediakan Baekhyun untuknya.

“Nakamoto-san memilih Yuki Furukawa sebagai pembalap F1 untuk team-nya.” , kata Baekhyun pelan, takut membuat orang di depannya itu tersedak. Tapi naas, Chanyeol tetap saja tersedak mendengar perkataan Baekhyun.

“Hah??? Wae?? Kenapa bisa hyung? Aku unggul menang 3 lomba dari si Jepang tua itu. Apa Nakamoto-san menggunakan nepotisme karena Yuki itu orang Jepang sama sepertinya?”, kata Chanyeol protes dan membiarkan noda kopi yang mulai mengering di kaos yang sedang dia kenakan.

“Lap dulu bajumu.”, kata Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa hyung? Beritahu aku. Seharusnya aku yang dipilih!”, bentak Chanyeol emosi dengan nada suaranya yang semakin meninggi.

“Bukan karena nepotisme, atau karena kebangsaaan, tapi itu semua karena kau Chan.”, jelas Baekhyun pelan, hampir setengah berbisik.

“Kenapa aku?”, tanya Chanyeol tak paham.

“Mereka bilang kau terlalu egois dalam balapan. Kau tidak menganggap team-mu, kau berjuang sendiri di lintasan. Kau tau maksudku kan?”, jelas Baekhyun lebih rinci.

Seperti jarum menghujami punggungnya secara bersamaan, Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya. Apa dia terlalu egois selama ini? Karena menurut Chanyeol itu wajar-wajar saja.

Ya! Kau mau kemana?”, tanya Baekhyun panik saat Chanyeol tiba-tiba saja berdiri dan sepertinya hendak pergi dari café itu.

“Kuliah. Setengah jam lagi aku ada kuliah, aku tak mau gagal untuk kedua kalinya tahun ini.”

Bohong, jelas-jelas kuliah namja itu selesai tadi pagi. Itu kuliah terakhirnya semester ini. Dan dengan polosnya Baekhyun hanya ber-oh ria dan membiarkan namja labil itu pergi, masih dengan emosi yang sama.

***

Sebuah mobil sport melenggang dengan kencang di pingiran jalan di Busan. Orang itu sangat tau jam kosong di jalanan kota asalnya itu hingga bisa ngebut seenaknya disana, melepaskan semua emosinya.

“Ttttteettt…Ttttteett..”

Chanyeol bisa mendengar dering telfon genggamnya. Sial, siapa yang menghubungi jam segini. Noona-nya kah? Rasanya tidak mungkin. Baekhyun? Feeling namja itu mengatakan tidak. Lalu siapa? Apa orang itu? Chanyeol pun segera menghentikan mobilnya.

Geobseyo?”, sapa Chanyeol singkat.

“Kemana saja kau? Ku dengar kau kelayapan sekarang.”, suara di seberang sana bertanya dengan nada khawatir.

“Busan.”, Chanyeol menjawab pertanyaan eomma-nya dengan malas. Sekarang wanita itu pasti akan mengomeli Chanyeol sampai namja itu ketiduran.

“Kebetulan kalau begitu. Kau datanglah ke vila kita di Busan. Eomma baru saja selesai memasak.” Ibu namja itu kembali berucap meski bukan omelan seperti yang diperkirakan Chanyeol.

Ya! Bagaimana eomma bisa ada di Busan?”, Chanyeol bertanya tak percaya. Memangnya arisan ibunya sampai di Busan?

Eomma memang disini sejak minggu lalu. Sudahlah, datang saja kemari. Eomma kesepian.”, sebuah perintah mutlak yang harus diikuti Chanyeol. Pasrah, namja itu pun mengiyakan eomma-nya tanpa pikir panjang.

***

Chanyeol memarkirkan mobilnya di sebuah toko bunga dekat vilanya. Dia menatap toko bunga itu heran. Kapan toko itu berdiri? Seingatnya dulu disana adalah café kecil. Rasa penasaran membuat Chanyeol mau tak mau turun dan mengintip ke toko itu.

Blitz kamera terdengar tatkala namja itu membuka pintu toko bunga bernama “Yeoppo Florist” itu. Apa ini? Pemotretankah? Namun bukan itu yang menjadi fokus Chanyeol, tapi orang yang menjadi model disana. Yeoja yang sangat dia kenal.

“Maaf tuan, toko ini tutup hari ini karena ada pemotretan.”

Seoran kru kamera datang dan memberitau Chanyeol untuk pergi dari sana secara halus, tapi namja itu tetap diam dan terpaku, tak bergeming sama sekali dari tempatnya berdiri.

“Im Yoona?”, Chanyeol mengucapkan 2 kata itu dengan nada sedikit tercekat. Mau tidak mau orang yang dipanggil namja itu menoleh dan mendapati Chanyeol yang berdiri mematung di pintu toko.

“Park Chanyeol? Sedang apa kau disini?”

 

To Be Continued

 

Catatan absurd :

Ada yang mengharapkan chapter 2 ini? Atau ada yang merindukan Shaekiran? Moga aja ada (*plakk/ digampar massa beramai-ramai.). Shaekiran kembali dengan ff yang gak jelas alurnya ini. Selamat membaca dan jangan jadi pembaca gelap, please…. Silahkan meninggalkan jejak setelah membaca. Arasseo? J

 

Regards,

 

Shaekiran.

11 thoughts on “The Falling Leaves (Chapter 2) – Shaekiran

  1. Plotnya kyknya seruuuuuu. Plissss lanjutin. Ini pertama kali nya aku baca ff indo yg genre sedih without having that cringe moment because way toooooo over cheesy. Tolong dilanjutin min!

    • Wkwk, makasih lo pujiannya chingu, Terhura eki..😳😳
      Pasti dilanjutin kok, soalnya eki gak mau ngegantung ff gitu aja, harus sampek fin kalo sama eki.😂
      Agak sabar yaw nunggu next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s